Indonesia
NovelToon NovelToon

Bos Kucing Oranye

Ras Terkuat Di Lantai 32

Jika ada tiga hal yang paling dihindari oleh seluruh karyawan PT Mahardika Megah, jawabannya adalah: lembur di hari Jumat, lift macet, dan Arkananta Mahardika.

Poin ketiga adalah yang paling mematikan. Arkananta atau yang biasa dipanggil Pak Arkan—adalah CEO muda yang ketampanannya setara dengan dewa Yunani, namun sayangnya, efisiensi kerjanya setara dengan robot pembunuh, dan toleransinya terhadap kesalahan sedekat jarak antara kelopak mata saat berkedip. Singkatnya, dia adalah predator puncak di ekosistem korporat ini.

Dan di sinilah Kinanti Amalia berada. Duduk di kubikelnya yang berjarak hanya lima meter dari pintu kaca buram ruangan sang CEO, sementara jam dinding digital sudah menunjukkan pukul 20.45 malam. Di luar, hujan deras khas bulan November mengguyur Jakarta dengan brutal, menciptakan simfoni ketukan air yang berisik di jendela kaca besar lantai 32.

"Kinanti."

Suara interkom berbunyi, dingin dan datar, langsung menusuk gendang telinga Kinanti. Gadis itu tersentak, refleks menegakkan punggungnya yang sudah pegal akut.

"Iya, Pak?" jawab Kinanti, berusaha menyembunyikan nada mengantuk dari suaranya.

"Laporan analisis pasar untuk proyek re-branding di Surabaya. Bawa ke ruangan saya. Sekarang."

Klik.

Sambungan diputus sepihak tanpa menunggu jawaban. Kinanti mengembuskan napas panjang, meniup poni poninya yang mulai lepek. Ia melirik tumpukan kertas di sebelah laptopnya. Dengan pasrah, ia merapikan map jepit berwarna biru tua tersebut, bercermin sekilas di layar ponselnya untuk memastikan lingkaran hitam di bawah matanya tidak membuatnya terlihat seperti zombi, lalu berdiri.

Gadis itu mengetuk pintu kayu mahoni tebal di hadapannya sebanyak tiga kali.

"Masuk."

Kinanti mendorong pintu. Aroma kopi arabika mahal dan parfum maskulin beraroma wood langsung menyergap indra penciumannya. Di balik meja kerja marmer yang luas, Arkan duduk dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku. Dasi hitamnya sudah sedikit dilonggarkan, namun auranya tetap mengintimidasi. Mata elangnya langsung mengunci pergerakan Kinanti.

"Ini laporan yang Bapak minta," kata Kinanti sopan, meletakkan map tersebut di atas meja.

Arkan tidak menjawab. Jemari panjangnya yang mengenakan jam tangan mewah langsung membuka map tersebut. Ruangan itu seketika hening, hanya menyisakan suara lembar kertas yang dibalik dan gemuruh guntur di luar gedung yang samar-samar terdengar.

Setiap detik terasa seperti satu jam bagi Kinanti. Ia memperhatikan dahi Arkan yang perlahan berkerut. Itu pertanda buruk. Sangat buruk.

"Kinanti," panggil Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.

"Ya, Pak?"

"Kamu tahu apa perbedaan antara rencana bisnis dan daftar belanjaan ibu rumah tangga?" tanya Arkan, suaranya teredam tapi tajam. Ia mendongak, menatap Kinanti dengan tatapan yang bisa membekukan air hangat. "Rencana bisnis butuh otak untuk menyusunnya. Sedangkan di halaman empat belas ini, saya hanya melihat spekulasi tanpa data makro yang jelas. Kamu mengerjakannya sambil tidur?"

Kinanti menggigit bagian dalam pipinya. Jantungnya berdegup kencang antara kesal dan takut. Ya Tuhan, saya lembur tiga hari berturut-turut untuk ini! teriaknya dalam hati. Namun secara profesional, yang keluar dari mulutnya adalah, "Maaf, Pak. Di bagian itu, tim riset memang belum memberikan data terbaru karena—"

DUMMM!!!

Belum sempat Kinanti menyelesaikan kalimatnya, sebuah dentuman petir yang luar biasa keras menggelegar tepat di luar jendela. Suaranya begitu dahsyat hingga kaca jendela bergetar hebat. Bersamaan dengan itu, seluruh lampu di lantai 32 mati total.

Gelap gulita.

"Astaga!" Kinanti terpekik, refleks mundur satu langkah. Jantungnya hampir copot.

"Pak Arkan? Bapak tidak apa-apa?" tanya Kinanti panik. Ia meraba-raba sakunya, mencari ponsel untuk menyalakan senter.

Namun, sebelum jemarinya berhasil meraih ponsel, suasana aneh terjadi. Di tengah kegelapan, Kinanti mendengar suara desisan yang aneh dari arah kursi CEO. Itu bukan suara manusia. Itu terdengar seperti... suara kain yang bergesekan dengan kasar, disusul suara hantaman sesuatu yang empuk ke atas lantai.

Meong.

Kinanti membeku. Senter ponselnya akhirnya menyala, memotong kegelapan ruangan mewah tersebut. Ia mengarahkan cahaya lampu ke kursi kerja Arkan.

Kursi itu kosong.

"Pak Arkan?" Pikirannya langsung melayang ke hal-hal aneh. Apakah bosnya diculik alien saat lampu mati? Atau melompat keluar jendela karena stres melihat laporannya?

Senter Kinanti bergerak turun ke lantai. Di sana, di atas karpet wol pembawaan dari Persia, terdapat pemandangan yang membuat otak Kinanti mengalami system crash alias eror total.

Setelan jas hitam mahal milik Arkan tergeletak mengempis di lantai, lengkap dengan kemeja putih dan celana kainnya, seolah-olah sang pemilik baru saja menguap ke udara. Namun, di bagian kerah kemeja yang longgar, sesuatu yang berbulu bergerak-gerak dengan gelisah.

Sebuah kepala berbulu oranye cerah muncul dari balik kerah. Dua telinga segitiga tegak berdiri, dan sepasang mata bulat besar berwarna hijau zamrud menatap langsung ke arah senter Kinanti.

Itu adalah seekor kucing oranye. Gembul, berbulu tebal, dengan corak garis-garis yang sangat simetris.

"M-meong?" Kinanti mengerjap-erkerjap. "Kucing? Kok bisa ada kucing di lantai 32?"

Kucing oranye itu tampak sangat terganggu dengan cahaya senter. Ia mengibaskan ekornya yang tebal dengan gusar, lalu berjalan keluar dari tumpukan baju mahal tersebut dengan langkah yang... anehnya sangat berwibawa. Ia melompat ke atas kursi kerja marmer, menduduki bantal kursi, lalu menatap Kinanti dengan pandangan yang... tunggu dulu.

Kinanti memicingkan mata. Tatapan kucing itu tidak seperti kucing biasa yang minta makan. Mata hijau zamrud itu menatapnya dengan tajam, dingin, penuh penghinaan, dan... sangat familiar.

Itu tatapan mata Pak Arkan.

Meong! MEEONGG! Kucing itu mengeong dengan nada tinggi dan galak, seolah-olah sedang memaki Kinanti dalam bahasa felines. Ia mengangkat satu cakar depannya, menunjuk ke arah laptop yang mati, lalu menunjuk ke arah Kinanti.

"Pak... Arkan?" bisik Kinanti, suaranya bergetar. "Ini... benar-benar Bapak?"

Kucing oranye itu mengembuskan napas berat dari hidung kecilnya yang merah muda—sebuah gestur yang persis sama dengan yang dilakukan Arkan jika sedang menghadapi karyawan bodoh. Kucing itu kemudian melangkah maju di atas meja, meraih sebuah pulpen montblanc mahal dengan mulutnya, dan dengan susah payah menyeretnya di atas kertas laporan Kinanti, meninggalkan goresan cakar berbentuk huruf 'X' besar.

Setelah itu, si kucing duduk tegak, melipat kedua kaki depannya di dada (atau setidaknya mencoba melakukannya dengan tubuh gembulnya), dan menatap Kinanti dengan angkuh.

Kinanti memegangi kepalanya yang mendadak pening luar biasa. Oksigen di otaknya seolah menolak untuk memproses kenyataan ini.

Bosnya yang kejam, dingin, pembenci kesalahan, dan beraset miliaran rupiah... baru saja berubah menjadi ras terkuat di bumi: seekor kucing oranye.

DUMM!

Guntur kembali berbunyi di luar, dan lampu ruangan tiba-tiba menyala kembali.

Kinanti berharap pemandangan di depannya akan berubah kembali menjadi pria tampan berjas. Namun kenyataannya tetap sama. Di atas meja marmer, seekor kucing oranye gembul sedang menatapnya sambil menjilati telapak kakinya dengan ekspresi paling sombong yang pernah ada di dunia.

"Demi apa..." Kinanti bergumam pelan, lututnya terasa lemas. "Saya pasti sudah gila karena kebanyakan lembur."

Kucing itu berhenti menjilat kakinya, menatap Kinanti, lalu mengeong sekali lagi dengan sangat otoriter, seolah mengatakan: Jangan cuma melamun, carikan saya makanan sekarang, Babu!

Hari Jumat malam itu, hidup Kinanti Amalia resmi berubah dari drama korporat menjadi komedi fantasi yang tidak masuk akal.

Manajemen Krisis Bulu

Kinanti Amalia menatap nanar ke arah meja marmer di hadapannya. Di sana, seekor kucing oranye gembul sedang duduk dengan tegak, mengibaskan ujung ekornya yang tebal dengan ritme yang sangat tidak sabar.

"Bapak... benar-benar Pak Arkan?" Kinanti bertanya untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit terakhir. Suaranya terdengar seperti orang yang baru saja kehilangan separuh kewarasannya.

Kucing itu mendengus—sebuah suara bersin kecil yang terdengar sangat meremehkan. Ia melangkah maju, melompati tumpukan kertas laporan yang tadi sempat dicakarnya, lalu berhenti tepat di depan papan ketik laptop Kinanti yang masih menyala. Dengan gerakan kaki depan yang lambat namun penuh penekanan, si kucing menekan satu tombol berulang kali menggunakan cakarnya.

JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

"Oke, oke! Stop, Pak! Laptop saya bisa eror!" Kinanti panik, buru-buru menarik laptopnya menjauh.

Si kucing mendongak, menatap Kinanti dengan mata hijau zamrudnya yang tajam. Ia kemudian melirik ke bawah meja, ke arah setelan jas seharga puluhan juta rupiah yang kini tergeletak mengenaskan seperti kulit ular yang habis berganti rupa. Kucing itu mengeong sekali, nada suaranya berat dan menuntut, lalu ia menoleh ke arah pintu keluar ruangan.

Kinanti, yang sudah bekerja sebagai sekretaris Arkan selama dua tahun, secara ajaib bisa menerjemahkan gestur itu. ‘Bawa saya keluar dari sini sekarang, dan jangan sampai ada yang tahu.’

"Tapi Pak, bagaimana caranya?" Kinanti berbisik histeris, meskipun tahu koridor luar sudah sepi. "Kalau saya menggendong Bapak keluar lewat lobi, satpam bawah akan mengira saya mencuri kucing liar! Lagipula, mobil Bapak bagaimana? Supir Bapak, Pak Bambang, pasti bingung menunggu di basement!"

Mendengar nama Pak Bambang, si kucing oranye tampak berpikir. Ia berjalan memutar di atas meja, lalu melompat turun ke atas kursi kerja marmernya. Dari kursi, ia melompat ke lantai, mendarat dengan mulus tanpa suara. Dengan langkah anggun yang sangat kontras dengan tubuh gembulnya, ia mendekati tumpukan bajunya, mengais-ngais celana kainnya dengan cakar, sampai sebuah benda persegi panjang hitam kecil bergemerincing keluar dari saku.

Itu ponsel Arkan.

Kucing itu menatap Kinanti, lalu menatap ponselnya, kemudian menatap Kinanti lagi.

"Bapak mau saya mengetik pesan untuk Pak Bambang?" tanya Kinanti ragu.

Si kucing mengeong pendek. Ya, bodoh, kira-kira begitu bunyinya.

Kinanti berlutut di karpet, mengambil ponsel mahal tersebut, dan menggunakan sidik jari Arkan (yang untungnya bisa dibuka dengan cara menempelkan jempol kiri Arkan dari balik lengan kemeja yang tergeletak) untuk membuka kuncinya.

"Saya ketik apa, Pak?"

Kucing itu melompat ke lutut Kinanti, membuat gadis itu hampir terjungkal karena berat tubuh si kucing yang ternyata cukup berbobot. Dengan cakar depannya, si kucing menunjuk-nunjuk layar ponsel. Proses ini memakan waktu tiga menit yang sangat membuat frustrasi, karena cakar kucing sering kali menekan tiga huruf sekaligus. Namun, berkat kemampuan intuisi sekretaris tingkat dewa yang dimiliki Kinanti, pesan itu akhirnya berhasil dirangkai:

“Bambang, saya ada urusan mendesak dan keluar lewat pintu belakang dengan Kinanti. Kamu pulang saja. Mobil biarkan di basement.”

"Sudah saya kirim, Pak," kata Kinanti setelah menekan tombol send.

Si kucing mendengur puas, lalu segera melompat turun dari pangkuan Kinanti, seolah-olah menyadari bahwa bermanja-manja di pangkuan sekretarisnya adalah hal yang menurunkan harga dirinya sebagai CEO.

Krisis pertama selesai. Sekarang masuk ke krisis kedua yang jauh lebih besar: Bagaimana membawa seekor kucing seberat hampir enam kilogram keluar dari gedung Mahardika Tower tanpa mengundang kecurigaan?

Kinanti memutar otaknya. Ia melirik tas kerjanya—sebuah tote bag bahan kanvas berukuran besar yang biasa ia gunakan untuk membawa dokumen dan laptop cadangan. Ia mengosongkan isi tasnya ke atas meja kerja, menyisakan ruang kosong yang cukup luas.

"Pak... maaf sebelumnya. Tapi tidak ada pilihan lain," kata Kinanti, menunjukkan tas kanvas tersebut kepada Arkan. "Bapak harus masuk ke dalam sini."

Mata hijau Arkan langsung melebar. Ia mundur tiga langkah, telinganya mendatar ke belakang—tanda penolakan mutlak. Seekor Arkananta Mahardika, lulusan Harvard, CEO dengan aset miliaran, disuruh masuk ke dalam tas kanvas belanjaan? Yang benar saja!

"Pak, tolong kerja samanya," bujuk Kinanti, menyatukan kedua tangannya di depan dada seperti sedang berdoa. "Hujan di luar masih deras. Kalau ada orang keuangan atau kebersihan yang melihat Bapak jalan kaki di koridor, besok pagi saham perusahaan kita bisa anjlok karena rumor Bapak berubah jadi hewan!"

Ancaman "saham anjlok" tampaknya bekerja pada otak korporat Arkan. Kucing itu mendengus gusar, menatap tas kanvas itu dengan pandangan jijik, lalu dengan sangat terpaksa melangkah mendekat. Ia memasukkan kepalanya terlebih dahulu, diikuti tubuh gembulnya, lalu menggulung dirinya di dasar tas.

Kinanti menarik napas lega. Ia mengangkat tas tersebut dengan hati-hati. Gila, berat banget! Ini bos atau karung beras? keluh Kinanti dalam hati, sambil berusaha menjaga wajahnya tetap lempeng saat berjalan keluar ruangan.

Sebelum keluar, Kinanti tidak lupa mematikan lampu ruangan, mengunci pintu, dan membawa serta ponsel Arkan serta dompetnya.

Perjalanan melewati lobi lantai satu adalah ujian mental terbesar dalam hidup Kinanti. Pak tedi, satpam yang bertugas di meja depan, menyapanya dengan ramah. "Lembur lagi, Mbak Kinanti? Pak Arkan masih di atas?"

"Eh, iya Pak Tedi. Pak Arkan sudah pulang duluan lewat lift khusus tadi," jawab Kinanti, tersenyum kaku sekaku manekin toko baju.

Tepat saat itu, tas kanvas di bahu Kinanti bergerak-gerak hebat. Rupanya Arkan di dalam sana merasa tidak nyaman karena posisi menggendong Kinanti yang agak terguncang.

"Meong!" sebuah suara tertahan terdengar dari dalam tas.

Pak Tedi menghentikan gerakan pulpennya, menoleh ke arah tas Kinanti. "Lho, Mbak? Suara kucing ya?"

Keringat dingin langsung bercucuran di tengkuk Kinanti. "Ah! Itu... itu suara ringtone ponsel baru saya, Pak! Lucu ya? Hehe. Kalau begitu saya duluan ya Pak, mari!"

Tanpa menunggu jawaban Pak Tedi, Kinanti langsung setengah berlari menuju pintu keluar, menerobos tirai hujan malam Jakarta, dan langsung melambaikan tangan dengan panik untuk menghentikan taksi yang lewat.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di apartemen Kinanti. Sebuah unit studio kecil di pinggiran Jakarta yang sewanya pas-pasan dengan gaji sekretaris (sebelum dipotong pajaknya yang mencekik).

Kinanti menutup pintu apartemennya rapat-rapat, menguncinya dengan tiga slot pengaman, lalu meletakkan tas kanvasnya di atas lantai dengan napas terengah-engah. Bahu kanannya rasanya mau copot.

Begitu tas diletakkan, wujud oranye gembul itu langsung melompat keluar dengan gusar. Arkan segera menjauh dari Kinanti, berdiri di tengah ruangan, dan mulai menjilati bulu-bulunya yang sedikit lembap karena cipratan air hujan di luar tadi. Ekspresi wajahnya tampak sangat tersinggung.

"Selamat datang di istana saya yang sempit, Pak CEO," kata Kinanti sarkas, menjatuhkan dirinya ke atas sofa lipatnya yang murah. "Maaf tidak ada karpet Persia atau kopi Arabika. Yang ada cuma tikar plastik dan kopi saset."

Kucing itu berhenti menjilati bulunya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan berukuran 4x4 meter tersebut. Matanya menatap TV tabung kecil, tumpukan baju yang belum disetrika di pojok ruangan, dan rak dapur mini yang penuh dengan mi instan. Tatapan kucing itu seolah mengatakan: ‘Tempat apa ini? Mengapa ada manusia yang bisa hidup di kandang merpati seperti ini?’

Namun, sebelum Arkan sempat melayangkan protes lewat cakaran, sebuah suara bising terdengar dari dalam perut gembulnya.

Kriuuuk...

Suara perut keroncongan yang sangat keras memecah keheningan apartemen.

Kinanti menahan tawa, menutup mulutnya dengan tangan. "Wah, tampaknya Yang Mulia CEO lapar ya? Tapi masalahnya Pak... di sini tidak ada makanan steak wagyu atau salmon premium. Yang ada cuma..." Kinanti berjalan ke dapur, membuka lemari, dan mendesah. "...cuma mi instan goreng."

Mendengar kata mi instan, kucing oranye itu langsung memalingkan wajahnya dengan angkuh. Ia melompat ke atas kasur busa Kinanti yang terletak di lantai, menggulung dirinya di atas bantal, dan memejamkan mata, mengabaikan eksistensi sekretarisnya.

Kinanti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Terserah Bapak saja lah. Kita lihat seberapa lama jiwa aristokrat Bapak bisa bertahan menghadapi kelaparan."

Gadis itu kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak menyadari bahwa di atas kasur, sepasang mata hijau zamrud sedang menatap lurus ke arah jendela yang masih basah oleh hujan, merenungi nasibnya yang kini sepenuhnya berada di tangan sekretaris yang selama ini selalu ia omeli habis-habisan.

Diet Kelas Pekerja

Aroma bumbu mi instan goreng yang gurih nan melegenda memenuhi setiap sudut apartemen tipe studio milik Kinanti. Di atas kompor satu tungku, asap mengepul tipis dari wajan kecil. Kinanti dengan lihai mengaduk mi, menambahkan satu butir telur ayam, dan menaburkan bawang goreng ekstra di atasnya. Sederhana, murah, namun bagi pekerja korporat yang kelaparan di malam hari, ini adalah hidangan bintang lima.

Di atas kasur busa, sepasang mata hijau zamrud milik Arkan—yang masih terjebak dalam wujud kucing oranye gembul—mengikuti setiap pergerakan Kinanti. Hidung kecilnya kembang-kempis. Bau MSG yang tajam itu entah bagaimana berhasil menembus ego aristokratnya dan langsung memicu air liur di mulut kecilnya.

Kriuuuk.

Perut Arkan berbunyi lagi, kali ini lebih keras. Kucing itu mendengus kesal, merasa dikhianati oleh organ tubuhnya sendiri.

Kinanti membawa piring mi instan itu ke lantai dekat kasur, duduk bersila, lalu mulai menyuap mie dengan garpu. "Selamat makan, Pak Arkan. Kalau Bapak berubah pikiran, baunya gratis kok," goda Kinanti, sengaja mengunyah dengan suara yang agak keras.

Arkan menegakkan tubuhnya. Ia menatap piring mi tersebut, lalu menatap makanan kucing kalengan murah merek swalayan yang tadi sempat Kinanti beli di minimarket bawah apartemen saat taksi berhenti. Makanan kaleng itu berlabel "Rasa Tuna Spesial", tapi bagi penciuman tajam Arkan, baunya menjijikkan.

Dengan langkah kaku dan penuh kehati-hatian, si kucing oranye melompat turun dari kasur. Ia berjalan memutari piring Kinanti, menjaga jarak sekitar tiga puluh sentimeter, lalu duduk dengan anggun. Ia mengeong pelan, nadanya tidak lagi sekeras di kantor, melainkan lebih seperti sebuah perintah yang terpaksa diperhalus. ‘Beri saya bagian yang tidak pakai racun kuning itu (telur).’

"Eh? Bapak mau?" Kinanti meletakkan garpunya, menatap sang bos dengan tidak percaya. "Ini mi instan lho, Pak. Makanan rakyat jelata yang penuh natrium. Lambung Bapak yang biasa diisi daging wagyu berlapis emas nanti bisa kaget."

Arkan membalas dengan tatapan dingin, lalu mengangkat satu cakar depannya dan menepuk lantai dengan tidak sabar.

"Oke, oke. Sebentar," Kinanti bangkit, mengambil sebuah piring kecil dari rak dapur. Ia memisahkan beberapa helai mi yang bersih dari bumbu cabai, meniupnya sampai dingin, lalu memotongnya kecil-kecil agar mudah dikunyah oleh struktur mulut kucing. "Nih. Jangan protes kalau besok Bapak sariawan."

Piring kecil itu diletakkan di depan Arkan. Sang CEO menunduk, mengendus mi tersebut selama beberapa detik untuk memastikan tidak ada racun, lalu mulai mencicipinya.

Nyam. Nyam. Nyam.

Kinanti menahan napas, memperhatikan ekspresi wajah kucing itu. Detik berikutnya, mata hijau Arkan sedikit melebar. Sapuan lidah merah mudanya menjadi lebih cepat. Dalam waktu kurang dari dua menit, piring kecil itu sudah bersih mengilat, tidak menyisakan sehelai mi pun.

Arkan duduk kembali, lalu dengan refleks yang tak bisa ia kontrol sebagai bangsa kucing, ia mengangkat kaki depannya dan mulai menjilati sisa bumbu mi di sekitar kumisnya. Begitu menyadari apa yang sedang ia lakukan di depan bawahannya, Arkan langsung membeku. Ia menurunkan kakinya dengan cepat, berdehem dengan suara mengeong pendek yang canggung, lalu memalingkan wajah ke arah lain.

Kinanti meledak dalam tawa. "Hahaha! Astaga, Pak Arkan! Ternyata seorang Arkananta Mahardika juga bertekuk lutut di hadapan mi instan goreng kearifan lokal!"

Kucing itu mendesis pelan, telinganya mendatar ke belakang. Jika ia sedang dalam wujud manusia, Kinanti pasti sudah dipecat atau minimal dimutasi ke cabang terjauh di pedalaman. Namun dalam wujud ini, ancaman desisan itu justru terlihat sangat menggemaskan.

Setelah makan malam yang absurd itu selesai, Kinanti membereskan piring dan mencucinya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan di luar mulai mereda, menyisakan suara rintik-rintik kecil yang menenangkan. Rasa lelah yang luar biasa setelah berhari-hari lembur mulai menyerang Kinanti. Matanya terasa seberat timbal.

Ia berjalan ke arah kasur tunggalnya, lalu melirik Arkan yang sedang duduk di atas sofa lipat, tampak bingung mencari posisi nyaman karena bahan sofa yang agak kasar.

"Pak," panggil Kinanti sambil menguap. "Saya mau tidur. Besok pagi kita harus memikirkan bagaimana caranya menjelaskan ke kantor kenapa Bapak tidak masuk kerja tanpa membuat curiga Rangga."

Mendengar nama Rangga, telinga Arkan langsung tegak. Rangga adalah Direktur Operasional yang sudah lama mengincar posisinya. Jika Rangga tahu Arkan menghilang, pria licik itu pasti akan langsung mengadakan rapat umum pemegang saham darurat untuk melengserkannya.

Arkan melompat turun dari sofa, berjalan mendekati kasur Kinanti, lalu melompat ke atasnya. Tanpa permisi, kucing gembul itu berjalan ke sudut kasur yang paling dekat dengan dinding, memutar tubuhnya tiga kali, lalu meringkuk di sana, mengklaim area tersebut sebagai wilayah kekuasaannya.

Kinanti menghela napas pasrah. "Ya sudahlah, kasur saya sekarang jadi milik Bapak juga. Tapi awas ya, jangan mencakar saya saat tidur."

Kinanti merebahkan tubuhnya, menarik selimut tipisnya hingga ke dada, dan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur berwarna kuning temaram. Ruangan menjadi hening.

Di dalam kegelapan, Kinanti tidak bisa langsung memejamkan mata. Pikirannya melayang. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Apakah ini kutukan penyihir? Atau penyakit genetik yang aneh? Ia menoleh ke samping, menatap gundukan bulu oranye yang bernapas dengan teratur di ujung kasurnya.

Saat dalam wujud manusia, Arkan terlihat seperti raksasa yang tak tersentuh—berdiri tegak di atas podium, memberikan perintah dengan suara bariton yang tegas, dan selalu dikelilingi oleh pengawal dan kemewahan. Namun sekarang, di atas kasur murah ini, sang CEO tampak begitu kecil, rapuh, dan sepenuhnya bergantung pada dirinya.

Tanpa sadar, tangan Kinanti bergerak maju. Jemarinya dengan ragu-ragu menyentuh bagian atas kepala Arkan, tepat di antara kedua telinga segitiganya, lalu memberikan usapan lembut yang perlahan turun ke arah bawah dagu.

Tubuh kucing itu sempat menegang sesaat. Kinanti panik dan hendak menarik tangannya, mengira ia akan dicakar. Namun, sebelum tangannya menjauh, sebuah suara getaran halus mulai terdengar dari dalam dada si kucing.

Purr... purr... purr...

Arkan mendengkur. Suara dengkurannya berat dan berirama, tanda bahwa tubuh hewan itu merasa sangat nyaman dan rileks. Kucing gembul itu bahkan mendongakkan kepalanya sedikit, membiarkan jemari Kinanti mengusap dagunya dengan lebih leluasa, sementara matanya terpejam rapat.

Kinanti tersenyum kecil di kegelapan. "Ternyata, di balik semua sifat galak Bapak, Bapak cuma seekor kucing yang kesepian ya, Pak?" bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban, hanya suara dengkuran halus yang mengisi keheningan malam. Rasa hangat yang aneh mulai menyelimuti hati Kinanti. Di malam yang dingin itu, di sebuah apartemen sempit di sudut kota Jakarta, sang sekretaris dan bos besarnya terlelap dalam damai, tidak menyadari bahwa hari esok akan membawa badai korporat yang jauh lebih besar dari sekadar urusan makanan kucing.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!