“Maira, ini Ibu. Tolong angkat teleponnya, Ibu mau bicara sama kamu!”
Layar ponsel pintar di atas meja rias berkedip, menampilkan barisan pesan singkat yang langsung membuat atmosfer kamar yang semula tenang berubah menjadi mencekam.
Maira, yang sedang memegang kuas eyeshadow, menghentikan gerakannya. Matanya menatap tajam ke arah layar itu dengan perasaan yang teramat kesal.
Mau apa lagi orang ini? batin Maira. Rahangnya mengatup rapat, menahan gemuruh yang tiba-tiba bangkit di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak menggubris pesan itu dan memilih melanjutkan riasan matanya, mencoba abai.
Namun, benda pipih itu tidak membiarkannya tenang. Detik berikutnya, ponsel itu kembali berdering nyaring. Getarannya di atas meja kayu terdengar seperti ketukan egois yang memburu. Suara dering itu terus berulang, menembus gendang telinga dan membuat kepala Maira berdenyut pusing.
Hilang kesabaran, Maira menyambar ponselnya dengan sentakan kasar. Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan benda itu ke telinganya tanpa menunggu si penelepon bersuara.
“Saya bukan Maira,” jawabnya singkat, dingin, dan penuh penekanan.
Tanpa memberikan kesempatan bagi suara di seberang sana untuk membalas, Maira langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Jari-jarinya yang gemetar dengan cepat bergerak di atas layar, menekan menu pengaturan, lalu memblokir nomor itu secara permanen. Ia melempar ponselnya ke atas kasur seolah benda itu baru saja membakar tangannya.
Malam itu, Maira sebenarnya sudah bersiap untuk pergi clubbing dengan teman-temannya. Gaun malam hitam ketat sudah melekat di tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat. Riasan wajahnya malam ini sengaja dibuat lebih tebal dari biasanya—sebuah topeng yang selalu ia gunakan untuk menyembunyikan kerapuhan jiwanya.
Tepat saat ia selesai merapikan lipstik merah menyala di bibirnya, sebuah suara ketukan terdengar dari arah depan. Rumah peninggalan neneknya yang sepi itu mendadak terasa asing.
Tok... tok... tok...
Ketukan itu terdengar tidak sabaran. Maira menghela napas panjang, mengira itu adalah ojek daring yang ia pesan atau barangkali sahabatnya yang menjemput.
“Iya, bentar!” teriak Maira sembari melangkah lebar, berjalan ke arah pintu depan.
Namun, begitu selot pintu digeser dan daun pintu terbuka, seluruh pasokan udara di paru-paru Maira seolah tersedot habis. Maira terdiam sesaat, tubuhnya kaku seperti batu. Matanya menatap tajam, penuh dengan kilatan amarah dan luka mendalam ke arah sosok paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Orang itu tak lain adalah ibunya sendiri. Wanita yang selama bertahun-tahun ini telah membuangnya.
Rasa syok itu dengan cepat berubah menjadi kepanikan yang membakar. Saat Maira bergerak cepat hendak menutup kembali pintu rumahnya, tangan ibunya bergerak tidak kalah cepat. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, tangan ringkih itu menahan pinggiran pintu, mencegah Maira menguncinya dari dalam.
“Ra, tolong... Ibu mau bicara sama kamu. Tolongin Ibu, Nak,” ucap ibu Maira yang bernama Maya. Suaranya bergetar, sarat akan keputusasaan.
Maira mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga, tidak peduli jika tangan ibunya akan terjepit. “Jangan ganggu saya! Saya tidak mau mendengar omongan apa pun dari Anda!” sentak Maira. Panggilan 'Ibu' telah lama mati di lidah dan hatinya.
“Maira... Maira, tolong maafin Ibu...” Isakan Bu Maya akhirnya pecah. Air matanya lolos begitu saja, mengalir membasahi pipinya yang kini tampak begitu keriput dan kusam dimakan usia.
Melihat air mata itu, hati Maira tidak melunak. Justru rasa perih yang teramat sangat menusuk ulu hatinya. Di mana air mata itu saat ia membutuhkannya dulu?
“Saya tidak butuh permintaan maaf Anda. Saya hanya ingin Anda jangan pernah lagi muncul di hadapan saya, seperti biasanya!” ucap Maira dingin, tanpa sudi menatap mata ibunya. Bagi Maira, tatapan wanita itu hanya akan menarik kembali monster-monster dari masa lalunya.
Dengan satu sentakan penutup, Maira berhasil melepaskan tangan Bu Maya dari celah pintu. Ia menutup pintu kayu tebal itu dengan keras. Suara dentuman pintu yang beradu dengan kusen menggema di dalam rumah sepi itu, mengabaikan suara tangisan dan ketukan lirih Bu Maya yang masih terdengar dari luar.
Di balik pintu yang tertutup, Maira menyandarkan punggungnya. Napasnya memburu terengah-engah. Dadanya bergemuruh hebat menahan emosi yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.
Detak jantungnya berpacu liar. Sialan, kemunculan wanita itu barusan bertindak seperti sakelar otomatis. Bayangan-bayangan hitam, aroma obat ngengat yang pekat, dan trauma tentang masa kecilnya berputar kembali di otaknya bagai film dokumenter terkutuk.
Maira mencengkeram kepalanya sendiri, meremas rambutnya yang sudah tertata rapi.
Kenapa... kenapa saat gue mulai bisa tenang dengan kehidupan ini, selalu ada aja hal yang bikin hancur ketenangan gue? batin Maira menjerit. Air matanya menggenang, tapi ia menolak untuk menangis di sini. Ia tidak boleh terlihat lemah.
Drtt... drttt... drt...
Ponsel Maira yang tergeletak di kamar kembali bergetar hebat. Maira melangkah kasar mendekati kasur dan meraih benda itu. Layarnya menampilkan sebuah nama: “Naomi call”. Maira hanya menatap layar yang menyala itu dengan pandangan kosong, sama sekali tak berniat mengangkatnya. Kepalanya terlalu bising untuk mendengar suara siapa pun saat ini.
Saat ponsel itu akhirnya berhenti berdering karena tidak terjawab, beberapa pesan beruntun dari Naomi masuk secara instan.
“Ra, Lo masih dimana? ini gue udah di club.”
“Cepetan anjir, Rayn nanyain Lo terus.”
“Kabarin gue kalo Lo udah di depan pintu masuk club.”
Deretan pesan itu hanya ia baca dari gelembung notifikasi di layar kunci tanpa niat untuk membukanya. Maira menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya yang hampir meledak. Ia berjalan mendekati jendela, menyibak sedikit gorden tipis untuk memastikan bahwa ibunya sudah pergi dari halaman rumah. Setelah melihat siluet wanita tua itu berjalan menjauh di bawah temaram lampu jalan, Maira langsung menyambar tas kecilnya.
Ia harus pergi. Ia harus melangkah keluar malam ini, menuju bisingnya dunia malam, untuk setidaknya menenggelamkan bayang-bayang trauma yang terlintas kembali di benaknya akibat kemunculan ibunya tadi. Baginya, alkohol dan dentuman musik adalah satu-satunya obat bius yang bisa membungkam isi kepalanya.
Tiga puluh menit kemudian, Maira tiba di depan kepulan asap dan lampu neon warna-warni sebuah club malam ternama di pusat kota. Ia berjalan masuk menembus penjagaan di pintu depan. Begitu melangkah ke dalam, aroma alkohol yang bercampur dengan parfum mahal dan asap rokok langsung menyengat indra penciumannya.
Dentuman musik DJ berfrekuensi rendah seolah menggetarkan lantai yang ia pijak.
Tanpa peduli untuk mencari di mana keberadaan Naomi ataupun Rayn yang sejak tadi menunggunya, Maira langsung melangkah lurus menuju meja bar yang terletak di sudut ruangan.
“Vodka, double shot,” ujar Maira setengah berteriak pada bartender di balik meja, mencoba mengalahkan riuh musik.
Begitu gelas kecil berisi cairan bening itu disodorkan, Maira langsung meneggaknya dalam satu kali tegukan. Rasa membakar langsung menjalar dari tenggorokan hingga ke perutnya. Tidak cukup sampai di situ, ia memesan lagi, dan lagi. Ia melampiaskan seluruh amarah, kekecewaan, dan rasa sesak di dadanya ke dalam minuman beralkohol tinggi itu. Ia ingin mabuk. Ia ingin jiwanya mati rasa.
Beberapa waktu berlalu, efek alkohol mulai bekerja. Saat Maira sudah berada dalam kondisi setengah sadar—di mana pandangannya mulai mengabur dan kepalanya terasa berputar—ia memutuskan untuk beranjak dari kursi bar. Dengan langkah yang agak limbung, ia berjalan membelah kerumunan manusia yang sedang berjoget ria, tenggelam menikmati musik DJ di lantai dansa.
Maira berniat mencari toilet atau mungkin udara segar. Namun, tepat saat ia melewati area yang sedikit temaram di dekat pilar besar, matanya menangkap dua siluet tubuh yang sangat ia kenal di bawah kilatan lampu strobe yang berkedip-kedip cepat.
Langkah kaki Maira terhenti seketika. Rasa pusing di kepalanya mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh.
Itu Naomi dan Rayn.
Namun, apa yang sedang mereka lakukan di sudut gelap itu benar-benar membuat Maira mematung di tempat. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Maira melihat dengan mata kepalanya sendiri, Naomi—sahabat yang selama ini menjadi tempatnya bersandar—sedang berciuman dengan sangat mesra di bawah remang lampu club dengan Rayn, kekasihnya sendiri. Pria yang katanya tulus mencintainya.
Kejadian itu telak membuat Maira semakin kesetanan. Rasa sakit hati, dikhianati, dan tidak dihargai menumpuk menjadi satu pusaran amarah yang dahsyat. Dengan langkah gontai namun sarat akan emosi yang meledak-ledak, ia berjalan cepat memotong kerumunan menuju ke arah mereka berdua.
Plakk!
Satu tamparan keras dan nyaring mendarat sempurna di pipi kanan Rayn, mengalahkan suara bising musik di sekitar mereka untuk beberapa detik. Tenaga Maira begitu besar hingga membuat wajah Rayn terlempar ke samping.
Naomi dan Rayn terlonjak syok. Mereka terengah-engah, menatap Maira dengan mata melotot tidak percaya. Wajah Rayn seketika memucat saat menyadari siapa yang berdiri di depan mereka dengan napas memburu dan mata yang merah padam.
“Bajingan!” desis Maira, suaranya bergetar menahan tangis yang kini bercampur amarah yang meluap. “Mulai sekarang kita putus!”
Tanpa memberikan kesempatan bagi keduanya untuk bersuara, Maira langsung membalikkan badan. Ia melangkah pergi keluar dari tempat terkutuk itu dengan air mata yang akhirnya luruh, merusak riasan wajahnya.
“Ra... Maira! Tunggu, gue bisa jelasin!” teriak Rayn, mencoba mengejar langkah Maira yang bergerak cepat menembus kerumunan.
Namun, baru dua langkah Rayn bergerak, sebuah tangan dengan kuku-kuku cantik menahan lengannya dengan kuat. Itu tangan Naomi.
“Rayn, biarin ajalah. Toh dia udah tahu,” ucap Naomi santai, tanpa ada guratan rasa bersalah sedikit pun di wajah cantiknya.
“Tapi, Nom, Maira...” Rayn tampak bimbang, matanya masih memandang ke arah pintu keluar di mana punggung Maira perlahan menghilang.
“Udah, kita have fun lagi aja. Ngapain dipikirin,” ucap Naomi acuh tak acuh, lalu menarik kembali tubuh Rayn ke dalam pelukannya. Rayn hanya bisa terdiam, pasrah menatap ke arah luar sementara dirinya kembali ditarik masuk ke dalam kegelapan club.
Sementara itu, Maira sudah berada di luar. Ia berjalan menyusuri trotoar jalan raya yang sepi di bawah langit malam yang dingin. Tubuhnya oleng ke kanan dan ke kiri akibat pengaruh alkohol yang kembali menguasai kesadarannya yang retak. Air matanya mengalir deras, membasahi leher dan dadanya. Ia tidak tahu bagaimana cara pulang, pikirannya mati total. Ia merasa berjalan di atas duri, hancur lebur tanpa sisa.
Entah bagaimana caranya, dengan sisa-sisa kesadaran yang hampir habis, Maira akhirnya berhasil sampai kembali ke rumah peninggalan nenek dari ayahnya. Rumah tua yang sunyi itu menyambutnya dengan keheningan yang mencekam.
Maira melangkah terseok-seok masuk ke dalam kamar mandi, lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas lantai keramik yang dingin. Di dalam ruangan sempit itu, tangis Maira yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah sejadi-jadinya.
“Haaaaaa...! Rayn... Naomi... kalian semua sialan! Bajingan! Keparat!” teriak Maira histeris. Suaranya menggema pilu, membentur dinding-dinding kamar mandi yang bisu.
Ia memukul-mukul lantai keramik dengan kepalan tangannya hingga memerah. Rasa perih di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya dada Maira saat ini.
“Tega Lo berdua ngekhianatin gue! Tega!” jeritnya lagi, meratapi nasibnya yang begitu malang. Orang-orang yang ia jadikan pelarian dan pegangan hidup ternyata adalah orang-orang yang paling dalam menghujamkan pisau ke punggungnya.
Maira mendongakkan kepalanya yang terasa berat ke atas langit-langit kamar mandi, matanya yang sembap menatap kosong ke kekosongan.
“Tuhannn... di mana Lo?!” teriaknya dengan suara parau yang menyayat hati. “Kenapa Lo bikin gue hancur kayak gini? Buat apa Lo nyiptain gue kalau cuma buat bikin gue menderita?!”
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya yang bergetar. Sebuah protes keras kepada Sang Pencipta yang selama ini ia rasa tidak pernah adil padanya. Pikirannya kini sudah kalut total. Tidak ada lagi waras yang tersisa di kepala Maira. Hari ini benar-benar menjadi hari yang paling hancur, titik paling rendah di dalam sejarah hidupnya yang malang.
Setelah suaranya habis dan napasnya menyengal, Maira tiba-tiba terdiam. Di tengah kesunyian kamar mandi yang dingin itu, dalam posisi meringkuk memeluk lututnya sendiri, benaknya justru perlahan ditarik paksa mundur ke belakang. Di bawah pengaruh sisa alkohol dan rasa sakit yang bertubi-tubi, ia terdiam mengingat kembali sebuah trauma kelam di masa lalu—sebuah titik awal yang menjadi akar dari seluruh kehancuran hidupnya yang sekarang.
Pikiran Maira yang kalut di atas lantai kamar mandi yang dingin perlahan tersedot, terlempar jauh ke masa lalu. Memorinya mundur melintasi waktu, tepat sepuluh tahun yang lalu.
Saat itu Maira baru berusia 14 tahun, seorang gadis remaja yang sedang duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tahun itu adalah gerbang awal di mana ia merasakan arti kehancuran untuk pertama kalinya dalam hidup, yaitu ketika ia ditinggal mati oleh sang ayah tercinta.
Ayahnya adalah cinta pertama Maira. Sosok lelaki yang begitu memanjakannya, memeluknya dengan tulus saat ia bersedih, dan menjaganya bagai permata berharga.
Kepergian sang ayah untuk selamanya meninggalkan lubang hitam yang teramat besar di dada Maira. Kehidupan indahnya runtuh seketika, menyisakan ia dan ibunya sendiri yang harus bertahan di dunia yang terasa kian asing dan kejam ini.
Namun, kedukaan itu tidak berlangsung lama bagi sang ibu. Hanya berselang satu tahun setelah kepergian ayahnya, sang ibu memutuskan untuk menikah lagi. Lelaki yang menjadi pendamping barunya adalah seorang duda tanpa anak bernama Yudi.
Saat pernikahan itu digelar, Maira sempat menaruh secercah harapan. Ia berharap kehadiran figur ayah baru di rumah mereka bisa menjadi pelipur lara, sebuah penawar bagi kerinduan mendalamnya pada almarhum sang ayah. Namun, takdir rupanya senang bercanda dengan kejam. Kehidupan yang ia harapkan membawa kedamaian justru menjadi awal dari sebuah kehancuran yang paling membekas dan mematikan jiwa seorang Maira.
Pada bulan-bulan awal pernikahan, Yudi menampilkan citra seorang laki-laki yang sangat baik, perhatian, dan penuh kasih sayang kepada Maira. Dia sering membawakan makanan kesukaan Maira, menanyakan kabarnya di sekolah, dan bersikap layaknya ayah kandung yang sempurna. Sampai akhirnya, sebuah kejadian di satu malam yang jahanam mengubah seluruh pandangan Maira terhadap Yudi. Di malam itulah Maira menyadari bahwa semua kebaikan lelaki itu hanyalah sebuah kepalsuan di balik topeng yang teramat rapi.
Malam itu, hujan tipis menyelimuti kota, membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Maira sudah tertidur lelap di kamarnya yang hanya diterangi oleh lampu tidur temaram yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut.
Di tengah keheningan malam yang pekat, daun pintu kamar Maira berderit pelan. Yudi mengendap-endap masuk ke dalam kamar anak tirinya itu, melangkah tanpa alas kaki agar tidak menimbulkan suara.
Maira, yang memiliki pendengaran sensitif, samar-samar mendengar suara langkah kaki yang mendekati tempat tidurnya. Kelopak matanya perlahan terbuka, mencoba memfokuskan pandangan di tengah keremangan kamar. Detik itu juga, bulu kuduk Maira berdiri tegak. Hawa dingin yang mencekam mendadak menyergap seisi ruangan.
Yudi sudah berdiri di samping kasurnya. Pria itu menatap Maira dengan senyuman manis, namun di mata Maira, senyuman itu terlihat begitu mengerikan dan penuh nafsu binatang.
“Ada... ada apa, Yah?” tanya Maira dengan suara parau khas orang bangun tidur, bercampur rasa bingung yang amat sangat.
Yudi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya terus tersenyum. Perlahan, tangannya yang terasa panas dan kasar mulai menyentuh tubuh Maira. Sentuhan itu membuat seluruh tubuh Maira bergetar hebat karena ketakutan yang mendadak melumpuhkan syarafnya.
“Diam ya, Mai. Nanti ibumu bangun,” bisik Yudi dengan suara berat yang menjijikkan, tepat di dekat telinga Maira.
Dan sialan, malam itu, bajingan tersebut benar-benar melancarkan aksi bejatnya. Dia mencabuli Maira, merenggut kesucian dari seorang anak perempuan yang bahkan belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
Maira yang syok mencoba berteriak memanggil ibunya, namun dengan cepat tangan besar Yudi membekap mulut Maira dengan kasar hingga pasokan udaranya menipis. Air mata Maira lolos deras menjalar ke pelipisnya. Di bawah kungkungan ayah tirinya, Maira menangis sejadi-jadinya karena rasa takut yang teramat luar biasa dan rasa sakit fisik yang teramat menyiksa menyerang tubuh kecilnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, malam itu menjelma menjadi neraka paling jahanam.
Setelah selesai memuaskan nafsu binatangnya, Yudi berdiri di samping tempat tidur. Ia merapikan pakaiannya, lalu menatap Maira yang meringkuk tak berdaya dengan senyuman puas yang mengerikan. Dengan santai, tangan yang baru saja menodai Maira itu bergerak mengusap pelan kepala anak tirinya.
“Maira sayang, jangan bilang kejadian ini ke siapapun, apalagi ke ibumu. Kalau kamu berani mengadu... nanti Ayah bikin kamu mati,” ancam Yudi, nadanya terdengar sangat tenang namun sarat akan intimidasi yang mematikan.
Maira, yang tubuhnya masih bergetar hebat di bawah selimut, menatap mata lelaki bejad itu dengan tatapan tajam yang dipenuhi dendam dan ketakutan yang bercampur baur.
Jari-jarinya meremas ujung selimut yang menutupi sebagian wajahnya dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih.
Setelah pria itu melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya kembali, tangis Maira yang sejak tadi tertahan di tenggorokan akhirnya pecah dalam sunyi. Ia membekap mulutnya sendiri dengan bantal agar isakannya tidak terdengar sampai ke kamar ibunya. Sepanjang sisa malam itu, Maira tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. Ia terjaga dalam kegelapan, diselimuti rasa takut yang luar biasa, merasa tubuhnya telah kotor dan tak lagi berharga.
Keesokan pagi harinya, Maira sama sekali tidak beranjak dari atas kasurnya. Tubuhnya terasa remuk, dan jiwanya jauh lebih hancur. Ia merasa tidak mampu, dan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk pergi ke sekolah hari ini. Bagaimana ia bisa berhadapan dengan dunia luar saat dunianya sendiri baru saja dihancurkan di dalam rumahnya?
Tiba-tiba, pintu kamar Maira terbuka secara kasar. Suara hantaman pintu itu membuat Maira tersentak hebat, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang akut.
“Maira! Bangun, hey! Ini udah jam berapa? Nanti sekolah kesiangan!” suara cempreng ibunya terdengar, berjalan mendekati kasur seraya menarik selimut yang membungkus tubuh Maira.
Maira hanya diam membisu. Ia menatap wajah ibunya dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang dipenuhi rasa bersalah, luka, dan keputusasaan. Ingin sekali rasanya saat itu juga ia menghambur ke pelukan ibunya, menangis sekencang-kencangnya, dan menceritakan seluruh kebiadaban yang dilakukan oleh pria yang kini tidur di ranjang yang sama dengan ibunya. Namun, ia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Bayangan ancaman pembunuhan dari ayah tirinya semalam mendadak melintas, mencekik keberaniannya. Bagaimana kalau ancaman itu benar?
“Hey, Maira! Malah ngelamun. Cepet bangun, mandi!” teriak ibunya lagi, merasa kesal karena anaknya hanya diam seperti patung.
“Ada apa ini pagi-pagi kok teriak-teriak?”
Sebuah suara bariton yang sangat familiar terdengar dari arah pintu. Yudi berjalan menghampiri sang istri, masuk ke dalam kamar Maira dengan wajah yang tampak segar, seolah tidak pernah terjadi dosa besar apa pun semalam.
“Udah, Bu. Jangan dimarahin anaknya. Ibu siapin sarapan aja di meja buat Maira, biar urusan Maira, Ayah yang bangunin,” ucap Yudi dengan nada suara yang begitu lembut dan penuh perhatian, memainkan perannya sebagai ayah tiri yang bijaksana.
Sang ibu yang tidak menaruh curiga sedikit pun akhirnya mengangguk. Ia melangkah pergi keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, meninggalkan Maira berdua lagi dengan monster itu.
Yudi masih berdiri tegak di ambang pintu kamar Maira. Setelah memastikan langkah kaki istrinya sudah menjauh, senyum ramahnya berganti menjadi senyuman licik yang memuakkan.
“Udahlah, Dek... ayo waktunya sekolah. Atau... kamu mau Ayah peluk lagi kayak semalam?” ucap Yudi dengan nada berbisik yang sarat akan ancaman menjijikkan.
Mendengar ucapan itu, Maira merasa mual yang amat sangat di hulu hatinya. Ketakutan kembali menguasai dirinya. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia buru-buru menyambar handuk dan berlari kencang menuju kamar mandi, hanya demi menghindar dari tatapan mata ayah tirinya yang biadab.
Saat sarapan berlangsung di ruang makan, suasana terasa seperti siksaan batin yang luar biasa bagi Maira. Ia duduk dengan kepala tertunduk, memandang piringnya tanpa selera. Di depannya, ia terpaksa menyaksikan ibunya yang sedang asyik beromantis ria, menyuapi dan bermanja-manja dengan sang suami yang baru dinikahinya selama enam bulan itu. Maira mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa muak yang teramat sangat bergejolak di dadanya melihat bagaimana topeng sok manis dan sholeh yang dipakai oleh ayah tirinya itu berhasil mengelabuhi ibunya sendiri.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang enggan usai. Saat berada di sekolah, Maira berubah menjadi sosok yang jauh lebih pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Tatapannya sering kosong, dan pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada pelajaran yang diterangkan oleh guru di depan kelas.
Alih-alih memikirkan nilai sekolah, otak Maira dipenuhi oleh rasa jijik yang mendalam terhadap dirinya sendiri. Ia benci pada fakta bahwa ia telah membiarkan tubuhnya dirusak oleh ayah tirinya sendiri. Hidup Maira kini berjalan tanpa arah yang pasti, berjalan seperti robot tanpa semangat. Ia merasa masa depannya sudah mati dan terkubur sejak malam jahanam itu.
Sementara itu, Yudi yang merasa di atas angin karena melihat Maira benar-benar bungkam dan tidak berani bercerita kepada siapa pun, mulai kehilangan kendali diri. Pria itu merasa semakin leluasa. Kejahatannya menjadi candu. Ia kini lebih sering melakukan aksi pelecehan dan pencabulan terhadap Maira; tidak hanya ketika ibu Maira sedang tertidur lelap di malam hari, tetapi juga memanfaatkan kesempatan ketika ibunya sedang pergi menghadiri acara arisan atau berbelanja di siang hari. Setiap sudut rumah itu kini terasa seperti penjara yang dipenuhi duri bagi Maira.
Hingga pada suatu hari, ketika sisa-sisa kewarasan Maira hampir habis dan ia sudah berada di batas puncak kemuakannya terhadap perlakuan Yudi, sesuatu di dalam dirinya berontak.
Di kamar mandi, di depan cermin yang buram, Maira menatap pantulan dirinya sendiri. Ia menghapus air matanya, lalu mengepalkan tangan dengan erat. Ia harus mengakhiri ini semua. Ia harus bicara. Hari itu, Maira mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki di dalam jiwanya untuk mengungkap kejahatan Yudi ke permukaan.
Sore itu, sebuah kesempatan emas datang. Yudi sedang pergi bekerja lembur, sehingga di rumah tua itu hanya ada Maira dan ibu kandungnya saja. Suasana rumah terasa sepi, hanya terdengar suara televisi yang menyala samar di ruang tengah.
Maira berjalan dengan langkah yang gemetar mendekati ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil melipat pakaian yang baru kering.
“Bu... Maira mau ngomong sesuatu sama Ibu,” ucap Maira, suaranya terdengar lirih namun bergetar hebat karena memikul beban ketakutan yang luar biasa.
Ibunya menghentikan aktivitas melipat baju sejenak, lalu mendongak menatap anak gadisnya. “Iya, ngomong aja, Mai. Ada apa? Kok mukanya pucat gitu?” tanya sang ibu dengan nada santai.
Maira menarik napasnya sedalam mungkin, mencoba memasok oksigen ke paru-parunya yang mendadak terasa menyempit. Jantungnya berdentum kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia mencoba mengatur rasa takut dan bayangan ancaman Yudi yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.
“Ibu... Ayah...” kata Maira menggantung, lidahnya mendadak terasa kelu.
“Ada apa sama Ayah?” tanya ibunya lagi, alisnya mulai bertaut bingung melihat gelagat aneh anaknya.
Maira memejamkan mata erat-erat, air mata yang sejak tadi ia tahan kini lolos keluar tak terbendung, membasahi kedua pipinya. Dengan satu tarikan napas dan sisa kekuatan terakhirnya, ia berteriak dalam tangisnya:
“Ayah... Ayah sering lecehin aku, Bu!”
“Ayah... Ayah sering lecehin aku, Bu!”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Maira yang bergetar. Udara di dalam ruang tamu seketika terasa membeku. Bu Maya menghentikan semua gerakannya. Pakaian yang sedang dilipatnya merosot begitu saja dari tangannya, jatuh ke atas karpet.
Bukannya memeluk atau menenangkan anaknya yang sedang menangis, Bu Maya justru terdiam kaku. Matanya melotot lebar menatap Maira dengan pandangan penuh kepanikan. Wanita paruh baya itu menengok ke kanan dan ke kiri, celingak-celinguk ke arah jendela dan pintu luar yang terbuka, seolah-olah ketakutan setengah mati jika ada tetangga atau orang luar yang mendengar percakapan mereka.
Tanpa sepatah kata pun, Bu Maya langsung menyambar pergelangan tangan Maira dengan cengkeraman yang kuat, lalu menariknya paksa masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.
“Ngomong apa kamu ini, Maira?!” tanya Bu Maya dengan suara berbisik namun penuh penekanan, matanya menatap tajam seolah menuduh Maira sedang mengarang cerita.
Maira tidak bisa lagi membendung air matanya. Pertahanan yang dibangunnya berhari-hari runtuh total. Ia menangis dengan sesegukan, dada dan bahunya naik turun menahan rasa sesak yang luar biasa.
“Ayah... Ayah Yudi udah lecehin aku beberapa kali, Buuu... di rumah ini!” adu Maira di sela-sela tangisnya yang memilukan.
“Nggak... nggak mungkin. Mas Yudi orang baik,” ucap Bu Maya pelan, menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah menolak kebenaran yang baru saja menghantam telinganya. Kedua tangannya bergerak memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening, lalu ia maju dan memegang kedua pundak Maira dengan sangat kuat, mencengkeramnya hingga terasa sakit.
“Maira, dengerin Ibu. Ibu minta... jangan sampai kamu buka mulut soal hal gila ini ke siapapun! Paham?!” gertak Bu Maya, suaranya gemetar. “Mungkin... mungkin semalam ayahmu cuma khilaf, Mai. Dia cuma khilaf...”
Mendengar kata 'khilaf' keluar dari mulut wanita yang telah melahirkannya, Maira merasa seperti disambar petir di siang bolong. Rasa sakitnya jauh lebih menyiksa daripada saat Yudi menyentuhnya secara paksa.
“Bu... dia lakuin itu udah berulang kali, Buuuu! Khilaf macam apa yang dilakukan berkali-kali?!” potong Maira dengan suara meninggi, tidak terima jiwanya diremehkan seperti itu. “Ibu, tolong... aku takut, Bu. Aku takut kalau malam datang. Tolong Maira...” Maira memohon, mengiba pada naluri keibuan yang ia harap masih ada di dalam dada ibunya.
“Maira, diam!” bentak Bu Maya dengan suara menggelegar.
Bentakan keras itu membuat Maira refleks terdiam, tubuhnya tersentak mundur, meskipun dadanya masih naik turun karena sesegukan.
“Ibu nggak mau ya, orang-orang tahu aib keluarga kita! Ibu malu, Maira! Apalagi... apalagi Ibu baru menikah sama Yudi baru enam bulan! Kamu mau merusak rumah tangga Ibu, iya? Kamu mau bikin Ibu menjanda lagi dan jadi omongan orang sekampung?!” teriak Bu Maya dengan napas memburu.
Deg.
Ucapan Bu Maya barusan bagai anak panah beracun yang melesat cepat dan menancap tepat di ulu hati Maira. Menembus kulitnya, menghancurkan jantungnya, dan mematikan seluruh harapan yang tersisa di dalam jiwanya. Maira menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya. Air matanya mengalir semakin deras, namun kali ini rasa perihnya bercampur dengan rasa tidak adil yang teramat sangat.
“Bu! Yang harusnya Ibu pikirin sekarang tuh aku! Aku anak kandung Ibu! Anak kandung Ibu yang dirusak sama dia!” ucap Maira dengan suara yang bergetar hebat, menunjuk ke arah dadanya sendiri.
Bu Maya memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata anaknya yang penuh luka. “Ya... tapi dia sekarang suami Ibu, Maira. Ibu butuh dia,” jawab Bu Maya lirih, egois menutupi akal sehatnya demi ketergantungan status dan ekonomi pada suami barunya.
Maira kembali menangis histeris. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, meraung meratapi kenyataan yang begitu pahit. Ia benar-benar tak menyangka ibunya akan mengabaikan perasaannya sekasar ini. Wanita itu lebih memilih membela suami sialannya dibanding anak kandungnya sendiri. Bukannya memeluk, mengamankan, dan mencari keadilan untuk putrinya yang telah ternoda, Bu Maya justru lebih memilih diam dan mengorbankan masa depan Maira hanya demi menutupi aib suaminya.
Di saat suasana di dalam kamar sedang mencekam dan dipenuhi isak tangis yang memilukan, terdengar suara pintu depan rumah dibuka. Tak berselang lama, langkah kaki terdengar mendekat. Yudi rupanya sudah pulang dari tempat kerjanya. Pria itu langsung melangkah masuk ke dalam kamar Maira, seolah sudah tahu apa yang sedang terjadi.
“Ada apa ini? Kenapa Maira menangis keras sekali sampai terdengar ke luar?” ucap Yudi dengan nada suara yang dibuat-buat, penuh kepura-puraan dan sok peduli.
Maira langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding, memeluk tubuhnya sendiri karena merasa jijik dan takut melihat kehadiran pria biadab itu.
Bu Maya berdiri, menatap suaminya dengan tatapan yang campur aduk. “Mas... Maira bilang kamu... kamu ngelecehin dia. Apa benar?” tanya Bu Maya, suaranya terdengar mencicit, berharap suaminya akan menyangkal.
Yudi sama sekali tidak tampak kaget atau panik. Sebagai pria manipulatif, ia sudah menyiapkan skenario terbaiknya jika hari ini tiba. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu melangkah mendekati Bu Maya. Ia menatap mata istrinya dengan raut wajah yang sengaja dibuat sok menyesal, melas, dan penuh rasa bersalah yang palsu.
“Maya... maafin aku. Aku... aku khilaf,” ucap Yudi dengan nada suara yang bergetar teaterikal. Pria itu kemudian melirik Maira sekilas dengan tatapan licik sebelum melanjutkan kalimatnya. “Tapi, May... lagi pula ini juga sebenarnya salahnya Maira sendiri. Beberapa kali... beberapa kali aku tidak sengaja melihat dia sehabis mandi hanya memakai handuk pendek, tanpa menutup rapat pintu kamarnya. Aku... aku sudah mencoba menahannya, May. Tapi aku ini cuma lelaki biasa, aku punya batas kesabaran. Lagipula... aku cuma satu kali melakukan itu kepadanya. Tidak lebih.”
Alasan busuk dan fitnah yang keluar dari mulut Yudi membuat mata Maira membelalak tak percaya. Kepalanya serasa ingin pecah mendengar bagaimana fakta diputarbalikkan begitu kejam.
“Bohong, Bu! Dia bohong! Dia sudah berulang kali melakukan itu sama Maira! Hampir tiap minggu saat Ibu nggak ada di rumah! Tolong percaya Maira, Bu... tolong...” teriak Maira histeris, menunjuk-nunjuk wajah Yudi dengan telunjuknya yang gemetar.
Namun, jeritan kebenaran dari Maira menguap begitu saja di udara. Ibu Maira hanya terdiam membisu, menatap bergantian antara Yudi yang memasang wajah penuh penyesalan palsu dan Maira yang menangis histeris. Keputusasaan dan ego Bu Maya akhirnya mengambil alih kewarasannya.
Lalu... PLAK!
Sebuah tamparan yang teramat keras dan nyaring menggema di dalam kamar.
Rasa panas yang membakar seketika menjalar di pipi. Namun, tamparan keras itu bukan mendarat di pipi Yudi yang bersalah. Tamparan itu mendarat sempurna di pipi mulus Maira, dikirimkan langsung oleh tangan ibu kandungnya sendiri. Tenaga tamparan itu begitu kuat hingga membuat kepala Maira terlempar ke samping dan sudut bibirnya sedikit berdarah.
“Diam, Maira!” bentak Bu Maya, napasnya naik turun. “Kamu... kamu harusnya sadar kalau kamu itu sudah remaja! Jangan ceroboh di dalam rumah! Jangan memakai pakaian yang mengundang nafsu orang lain! Kamu yang memancingnya!”
Maira terpaku. Kulit pipinya terasa mati rasa, namun hatinya jauh lebih mati rasa. Ia memegang pipinya yang panas dengan tangan yang gemetar, menatap ibunya dengan tatapan kosong yang tak percaya.
Dunia malam ini benar-benar runtuh bagi Maira. Seorang ibu—satu-satunya pelindung yang ia harapkan bisa memeluknya setelah kepergian sang ayah—malah bertindak sebagai algojo yang menambah beban trauma dan menghancurkan sisa-sisa jiwanya yang telah retak.
“Kemas barang-barangmu sekarang juga,” ucap Bu Maya dingin, suaranya kini terdengar tanpa emosi. “besok Ibu antar kamu ke terminal, kamu pergi dan tinggal di rumah nenekmu di kota lain.”
Setelah mengucapkan kalimat usiran itu, Bu Maya berbalik badan dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dan meninggalkan Maira berdua di dalam ruangan bersama dengan monster yang telah merusaknya.
Suasana kamar mendadak senyap. Yudi yang kini hanya berdua dengan Maira, melangkah perlahan mendekati kasur. Pria itu mengulas senyum kemenangan yang amat menjijikkan.
Ia mengulurkan tangannya yang kasar, mencoba mengelus pipi Maira yang baru saja ditampar, namun dengan sisa tenaga yang ada, Maira langsung menangkis tangan itu dengan sentakan kasar.
Yudi tidak marah. Ia justru terkekeh pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Maira.
“Sudah saya bilang, kan? Jangan macam-macam sama saya,” bisik Yudi tepat di dekat telinga Maira, suaranya terdengar seperti desisan ular. “Toh, ibumu lebih sayang dan lebih percaya sama saya dibanding kamu anak kandungnya sendiri. Saya rasa... saya gak perlu repot-repot melenyapkan kamu, kalau respon ibumu saja semenyedihkan begitu. Lebih percaya sama suaminya. Makasih ya, Mai... sudah kasih saya nyicip tubuh segarmu.”
Setelah membisikkan kalimat jahanam yang merendahkan harga diri Maira itu, Yudi berdiri tegak, membalikkan badan, dan melenggang pergi keluar kamar sambil bersiul santai.
Pintu kamar tertutup rapat. Meninggalkan Maira sendirian di dalam kegelapan kamarnya yang sunyi.
Detik itu juga, Maira kehilangan seluruh kendali atas akal sehatnya. Ia berteriak histeris—sebuah teriakan panjang yang sarat akan rasa sakit, dendam, dan kehancuran yang tak bertepi. Dengan membabi buta, ia mengacak-acak seisi kamarnya. Ia menarik sprei, melempar buku-buku sekolahnya ke dinding, meremas bantal, dan menjatuhkan semua barang di atas mejanya hingga hancur berantakan di lantai. Di dalam kamar yang kini hancur lebur itu, Maira meratapi nasibnya yang telah dibuang, dibungkam, dan tidak lagi diinginkan oleh rumahnya sendiri. Mulai hari itu, kehidupannya yang ceria resmi berganti dengan kesenyapan yang dingin.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!