Bab 1
Malam Badai
Hujan mengetuk kaca villa seperti ribuan kuku kecil yang kehilangan kesabaran.
Tan Erlyn duduk sendirian di ruang tengah, memeluk lutut di atas sofa abu-abu yang terlalu besar untuk tubuhnya. Lampu gantung di atas kepala berkedip sekali, lalu menyala lagi dengan cahaya kuning yang lemah. Di luar sana, lereng Batu tenggelam dalam kabut, pohon-pohon pinus membungkuk diterpa angin, dan jalan masuk menuju villa berubah menjadi aliran air hitam.
Pukul sebelas lewat dua belas menit.
Empat tahun lalu, pada malam hujan yang hampir sama, hidup Erlyn patah di satu tempat yang tidak pernah benar-benar sembuh. Sejak malam itu, ia tidak pernah lagi memanggil seorang laki-laki dengan sebutan yang dulu keluar begitu mudah dari mulutnya.
Koh.
Yu Chisen adalah kakak tirinya. Bukan saudara kandung. Tidak ada hubungan darah di antara mereka. Hanya dua orang anak dari dua keluarga yang disatukan oleh pernikahan orang tua, lalu dipaksa tumbuh di bawah atap yang sama, berbagi meja makan yang sama, bau bunga melati yang sama, dan rahasia yang sama sekali tidak pantas lahir di sebuah rumah keluarga.
Rahasia itu punya suara hujan.
Punya bau lantai kayu basah.
Punya nama yang tidak berani Erlyn sebut sejak ia terbang ke London.
Ponselnya bergetar di meja. Sekali. Lalu mati.
Erlyn tidak langsung mengambilnya. Seharian ini ia sudah terlalu banyak menerima pesan, dari Papa yang baru bebas dan menyuruhnya pulang, dari Vivian yang masih cerewet dari London, dari Juwanto yang menulis dengan gaya seolah ia tidak pernah bisa diam. Tetapi ada satu nama yang sejak empat tahun lalu tidak pernah muncul di layar ponselnya.
Ko Chisen.
Nama itu muncul sore tadi, hanya mengirim satu alamat.
Tidak ada salam.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada kata rindu.
Hanya alamat villa di Batu, seolah empat tahun diam bisa ditebus dengan sebuah titik lokasi.
Erlyn tertawa pendek ketika pertama kali membacanya. Tawa yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. Ia hampir menghapus pesan itu. Hampir memblokir nomor itu. Hampir menelepon Papa dan berkata bahwa ia akan langsung pulang ke Jalan Kenanga, bukan ke tempat yang dipilih laki-laki itu.
Tetapi pada akhirnya ia tetap datang.
Mungkin karena ia bodoh.
Mungkin karena ada bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah itu, rumah kolonial di Jalan Kenanga, loteng yang selalu terkunci, meja makan panjang, dan seorang laki-laki dingin yang dulu selalu berdiri di tempat paling jauh tetapi memperhatikan semuanya.
Angin menghantam pintu kaca balkon sampai tirainya bergerak. Erlyn menoleh. Pantulan dirinya di kaca tampak pucat. Rambutnya yang sebahu masih sedikit lembap karena hujan ketika ia turun dari taksi dua jam lalu. Kemeja putihnya sudah kering di bagian lengan, tetapi ujung celana panjangnya masih menyimpan noda lumpur dari halaman depan.
Ia terlihat seperti orang yang kembali ke medan perang tanpa membawa senjata.
"Bagus, Erlyn," gumamnya pada diri sendiri. "Empat tahun belajar fisika di London, pulang-pulang tetap bisa dibodohi satu alamat."
Suara itu tenggelam oleh guntur.
Ia berdiri, berjalan ke dapur kecil, lalu membuka lemari satu per satu. Tidak ada makanan berat. Hanya beberapa bungkus mi instan, kopi sachet, dan sekotak teh yang masih tersegel. Di atas meja ada dua botol air mineral. Semuanya terlalu rapi. Terlalu baru.
Villa ini bukan tempat tinggal. Ini tempat menunggu.
Dan Erlyn benci karena ia tahu siapa yang sedang ia tunggu.
Ia mengambil satu botol air, membuka tutupnya, lalu minum dua teguk. Tangannya tidak gemetar. Ia cukup bangga pada hal kecil itu. Dulu, setiap kali Chisen berdiri terlalu dekat, tubuhnya lebih dulu mengkhianati isi kepalanya. Napasnya berubah pendek. Jantungnya tidak tahu aturan. Telapak tangannya dingin, padahal wajahnya panas.
Sekarang tidak.
Sekarang ia sudah dua puluh tiga. Ia sudah melewati musim dingin London sendirian, ujian yang membuat kepala hampir pecah, hari-hari ketika nyeri perut membuatnya meringkuk di lantai kamar mandi, dan malam-malam ketika ia menelan ibuprofen sambil menatap langit-langit kamar sewa.
Ia tidak akan hancur hanya karena satu nama.
Lampu berkedip lagi.
Kali ini lebih lama.
Erlyn mendongak. "Jangan mati sekarang."
Seolah menantangnya, seluruh ruangan langsung gelap.
Ia memejamkan mata, menarik napas pelan. Di luar, hujan semakin keras, menabrak genting, kaca, tanah, semua yang bisa dihantam. Bau lembap naik dari sela pintu. Dalam gelap, villa itu tiba-tiba terasa jauh lebih besar, seolah dindingnya mundur beberapa langkah dan meninggalkan Erlyn di tengah ruangan yang kosong.
Ia meraba meja, mengambil ponsel, menyalakan senter. Cahaya putih kecil jatuh ke lantai, memantul pada koper hitamnya yang masih tertutup di dekat pintu.
Satu koper.
Empat tahun hidupnya diringkas menjadi satu koper, satu tas laptop, dan satu nama yang masih bisa membuatnya pulang.
Erlyn menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa perih.
Tidak.
Ia bukan pulang karena Chisen.
Papa sudah bebas. Itu alasannya. Ia pulang karena Papa, karena rumah yang dulu pernah menjadi tempat paling hangat dan paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia pulang karena Mama pernah dimakamkan dengan bunga melati di sana. Ia pulang karena ada urusan yang harus diselesaikan.
Bukan karena laki-laki yang mengusirnya dari kamar pada malam badai itu.
Bukan karena punggung lebar yang pernah ia sentuh, lalu menepis tangannya seolah sentuhan itu dosa.
Ponselnya kembali bergetar.
Erlyn mengangkat layar.
Vivian: Udah sampai? Jangan bilang kamu sendirian di villa serem begitu.
Erlyn mengetik dengan satu tangan.
Sudah. Aman.
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan:
Kalau besok aku nggak balas, cari mayatku di Batu.
Balasan Vivian datang hampir seketika.
Jangan bercanda. Aku serius.
Erlyn tersenyum tipis. Sebelum sempat membalas, suara lain terdengar dari luar.
Bukan guntur.
Bukan angin.
Suara mobil.
Tubuh Erlyn menegang.
Lampu depan menyapu jendela ruang tengah, putih dan tajam, lalu hilang ketika mobil berhenti di halaman. Mesin mati. Hujan langsung memenuhi kembali seluruh ruang, seolah suara mobil itu tidak pernah ada.
Erlyn berdiri di tempatnya.
Ia tidak bergerak selama beberapa detik. Ponsel di tangannya masih menyala, senter mengarah ke lantai. Dadanya terasa sempit, tetapi anehnya napasnya justru terlalu tenang. Seperti tubuhnya sudah tahu bahwa detik ini akan datang bahkan sebelum pikirannya siap.
Langkah kaki terdengar di teras.
Berat.
Terburu-buru.
Basah.
Lalu ketukan di pintu.
Satu kali.
Tidak keras. Tidak panik. Hanya satu ketukan pendek yang terlalu dikenalnya.
Erlyn menatap pintu kayu itu. Empat tahun tidak cukup untuk membuat seseorang lupa cara laki-laki itu mengetuk. Dulu di Jalan Kenanga, Chisen selalu mengetuk seperti itu sebelum masuk ke kamarnya, satu ketukan saja, lalu suara rendahnya menyusul dari luar.
Erlyn, sudah tidur?
Atau:
Er, buka pintunya.
Atau, pada malam yang seharusnya tidak pernah terjadi:
Keluar.
Jari-jari Erlyn mengencang di sekitar ponsel. Ia ingin membiarkan pintu itu tertutup. Ia ingin laki-laki di luar sana merasakan dingin, hujan, dan penolakan yang dulu ia berikan begitu mudah.
Tetapi tangan Erlyn sudah bergerak sebelum kebenciannya selesai bicara.
Ia berjalan ke pintu.
Setiap langkah membuat lantai kayu berderit pelan. Di ambang pintu, ia berhenti. Senter ponselnya memantul pada gagang pintu kuningan. Di luar, seseorang berdiri sangat dekat, hanya dipisahkan oleh selembar kayu dan empat tahun yang tidak pernah mereka bicarakan.
Erlyn membuka kunci.
Pintu bergerak ke dalam.
Angin basah langsung menyambar wajahnya. Hujan miring masuk melewati teras, membawa dingin yang membuat kulit lengannya meremang.
Di bawah cahaya senter yang gemetar, Yu Chisen berdiri di sana.
Kemeja hitamnya menempel pada tubuh. Rambutnya basah, jatuh di dahi. Wajahnya lebih tirus daripada ingatan Erlyn, garis rahangnya lebih tajam, tetapi matanya tetap sama. Gelap, tenang, dan terlalu pandai menyembunyikan apa pun yang terjadi di dalamnya.
Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.
Hujan mengisi semua kalimat yang mereka telan.
Chisen menatapnya dari kepala sampai kaki, cepat, hampir tidak terlihat, seperti memastikan ia utuh. Kebiasaan lama. Kebiasaan yang dulu membuat Erlyn merasa aman dan sekarang membuatnya ingin tertawa.
"Erlyn," katanya akhirnya.
Suara itu rendah. Lebih berat. Tetapi masih suara yang sama.
Nama Erlyn patah di udara di antara mereka.
Ia mengira akan marah. Mengira akan langsung menamparnya. Mengira akan berkata sesuatu yang tajam, sesuatu yang sudah ia susun selama bertahun-tahun di kamar sempitnya di London.
Tetapi yang keluar hanya napas.
Chisen melangkah setengah inci, lalu berhenti, seolah baru sadar ia tidak punya hak untuk masuk begitu saja.
Bagus. Setidaknya ia masih ingat.
Erlyn menurunkan ponselnya sedikit. Cahaya senter jatuh ke sepatu kulit Chisen yang penuh lumpur, lalu ke tetesan air yang jatuh dari ujung lengan bajunya ke lantai teras.
Empat tahun.
Dia berdiri di sana, basah kuyup, dan Erlyn tidak tahu harus marah atau menangis.
Bab 2
Pulau yang Ditinggalkan
Sebelum ada empat tahun yang membuat Erlyn berhenti memanggil seseorang dengan sebutan Koh, ada satu sore di tahun 2017 ketika ia berdiri di pelabuhan Pulau Belitung dan merasa seluruh hidupnya sedang dimasukkan paksa ke dalam dua koper.
Usianya lima belas tahun.
Langit Belitung hari itu terlalu cerah untuk sebuah perpisahan. Laut di belakangnya berkilau biru, perahu nelayan bergerak pelan di kejauhan, dan angin asin yang biasa membuat rambutnya kusut tiba-tiba terasa seperti tangan yang menariknya agar tidak pergi.
"Er, jangan berdiri terlalu dekat air," kata Mama dari belakang.
Tan Erlyn menoleh.
Liang Jing berdiri di samping koper, memakai blus krem sederhana dan rok panjang yang rapi. Rambutnya disanggul rendah. Di wajah Mama ada senyum kecil yang sejak beberapa bulan terakhir sering Erlyn lihat, senyum yang terlalu hati-hati, seolah takut kebahagiaannya melukai anaknya sendiri.
Hari ini mereka meninggalkan Belitung.
Bukan untuk liburan.
Bukan untuk sekolah singkat.
Mereka pindah ke Surabaya, ke rumah laki-laki yang sekarang menjadi suami Mama.
Yu Changli.
Erlyn baru bertemu dengannya tiga kali sebelum pernikahan. Laki-laki itu selalu berpakaian rapi, berbicara pelan, dan tidak pernah memaksa Erlyn memanggilnya apa pun selain Om. Saat makan bersama, ia bertanya sekolah Erlyn, makanan kesukaannya, dan apakah ia mudah mabuk perjalanan. Semua pertanyaan itu sopan, bahkan baik.
Justru karena terlalu baik, Erlyn tidak tahu harus menaruh curiga di mana.
"Mama masih bisa berubah pikiran," ucap Erlyn pelan.
Jing menatapnya beberapa detik. Senyum di wajahnya tidak hilang, tetapi mata itu melembut sampai Erlyn merasa bersalah duluan.
"Kamu tidak suka Om Changli?"
"Bukan begitu."
"Tidak suka Surabaya?"
Erlyn menunduk, menendang kerikil kecil di dekat sepatu kanvasnya. "Aku belum tahu Surabaya seperti apa."
Mama mendekat, merapikan anak rambut di dekat pelipisnya. "Kalau tidak suka, kita pelan-pelan belajar suka. Kalau tetap tidak suka, Mama akan dengarkan kamu."
Kalimat itu seharusnya membuat Erlyn lega. Tetapi ia tahu orang dewasa sering mengatakan sesuatu agar anak-anak berani melangkah, bukan karena semua jalan benar-benar bisa diputar kembali.
Setelah Papa kandungnya meninggal bertahun-tahun lalu, dunia Erlyn tinggal berdua dengan Mama. Rumah kecil mereka di Belitung tidak mewah, tetapi setiap sudutnya mengenal suara mereka. Dapur sempit yang selalu bau bawang putih, halaman dengan jemuran yang bergoyang, meja kayu tempat Erlyn mengerjakan PR, semua itu sederhana dan pasti.
Surabaya terdengar besar.
Om Changli terdengar jauh.
Keluarga baru terdengar seperti sepatu yang belum tentu pas, tetapi harus dipakai karena semua orang sudah membelinya.
Perjalanan dari Belitung ke Surabaya terasa panjang meski sebenarnya tidak sepanjang itu. Di pesawat, Mama menggenggam tangan Erlyn saat lepas landas. Erlyn pura-pura tidak melihat kuku Mama yang sedikit menekan kulitnya. Mama juga gugup.
Fakta itu membuat Erlyn berhenti marah selama beberapa menit.
Ketika pesawat mendarat dan pintu terbuka, udara Surabaya menyambut mereka dengan panas yang berbeda. Bukan panas asin seperti Belitung. Panas di sini bercampur debu jalan, knalpot, dan suara kendaraan yang tidak pernah benar-benar diam.
Om Changli menjemput mereka di bandara.
"Erlyn," sapanya sambil mengambil koper dari tangan Mama. "Perjalanannya melelahkan?"
"Sedikit, Om."
"Nanti di rumah istirahat dulu. Sekolah dan urusan lain kita bicarakan pelan-pelan."
Erlyn mengangguk.
Ia duduk di kursi belakang mobil, di samping Mama. Om Changli menyetir sendiri. Dari jendela, Surabaya bergerak cepat di luar sana. Gedung tinggi, ruko tua, jalan lebar, pohon flamboyan di tepi jalan, motor yang menyelip tanpa takut mati, semua tampak ramai dan asing.
Mama beberapa kali menunjuk keluar.
"Itu daerah Kembang Jepun. Banyak toko lama keluarga Tionghoa di sana."
Erlyn hanya mengangguk.
Ia sedang menghitung jarak. Dari bandara ke rumah. Dari rumah lama ke rumah baru. Dari dirinya yang dulu ke dirinya yang sebentar lagi harus menjadi anak seseorang yang tidak melahirkannya.
Mobil akhirnya masuk ke sebuah jalan yang lebih tenang. Jalan Kenanga.
Nama itu lembut, tetapi rumah yang muncul di ujung jalan tidak lembut sama sekali.
Rumah kolonial itu berdiri di balik pagar besi hitam, besar dan putih, dengan pilar tinggi, jendela lengkung, dan halaman yang terlalu luas untuk dua orang perempuan dari Belitung. Di sisi kiri halaman, pohon flamboyan tua merentangkan cabang seperti payung. Di dekat teras, bunga melati tumbuh lebat, putih kecil-kecil, mengeluarkan wangi yang langsung menempel di udara.
Erlyn berhenti bernapas beberapa detik.
Ini bukan rumah.
Ini seperti bangunan yang biasa ia lihat di drama, tempat orang-orang kaya makan malam dengan sendok garpu yang jumlahnya lebih banyak daripada anggota keluarga.
Om Changli turun lebih dulu, membuka bagasi. Seorang perempuan paruh baya keluar dari pintu utama bersama seorang laki-laki yang lebih tua. Mereka membungkuk sopan.
"Selamat datang, Tuan. Nyonya," kata perempuan itu.
Nyonya.
Erlyn merasakan tangan Mama di sampingnya sedikit kaku.
"Jangan terlalu formal," kata Jing cepat, tersenyum canggung. "Panggil saya Jing saja."
Perempuan itu tersenyum, tetapi tetap menunduk. "Baik, Nyonya Jing."
Erlyn menahan napas. Di Belitung, tetangga memanggil Mama dengan nama. Kadang Jing, kadang Ci Jing, kadang hanya berteriak dari pagar, "Makan rujak, nggak?" Tidak ada yang membungkuk. Tidak ada yang memanggilnya nyonya dengan jarak setebal pintu kaca.
Om Changli menoleh pada Erlyn.
"Masuk, Erlyn. Anggap rumah sendiri."
Rumah sendiri.
Dua kata itu terdengar mudah di mulut orang dewasa.
Erlyn melangkah melewati pintu utama. Lantai marmer terasa dingin di bawah sol sepatunya. Ruang tamu luas, langit-langit tinggi, lampu gantung besar, kursi-kursi kayu gelap dengan bantalan bersih. Di dinding ada beberapa lukisan, sebagian pemandangan laut, sebagian wajah yang tidak Erlyn kenal.
Ia hampir takut menyentuh apa pun.
Koper mereka dibawa masuk. Mama berdiri di tengah ruangan, tersenyum pada Om Changli, tetapi ujung jarinya mencari tangan Erlyn. Erlyn membiarkannya menggenggam.
"Kamarmu sudah disiapkan," kata Om Changli. "Di lantai dua, sebelah kiri. Kalau ada yang kurang, bilang saja."
"Terima kasih, Om."
Om Changli tampak ingin mengatakan sesuatu tentang panggilan itu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.
Mereka naik tangga lebar yang berkilau. Di setiap anak tangga, Erlyn merasa sepatunya membawa debu Belitung yang tidak pantas menempel di rumah ini. Ia menunduk, memperhatikan tali sepatunya yang mulai kusam.
Di lantai dua, koridor panjang terbentang. Ada beberapa pintu tertutup. Di ujung koridor, tangga kecil mengarah ke atas lagi, lebih sempit, setengah tersembunyi di balik bayangan.
"Itu ke loteng?" tanya Erlyn tanpa sadar.
Perempuan paruh baya yang tadi menyambut mereka menoleh. "Iya, Non."
Non.
Erlyn nyaris tertawa karena canggung. Ia bukan Non. Ia anak yang kemarin masih membeli es di warung dekat sekolah dengan sandal jepit.
"Lotengnya dipakai untuk apa?" tanyanya.
Perempuan itu sempat melihat ke arah Om Changli, seolah meminta izin.
Om Changli menjawab dengan suara tenang, "Ruang kerja Chisen."
Nama itu membuat udara di koridor berubah sedikit.
Chisen.
Putra Om Changli.
Kakak tiri yang belum pernah Erlyn temui.
Ia tahu laki-laki itu dua tahun lebih tua darinya. Tahu ia sekolah di SPI. Tahu ia suka melukis. Tahu Mama pernah berkata, "Anaknya pendiam, tapi baik." Hanya itu.
Pendiam, tapi baik adalah kalimat yang terlalu sering dipakai orang dewasa ketika mereka ingin seorang anak percaya pada orang asing.
Perempuan paruh baya itu menambahkan dengan suara lebih pelan, "Tuan muda ada di lantai atas."
Erlyn mengangkat kepala.
Di ujung tangga kecil menuju loteng, ada jendela sempit. Tirainya bergerak sedikit, seolah baru saja disentuh dari dalam. Sesaat, Erlyn melihat bayangan seseorang di balik kaca. Tinggi. Diam. Berdiri terlalu tenang untuk disebut kebetulan.
Ia belum sempat melihat jelas.
Tirai itu langsung ditarik rapat.
Koridor kembali sunyi.
Erlyn berdiri di anak tangga terakhir dengan tangan masih digenggam Mama, menatap jendela loteng yang sekarang tertutup, dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Belitung, ia merasa rumah baru ini punya mata.
Bab 3
Koh
Tirai yang tertutup di jendela loteng itu membuat Erlyn lupa bernapas lebih lama dari yang seharusnya.
Ia masih berdiri di anak tangga terakhir, tangan Mama menggenggam jarinya, sementara koridor lantai dua terasa terlalu sunyi. Dari bawah terdengar suara koper diletakkan, langkah orang rumah yang bergerak pelan, dan Om Changli yang berbicara dengan nada rendah. Tetapi di atas sana, di balik pintu loteng yang setengah tersembunyi, tidak ada suara apa pun.
Justru karena tidak ada suara, Erlyn merasa seseorang benar-benar ada di sana.
"Er?" Mama memanggil pelan.
Erlyn menoleh. "Iya, Ma?"
"Kamu capek?"
Ia ingin menjawab iya. Capek bisa menjadi alasan yang baik untuk masuk kamar, menutup pintu, lalu berpura-pura bahwa ia tidak melihat bayangan di jendela. Tetapi Om Changli sudah berdiri di beberapa anak tangga di bawah mereka, menatap ke atas dengan ekspresi seperti orang yang baru mengingat sesuatu.
"Chisen mungkin sedang melukis," katanya. "Tapi kalian sebaiknya saling menyapa dulu."
Jing mengangguk cepat. "Iya. Harus kenalan dulu."
Harus.
Kata itu membuat perut Erlyn menegang.
Sejak Mama menikah dengan Om Changli, semua orang dewasa di sekitar Erlyn sering memakai kata harus. Harus pindah. Harus sekolah baru. Harus menyesuaikan diri. Harus mengerti bahwa Mama juga berhak bahagia.
Sekarang, ia harus bertemu putra Om Changli.
Kakak tirinya.
Bukan saudara kandung, kata Mama beberapa kali sebelum mereka berangkat. Tidak ada hubungan darah. Tapi karena Mama menikah dengan Papa Chisen, di mata orang luar mereka tetap keluarga.
Keluarga.
Erlyn tidak tahu apakah keluarga bisa dimulai hanya karena dua orang dewasa menandatangani surat nikah.
Tangga menuju loteng lebih sempit daripada tangga utama. Kayunya tua, tetapi bersih, dengan pegangan yang dipoles sampai mengilap. Semakin naik, semakin kuat bau cat minyak bercampur terpentin. Bau itu tajam, asing, membuat hidung Erlyn sedikit perih.
Di depan pintu loteng, Om Changli berhenti. Ia mengetuk dua kali.
"Chisen."
Tidak ada jawaban.
Om Changli mengetuk lagi, kali ini lebih keras. "Ada Mama Jing dan Erlyn. Turun sebentar."
Di dalam, sesuatu bergeser. Kaki kursi, mungkin. Lalu langkah pelan mendekat.
Pintu terbuka.
Erlyn melihatnya untuk pertama kali dari jarak kurang dari dua meter.
Yu Chisen lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Umurnya baru tujuh belas, tetapi wajahnya tidak punya sisa kekanak-kanakan yang biasa ada pada anak SMA. Kulitnya pucat bersih, rambut hitamnya sedikit berantakan, bagian depan jatuh dekat alis. Ia memakai kaus putih yang terkena noda cat biru di lengan, celana panjang hitam, dan tatapan yang membuat orang ingin mengecek apakah mereka sudah melakukan kesalahan.
Matanya turun ke Erlyn hanya sesaat.
Tidak penasaran.
Tidak ramah.
Tidak juga kasar.
Hanya melihat, seperti melihat benda baru yang diletakkan di rumahnya tanpa meminta izin.
Erlyn tanpa sadar merapat ke sisi Mama.
"Ini Erlyn," kata Jing lebih dulu, suaranya lembut tetapi agak tegang. "Anak Tante."
Tante.
Mama memakai sebutan itu untuk dirinya sendiri di depan Chisen, dan entah kenapa dada Erlyn terasa sedikit tidak nyaman. Di Belitung, Mama adalah Mama. Di rumah ini, Mama juga harus belajar menjadi orang baru.
Chisen menatap Jing, lalu menunduk sedikit. "Tante Jing."
Suaranya rendah. Bersih. Tidak keras, tetapi cukup membuat ruangan di belakangnya terasa semakin diam.
Jing tersenyum lega, seolah satu sapaan pendek sudah cukup untuk disebut awal yang baik. Ia menepuk punggung Erlyn pelan.
"Er, ini Koh Chisen."
Koh Chisen.
Dua kata itu jatuh ke telinga Erlyn dengan rasa yang aneh.
Di Belitung, ia pernah memanggil beberapa tetangga lebih tua dengan Koh, tetapi tidak pernah ada yang tinggal satu rumah dengannya. Tidak ada yang tiba-tiba menjadi kakak karena pernikahan. Tidak ada yang berdiri di pintu loteng dengan wajah dingin dan bau cat di sekeliling tubuhnya.
Erlyn membasahi bibir. "Halo."
Chisen menatapnya lagi.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia mengangguk tipis. "Halo."
Hanya itu.
Om Changli menghela napas kecil, seperti sudah menduga jawabannya akan sependek itu. "Chisen, Erlyn dan Mama Jing baru sampai. Nanti makan malam bersama."
"Saya belum selesai."
"Lukisannya bisa dilanjutkan setelah makan."
Chisen tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit ke dalam ruangan. Dari celah pintu, Erlyn melihat bagian dalam loteng. Cahaya sore masuk dari jendela miring. Ada beberapa kanvas berdiri di dinding, meja panjang penuh kuas, kain lap, botol-botol kecil, dan lantai kayu yang sebagian ditutup koran.
Di tengah ruangan, sebuah kanvas besar menghadap jendela. Erlyn tidak bisa melihat gambarnya jelas. Hanya warna gelap, garis panjang seperti langit sebelum hujan, dan satu goresan biru yang tampak terlalu kasar.
"Nanti saya turun," kata Chisen akhirnya.
Om Changli menatap putranya beberapa saat, lalu mengangguk. "Jangan terlalu lama."
Jing cepat menyambung, mungkin takut suasana menjadi lebih kaku. "Tidak apa-apa kalau sedang sibuk. Tante juga belum beres-beres."
"Saya turun," ulang Chisen.
Nada itu membuat Jing berhenti bicara.
Erlyn melirik Mama. Senyum Mama masih ada, tetapi tangannya yang menggenggam Erlyn sedikit mendingin.
Sejak Papa kandung Erlyn meninggal, Mama jarang terlihat ragu di depan orang lain. Mama bisa menawar harga ikan di pasar, memperbaiki atap bocor dengan bantuan tetangga, bahkan tersenyum saat orang-orang berbisik tentang status jandanya. Tetapi di depan anak laki-laki ini, Mama seperti sedang berjalan di lantai licin.
Erlyn tiba-tiba tidak suka.
Ia menegakkan bahu sedikit.
"Ma, aku mau lihat kamar," katanya.
Jing tampak lega mendapat jalan keluar. "Iya. Kita lihat kamar dulu."
Mereka berbalik hendak turun dari ambang loteng. Erlyn sudah mengambil satu langkah ketika suara Chisen terdengar lagi.
"Kamar kamu di sebelah kiri."
Erlyn berhenti.
Ia menoleh.
Chisen masih berdiri di pintu loteng, satu tangan memegang sisi pintu. Wajahnya tetap datar. Seolah kalimat itu hanya informasi sederhana, bukan bukti bahwa ia sudah tahu di mana kamar Erlyn sebelum mereka bertemu.
"Apa?" tanya Erlyn, karena terlalu kaget untuk pura-pura tidak mendengar.
"Di lantai dua," katanya. "Pintu kedua sebelah kiri. Jendelanya menghadap pohon flamboyan."
Om Changli menoleh pada putranya dengan sedikit heran. Jing juga terdiam.
Erlyn memandang Chisen. "Koh tahu?"
Kata Koh keluar begitu saja, canggung, belum pas di lidah.
Tatapan Chisen bergerak sebentar ke wajahnya. Untuk pertama kali, ada sesuatu yang hampir mirip perubahan di matanya, terlalu cepat untuk ditangkap.
"Papa yang bilang," jawabnya.
Oh.
Tentu saja.
Erlyn merasa pipinya hangat karena entah mengapa ia sempat berpikir Chisen memperhatikan hal itu sendiri. Pikiran yang bodoh. Mereka baru bertemu. Baginya, Erlyn hanya anak perempuan baru yang dibawa masuk ke rumah.
"Terima kasih," katanya pelan.
Chisen mengangguk lagi.
Lalu, tanpa menunggu siapa pun menambahkan kalimat sopan, ia kembali masuk ke loteng. Pintu bergerak menutup. Sebelum benar-benar tertutup, Erlyn sempat melihat tangannya mengambil kuas dari meja, seolah percakapan tadi hanya jeda yang mengganggu pekerjaannya.
Klik.
Pintu loteng tertutup.
Di koridor, bau cat masih tertinggal.
Jing menarik napas, lalu tersenyum pada Erlyn. "Koh Chisen memang agak pendiam."
Erlyn menatap pintu yang sudah tertutup itu.
Pendiam, tapi baik.
Kalimat orang dewasa itu kembali terlintas di kepalanya. Namun kali ini, Erlyn tidak yakin bagian mana yang harus ia percaya. Yang ia tahu, kamar barunya ada di sebelah kiri, jendelanya menghadap pohon flamboyan, dan orang yang baru saja menutup pintu loteng itu sudah tahu sebelum ia bertanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!