Indonesia
NovelToon NovelToon

Alesha, Gadis Absurd.

Bab 01.

Alesha Wijaya merupakan gadis yang sulit di tebak, bukan karna dia misterius atau pendiam, justru sebaliknya.

Hidupnya terlalu penuh kejutan, cara berpikirnya sering kali melompat jauh dari logika orang kebanyakan.

karena itulah, orang-orang di sekitarnya sudah terbiasa di buat pusing sekaligus terhibur oleh tingkahnya.

Dan hari ini, sekolah kembali menjadi saksi dari tingkah absurd Alesha.

Ketika bel istirahat baru saja berbunyi, sebagian besar siswa langsung berhamburan keluar kelas. Ada yang menuju kantin, lapangan, perpustakaan, atau sekedar mengobrol didepan kelas.

Namun alesha justru sibuk mondar-mandir disepanjang koridor dengan langkah tergesa-gesa. Tatapannya menyapu setiap ruang kelas seolah sedang mencari sesuatu yang sangat penting.

"Aduh.. ke mana sih?" Gumamnya pelan sambil terus berjalan tanpa mempedulikan tatapan heran siswa lain yang berpapasan dengannya.

Melihat tingkahnya yang tak biasa, beberapa siswa mulai menghentikan langkah dan memperhatikannya dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Alesha, lo nyari apa sih?" Tanya Rina salah satu teman kelasnya.

Alesha menghentikan langkahnya dan menatap teman-temannya satu per satu dengan wajah serius.

"Ada yang lihat...!" Tanya Alesha pelan.

"Lihat apa?" Rani mengernyit sambil tetap mengunyah rotinya.

Alesha ragu sejenak, lalu akhirnya menjawab dengan wajah tetap serius.

Seketika, tatapan semua orang langsung tertuju pada Alesha.

"Dompet lo hilang?"

Alesha menggeleng pelan.

"Ponsel?"

Alesha kembali menggeleng pelan.

"Headset?"

Masih Menggeleng.

Entah sejak kapan, suasana koridor berubah menjadi ajak tebak-tebakan.

Alesha hanya menghela napas pelan, ketika mendengar setiap pertanyaan-pertanyaan dari temannya.

"Gue lagi nyari pingky"

Hening..

"....."

Orang-orang disekitar Alesha hanya bisa menatapnya dengan wajah datar, bingung harus bereaksi seperti apa.

Sampai akhirnya, salah satu dari mereka membuka mulut lebih dulu, disusul yang lain hampir bersamaan.

"HAHH?!"

Suara mereka pun terdengar serempak.

Tatapan Rani tertuju pada Alesha dengan ekspresi pasrah, seolah baru saja kehilangan sisa kesabarannya.

"Yaa Ampun, les. Gue kira apaan! Tadi muka lo serius banget, gue sampai ngira dompet lo hilang atau dapat kabar buruk."

"Tapi itu emang penting" Bela Alesha tanpa merasa bersalah.

"Emang pingky itu siapa?Tanya Reza yang kini ikut merasa penasaran.

"Anak kelas berapa?" Tanyanya lagi.

Alesha menghela napas pelan sambil menatap reza dengan wajah tanpa ekspresi. Tatapannya seolah berkata 'Gue capek punya teman kayak lo'

Sementara itu, reza hanya terkekeh pelan sebelum mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Namanya unik juga, ya. Jarang-jarang gue denger nama kayak gitu."

Teman-teman di sekitarnya langsung memasang wajah penasaran.

"Iya juga, ya. Emang ada anak di sekolah kita yang namanya Pingky?" gumam salah satu dari mereka.

Yang lain hanya saling berpandangan sambil berusaha mengingat-ingat. Namun, tak satu pun dari mereka merasa pernah mendengar nama itu.

Namun, sebelum Alesha sempat menjelaskan siapa sebenarnya Pingky, suara ribut tiba-tiba terdengar dari ujung koridor.

Teriakan demi teriakan bersahutan, disusul langkah kaki yang berlarian. Seketika perhatian semua orang teralihkan ke arah sumber suara.

"Ada apa, tuh?" Tanya salah satu siswa sambil menjulurkan leher untuk melihat.

Suasana koridor yang tadinya dipenuhi rasa penasaran kini berubah menjadi riuh karena kehebohan yang datang entah dari mana.

Tanpa dikomandoi, beberapa siswa langsung berlari ke arah keramaian. Rasa penasaran mereka jauh lebih besar daripada keinginan untuk kembali ke kelas.

"Ayo, lihat!"

"Kayaknya ada yang ribut!"

Dalam hitungan detik, ujung koridor mulai dipenuhi siswa yang berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Reza ikut menjinjit.

"Geser dikit, woy. Gue nggak kelihatan."

Rani menghela napas sambil ikut melangkah mendekat.

"Cuma jam istirahat bentar aja, sekolah ini nggak pernah sepi drama."

Di tengah semua orang yang fokus ke arah keributan, Alesha justru berdiri mematung.

Matanya membulat.

Tatapannya terkunci pada sesuatu di balik kerumunan.

"Pingky..."

Suara Alesha nyaris seperti bisikan.

Detik berikutnya, tanpa menjelaskan apa pun, ia langsung menerobos kerumunan sambil berteriak,

"WOI! MINGGIR DULU! ITU PINGKY GUE!"

Sontak semua orang menoleh ke arah Alesha.

"Minggir! Minggir dulu!" teriaknya sambil berusaha menyelip di antara kerumunan siswa.

"Les, pelan-pelan!" Rani buru-buru mengejarnya.

Reza ikut berlari di belakang mereka, masih kebingungan.

"Emang Pingky apaan, sih?"

Begitu berhasil berada di barisan paling depan, langkah Alesha mendadak terhenti.

"Nah, tuh..."

Beberapa siswa di depannya otomatis ikut menoleh mengikuti arah pandang Alesha.

Di tengah kerumunan, seekor bebek putih dengan pita merah muda di lehernya tampak berlari ke sana kemari sambil mengepakkan sayap.

Beberapa siswa berusaha menangkapnya, tapi setiap kali hampir tertangkap, bebek itu malah kabur ke arah lain.

"Woy! Bebek siapa, nih?" teriak seseorang.

"Bukan bebek biasa!" sahut Alesha sambil menunjuk heboh. "Itu Pingky!"

Reza yang berdiri di sampingnya langsung melongo.

"...Jadi Pingky itu bebek?"

"Iya!" jawab Alesha tanpa mengalihkan pandangan. "Makanya jangan pada bengong! Tangkap dulu!"

"Bebek dibawa ke sekolah?!" Reza menatap Alesha seolah baru mengenal temannya itu.

"Penjelasannya nanti! Pingky kabur duluan!"

Belum sempat ada yang bertanya lagi, Pingky kembali berlari melewati sela-sela kaki para siswa.

"Eh, eh... lewat sini!"

"Hoi! Jangan diinjek!"

Koridor yang tadinya cuma ramai mendadak berubah jadi arena kejar-kejaran. Beberapa siswa refleks ikut membantu, sementara yang lain malah sibuk merekam kejadian langka itu dengan ponsel.

Pingky mengepakkan sayap kecilnya sambil terus berlari lurus.

"Pingky! Sini, Sayang!" teriak Alesha.

Bukannya mendekat, bebek itu malah mempercepat langkahnya.

"Astaga..." Rani menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Ini pertama kalinya gue lihat satu sekolah heboh gara-gara ngejar bebek."

Di sisi lain koridor, suara langkah kaki terdengar semakin jelas.

Seseorang baru saja datang.

Dan dari cara siswa-siswa yang berdiri di sana mendadak menyingkir, jelas orang yang datang bukan siswa biasa.

"Pegang! Jangan sampai kabur lagi!"

Beberapa siswa spontan ikut mengejar Pingky yang terus berlari menyusuri koridor. Ada yang mencoba menghadang dari depan, ada juga yang mengejar dari belakang.

"Ke kanan! Ke kanan!"

"Eh, jangan dipojokin, nanti makin lari!"

Pingky malah semakin semangat. Sesekali ia mengepakkan sayapnya sambil mengeluarkan suara nyaring, membuat siswa lain yang baru keluar dari kelas ikut menoleh heran.

Alesha yang sudah mulai kehabisan napas tetap berlari di belakangnya.

"Pingky! Berhenti! Nanti aku kasih camilan!"

Entah mengerti atau tidak, Pingky justru berbelok ke arah taman sekolah.

"Astaga..." Rani mengusap keningnya. "Baru juga jam istirahat, udah kayak acara lomba tangkap bebek."

Reza terkekeh sambil terus berlari.

"Fix, hari ini satu sekolah bakal kenal sama Pingky."

Dan benar saja.

Belum sampai lima menit, kabar tentang seekor bebek yang kabur di sekolah sudah menyebar ke mana-mana.

Begitu tiba di taman sekolah, langkah mereka otomatis melambat.

Di bawah salah satu pohon yang rindang, Pingky tampak berdiri santai sambil mematuk sesuatu di tanah, seolah tidak pernah membuat satu sekolah geger.

"Nah, itu dia..." bisik Alesha.

Namun, ada satu hal yang membuatnya langsung menahan langkah.

Tak jauh dari Pingky, seseorang berdiri membelakangi mereka. Sosok itu terlihat tenang, sama sekali tidak terganggu dengan keributan yang baru saja terjadi.

Alesha memberi isyarat agar teman-temannya tetap diam.

"Jangan berisik," bisiknya pelan.

Pelan-pelan ia melangkah mendekati Pingky. Satu langkah... dua langkah... hingga jaraknya tinggal beberapa meter.

Saat Pingky masih asyik mematuk makanan di tanah, Alesha langsung membungkukkan badan dan...

"Hap!"

Kedua tangannya sukses menangkap tubuh Pingky.

"Huh... akhirnya ketangkap juga," ucapnya lega sambil mengembuskan napas panjang.

Pingky hanya mengeluarkan suara pelan, lalu diam di dalam pelukan Alesha, seolah tidak terjadi apa-apa.

Bab 02.

Saat semua orang masih sibuk mengatur napas setelah aksi kejar-kejaran tadi, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang.

"Permisi... di sini ada yang namanya Alesha?" tanyanya ragu-ragu sambil melihat ke sekeliling.

Beberapa siswa langsung menoleh.

Sindy yang kebetulan berdiri paling dekat spontan menunjuk ke arah Alesha.

"Itu, Kak. Yang lagi gendong bebek."

Orang itu mengikuti arah telunjuk Sindy, lalu berjalan menghampiri Alesha.

"Maaf, Kak... Kakak yang namanya Alesha, ya?"

Alesha yang masih menggendong Pingky mengangguk pelan.

"Iya. Ada apa, ya?"

Siswa itu mengangguk pelan.

"Kak Alesha, Kepala Sekolah minta Kakak datang ke ruangannya sekarang."

Alesha yang masih menggendong Pingky langsung mengernyit, Jelas tak mengerti dengan ucapan itu.

"Hah? Kepala Sekolah?" tanyanya memastikan.

"Iya, Kak. Bu Melly tadi yang nyuruh saya menyampaikan kalau Kakak diminta datang sekarang juga."

Mendengar itu, Alesha dan teman-temannya saling berpandangan.

Rani langsung mendekat lalu berbisik pelan, "Waduh... jangan-jangan Ini gara-gara Pingky."

Reza menelan ludah.

"Fix, kali ini kita tamat."

Sementara Alesha hanya menatap Pingky yang masih anteng di pelukannya, lalu menghela napas pelan.

"Kayaknya... kita bakal dimarahin."

Alesha menghela napas pelan sebelum akhirnya menoleh ke arah Reza.

"Za."

"Hm?"

Tanpa banyak bicara, Alesha langsung menyodorkan Pingky ke pelukan Reza.

"Tolong jagain dulu, ya. Jangan sampai kabur lagi."

"Loh, eh—"

Belum sempat Reza protes, Alesha sudah kabur lebih dulu. Dari kejauhan, suaranya masih terdengar lantAng.

"Makasih, Reza! Titip Pingky, ya!"

"Eh, Les! Tunggu dulu! Gue mana ngerti jagain bebek—"

Reza hanya bisa melongo pasrah. Sementara itu, Pingky justru terlihat anteng di dalam pelukannya, seolah sudah merasa nyaman.

"Ini kenapa jadi gue yang kena tugas, sih?"

Sementara Pingky hanya mendongakkan kepala, lalu mengeluarkan suara pelan.

"Kwaak."

Melihat Reza mendadak menjadi "pengasuh" Pingky, Rani langsung terkekeh geli.

"Selamat ya, Za. Resmi jadi babysitter bebek."

Kini Alesha sudah berdiri tepat di depan ruang kepala sekolah.

Tangannya sempat terangkat hendak mengetuk pintu, tapi urung. Entah kenapa, perasaannya mendadak nggak enak. Ada firasat aneh yang membuatnya ragu untuk mengetuk pintu itu.

"Masuk."

Suara dari dalam ruangan terdengar begitu jelas.

Alesha langsung menghentikan tangannya yang hendak mengetuk pintu. Matanya membulat sesaat, lalu ia mengerutkan kening dengan ekspresi heran.

"Lho... kok bisa tahu aku udah di depan pintu?" batinnya sambil menggaruk pelan pipinya.

Masih dengan wajah bingung, Alesha akhirnya memutar gagang pintu perlahan.

Pintu terbuka sedikit.

"Permisi, Pak..."

Ucapnya pelan sambil mengintip dari balik pintu sebelum benar-benar melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Silakan duduk."

Dari balik meja kerjanya, Pak Ridwan mengangkat pandangan ke arah Alesha. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya tetap menunjukkan wibawa seorang kepala sekolah.

"Iya, Pak."

Alesha tersenyum canggung sebelum menarik kursi dan duduk. Tangannya bertumpu di atas lutut, sementara matanya sesekali melirik ke sana-sini.

Pak Ridwan menatap Alesha beberapa saat. Jemarinya bertaut di atas meja, sementara raut wajahnya tetap tenang, membuat Alesha semakin salah tingkah.

"Kamu tahu kenapa saya memanggil kamu?"

Alesha mengedip pelan.

Haduh... mana aku tahu. Emangnya aku punya indra keenam? Gumamannya memang pelan, tapi cukup jelas hingga terdengar oleh Pak Ridwan.

Pria paruh baya itu terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat bicara.

"Hari ini saya dengar kamu kembali membuat keributan."

Alesha langsung mengangkat kepala.

"Keributan apa, Pak?"

"Seluruh koridor sekolah heboh karena ada siswa yang mengejar seekor bebek."

"Oh... yang itu."

"Iya, yang itu."

Alesha langsung nyengir canggung.

"Tapi, Pak... yang ngejar kan bukan saya doang. Tadi banyak kok yang ikut ngejar. Kenapa cuma saya yang dipanggil?"

Pak Ridwan menghela napas pelan. Tatapannya tetap tertuju pada Alesha, seolah sudah menduga gadis itu akan memberikan jawaban seperti itu.

"Karena yang membuat keributan itu kamu."

Alesha langsung terdiam.

"Bebek itu milik kamu, kan?"

"Iya... sih, Pak."

Alesha menjawab pelan. Senyum canggung menghiasi wajahnya, sementara tangannya refleks menggaruk tengkuk yang jelas-jelas tidak terasa gatal.

Pak Ridwan menggeleng pelan sebelum Kembali menatap Alesha.

"Kalau memang ingin memelihara bebek, peliharalah di rumah. Bukan dibawa ke sekolah sampai satu sekolah ikut mengejarnya."

Alesha hanya bisa nyengir tipis.

"Iya, Pak... saya juga nggak nyangka Pingky bakal kabur."

Pak Ridwan menarik napas pelan sebelum kembali menatap Alesha dengan wajah serius.

"Alesha, dalam sebulan ini kamu sudah terlalu banyak membuat ulah. Bapak sampai kewalahan menghadapi tingkahmu. Rasanya hampir tidak ada hari yang berlalu tanpa ada masalah yang melibatkanmu."

Alesha hanya bisa menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia tidak mampu membantah karena semua yang dikatakan Pak Ridwan memang benar.

Dalam sebulan terakhir, ia sudah dua kali dipanggil ke ruang kepala sekolah. Sementara itu, ulah-ulah sebelumnya masih ditangani oleh guru BK dan pengurus OSIS. Awalnya, Pak Ridwan memilih tidak ikut campur dan menyerahkan semuanya kepada mereka.

Namun, lama-kelamaan semua orang mulai kewalahan. Guru BK bahkan sudah beberapa kali mengeluhkan tingkah Alesha setiap kali rapat mingguan. Hampir selalu ada cerita baru tentang ulah siswi itu yang membuat para guru menggelengkan kepala.

"Maaf, Pak..." ucap Alesha pelan sambil tetap menundukkan kepala.

Pak Ridwan menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Mulai hari ini, Bapak menjatuhkan skorsing selama dua hari untukmu, Alesha."

Alesha terdiam.

"Gunakan waktu itu untuk merenungkan semua tindakanmu. Bapak berharap, setelah kembali ke sekolah nanti, kamu bisa berubah menjadi lebih baik."

"Jangan diskors, Pak... Nanti Papa saya marah," pinta Alesha dengan wajah memelas.

Pak Ridwan menatapnya datar.

"Bapak juga sudah pusing menghadapi tingkahmu, Alesha. Orang tuamu sudah beberapa kali dipanggil ke sekolah, bahkan sudah berkali-kali diberi peringatan. Tapi sampai sekarang, kamu tetap saja mengulangi kesalahan yang sama."

Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau tidak ada tindakan yang lebih tegas, Bapak khawatir kamu tidak akan pernah belajar dari semua ini."

"Baik, Pak..." ucap Alesha pasrah.

Pak Ridwan mengangguk pelan.

"Kalau begitu, kamu bisa kembali. Ambil barang-barangmu di kelas, lalu langsung pulang ke rumah. Skorsingmu mulai berlaku hari ini."

Alesha pun keluar dari ruang kepala sekolah. Sepanjang perjalanan, ia hanya berjalan sambil menundukkan kepala.

"Mati deh aku..." gumamnya lirih.

Dari kejauhan, ia melihat Reza sedang duduk di depan kelas sambil memangku Pingky yang tampak anteng. Rani juga terlihat duduk di sampingnya, sesekali mengajak Pingky bermain.

Begitu menyadari kehadiran Alesha, keduanya langsung menoleh ke arahnya.

Saat Alesha sampai di hadapan mereka, Reza langsung menatap wajahnya lekat-lekat.

"Buset, muka lo lemes amat. Emang dihukum apa sama Pak Ridwan?" tanyanya penasaran.

Rani yang duduk di samping Reza ikut memperhatikan Alesha, menunggu jawaban darinya.

"Diskors," jawab Alesha singkat.

Reza justru mengangkat kedua alisnya.

"Bagus, tuh. Bisa santai-santai di rumah."

Alesha langsung memukul pelan bahu Reza.

"Pala lo santai-santai! Papa gue bisa marah besar kalau tahu gue diskors."

Rani yang mendengar itu hanya menggeleng sambil menahan tawa melihat tingkah mereka.

"Udah, ya. Gue mau pulang dulu," ucap Alesha.

Tanpa menunggu tanggapan, ia melangkah masuk ke kelas untuk mengambil tasnya.

"Lah, cepet banget, Sha?" tanya Rani heran.

"Disuruh Pak Ridwan," jawab Alesha singkat sambil memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya.

Setelah semuanya beres, ia menghampiri Reza dan langsung mengambil Pingky dari pelukannya.

"Nih, majikan lo udah datang," celetuk Reza sambil menyerahkan Pingky.

Alesha menggendong Pingky sambil melangkah menuju pintu kelas. Sebelum benar-benar pergi, ia berbalik menghadap temaN-temannya.

"Jangan kangen sama gue, ya. Bye, semuanya... Bye, kelas!" ucapnya sambil melambaikan tangan.

Beberapa teman langsung tertawa, sementara yang lain hanya menggeleng melihat tingkah Alesha yang masih sempat bercanda meski baru saja kena skorsing.

Bab 03.

Sebelum pulang ke rumah, Alesha memutuskan mampir lebih dulu ke warung bakso langganannya.

Begitu turun dari motornya sambil menggendong Pingky, ia langsung tersenyum.

"Kang, baksonya dua porsi, ya!" seru Alesha.

Penjual bakso itu menoleh, lalu tersenyum ramah.

"Ehh, Neng Alesha. Kumaha, Neng? Kok ayeuna pulangna cepet pisan? Bolos, nya?" godanya sambil terkekeh.

Alesha langsung mencebik.

"Ih, bukan bolos, Kang. Aku diskors."

"Hah? Diskors? Neng mah aya-aya wae atuh," balas si Kang sambil menggeleng geli. "Ya udah, tunggu sebentar, baksonya Kang siapin dulu."

"Biasalah, Kang," jawab Alesha santai sambil nyengir.

Kang Herman hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tingkah pelanggan langganannya itu.

"Neng mah, aya-aya wae," gumamnya pelan, lalu meletakkan dua mangkuk bakso di atas meja.

"Nih, Neng. Mangga, silakan."

Setelah itu, Kang Herman kembali sibuk melayani pembeli lainnya. Sementara Alesha fokus menghabiskan semangkuk bakso di hadapannya.

Menurutnya, menghadapi omelan Papa dalam keadaan lapar adalah keputusan yang buruk.

"Pokoknya harus kenyang dulu sebelum kena omel," gumamnya pelan, lalu menyuapkan satu butir bakso ke mulutnya.

Sedangkan Pingky yang berada di sampingnya ikut menatap mangkuk itu, seolah berharap mendapat bagian.

"Kamu nggak boleh ikut makan, Pingky. Semua ini gara-gara kamu," ucap Alesha sambil menunjuk bebek itu dengan wajah kesal.

Pingky hanya menatapnya polos tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Namun beberapa detik kemudian, Alesha malah menghela napas kecil lalu membuka tasnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam sana dan memberikannya kepada Pingky.

"Nih, makan. Tapi jangan merasa menang, ya. Tetap aja gara-gara kamu aku kena masalah," gerutunya.

Pingky dengan santainya langsung memakan pemberian itu, membuat Alesha hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya.

Beberapa menit kemudian, Alesha selesai makan. Ia segera membayar baksonya.

"Makasih ya, Kang," ucapnya sambil berdiri.

Kang Herman menerima uang itu lalu menatapnya heran.

"Eh, Neng Alesha, kok ayeuna pulangna gancang pisan? Ada apa, Neng?"

Alesha memasang wajah lesu.

"Mungkin dua hari ke depan saya nggak bakal ke sini dulu, Kang."

"Lah, naha kitu, Neng? Kenapa?" tanya Kang Herman.

"Kayaknya saya bakal dikurung di rumah," jawab Alesha lemas.

Kang Herman hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

"Neng mah aya-aya wae. Sok atuh, hati-hati di jalan."

Alesha mengangguk kecil.

"Iya, Kang. Saya pamit dulu."

Setelah itu, Alesha pun pergi meninggalkan warung bakso sambil membawa Pingky.

Sesampainya di rumah, Alesha langsung merasa cemas. Dalam hati, ia berharap papanya belum pulang.

Dengan langkah pelan, ia membuka pintu dan mengintip ke arah ruang tamu.

Namun harapannya langsung pupus.

Di sana, terlihat kedua orang tuanya sudah berada di rumah. Sang Papa duduk di sofa dengan wajah yang sulit ditebak, sementara Mamanya terlihat berada di sampingnya.

Alesha langsung menelan ludah.

"Matilah aku..." gumamnya pelan.

Alesha memberanikan diri masuk ke dalam rumah, matanya langsung tertuju pada sebuah koper yang berada di dekat sofa.

Ia berhenti melangkah.

"Lah?" gumamnya pelan.

Tatapannya berpindah dari koper itu ke arah kedua orang tuanya. Entah kenapa, tiba-tiba muncul firasat buruk di pikirannya.

"Ngapain diam di situ, Alesha?" tegur papanya.

Alesha yang masih berdiri dekat pintu langsung tersentak. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dari koper di dekat sofa lalu menatap papanya.

"Ehm... nggak apa-apa, Pa," jawabnya pelan.

Alesha pun melangkah mendekati kedua orang tuanya. Matanya masih sesekali melirik ke arah koper yang berada di dekat sofa.

"Itu koper siapa, Pa?" tanyanya penasaran.

Papanya menatapnya sebentar sebelum menjawab singkat.

"Koper kamu."

Alesha langsung terdiam.

"Koper aku?" ulangnya dengan wajah bingung.

Alesha langsung panik begitu mendengar jawaban papanya.

"Ah, Papa jangan usir Alesha..." ucapnya dramatis.

Ia langsung mendekat sambil memasang wajah memelas.

"Ingat, Pa... Alesha ini satu-satunya anak Papa," lanjutnya dengan suara bergetar.

Bahkan tanpa aba-aba, air matanya mulai mengalir deras, seolah-olah dirinya benar-benar akan dibuang dari rumah.

"Hari ini Papa dapat telepon dari Pak Ridwan. Katanya kamu buat ulah lagi," ucap papanya dengan wajah serius.

Alesha langsung panik.

"Papa, Alesha janji nggak bakal buat masalah lagi," katanya cepat.

Melihat papanya masih diam, Alesha segera beralih menatap mamanya.

"Ma... jangan usir Alesha, ya. Nanti Mama sama Papa berdosa karena mengusir putri sendiri," ucapnya dramatis sambil menyeka air matanya.

Mamanya hanya bisa menatap Alesha dengan ekspresi antara ingin tertawa dan pusing melihat tingkah putrinya.

"Malahan kamu yang bakal berdosa, Alesha. Karena terus membuat masalah dan selalu melibatkan Papa sama Mama," ucap papanya sambil menatapnya tajam.

Alesha langsung terdiam beberapa detik.

"Tapi jangan usir Alesha, Pa..." pintanya cepat. "Hukum yang lain aja, Pa. Alesha janji bakal nurut."

Ia kembali memasang wajah memelas, berharap perkataannya bisa meluluhkan hati papanya.

"Itu hukumannya," ucap papanya tenang.

Alesha langsung membeku.

"Kamu akan Papa pindahkan ke Jakarta. Tinggal bersama Opa dan Oma kamu di sana."

Mata Alesha langsung membesar.

"Jakarta?" ulangnya pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Iya. Papa rasa tinggal jauh dari lingkungan kamu sekarang bisa membuat kamu belajar lebih bertanggung jawab."

Alesha langsung memasang wajah panik.

"Pa... jangan, dong. Masa harus sampai Jakarta?"

"Di Jakarta nanti ada Kak Kevin juga, sayang. Kamu bakal satu sekolah sama dia. Jadi kamu nggak perlu khawatir, kamu punya teman di sana," ucap mamanya mencoba menenangkan.

"Kak Kevin juga tinggal di rumah Opa sama Oma karena kedua orang tuanya sedang di luar negeri," lanjutnya.

Alesha terdiam sejenak.

"Kak Kevin bakal jagain Alesha?" tanyanya memastikan.

"Iya. Dia pasti bantu kamu beradaptasi di sana."

Mendengar itu, wajah Alesha langsung berubah lesu.

"Astaga..." gumamnya pelan. "Berarti hidup Alesha bakal nggak seru lagi."

Dalam pikirannya, kehadiran Kak Kevin berarti ia tidak akan bisa sebebas dulu melakukan berbagai hal sesuka hati.

"Kamu ganti baju dulu, sayang. Nanti kita makan bersama," ucap mamanya sambil melihat jam.

Alesha masih terlihat terpaku.

"Soalnya dua jam lagi kita harus berangkat ke bandara," lanjut mamanya.

Alesha langsung membeku.

"Bandara?" ulangnya pelan.

Alesha hanya bisa diam menatap mamanya. Baru beberapa menit lalu ia pulang dengan membawa masalah, sekarang ia sudah harus bersiap pergi ke Jakarta.

Kini Alesha sudah selesai berganti pakaian. Sebelum keluar dari kamar, langkahnya terhenti.

"Bye, kamar kesayanganku..." ucapnya dramatis.

Ia kemudian mengambil napas panjang sebelum akhirnya keluar dari kamar dan turun menuju ruang makan.

Saat tiba di sana, Alesha langsung duduk sambil menatap papanya.

"Pa, tapi Alesha belum urus surat perpindahan sekolah," katanya mengingatkan.

"Nanti Papa yang urus," jawab papanya santai.

Alesha masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi papanya lebih dulu mengambil piringnya.

"Sekarang kamu makan dulu. Jangan pikirkan yang lain."

Alesha hanya bisa mengaduk-aduk makanannya dengan wajah pasrah.

"Padahal Alesha masih punya banyak rencana di sini..." gumamnya pelan.

Mamanya yang duduk di sampingnya hanya tersenyum kecil.

"Rencana apa? Membuat masalah lagi di sekolah?" godanya.

Alesha langsung mengangkat wajah.

"Ya ampun, Mama. Kenapa langsung menuduh begitu?"

Papanya yang mendengar hanya melirik sekilas.

"Karena selama ini memang begitu kenyataannya."

Alesha langsung terdiam karena Ia tahu kali ini tidak bisa membantah.

Dengan berat hati, ia mulai menyuapkan makanannya. Meski pikirannya masih sibuk membayangkan bagaimana kehidupannya nanti di Jakarta.

Setelah beberapa suapan, ia tiba-tiba berhenti.

"Pa..."

"Hm?"

"Kalau Alesha sudah berubah, boleh pulang lagi kan?"

Sorot mata papanya tertuju padanya beberapa saat.

"Itu tergantung kamu. Kalau kamu bisa membuktikan diri dan tidak membuat masalah lagi, Papa akan pertimbangkan."

Mendengar itu, mata Alesha sedikit berbinar.

"Oke, Alesha janji."

Mama dan papanya hanya saling pandang, mereka sudah sering mendengar janji itu dari Alesha. Namun kali ini, mereka berharap putrinya benar-benar menepatinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!