Indonesia
NovelToon NovelToon

IBU TIRI SEWAAN

Bab. 1

"Hei! Berhenti!"

Teriakan berat itu membuat Asia semakin memacu langkahnya menyusuri trotoar jalan besar sore itu. Napasnya tersengal karena berusaha keras untuk lolos dari dua pria itu.

Aku tidak boleh tertangkap, tekad Asia sambil terus berlari.

Di belakangnya derap langkah sepatu bot terdengar semakin mendekat. Dua pria berbadan kekar terus membuntutinya. Mereka adalah suruhan rentenir yang berniat menangkapnya hidup-hidup.

"Jangan lari! Berhenti!" seru pria satunya lagi dengan nada tinggi. Orang-orang di trotoar yang mendengarnya hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya. Mengira itu bukan urusan mereka.

Jika tertangkap sore ini, Asia tahu dia habis. Dengan mata liar mencari celah untuk lolos, dia nekat melompat ke aspal jalan raya. Bermaksud menyeberang zigzag demi memotong jarak dan menghilang di gang seberang. Jalan lintas kota itu sore ini memang sepi pejalan kaki, namun kendaraan besar kerap melintas dengan kecepatan tinggi.

Di saat yang sama tidak jauh dari posisi Asia, Kapten Hugo dan putranya yang berumur enam tahun sedang berniat ke fast food bersama-sama. Bocah bernama Nero itu sudah merengek sejak siang karena ingin makan ayam krispi yang sering lewat di iklan ponselnya. Ada mainan dalam paket ayam krispi itu.

Hugo sudah membelikan lewat online, tapi bocah itu menolaknya. Bahkan hampir melempar satu kotak besar ayam krispi itu ke lantai karena stok mainan habis. Namun bibi pelayan berhasil menangkapnya.

Nero marah karena ingin beli diluar. Bukan tidak mau, tapi Hugo masih sibuk. Meski dia tentara yang lumpuh, tapi tugasnya tidak sedikit.

Hugo akhirnya menuruti kemauan anaknya dengan didampingi oleh ajudannya, Sersan Dua, Gilang. Hari ini libur dinas. Kebetulan restoran yang mereka tuju adalah area lantai dasar sebuah mall di pinggir jalan tersebut.

Namun membawa Nero keluar rumah selalu butuh tenaga ekstra. Sejak ibunya meninggal dua tahun lalu, Nero tumbuh menjadi anak yang terlampau aktif dan gemar bertingkah sesukanya demi mencari perhatian.

"Mau ayam sekarang, Papa! Mau mainan robotnya juga! Nanti keburu habis!" rengek Nero kencang sambil menarik-narik seragam santai Gilang. Wajahnya cemberut dengan air mata yang sengaja dibuat-buat agar permintaannya cepat dituruti.

"Iya. Kamu harus tenang dulu," pinta Hugo.

"Tidak! Itu cepat habis! Kita harus cepat!" Tubuh Nero bergerak-gerak kesal.

"Iya, ini kita mau ke tempat ayam krispi yang kamu mau. Kita jalan pelan-pelan tidak boleh mengebut," ujar Gilang sambil mengemudi membantu menenangkan.

Nero malah berteriak. "Enggak mau pelan-pelan! Mau sekarang!" pekik bocah itu makin menjadi-jadi.

"Jangan manja Nero," ujar Hugo dengan tekanan dalam. Dia yang duduk di samping Nero berusaha sabar. Namun pada akhirnya tidak tahan.

Gilang paham apa yang membuat atasannya keras. Menghadapi dua anak tanpa ibu sungguh melelahkan. Meskipun ada pengasuhnya, tapi Neto tidak bisa ditangani sembarang orang.

Begitu mobil dinas diparkir di area luar. Nero tiba-tiba berlari saat pria itu ingin membantu Hugo turun.

"Nero!" Gilang sadar.

Bukannya masuk ke restoran ayam, bocah itu justru berlari kencang menuju pintu masuk mall yang ramai oleh pengunjung sambil terus berteriak, "Mau robot! Mau robot!"

"Nero! Berhenti!" panggil Gilang panik.

Kepala Hugo pening saat melihat tubuh mungil Nero mulai tenggelam di antara kerumunan pengunjung mall yang padat. "Nero!" panggilnya.

Bocah itu tidak peduli.

Gilang tidak punya pilihan. Jika dibiarkan sedetik saja, anak itu bisa hilang di dalam gedung bertingkat tersebut. Gilang terpaksa melepaskan pegangan pada kursi roda Hugo yang sudah turun.

"Mohon izin, Kapten, saya kejar Nero dulu!" serunya sebelum berlari kencang masuk ke area mall.

Hugo menghela napas memutuskan untuk menggerakkan kursi roda hidroliknya sendiri. Dia tidak ingin terlihat payah hanya karena harus menunggu ajudannya.

Namun malapetaka justru terjadi.

Akibat hentakan di kontur semen jalan yang tidak rata, sistem hidrolik kursi roda yang dinaiki Hugo mendadak mengalami malfungsi. Sistem keamanannya macet dan langsung mengunci kedua roda secara otomatis tepat di pinggir mobil yang kurang aman.

Hugo mencoba memutar paksa roda dengan kedua tangannya yang kekar. Tapi tuas besi di bawahnya tetap mati kutu.

Saat itu Asia memotong jalan raya dan berpapasan langsung dengan posisi Hugo.

Melihat pria lumpuh sendirian di dekat mobil, membuat Asia menoleh. Itu berbahaya. Dia tidak ingin menolong karena dia juga dalam keadaan terjepit. Tapi radar kemanusiaannya menyala.

Sialan. Aku juga butuh pertolongan, Ya Tuhan!

Asia mendadak membelok arah larinya. Lalu berdiri di belakang kursi roda Hugo. Ia yakin ada yang salah dengan kursi roda. Asia menunduk melihat ke arah kursi roda. Ternyata tuas hidrolik macet. Ia menggunakan ujung sepatunya untuk menendang tuas itu.

Begitu kunci terbuka, Asia mencengkeram pegangan besi dan mendorong pria bertubuh tegap itu sekuat tenaga menuju tempat yang ia anggap lebih aman.

Hugo tertegun di atas kursi rodanya. Dia baru saja hendak membuka mulut untuk berterima kasih, tapi suara dari ujung jalan kembali terdengar menuntut.

"Berhenti kamu!" Kedua pria kekar itu menemukan Asia. Wajah Asia memucat.

"Sialan," geram Asia kesal dan lelah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia langsung berlari kencang lagi.

Hugo menyaksikan para pria itu berlari melewatinya dan mengejar wanita yang membantunya.

Perhatiannya teralih saat Gilang baru berlari keluar dari area mall dengan napas terengah-engah sambil menggendong Nero yang menangis karena tertangkap.

Nero masih merengek kesal di pundak Gilang dengan suara parau, "Nggak mau pulang! Aku mau kesana!"

Wajah ajudan itu seketika pucat pasi melihat posisi Hugo sudah bergeser dengan kursi roda yang rusak.

"Anda tidak apa-apa, Kapten?! Mohon maafkan kelalaian saya!"

"Aku tidak apa-apa. Turunkan dia," perintah Hugo. Dia mengalihkan pandangan ke putranya.

Gilang langsung menurunkan Nero tanpa mengendorkan pengawasan. Bocah itu cemberut. Dia melipat tangannya di dada dengan wajah kesal karena tidak dibela.

"Nero," sebut Hugo. Matanya menatap tajam ke arah putranya. "Apa yang kamu lakukan barusan?" tegur Hugo tegas. Suaranya yang berat membuat suasana di sekitar mereka langsung terasa dingin.

Nero balas menatap papanya tapi kemudian melihat ke arah lain. Bocah itu mulai merasa terintimidasi oleh sorot mata ayahnya.

"Jawab, Nero," desak Hugo. Pria itu menuntut jawaban langsung dan tidak suka diabaikan.

"Aku hanya mau bermain," sahut Nero tidak mau salah. Dia memalingkan mukanya, masih mencoba mencari alasan untuk membela diri.

"Bermain itu harus aman dan dalam pengawasan. Sudah berapa kali papa bilang kamu harus patuh," kata Hugo mengingatkan lagi pesan-pesan yang pernah dikatakan. Hugo ingin mendidik anaknya agar tidak ceroboh di tempat umum.

Bibir Nero manyun, tapi dia memilih diam tanpa membantah lagi. Dia tahu kalau papanya sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, dia tidak bisa menang.

Bruk!

Suara debugan terdengar. Hugo dan Gilang menoleh. Keributan itu menarik perhatian mereka dari arah luar gerai.

"Kamu enggak mau, bayar hah?!" bentak seorang pria berwajah sangar yang tampaknya sedang menagih sesuatu dengan paksa.

"Itu bukan hutangku." Suara seorang wanita terdengar bergetar namun mencoba menahan rasa takutnya.

"Itu milik ayahmu, Bodoh!" Pria itu menarik rambut wanita yang menolong Hugo tadi. Orang-orang yang melintas hanya melihat saja. Membantu orang lain kadang jadi tersangka memang.

Sesaat Nero yang lihat itu mendekat ke arah papanya. Meski ia nakal, tapi mentalnya masih bocah. Bocah ini takut. Tubuh kecil Nero gemetar melihat aksi kekerasan fisik di depan matanya.

Mata Hugo masih hapal dengan wajah wanita itu. Pria itu memiliki ingatan yang kuat, terutama pada orang yang pernah berinteraksi dengannya.

"Dia wanita yang membantu saat kursi rodaku macet, Gilang. Bantu dia," perintah Hugo tiba-tiba. Dia tidak bisa tinggal diam melihat orang yang pernah menolongnya berada dalam bahaya.

"Siap, Kapten." Gilang menjawab dengan sigap dan langsung melangkah lebar untuk mengambil tindakan.

Bab. 2

Sersan Gilang langsung bertindak cepat dengan mendorong kuat tubuh pria penagih utang yang posisinya paling dekat dengannya hingga terhuyung.

"Apa-apaan kau?!" tanya pria satunya yang memegangi Asia. Terkejut sekaligus heran dengan kemunculan orang asing yang tiba-tiba menyerang mereka.

Asia yang tadi meringis kesakitan sambil memegangi rambutnya yang dijambak, segera mendongak untuk melihat siapa yang datang membantunya. Siapa dia? batin Asia heran karena merasa sama sekali tidak mengenali pria bertubuh tegap itu.

"Lepaskan dia," perintah Sersan Gilang dengan suara penuh penekanan.

"Urusan apa kau ikut campur?! Ini urusan kami!" Dengan wajah bengis, pria itu justru menarik rambut Asia dengan lebih kencang sebagai bentuk tantangan.

Erangan kecil yang tertahan spontan lolos dari bibir Asia akibat rasa perih di kulit kepalanya.

"Kalian menyakiti seorang wanita," tutur Sersan Gilang tetap tenang, namun tatapan matanya menajam.

"Dia?" Pria itu menunjuk Asia dengan dagunya. Tatapannya remeh. "Dia punya utang, tapi tidak mau bayar! Jadi aku memukulnya. Apa yang salah dengan itu?!"

"Itu bukan utangku!" sanggah Asia membela diri.

"Terus saja kau bicara seperti itu! Di dalam surat perjanjian, kau tetap menjadi jaminan sampai utang itu lunas! Paham?!"

"Kalian menjebak ayahku!" teriak Asia tanpa rasa takut sedikit pun, meski posisinya sedang terdesak.

"Ayahmu itu yang bodoh, bukan salah kami!" Pria itu mengangkat tangannya, hendak memukul Asia lagi.

Sebelum bogem mentah itu mendarat, Sersan Gilang langsung melayangkan tinjuan keras ke wajah pria tersebut. Pukulan itu terlihat santai, tetapi sangat ampuh. Cengkeraman tangan pria itu pada rambut Asia seketika terlepas, dan tubuhnya terdorong mundur hingga beberapa langkah.

"Jangan mencoba bangun, atau aku akan membuat kalian babak belur di sini," ancam Sersan Gilang tegas saat melihat kedua preman itu hendak bergerak. Melihat aura intimidasi yang tidak main-main dari pria bertubuh tegap itu, kedua penagih utang tersebut langsung gentar.

"Kau, k-kau akan tahu berhadapan dengan siapa!" ancam pria itu lalu pergi.

Napas Asia tersengal-sengal karena sempat tertekan dan syok akibat ketegangan tadi. Tanpa menangis sedikit pun, dia hanya meringis pelan sambil merapikan pakaiannya yang sempat sedikit kusut. Asia berusaha menahan rasa sakit di lengan dan tubuhnya akibat terkena pukulan sebelumnya.

"Siapa kamu?" tanya Asia. Matanya masih menatap asing pada wajah penolongnya.

"Maaf. Saya hanya bawahan dari Tuan yang ada di sana," jawab Sersan Gilang sopan sambil menunjuk ke arah Hugo dan putranya yang menunggu di kejauhan.

Kepala Asia menoleh ke arah yang ditunjuk. Oh, pria di kursi roda itu, batinnya. Asia kemudian kembali menatap Gilang. "Terima kasih sudah membantuku."

"Bukan saya, tapi beliau yang memerintahkannya. Jika bisa, Anda sebaiknya mengucapkan terima kasih langsung pada atasan saya," ujar Sersan Gilang. Sebagai prajurit yang hanya menjalankan perintah, dia merasa tidak berhak menerima apresiasi itu sendirian.

"Baiklah," jawab Asia patuh. Dia tidak keberatan dengan hal itu. Toh, bagaimanapun dia selamat berkat keputusan pria tersebut.

Dengan didampingi oleh Sersan Gilang, Asia berjalan menghampiri tempat Hugo berada. Begitu sampai di depan pria itu, Asia sedikit membungkuk sopan. "Terima kasih sudah menolong saya, Tuan."

Hugo menatap Asia datar. Memperhatikan sudut bibir dan lengan wanita itu yang terluka. "Kamu bisa diantar ke rumah sakit oleh ajudanku," ujar Hugo dingin setelah melihat hasil dari kekerasan para penagih utang tadi.

Tanpa sadar Asia meraba wajahnya. "Ah ini?" Ada rasa ngilu disana. Dia sempat ditampar tadi. Sakit, tapi itu sudah biasa.

Asia membungkukkan tubuhnya sedikit dengan sopan. Ia menggeleng secara halus. "Terima kasih banyak atas kebaikan Anda, Tuan. Tapi tidak perlu, saya bisa mengobatinya sendiri di rumah," tolaknya jujur. Karena dia tahu tidak ada uang untuk biaya rumah sakit.

Sementara itu, Nero yang berada di samping kursi roda papanya hanya diam mematung, sepasang mata bulatnya sibuk mengamati sosok Asia dari atas sampai bawah.

Kruuuk.

Mendadak suara nyaring dari perut Asia memecah keheningan di antara mereka.

Sialan. Wajah Asia seketika merona merah karena malu.

Hugo tetap menatapnya datar tanpa ekspresi, lalu membuka suara demi membalas budi atas pertolongan Asia pada kursi rodanya tadi. Dia tidak mau ada hutang budi pada orang asing.

"Ikut kami makan di dalam," ajak Hugo dengan nada tegas yang sulit ditolak.

Asia sempat ragu, tapi rasa lapar yang teramat sangat membuatnya tidak bisa membohongi diri sendiri.

"Jika tidak merepotkan Anda, saya ikut. Tapi... apakah boleh pesanan saya dibungkus saja? Saya ingin memakannya di rumah," pinta Asia dengan penyampaian yang tetap sopan.

Hugo hanya mengangguk sekilas, lalu memberi kode pada Gilang untuk mendorong kursi rodanya masuk ke area restoran fast food di lantai dasar mall diikuti Asia dari belakang.

***

Asia memperhatikan Nero yang kembali merengek di sepanjang jalan menuju restoran.

"Ayo, aku mau makan sama robot!" Bocah itu rupanya masih ingat betul dengan mainan robot yang ia ributkan sejak tadi dan tidak mau membahas hal lain.

Hugo mencoba meredam suasana agar tidak memicu keributan di tempat umum. "Kita akan membelikannya nanti, Nero. Kamu sebaiknya sabar menunggu," ujar Hugo memberikan pengertian dengan suara rendahnya.

"Tidak akan sempat! Ini pasti akan habis!" potong Nero tak sabaran, sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan ayahnya.

Hugo akhirnya memilih diam. Pria itu tidak berniat mendebat anaknya yang sedang emosi di depan banyak orang. Dia tetap tenang dan terus menggerakkan kursi rodanya menuju gerai makanan siap saji yang menjadi tujuan mereka sejak awal.

Namun hari ini nasib baik sedang tidak memihak mereka. Begitu mereka sampai di depan kasir untuk memesan, pelayan mengabarkan bahwa paket ayam dengan hadiah mainan robot yang diinginkan Nero ternyata sudah habis stoknya.

"Huwaaa!!!" Nero langsung menangis keras tepat di depan kasir restoran. Tangisannya meledak begitu saja karena kecewa. "Ini salah Papa! Papa tidak mau membelikannya dari tadi!" tuduh bocah itu sambil menyalahkan ayahnya.

Hugo tetap berusaha bersikap tenang menghadapi kemarahan anaknya. "Kamu bisa beli paket makanan yang lain," kata Hugo dengan nada datar. Mencoba menenangkan situasi agar tidak menjadi pusat perhatian.

"Tidak! Aku mau yang ada robotnya yang itu! Enggak mau yang lain! Huwaaa!" bantah Nero makin menjadi-jadi. Bocah itu menghentakkan kakinya ke lantai. Sama sekali tidak mau menerima alternatif lain.

Di posisinya yang berdiri tidak jauh dari sana, Asia meringis menahan pening di kepalanya. Rasa lapar yang melilit perut ditambah polusi suara dari tangisan kencang bocah itu benar-benar menguji sisa kesabarannya malam ini.

Laparnya makin tertunda karena masalah ini. Asia seketika menyesal telah menerima ajakan makan malam itu.

"Jika tahu situasinya akan sekacau ini, lebih baik aku segera pulang ke rumah dan makan seadanya. Yah, aku selalu mendapat hal yang tidak baik. Kenapa terkejut? Bukankah semuanya seperti biasanya, batin Asia merasa ini bukan pertama kalinya. Asia akhirnya memilih cuek.

Bab. 3

Suasana di dalam gerai makan cepat saji itu mendadak terasa tidak nyaman. Orang-orang di sekitar mereka mulai menoleh dan memberikan pandangan mencibir karena suara tangisan Nero yang terlalu bising.

Situasi ini benar-benar memicu rasa malu sekaligus membuat darah tinggi. Asia yang statusnya hanya orang asing di sana saja bisa merasakan rasa malu itu, apalagi Hugo dan Gilang yang merupakan keluarga dari bocah tersebut.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Sersan Gilang berusaha mengambil alih situasi dan membujuk bocah itu. "Kita beli lagi besok, ya?"

Ada atmosfer kebapakan yang hangat. Jika melihat raut wajahnya, beliau berumur sama dengan Hugo.

"Enggak! Aku maunya sekarang!" tolak Nero dengan keras kepala dan tidak mau mengalah.

"Akan saya carikan lagi di gudang ya, Pak. Mungkin masih ada sisa stok mainan robotnya," ujar karyawan McD itu dengan berbaik hati. Dia tampaknya merasa iba melihat Hugo yang berada di kursi roda dan Gilang yang kewalahan menenangkan anak kecil.

"Baik. Terima kasih," balas Hugo sopan. Pria itu kemudian menunduk menatap putranya. "Kamu sudah dengar sendiri kalau mau dicarikan, Nero? Jadi tenanglah," pinta Hugo dengan nada tegas namun terkendali.

Mendengar janji dari karyawan tersebut, tangis Nero berangsur mereda. Meskipun bocah itu belum benar-benar berhenti sesenggukan.

Asia hanya mengawasi mereka semua tanpa bicara apa-apa. Tanpa andilnya pun, situasi saat ini sudah tidak bisa dikendalikan dan terasa sangat kacau. Jadi, dia memilih untuk cukup diam menutup mulut, meskipun perutnya sudah keroncongan menahan lapar.

"Nero, duduk di sana saat mereka mencarikan mainanmu," kata Hugo sambil menunjuk ke arah salah satu tempat duduk yang kosong di sudut gerai. Pria itu kemudian menoleh pada ajudannya. "Antar dia, Gilang."

"Baik, Kapten. Ayo, Nero," ajak Gilang patuh. Sambil menuntun bocah itu, Gilang juga memberikan isyarat dan mempersilakan Asia untuk ikut duduk beristirahat. Sementara itu, Hugo menggerakkan kursi rodanya menuju ke arah toilet.

"Maaf, Nona. Sebentar lagi makanan Anda akan datang," ujar Gilang. Pria itu menyadari Asia sudah menunggu makanan sejak tadi dan merasa tidak enak hati karena membuat wanita itu kelaparan lebih lama.

"Tidak apa-apa, saya hanya ikut," balas Asia pelan. Dia tahu diri untuk tidak melayangkan protes dalam situasi seperti ini.

"Tunggu di sini ya, Nero. Jangan kabur," kata Gilang mengingatkan anak atasannya. Pria itu kemudian menoleh lagi pada Asia. "Maaf, Nona. Bisa tolong jaga dia sebentar? Saya akan sangat berterima kasih jika Anda mau," pinta Gilang sebelum kembali ke meja kasir. Karyawan gerai tampaknya sudah melambaikan tangan, memberi tanda ada kabar terbaru soal mainan itu.

"Ah, ya," jawab Asia. Di dalam hati dia sebenarnya enggan terlibat, tetapi dia tidak mungkin menolak permintaan tolong orang yang baru saja menyelamatkannya.

"Terima kasih." Setelah mengatakan itu, Gilang bergegas menghampiri meja pemesanan.

Kini tinggal mereka berdua di meja tersebut. Nero melihat ke sekelilingnya dengan pandangan bosan. Tangisnya sudah benar-benar reda, dan wajah menyebalkannya yang tadi penuh air mata kini sirna. Namun, entah mengapa bocah itu tiba-tiba merasakan firasat yang tidak baik dari wanita di depannya.

"Heh, bocah," panggil Asia pelan.

Nero langsung menoleh. "Kamu memanggilku?" tanya Nero, yang entah kenapa mendadak kembali memasang wajah menyebalkan.

"Bocah di dekatku cuma kamu," sahut Asia geram.

"Apa?" tanya Nero ketus dan enggan.

Melihat tingkah songong anak itu, ingin rasanya Asia menjitak kepala bocah di depannya ini.

"Kenapa harus heboh sampai menangis seperti tadi?" tanya Asia pada akhirnya. Dia bukannya peduli atau ingin mencampuri urusan keluarga orang lain. Dia hanya sedang berusaha membuang waktu untuk mengalihkan rasa lapar di perutnya yang kian parah.

"Kenapa?" tanya Nero, tidak segera menjawab pertanyaan itu. Dia anak yang pintar dan bisa merasakan kalau wanita di depannya sedang memancingnya.

"Enggak ada, cuma tanya," jawab Asia enteng tanpa beban.

"Enggak usah tanya-tanya kalau gitu," ketus Nero sambil membuang muka.

"Aku pusing tadi dengar kamu nangis heboh," tambah Asia jujur. Rupanya wanita itu masih belum kapok juga bicara dan memprovokasi bocah songong di depannya ini.

Perbincangan dingin ala bocah dan wanita dewasa yang agak kekanak-kanakan itu ternyata didengar oleh Hugo yang baru saja datang dari toilet.

Langkah kursi roda seketika urung tepat beberapa meter di belakang kursi mereka. Hugo sengaja berhenti saat mendengar putranya bisa berbicara sepanjang itu dengan wanita asing tersebut.

Gilang yang juga hendak kembali ke meja pun ikut menghentikan langkahnya. Dia urung mendekat saat melihat Hugo justru berdiri diam, tampak sedang menyimak perbincangan tidak terduga antara wanita asing itu dengan Nero.

"Ternyata dia bisa ngobrol dengan Nero, ya?" Suara Gilang yang tiba-tiba terdengar langsung membuyarkan lamunan Hugo. Gilang berjalan mendekat ke sisi kursi roda atasannya. "Padahal Nero itu paling anti dengan orang asing."

Hugo tidak menjawab. Pria itu hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Pikirannya tampak berputar memikirkan sesuatu yang penting sambil terus mengawasi gerak-gerik wanita asing tersebut dari kejauhan.

Begitu mereka berdua sampai di dekat meja, fokus Nero langsung teralihkan.

"Apakah robotnya ada?" tanya Nero dengan mata berbinar saat melihat Gilang datang membawa nampan berisi pesanan makanan di tangannya.

"Ada," sahut Gilang sambil tersenyum.

"Horeee!" Nero bersorak senang, wajah cemberutnya langsung hilang.

Asia yang duduk di depan bocah itu diam-diam juga ikut merasa senang. Baginya, itu adalah tanda bahwa situasi sudah aman dan dia bisa segera makan. Namun, kedamaian sesaat itu langsung rusak ketika mendengar suara dari bocah tersebut.

"Kok seperti ini?" tanya Nero heran. Dia membolak-balikkan robot plastik itu dengan wajah kecewa dan kesal. "Ini bukan robot yang aku mau! Bohong! Robot ini bukan robot yang di iklan itu!"

Hugo menatap Nero dengan tajam. Pria itu tampaknya sudah berada di batas akhir kesabarannya menghadapi sikap manja si anak.

"Kalau kamu tidak mau robot itu, buat aku saja," celetuk Asia tiba-tiba.

Hugo yang tadinya hendak memarahi Nero langsung menggeser pandangannya dengan cepat ke arah Asia. Gilang yang baru saja menghela napas pasrah pun ikut menoleh terkejut.

Nero terdiam sesaat, lalu menatap Asia dengan bingung. "Kamu kan sudah tua, kenapa kamu suka mainan robot?"

Asia mendelik kesal. Sialan bocah ini, batinnya mengumpat.

"Nero. Sikapmu tidak sopan," tegur Hugo dengan suara rendah yang menuntut kepatuhan.

Nero menoleh. Tapi raut wajahnya seakan bilang kalau dia tidak bersalah. Apa yang ia katakan benar.

Asia terpaksa tersenyum tipis, sekadar menetralkan rasa canggung di antara mereka. "Bukan aku yang suka, tapi anak-anak di tempat tinggalku," ralat Asia meluruskan maksudnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!