Indonesia
NovelToon NovelToon

Obsesi Ketua OSIS

Awal Baru

Jantung Kanaya Leticia Clarissa—yang akrab dipanggil Aleta—terasa mau copot saat melihat gerbang tinggi SMA Garuda sudah tertutup rapat.

Dari balik jeruji besi gerbang, ia bisa melihat lautan murid baru yang sudah berbaris rapi di tengah lapangan. Upacara pembukaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) ternyata sudah dimulai sepuluh menit yang lalu.

Aleta menggigit bibir bawahnya, merutuki alarm kamarnya yang mendadak mati total pagi ini. Dengan perasaan takut yang luar biasa, ia melangkah mendekati gerbang. Setiap langkahnya terasa sangat berat, bukan hanya karena rasa malu, tetapi juga karena atribut MPLS di tubuhnya yang luar biasa ribet.

Sebuah papan kardus besar berbentuk bulat tergantung di dadanya, bertuliskan nama lengkapnya dengan huruf warna-warni hasil potongan majalah bekas. Belum lagi rambut hitam panjangnya yang harus dikuncir dua menggunakan pita rafia berwarna merah menyala, serta tas belanja dari karung goni yang bertengger di pundaknya. Aleta merasa seperti badut berjalan.

Dengan sifatnya yang pendiam dan benci menjadi pusat perhatian, situasi ini adalah mimpi buruk terbesar dalam hidupnya.

"Permisi... Kak," cicit Aleta pelan, mencoba memanggil salah satu panitia OSIS yang berjaga di dekat gerbang. Suaranya hampir tenggelam oleh suara riuh dari pengeras suara di lapangan.

Aleta menunduk dalam-dalam, meremas tali tas karungnya erat-erat. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata senior yang berjaga mulai menoleh ke arahnya. Di sela-sela rasa takutnya, Aleta belum menyadari bahwa keterlambatannya pagi ini akan mengubah seluruh kehidupan remajanya. Bahwa di balik barisan disiplin itu, ada sepasang mata tajam milik sang Ketua OSIS yang sejak tadi sudah mengunci pandangan ke arahnya.

💽💽💽

Felicia, salah satu senior pengurus OSIS yang kebetulan sedang berjaga di dekat gerbang, langsung menoleh dengan pandangan ketus saat melihat Aleta yang berdiri ketakutan. Dengan gaya senioritasnya yang kental, Felicia berjalan mendekat, melipat kedua tangan di dada sambil menatap Aleta dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Jam berapa ini?! Hari pertama aja udah berani telat!" bentak Felicia keras, membuat beberapa murid baru di barisan belakang lapangan sempat menoleh ke arah mereka. "Kamu nggak baca tata tertib, ya? Sengaja mau cari perhatian?!"

Aleta semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Ma-maaf, Kak... tadi alarm saya—"

"Nggak usah banyak alasan! Di sini kita nggak butuh alasan!" potong Felicia ketat, wajahnya terlihat makin kesal—terutama saat ia menyadari wajah Aleta yang tetap terlihat sangat cantik dan menonjol, bahkan dengan rambut dikuncir pita rafia yang berantakan dan papan kardus di dadanya. Rasa iri langsung tebersit di hati Felicia.

Sementara Felicia terus mengomel dan memarahi Aleta di dekat gerbang, mereka tidak menyadari bahwa dari tengah lapangan, ada sepasang mata yang sejak tadi tidak beralih.

Alden Arsenio Malik. Cowok dengan postur tubuh yang tinggi tegap itu berdiri dengan wibawa penuh di dekat barisan depan. Dari posisinya yang berjarak beberapa meter, mata tajam Alden terus terkunci pada sosok gadis kecil yang sedang dimarahi oleh anggotanya tersebut. Ada kilatan aneh yang mendadak muncul di matanya yang biasanya sedingin es. Alih-alih mengabaikan murid yang terlambat seperti biasanya, Alden justru mulai melangkahkan kakinya yang panjang, berjalan lurus membelah lapangan menuju ke arah gerbang tempat Aleta berada.

Langkah kaki Alden yang lebar akhirnya berhenti tepat di sebelah Felicia. Kehadiran cowok bertubuh tinggi tegap itu langsung memberikan atmosfer yang mencekam. Felicia yang tadinya mengomel berapi-rapi, seketika bungkam dan mundur satu langkah, memberikan penghormatan pada sang Ketua OSIS.

Alden tidak melirik Felicia sama sekali. Tatapan dinginnya jatuh lurus pada Aleta yang masih menunduk ketakutan.

"Keliling lapangan sepuluh kali. Sekarang," ucap Alden. Suaranya berat, datar, dan tidak menerima bantahan sedikit pun.

Mendengar ucapan itu, Aleta tersentak. Ia mendongak dengan mata membelalak lebar, benar-benar syok bukan main. Sepuluh kali? Lapangan SMA Garuda ini luasnya bukan main, hampir setara dengan lapangan bola standar nasional. Ditambah lagi, seluruh murid baru dan panitia sedang berkumpul di sana. Menjalankan hukuman itu sama saja dengan menyerahkan dirinya untuk menjadi sorotan mendadak satu sekolah dengan atributnya yang konyol ini.

Aleta merasakan tenggorokannya tercekat. Ia ingin sekali protes. 'Kak, ini terlalu berlebihan buat orang yang baru telat sepuluh menit,' jeritnya dalam hati.

Namun, begitu netra indahnya berani beradu pandang dengan mata tajam Alden, nyali Aleta langsung ciut seketika. Tatapan Ketua OSIS di hadapannya ini begitu mengintimidasi, gelap, dan seolah bisa membaca seluruh ketakutannya. Aleta menelan ludah, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.

Dengan sisa keberanian yang ada, Aleta membetulkan posisi tas karung goninya yang terasa berat. Ia membalikkan badan dan mulai berjalan pelan dengan langkah ragu menuju tepi lapangan, bersiap memulai putaran pertamanya di bawah tatapan ratusan pasang mata—dan satu tatapan posesif yang tak melepaskannya sejak awal.

💽💽💽

Napas Aleta sudah tersengal-sengal. Peluh membanjiri pelipisnya, membuat anak rambutnya menempel basah di wajah. Putaran kelima baru saja ia selesaikan, namun kakinya terasa seperti batang kayu yang berat. Pandangannya mulai mengabur; dunia di sekelilingnya tampak berputar dan berbayang.

Lebih buruk lagi, sesi istirahat MPLS baru saja diumumkan. Lapangan yang tadinya hanya diisi barisan peserta, kini dipenuhi oleh ratusan siswa yang bersantai di pinggir lapangan—tepat di jalur lari Aleta.

Bisikan-bisikan itu mulai terdengar jelas.

"Itu anak baru ya? Cantik banget, tapi kenapa dihukum?"

"Kasihan, atributnya sampai kebawa-bawa lari begitu."

Mendengar bisikan itu, wajah Aleta memerah padam antara malu dan kelelahan. Ia merasa seperti pertunjukan sirkus yang sedang ditonton banyak orang. Namun, di antara kerumunan itu, Aleta bisa merasakan tatapan tajam yang masih setia mengikutinya. Alden. Ketua OSIS itu masih berdiri di posisi yang sama, dengan tangan terlipat di depan dada, menyaksikan Aleta yang nyaris ambruk dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Saat Aleta hendak memulai putaran keenam, pandangannya benar-benar menggelap. Tubuhnya limbung ke depan. Sebelum lututnya menyentuh aspal panas lapangan, Aleta merasa ada tangan kokoh yang dengan sigap menahan bahunya, mencegahnya jatuh.

Aroma parfum maskulin yang dingin dan tajam menusuk indra penciuman Aleta. Itu Alden.

"Kurang empat lagi, dan kamu sudah mau pingsan?" suara Alden terdengar dingin di dekat telinga Aleta, namun tangannya yang memegang bahu gadis itu terasa sangat posesif, seolah takut Aleta akan menghilang jika ia melepaskannya.

Bisik-bisik di pinggir lapangan yang tadinya pelan, seketika berubah menjadi riuh heboh. Lapangan SMA Garuda mendadak gempar. Beberapa murid perempuan bahkan menutup mulut mereka tidak percaya, sementara beberapa siswa lain dengan cepat merogoh saku celana mereka, mengeluarkan ponsel secara sembunyi-sembunyi untuk memotret momen langka tersebut.

Bagaimana tidak? Alden Arsenio Malik—Ketua OSIS legendaris yang terkenal dingin, kaku, dan paling anti berdekatan dengan perempuan—kini sedang mendekap seorang siswi baru di tengah lapangan. Ini adalah pemandangan yang mustahil terjadi selama dua tahun Alden memimpin di sekolah ini.

Klik! Klik!

Suara rana kamera ponsel terdengar dari beberapa sudut. Samar-samar, Aleta yang masih setengah sadar bisa mendengar kepanikan di sekitarnya. Namun, kehangatan dari dada bidang Alden dan cengkeraman kuat di bahunya membuat Aleta tidak punya kekuatan untuk menjauh.

Mendengar suara bisikan yang makin liar dan kilatan kamera dari kejauhan, rahang Alden mengeras. Aura di sekitar cowok itu mendadak turun drastis, menjadi sangat mencekam. Tatapan matanya yang setajam elang langsung menyapu seisi lapangan, menatap satu per satu murid yang sedang memegang ponsel dengan pandangan membunuh.

"Turunkan ponsel kalian. Sekarang," desis Alden. Suaranya tidak keras, namun bergema penuh ancaman lewat mikrofon kecil yang masih terpasang di kerah seragam OSIS-nya. "Siapa pun yang berani menyebarkan foto ini, saya pastikan kalian keluar dari sekolah ini sebelum MPLS selesai."

Seketika itu juga, lapangan menjadi senyap seperti kuburan. Semua ponsel langsung dimasukkan kembali ke dalam saku dengan tangan gemetar. Tidak ada yang berani menantang ancaman seorang Alden.

Tanpa memedulikan Felicia yang menonton dengan wajah pucat dan penuh rasa iri dari kejauhan, Alden langsung menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Aleta dan tangan lainnya menopang punggung gadis itu. Dengan satu gerakan mudah, Alden mengangkat tubuh Aleta ala bridal style ke dalam dekapannya.

Aleta yang terkejut hanya bisa mencengkeram kemeja OSIS Alden dengan lemah, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada cowok itu saat Alden membawanya pergi meninggalkan lapangan menuju ruang UKS.

💽💽💽

Author's Note:

Gimana Bab 1-nya? Seru ga? Jangan lupa buat klik Favorit dan masukkan cerita ini ke rak buku kalian ya, biar nggak ketinggalan kelanjutan obsesi Alden ke Aleta di bab berikutnya! Dukungan kalian berupa like dan komen berharga banget buat aku. Thank you! ✨

UKS

Aroma tajam minyak kayu putih dan antiseptik menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Aleta. Perlahan, ia mengerjapkan matanya yang terasa berat. Langit-langit putih bersih dan gorden pembatas berwarna hijau muda membuat Aleta tersadar bahwa ia sedang berada di UKS sekolah.

"Udah bangun?"

Suara berat dan dingin itu seketika membuat kesadaran Aleta pulih. Gadis itu menoleh cepat. Di samping brangkar, seorang cowok tinggi tegap dengan kemeja OSIS yang dua kancing teratasnya sudah terbuka sedang menatapnya datar.

Aleta refleks menarik selimut hingga sebatas dada. Ia mencoba mengingat-ingat siapa cowok ini. Wajahnya memang familier karena tadi berdiri di podium lapangan, tapi jujur saja, sebagai murid baru yang tidak terlalu peduli dengan sekitar, Aleta sama sekali tidak tahu—dan tidak minat mencari tahu—siapa nama Kakak Senior di hadapannya ini.

Alden itu bangkit dari kursinya. Langkah kakinya terdengar santai namun mengintimidasi saat ia berjalan mendekati brangkar. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah papan kardus yang tali rapia yag sudah putus.

Itu papan nametag milik Aleta yang lepas saat ia pingsan tadi.

Alden berjalan pelan, matanya menunduk menatap papan kardus tersebut sembari mengeja tulisan spidol di sana dengan nada rendah yang terdengar seksi sekaligus berbahaya.

"Le-ti-cia... Ka-na-ya... Cla-ri-sa..."

Ia berhenti tepat di samping tempat tidur Aleta, lalu melempar pelan papan kardus itu ke atas selimut di pangkuan Aleta. Tatapan matanya yang setajam elang kini mengunci manik mata gadis itu.

"Nama yang bagus. Tapi sayangnya, fisik pemiliknya lemah banget," ucap cowok itu ketus.

"Kamu pingsan di putaran kelima."

Aleta meremas papan kardus miliknya dengan canggung.

"Maaf, Kak... dan makasih udah bawa aku ke sini," cicitnya pelan, merasa tidak enak hati sekaligus gugup karena ditatap begitu lekat.

Aleta menerima gelas itu dengan canggung. Berniat ingin segera meminumnya agar rasa pening di kepalanya mereda, gadis itu langsung mencoba bangun dari posisi tidurnya untuk duduk.

Namun, rasa pening yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya, membuat pandangannya berputar dan keseimbangannya goyah.

"Eh—"

Melihat Aleta yang hampir limbung, refleks Alden langsung bergerak maju. Tangan kekarnya dengan cepat menahan punggung Aleta, sementara tangan satunya lagi menopang pundak gadis itu agar tidak kembali terhempas ke brangkar.

Gerakan yang begitu cepat dan tiba-tiba itu membuat jantung Aleta mendadak berdegup sangat kencang, hingga rasanya mau melompat keluar dari dadanya.

Aleta terpaku dengan mata membelalak. Posisi mereka sekarang teramat dekat. Wajah Alden hanya berjarak beberapa sentimeter saja di depannya, hingga deru napas hangat cowok itu berembus lembut menyapu permukaan wajah Aleta. Untuk beberapa detik yang terasa sangat lama, waktu seolah berhenti di antara mereka. Aleta bahkan bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur wangi samar mint dari tubuh sang Ketua OSIS yang begitu memabukkan.

Alden tidak langsung menjauh. Matanya yang tajam menatap dalam ke manik mata Aleta yang bergetar panik, lalu turun menatap bibir pucat gadis itu.

Aleta terpaku, otaknya seolah macet karena deru napas Alden yang masih terasa hangat di kulit wajahnya. Namun, rasa gugup yang berlebihan justru membuat insting pertahanan diri Aleta mengambil alih. Dengan gerakan refleks yang kaku, gadis itu mendorong dada bidang Alden agar menjauh.

"Ma-maaf, Kak!" seru Aleta panik.

Dorongan itu cukup kuat hingga Alden mundur selangkah, namun kesialan tidak berhenti di sana. Gelas teh di tangan Aleta yang belum sempat ia minum ikut terguncang hebat. Cairan cokelat hangat itu tumpah seketika, mengguyur bagian depan seragam sekolah Aleta hingga basah kuyup.

"Aduh!" pekik Aleta. Ia meringis saat merasakan hawa panas teh itu meresap ke kulitnya melalui kain seragam yang basah.

Suasana yang tadinya intens dan menegangkan mendadak berubah menjadi canggung. Alden terdiam, menatap noda teh yang melebar di seragam putih Aleta dengan tatapan datar—bahkan sedikit geli. Cowok itu menyilangkan tangan di dada, memperhatikan Aleta yang kini sibuk berusaha membersihkan bajunya dengan ujung selimut, yang justru malah membuat bajunya makin berantakan.

"Ceroboh," komentar Alden singkat, namun kali ini ada nada sarkasme yang kental dalam suaranya.

Aleta menggigit bibir bawahnya, merasa ingin menghilang saja dari muka bumi. Pingsan di lapangan sudah cukup memalukan, sekarang ia harus basah kuyup terkena teh di depan cowok yang bahkan tidak ia ketahui namanya ini.

Suasana di dalam UKS mendadak hening. Tatapan Alden yang semula dingin, perlahan turun dan menyusuri penampilan Aleta dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Detik itu juga, sebuah perasaan asing menyelinap masuk ke dalam dada Alden. Ada desir aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—sebuah letupan kecil yang membuat jantungnya sendiri ikut berdegup tidak karuan.

Desir itu seketika membuat Alden merasa kikuk dan salah tingkah sendiri. Pasalnya, noda teh manis yang basah kuyup itu membuat kain seragam putih Aleta menjadi semi-transparan, hingga mencetak jelas lekuk tubuh gadis itu di balik pakaiannya.

Alden berdeham pelan, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Untuk pertama kalinya, sang Ketua OSIS yang selalu meledak-ledak dan berkuasa itu kehilangan kata-kata dan merasa bingung harus berbuat apa.

Sementara Aleta yang masih sibuk mengelap bajunya, sama sekali belum menyadari perubahan ekspresi di wajah cowok di dekatnya itu.

Alden membuang muka, mengepalkan kedua tangannya erat di dalam saku celana. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk diam dan menahan diri agar tidak kembali memandang ke arah gadis di hadapannya. Namun, pertahanannya goyah. Dorongan aneh di dalam dirinya jauh lebih kuat, memaksa Alden untuk kembali memutar tubuh dan menatap Aleta.

Melihat Aleta yang masih tampak polos dan tidak sadar dengan kondisinya sendiri, rahang Alden mengeras.

"Jangan ke mana-mana. Tetap di sini," perintah Alden dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat berat, mutlak, dan tidak boleh dibantah.

Tanpa menunggu jawaban atau reaksi dari Aleta, Alden langsung berbalik dan bergegas melangkah lebar keluar dari ruang UKS.

Brak!

Pintu kayu itu ditutup dengan kasar. Tak lama setelahnya, terdengar bunyi klik yang nyaring.

klek! Prrrtt. (Suara kunci berputar)

Alden mengunci pintu UKS itu rapat-rapat dari luar!

Aleta sentak tertegun. Detik berikutnya, kesadarannya penuh bahwa ia baru saja dikurung di dalam ruangan medis ini sendirian. Rasa panik langsung menjalar, membuat Aleta refleks bangkit berdiri dari brangkar, mengabaikan rasa pening yang masih sedikit tersisa di kepalanya.

Ia berlari kecil mendekati pintu, lalu mencengkeram gagang pintu dan mencobanya berulang kali.

Tek, tek, tek!

Nihil. Gagang pintu itu keras dan sama sekali tidak bisa digerakkan.

"Kak? Kakak Senior!" seru Aleta sambil mengetuk-ngetuk permukaan pintu dengan bingung.

"Kenapa dikunci?! Kak, buka pintunya!"

💽💽💽

Rasa bingung Aleta seketika berubah menjadi ketakutan yang nyata. Suasana di dalam ruang UKS mendadak terasa begitu mencekam. Ruangan ini sangat sunyi, hanya ada suara detak jarum jam dinding yang terdengar lambat namun konstan, seolah sedang menghitung mundur sesuatu.

Ditambah lagi, gorden-gorden pembatas brangkar yang sedikit tertutup membuat ruangan luas ini terasa agak gelap dan remang-remang. Bayangan pohon di luar jendela yang bergoyang terkena angin terpantul di dinding, menciptakan siluet-siluet tinggi yang menakutkan bagi Aleta.

Aleta mundur beberapa langkah menjauhi pintu, memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan karena seragamnya yang basah. Bulu kuduknya meremang hebat. Sejak kecil, Aleta memang paling tidak bisa berada di tempat sunyi dan terisolasi seperti ini sendirian.

"Kak... tolong buka pintunya. Jangan bercanda kayak gini, nggak lucu," bisik Aleta dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis. Matanya bergerak liar menatap ke sekeliling sudut ruangan, merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengawasinya dalam kegelapan.

Kedua lututnya mendadak lemas. Aleta kembali mundur hingga punggungnya membentur tepian brangkar, lalu ia merosot duduk di lantai dingin, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk. Ia benar-benar merasa takut dan tidak berdaya sekarang.

💽💽💽

klek.

Beberapa menit kemudian, suara kunci berputar memecah keheningan yang mencekam itu. Pintu UKS terbuka lebar, menampilkan sosok Alden yang berdiri di ambang pintu. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah jaket kulit hitam miliknya yang beraroma maskulin kuat, berniat untuk memakaikannya pada Aleta demi menutupi pakaian gadis itu yang basah.

Namun, alis Alden langsung bertaut rapat saat pandangannya tertuju pada brangkar tempat Aleta berbaring tadi. Kosong.

Alden melangkah masuk, lalu menyusuri dan menyibak setiap gorden pembatas brangkar satu per satu dengan gerakan cepat. Nihil. Perempuan itu tetap tidak ada di atas tempat tidur mana pun.

"leticia?" panggil Alden, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.

Tepat sebelum Alden mulai merasa kesal, sebuah suara tangisan samar dan begitu kecil di pojok ruangan dekat ujung brangkar terakhir terdengar oleh indra pendengarannya.

Alden menoleh ke arah sumber suara. Iya, itu Aleta. Gadis itu terduduk di lantai pojok yang agak remang, menyembunyikan seluruh wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk erat. Tubuh mungilnya tampak agak bergetar hebat menahan tangis agar tidak meledak.

Melihat pemandangan di depannya—seorang gadis yang tadi pagi terlihat acuh tak acuh, sekarang justru meringkuk ketakutan hanya karena dikunci sebentar di dalam ruangan sepi—membuat sudut bibir Alden berkedut. Sisi arogan di dalam dirinya ingin sekali menertawakan kepolosan dan sifat penakut Aleta saat itu juga.

💽💽💽

Duhh kedepan nya gimana yaa😭

papan nama di tangan sang ketua

Alden melangkah pelan tanpa suara, mendekati pojok ruangan tempat Aleta meringkuk. Ia kemudian berjongkok tepat di depan gadis itu, menyamakan tingginya dengan tubuh mungil Aleta yang masih gemetaran.

Alden menatap lekat-lekat kepala Aleta yang masih disembunyikan di atas lutut dan ditutupi oleh kedua tangannya. Sebuah senyuman licik dan misterius terukir di wajah tampannya. Alih-alih langsung menenangkan, Alden justru menikmati momen melihat mangsanya ketakutan seperti ini.

Sementara itu, Aleta yang menyadari ada sekelebat bayangan hitam dan hawa dingin seseorang yang mendadak berhenti di depannya, langsung didera rasa takut yang luar biasa. Jantungnya berpacu ekstrem.

Hantu apa yang sebenarnya menghuni UKS ini? Kenapa auranya menyeramkan banget? pikir Aleta kalut dengan mata terpejam rapat. Bulu kuduknya meremang memikirkan rumor-rumor mistis sekolah yang sering ia dengar.

Karena rasa penasaran bercampur takut yang teramat sangat, Aleta memberanikan diri. Perlahan-lahan, ia merenggangkan sedikit demi sedikit celah di antara jari-jari tangannya yang menutupi wajah. Ia mengintip lewat celah kecil itu untuk melihat sosok "makhluk" yang ada di hadapannya.

Begitu celah jarinya terbuka, hal pertama yang ia lihat bukanlah sosok hantu bermuka rata atau menyeramkan, melainkan sepasang mata elang yang tajam milik Kakak Senior misterius tadi, yang kini sedang menatapnya balik dengan jarak yang sangat dekat sembari tersenyum miring.

"AAA—"

Belum sempat teriakan histeris Aleta menggema ke seluruh penjuru UKS, Alden dengan gerakan secepat kilat langsung memajukan tubuhnya. Tangan kanannya yang besar dan kokoh bergerak cepat membekap mulut Aleta, meredam suara lengkingan gadis itu seketika hingga hanya menyisakan suara gumaman yang tertahan di balik telapak tangannya.

"umphh!"

Aleta membelalakkan matanya sempurna. Jantungnya berdegup kencang bukan lagi karena takut pada hantu, melainkan karena posisi Alden yang kini mengurungnya dengan begitu intim. Jarak mereka kembali terkikis habis. Aroma maskulin dari jaket kulit dan parfum Alden langsung menyerbu indra penciuman Aleta, membuatnya pening seketika.

"Berisik," bisik Alden tajam, tepat di depan wajah Aleta. Tatapan matanya yang semula geli kini berubah menjadi dalam dan mengintimidasi.

"Kamu mau bikin satu sekolah mengira aku lagi ngapa-ngapain kamu di sini, hm?"

Aleta menggelengkan kepalanya patah-patah dengan cepat, memberi isyarat agar Alden segera melepaskan tangannya. Namun, alih-alih menjauh, jemari Alden yang menempel di bibir Aleta justru sedikit melonggar tanpa melepas sentuhannya sama sekali, mengusap pelan sudut bibir mungil gadis itu dengan ibu jarinya.

Sentuhan itu terasa begitu panas di kulit Aleta, membuat seluruh tubuhnya mendadak kaku tidak bisa bergerak.

"Diam, atau aku nggak akan lepasin tangan aku dari sini," ancam Alden dengan nada suara yang rendah dan penuh kepemilikan.

Sentuhan itu benar-benar mengunci seluruh pergerakan Aleta. Melihat gadis di depannya hanya bisa terdiam kaku bak patung dengan mata membelalak panik, seringai licik di bibir Alden perlahan memudar, digantikan oleh tatapan intens yang menggelap.

Alih-alih menjauhkan tangannya setelah Aleta tenang, jemari Alden justru mulai bergerak lancang. Ibu jarinya yang hangat perlahan turun dari bibir, bergerak lambat menyusuri setiap inci wajah Aleta. Mulai dari rahangnya yang mungil, melewati pipinya yang kini terasa dingin karena AC UKS, hingga akhirnya jemari itu mendarat dan membelai lembut kulit leher putih jenjang milik Aleta.

Glek.

Aleta bersusah payah menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan. Sentuhan tangan Alden di lehernya terasa begitu kontras—hangat, namun di saat yang sama mampu mengalirkan efek sengatan listrik yang membuat seluruh bulu kuduk Aleta meremang hebat. Jantung Aleta berdentum begitu keras di dalam dadanya, dan ia yakin Alden pasti bisa mendengar atau bahkan merasakan detak panik itu dari denyut nadi di lehernya yang sedang disentuh.

Alden sedikit menundukkan kepalanya, memperhatikan bagaimana kulit leher Aleta meremang akibat ulahnya. Ada rasa kepuasan tersendiri di dalam hati sang Ketua OSIS saat melihat betapa besarnya pengaruh kehadirannya terhadap murid baru ini.

"Kenapa? Takut?" bisik Alden pelan, suaranya terdengar sangat rendah dan serak tepat di dekat telinga Aleta, sementara jemarinya masih betah melingkari leher jenjang gadis itu dengan posesif.

💽💽💽

Suasana di pojok UKS itu terasa semakin mencekam, seolah pasokan oksigen di sekitar mereka menipis. Mendengar setiap ucapan bernada rendah yang keluar dari mulut Alden membuat Aleta jadi semakin diam membeku. Ia benar-benar tidak berkutik, diliputi rasa bingung sekaligus ketakutan yang teramat sangat.

Dari jarak sedekat ini, Aleta bisa melihat dengan jelas tatapan mematikan dari kakak kelas seniornya itu. Sepasang mata elang milik Alden seolah mengunci pergerakannya, terus-menerus menatap leher jenjangnya dengan intensitas yang begitu pekat dan berbahaya—seperti seorang predator yang sedang menandai mangsanya.

Sentuhan jemari Alden yang hangat di kulit lehernya yang dingin terasa bagai sengatan yang menghentikan kerja otak Aleta. Pikiran gadis itu kacau. Ia tidak tahu kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga harus terjebak dalam situasi seintim dan seberbahaya ini dengan sang Ketua OSIS di hari pertamanya.

Merasa puas dengan reaksi ketakutan Aleta yang begitu total, Alden perlahan menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang penuh kuasa.

Ia kemudian menjauhkan jemarinya dari leher Aleta, lalu dengan gerakan santai namun tegas, Alden membentangkan jaket kulit hitam yang sejak tadi dipegangnya. Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung menyampirkan jaket besar itu ke atas bahu Aleta, membungkus tubuh mungil dan seragam basah gadis itu sepenuhnya dari pandangan.

"Pakai. Dan jangan pernah lepas jaket itu sebelum kamu sampai di rumah," ucap Alden dengan nada perintah yang mutlak saat ia bangkit berdiri, kembali menatap Aleta dari ketinggian tubuhnya.

Alden berdiri tegak, merapikan kembali kemeja OSIS-nya yang sedikit kusut sembari menatap Aleta yang masih terduduk lemas di lantai dengan jaket kulit kebesaran miliknya.

"Soal hukuman lari kamu yang kurang lima putaran tadi..." Alden menggantung kalimatnya sengaja, membuat Aleta mendongak pelan dengan tatapan cemas.

Alden tersenyum miring.

"Anggap aja dimaafkan. Tapi sebagai gantinya, hukuman itu bakal diganti dengan hukuman lain dari aku. Tenang aja, jauh lebih ringan... dan pastinya lebih menyenangkan," lanjut cowok itu dengan nada penuh teka-teki yang justru terdengar mencurigakan di telinga Aleta.

Sebelum Aleta sempat memprotes atau bertanya lebih jauh, Alden sudah berbalik membelakanginya, melangkah menuju pintu UKS yang kini sudah tidak lagi terkunci.

"Sekarang ganti baju kamu pakai baju olahraga di loker, terus langsung bergabung sama teman-teman baru kamu yang lain di aula," perintah Alden tanpa menoleh lagi.

"Ini jam terakhir MPLS, penyampaian aturan-aturan sekolah. Jangan sampai kamu telat masuk dan bikin masalah lagi di hari pertama, Leticia."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Alden melangkah keluar dari UKS, menutup pintu dengan rapat dan meninggalkan Aleta yang masih terpaku sendirian. Rasa dingin dari AC UKS kini tergantikan oleh rasa hangat yang menguar dari jaket kulit milik sang Ketua OSIS, meninggalkan sejuta pertanyaan dan rasa debar yang tak kunjung usai di hati Aleta.

💽💽💽

Setelah pintu UKS tertutup rapat dan langkah kaki Alden tidak lagi terdengar, Aleta langsung bergerak cepat. Ia bangkit berdiri, mengeratkan jaket kulit hitam besar milik sang Ketua OSIS yang membungkus tubuhnya. Aroma maskulin khas cowok itu langsung menyerbu indra penciumannya, namun Aleta memilih abai. Ketakutannya berada di ruang medis yang sepi jauh lebih besar daripada rasa bingungnya saat ini.

Aleta buru-buru keluar dari UKS. Langkah kakinya setengah berlari menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai oleh hilir mudik peserta MPLS lainnya.

baru beberapa meter melangkah, Aleta langsung menyadari ada yang salah. Suasana di sekitarnya mendadak berubah agak senyap setiap kali ia lewat. Hampir semua mata di koridor itu langsung menyorot tajam ke arahnya. Tatapan mereka penuh selidik, heran, dan beberapa siswi terang-terangan menunjukkan raut tidak suka.

Apalagi insiden pingsannya Aleta di lapangan pagi tadi masih sangat hangat terjadi. Kejadian saat tubuh lemasnya digendong langsung oleh sang Ketua OSIS yang terkenal dingin dan kejam itu kini sah menjadi topik pembicaraan utama di seantero sekolah.

"Eh, itu kan cewek yang pingsan tadi pagi?"

"Kok dia bisa pakai jaket kulit itu? Bukannya itu punya Kak Alden?"

"Masa baru hari pertama udah caper banget sih?"

Bisikan-bisikan miring itu mulai tertangkap oleh telinga Aleta. Merasa telinganya panas dan tidak nyaman menjadi pusat perhatian, Aleta menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia mempercepat langkahnya, setengah mati berusaha menyembunyikan wajah pucatnya di balik kerah jaket kulit yang kebesaran tersebut.

Aleta berjalan sesegera mungkin menuju ruang ganti cewek. Fokus utamanya sekarang hanyalah satu: melepas seragam basah ini, menggantinya dengan baju olahraga di loker, dan segera bersembunyi di tengah kerumunan aula sebelum sang Ketua OSIS kembali menerornya.

Begitu mendorong pintu ruang ganti cewek, Aleta sempat mengembuskan napas lega, mengira ia bisa sedikit bernapas bebas dari tatapan menghakimi di koridor. Namun, dugaannya salah besar.

Beberapa siswi baru yang sedang mengobrol di dekat cermin langsung terdiam begitu melihat kehadiran Aleta. Mereka saling melempar pandang, lalu dengan sengaja menggeser posisi berdiri dan berjalan menjauh, seolah-olah Aleta adalah wabah penyakit yang harus dihindari.

Melihat reaksi teman-teman barunya yang mulai menjauhinya seperti itu, hati Aleta rasanya sedikit sakit. Ia tahu ini semua karena insiden di lapangan dan jaket kulit yang melekat di tubuhnya sekarang. Padahal, ia sama sekali tidak berniat mencari perhatian sejak awal.

Aleta menghela napas berat. Sambil menahan rasa sesak di dadanya, ia berjalan pelan menuju loker bernomor miliknya. Tanpa memedulikan atmosfer dingin dan bisik-bisik yang kembali terdengar di ruangan itu, Aleta mengambil baju olahraga dari dalam loker dengan gerakan cepat.

Ia tidak ingin berlama-lama menjadi tontonan. Dengan kepala tetap menunduk, Aleta langsung bergegas masuk ke dalam salah satu bilik kamar ganti dan mengunci pintunya rapat-rapat. Begitu punggungnya bersandar di pintu kayu bilik yang sempit itu, Aleta akhirnya bisa melepaskan jaket kulit besar milik Alden, menyisakan dirinya yang harus segera berbenah sebelum jam terakhir di aula dimulai.

💽💽💽

Di dalam bilik kamar ganti yang sempit, Aleta sengaja memperlambat gerakannya saat memakai seragam olahraga. Setelah selesai pun, ia tidak langsung keluar. Ia memilih berdiri diam di sana, sengaja berlama-lama sembari mendengarkan sayup-sayup suara riuh dari luar bilik yang perlahan-lahan mulai senyap.

Satu per satu suara langkah sepatu dan obrolan siswi lain terdengar menjauh, hingga akhirnya ruang ganti itu benar-benar diliputi keheningan yang total. Semua orang sudah pergi menuju aula.

Aleta perlahan membuka pintu bilik kamar ganti. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang kini sudah kosong melompong.

Nggak apa-apa lah ke aula sendiri, asal nggak telat aja, pikir Aleta menghibur diri sendiri. Lagipula, berjalan sendirian di koridor yang sepi jauh lebih baik daripada harus menjadi pusat perhatian seperti tadi.

Aleta melangkah mendekati lokernya lagi. Ia melipat seragam putihnya yang basah ke dalam kantong plastik, lalu menatap jaket kulit hitam milik Alden yang kini tergeletak di atas bangku panjang. Mengingat perintah mutlak cowok itu tadi, Aleta akhirnya memutuskan untuk memasukkan jaket kulit tebal tersebut ke dalam tas ranselnya agar tidak memancing keributan lagi.

Setelah memastikan penampilannya rapi dengan seragam olahraga yang bersih, Aleta menyandang ranselnya dan melangkah keluar dari ruang ganti dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Kini ia harus segera bergegas menuju aula sebelum bel jam terakhir berbunyi.

Aleta mempercepat langkah kakinya menyusuri koridor yang kian sepi. Namun, saat melewati persimpangan dekat laboratorium, langkahnya mendadak terhenti ketika mendengar suara helaan napas frustrasi dari seorang siswi yang berdiri di depan mading. Siswi itu tampak kebingungan sembari memeluk sebuah map dokumen.

Siswi yang ternyata bernama Marsha itu menoleh, dan matanya langsung berbinar lega saat melihat Aleta berjalan ke arahnya.

"Eh... hai! Maaf, kamu anak baru juga, kan?" tanya Marsha ragu-ragu namun terdengar sangat ramah.

Aleta sempat tersentak dan menghentikan langkahnya. Ia mengangguk pelan.

"Iya, aku anak baru."

"Aduh, syukurlah!" Marsha mengembuskan napas lega, senyumnya langsung mengembang tulus.

"Kenalin, aku Marsha. Aku benar-benar bingung dari tadi muter-muter nyari kelas berkumpul buat penyampaian aturan sekolah, tapi malah nyasar ke blok sini. Kamu tahu nggak jalurnya ke mana?"

Mendengar sapaan yang begitu hangat tanpa ada tatapan sinis sama sekali, hati Aleta yang sempat menciut perlahan melunak. Ternyata masih ada orang yang menatapnya dengan biasa dan tulus di sekolah ini—mungkin karena Marsha tidak sempat melihat insiden heboh di lapangan tadi pagi.

"Aku leticia," jawab Aleta, membalas senyuman Marsha.

"Aku juga sebenarnya mau ke sana. Tapi bukan ke kelas, katanya jam terakhir ini semua murid baru dikumpulin di aula utama buat penyampaian aturan."

"Oh, di aula ya? Pantesan aku cari di barisan kelas sepi banget!" Marsha menepuk jidatnya sendiri, merasa lucu dengan kecerobohannya. Ia kemudian menatap Aleta dengan mata berbinar penuh harap.

"Kalau gitu, boleh nggak aku bareng kamu ke aulanya? Biar gampang ada temennya, daripada aku nyasar lagi sendiri."

Aleta mengangguk tanpa ragu.

"Boleh kok, yuk bareng aja. Takutnya keburu bel dan kita malah telat."

Marsha tersenyum lebar dan langsung berjalan beriringan di samping Aleta. Sambutan hangat yang murni dari Marsha membuat rasa cemas yang sempat menggelayuti pundak Aleta perlahan sirna. Di hari pertamanya yang penuh kesialan ini, setidaknya Aleta menemukan satu hal baik: seorang teman baru.

💽💽💽

Langkah kaki mereka berdua semakin dekat dengan pintu besar aula yang riuh. Namun, beberapa meter sebelum mencapai pintu, Marsha tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya melotot menatap ke arah dada dan leher Aleta.

"Aleta, tunggu!" tahan Marsha panik, memegang lengan Aleta.

"Kardus nametag kamu mana? Kok nggak dipakai?"

Mendengar pertanyaan mendadak dari Marsha, Aleta langsung tertegun. Ia refleks meraba dadanya yang polos hanya terbalut seragam olahraga. Seketika itu juga, pasokan oksigennya seolah tersedot habis saat sebuah kesadaran menghantam otaknya.

Nametag sialan bermotif aneh yang wajib dipakai selama MPLS itu tertinggal!

"Oh iya! Ketinggalan di UKS!" pekik Aleta panik, menepuk dahinya sendiri. Pikiran tentang hukuman berat dari panitia OSIS langsung membayangi kepalanya.

Tanpa berpikir panjang, Aleta langsung berbalik badan dengan terburu-buru, berniat lari kembali menuju UKS untuk mengambil benda itu sebelum acara dimulai. Namun malang, baru satu langkah berbalik—

BUK!

Dahi Aleta menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Saking kerasnya tabrakan itu, tubuh mungil Aleta sampai terhuyung mundur satu langkah. Ia menabrak dada bidang seorang cowok yang entah sejak kapan sudah berdiri tegap tepat di belakang mereka.

Rasa sakit di dahinya memicu kekesalan Aleta yang sejak pagi sudah tertumpuk.

"Aduh! Kalau jalan lihat-lihat dong—"

Aleta mendongak, berniat menumpahkan amarahnya. Namun, kata-katanya langsung tertelan kembali di tenggorokan. Kalimatnya terputus, digantikan oleh rasa bungkam yang luar biasa saat matanya bertubrukan dengan sepasang mata elang yang sangat ia kenali.

Alden. Sang Ketua OSIS kini berdiri menjulang di hadapannya, menatapnya datar dengan kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana.

Mengingat bagaimana tatapan mematikan Alden di UKS tadi, ditambah bayangan jemari cowok itu yang sempat membelai leher jenjangnya, membuat nyali Aleta seketika menciut drastis. Seluruh tubuhnya mendadak kaku dan meremang.

"E-eh... maaf, Kakak Senior," cicit Aleta terbata-bata, buru-buru menambahkan embel-embel 'senior' dengan nada sehormat mungkin demi keselamatan nyawanya.

Sementara di sampingnya, Marsha sudah ikut menunduk dalam, tidak berani berkutik melihat aura intimidasi yang menguar kuat dari tubuh sang Ketua OSIS.

Alden tidak membalas ucapan maaf Aleta dengan kata-kata. Wajah tampannya tetap datar tanpa ekspresi, namun tatapan matanya mengunci pergerakan Aleta sepenuhnya.

Perlahan, Alden mengeluarkan satu tangannya dari saku celana. Tanpa diduga, ia menyodorkan sebuah benda tepat ke depan wajah Aleta. Itu adalah kardus nametag sialan milik Aleta yang tadi sempat tertinggal di atas brangkar UKS.

Aleta mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Ia menatap bergantian antara benda di hadapannya dan wajah Alden yang masih sedingin es. Rasa syok sekaligus lega bercampur aduk menjadi satu di dalam benaknya.

Jadi... dia sengaja balik lagi ke UKS buat ngambilin ini? Atau dia emang sengaja bawa buat dijadiin bahan hukuman? pikir Aleta bingung.

Tak ingin membuang kesempatan sebelum sang Ketua OSIS berubah pikiran, Aleta dengan gerakan cepat langsung mengambil nametag itu dari tangan Alden.

"Makasih, Kakak Senior," ucap Aleta lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih tulus meskipun suaranya masih sedikit cicit karena gugup.

Alden menarik kembali tangannya, lalu sedikit menunduk hingga wajahnya sejajar dengan telinga Aleta.

"Simpan ucapan terima kasih kamu. Jangan lupa, kamu masih punya utang hukuman pengganti sama aku, Leticia," bisik Alden dengan nada rendah yang sukses membuat bulu kuduk Aleta kembali meremang.

Setelah membisikkan kalimat penuh ancaman itu, Alden menegakkan tubuhnya, melirik sekilas ke arah Marsha yang masih menunduk takut, lalu melangkah lebar melewati mereka berdua untuk masuk ke dalam aula terlebih dahulu.

💽💽💽

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!