Dua tahun pun berlalu...
.....
.....
Iya...
Tak terasa...
Sudah dua tahun berlalu...
.....
.....
Dua tahun sejak peristiwa yang hampir saja membuat sukmaku tak bisa kembali pulang dengan selamat...
Rumah Mbah Marto dan pondok pesantren putri di kaki Gunung Kelud itu menjadi saksi bisu atas semuanya...
.....
.....
Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan bekerja di pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur...
Aku memutuskan untuk pulang ke Bogor, Jawa Barat, dan mencari pekerjaan lain di sini...
Dengan beberapa alasan yang bisa diterima oleh Ustadz Furqon dan juga Bu Fatimah...
Dan Ayu serta Bunga menerima kepergianku dengan lapang dada...
Mereka berdua tetap menjadi pengurus di sana...
Dan Alhamdulillah, seiring waktu, jumlah santriwati bertambah banyak...
Dan juga ada beberapa pengurus baru setelah kepergianku...
Semakin berkembang pondok pesantren itu, baik pondok putra maupun pondok putri...
.....
.....
.....
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏠🌳🌳🌳
"Niiis..." Bapak memanggilku dari arah teras rumahku.
"Iya Pak... Sebentar... Aku masih cuci piring, dikit lagi selesai..." jawabku dari dapur.
"Buruan di jemur bajunya Nis. Mumpung panas ini loh. Nanti kalo tiba-tiba hujan lagi kayak kemaren gimana?" kata Bapakku.
"Iya-iyaaa... Sebentaaar..." jawabku lagi.
Aku bergegas menyelesaikan cucian piringku, dan segera mengangkat dua buah ember penuh berisi cucian.
Aku berjalan sambil menenteng ember-ember itu, dan segera menuju ke halaman rumah untuk menjemur. Sedangkan Bapakku sedang bersantai di kursi teras, sambil menikmati segelas kopi hitam pahit kesukaannya, ditemani dengan rokok kreteknya.
Hari ini adalah hari Sabtu, sehingga Bapakku bisa libur bekerja di kebun milik bosnya itu.
"Pak..." panggilku, sambil mulai menjemur satu persatu baju.
"Kenapa Nis?"
"Berhenti dong ngerokoknya, inget minggu kemaren udah dikasih tau sama dokter buat berhenti loh."
"Iya... Nanti juga pasti berhenti ngerokoknya kok Nis..."
Aku menoleh ke arahnya sambil menjemur, kemudian menggelengkan kepalaku, karena melihat kelakuan Bapakku yang malah kembali menyulut rokok kreteknya itu.
Dan dia malah cengengesan melihatku...
"Halaaah... Dasar orang tua... Susah banget dibilangin." gerutu ku saat melihat Bapakku menghembuskan asap rokoknya itu.
Memang agak menyebalkan menasihati orang tua yang sudah sangat kecanduan rokok sepertinya.
Dan dengan entengnya Bapakku kembali berkata, "Lagian Bapak ngerokok itu udah dari masih muda Nis. Sampe sekarang masih sehat-sehat aja kan? Hehehe..."
Aku memiringkan bibirku sendiri mendengar ucapannya, sambil terus menjemur baju-baju yang basah. Dan ku acuhkan saja kelakuan tengil menyebalkan Bapakku itu.
.....
.....
Ketika aku sedang menjemur...
Aku berdiri, berhenti sejenak, di antara barisan jemuran yang masih basah...
Aku memandangi beberapa setel seragam SMP seorang anak perempuan...
Dan tertulis sebuah nama cukup panjang dengan bordiran benang hitam di salah satu seragam itu...
Sebuah nama depan baru untuknya, dan ku gabungkan dengan nama dua sosok perewanganku, serta namaku sendiri...
Nama itu adalah "HARUM SEKAR PUTRI PURNAMASARI"...
Aku menatap seragam-seragam SMP itu dengan tersenyum...
Seolah sambil menerawang jauh ingatanku ke masa lalu...
Dan langsung kulanjutkan menjemur baju-baju lainnya...
.....
.....
Ketika sudah selesai, aku berjalan menuju rumah, hendak menaruh dua ember cucian yang sudah kosong.
"Nis..."
"Ya Pak?"
Langkahku terhenti di teras, saat Bapak memanggilku.
"Anakmu kemana sih? Ini udah hampir zhuhur loh..."
"Tadi sih bilangnya mau main ke rumah Dinda Pak, mau main sama adiknya Dinda itu."
"Oooh..." respon singkat Bapakku, sambil mengepul asap rokok kretek dari mulutnya.
Aku taruh saja ember di dekat kursi yang diduduki Bapakku, dan aku duduk di kursi sebelahnya.
"Kenapa Pak?"
"Ya gak apa-apa sih... Cuma kan gak enak kalo cucu Bapak itu main ke rumah orang terlalu lama. Tolong kamu kasih tau nanti. Gak sopan kalo main terlalu lama di rumah orang."
"Iya Pak... Nanti aku kasih tau. Lagian gak apa-apa lah, sesekali main agak lama. Toh mainnya juga gak jauh-jauh kok."
"Heemm... Kamu tuh, sama aja kayak anakmu Nis."
"Hehehehe... Ya gak apa-apa toh... Kan aku sekarang jadi Ibunya." jawabku sambil menepuk pelan lengan Bapakku.
"Iya deh, iyaaa..."
Bapak menyeruput kopi hitam pahitnya yang hampir habis, lalu kembali menghisap rokok kreteknya.
Aku menatap dalam-dalam wajah Bapakku...
Terlihat sangat santai...
Dan terlihat bahagia...
"Pak..." panggilku, sambil menatapnya.
"Apa Nis?"
"Eemm... Bapak bahagia ya?"
"Bahagia apa Nis?"
"Ya karena kehadiran Harum di sini..." jawabku, dan yang kumaksud adalah Harum Sekar Putri Purnamasari.
"Ya jelas dooong... Bapak bahagia... Bisa ngerasain punya cucu... Hehehe..."
"Hehehe... Aku juga bahagia Pak..."
"Ya walaupun Harum itu bukan anak kandungmu... Walaupun dia anak adopsi kamu... Tapi Bapak bisa ngeliat kamu setiap saat, sangat sayang dan perhatian sama Harum, dan dia juga sangat bahagia karena punya Ibu baru sepertimu, itu bikin Bapak ngerasa kayak di surga loh Nis." jelas Bapakku sambil tersenyum.
"Eemm, masa sih?"
"Iya loh... Nanti kamu juga ngerasain kalo Harum udah nikah, terus bisa kasih cucu buat kamu."
"Eeeh... Kalo mikir Harum nikah, itu masih jauh banget Pak. Sekarang aja dia baru kelas 2 SMP loh."
"Hehehe... Ya kan gak apa-apa kita mengkhayal yang bagus di masa depan nanti. Kan itu juga jadi doa yang bagus buat kamu Nis."
"Hehe... Iya Pak... Aamiin..."
Di tengah obrolan hangat kami berdua, terdengar adzan zhuhur berkumandang.
"Eh, udah adzan zhuhur. Bapak mau ke musholla dulu."
"Iya Pak..." jawabku.
Bapak langsung masuk ke dalam, dan keluar lagi dengan membawa kain sarung serta peci hitamnya.
"Nis, kamu jemput Harum sana. Kalo gak dijemput nanti malah keterusan mainnya." kata Bapak sambil memakai sandal, dan bergegas pergi menuju musholla.
"Iya-iya Pak... Aku jemput..."
Aku pun masuk ke dalam, mengambil dompet di atas meja dalam kamarku. Berjaga-jaga jika nanti Harum malah minta jajan.
Dan sejenak aku menatap foto almarhumah Ibuku di atas meja kamarku...
"Bu... Seandainya Ibu masih ada... Pasti Ibu juga bahagia seperti Bapak..." gumamku dalam hati. Dan yang kumaksud bahagia pada Ibu adalah bahagia karena kehadiran Harum di rumah sederhana ini.
Lalu, aku keluar kamar, dan segera keluar rumah sambil menutup pintu depan...
Dan ketika aku berbalik badan...
Datang Mas Padi, tetanggaku, menaiki sepeda motornya...
Namun, Mas Padi tidak sendirian...
Dia sambil membonceng anak perempuanku...
Aku langsung tersenyum, merasa lega melihat anakku sudah pulang dengan di antar oleh Mas Padi...
"Assalamu'alaikum..." ucap Mas Padi sambil memarkirkan motornya di halaman rumahku.
"Wa'alaikumsalam..." jawabku.
"Nisa... Ini loh... Anakmu susah diajak pulang!" ucap Mas Padi sambil membantu Harum turun dari sepeda motornya.
Harum hanya cengengesan sambil dibantu untuk turun...
"Dasar kamu ya Nak... Main kok lama banget sih? Sampe ngerepotin Pak Padi gitu..." kataku pada anakku itu.
"Hehehehe... Maaf Bu..." jawab anakku itu dengan cengengesannya yang sangat manis di wajahnya.
"Lain kali gak boleh gitu lagi kamu Nak..." kataku.
"Iya-Iya Bu... Maaf..."
Lalu... Anakku berjalan mendekatiku...
Langkahnya sudah cukup lihai dan sudah hapal dengan lingkungan rumahnya yang baru ini...
Tapi masih agak perlahan langkah kakinya itu...
"Eh, Harum..." ucap Mas Padi.
"Kenapa Pak Padi?" anakku menoleh sambil berbalik badan.
"Ini loh tongkatmu... Masa Bapak bawa sih? Hehehe..."
"Oh, iya... Aku sampe lupa tongkatku..."
Anakku kembali mendekat ke Mas Padi. Lalu diberikan tongkat itu kepada anakku. Dan setelah itu, Mas Padi langsung berpamitan untuk pulang.
"Pak Padi... Terima kasih ya udah anterin aku pulang..." ucap anakku saat Mas Padi sudah melaju meninggalkan halaman.
"Iyaaaa... Sama-samaaa..." teriak Mas Padi.
.....
.....
.....
Anakku itu berbalik badan, menatapku dengan sambil tersenyum manis. Dan aku balas senyumannya...
Aku memakai sandal, dan berjalan mendekat padanya yang masih berdiri di halaman sambil memegang tongkatnya...
Langsung kubelai lembut rambut hitamnya yang panjang penuh kasih sayang...
Sambil ku tatap ke dua mata butanya yang putih itu...
Dan ia menatapku juga...
Aku bisa tahu, dia bisa melihatku dengan matanya yang putih itu...
Lalu, kubelai penuh kasih sayang pipi kanannya...
Dan... Kucubit pelan pipi kananya itu...
Lalu... Aku menasihatinya...
"Gendis... Kalo mau main keluar rumah, jangan lupa sama kerudungmu lagi ya anakku yang cantiiik..."
"Hehehehe... Iya Buuu..."
"Bu..." panggil anakku.
"Emm? Kenapa sayang?"
"Jangan panggil aku Gendis lagi ya Bu, panggil aku pakai nama yang Ibu kasih buat aku aja..." ucapnya sambil menatap wajahku dengan dua matanya yang putih itu.
Aku pun tersenyum mendengar permintaannya itu.
"Hehehe... Iya-iya... Maafin Ibu ya kalo masih suka panggil kamu Gendis Nak." kataku.
Sejenak, kembali ku tatap wajah manis anak angkatku ini. Dan selalu terasa darinya ketulusan dan kasih sayang padaku. Meskipun aku bukan Ibu kandung yang telah melahirkannya.
"Ya udah, sana masuk. Makan dulu. Inget, sebentar lagi kamu harus berangkat ngaji." tambahku.
"Hehe... Iya Bu." jawabnya.
Dan dia pun berjalan bersama tongkat lipatnya. Menuju ke rumah.
.....
.....
Aku memandanginya sejenak dari halaman. Terasa setiap langkahnya saat hendak masuk ke dalam rumah seperti dirinya benar-benar kembali pulang.
Benar-benar seperti dirinya merasakan rumah sesungguhnya. Bukan lagi rumah milik almarhum kedua orang tua kandungnya di Cirebon dahulu.
Dan selama dua tahun ke belakang ini, Gendis (Harum) hidup bersamaku. Aku memutuskan untuk mengadopsinya, sekembalinya dari Kediri itu.
Entah...
Jiwaku merasa sangat menerima dirinya...
Dan aku sadar penuh, sebuah tanggung jawab besar dalam hidupku untuk merawatnya...
Dan sepertinya, Gendis pun merasakan apa yang aku rasakan...
.....
.....
GUBRAK!!
"ADUH!!" teriak Harum.
Aku terkejut dari lamunanku, saat menyadari Harum tersandung karena ember-ember cucian yang tadi kutaruh di depan pintu.
"Eh?! Astaghfirulloh!!" ucapku spontan.
Aku segera berlari mendekat.
"Aduuuh... Ibuuu... Ini ada apa sih di depan pintuuu?"
"Aduh, maaf Nak, maaf. Ibu kelupaan tadi taruh ember cucian di depan pintu. Belom Ibu masukin ke dalam." jawabku, sambil membantu Harum untuk bangun.
"Aaahhh... Ibuuu... Usil banget siiih. Mentang-mentang aku gak bisa liaaat..." gerutu Harum dengan ekspresi sedikit kesal.
"Eh, bukan gitu. Ibu gak sengaja. Beneran..." jawabku.
"Aaahhh... Ibuuu... Sebeeel..." respon Harum, sambil memukul lenganku pelan.
"Pppfffttt... Hihihi..." aku malah tertawa kecil, melihat gemasnya wajah Harum saat merasa kesal seperti itu.
"Iiihhh, Ibu malah ketawaaa... Sebel aaahhh..." kembali Harum memukul pelan lenganku beberapa kali.
"Hihihi... Kamu lucu banget sih Naaak..." responku, kali ini aku mencubit ke dua pipinya itu.
Harum masih saja terlihat manyun dengan bibir tipisnya.
"Udah-udah... Ayo masuk, terus makan." kataku, sambil membawa ember cucian yang barusan membuat Harum tersandung di depan pintu.
"Awaaas, embernyaaa..." ucap Harum, masih dengan bibirnya yang manyun itu.
"Iya-iyaaa... Ini udah Ibu pegang embernya Nak. Hihihi..."
Dan Harum pun segera berjalan menuju ke dapur, dan aku menuju ke kamar mandi yang berada tepat di sebelah dapur.
Sebentar kubilas ember-ember cucian itu, agar hilang bekas sabun cuciannya. Setelah itu, aku menyalakan kran air bak mandi. Karena sudah kosong airnya.
"Harum... Dimakan juga sayur sopnya ya." kataku sambil kembali ke dapur, untuk membuatkan minum Harum.
"Iya Bu... Nyam nyam..." jawabnya sambil mulai mengunyah.
Setelah kubuatkan segelas teh manis hangat, aku duduk di sampingnya.
.....
.....
Kembali ku tatap wajah Harum yang sedang lahap makan masakanku...
Wajahnya yang terkena sinar matahari yang menembus jendela dapur siang ini, terlihat sangat teduh, terlihat sangat nyaman, terlihat sangat bersyukur...
Dan...
Kembali teringat jelas memori dua tahun lalu di kepalaku, saat dirinya pertama kali bertemu denganku di pondok pesantren Kediri itu...
Dan...
Kembali teringat jelas semua kejadian mengerikan yang ku alami bersamanya...
Terngiang-ngiang selalu teriakannya yang meminta tolong padaku, agar sukma jiwanya diselamatkan dari sosok makhluk ghoib pesugihan milik almarhum kedua orang tua kandungnya...
Dan jujur, sangat jujur...
Setiap kali semua ingatan itu kembali hadir dalam kepalaku...
Setiap kali itu juga, perasaan sayangku padanya semakin besar...
.....
.....
"Bu?! Ibu?! Iiihhh... Malah diem ajaaa..."
Kembali suara Harum menyadarkan lamunanku.
"Ayo makan bareng akuuu..." tambahnya.
"E-eh, anuuu... Emm..." aku malah jadi bingung ingin menjawab apa.
"Ibu kenapa sih? Akhir-akhir ini suka ngelamun pas berdua sama aku?" tanya Harum.
"E-eh, enggak... Enggak kok, perasaan kamu aja kali ah..." jawabku.
"Buuu... Aku tau loh, Ibu jangan bohong sama aku." katanya.
"E-eh, enggak, Ibu gak bohong kok Harum..." jawabku lagi, sambil berlagak seperti tidak sedang berbohong.
"Eeemmm... Yakin gak bohooong? Hayooo... Ngakuuu..." ucap Harum sambil memajukan wajahnya, menatapku dengan mata putihnya itu.
"Hayooo... Ngakuuu..." kembali Harum memojokkanku.
"Iya deeeh... Ibu ngaku." jawabku.
"Heeemmm... Jangan suka ngelamun dong Bu, gak bagus tau!" nasihat anakku itu.
"Hehehe... Iya-iyaaa. Ya udah, kamu habisin dulu makanannya, habis itu mandi ya. Ibu mau siapin baju ngaji kamu dulu."
Harum pun mengangguk sambil kembali mengunyah. Dan aku beranjak, menuju ke kamarku.
Karena kamarku kini menjadi kamar Harum juga. Sudah dua tahun ke belakang, tidurku ditemani olehnya.
Saat kubuka pintu lemari, sejenak aku melihat ke arah sebuah kotak kayu di sudut dalam lemari.
Kotak itu sudah dua tahun ini, selalu kuisi dengan sebagian penghasilanku.
Dan...
Aku sudah berniat dengan tulus...
Aku ingin menggunakan uang-uang itu untuk memberikan sebuah hadiah spesial, yaitu...
Operasi mata untuk Harum...
☺️☺️☺️
Langsung ku tutup lagi pintu lemari, dan kuletakkan baju gamis serta jilbab Harum di atas kasur.
Aku berjalan keluar kamar, dan kudapati Harum berjalan ke arah kamar mandi.
"Harum, kamu udah selesai makan?" tanyaku sambil berjalan kembali ke dapur.
"Iya Bu, udah." jawab Harum yang kini sudah berada di dalam kamar mandi.
Aku langsung mencuci dan merapikan piring dan gelas di rak piring. Terdengar pula suara guyuran air dari kamar mandi.
"Nak, pelan-pelan ya mandinya, sabunnya jangan terlalu banyak juga. Nanti licin lantainya loh..." kataku.
"Iya Bu..." jawab Harum.
Aku pun berjalan lagi, hendak menuju kamar. Ingin kusiapkan juga peralatan mengaji anakku itu.
Akan tetapi...
Terjadi sebuah keanehan di rumahku ini...
Cuaca panas di luar sana, yang seharusnya membuat hawa di dalam rumah menjadi cukup gerah, malah terasa dingin ditubuhku.
.....
.....
Sebenarnya...
Sudah dua tahun ke belakang ini, semenjak kehadiran Harum anak angkatku itu, tak pernah lagi kurasakan keanehan-keanehan seperti ini di rumah.
Dan, baru kali ini, keanehan semacam itu kurasakan lagi.
.....
.....
Aku coba tak menghiraukan keanehan itu, tetap ku melangkah menuju kamar.
Segera kusiapkan tas, buku tulis, buku iqro, dan alat tulis untuk mengaji anakku. Semuanya kupastikan tak ada yang tertinggal.
Setelahnya, kembali aku keluar kamar, sambil membawa tas anakku, kuletakkan saja di atas meja ruang tamu.
Dan...
Tiba-tiba...
Angin berhawa dingin berhembus cukup kencang, masuk ke dalam dari arah luar rumah.
"BRAKKK!!!"
Aku terkejut, saat pintu depan tertutup dengan kencang sendirinya.
"Astaghfirulloh..." gumamku.
Aku berdiri sejenak sambil mengusap dada. Sambil memandang ke arah pintu depan rumahku itu.
Terlihat juga dengan jelas dari jendela, barisan pakaian yang sedang ku jemur di halaman tertiup angin cukup kencang. Sampai-sampai beberapa di antaranya terbang dan jatuh ke tanah.
"Duh, Ya Alloh..." gumamku.
Aku segera ke pintu depan, membukanya, dan segera menuju ke halaman untuk mengambil pakaian-pakaian yang jatuh itu.
"Walaaah... Jadi kotor lagi bajunya..." kataku, saat melihat semua pakaian yang jatuh itu kembali kotor terkena tanah.
"Ah, harus nyuci lagi deh kalo begini." kataku lagi.
Mau tak mau, aku hendak membawa masuk semuanya, karena memang harus ku cuci ulang.
Tapi...
Ketika aku hendak masuk...
Dengan tiba-tiba, pintu depan rumahku kembali tertutup dengan kencang sendirinya.
"BRAKKK!!!"
Aku terkejut lagi untuk kedua kalinya. Berdiri mematung di teras, tepat di depan pintu.
Jantungku sedikit cepat berdetak. Namun masih bisa kutenangkan dengan segera.
Aku hendak membuka pintu itu, namun...
Lagi dan lagi...
Keanehan lain terjadi...
Pintu depan rumahku itu tak bisa ku buka. Seperti terkunci dari dalam.
"CEKLEK CEKLEK"
Aku berusaha beberapa kali untuk membukanya, namun tetap tak bergeser sedikitpun.
"CEKLEK CEKLEK CEKLEK"
Kembali ku coba untuk membuka pintu itu. Justru kali ini terasa semakin keras. Dan tak ada tanda pintu akan terbuka.
"Astaghfirulloh... Ada apa ini?" gumamku dalam hati.
"Haruuum... Haruuum..." ku coba memanggil anakku itu. Berharap ia sudah selesai mandi, dan membukakan pintu rumah.
Tapi, tak ada jawaban darinya...
Dan juga, tak terdengar suara guyuran air dari dalam sana...
Seolah suasana dalam rumah menjadi hening...
"Haruuum? Haruuum? Udah selesai mandi belooom? Bukain pintu dong Naaak..." kembali ku berteriak dari luar.
Namun, tetap tak ada jawaban apapun...
Akhirnya, sambil memegang pakaian yang barusan jatuh, aku mengintip ke dalam melalui jendela depan.
Dan...
Seketika itu juga...
.....
.....
Mataku menangkap sesuatu di dalam rumahku...
.....
.....
Mataku melihat ada satu sosok yang berdiri tepat di depan pintu menuju dapur...
Dan, sosok itu bukanlah Harum anakku...
.....
.....
Sosok itu seperti seorang perempuan dewasa...
Berdiri diam membelakangiku, tubuhnya menghadap ke arah dapur di depan pintu sana...
Seluruh tubuhnya berbalut baju seperti kebaya berwarna hitam legam...
Bawahnya memakai kain batik jarik berwarna cokelat tua...
Rambutnya lurus, hitam, rapi, sampai menutupi bagian pantatnya...
Dan...
Di atas kepalanya, terdapat sebuah mahkota...
Mahkota berwarna hitam legam...
.....
.....
Sedetik kemudian, aku langsung tahu sesuatu...
Sosok itu...
Bukanlah manusia!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!