Valerie kembali berada di dalam mimpinya.
Mimpi yang telah hadir dalam hidupnya sejak ia berusia lima tahun, yang seolah menjadi bagian dari hidupnya yang tak pernah pergi.
Di hadapannya terbentang taman bunga yang begitu luas, seakan tidak memiliki ujung. Kupu-kupu berwarna lembut, menari mengikuti hembusan angin. Air danau yang sebening kristal, memantulkan cahaya matahari. sementara cahaya keemasan senja menyelimuti seluruh taman dengan kehangatan yang menenangkan.
Dan di sanalah, seperti biasa, sahabat dalam mimpinya sudah menunggu kedatangan Valerie.
Hazel.
Pria yang selalu menemaninya di dalam mimpi. Tangan mereka saling bertaut, lalu mereka berlari di antara lautan bunga dan tertawa tanpa beban. Menghabiskan waktu dengan bermain perahu di atas danau, bermain ayunan di bawah pohon besar yang menaungi taman itu. seolah dunia hanya diciptakan untuk mereka berdua.
Setiap Hazel tersenyum, terasa begitu nyata. Setiap sentuhan tangannya terasa begitu hangat. Begitu dekat, namun pada saat yang sama terasa mustahil untuk diterima kenyataan.
Valerie memandangnya lama.
Ada satu pertanyaan, yang selalu membuat hatinya dipenuhi rasa penasaran. Dulu, ketika dirinya masih berusia lima tahun, Hazel juga masih seorang anak laki-laki seumuran dengannya. Saat itu wajahnya terlihat begitu jelas, Valerie dapat mengingat mata hijaunya, senyum jahilnya, bahkan lesung pipi yang muncul setiap kali Hazel tertawa.
Namun kini, seiring waktu berlalu mereka berdua tumbuh dewasa di dalam mimpi yang sama. Valerie tidak dapat melihat dengan jelas wajah Hazel yang dewasa, ia hanya dapat melihat postur tubuhnya saja. Seakan wajah Hazel diselimuti kabut, semakin dirinya berusaha melihat wajahnya, semakin samar sosok itu terlihat.
“Hazel...” panggil Valerie pelan. “Kenapa saat kita kecil, aku bisa melihat wajahmu dengan jelas, tapi sekarang aku tidak bisa melihatnya?”
Hazel tertawa kecil, suara tawanya terdengar ringan tanpa beban. Lalu ia menoleh ke arahnya, meski wajahnya tetap tersembunyi di balik bayang-bayang yang tak dapat disentuh.
“Karena, kalau wajahku terlihat jelas,” ucapnya dengan nada menggoda, “Takutnya Violet akan mencintaiku sampai mati.”
Valerie mendengus pelan.
Hazel kembali tertawa, seperti biasa, ceria, hangat, dan selalu berhasil membuat hatinya terasa damai. Kemudian, pria itu menggenggam tangannya sedikit lebih erat. Angin berembus perlahan, kelopak-kelopak bunga beterbangan mengelilingi taman. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.
Suara Hazel terdengar begitu dekat, begitu lembut, seakan berasal dari tempat yang sangat jauh sekaligus sangat dekat.
“Aku sangat senang setia melihatmu berada di taman.”
“Jangan datang terlambat terus, Violet.”
Detik berikutnya, seluruh taman perlahan memudar, warna-warna menghilang. Angin berhenti berembus, dan sosok Hazel kembali tenggelam dalam kabut.
Valerie terbangun dengan napas memburu, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tidak mampu ia jelaskan. Air mata mengalir di pipinya tanpa alasan yang dapat ia pahami, ini hanyalah mimpinya.
Namun mimpinya terasa begitu sangat nyata. Ia selalu merasa bahwa taman itu benar-benar ada, dan seakan sosok Hazel memang hidup dibelahan bumi yang belum ia ketahui. Meski dirinya telah terbangun, hangat genggaman tangan Hazel masih terasa membekas di telapak tangannya, seolah mimpi itu bukan sekadar ilusi.
Ia mengusap air matanya perlahan.
“Hazel...” bisiknya lirih.
“Mengapa setiap kali aku terbangun, hatiku selalu dipenuhi kerinduan padamu. Yang bahkan kejadian semalam, tidak pernah benar-benar nyata dalam hidupku?”
Sudah bertahun-tahun ia mengenal Hazel dalam mimpinya. Berbagi tawa, cerita, dan kenangan di taman yang hanya ada di dalam tidurnya. Namun anehnya, semakin dewasa mereka semakin banyak hal yang terasa aneh.
Hazel di mimpinya tumbuh menjadi sosok pria dewasa, namun wajahnya berkabut. Tempat itu kini terasa semakin jauh, dan setiap pertemuan mereka selalu diakhiri dengan perasaan yang membuat dadanya sesak.
Malam berikutnya, Valerie kembali tertidur. Dan seperti biasa, taman itu kembali menyambutnya. Hamparan bunga bergoyang lembut diterpa angin, sementara langit senja memancarkan warna jingga keemasan. Hazel sudah berada di sana, duduk di atas ayunan.
“Violet, kamu akhir-akhir ini sering datang terlambat,” katanya sambil mengkerutkan dahinya.
Valerie tersenyum berjalan mendekat.
“Kamu tidak pernah bilang kepadaku, kalau disini ada jam bukanya.”
Hazel tertawa kecil.
“Aku menunggumu dari tadi.”
Valerie menatap sosoknya.
“Hazel!”
“Hm?”
“Siapa sebenarnya kamu?”
Hazel terdiam sejenak. Angin kembali berembus, membuat rambutnya bergerak perlahan.
“Aku Hazel sahabatmu.”
“Bukan itu maksudku.”
Valerie menunduk.
“Kenapa aku selalu bermimpi tentangmu?”
“Kenapa dari kecil aku hanya bertemu denganmu dimimpiku?”
“Dan kenapa rasanya...” suaranya melemah, “...aku takut kehilanganmu, padahal aku bahkan tidak tahu siapa dirimu.”
Hazel tersenyum tipis.
“Aku juga penasaran.”
“Kamu berbohong.”
“Aku tidak berbohong.”
“Lalu kenapa setelah kita tumbuh dewasa, aku tidak bisa melihat wajahmu?”
Hazel bangkit dari ayunan dan berjalan mendekat, mereka kini hanya dipisahkan beberapa langkah.
“Kamu selalu menayangkan hal yang sama berulang-ulang, padahal pertemuan kita sangat singkat.”
“Aku hanya...”
Hazel menyela tanpa memberi Valerie kesempatan menyelesaikan perkataannya.
“Violet, apa kamu sudah mulai bosan bertemu denganku?”
Valerie menggelengkan wajahnya.
“Tidak, tidak sama sekali.”
Hazel menunduk pelan.
“Lalu kenapa kamu selalu ingin tau banyak hal tentangku?” Hazel menghela napas. “Padahal aku tidak pernah mempermasalahkan tentangmu, selama kita masih bisa bertemu.”
“Hazel, aku hanya berfikir suatu saat nanti kita bisa bertemu didunia nyata.”
Hazel tersenyum jahil, seperti biasa.
“Kalau ternyata kita bisa bertemu didunia nyata, apa kamu mau menikah denganku?”
Valerie mendecakkan lidah.
“Kamu menyebalkan.”
“Meski aku menyebalkan, kamu selalu menemuiku setiap datang kesini.”
“Itu karena aku tidak punya pilihan.”
Hazel tertawa lepas.
Suara tawanya terdengar begitu hangat hingga membuat Valerie ikut tersenyum tanpa sadar. Mereka hanya duduk berdampingan di atas ayunan, menikmati hembusan angin dan hamparan bunga yang tak pernah layu.
“Hazel.”
“Iya Violet yang cantik.”
“Kalau suatu hari aku tidak bisa datang lagi...”
Hazel menoleh.
Valerie menggigit bibir bawahnya.
“...apakah kamu akan tetap menungguku?”
Pria itu terdiam, lalu dengan lembut ia menggenggam tangan Valerie.
“Iya, tetap menunggumu sampai kapan pun.”
Valerie melihat wajah Hazel yang berkabut.
“Bahkan jika aku sudah melupakanmu?”
Hazel tersenyum.
“Kalau kamu lupa, aku akan tetap mengingatmu.”
“Kalau aku tidak mengenalmu lagi?”
“Aku akan memperkenalkan diriku lagi, sampai kamu mengingatku kembali.”
Valerie Asteria Sinclair
Damian Juliano Robert
Keenan Gabriel Harrison
Olivia Reina Laurent
Valerie tersenyum kecil mendengar ucapan Hazel.
Kehangatan yang selalu memenuhi hatinya. Setiap kali ia bersama Hazel, kembali mengalir perasaan menenangkan sekaligus meninggalkan rasa rindu yang sulit dijelaskan. Hazel menggenggam tangannya dengan erat, dan dalam sekejap, taman itu lenyap tanpa jejak.
Valerie membuka matanya perlahan, ia terbangun di kamarnya dengan napas yang sedikit memburu. Sinar matahari pagi menembus celah tirai, menerangi wajahnya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan lembut terdengar dari balik pintu kamar Valerie.
“Valerie sayang, apa kamu sudah bangun?” panggil ibunya dengan suara hangat.
Pintu terbuka perlahan. Lalu senyum lembut terukir di wajahnya saat melihat Valerie sudah terbangun, dan duduk di atas ranjang.
“Selamat pagi tuan putrinya Ibu.” ujarnya sambil melangkah masuk beberapa langkah.
Valerie tersenyum kecil, melihat ibunya mendekat.
“Selamat pagi juga, Ibunda kanjeng ratu.”
Valerie terkekeh meledek ibunya.
“Kamu ini!”
Ibunya mengusap lembut rambut Valerie.
“Ayo, cepat bersiap. Hari ini Ayah dan Ibu yang akan mengantarmu kekampus.”
Valerie mengkerutkan dahinya.
“Kok tumben, apakah matahari mulai terbit dari arah barat?”
Ibunya tertawa mendengar ucapan Valerie.
“Sudah, berhenti bercanda. Ibu sudah masak banyak pagi ini,” lanjut sang ibu dengan senyum ceria. “Ada makanan favoritmu juga, agar kamu selalu semangat.”
Valerie terkekeh kecil.
“Memangnya Ibu masak banyak, untuk menyambut satu keluarga besar ya?”
Ibunya tertawa pelan.
“Ibu masak banyak, karena ingin melihat putri Ibu bahagia menikmati makanan kesukaannya.”
Kehangatan sederhana itu membuat hati Valerie terasa damai. Untuk sesaat, bayangan taman bunga dan sosok Hazel perlahan memudar, tergantikan oleh kebahagiaan kecil yang selalu ia temukan di rumah. Bersama kedua orang tua yang begitu menyayanginya.
“Baiklah Ibunda Kanjeng Ratu, putrimu akan segera mandi dan bersiap-siap.”
“Bagus. Ibu tunggu di bawah.”
Setelah mengucapkan itu, ibunya kembali tersenyum sebelum melangkah keluar dari kamar. Meninggalkan Valerie yang masih duduk sejenak sambil memandangi cahaya pagi yang masuk melalui jendela.
Setelah selesai bersiap-siap, Valerie segera turun ke lantai bawah. Aroma masakan hangat langsung menyambut indra penciumannya, membuat perutnya yang sejak tadi kosong mulai berbunyi pelan.
Sesampainya di ruang makan. Valerie tersenyum melihat kedua orang tuanya tengah duduk berdampingan, sambil mengobrol dan tertawa bersama. Tatapan mereka dipenuhi kasih sayang, seolah waktu tak pernah mengurangi kehangatan cinta yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
Valerie berjalan mendekat sambil menggelengkan kepala pelan.
“Astaga, aku selalu melihat pemandangan seperti ini setiap pagi.” godanya seraya menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.
Ayahnya tertawa kecil, sementara sang ibu tersipu malu.
“Pemandangan sepasang suami-istri yang saling mencintai ya?” ujar ayahnya sambil menggenggam tangan sang ibu.
Valerie tersenyum melihat tangan ayahnya.
“Benar, Aku sampai iri melihat Ayah dan Ibu. Dan berharap suatu hari nanti, pernikahanku juga sebahagi kalian.”
Ibunya tersenyum lembut.
“Kamu anak yang baik, suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu seseorang yang sangat menyayangimu.”
Ayahnya mengangkat sendoknya.
“Kalau ada yang berani menyakitimu, laporkan kepada ayah ya?!”
Mereka bertiga pun tertawa bersama. Tak lama kemudian, Valerie mulai menyantap sarapannya, matanya langsung berbinar.
“Bu, ini enak sekali!” pujinya dengan penuh semangat. “Masakan Ibu paling ajaib didunia.”
Ibunya tersenyum bahagia.
“Kalau begitu makan yang banyak.”
Setelah sarapan, ayah Valerie mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru.
“Ayah punya hadiah untuk tuan putriku,” katanya lembut.
Valerie tampak terkejut.
“Sungguh, untukku Ayah?”
Ayahnya mengangguk.
Saat kotak itu dibuka, tampak sebuah liontin emas yang indah dengan ukiran bintang kecil di bagian tengahnya.
“Ini cantik sekali, terima kasih Ayah.” gumam Valerie takjub.
Kemudian ibunya mengeluarkan sebuah kotak lain dan menyerahkannya kepada Valerie. Di dalamnya terdapat sebuah gelang giok berwarna hijau lembut yang terlihat begitu anggun.
“Dan ini hadiah dari Ibu untuk putri tercintaku.”
Valerie menatap kedua orang tuanya dengan bingung.
“Apa hari ini, hari ulang tahunku?”
Kedua orang tuanya tertawa kecil.
“Bukan sayang,” jawab ibunya lembut.
“Hari ini adalah hari pernikahan Ayah dan Ibu,” lanjut ayahnya sambil tersenyum hangat. “Kami ingin merayakannya, bersama putri kami yang paling berharga.”
Ibunya menggenggam tangan Valerie dengan penuh kasih.
“Terima kasih karena sudah hadir dan menjadi penyempurna dalam kehidupan kami, Valerie.”
“Kamu bukan hanya putri kami, kamu adalah pelengkap kebahagiaan dan cinta yang kami bangun selama ini sayang.”
Mata Valerie mulai berkaca-kaca mendengar ucapan itu, ia bangkit dari duduknya lalu memeluk kedua orang tuanya erat.
“Aku yang seharusnya berterima kasih,” ucapnya pelan. “Karena sudah beruntung memiliki Ayah dan Ibu yang sangat menyayangiku.”
Ayahnya mengusap lembut kepala Valerie.
“Valerie. Apa pun yang terjadi, kami akan selalu mencintaimu.”
Valerie mengangguk sambil tersenyum, meskipun entah mengapa ada perasaan hangat sekaligus aneh yang menyelinap di dalam hatinya.
Setelah menghabiskan sarapan dan berbincang sejenak, Valerie pun bersiap berangkat ke kampus. Kali ini kedua orang tuanya mengantarnya. Sesampainya di kampus, Valerie turun dari mobil sambil tersenyum cerah.
“Terima kasih Ayah, Ibu, selamat menikmati hari sepesial kalian.” ucapnya.
Ibunya tersenyum lembut sambil melambaikan tangan.
“Iya sayang, belajar yang baik ya.”
“Jangan lupa makan siang,” tambah ayahnya dengan nada hangat.
Valerie mengangguk kecil.
“Baiklah yang mulia, hati-hati dijalan...”
Sebelum menutup pintu mobil, Valerie melambaikan tangannya. Hari itu berjalan seperti biasa. Ia mengikuti kelas, mencatat materi, lalu memasuki laboratorium untuk sesi praktikum. Suara alat-alat laboratorium dan percakapan mahasiswa memenuhi ruangan.
Valerie tengah fokus menyelesaikan praktiknya ketika seorang staf laboratorium menghampirinya.
“Valerie Asteria Sinclair?”
Valerie menoleh.
“Iya saya?”
“Profesor memintamu datang ke ruangannya sekarang.”
Valerie tampak bingung.
“Sekarang?”
Staf itu mengangguk pelan.
“Ya, profesor sudah menunggumu.”
Tanpa berpikir panjang, Valerie melepas sarung tangannya lalu berjalan menuju ruang dosen.
Tok... tok...tok.
Valerie mengetuk pintu, lalu terdengar dari dalam suara profesor.
“Masuk.”
Ia membuka pintu perlahan. Begitu masuk, Valerie mendapati dosennya berdiri dengan wajah yang tampak muram. Di sampingnya berdiri dua petugas kepolisian sedang melihatnya melangkah masuk.
Jantung Valerie berdegup kencang, ia bingung melihat polisi ada diruangan dosennya.
“Pak... ada apa memanggil saya?” tanyanya pelan.
Dosen itu menghala napas panjang, seolah kesulitan menyusun kata-kata.
“Valerie...”
“Iya Pak.”
“Kamu harus kuat.”
Kalimat itu membuat tubuh Valerie menegang.
Salah seorang petugas melangkah maju.
“Apakah Anda Valerie Sinclair?”
Valerie mengangguk perlahan.
“Iya.”
Petugas itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata dengan suara lembut.
“Kami turut berduka cita.”
“Pagi tadi, telah terjadi kecelakaan beruntun di jalan raya menuju kawasan pegunungan.”
Valerie membeku.
“Dalam kejadian tersebut, Kedua orang tuamu ikut menjadi korban diantara tujuh orang yang meninggal.”
Wajah Valerie perlahan kehilangan warna.
“Apa...?” bisiknya lirih.
Petugas itu melanjutkan dengan hati-hati.
“Setelah kecelakaan terjadi, kedua orang tuamu sebenarnya berhasil selamat. Namun, mereka memilih turun untuk membantu para korban lain yang masih terjebak di dalam kendaraan yang terperosok ke jurang. Mereka menolong satu per satu korban yang masih bisa diselamatkan, hingga pada akhirnya mobil yang mereka tolong meledak dan jatuh kejurang.”
“Kami berhasil turun kebawah jurang untuk mengevakuasi para korban.”
“Tetapi...”
Suara petugas itu terdengar semakin jauh di telinga Valerie.
“Pada akhirnya, Mereka semua tidak berhasil diselamatkan.”
“Mereka meninggal dunia di lokasi kejadian.”
Dunia Valerie seakan berhenti berputar, ia hanya menatap kosong ke depan.
“Tidak.”
“Kalian pasti salah orang.”
Gumamnya berusaha menyangkal informasi yang ia Terima.
Polisi menyerahkan kartu tanda penduduk kedua orang tuanya. Tangannya gemetar melihat kedua kartu tanda penduduk itu, terlihat jelas foto kedua orang tuanya.
Baru beberapa jam yang lalu mereka tertawa bersama. Beberapa jam yang lalu Ayah memberinya liontin emas, dan ibunya memakaikan gelang giok di pergelangan tangannya. Mereka mengatakan bahwa dirinya adalah pelengkap kebahagiaan dalam pernikahan mereka.
“Bagaimana mungkin...”
“Bagaimana mungkin mereka tidak selamat?”
Air mata mulai mengalir tanpa bisa dibendung. Tubuh Valerie melemah, tangannya gemetar hebat. Dengan tatapan kosong, Valerie mengikuti mobil polisi meninggalkan kampus menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pikirannya kosong, namun ia tidak dapat membendung air matanya.
Beberapa jam yang lalu, ia masih tertawa bersama kedua orang tuanya, menikmati sarapan yayang lezat, menerima hadiah peringatan hari pernikahan kedua orang tuanya, bahkan berpamitan sebelum memasuki kampus. Namun kini, seketika semua berubah.
Sesampainya di rumah sakit, langkah Valerie terasa begitu berat. Tangis pilu memenuhi lorong rumah sakit. Beberapa keluarga korban terduduk lemas, sementara yang lain menangis histeris memanggil nama orang-orang yang mereka cintai.
Ketika pandangannya tertuju pada dua peti jenazah yang terletak berdampingan, tubuh Valerie seketika melemah.
“Ayah!... Ibu!...”
Suara itu keluar lirih sebelum berubah menjadi tangisan yang pecah tak terkendali. Ia berlutut di hadapan kedua peti itu, menggenggam erat tepinya sambil menangis sesenggukan.
“Aku pasti sedang bermimpi, ini tidak nyata kan?”
“Kita baru saja tertawa bersama, dan kalian mengantarku ke kampus...”
“Bagaimana mungkin kalian pergi meninggalkan aku secepat ini?”
Valerie ingin melihat wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kali, ingin memastikan bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun petugas rumah sakit menjelaskan dengan lembut bahwa kondisi jenazah tidak memungkinkan untuk diperlihatkan.
Mendengar hal itu, Valerie semakin hancur. Tangannya meremas liontin emas pemberian ayahnya dan gelang giok dari ibunya, hadiah terakhir yang kini menjadi kenangan paling berharga yang tersisa.
Di tengah kesedihannya, seorang wanita lanjut usia berjalan mendekatinya. Meski matanya sembab karena menangis, wanita itu tetap terlihat anggun dan berwibawa. Rambutnya yang memutih tersanggul rapi, sementara pakaian hitam yang dikenakannya memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
Wanita itu berhenti di hadapan Valerie, air mata wanita itu kembali jatuh.
“Nak...” suaranya bergetar.
Valerie mengangkat kepalanya perlahan.
“Aku berutang nyawa pada kedua orang tuamu.”
Valerie menatap wanita itu dengan mata merah dan bengkak.
Nenek itu mengusap air matanya sebelum melanjutkan.
“Saat kecelakaan beruntun terjadi, mobil yang kutumpangi bersama anak dan menantuku terperosok ke jurang.”
“Kami terjebak di dalam kendaraan, lalu orang tuamu datang menolong kami.”
“Mereka berhasil mengeluarkanku.”
Suara wanita itu mulai pecah.
“Namun saat mereka berdua berusaha mengeluarkan anak dan menantuku, mobil kami meledak dan jatuh kejurang membawa mereka semua.”
Tangis wanita itu semakin keras.
“Mereka menyelamatkan orang lain, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.”
Wanita itu menutup wajahnya sambil menangis.
“Maafkan aku nak...”
“Karena aku masih hidup sementara kedua orang tuamu tidak selamat.”
Valerie tak mampu berkata apa pun, dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibirnya, air matanya kembali mengalir deras.
Wanita itu kemudian memeluk Valerie erat, keduanya menangis bersama. Dua orang asing yang dipersatukan oleh kehilangan.
“Maafkan aku nak.” ujar wanita itu lirih.
“Kedua orang tuamu adalah orang-orang baik, mereka pasti mendapat tempat peristirahatan yang paling indah.”
Valerie menatap dia peti yang berjejer dihadapannya, hatinya remuk redam melihat kedua orang tuanya kini sudah tiada.
•●✿●•
Beberapa hari kemudian, pemakaman dilaksanakan. Langit terlihat gelap berkelabu seakan turut berduka.
Valerie berdiri mematung di depan dua pusara yang baru saja ditutup tanah. Di sebelah makam kedua orang tuanya terdapat makam anak dan menantu wanita tua itu. Tiga keluarga yang sebelumnya tidak saling mengenal kini dipersatukan oleh tragedi yang sama.
Valerie menggenggam liontin emas di dadanya, air matanya kembali jatuh.
“Ayah... Ibu...”
“Aku di sini, mengantar kalian ketempat istirahat keabadian.”
“Maaf, aku tidak sempat mengucapkan happy anniversary pernikahan kalian.”
“Maaf, aku tidak sempat memberikan hadiah kepada kalian.”
“Maaf kan aku Ayah Ibu, aku belum sempat membanggakan kalian.”
“Kalian jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.”
Meski jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa sebagian dirinya telah ikut terkubur bersama kedua orang tuanya.
Setelah semua selesai, Valerie kembali ke rumahnya. Rumah yang biasanya dipenuhi tawa, aroma masakan ibunya, dan candaan ayahnya kini terasa sunyi dan dingin.
Ia melangkah perlahan memasuki ruang makan, meja tempat mereka sarapan bersama pagi itu masih terlihat rapi. Kursi ayahnya kosong, kursi ibunya juga kosong. Tidak ada lagi suara lembut yang menyuruhnya sarapan, tidak ada lagi sosok yang mengantarnya ke kampus.
Valerie akhirnya terperosok kelantai, air matanya kembali jatuh tanpa henti. Ia merasa sendirian dalam rumahnya. Rumah yang selama ini menjadi tempat terhangat baginya kini hanya dipenuhi kenangan.
Dan malam itu, Valerie kembali menangis hingga tertidur, memeluk liontin emas pemberian ayahnya dan gelang giok dari ibunya. Air mata masih membasahi pipinya ketika kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam mimpi yang telah menemaninya sejak kecil.
Ia kembali berada di taman bunga yang luas itu.
“Hazel!”
“Kamu dimana?”
“Hazel datanglah?!”
Suara Valerie pecah oleh tangisan. Ia menoleh ke segala arah, mencari sosok yang selama ini selalu menjadi tempatnya berbagi cerita.
“Hazel...!”
Air matanya jatuh tanpa henti. Tak jauh dari sana, di bawah pohon besar tempat ayunan mereka berada, Hazel tampak berdiri di sana. Meski wajahnya masih tersembunyi di balik kabut, Valerie tahu itu adalah dirinya.
Tanpa berpikir panjang, Valerie berlari sekencang mungkin. Begitu sampai di hadapannya, ia langsung memeluk tubuh Hazel erat sambil menangis histeris.
Hazel sedikit terkejut, tetapi perlahan ia membalas pelukan itu. Tangannya mengusap lembut kepala Valerie, membiarkannya meluapkan seluruh kesedihan yang selama ini ditahannya.
“Ayah dan Ibuku meninggalkanku.” isak Valerie. “Aku kehilangan duniaku Hazel...”
“Kenapa mereka meninggalkanku secepat ini, aku tidak bisa hidup tanpa mereka.”
Hazel terdiam, ia hanya mendengarkan setiap tangisan Valerie. Kemudian, dengan suara yang lembut dan menenangkan, ia berkata,
“Aku mengerti perasaanmu, kamu saat ini sangat terluka.”
“Aku tahu kamu merasa dunia sangat jahat.”
Hazel mencoba menenangkan Valerie.
“Tapi, Violet...”
Hazel menggenggam kedua tangan Valerie.
“Kamu tidak sendirian, ada aku disini yang akan menemanimu.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun, aku berjanji.”
Valerie mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
“Tapi Hazel, dunia kita berbeda.”
Hazel mengangguk pelan.
“Perbedaan tidak akan menghalangi pertemuan kita, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi.”
Meski hanya dalam mimpi, kehadiran Hazel selalu mampu membuat hatinya tenang.
•●✿●•
Beberapa hari setelah pemakaman, suara bel rumah kembali terdengar. Valerie yang masih berduka berjalan perlahan menuju pintu. Saat membukanya, ia melihat wanita lanjut usia yang ditemuinya di rumah sakit berdiri di sana bersama beberapa anggota keluarganya.
Wanita itu tersenyum lembut.
“Maaf kami datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.”
Valerie menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa nyonya, silakan masuk.”
Rombongan keluarga itu masuk kedalam rumahnya lalu duduk disofa, Valerie menyuguhkan minuman dan cemilan.
Wanita itu kemudian memperkenalkan dirinya.
“Namaku Margaretha Robert, panggil saja aku Nenek.”
“Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, namun belum sempat memperkenalkan diri.”
Mata Valerie kembali berkaca-kaca, Nenek Margaretha menggenggam tangannya dengan hangat.
“Ayah dan ibumu meninggal demi menyelamatkan anakku.”
“Sampai kapanpun aku tetap berhutang nyawa dengan mereka.”
Suara wanita itu mulai bergetar.
“Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendirian.”
“Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu saat ini.”
Valerie menatapnya dengan bingung, namun kalimat berikutnya membuat tubuhnya membeku.
Nenek Margaretha tersenyum tipis sebelum berkata,
“Menikahlah dengan cucuku, Damian Robert.”
Valerie terdiam, matanya membelalak. Sejenak ia mengira dirinya salah dengar.
“Apa...?”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!