Indonesia
NovelToon NovelToon

My Sweet Best Friend

bab 1/ pertemuan pertama

Bruk..

"Awh.." keduanya mengaduh saat tak sengaja saling bertabrakan dan terjatuh ke tanah, lelaki remaja itu jatuh bersama dengan skateboardnya sedangkan gadis itu meringis kesakitan.

"Sorry gue nggak sengaja" ucap laki-laki itu namun tidak dihiraukan oleh gadis tersebut.

"Lo nggak papa?"

"Lo gak papa Lo gak papa? makanya kalo jalan tuh pake mata bukan pake dengkul," omel gadis itu sambil merapikan roknya, lalu ia menoleh. Tiba-tiba keduanya saling melihat kaget saat tak sengaja berucap bersamaan.

"WOI TIVANE, eh..." Seorang gadis tampak muncul mendekat dan kaget melihat temannya sudah nyusruk bersama cowok di tanah.

"Ahahahaha" tawanya langsung pecah sebelum akhirnya mengulurkan tangan untuk membantu Tivane.

"Mampus lo kena karma" ucap Milenia masih sedikit tertawa.

"Aduh, eh sorry ya, nggak sengaja gue ngomel," ucap Tivane sambil berdiri di bantu oleh Milenia.

"Iya nggak papa" sahut Rigecherta sambil berdiri dan menepuk debu di celananya.

"Sorry ya, nih teman gue suka malu maluin emang" ucap Milenia enteng, membuat Tivane mengumpat pelan.

"Hmm," Rigecherta hanya berdehem dan melihat lutut Tivane yang sedikit lecet.

"Lutut lo lecet tuh" Rigecherta menunjuk lutut Tivane dengan dagu nya.

"Ih, iyaa" Tivane melihat lututnya.

"Lo ada bawa tisu nggak?" Tanya Tivane pada Milenia.

" Nih," Rigecherta menyodorkan sapu tangan pada Tivane.

"Eh, thanks" Tivane langsung menyeka sedikit darah di lututnya.

Saat Rigecherta ingin melakukan kembali skateboard nya suara Tivane menghentikannya.

" Ini, makasih ya" Tivane berniat mengembalikan sapu tangan itu.

"Buat lo aja" Rigecherta langsung melaju santai dengan senyuman mengembang.

"Tapi, yaudah deh, makasih yaaa" seru Tivane lantang dan dibalas anggukan oleh Rigecherta.

Tivane menunduk melihat ada rajutan di sapu tangan itu ' Rigecherta ' tertulis jelas di sana.

"Rigecherta?" Gumamnya setipis udara.

"Eh btw kok Lo nggak ngajak kenalan sih cowo tadi?" Tanya Milenia di samping Tivane yang masih menunduk.

" Lumayan ganteng sih gue perhatiin " sambung Milenia lagi.

"Udah ah, banyak nanya lo" balas Tivane malas.

"Laper gue" alibinya karna tau temannya ini suka bahas cogan sampai lupa waktu.

Mamun di tempat tak jauh dari mereka, Rigecherta terlihat menggenggam name tag berwarna biru muda dengan bibir tersenyum.

"I found you, and i Miss you so much" Rigecherta menghela nafas panjang.

Di dalam rumah yang hangat terlihat pria paruh baya sedang sibuk menelpon dengan seseorang. Sementara Tivane terlihat santai di depan ayahnya sambil nyemil.

"Vane" panggil ayah nya membuat ia menoleh .

"Kenapa pah?" Tanya Tivane nyemil santai.

"Besok kamu pindah sekolah ke-" belum selesai ayahnya berbicara namun suara Tivane sudah menghentikan.

"Pindah?! Kemana pah?" Tanyanya sedikit kaget, membuat ayahnya juga tersentak kaget. Dia memang cewe yang sedikit barbar dan selalu ceroboh, namun itu masih bisa di tutupi oleh parasnya yang cantik.

" Sabar dulu sayang, jantungan nanti papa" ucap ayahnya bercanda.

" Hehe tapi pindah ke mana pah?" Tanya Tivane penasaran.

"Ke kota lama kamu pas kecil" sahut papanya santai.

"Iyakah? Terus sekolah aku gimana?" Tanyanya lagi .

"Ya pindah lah" sahut papa nya enteng dan menatap layar tv.

"Oke deh, papa yang urus kan?" Lagi Tivane bertanya dengan bawel nya.

"Iya aman. Sana kamu tidur. Besok pas sampe langsung masuk sekolah, biar bibi nanti yang ngurus barang barang kita. Sekalian nanti kamu beresin dikit baju kamu" suruh papa nya membuat Tivane mengangguk.

"Oke. Good night papa" Tivane langsung melenggang ke kamar nya dengan santai.

*Besoknya*

Pagi hari mereka sudah sampai di kota masa kecil Tivane dan langsung ke sekolah barunya.

"Ayo biar papa antar dulu ke ruang kepala sekolah nya, biar tau kelas kamu di mana" papa Tivane langsung melangkah ke arah ruang kepala sekolah dengan Tivane mengikuti di belakang.

Saat sampai di ruangan kepala sekolah sudah menunggu di sana.

" Eh pak Aliandra, mari pak.ini anaknya ya?" Tanya pak Sofyan sopan.

"Iya benar, kelas anak saya di mana ya pak. Saya buru-buru soalnya masih ada kerjaan." Ucap Aliandra karena masih banyak kerjaan.

" Oh, kalau begitu saya saja yang mengantar kan ke kelasnya" jawab pak Sofyan mengerti.

"Kamu baik-baik ya sekolahnya, yang rajin belajarnya." Pesan Aliandra pada Tivane membuat Tivane mengangguk dan menyalim tangan sang ayah.

"Iya pah, papa tenang aja" jawab Tivane manis.

Ayahnya langsung pergi setelah pamit singkat dengan pak Sofyan.

" Ayo biar bapak yang ngantar" ucap pak Sofyan.

"Iya pak" Tivane mengikuti di belakang.

Sampai di depan kelas 12 IPS 3. Di dalam kelas sudah seperti pasar karena lagi jam kosong. Ada yang lari-larian, ada yang gibah cantik, ada yang main handphone, ada yang main game bareng di pojok belakang sambil mengumpat, dan ada pula yang tidur di tengah -tengah keributan itu.

"Heh - heh! Ngapain kalian, suara kalian sampe ke luar loh, duduk semua di kursi masing-masing!" Tegur pak Sofyan galak, mereka langsung kicep dan kembali ke kursi masing masing.

" Ada ada aja kelakuan kalian. Oh iya, kalian ada teman baru hari ini, silakan nak, perkenalkan diri kamu" ucap pak Sofyan pada Tivane yang sedari tadi berdiri di belakangnya.

" Iya pak. Halo semua, perkenalkan, nama gue Tivane, bisa di panggil Vane atau Van. Gue pindahan dari Kalimantan" serunya memperkenalkan diri.

" Kalo di panggil sayang boleh nggak?" Tanya River iseng dengan wajah tengil nya dari belakang.

"Yeuuu kocak lo" satu kelas langsung menyoraki.

" Udah-udah perkenalannya nanti saja di lanjut. Sekarang kamu duduk di kursi yang kosong ya Vane" suruh pak Sofyan, Tivane hanya mengangguk dan langsung duduk di kursi belakang di sebelah cowo yang sedang tidur dengan nyenyak nya. Memang di samping nya kosong, jadi yaudah dia duduk saja.

"Siapa guru kalian? " Tanya pak Sofyan pada mereka.

" MTK pak" jawab mereka serempak.

"Yaudah, bapak itu tidak datang, kalian jangan berisik. Permisi" pak Sofyan langsung keluar dari kelas itu.

Para murid menatap ke arah Tivane yang duduk di sebelah cowo galak itu.

" Ihh dia berani banget duduk di situ" bisik seorang siswi.

"Iya ih, itu dia masih tidur, kalo bangun nanti pasti marah marah" jawab yang satunya.

Sementara ketiga cowo di sebelahnya - Veros, Skyler, dan River- hanya diam dan saling pandang, seolah ikatan persahabatan mereka mengirim sinyal untuk diam.

Dan saat cowo itu bangun ia heran melihat seseorang duduk di sampingnya, saat ia hendak marah, ia tak sengaja melihat wajahnya.

"Lo?" Tanya Rigecherta heran.

"Loh, elo?" Kaget Tivane juga.

Murid lain yang awalnya mengira Rigecherta akan marah pun langsung menatap bingung cowo itu, biasanya ia tak akan membiarkan seseorang duduk di sampingnya.

"Sejak kapan lo sekolah di sini?" Tanya Rigecherta karena ia tak pernah melihat gadis itu di sekolahan.

"Baru tadi" jawab Tivane tersenyum tipis.

"Murid pindahan maksudnya?" Tanya Rigecherta lagi.

" Yap, papa gue pindah tugas ke sini, jadi gue ikut sama papa." Jawab Tivane membuat Rigecherta mengangguk pelan. " Btw gue boleh duduk di sini kan?" Tanya Tivane karena tadi sempat mendengar bisik bisik siswi lain.

" Boleh, kalo lo mau duduk, duduk aja. Kosong kok" jawab Rigecherta ringan.

"Oke. Btw, Lo masih bisa tidur gitu pas kelas lu berisiknya kayak tadi?" Tanya Tivane hati hati, takut menyinggung atau gimana.

" Ya dari pada gue ikutan ribut, mending gue tidur kan?" Jawaban Rigecherta membuat Tivane mengangguk saja.

" Oh iya, karna lo, sebangku sama gue, dan lo masih murid baru, sini nomor lo, biar nanti kalo ada pr atau apa mudah" Rigecherta meminta dengan halus nomor Tivane.

"Oke nih," Tivane menyodorkan handphone nya dan Rigecherta langsung menyalin nomor ke handphone nya.

" Udah. Jangan lupa di save, Rigecherta." Ucap Rigecherta setelah mengirimkan pesan kepada Tivane.

"Oke" jawab Tivane.

Tivane pun menyimpan nomor itu.

*Malam hari*

Saat Tivane lagi main handphone ada pesan masuk.

Rigecherta: lo udah tidur?

Tivane: belum nih, kenapa?

Rigecherta: tidur sana. Ingat jam, cewe jangan lama lama tidur.

Tivane: bawel banget sih lo. Lagian gue laper makanya nggak bisa tidur.

Rigecherta: ya makan lah

Tivane: gue juga mau makan, tapi gue nggak bisa masak.

Rigecherta: go food.

Tivane: males.

Ternyata diam-diam Rigecherta mengiriminya makanan lewat go food.

"Lah? Siapa yang datang malam malam gini?" Tanya Tivane heran saat ada yang mengetuk pintu rumahnya. Tivane pun langsung bergegas membukakan pintu rumahnya dan terlihat seorang delivery.

"Iya pak?" Tanya Tivane.

" Atas nama mbak Tivane kan?" Tanya kurir tersebut.

"Iya saya" jawab Tivane.

" Ini pesanan anda" ucap kurir tersebut.

" Tapi aku nggak ada pesen apa-apa" ucap Tivane dengan kening berkerut heran.

" Tapi ini atas nama anda dan alamat anda"

Ucap kurir lagi.

" Oh.. oke, makasih ya pak" ucap Tivane akhirnya mengambil makanan itu.

Setelah kurir itu pergi, iya langsung masuk dan duduk di meja makan dan melahap makanannya.

" Sumpah, ini makanan favorit gue.. aduh, enak banget.. siapapun yang ngirim gue ini, baik banget sumpah" ucap Tivane sambil makan dengan kegirangan.

Ponselnya kembali bergetar membuat ia melihat siapa yang mengirim pesan.

Rigecherta : udah makan?

Tivane: ini lagi makan, tau nggak ada orang baik banget, ngirim gue makanan.

Rigecherta: yaudah lo makan lah .

Tivane: ih.. orangnya baik banget tau.. gue pengen maksih tapi nggak tau siapa.

Di dalam kamar Rigecherta, ia langsung senyum senyum sendiri malihat chatnya dengan Tivane.

" Iya sama sama" jawabnya seorang diri kepada handphone nya.

Tivane: oy, masih hidup kan?

Rigecherta: Lo doain gue lewat gitu?

Tivane: ya enggak. Heran aja lo nggak balas lagi.

Rigecherta: udah ah, gue mau tidur, btw sama sama.

Tivane melongo melihat chat terkahir dari Rigecherta yang mengatakan sama sama.

" Cowo aneh, apa coba maksudnya" ia bergumam sendiri sambil menghabiskan makanannya dan duduk sebentar setelah selesai.

Saat ia scroll ia menemukan quotes ' orang yang benar benar sayang kepada mu adalah orang yang melakukan hal sekecil apapun untuk membuat mu senang' Tivane terdiam di sana beberapa saat dan ia langsung beranjak ke kamar,

" Gue ngantuk deh kayaknya. Masa iya gue tiba tiba kepikir ke Rigecherta, kan aneh."

Ia menggelengkan kepala dan memutuskan tidur.

bab 2/ panik dikit

Keesokan harinya Tivane berangkat lebih cepat karena ikut papanya yang ada urusan pekerjaan.

Saat ia sampai sekolah masih sepi, mungkin juga masih bisa di bilang kosong. Tivane pikir ia orang pertama yang datang, namun saat sampai di kelas ia kaget melihat Rigecherta sudah stay di kursinya.

" Cepet amat lo datang,temen temen lo mana?" Tanya Tivane karena ia melihat Rigecherta selalu bersama para sahabat nya.

" Lagi males aja di rumah jadi ke sekolah. Tadi juga sih pengennya berenang, tapi gue tiba tiba mager" jawabnya santai sambil menyender di kursinya.

"Lo atlet renang?" Tanya Tivane heboh tiba-tiba.

"Biasanya aja dong lo, kaget gue" ucap Rigecherta

"Hehe, tapi serius lo, atlet renang?" Tanya Tivane masih heboh.

" Ya.. gitu deh, tapi sebenarnya itu cuma hobi gue sih, tapi malah sering di kirim buat perwakilan sekolah" jawab Rigecherta ringan.

Tivane duduk di kursinya dan langsung menghadap ke arah Rigecherta.

" Terus cita cita lo apa?" Tanya Tivane penasaran.

"Lo kepo juga ya" goda Rigecherta terkekeh.

" Nggak sih, cuma nanya aja" katanya sambil memalingkan wajah, malu karena terlalu kepo.

" Gue cuma bercanda, cita cita gue dokter" jawab Rigecherta akhirnya, takut Tivane ngambek beneran.

" Kalo lo apa?" Rigecherta bertanya balik.

" Kalo gue sih guru" jawab Tivane membuat Rigecherta mengangguk pelan.

" Iya sih, lo kan pintar" puji Rigecherta membuat Tivane malu karena di puji.

" Bisa aja lo, tapi muka lo cocok beneran tau jadi dokter" ucap Tivane tiba-tiba.

" Kenapa cocok?" Tanya Rigecherta.

" Ya... Muka lo cocok aja kayak dokter di tv tv. Nanti pas lo nanganin gawat darurat, beh.. pasti lucu liat lo nanganin orang yang lagi kritis gitu.." jawab Tivane menggebu-gebu.

Rigecherta terkekeh kecil melihat Tivane yang sangat antusias saat bercerita.

" Kayanya liat lo ngajar lebih lucu. Nanti lo bakal bilang gini ke murid lo, siapa yang paling diam boleh pulang duluan" katanya terkekeh membayangkan Tivane jadi lucu, ia malah jadi gemas sendiri.

" Apalah apalah" kata tivene sok galak padahal lagi malu.

"Hahaha" Rigecherta malah tertawa.

" Diam nggak, nggak lucu" Tivane mendengus malu.

" Lucu kok, lucu" Rigecherta malah semakin jadi.

" Udah ah, sana Lo berenang" usir Tivane kesal juga lama lama di ledekin.

" Kalo lo mau nonton gue berenang ya ayo. Kalo lo nggak mau gue juga malas" atwar Rigecherta.

" Boleh deh, bosan juga gue lama lama di sini, mana bel masih lama" sahutnya ikut dengan Rigecherta.

"Iya lah lama, liat tuh, orang aja masih dikit yang datang" ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk.

Mereka sampai di ruang berenang dan Rigecherta langsung mengganti baju ke arah ruang ganti, sementara Tivane duduk di bangku penonton.

Saat Rigecherta keluar Tivane sempat terpaku dengan tubuh atletis nya.

"Lo liatin gue berenang ya " ucap Rigecherta belagu.

" Oke, gue bikin timer yaa" tantang Tivane.

" Oke" Rigecherta meng iyakan.

" Satu... Dua.. tiga"

Rigecherta langsung melompat ke air dan berenang dengan lincah kemudian berbalik arah saat sudah ke tepi ujung dan kembali ke posisi awal.

Tivane melongo melihatnya, lalu ia langsung bersorak hebos saat Rigecherta keluar dari air.

" Gimana?" Tanya Rigecherta belagu.

" Gilaa keren banget.. kok bisa sih selincah itu?" Tanya Tivane menggebu-gebu dan bertepuk tangan dengan heboh.

"Hahaha udah-udah, tolong dong itu bawain handuk gue dingin banget sumpah" tunjuk Rigecherta pada handuknya di kursi samping kolam renang.

"Oke, i'm coming" Tivane langsung berdiri dari kursinya dan berjalan mengambil handuk yang di maksud Rigecherta.

" Yang ini kan?" Tanya Tivane memastikan.

" Iya yang itu" ucap Rigecherta tanpa berniat keluar dari kolam.

Tivane membawa handuk tersebut, namun karena terlalu tergesa ia tak melihat air yang menggenang di pinggiran kolam bekas cipratan air Rigecherta tadi. Tivane pun terpeleset ke dalam kolam, ia yang tak pandai berenang langsung panik mengayunkan kaki sembarangan.

" Rige.. tolong, gue nggak bisa berenang" katanya patah-patah saat ia mencoba menggapai permukaan air.

" Vane, tenang. Airnya nggak terlalu dalam kok" ucap Rigecherta mencoba menenangkan. Namun gedis yang masih panik itu malah bergerak sembarangan.

" Rige.... Gue nggak bisa" Tivane mulai tersedak air.

Rigecherta langsung menarik tangan nya dan menggendong nya ala koala, dan Tivane pun langsung memeluk Rigecherta dengan mata masih terpejam panik.

" Udah ya, lo udah nggak di dalam air lagi" bisik Rigecherta lembut. Seolah menenangkan Tivane agar tidak terlalu panik lagi.

Ucapan Rigecherta membuat Tivane membuka mata perlahan dan mendongak tepat saat Rigecherta menunduk ke arahnya. Keduanya sempat terdiam sebelum celatukan Rigecherta membuat Tivane tersentak.

"Berat juga ya Lo, nggak ada niatan buat turun gitu?" Tanya Rigecherta bercanda. Sebenarnya itu hanya ucapan pengalihan karena ia sedang deg-degan.

" E-eh iya, tolong antar gue ke tepi ya.." pinta Tivane pelan.

" Boleh" Rigecherta langsung membawanya ke tepian dan mendudukkannya di tepian kolam renang.

" Makasih.." lirihnya karena masih syok habis kecebur.

" Lain kali hati hati ya..." Rigecherta mengelus rambut gadis itu karena sadar gadis itu sedang ketakutan.

"Sorry ya.. gara-gara ngambil handuk gue lo jadi kepeleset" ucap Rigecherta meminta maaf.

" Bukan salah lo kok, guenya aja tadi yang nggak liat jalan" sargah Tivane meyakinkan.

" Yaudah kalo gitu lo ganti baju lo gih, ntar masuk angin" suruh Rigecherta takut tivane sakit atau gimana.

"Iya" jawab Tivane patuh.

" Selama Tivane ke toilet Rigecherta juga memakai kembali seragamnya dan berjalan ke arah koperasi untuk membelikan baju ganti untuk Tivane.

Ia meletakkan baju itu di loker Tivane. Lalu duduk di kursi tak jauh dari loker.

" Ada nggak ya baju ganti gue" Tivane terlihat keluar dari toilet dan mencari baju di lokernya.

" Eh, ada dong. Aduh.. senang nya, keberuntungan apa ini. Udah ah, mau ganti baju dulu nanti masuk angin." Tivane bergumam heboh sambil berjalan kembali ke toilet.

Beberapa saat kemudian ia keluar dengan rambut yang masih basah.

" Minjam handuk sama siapa ya?" Tanyanya celingak celinguk mencari orang.

" Nih, pake handuk gue aja. Masih banyak di loker" Rigecherta mendekat dan melemparkan handuk pada Tivane.

" Makasih, kok lo bisa punya banyak?" Tanya Tivane heran.

"Di kasih cewek-cewek, tuh kalo lo mau, banyak coklat sama air minum di sana" ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk saja. Ya gimana, orang yang di depannya ini orang populer, pasti banyak yang ngasih hadiah dj lokernya.

"Terus lo apain tuh cokelat-cokelat nya?" Tanya vane sambil mengeringkan rambut.

"Gue buang" jawab Tivane mendekat dan mengambil handuk di tangan Tivane, mengambil alih rambutnya.

" Sini biar gue keringin" ia mengeringkan dengan telaten.

"Udah" lapornya saat rambut Tivane sudah sedikit kering.

"Makasih" ucap Tivane langsung ngibrit ke kelas karena di sekitar mereka sudah mulai ramai orang yang berdatangan dan melihati mereka, apalagi visual mereka yang sama sama menawan.

"RIGE MY BRO" suara toa Skyler dan River terdengar.

"Apa?" Tanya Rigecherta dingin.

" Buset, galak amat lo" ucap River sok kaget, padahal sudah biasa dengan sifat dingin Rigecherta.

"Widih, dingin banget tangan lo, abis ngapain lo?" Tanya Skyler saat tak sengaja menyentuh lengan Rigecherta.

" Renang" jawabnya singkat.

" Rajin amat lo pagi-pagi udah latihan aja" kata River karena anak renang juga.

" Nggak sih, gabut aja gue" jawab Rigecherta ringan.

"Eh, btw tadi lo sama Vane ya? Ribut banget tuh ngegosipin lo" ucap Veros tak sengaja mendengar cicitan siswi tadi.

" Hmm, kenapa?" Tanya Rigecherta.

" Lo naksir Vane ya?" Goda Skyler kemudian saling pandang dengan River lalu berseru bersamaan.

"Cieee.." goda mereka bersamaan. Seolah sinyal besti mereka tersambung hanya lewat tatapan tengil satu sama lain.

" Brisik Lo pada, ayo ke kelas" ucap Rigecherta lelah juga di ceng-cengin sama dua teman laknatnya itu. Namun sudut bibir Rigecherta sedikit berkedut menahan senyum.

bab 3/ Tivane flu

Suasana sekolah saat itu sedang ramai. Bel akan berbunyi beberapa menit lagi.

Di dalam kelas 12 IPS 3 suasana juga sudah ramai dengan murid yang heboh karena si bendahara sedang melaksanakan tugas negara, _alias ngutip uang kas._

Suasana itu hanya di pandangi oleh Tivane yang duduk sambil main handphone di kursinya.

"GOOD MORNING EVERYONE" lagi lagi suara Skyler dan River terdengar saat mereka memasuki kelas.

" Sini uang kas lo!" Tagih si bendahara saat mereka baru masuk.

" Set dah, baru juga gue mau nyapa lo pada" ucap River manyun dan langsung merogoh saku nya.

" Gini kek lo pada, nggak perlu gue cakarin dulu tuh kantong kalian" ucap si bendahara saat sudah mendapatkan dari masing masing mereka.

" Nih, uang kas si Tivane" ucap Rigecherta menyodorkan uang untuk ia dan Tivane.

" Ih, mau juga dong. Masa Tivane doang yang di traktir" ucap si wakil ketua kelas.

" Brisik, lo punya duit" ketus Rigecherta melenggang ke kursinya di ikuti ke tiga temannya.

" Morning Vane.." sapa Skyler melihat Tivane duduk di kursinya denga santai.

" Iyaa" balas Tivane mengangguk saja.

" Aduh, dek Vane, cantik banget deh" goda River membuat Rigecherta langsung menatap tajam ke arah nya.

" Kok lemes banget?" Tanya Rigecherta duduk di samping Tivane.

" Nggak kok" jawab Tivane tersenyum tipis.

" Btw kok lo duduk sendirian sih?" Tanya Tivane karena melihat hanya Rigecherta yang duduk sendirian, sementara ketiga temannya duduk satu meja.

" Si River berisik, gue usir" jawab Rigecherta enteng.

" Lah, jadi tuh mereka bertiga karena lo?" Tanya Tivane geleng geleng.

" Ya emang tuh mejanya juga buat yang bertiga gitu, makanya di bolehin dia pindah." Jelas Rigecherta membuat Tivane mengangguk dan meletakkan kepala ke meja.

"Rige Mabar yok" ajak Skyler karena bosan. Nggak mungkin masih pagi dia udah karokean kayak biasanya, kan nggak estetik masih pagi udah kumat.

" Males duluan aja" jawab Rigecherta singkat sambil menatapi Tivane.

" Ah, lo mah gitu, tapi kalo di ajak berenang pasti semangat." Kata Skyler mencak-mencak.

" Udah lah, bertiga aja kita sini" lerai Veros pada akhirnya. Jadilah mereka Mabar bertiga karena Rigecherta tidak mau join.

Sedangkan Rigecherta juga ikut meletakkan kepala nya ke meja menghadap ke arah Tivane.

" Lo kenapa?" Tanya Tivane karena cowok itu berenang pagi-pagi.

" Nggak sih, kenapa emang? Lagian kalo gue sakit lo mau apa?" Tanya Rigecherta dengan senyum simpul.

" Ya bilang ke teman teman lo lah, biar di bawa ke UKS" sahut Tivane santai.

"Hahaha" Rigecherta hanya terkekeh kalem dan menatap Tivane lama. Entahlah, bersama gadis ini ia bisa merasa santai dan entah kemana perginya wajah datarnya itu.

River yang sedang Mabar tak sengaja menoleh dan mendelik karena sangat jarang melihat Rigecherta tertawa sesantai itu.

"Liat deh tuh temen lo, dia kenapa coba ketawa gitu, takut dia lagi kesambet" bisik River pada Veros yang hanya mengangguk santai.

"Namanya juga sayang" ucapnya pelan.

"Hah?" Tanya River karena tak terlalu dengar.

"Udah, diem lo" Veros tak menjawab lagi

♥⁠╣ Malamnya╠⁠♥

Tivane sedang tiduran di kasurnya, dengan hidung memerah dan wajah yang juga sedikit memerah karena flu.

"Hcuuh" ia lagi-lagi bersin untuk yang keberapa kalinya.

"Aduh..." Lenguh Tivane.

Tiba-tiba handphone nya bergetar tanda ada pesan.

"Siapa tuh" ia langsung mengambil handphonenya dan membaca pesan itu. Rigecherta: ngapain lo?

Tivane: nafas.

Rigecherta:kirain dah lewat.

Tivane: anjir lo, gue lagi sakit nggak usah ngajak gelut deh, lagi sakit gue

Rigecherta: siapa yang ngajak gelut coba. Btw sakit apa?"

Tivane: flu gue :(

Rigecherta: gara gara tadi.

Tivane: nggak tau deh, iya deh kayaknya.

Rigecherta: Sono lo minum obat, beneran lewat tau rasa lo.

Tivane: apaan banget sih, ngedoain gue lewat.

Rigecherta: bukan gitu Tivane maksud gue, lo minum obat, biar cepat sembuh... Aduh, lo anak siapa sih?

Tivane: oh.. perhatian toh. Bilang kek.

Rigecherta:udah sih, gue nyuruh lo minum obat. Buruan!.

Tivane: iya iya, minum nih gue. Bawel lo.

Tivane dengan mals meraih obat dan air minum di atas nakas lalu meminum obat itu.

"Serasa di omelin emak-emak njir." Gerutunya sendiri.

Tiba-tiba ada ketukan di pintu membuat Tivane tersentak dan langsung membuka pintu.

"Pesanan atas nama mbak Tivane" ucap sang kurir.

"Eh, iya, makasih ya mbak.." Tivane langsung menerima makanan itu dengan dahi mengerut heran, lalu ia menutup pintu dan membawa makanan itu ke meja makan.

Saat ia duduk, handphone di tangannya bergetar membuat ia melihat pesan tersebut.

Rigecherta: makan deh lo biar cepat sembuh

Tivane: thanks ya, btw lo tau alamat rumah gue dari mana?

Rigecherta: selamat makan.

"Lah, malah nggak di jawab, tapi yaudah lah. Mau makan gue" ucapnya kesenangan melihat makanan di depannya.

Sementara di rumah Rigecherta ia terlihat mendecak keras.

" Kan, beneran sakit anak orang" ia mendecak khawatir.

" Nanti kalo gue samperin apa nggak di cambuk papanya gue?" Tanyanya pada dirinya sendiri.

"Ah bodo amat lah" ia langsung menyambar kunci motornya lalu melaju ke rumah Tivane.

Sementara itu di rumah Tivane, ia sudah selesai makan dan duduk duduk di balkon kamarnya untuk menghirup udara segar.

Rigecherta yang sudah sampai di depan gerbang rumah Tivane, ia melihat ke arah kamar Tivane dan melihat lampu masih menyala, pertanda orangnya belum tidur. Ia merogoh sakunya mencari handphone.

Handphone Tivane bergetar membuat ia melihat pesan yang muncul di layar.

Rigecherta: udah siap makannya?

Tivane: udah kenapa?

Dari bawah Rigecherta melihat bayangan orang yang duduk di balkon itu pun tersenyum kemudian dengan jahil Muali menyalakan flash handphone dan mengarahkannya pada Tivane.

Sementara di balkon Tivane mendelik melihat tidak ada jawaban.

"Eh, apa tuh terang banget" ia menyernyit melihat silau ke arah bawah dan mengikuti arah cahaya dan melihat pelakunya.

"LO?" Pekiknya kaget melihat Rigecherta tertawa sambil dadah dadah di bawah.

Tivane langsung turun dan membuka pagar dengan aura sok melabrak.

" Ngapain lo di rumah gue malam-malam" tanya Tivane sok ketus.

" Mau ngajakin lo Malmingan" jawab Rigecherta enteng membuat Tivane membulatkan mata.

" Tapi karna lo sakit, nggak jadi deh, ntar tambah sakit" sambungnya sambil mematikan flas handphone.

"Dih, kayak gue mau aja" ketus Tivane sinis.

"Yaudah sih kalo nggak mau Sono masuk" suruhnya kalem.

" Yaudah lo pulang sono" usirnya dengan gaya tak santai.

"Gue mau disini aja deh. Kenapa emang kalo gue di sini?" Tanyanya ingin memancing keributan saja sebenarnya.

" Ya ngapain lo disini anjay? Dingin woi" omel Tivane tapi Rigecherta malah terkekeh geli.

" Lo lucu kalo lagi ngomel, pipi lo merah" ejeknya membuat Tivane ingin menjambak ya.

" Ihh.. gue Jambak ya lo" geram Tivane sambil mengangkat tangan seolah ingin mencakarnya.

" Set dah, gue pikir kalem lo " ucak Rigecherta sambil sedikit mundur.

"Mana ada gue kalem, asal lo tau, gue itu cewek paling cerewet dan barbar " ucap Tivane menggebu-gebu, membuat Rigecherta menahan senyum. Entah lah, melihat nya seperti itu membuat Rigecherta gemas.

" Dan ceroboh kan?" Tanya Rigecherta lagi-lagi ingin mencari gara-gara.

" Ya. Gue itu emang ceroboh banget, tapi tenang, kata papa selagi cantik itu anggun" sengaknya percaya diri.

" Lucu banget sih lo.." ucap Rigecherta sambil mengunyel pipi Tivane membuat Tivane menggeplak tangannya. Rigecherta mengaduh dan menatapnya gemas.

"Galak banget sih, anak siapa sih ini?" Ia malah lanjut mengunyel pipi Tivane membuat Tivane manyun.

" Lucunya, kayak ukan buntal" katanya membuat cewek itu melotot geram.

" Udah ah, sono lo pulang." Usirnya kesal.

" Okey, bye bye.." Rigecherta kembali ke motor nya dan menyalakan mesin.

" Dah.. _kesayangan aku, kali ini aku bakalan ngambil hati kamu_ " ia mengucapkan nya dengan pelan di bagian akhir mungkin Tivane tidak mendengarnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!