Indonesia
NovelToon NovelToon

Marcella & Olivia

BAB 1: Lima Tahun yang Lurus

“Don, kamu masih inget nggak, waktu pertama kali kamu nembak aku di belakang lab biologi? Kalau nggak salah, kita waktu itu masih kelas sepuluh, ya?”

Suara Marcella terdengar lembut, berpadu dengan denting pisau dan garpu yang beradu di atas piring porselen. Malam ini, mereka sedang merayakan hari jadi hubungan mereka yang ke-lima tahun di sebuah restoran dekat kampus. Marcella tampak cantik malam ini, seperti biasa. Rambut panjangnya yang terurai nampak begitu berkilau, gaun berwarna merah jambu yang dikenakannya sangat cocok dengan gaya elegannya, tak jarang pula ia memperlihatkan senyumnya yang begitu simetris. Dia adalah definisi wanita yang tidak pernah membuat kesalahan dalam berpenampilan. Sempurna. Anggun.

Doni menghentikan kunyahannya sesaat, lalu tersenyum tipis. “Iya bener, waktu itu kita masih kelas sepuluh. Ya pasti aku inget, dong! Waktu itu aku gemeteran sampai jatuhin botol minum, kan? Udah lah, nggak usah diinget-inget lagi. Malu, tauk!”

Marcella terkekeh pelan sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya yang masih memegang pisau, sebuah tawa yang sopan dan tertata. “Oh, kamu bisa malu juga?”, goda Marcella. “Aku sampai dua kali, lho, nolak kamu, tapi kamu masih terus aja nyoba nembak aku. Walaupun pada akhirnya aku terima juga. Soalnya kamu effort banget. Lucu, ya, kalau diinget lagi. Rasanya kayak baru kemarin. Waktu kayaknya cepet banget berlalunya.”

“Iya, ya”, jawab Doni singkat. “Cepet banget.”

Doni kembali memotong steak-nya. Sebenarnya, di dalam hati, Doni sudah tidak merasa seperti dulu lagi waktu awal-awal mereka berpacaran. Kini, di hatinya terasa seperti ada gua yang kosong. Lima tahun. Angka yang terbilang cukup lama untuk ukuran hubungan anak muda dari zaman SMA hingga bangku perkuliahan. Teman-teman kuliah mereka sering kali memuji mereka sebagai relationship goals. Mereka jarang bertengkar, tidak pernah ada gosip miring, dan masa depan mereka seolah sudah terencanakan dengan sangat rapi.

Namun, bagi Doni, lima tahun ini terasa seperti mengendarai mobil di jalan tol yang lurus, sepi, dan tanpa hambatan. Di awal, memang seru, rasanya bagaikan ada kupu-kupu di perut. Seperti yang orang bilang “butterfly era”. Tapi lama-kelamaan, rasa bosan dan jenuh yang luar biasa mulai menyerang. Tidak ada kejutan. Tidak ada tantangan. Tidak ada ups-and-downs. Semuanya terlalu dapat diprediksi.

“Oh ya, Don”, Marcella memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Doni dengan mata yang berbinar manja, layaknya anak kucing yang meminta ikan segar. “Sabtu besok rumahku kosong, lho. Papa sama Mama ada kondangan ke luar kota dari pagi. Dan kayaknya nyampe rumahnya bisa tengah malam, atau malah mungkin bisa jadi nginep disana sampai besok pagi.”

Doni menaikkan sebelah alisnya, tersenyum tipis. “Oh, ya? Berarti kamu bakal sendirian, dong, di rumah? Nggak takut?”

“Nah, makanya kamu harus datang ke rumah jam tujuh malam! Oke?”, Marcella merengek pelan, bibirnya sedikit dikerucutkan dengan imut, sebuah gestur manja yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati Doni. “Kita harus nonton drama Korea baru yang tayang di Netflix yang rilis kemarin itu, Don! Soalnya udah banyak banget yang share di Tiktok sama di Instagram, dan kayaknya seru banget! Aku udah penasaran setengah mati, tapi aku sengaja nahan diri buat nggak nonton sendiri biar bisa nobar sama kamu. Kamu nggak ada acara Sabtu malam, kan? Pokoknya harus bisa! Ya? Please, please, please!”

Doni mengingat-ingat jadwalnya. Sebenarnya tidak ada agenda penting. Di satu sisi, melihat Marcella merengek manja seperti ini selalu mengingatkannya pada masa-masa awal mereka pacaran. Namun di sisi lain, ada rasa lelah yang samar karena dia tahu persis bagaimana jalannya malam minggu mereka nanti: duduk rapi di sofa, menonton drama Korea pilihan Marcella yang sebenarnya kurang begitu dia sukai, sambil sesekali mengangguk setuju agar kekasihnya itu senang.

“Hmm… gimana, ya…”, Doni balik menggoda Marcella. “Ya bisa, dong, Cell. Apa, sih, yang nggak buat pacar aku tercinta, tersayang, dan ter-gemes ini. Sabtu malam jam tujuh, kan? Siap, Tuan Putri! Pangeran Doni pasti datang!”, jawab Doni bercanda, sembari mengulum senyum terbaik yang bisa dia pamerkan.

“Yay! Makasih, Sayang! Kamu memang Pangeran yang terbaik!”, Marcella tersenyum sangat lebar, matanya menyipit bahagia.

Marcella memang selalu seperti ini. Teratur, penuh rencana, dan tidak menyukai kejutan yang bisa merusak jadwalnya. Bahkan, Doni tahu persis alasan kenapa Marcella begitu gigih mempertahankan hubungan ini meskipun percikan asmara di antara mereka sudah lama meredup. Marcella pernah mengatakannya setahun yang lalu: “Aku malas kalau harus putus, Don. Capek harus kenalan lagi sama orang baru, pendekatan lagi dari awal, patah hati lagi. Lebih baik kita jalani ini saja sampai nikah nanti. Kita udah saling cocok juga, ‘kan.”

Cocok. Kata itu terasa begitu dingin di telinga Doni. Hubungan mereka dipertahankan bukan karena gairah cinta yang berapi-api, melainkan karena kenyamanan dan keengganan Marcella untuk menghadapi kerumitan hidup. Marcella yang perfeksionis, dan tidak mau ribet.

Saat mereka berjalan menuju tempat parkir, Marcella menggandeng mesra lengan Doni. Langkah kakinya anggun, menyesuaikan dengan ritme langkah Doni.

“Makasih ya buat makan malamnya, Don. Aku bahagia banget, deh, hari ini”, ucap Marcella tulus sambil menatap mata Doni saat mereka sudah berada di dalam mobil.

Melihat ketulusan di mata kekasihnya, Doni didera rasa bersalah yang mendalam. Marcella tidak pernah berbuat salah. Dia wanita baik-baik, pintar secara akademis, selalu berpikir jauh ke depan, merencanakan semuanya matang-matang sebelum mengambil keputusan, dan lebih sering meminta maaf duluan jika mereka berselisih paham atau sedikit berbeda pendapat, hanya demi menjaga kedamaian hubungan mereka. Doni tidak punya alasan yang logis untuk mengeluh. Tapi hatinya tidak bisa berbohong, dia merasa kosong. Hampa. Hubungan selama lima tahun ini tak ubahnya seperti rutinitas karyawan kantoran yang masuk jam 7 pagi, pulang jam 5 sore. Begitu-begitu saja.

“Sama-sama, Cell. Aku juga bahagia”, bohong Doni, sambil merangkai senyum terbaik yang bisa ia tunjukkan.

Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang di malam itu. Doni tidak pernah tahu, bahwa ajakan Marcella di hari Sabtu besok bukan hanya sekedar kencan nonton bersama yang seperti biasanya. Sabtu besok adalah hari di mana takdir akan mempertemukannya dengan badai besar yang siap mengobrak-abrik jalan tol lurus yang selama ini dia lalui.

Badai itu bernama Olivia.

BAB 2: Tamu Hari Sabtu

Doni merapikan kerah kemeja flanelnya sekali lagi melalui pantulan kaca spion mobil sebelum melangkah turun. Di tangan kirinya, ada satu kotak roti bakar Bandung rasa coklat keju, camilan wajib setiap kali dia bertamu ke rumah Marcella, karena mereka berdua menyukai rasa yang berbeda. Marcella suka keju, tapi Doni lebih suka coklat. Untungnya, roti bakar Bandung memisahkan kedua rasa tersebut alih-alih menggabungnya seperti martabak manis.

Lima tahun berpacaran, rumah bermodel minimalis dua lantai ini sudah terasa sangat familier bagi Doni. Namun malam ini, rumah itu tampak sepi. Mobil orang tua Marcella tidak ada di garasi, mereka memang sedang pergi ke luar kota sejak pagi untuk menghadiri acara pernikahan kerabat.

Justru karena rumah sedang kosong, Marcella mengajaknya bertamu malam ini. Kekasihnya itu sudah heboh sejak kemarin saat makan malam perayaan hari jadi mereka, mengajak Doni untuk menonton drama Korea terbaru di Netflix yang sudah tidak sabar untuk Marcella tonton karena melihat banyaknya spoiler bertebaran di media sosial.

Namun, ketika pagar rumah terbuka lebar, bukan senyuman tenang Marcella yang menyambutnya, melainkan wajah panik kekasihnya yang sedang menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya.

“Iya, Pak. Baik, sekitar lima belas menit lagi saya sampai di laboratorium kampus. Terima kasih, Pak”, ucap Marcella ke dalam ponsel sebelum mematikannya dengan helaan napas berat.

“Ada apa, Cell?” tanya Doni, meletakkan kotak roti bakar di meja teras.

Marcella menatap Doni dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Don, maaf banget. Aku bener-bener minta maaf. Barusan dosen pembimbing magangku nelpon. Ada berkas laporan yang salah input dan malam ini juga harus diperbaiki karena besok pagi mau diserahin ke dekan. Jadi, aku harus ke kampus sekarang.”

Doni berkedip, sedikit terkejut. “Oh… ya udah. Ayok, aku anter.”

“Nggak usah, sayang. Tadi aku udah telanjur mesen taksi online, itu mobilnya udah di depan pagar”, kata Marcella terburu-buru sambil memakai flat shoes-nya. “Aku kayaknya baru pulang tengah malem. Tapi, nggak tau, deh. Liat nanti aja. Kamu… mau langsung pulang aja apa gimana? Tapi, kita jadi nggak bisa makan roti bakarnya bareng, deh”, Marcella memasang wajah cemberut-tapi-tetap-cantik itu.

Doni tersenyum tipis, mencoba berlapang dada. “Gak apa-apa, Cell. Urusan kampusmu lebih penting. Hmm… kalau boleh, aku numpang istirahat dulu bentar di dalam, gimana? Kayaknya mendung, nih. Lagian, capek juga kalau harus lanjut nyetir lagi sekarang.”

“Oh, gitu? Ya boleh, dong! Masuk aja. Rumah juga nggak kosong-kosong banget, kok. Ada Oliv di dalam”, ucap Marcella sambil meraih tas kuliahnya.

Doni sempat mengernyitkan dahi mendengar nama itu. Oliv? Mungkin maksudnya Olivia. Adik kandung Marcella yang selisih tiga tahun di bawah mereka. Selama lima tahun berpacaran dengan Marcella dan tak terhitung berapa kali dia bertamu ke rumah ini, Doni menyadari dia hampir tidak pernah melihat wujud sang adik secara langsung. Olivia bagai hantu di rumah ini bagi Doni. Gadis itu selalu sibuk, entah sedang latihan basket bersama klubnya, pergi menonton pertandingan bersama teman-temannya, atau malah dia yang ditonton oleh teman-temannya karena sering menjadi andalan sekolahnya untuk mengikuti turnamen antar sekolah. Foto Olivia yang memegang piala basket di atas bufet ruang tamu adalah satu-satunya bukti visual yang Doni tahu tentang keberadaan adik kekasihnya itu.

“Dia nggak latihan hari ini?” tanya Doni, sekedar basa-basi sebelum Marcella pergi.

“Nggak tau, tuh. Klub basketnya lagi libur hari ini katanya. Dia ada di kamarnya dari tadi siang, tidur kali”, jawab Marcella sebelum mengecup pipi Doni cepat. “Aku pergi dulu ya, Sayang. Gak enak kalau dosennya nunggu. Anggap aja rumah sendiri, udah sering kesini juga, kan? Bye!”, pamit Marcella dengan senyumnya.

Setelah taksi online yang membawa Marcella menghilang di balik tikungan jalan, Doni menghela napas. Dia mengambil kotak roti bakarnya, melangkah masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu utama. Suasana rumah sangat sepi. Hanya terdengar detak jam dinding di ruang tengah.

Doni duduk di sofa empuk ruang tengah, menyalakan televisi, dan bersandar dengan santai. Dia memindahkan saluran TV tanpa minat, hingga akhirnya gerakannya terhenti pada siaran pertandingan ulang Liga Champions Eropa, dimana Chelsea, klub sepak bola favoritnya, sedang bertanding melawan Bayern Munchen.

Tepat saat Doni baru saja memosisikan duduknya dengan nyaman, terdengar suara langkah kaki yang bergedebuk dari arah tangga, disusul suara pintu kulkas yang dibuka di dapur. Tak lama kemudian, sosok itu muncul di ruang tengah.

Doni menoleh, dan untuk pertama kalinya, dia melihat Olivia dalam jarak dekat.

Gadis itu memakai jersey basket kebesaran berwarna hitam bergaris kuning emas dengan nomor punggung 07, celana pendek olahraga, dan rambut hitamnya dicepol asal-asalan ke atas. Di tangan kanannya, dia memegang botol minum olahraga berukuran besar. Sangat berbeda dengan Marcella yang selalu tampil anggun dengan gaun pastel, wewangian bunga, dan rambut yang disisir rapi. Olivia memancarkan energi yang cuek, sporty, dan cenderung serampangan.

Olivia sempat membeku di tempat saat melihat ada seorang pria duduk di sofanya. Namun, setelah mengenali wajah Doni dari foto-foto yang dipajang kakaknya, ekspresi terkejutnya berubah menjadi senyuman tipis yang ramah.

“Eh, Kak Doni ya?” suara Olivia terdengar agak serak, khas orang yang baru bangun tidur atau kelelahan. “Kak Marcella mana?”

“Ah, iya, Olivia ya?” Doni agak kikuk, buru-buru menegakkan posisi duduknya. “Marcella baru aja pergi ke kampus, ada urusan mendadak sama dosennya katanya.”

“Yah… si Kakak emang selalu sok sibuk”, gerutu Olivia pelan sambil berjalan mendekat. Matanya tiba-tiba berbinar saat melihat kotak di atas meja. “Wah, roti bakar! Boleh aku makan gak, Kak? Laper banget asli, baru bangun tidur abis seminggu dihajar latihan fisik.”

“Boleh, boleh banget. Makan aja, masih anget, kok”, jawab Doni, entah kenapa merasa terhibur dengan kelugasan Olivia yang tanpa basa-basi.

Olivia langsung duduk bersila di atas karpet, tepat di bawah sofa tempat Doni duduk. Dia membuka kotak roti bakar dan langsung melahap satu potong besar yang rasa coklat. “Gila, enak banget! Makasih ya, Kak.”

Tepat pada detik itu, di layar televisi, pemain Chelsea, Cole Palmer berhasil mencetak gol lewat tendangan voli kaki kirinya. Tanpa sadar, Doni langsung mengepalkan tangannya ke udara. “Yes! Gol!”

“GOOOOLLLL!!”

Doni tersentak. Suara teriakan kedua bukan berasal dari TV, melainkan dari Olivia yang berada di bawahnya. Gadis itu bahkan sampai berdiri sambil mengacungkan potongan roti bakarnya ke udara, matanya melebar penuh semangat.

“Yes! Akhirnya gol juga padahal udah nyerang dari tadi. Kak Doni suka Chelsea juga?!” tanya Olivia, menoleh ke arah Doni dengan wajah yang luar biasa antusias.

Doni terpaku sesaat, menatap mata Olivia yang berbinar jenaka. “Eh? Iya… aku fans Chelsea dari zaman SMP. Kamu juga?”

“Sama dong, Kak! Aku nge-fans dari zaman Eden Hazard!”, Olivia langsung duduk kembali di karpet, menggeser posisinya agar lebih dekat ke sofa Doni. “Wah, gak nyangka banget. Kak Marcella tuh benci banget kalau aku nonton bola di rumah, katanya berisik dan gak jelas cowok-cowok rebutan satu bola. Akhirnya ada juga orang di rumah ini yang waras!”

Doni tertawa lepas. Sebuah tawa yang jujur dan tidak dibuat-buat, jenis tawa yang sudah berbulan-bulan, atau mungkin bertahun-tahun, tidak pernah dia keluarkan saat bersama Marcella.

Selama satu jam berikutnya, ruang tengah itu tidak lagi terasa sepi. Pertandingan bola di TV hanya menjadi latar belakang, karena obrolan antara Doni dan Olivia mengalir seperti air bah yang jebol dari bendungan. Mereka tidak hanya membahas sepak bola, mereka ternyata menyukai genre musik yang sama, menyukai band indie yang sama yang bahkan Marcella tidak pernah sudi mendengarnya, hingga selera humor mereka yang sama-sama sarkastis. Mereka bahkan sama-sama menyukai coklat, berbeda dengan Marcella yang lebih menyukai keju.

Olivia berbicara dengan ekspresif, sesekali tertawa terbahak-bahak tanpa jaim, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Sementara Doni mendengarkan dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa takjub, senang, sekaligus sebuah sengatan asing yang tiba-tiba menyergap dadanya.

Bersama Olivia, Doni tidak perlu menjaga image menjadi pria sempurna. Bersama Olivia, dia tidak perlu berhati-hati dalam berbicara karena takut menyinggung perasaan wanita di depannya. Bersama Olivia yang baru dikenalnya satu jam, jalan tol lurus yang membosankan di hidup Doni seolah mendadak runtuh, digantikan oleh tikungan tajam yang berbahaya, namun sangat memicu adrenalin.

Suara klakson taksi online di luar rumah tiba-tiba memecah keasyikan mereka. Itu tanda Marcella sudah pulang.

Olivia langsung bangkit berdiri, membersihkan remah roti bakar di bajunya, lalu menatap Doni dengan senyum termanis yang pernah Doni lihat malam ini.

“Seru banget ngobrol sama Kak Doni. Kapan-kapan kita harus nonton bareng lagi ya, Kak”, ucap Olivia riang. Dengan gerakan gesit, dia membawa sisa roti bakarnya di kotak, lalu melangkah setengah berlari naik ke kamarnya di lantai atas.

Tepat saat pintu kamar Olivia di atas tertutup, pintu depan rumah terbuka. Marcella melangkah masuk dengan wajah lelah namun lega.

“Untung cuma salah input dikit, Don. Jadi urusannya cepet selesai”, kata Marcella sambil melepas tasnya, lalu duduk di samping Doni di sofa. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Doni dengan nyaman. “Yuk, nonton drakor-nya. Udah nggak sabar, nih. Eh, roti bakarnya kok tinggal segini? Kamu laper banget ya, tadi? Sorry ya, kalau kelamaan”

Doni tertegun sesaat, menatap kotak roti bakar yang rasa coklatnya sudah habis karena dimakan bersama Olivia. Jantungnya masih berdegup kencang, berkejaran dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

“Iya, Cell. Tadi agak laper”, bohong Doni pelan. “Tapi itu, yang keju-nya masih ada, kok. Makan aja.”

Malam itu, layar televisi di depan mereka menampilkan tayangan drama Korea baru di Netflix pilihan Marcella. Dengan sepotong roti  bakar keju di tangan kanannya, Marcella menonton dengan serius, sesekali meremas pelan lengan Doni saat adegan tegang. Namun, fokus Doni sudah pecah berantakan. Pandangannya tertuju pada layar TV, tetapi pikirannya tertinggal pada obrolan sepak bola dan tawa lepas bersama gadis ber-jersey basket nomor 07 di lantai atas tadi.

Malam itu, Doni menyadari satu hal yang menakutkan. Dia telah menemukan apa yang hilang dari hubungannya selama lima tahun ini. Dan sialnya, itu ada pada diri adik kandung pacarnya sendiri.

BAB 3: Pesan Singkat di Tengah Malam

“You’re all I can think of, every drop I drink up~

You’re my soda pop, my little soda pop~”

Dering ringtone lagu ‘Soda Pop’ milik Saja Boys dari film ‘K-Pop Demon Hunter’ itu menggema memecahkan keheningan hari Minggu pagi di rumah Marcella dan Olivia yang memang masih tampak sepi karena orang tua mereka belum pulang dari acara pernikahan kerabat mereka di luar kota. Ringtone tersebut ternyata berasal dari ponsel Marcella yang sedang di-charge di ruang tengah karena pemiliknya sedang berada di kamar mandi.

Mendengar itu, Olivia yang baru saja hendak mengikatkan tali sepatunya karena sedang bersiap-siap akan pergi latihan basket lagi ke sekolah, terpaksa bergegas untuk melihat siapa yang menelepon kakaknya, barangkali panggilan penting dari kampusnya atau mungkin dari orang tua mereka. Ternyata, sebuah panggilan suara dari 'Doni ❤︎' muncul di layar.

"Kak Cella! Ada telpon dari Kak Doni, nih!", seru Olivia ke arah kamar mandi.

"Angkat aja dulu, Liv! Bilang aku lagi ngeringin rambut!", sahut Marcella samar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup, disusul suara bising hairdryer.

Olivia meraih ponsel kakaknya. Namun, sebelum dia sempat menggeser tombol hijau, panggilan itu terputus. Layar ponsel Marcella kembali ke tampilan terkunci, menyisakan sebuah notifikasi pesan pop-up di bawahnya: “Cell, besok ke kampus pagi kan? Aku jemput jam berapa?”

Menatap nama Doni di layar, Olivia mendadak teringat keseruan obrolan sepak bola mereka Sabtu malam kemarin. Jiwa mudanya yang impulsif dan tanpa prasangka langsung terusik. Dia ingin melanjutkan obrolan seru itu, tapi tahu kakaknya pasti akan malas mendengarkan topik bola.

Selagi ponsel Marcella masih menyala dan menampilkan nomor Doni di bagian detail notifikasi, Olivia dengan cepat meraih ponselnya sendiri. Jari-jarinya dengan gesit menyalin deretan angka nomor telepon Doni ke dalam kontaknya.

“Nomor kak Doni aku simpen, ah. Ntar aku chat kalau Chelsea lagi main. Temenku nggak ada yang fans Chelsea soalnya, kebanyakan Emyu”, pikir Olivia sambil senyum-senyum sendiri. Ia santai saja, sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan tindakannya. “Kak Doni kan asyik orangnya”, tambahnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

“Kak Cella! Aku pergi dulu, ya!”, teriak Olivia bersemangat setelah menghabiskan satu gelas susu coklatnya.

“Iya, hati-hati!”, Marcella juga berteriak karena masih berada di kamar mandi.

Keesokan harinya di kantin kampus, terlihat Doni yang sedang duduk di bangku panjang menyeruput mie ayam pesanannya sambil menemani Marcella yang sedang fokus merevisi laporan magangnya yang sempat salah tempel kemarin.

Marcella bersikap sangat manis, sesekali menyuapi Doni camilan atau merapikan rambut Doni yang berantakan. Namun, Doni merasa bersalah karena setiap kali melihat wajah Marcella, dia malah teringat bayangan Olivia yang tertawa lepas dengan jersey basketnya. Doni merasa menjadi pria paling jahat di dunia.

“Don!”, panggilan Marcella yang tidak terlalu keras itu mengagetkan Doni. Wajah melamun Doni ternyata terpergok oleh Marcella.

“Kamu ngelamun, ya? Mikirin apa sih? Itu kan mie ayam kesukaan kamu, biasanya cepet habisnya. Tumben masih sisa banyak”, Marcella yang tadinya fokus mengerjakan laporannya, jadi teralihkan melihat kebiasaan Doni yang sudah sangat dia hafal tiba-tiba berubah.

“Eh? Nggak, kok. Nggak mikirin apa-apa”, jawab Doni berkelit. “Udah selesai laporannya?”, Doni mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak tahu harus menjawab apa.

“Hmm… dikit lagi, sih”, Marcella yang perfeksionis akhirnya kembali fokus untuk menyelesaikan laporannya yang harus dia kumpulkan dua jam lagi. Doni merasa lega akhirnya lolos dari pertanyaan mengejutkan Marcella. Dia pun bergegas menghabiskan mie ayam favorit-nya yang membuat dia juga berpikir, “Kenapa dari tadi belum habis-habis juga, ya?”

Malam harinya, Doni sudah berada sendirian di kamar kos-nya. Dia mencoba mengalihkan pikirannya yang kusut dengan mendengarkan musik dan sesekali bermain game, tetapi tidak bisa. Dia terus menatap ponselnya, bolak-balik membuka ruang obrolan WhatsApp dengan Marcella yang isinya sangat teratur, seperti: "Aku tidur dulu ya sayang" atau "Besok jemput jam 8 ya".

Tiba-tiba, sekitar jam 11 malam lewat 40 menit, ada sebuah notifikasi dari nomor tidak dikenal.

Pesan itu ternyata dari Olivia. Dia mengirim foto screenshot berita olahraga tentang Chelsea yang baru saja kalah di pertandingan terbaru, disusul chat: "Halo kak Doni! Lihat deh, pelatih kita kocak banget taktiknya wkwkwk btw, ini Olivia. Aku save nomor kak Doni pas nelpon kak Marcella kemarin. Save nomor aku juga ya!"

Jantung Doni langsung berdegup kencang lagi. Sensasi mendebarkan yang sama seperti hari Sabtu malam itu kembali. Mereka akhirnya bertukar pesan hingga larut malam, membahas hal-hal random dengan gaya ketikan Olivia yang seru, penuh emoji, dan blak-blakan.

Doni tersenyum sendiri menatap layar ponselnya di kegelapan kamar, sesuatu yang sudah lama tidak dia lakukan.

Malam semakin larut, Olivia berniat menutup obrolan mereka dengan chat: "Seru banget chat sama kak Doni. Oh iya, kak. Besok sore tim basketku ada tanding persahabatan di GOR dekat kampus kak Doni, loh. Kak Marcella kayaknya gak bisa nonton karena ada kelas asistensi sampai malam. Kalo sempet, mampir dong kak, buat nonton aku! Belum pernah liat kan, aku aslinya sejago apa? Wkwkwk”

Bagi Olivia, ini mungkin hanya pesan biasa, hanya ajakan santai kepada calon kakak iparnya yang dia anggap asyik buat diajak seru-seruan, dan satu frekuensi dengannya. Olivia sama sekali tidak ada niat apa-apa selain hanya ingin memamerkan keahliannya dalam bermain basket, dan menunjukkan kalau piala-piala di rumahnya dipajang bukan tanpa alasan, yang bahkan berpotensi untuk bertambah lagi. Dia bahkan menyisipkan kata ‘kalau sempet’. Artinya, walaupun pada akhirnya Doni tidak datang pun tidak ada pengaruh apa-apa baginya.

Tapi tidak bagi Doni. Dia mengalami pergolakan batin. Dia tidak pernah merasa pesan singkat seperti itu akan sebegitu berbahayanya bagi psikologis-nya. Tawa lepas di Sabtu malam dan panjangnya obrolan pesan mereka di malam ini mungkin sudah cukup untuk membuat Doni baper. Jadi, tindakan biasa dari Olivia akan ditangkap secara berbeda oleh hati Doni yang sedang haus akan tantangan.

Bagi Doni, pesan sesederhana itu sudah cukup membuat jantungnya berdegup kencang dan membuatnya dihadapkan pada pilihan: datang sebagai bentuk dukungan kepada adik dari kekasihnya, atau datang karena dia memang ingin bertemu dengan Olivia lagi. Dia masih terpaku menatap pesan itu. Apakah dia akan datang? Sendirian? Apakah dia merasa harus memberitahu Marcella dulu?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!