Indonesia
NovelToon NovelToon

Menikahi Sang Pewari

Episode 1

Bab 1

Gadis yang Dijual

"Tiga hari lagi, kamu menikah dengan Rayhan Wijaya."

Suara Papa Liem jatuh di ruang makan seperti palu yang memukul meja kaca. Tidak keras, tapi cukup membuat sendok di tangan Senja berhenti di udara.

Di luar jendela, hujan tipis menggantung di langit Jakarta. Airnya menempel di kaca, turun pelan seperti garis-garis yang tidak selesai. Di dalam rumah Liem, pendingin ruangan bekerja terlalu dingin, membuat ujung jari Senja terasa kaku.

Dia menatap bubur ayam di mangkuknya. Belum sempat dimakan. Aroma kaldu yang biasanya bisa menenangkan perutnya tiba-tiba membuat dadanya sesak.

"Rayhan Wijaya?" ulangnya pelan.

Papa Liem tidak mengangkat wajah dari tablet di tangannya. "Pewaris Wijaya Group. Kamu pasti pernah mendengar namanya."

Tentu saja pernah.

Siapa di Jakarta yang tidak mengenal nama itu?

Wijaya Group memiliki gedung-gedung tinggi di SCBD, jaringan properti di kota-kota besar, dan pengaruh yang bisa membuat banyak pintu terbuka hanya dengan satu telepon. Rayhan Wijaya, satu-satunya pewaris keluarga itu, sering muncul di artikel bisnis. Usianya belum tiga puluh, tapi cara media menulis namanya seperti menulis seorang raja muda.

Dingin. Tajam. Tidak bisa disentuh.

Senja pernah melihat fotonya sekilas di layar ponsel Lara. Pria itu berdiri di depan lift kantor, mengenakan jas hitam, wajahnya tampan dengan tatapan yang membuat orang ingin menunduk lebih dulu.

Dan sekarang Papa Liem berkata, tiga hari lagi pria itu akan menjadi suaminya.

"Papa..." Senja meletakkan sendok perlahan. "Kenapa begitu mendadak?"

Baru saat itu Papa Liem menatapnya. Tatapan itu bukan tatapan seorang ayah yang ingin menjelaskan sesuatu kepada anaknya. Itu tatapan seorang pemilik perusahaan yang sudah menutup rapat sebuah kesepakatan.

"Tidak mendadak. Pembicaraan ini sudah berjalan lama."

Senja merasakan sesuatu di dalam dadanya jatuh lebih dalam.

Sudah berjalan lama.

Berarti semua orang tahu. Semua orang menunggu. Hanya dia yang diberi tahu ketika keputusan itu sudah tidak bisa diubah.

"Keluarga Wijaya membutuhkan pernikahan yang tenang. Keluarga kita membutuhkan kerja sama mereka." Papa Liem menggeser tablet ke samping. "Kamu akan menikah dengan baik-baik. Pernikahan resmi. Gereja sudah diatur, catatan sipil juga."

"Tapi aku..." Suaranya tersangkut. "Aku belum pernah bertemu dengannya."

Serena yang sejak tadi duduk di sisi lain meja akhirnya tertawa pelan.

Tawa itu halus, nyaris sopan, tapi cukup tajam untuk menusuk.

"Memangnya kamu kira pewaris Wijaya punya waktu untuk berkenalan dulu denganmu?" Serena mengaduk kopi tanpa meminumnya. Kuku merah mudanya mengetuk cangkir porselen. "Senja, kamu harus bersyukur. Perempuan seperti kamu diberi kesempatan masuk ke keluarga sebesar itu."

Senja menoleh. Serena Liem tampak rapi seperti biasa, rambutnya jatuh bergelombang di bahu, blus sutranya tidak memiliki satu kerutan pun. Di rumah ini, Serena selalu seperti benda mahal yang diletakkan di lemari kaca.

Senja, sebaliknya, lebih sering merasa seperti barang yang disimpan di gudang, dikeluarkan hanya ketika keluarga ini membutuhkannya.

"Serena," tegur Papa Liem singkat, tapi tidak ada kemarahan di sana.

Serena mengangkat bahu. "Aku hanya bilang fakta, Pa."

Fakta.

Kata itu mengikuti Senja sejak kecil.

Faktanya, dia bukan anak kandung keluarga Liem. Faktanya, dia dibawa pulang ketika masih bayi karena belas kasihan mendiang Mama Liem. Faktanya, semua biaya sekolah, makanan, pakaian, dan atap di atas kepalanya adalah utang yang selalu bisa disebutkan kapan saja.

Faktanya, dia tidak punya hak untuk menolak.

"Bagaimana dengan pekerjaanku di sanggar?" tanya Senja. Dia memaksa suaranya tetap tenang. "Ko Jefri sedang menyiapkan pertunjukan bulan depan."

"Kamu tetap bisa menari kalau suamimu mengizinkan," jawab Papa Liem.

Kalau suamimu mengizinkan.

Kalimat itu menutup semua jalan keluar.

Senja menunduk, melihat telapak tangannya sendiri di pangkuan. Ada bekas kapalan tipis di pangkal jari akibat latihan tari. Tubuhnya mungkin terlihat lemah, tapi di ruang latihan, dia masih bisa memilih kapan harus berputar, kapan harus berhenti, kapan harus menahan napas sebelum musik jatuh.

Di rumah ini, bahkan napasnya seperti harus meminta izin.

"Kamu mengerti, kan?" Papa Liem bertanya.

Bukan benar-benar bertanya.

Senja mengangguk. Pelan. "Aku mengerti."

Serena tersenyum lebih lebar.

Setelah sarapan yang tidak pernah benar-benar dimakan, Senja naik ke kamar. Kamarnya berada di lantai dua, di ujung lorong, tidak sebesar kamar Serena yang menghadap taman. Tetapi kamar itu cukup untuk menyimpan pakaian, beberapa buku, dan satu kotak kayu berisi aksesori tari.

Dia menutup pintu, lalu berdiri diam di baliknya.

Baru setelah suara langkah pembantu menjauh, bahunya turun.

Ponselnya bergetar.

Lara: Sen, kamu ke sanggar hari ini? Ko Jefri cari kamu.

Senja menatap pesan itu lama sebelum membalas.

Senja: Aku mungkin terlambat.

Lara: Kamu sakit lagi?

Senja hampir menulis tidak. Tetapi jari-jarinya berhenti di atas layar.

Bagaimana cara mengatakan bahwa dia tidak sakit, hanya dijual?

Belum sempat dia membalas, pintu kamarnya diketuk dua kali. Tanpa menunggu jawaban, Serena masuk.

"Kamu belum mulai berkemas?" Serena memandang sekeliling kamar dengan ekspresi geli. "Tiga hari itu cepat, lho."

Senja mengunci ponselnya. "Aku belum tahu apa yang harus kubawa."

"Bawa apa saja yang pantas. Jangan mempermalukan keluarga Liem." Serena mengambil sehelai selendang tari dari kursi, menyentuh kainnya dengan ujung jari seolah takut tertular debu. "Atau mungkin tidak usah bawa terlalu banyak. Di Wijaya Mansion nanti, mereka pasti bisa membelikanmu yang baru."

"Aku tidak meminta apa pun dari mereka."

"Kamu tidak perlu meminta." Serena mendekat. Parfumnya manis, terlalu kuat, membuat hidung Senja gatal. "Keberadaanmu saja sudah cukup mahal."

Senja mengangkat wajah.

Untuk sesaat, kedua perempuan itu saling menatap. Serena dengan dagu terangkat, Senja dengan dada yang terasa semakin sempit.

"Apa maksudmu?"

Serena tersenyum, suara turun menjadi bisikan.

"Papa Liem menjadikanmu jembatan ke Wijaya Group. Kamu pikir kenapa bukan aku yang dinikahkan? Karena keluarga Wijaya tidak meminta putri kandung. Mereka hanya butuh istri yang tidak banyak bicara." Matanya menyapu Senja dari kepala sampai kaki. "Dan kamu cocok sekali."

Jari Senja mencengkeram ujung meja rias.

Ada banyak jawaban yang sempat naik ke tenggorokannya. Tentang Serena yang selalu mengambil semua hal terbaik. Tentang dirinya yang selalu diam bukan karena tidak punya suara, melainkan karena setiap suara di rumah ini akan dipatahkan sebelum sampai ke telinga siapa pun.

Tetapi yang keluar hanya, "Keluar dari kamarku."

Serena berkedip. Mungkin karena Senja jarang sekali berkata seperti itu.

Lalu dia tertawa kecil.

"Mulai berani? Bagus. Simpan sedikit keberanian itu untuk malam pertama nanti." Serena berjalan ke pintu. "Katanya Rayhan Wijaya lebih dingin dari batu. Jangan menangis kalau dia bahkan tidak melihatmu."

Pintu tertutup.

Senja tetap berdiri di tempatnya. Tubuhnya gemetar, bukan karena marah saja, tapi karena ketakutan yang mulai terasa nyata.

Rayhan Wijaya.

Nama itu seperti pintu besar yang akan menelannya.

Sore harinya, Senja memaksa dirinya pergi ke Sanggar Tari Jefri. Ruang latihan berlantai kayu itu berbau keringat, damar lantai, dan sedikit minyak kayu putih dari tas para penari. Musik gamelan kontemporer mengalun pelan dari speaker.

Begitu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya bergerak dengan ingatan yang lebih jujur dari pikirannya. Tangan membuka, bahu turun, kepala menoleh mengikuti hitungan.

Satu. Dua. Tiga.

Untuk beberapa menit, dia bukan anak angkat keluarga Liem. Bukan calon istri seorang pria asing. Bukan barang tukar dalam kesepakatan bisnis.

Dia hanya Senja.

"Berhenti dulu."

Suara Ko Jefri membuat musik dimatikan. Pria itu berdiri di dekat cermin, alisnya sedikit berkerut.

"Kamu kehilangan napas di bagian tengah," katanya. "Ada apa?"

Senja menyeka keringat di leher. Rambut halus di tengkuknya basah. "Tidak apa-apa, Ko."

"Senja." Nada Ko Jefri lembut, tapi tidak mudah dibohongi. "Kamu hampir jatuh tadi."

Lara yang baru datang langsung menghampirinya. "Wajahmu pucat banget. Kamu makan?"

Senja tersenyum tipis. "Sudah."

"Bohong," ujar Lara cepat.

Ko Jefri memberi isyarat agar penari lain istirahat. "Duduk dulu. Jangan paksa tubuhmu."

Senja menurut. Ketika duduk di bangku dekat jendela, ponselnya kembali bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Besok pukul 10.00, fitting gaun. Jangan terlambat.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada salam. Hanya perintah.

Lara melirik layar sebelum Senja sempat menyembunyikannya. "Fitting gaun? Gaun apa?"

Senja menggenggam ponselnya terlalu erat sampai buku jarinya memutih.

Dia bisa berbohong. Bisa berkata itu gaun pertunjukan. Bisa mengalihkan pembicaraan.

Tetapi mendadak lelahnya terasa lebih berat daripada rasa takut.

"Aku akan menikah," katanya.

Lara terdiam. Ko Jefri yang sedang mengambil botol air juga berhenti.

"Menikah?" Lara mengulang, suaranya naik. "Dengan siapa?"

Senja melihat pantulan dirinya di cermin besar ruang latihan. Wajahnya kecil, matanya merah, tubuhnya berdiri di antara kain-kain tari dan masa depan yang tidak dia pilih.

"Rayhan Wijaya."

Nama itu membuat ruang latihan terasa sunyi.

Lara menutup mulutnya. Ko Jefri tidak langsung bicara. Di luar, suara motor dari jalan raya terdengar jauh dan asing.

"Sen," Lara akhirnya berbisik, "kamu mau?"

Pertanyaan sederhana itu menghantam lebih keras daripada semua sindiran Serena.

Kamu mau?

Seumur hidupnya, tidak banyak orang bertanya apa yang dia mau.

Senja menelan rasa panas di tenggorokan. Dia ingin berkata tidak. Dia ingin berkata dia takut. Dia ingin seseorang menariknya keluar dari keputusan yang sudah ditulis orang lain atas namanya.

Namun yang terbayang adalah wajah Papa Liem di ruang makan, Serena dengan senyum tipisnya, dan kata utang yang tidak pernah diucapkan tapi selalu menggantung di atas kepalanya.

"Aku tidak punya pilihan," jawabnya.

Lara memeluknya saat itu juga. Pelukan itu hangat, terlalu hangat, sampai pertahanan Senja retak sedikit.

Dia tidak menangis keras. Hanya matanya yang basah dan napasnya yang tersendat di bahu sahabatnya.

Ko Jefri memalingkan wajah ke jendela, memberi mereka ruang.

Malamnya, Senja pulang ketika rumah Liem sudah sepi. Di atas tempat tidurnya, beberapa kotak baru sudah diletakkan. Gaun, sepatu, clutch kecil, semua masih berlabel butik mahal. Benda-benda itu cantik, tapi Senja menatapnya seperti menatap rantai berlapis emas.

Di antara kotak itu ada map putih.

Dia membukanya.

Jadwal pemberkatan. Jadwal catatan sipil. Daftar tamu terbatas. Nama lengkapnya tertulis rapi di samping nama Rayhan Wijaya.

Senja Liem.

Rayhan Wijaya.

Dua nama yang belum pernah saling memanggil, sudah disatukan di atas kertas.

Ponselnya menyala lagi. Kali ini pesan dari Serena.

Serena: Nikmati hidup curianmu, pengganti.

Senja menatap layar sampai huruf-huruf itu kabur.

Di luar jendela, hujan akhirnya turun lebih deras. Suaranya memukul genting dan kaca, memenuhi kamar kecilnya dengan sesuatu yang mirip tepuk tangan jauh.

Dia meletakkan map putih itu di meja, lalu duduk di tepi ranjang.

Tiga hari lagi, dia akan menikah dengan pria yang tidak pernah dia temui.

Tiga hari lagi, dia akan meninggalkan rumah yang tidak pernah benar-benar menjadi rumah.

Dan tiga hari lagi, seluruh Jakarta akan mengenalnya sebagai Nyonya Wijaya, istri dari Young Master paling ditakuti di kota ini.

Episode 2

Bab 2

Pewaris Wijaya

Rayhan Wijaya tidak suka menunggu.

Di ruang rapat lantai empat puluh dua Wijaya Tower, kalimat itu sudah menjadi hukum tidak tertulis. Para direktur tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus menelan kembali alasan yang mereka siapkan.

Pagi itu, Jakarta terbentang di balik dinding kaca. Gedung-gedung SCBD berdiri rapat seperti papan catur mahal, sementara langit setelah hujan terlihat kelabu dan bersih. Di ujung meja rapat, Rayhan duduk tanpa menyentuh kopi hitam di depannya.

Jas Tom Ford warna arang melekat rapi di bahunya. Jam di pergelangan tangannya tenang, tidak bersuara. Tetapi semua orang di ruangan itu tahu, setiap detik yang lewat tanpa jawaban tepat akan dipotong dari kesabaran pria itu.

"Jadi," ucap Rayhan, matanya menatap layar proyektor. "Kalian kehilangan tiga belas persen margin karena salah membaca pergerakan pasar, lalu solusi yang kalian bawa hanya menaikkan harga sewa?"

Direktur properti di seberang meja menelan ludah. "Pak Wijaya, kondisi pasar retail memang sedang..."

"Aku bertanya tentang solusi, bukan cuaca."

Ruangan hening.

Brandon Setiawan, yang duduk menyamping sambil memutar pulpen, nyaris tertawa. Dia menutupinya dengan batuk kecil.

Rayhan meliriknya sekali. Brandon langsung mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah.

"Lanjutkan," kata Rayhan kepada direktur itu.

Pria paruh baya itu membuka map dengan tangan sedikit gemetar. "Kami sudah menyiapkan opsi kerja sama dengan tenant internasional. Jika disetujui, pemulihan margin bisa terlihat dalam dua kuartal."

"Dua kuartal terlalu lama."

"Satu kuartal sulit, Pak."

"Kalau mudah, aku tidak perlu membayar kalian."

Tidak ada yang membantah.

Dalam lima belas menit berikutnya, Rayhan membongkar proposal mereka satu per satu. Bukan dengan suara tinggi. Dia tidak perlu berteriak. Ketika dia menolak sebuah angka, semua orang tahu angka itu mati. Ketika dia menandai sebuah nama, semua orang tahu orang itu akan bekerja sampai tengah malam.

Brandon menunggu sampai rapat selesai dan para direktur keluar dengan wajah lebih pucat daripada saat masuk. Pintu kaca tertutup, meninggalkan mereka berdua di ruangan yang terlalu luas.

"Kamu sadar, kan, setengah dari mereka mungkin butuh obat lambung setelah rapat tadi?" Brandon bersandar di kursi.

Rayhan mengambil kopi yang sudah dingin, menyesapnya tanpa ekspresi. "Mereka dibayar untuk berpikir."

"Dan kamu dibayar untuk membuat orang tua sebelum waktunya?"

"Kalau kamu datang hanya untuk bercanda, keluar."

Brandon tertawa. "Aku datang sebagai sahabat yang peduli pada kesehatan mentalmu."

"Aku tidak punya masalah mental."

"Itu menurutmu."

Rayhan menatapnya datar.

Brandon mengangkat bahu. "Baiklah, baiklah. Aku juga datang karena mendengar kabar menarik."

Rayhan sudah tahu arah pembicaraan itu. Di atas meja, ponselnya menyala sekali. Nama Hendrik Wijaya muncul di layar, lalu padam sebelum dia menyentuhnya.

"Kalau soal pernikahan," kata Rayhan, "tidak ada yang menarik."

"Tiga hari lagi kamu menikah, Han. Itu cukup menarik untuk orang normal."

"Aku bukan orang normal menurutmu, jadi berhenti memakai ukuran itu."

Brandon tersenyum lebar. "Nah, itu dia. Justru karena kamu bukan orang normal, aku penasaran perempuan seperti apa yang sanggup dijadikan istrimu."

"Dijadikan," ulang Rayhan. "Kata yang tepat."

Dia berdiri dan berjalan ke jendela. Dari atas sini, mobil-mobil di jalan terlihat kecil, bergerak lambat seperti mainan mahal yang tidak penting. Jakarta selalu bising, tapi di ruang setinggi ini, kebisingan itu berubah menjadi dengung jauh.

Tiga hari lagi dia akan menikah.

Kalimat itu terdengar lebih seperti jadwal rapat daripada peristiwa hidup.

Keluarga Liem membutuhkan jalan masuk ke jaringan Wijaya. Engkong Wijaya menginginkan citra keluarga yang stabil sebelum ekspansi ke sektor perbankan diumumkan. Hendrik, seperti biasa, hanya tertarik pada bagaimana sebuah pernikahan bisa menjaga muka keluarga di depan media.

Rayhan?

Dia tidak tertarik pada apa pun.

"Kamu sudah bertemu calon istrimu?" tanya Brandon.

"Tidak perlu."

"Tidak perlu?" Brandon mengulang dengan nada tidak percaya. "Namanya Senja, kan? Senja Liem?"

Rayhan tidak menjawab.

"Nama yang bagus," lanjut Brandon. "Senja. Cocok dengan namamu. Rayhan artinya cahaya, kan? Cahaya saat senja. Romantis sekali."

"Jangan mulai."

"Aku belum mulai. Kalau aku mulai, aku bisa bikin pantun."

"Brandon."

"Oke, tidak jadi."

Ponsel Rayhan kembali menyala. Kali ini pesan dari asistennya.

Pak Wijaya, dokumen perjanjian pernikahan sudah disiapkan. Pihak Liem menyetujui seluruh klausul.

Rayhan membaca pesan itu tanpa perubahan wajah.

Seluruh klausul.

Dua tahun pernikahan. Kompensasi Rp 50 miliar setelah masa perjanjian berakhir jika tidak ada pelanggaran. Tiga bulan pertama tanpa hubungan fisik, tertulis jelas agar tidak ada tuntutan emosional yang tidak perlu. Kewajiban menghadiri acara keluarga seperlunya. Larangan membocorkan isi perjanjian kepada media.

Semua rapi. Semua dingin. Semua bisa ditandatangani.

Seperti kontrak bisnis yang lain.

"Han," suara Brandon kali ini lebih pelan, "kamu yakin mau melakukan ini?"

Rayhan memasukkan ponsel ke saku. "Kamu pikir aku punya pilihan?"

"Kamu selalu punya pilihan. Kamu Rayhan Wijaya."

Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada sesuatu yang lewat di mata Rayhan. Tipis, cepat, hampir tidak terlihat.

"Justru karena aku Rayhan Wijaya," katanya, "pilihanku lebih sedikit dari yang kamu kira."

Brandon diam.

Dia mengenal Rayhan sejak mereka sama-sama remaja. Mengenal cara pria itu membangun tembok, satu batu setiap kali ada orang dewasa di keluarganya mengecewakan dia. Brandon tahu, di balik kesombongan dan lidah tajam Rayhan, ada ruang yang tidak pernah dibuka sejak ibunya menghilang dari hidupnya.

Tetapi itu bukan sesuatu yang bisa dia ucapkan sembarangan.

Pintu ruang rapat diketuk. Seorang asisten masuk dengan tablet di tangan.

"Pak Wijaya, Bapak Hendrik menunggu di line dua. Beliau meminta kepastian kehadiran Anda di fitting jas sore ini."

"Batalkan fitting."

Asisten itu ragu. "Pak?"

"Kirim ukuran terakhirku ke butik. Mereka bisa menyesuaikan."

"Baik, Pak."

"Dan bilang kepada pihak Liem, tidak perlu acara tambahan. Gereja, catatan sipil, makan keluarga. Selesai."

"Baik."

Asisten itu keluar secepat mungkin.

Brandon menghela napas. "Kamu bahkan tidak mau memilih jas pernikahanmu sendiri?"

"Jas tetap jas."

"Istri tetap istri juga?"

Rayhan menoleh. Tatapannya dingin.

Brandon mengangkat tangan lagi. "Pertanyaan serius. Kamu akan tinggal serumah dengan seseorang. Dia manusia, bukan aksesori keluarga."

"Aku tahu."

"Apa kamu tahu?"

Diam beberapa detik.

Rayhan kembali ke meja, mengambil rokok dari kotak perak di dekat laptop. Dia tidak menyalakannya. Hanya memegangnya di antara jari, kebiasaan lama ketika pikirannya terlalu penuh.

"Aku tidak akan mengganggunya," katanya akhirnya. "Dia akan mendapatkan status, keamanan, uang, dan kebebasan setelah dua tahun. Itu lebih baik daripada apa yang bisa diberikan keluarga Liem padanya."

Brandon menatapnya lebih tajam. "Kamu sudah menyelidikinya?"

"Cukup untuk tahu dia bukan putri kandung."

"Dan kamu tetap setuju?"

"Itu urusan keluarga Liem, bukan urusanku."

Kalimat itu terdengar kejam bahkan bagi Brandon. Tetapi dia tahu, Rayhan sering memakai kekejaman sebagai cara paling cepat untuk menghentikan percakapan yang terlalu dekat.

"Aku hanya berharap kamu tidak menghancurkan gadis itu," kata Brandon.

Rayhan tidak menjawab.

Di saku jasnya, ponsel bergetar lagi. Kali ini bukan pesan kerja, melainkan foto yang dikirim oleh Hendrik.

Calon istrimu. Jangan buat masalah di hari pernikahan.

Rayhan membuka foto itu.

Seorang perempuan berdiri di ruang latihan tari, mengenakan pakaian latihan warna putih gading. Rambutnya diikat rendah, wajahnya menoleh sedikit ke samping. Cahaya dari jendela menyentuh pipinya, membuat matanya tampak lembut dan jauh.

Dia tidak tersenyum.

Entah kenapa, justru itu yang membuat foto itu tertinggal di pandangan Rayhan sedikit lebih lama.

Brandon bangkit dan berjalan mendekat, mencoba melihat layar. "Wah. Cantik juga?"

Rayhan mematikan layar sebelum Brandon sempat melihat jelas.

"Pelit sekali. Itu calon istrimu, bukan dokumen rahasia negara."

"Lebih baik kamu kembali bekerja."

"Aku ini tamu."

"Tamu yang tidak diundang."

Brandon menyeringai, tapi matanya masih menyisakan kekhawatiran. "Setidaknya lihat dia sebagai manusia saat menikah nanti. Bukan hanya tanda tangan di kertas."

Rayhan memasukkan ponsel ke laci meja.

Dia berdiri di tengah ruangan yang seluruhnya mencerminkan kekuasaan: meja panjang, kaca tinggi, kota di bawah kakinya, nama Wijaya di belakang punggungnya.

Namun untuk sesaat, bayangan perempuan di foto tadi masih melekat di benaknya. Mata yang tidak tersenyum. Bahu yang terlihat terlalu ringan untuk membawa beban keluarga Liem dan Wijaya sekaligus.

Rayhan membenci pikiran itu.

Dia menutup laci dengan sekali dorong.

"Seperti apa wajahnya tidak penting," katanya datar. "Pernikahan ini hanya kesepakatan."

Episode 3

Bab 3

Hari Pernikahan

Gaun putih itu terlalu indah untuk pernikahan yang tidak dipilihnya sendiri.

Senja berdiri di ruang rias kecil di belakang gereja, menatap pantulan dirinya di cermin tinggi. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan jatuh di dekat pipi. Makeup di wajahnya lembut, membuat matanya tampak lebih besar dan lebih tenang daripada yang sebenarnya.

Di dadanya, jantung berdebar tanpa ritme.

Lara berdiri di belakangnya sambil merapikan ujung veil. Tidak banyak orang yang diizinkan hadir hari itu. Dari pihak Liem hanya Papa Liem, Serena, dan beberapa kerabat dekat. Dari pihak Wijaya, kabarnya hanya keluarga inti, Engkong Wijaya, Brandon, dan beberapa orang kepercayaan.

Pernikahan konglomerat yang seharusnya bisa memenuhi ballroom hotel bintang lima itu justru dibuat tertutup.

Terlalu tertutup, seolah semua orang ingin cepat menyelesaikannya sebelum ada yang sempat bertanya kenapa.

"Sen," bisik Lara, "kalau kamu mau kabur, aku masih bisa cari pintu belakang."

Senja menoleh.

Lara tidak tersenyum. Matanya merah, mungkin karena sejak tadi menahan tangis.

Untuk sesaat, dada Senja terasa hangat dan sakit bersamaan. Dia ingin tertawa, tapi yang keluar hanya hembusan napas.

"Aku pakai gaun seperti ini. Susah lari."

"Aku bisa gendong."

"Kamu akan jatuh duluan."

Lara menggigit bibir. "Aku serius."

Senja menatap sahabatnya melalui cermin. Di belakang mereka, gaun putih itu mengembang seperti awan kecil. Cantik, bersih, mahal. Tidak ada yang tahu bahwa tangan di balik sarung renda itu dingin sampai ujung kuku.

"Aku tahu," jawab Senja pelan. "Tapi aku tidak bisa."

Lara memejamkan mata sebentar, lalu memeluknya dari belakang dengan hati-hati agar tidak merusak gaun.

"Kalau dia jahat padamu, telepon aku. Jam berapa pun."

Senja mengangguk. Kali ini, dia tidak berani bicara karena takut suaranya pecah.

Ketukan terdengar di pintu.

Seorang wedding organizer membuka pintu sedikit. "Nona Senja, sudah waktunya."

Nona Senja.

Beberapa menit lagi, panggilan itu akan berubah.

Di sisi lain gereja, Rayhan Wijaya berdiri di dekat altar dengan jas hitam yang dikirim butik tanpa fitting. Jas itu tetap jatuh sempurna di tubuhnya, tentu saja. Orang seperti dia bahkan tampak seperti sudah lahir dengan ukuran yang disiapkan dunia.

Brandon berdiri di sampingnya sebagai pendamping. Pria itu menoleh ke arah pintu gereja yang masih tertutup, lalu melirik Rayhan.

"Kamu tegang?"

"Tidak."

"Kamu bahkan belum melihat calon istrimu masuk."

"Aku punya mata."

"Punya hati juga?"

Rayhan tidak menjawab.

Brandon menahan senyum. "Baiklah. Karena suasana terlalu kaku, aku sudah menyiapkan sesuatu."

"Jangan."

"Kamu belum tahu aku mau apa."

"Karena aku mengenalmu."

Brandon justru berdeham kecil, lalu berkata dengan suara cukup pelan agar hanya Rayhan yang mendengar, "Anggrek mekar di senja hari, Rayhan yang bercahaya menerangi."

Rayhan menoleh perlahan. "Itu buruk."

"Itu pantun penuh doa."

"Itu ancaman terhadap selera bahasa."

Brandon nyaris tertawa keras, tapi suara organ gereja mulai mengalun. Semua orang berdiri.

Pintu terbuka.

Rayhan mengangkat pandangan.

Untuk pertama kalinya, dia melihat Senja Liem bukan sebagai nama di dokumen, bukan sebagai foto yang dikirim Hendrik, melainkan sebagai perempuan yang berjalan perlahan di lorong gereja dengan wajah pucat dan mata yang berusaha tidak goyah.

Dia tampak kecil di antara kursi-kursi kayu dan rangkaian anggrek putih yang dipasang di kedua sisi lorong. Bukan kecil karena tubuhnya, tetapi karena seluruh ruangan seperti menaruh beban di bahunya.

Papa Liem menggandengnya. Pria itu berjalan tegap, terlalu puas untuk seorang ayah yang sedang melepas anaknya.

Senja tidak melihat ke kanan atau kiri. Tangannya mencengkeram buket anggrek putih sampai batang bunganya sedikit miring.

Rayhan menyadari detail itu.

Lalu dia membenci dirinya sendiri karena menyadarinya.

Ketika mereka berhenti di depan altar, Papa Liem menyerahkan tangan Senja kepada Rayhan.

Sentuhan pertama mereka terjadi tanpa drama. Hanya ujung jari dingin Senja yang menyentuh telapak tangan Rayhan.

Tetapi Senja menahan napas.

Rayhan merasakannya.

Dia menunduk sedikit. Dari dekat, wajah Senja lebih lembut daripada di foto. Matanya tidak sepenuhnya takut. Ada sesuatu yang lain di sana, seperti seseorang yang sudah terlalu sering disuruh menerima sampai lupa bagaimana cara meminta.

"Jangan pingsan," kata Rayhan sangat pelan, hampir tanpa menggerakkan bibir.

Senja terkejut. Dia mendongak, dan untuk pertama kalinya mata mereka benar-benar bertemu.

Suara pendeta di depan mereka tetap mengalir, tetapi selama satu detik, dunia mengecil menjadi tatapan pria itu. Mata Rayhan gelap, tenang, terlalu tenang. Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Namun tangannya kokoh di bawah tangannya, tidak membiarkannya jatuh.

"Aku tidak akan pingsan," bisik Senja.

"Bagus."

Itu percakapan pertama mereka sebagai calon suami istri.

Singkat. Dingin. Aneh.

Dan entah kenapa, membuat Senja sedikit lebih mampu berdiri.

Pemberkatan berjalan cepat. Pendeta berbicara tentang kasih, kesetiaan, dan rumah tangga yang dibangun bukan hanya dengan janji, melainkan dengan kesabaran. Kata-kata itu terdengar begitu indah sampai Senja hampir merasa bersalah karena tidak bisa mempercayainya.

Ketika tiba saat bertukar cincin, Brandon menyerahkan kotak beludru hitam kepada Rayhan.

Cincin itu sederhana, platinum polos dengan satu garis tipis di tengah. Tidak romantis, tapi mahal. Seperti semua hal tentang keluarga Wijaya.

Rayhan mengambil cincin untuk Senja.

Tangannya hangat. Tangan Senja dingin.

Saat cincin itu masuk ke jari manisnya, Senja menatap benda kecil itu dengan perasaan kosong. Begitu ringan, tetapi mengubah seluruh hidupnya.

"Senja Liem," suara pendeta terdengar lembut, "apakah engkau bersedia menerima Rayhan Wijaya sebagai suamimu?"

Ada jeda sepersekian detik.

Lara yang duduk di barisan depan mencengkeram tisu. Serena menatap dengan bibir melengkung. Papa Liem tidak berkedip.

Senja mendengar detak jantungnya sendiri.

"Saya bersedia," jawabnya.

Rayhan menatapnya sekilas.

Kemudian giliran Senja memasangkan cincin ke jari Rayhan. Jari pria itu panjang, kuat, dengan urat halus di punggung tangan. Tidak ada getaran sedikit pun.

"Rayhan Wijaya, apakah engkau bersedia menerima Senja Liem sebagai istrimu?"

"Saya bersedia," kata Rayhan.

Suaranya rendah, stabil, tanpa emosi.

Namun tetap saja, kata-kata itu membuat gereja kecil tersebut berubah. Orang-orang bertepuk tangan pelan. Kamera keluarga mengambil gambar. Serena tersenyum untuk foto. Papa Liem menjabat tangan Hendrik Wijaya dengan wajah lega.

Senja berdiri di sisi Rayhan, merasa seperti baru saja menandatangani sesuatu yang tidak dia baca.

Setelah pemberkatan dan pencatatan sipil, makan keluarga dilakukan di sebuah restoran privat dekat Menteng. Meja panjang dihiasi anggrek putih dan lilin rendah. Hidangan keluar satu per satu, tetapi Senja hampir tidak bisa menelan.

Brandon mengambil tempat di sebelah Rayhan dan mengangkat gelas.

"Untuk pasangan baru," katanya cerah. "Semoga anggrek yang mekar di senja hari benar-benar mendapat cahaya yang cukup."

Beberapa orang tertawa sopan.

Rayhan menatap Brandon seperti ingin mengusirnya dari Jakarta.

Senja tidak mengerti seluruh maksud pantun itu, tapi dia mendengar namanya dan nama Rayhan di sana. Pipinya memanas sedikit.

"Jangan dengarkan dia," kata Rayhan tanpa menoleh.

Senja baru sadar pria itu bicara kepadanya.

"Kenapa?"

"Dia terlalu banyak waktu luang."

Brandon meletakkan tangan di dada. "Aku tersinggung sebagai sahabat sekaligus penyair keluarga."

"Kamu bukan penyair."

"Belum diakui saja."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Senja hampir bergerak. Hampir.

Rayhan melihatnya. Hanya sebentar.

Lalu Serena datang mendekat dengan gelas jus di tangan.

"Selamat, Senja," ucapnya manis. "Sekarang kamu benar-benar Nyonya Wijaya."

Senja tahu nada itu.

Nada yang terdengar seperti ucapan selamat, tapi menyimpan pisau di belakangnya.

"Terima kasih," jawab Senja.

Serena menatap cincin di jarinya. "Jaga baik-baik apa yang bukan milikmu sejak awal."

Sebelum Senja sempat menjawab, suara Rayhan terdengar.

"Apa maksudmu?"

Serena terdiam.

Rayhan bahkan tidak menaikkan suara. Dia hanya menatap Serena dengan dingin, tetapi warna wajah Serena berubah sedikit.

"Tidak ada, Pak Rayhan. Aku hanya bercanda dengan Senja."

"Aku tidak suka bercanda."

Brandon pura-pura sibuk minum.

Senja menoleh ke Rayhan, tidak yakin apakah pria itu sedang membelanya atau hanya tidak suka keributan di acara keluarga.

Rayhan tidak menatapnya. "Duduk."

Perintah itu ditujukan kepada Serena.

Serena tersenyum kaku, lalu kembali ke tempatnya.

Senja menunduk, menatap cincin di jarinya lagi. Benda itu masih terasa asing. Tetapi untuk beberapa detik, dinginnya tidak terlalu menusuk.

Malam turun ketika mobil hitam membawa mereka ke Wijaya Mansion. Menteng terlihat tenang, pohon-pohon tua di sisi jalan basah oleh sisa hujan. Di dalam mobil, Senja duduk di sisi kiri, Rayhan di kanan. Jarak di antara mereka cukup untuk satu orang lain.

Tidak ada yang bicara.

Senja bisa mencium aroma kayu cendana yang samar dari tubuh Rayhan. Aroma itu bersih, dingin, dan mahal. Seperti rumah yang akan dia masuki.

Wijaya Mansion berdiri di balik pagar tinggi, bangunan tua yang direnovasi dengan kaca dan batu alam. Lampu taman menyala lembut, membuat rumah itu terlihat indah sekaligus tidak ramah.

Pak Hadi menyambut mereka di pintu.

"Selamat datang, Tuan muda. Selamat datang, Nyonya."

Nyonya.

Senja menahan napas.

Rayhan berjalan masuk lebih dulu. Senja mengikutinya melewati foyer luas, tangga melengkung, dan lorong panjang yang begitu sunyi sampai suara langkahnya terdengar terlalu jelas.

Kamar utama berada di lantai dua.

Ketika pintu dibuka, Senja melihat tempat tidur besar dengan seprai putih, sofa panjang dekat jendela, dan vas berisi anggrek di meja samping. Semua sudah disiapkan dengan sempurna.

Terlalu sempurna.

Rayhan melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran kursi.

"Kamar mandi di kanan. Lemari sebelah kiri sudah dikosongkan untukmu."

Senja memeluk tas kecilnya. "Baik."

"Aku tidur di sisi kanan."

"Baik."

Jawaban itu keluar otomatis.

Rayhan menatapnya sebentar. "Kamu hanya bisa bilang baik?"

Senja terdiam.

Dia tidak tahu harus menjawab apa. Di rumah Liem, kata itu sering menyelamatkannya dari pertengkaran. Di hadapan Rayhan, kata itu terasa tiba-tiba memalukan.

"Maaf," ucapnya.

Rayhan menghela napas pendek, seperti tidak sabar. "Lupakan."

Malam pertama mereka tidak seperti cerita yang pernah Senja dengar dari orang lain. Tidak ada bisikan manis. Tidak ada tangan yang mencari tangan. Tidak ada percakapan panjang tentang masa depan.

Setelah mandi, Senja keluar dengan piyama lengan panjang yang paling tertutup yang dia bawa. Rayhan sudah berbaring di sisi kanan, membaca dokumen di tablet.

Di tengah tempat tidur, sebuah bantal panjang diletakkan membujur.

Senja berhenti di dekat ranjang.

Rayhan tidak mengangkat wajah. "Batas sementara."

Sementara.

Kata itu tidak menenangkan, tapi setidaknya memberi bentuk pada ketakutan.

Senja naik ke tempat tidur dari sisi kiri, menjaga agar tubuhnya tidak menyentuh bantal itu. Lampu kamar diredupkan. Tablet Rayhan akhirnya dimatikan.

Gelap turun perlahan.

Di luar, sisa hujan menetes dari daun-daun pohon tua. Di dalam kamar, dua orang yang baru saja menjadi suami istri berbaring kaku, dipisahkan oleh satu bantal panjang dan ribuan hal yang tidak mereka katakan.

Senja menghadap ke kiri.

Rayhan menghadap ke kanan.

Di antara punggung mereka, keheningan terasa lebih dingin daripada pendingin ruangan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!