Indonesia
NovelToon NovelToon

Wanita Sang Raja Iblis

1. Sayap Suci yang Patah

Gemuruh di langit sembilan tingkat tidak pernah terdengar semencekam ini. Di balik tirai awan emas yang biasanya memancarkan kedamaian, kilatan petir kesakitan membelah cakrawala Alam Langit.

Bau anyir darah suci menguar di antara pilar-pilar giok putih Istana Surgawi.

Dewi Shen Liya berlari tanpa arah. Gaun sutra putihnya yang biasa melambangkan kesucian kini telah koyak di beberapa bagian, menyisakan noda merah pekat yang terus melebar di bagian bahu dan pinggang.

Napasnya terengah-engah, memburu bersama detak jantungnya yang berdentang liar bak genderang perang. Setiap kali kakinya yang tanpa alas melangkah, jejak darah suci tertinggal di atas hamparan awan, menguap menjadi serpihan cahaya keemasan yang redup.

"Tangkap dia! Jangan biarkan Wadah Ilahi itu meloloskan diri!"

Suara teriakan bariton itu menggema di belakangnya, memantul di antara gugusan bintang. Itu adalah suara Panglima Gao, tangan kanan Dewa Tinggi Ling Cang. Pria yang selama ribuan tahun ia hormati sebagai guru dan pelindung alam langit, kini justru menjadi sosok yang mengirimkan mimpi buruk paling mengerikan dalam hidupnya.

Shen Liya menoleh sekilas ke belakang. Di kejauhan, belasan bayangan berbaju zirah emas melesat cepat di atas pedang terbang mereka. Tatapan mata para prajurit langit itu dingin, sekosong boneka jerami. Mereka tidak lagi memandangnya sebagai seorang dewi yang harus dihormati, melainkan sebagai seekor buruan yang harus diseret kembali ke altar pengorbanan.

Mengapa? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Shen Liya, membakar dadanya dengan rasa perih yang teramat sangat.

Hanya beberapa jam yang lalu, ia dipanggil ke aula utama oleh Ling Cang dengan alasan upacara pemberkatan alam. Namun, begitu ia melangkah masuk, segel pembatas langsung mengurungnya. Di tengah ruangan, sebuah altar kuno yang haus darah telah disiapkan. Ling Cang, dengan wajahnya yang dipenuhi senyum penuh kebajikan palsu, mengatakan bahwa tiga alam sedang menuju ambang kehancuran, dan satu satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan mengekstraksi seluruh energi suci dari tubuh Shen Liya.

Tubuhnya yang murni adalah Wadah Ilahi sempurna, sebuah resep rahasia yang dibutuhkan Ling Cang untuk menembus batas kedewaan tertinggi dan menjadi penguasa mutlak tanpa tanding.

"Kebajikan yang kau agungkan selama ini... ternyata hanyalah topeng untuk keserakahanmu, Ling Cang!" desis Shen Liya, menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

Sebuah lesatan angin tajam memotong lamunannya. Panglima Gao telah memperpendek jarak. Pria itu mengangkat busur perak besar, menarik talinya hingga memancarkan cahaya ungu yang berpendar aneh.

"Dewi Shen Liya, menyerahlah! Takdirmu adalah menjadi fondasi bagi keabadian Dewa Tinggi Ling Cang. Jangan mempersulit kematianmu!" seru Panglima Gao dari atas langit.

Takdir? Shen Liya tertawa getir. Jika takdir yang digariskan oleh langit adalah membiarkan yang lemah dikorbankan demi keserakahan yang kuat, maka ia bersumpah akan mendobrak takdir tersebut, bahkan jika ia harus jatuh ke dalam neraka terdalam.

Wusss!

Anak panah berbalut cahaya ungu melesat membelah udara, mengincar punggung Shen Liya. Energi yang memancar dari anak panah itu sangat asing dan pekat. Itu bukan energi suci alam langit, melainkan sebuah kutukan kuno yang dikenal sebagai Jue Qing San—Racun Pemutus Sukma. Sebuah racun yang sengaja dirancang oleh Ling Cang untuk melelehkan inti kultivasi dan mengunci aliran energi korbannya agar tidak bisa melawan.

Shen Liya mencoba menghindar dengan melompat ke samping. Namun, tubuhnya yang sudah kelelahan tidak mampu bergerak secepat pikirannya.

Jleb!

Anak panah itu tidak mengenai jantungnya, melainkan menancap telak di bahu kirinya. Jeritan kesakitan yang menyayat hati lolos dari bibir sang Dewi. Rasa sakitnya tidak seperti luka tusuk biasa; rasanya seolah-olah ada ribuan jarum es yang membeku di dalam pembuluh darahnya, lalu dalam sekejap berubah menjadi api yang membakar inti jiwanya dari dalam. Racun itu mulai bekerja, memutus paksa aliran energi spiritual yang mengalir di meridian tubuhnya.

"Ugh..." Shen Liya berlutut di atas awan, memegangi dadanya yang mulai terasa membara. Kulitnya yang seputih porselen perlahan memancarkan uap tipis kemerahan, tanda bahwa racun itu sedang menggerogoti kesucian jiwanya.

"Kau sudah tidak bisa lari lagi, Dewi," ujar Panglima Gao, mendarat beberapa puluh langkah di depannya. Pedang panjangnya terhunus, berkilau di bawah cahaya bintang yang kian meredup.

Para prajurit langit segera mengepungnya dari segala penjuru, menutup semua celah untuk meloloskan diri.

Melihat lingkaran kepungan yang kian menyempit, Shen Liya tahu ia tidak memiliki kesempatan untuk menang dalam pertarungan fisik. Inti sucinya bergejolak hebat, menolak racun yang terus merangsek masuk. Jika ia tertangkap sekarang, jiwanya akan dicabik-cabik di atas altar Ling Cang.

Lebih baik aku hancur menjadi debu kosmis daripada harus menyerahkan kekuasaanku pada iblis berwajah dewa itu!

Dengan sisa-sisa kesadaran yang kian menipis dan tekad yang bulat, Shen Liya memejamkan mata. Ia membalikkan telapak tangannya, memaksakan sisa energi suci terakhir yang belum tercemar oleh racun untuk berkumpul di ujung jari telunjuknya.

Tindakan ini memicu rasa sakit yang luar biasa di dadanya, seolah-olah jantungnya sedang diperas hingga hancur. Namun, ia mengabaikannya.

Ia menghantamkan jarinya ke udara di depannya, menggambar sebuah aksara kuno pemecah ruang.

"Dengan darah dan sukmaku sebagai bayaran... Terbukalah!" teriak Shen Liya dengan suara parau.

BOOM!

Sebuah ledakan energi suci yang murni menghantam area sekitarnya, membuat Panglima Gao dan para prajurit langit terlempar beberapa langkah ke belakang untuk melindungi wajah mereka dari cahaya yang menyilaukan. Di hadapan Shen Liya, ruang vertikal terkoyak, membentuk sebuah celah dimensi hitam yang menganga lebar. Itu adalah jalan pintas acak menuju alam fana—dunia manusia yang dianggap hina dan kotor oleh para dewa tinggi.

"Hentikan dia! Dia ingin membuang dirinya ke dunia bawah!" teriak Panglima Gao dengan wajah panik. Jika Wadah Ilahi itu hilang di alam fana, rencana Dewa Tinggi Ling Cang akan tertunda, atau bahkan gagal total.

Namun, peringatan itu sudah terlambat. Sebelum tangan para prajurit langit sempat menyentuh ujung gaunnya, Shen Liya membiarkan tubuhnya jatuh bebas ke dalam celah hitam tersebut. Energi dimensi yang tidak stabil langsung merobek sisa-sisa pertahanan spiritualnya, membanting tubuh rapuhnya menembus batas-batas langit dan awan, sebelum akhirnya celah itu menutup kembali dengan suara berdentum keras.

Sementara itu, jauh di bawah sana, di sebuah sudut terpencil di dunia manusia.

Hutan Bambu Ungu di kaki Gunung Han adalah tempat yang jarang dijamah oleh manusia biasa. Kabut tebal selalu menyelimuti area ini, membuat siapa pun yang mencoba masuk akan kehilangan arah dan berputar-putar di tempat yang sama.

Di tengah hutan yang sunyi itu, berdiri sebuah pondok kayu yang sederhana namun tertata sangat rapi. Di halaman depan, barisan rak anyaman bambu berisi berbagai jenis tanaman obat sedang dijemur di bawah sinar rembulan.

Seorang pria berpakaian kain rami kasar berwarna abu-abu gelap sedang duduk tenang di bangku batu di bawah pohon persik yang belum berbunga. Tangannya yang jemarinya panjang dan kokoh memegang sebilah pisau kecil, dengan teliti mengupas kulit kayu obat beraroma pekat.

Pria itu adalah Gu Jue.

Di dunia fana ini, penduduk desa di kaki gunung mengenalnya sebagai Ah Jue, seorang tabib pengembara yang dingin, jarang berbicara, namun memiliki kemampuan menyembuhkan yang luar biasa.

Tidak ada satu pun manusia yang tahu bahwa di balik wajah tampannya yang tampak acuh tak acuh dan sepasang mata sehitam tinta itu, tersimpan sebuah identitas yang bisa membuat seluruh dunia fana berlutut ketakutan: dia adalah Mo Jue, Raja Iblis penguasa Alam Kegelapan yang agung.

Mo Jue sengaja mengasingkan diri ke dunia fana ini beberapa tahun lalu. Politik di Alam Iblis yang penuh dengan intrik kelicikan antar faksi membuatnya jemu. Ia pergi tanpa memberi tahu siapa pun, bahkan dua pelindung agungnya sekalipun, hanya demi mencari ketenangan sesaat di antara mortalitas manusia yang singkat.

Sret. Sret.

Suara pisau yang mengikis kayu adalah satu-satunya bunyi yang terdengar di malam yang sunyi itu. Namun, gerakan tangan Gu Jue tiba-tiba terhenti.

Mata hitamnya yang setajam elang menyipit, menatap lurus ke arah langit malam di atas hutan bambu. Angin malam yang semula berembus lembut tiba-tiba berhenti total. Hewan-hewan malam, dari jangkrik hingga burung hantu, mendadak bungkam seolah-olah ada predator raksasa yang sedang mendekat.

Sebagai sosok yang berdiri di puncak kekuatan alam bawah, Gu Jue memiliki kepekaan sensorik yang sangat mengerikan. Ia merasakan sebuah riak energi spiritual yang sangat besar—dan sangat asing bagi dunia fana—baru saja merobek langit.

Energi suci tingkat tinggi? batin Gu Jue, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin.

Makhluk bermuka dua dari alam atas... apa yang mereka lakukan di tempat kotor ini?

Belum sempat ia berdiri, sebuah kilatan cahaya keemasan yang redup melesat jatuh dari langit, menembus kabut tebal Hutan Bambu Ungu. Cahaya itu jatuh dengan kecepatan tinggi, menghantam tanah hutan beberapa puluh meter dari pagar pondok kayunya.

BUM!

Suara hantaman itu cukup keras, membuat beberapa pohon bambu di sekitarnya patah. Gu Jue meletakkan pisau dan kayu obatnya dengan santai. Dengan langkah kaki yang sangat tenang—bahkan tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas tumpukan daun kering—ia berjalan menuju pusat jatuhnya cahaya tersebut.

Begitu sampai di sebuah celah hutan yang terbuka, bau anyir darah suci langsung menyengat indra penciumannya. Gu Jue menghentikan langkahnya.

Di atas tanah yang sedikit amblas, terbaring sesosok wanita dengan pakaian sutra putih yang berlumuran darah. Rambut hitam panjangnya tersebar acak di atas tanah, membingkai wajahnya yang sangat pucat namun memiliki kecantikan yang teramat anggun, sebuah kecantikan yang tidak akan pernah bisa ditemukan di antara wanita fana.

Gu Jue menatap wanita itu dari atas ke bawah. Meskipun wanita itu sedang sekarat dan kesadarannya telah hilang, sisa-sisa aura suci yang memancar dari tubuhnya berbicara dengan sangat jelas.

"Seorang dewi inti dari kerajaan langit," gumam Gu Jue, suaranya terdengar rendah dan magnetis.

"Dan dia jatuh ke pelataran rumahku dalam kondisi sekacau ini."

Ia melangkah mendekat, lalu berjongkok di samping tubuh wanita yang tidak lain adalah Shen Liya.

Gu Jue mengulurkan dua jarinya, berniat memeriksa aliran meridian di pergelangan tangan wanita itu untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun, begitu kulitnya bersentuhan dengan pergelangan tangan Shen Liya, sebuah sengatan panas yang luar biasa menyengat jarinya.

Gu Jue menarik tangannya kembali, matanya berkilat terkejut.

Ia melihat uap kemerahan yang kian pekat mulai keluar dari pori-pori kulit Shen Liya. Napas wanita itu kian memburu, dan bibirnya terus menggumamkan rintihan kesakitan yang tertahan.

"Ini... Jue Qing San?" Gu Jue langsung mengenali jenis racun tersebut. Sebagai musuh bebuyutan alam langit, ia sangat paham dengan taktik kotor para dewa tingkat tinggi yang sering menggunakan racun sukma ini untuk melenyapkan pembangkang di kalangan mereka sendiri.

Namun, ada satu hal yang membuat alis Gu Jue bertaut erat. Racun Pemutus Sukma yang ada di dalam tubuh dewi ini bereaksi dengan cara yang sangat ekstrem. Energi suci di dalam tubuh wanita ini terlalu murni dan terlalu besar, bertindak sebagai bahan bakar yang justru membuat racun tersebut berkobar puluhan kali lipat lebih cepat.

Jika dibiarkan selama beberapa jam lagi, inti spiritual wanita ini akan meledak.

Ledakan dari inti seorang dewi tingkat tinggi tidak hanya akan membunuh wanita itu sendiri, tetapi juga akan meratakan seluruh Hutan Bambu Ungu dan memusnahkan ribuan manusia di desa kaki gunung dalam radius puluhan mil—menghancurkan ketenangan tempat pengasingan yang sangat dinikmati oleh Gu Jue.

Gu Jue menatap wajah Shen Liya yang kini mulai mengerang, tubuhnya bergetar hebat di atas tanah karena rasa panas yang membakar dari dalam. Kulitnya yang semula putih kini perlahan berubah kemerahan, memancarkan daya pikat spiritual yang sangat pekat akibat distorsi racun yin-yang yang kehilangan keseimbangan.

"Menyusahkan sekali," desis Gu Jue, menatap langit malam yang kian pekat, seolah bisa melihat bayangan para pengejar dari langit yang mungkin sedang bersiap turun untuk mencari buruan mereka.

Raja Iblis itu berdiri, lalu dengan satu gerakan mudah, ia menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Shen Liya, mengangkat tubuh ringan sang Dewi ke dalam dekapannya.

Kontak fisik itu membuat energi panas dari tubuh Shen Liya langsung merambat ke dada Gu Jue, sementara energi dingin alami dari tubuh sang Raja Iblis membuat Shen Liya secara tidak sadar bergerak mendekat, mencari sumber kesejukan demi meredakan siksaan di dalam tubuhnya.

Gu Jue membalikkan badannya, membawa sang Dewi yang terluka parah dan teracuni itu melangkah kembali menuju pondok kayunya, tanpa menyadari bahwa malam ini adalah awal dari takdir baru yang akan menjungkirbalikkan tatanan tiga alam selamanya.

2. Dilema Sang Pengasing

Pintu pondok kayu berderit pelan saat Gu Jue mendorongnya dengan bahu. Ia melangkah masuk ke dalam kamar beralas tikar anyaman yang sederhana, lalu membaringkan tubuh Shen Liya di atas tempat tidur kayu miliknya. Begitu tubuh sang Dewi menyentuh kasur, ruangan yang semula sejuk langsung terasa hangat akibat uap panas kemerahan yang terus menguar dari pori-pori kulitnya.

Gu Jue berdiri di sisi tempat tidur, melipat kedua tangannya di depan dada. Sepasang mata sehitam tintanya menatap lekat-lekat wajah wanita di hadapannya. Rambut hitam Shen Liya basah oleh keringat, menempel di dahi dan pipinya. Napas wanita itu kian pendek dan tersengal-sengal, sementara tangannya mencengkeram sprei kasur dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Panas... sakittt..." rintih Shen Liya dari balik bibirnya yang mulai pecah-pecah.

Gu Jue mengulurkan tangan, kembali menyentuh dahi Shen Liya. Rasa panas yang menjalar kini terasa berkali-kali lipat lebih pekat daripada saat ia menemukannya di hutan tadi.

Racun Jue Qing San di dalam tubuh wanita ini tidak lagi sekadar mengalir, melainkan telah mengamuk. Energi suci tingkat tinggi yang mengalir di meridian Shen Liya bertindak seperti minyak yang menyiram api kutukan tersebut.

Sebagai Raja Iblis, Gu Jue tahu persis anatomi kekuatan alam atas. Jiwa seorang dewi digerakkan oleh inti suci murni (Yand Core). Sementara racun yang dikirim oleh Ling Cang adalah jenis racun penghancur jiwa ekstrem yang membalikkan energi tersebut menjadi api destruktif. Di dunia fana ini, tidak ada satu pun tanaman herbal manusia yang bisa meredamnya.

Jika dibiarkan satu jam lagi, inti suci Shen Liya akan meledak akibat tekanan energi yang tidak stabil.

Ledakan dari dewi tingkat tinggi akan setara dengan jatuhnya meteor spiritual. Hutan bambu tempatnya mengasingkan diri akan lenyap, dan desa manusia fana dalam radius puluhan mil di bawah gunung akan menjadi abu dalam sekejap.

"Kau benar-benar membawa masalah besar ke pelataran rumahku," desis Gu Jue, suaranya terdengar dingin di tengah keheningan malam.

Sebenarnya, ada satu cara instan untuk menghentikan ledakan ini tanpa mengotori tangannya: Gu Jue bisa saja menghancurkan inti jiwa Shen Liya saat ini juga menggunakan energi kegelapan miliknya.

Namun, jika ia melakukan itu, wanita ini akan langsung tewas dan jiwanya akan musnah dari tiga alam. Entah mengapa, melihat kedalaman luka dan keputusasaan yang terpancar dari sisa aura Shen Liya, Gu Jue enggan melakukannya. Sisi dirinya yang bosan dengan kekejaman Alam Langit merasa tertarik melihat ada seorang dewi yang diburu seperti buruan haram oleh kaumnya sendiri.

Maka, hanya ada satu pilihan tersisa. Sebuah pilihan kuno yang melibatkan penyatuan spiritual ekstrem demi menyeimbangkan energi (Dual Cultivation darurat).

Racun pemutus sukma ini hanya bisa diredam jika ada energi dingin murni tingkat tinggi (Yin) yang masuk ke dalam tubuhnya untuk menjinakkan api kutukan tersebut dari dalam.

Dan di seluruh dunia fana ini, satu-satunya makhluk yang memiliki energi dingin murni yang mampu menandingi kemurnian inti suci sang dewi adalah dirinya—sang penguasa kegelapan.

Namun, metode ini mengharuskan adanya penyatuan fisik yang intim agar aliran energi mereka bisa selaras sempurna tanpa penolakan dari dalam meridian. Bagi seorang dewi langit yang mengagungkan kesucian di atas segalanya, tindakan ini adalah sebuah penodaan besar.

"Ugh... ku—mohon... bakar aku..."

Shen Liya tiba-tiba bergerak liar. Kesadarannya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh insting bertahan hidup yang kacau akibat racun. Efek samping dari Jue Qing San yang membakar juga mulai memanipulasi indranya, menciptakan ilusi gairah spiritual yang tak tertahankan.

Merasakan hawa dingin murni yang memancar dari tubuh Gu Jue yang berdiri di dekatnya, Shen Liya secara tidak sadar mengulurkan tangannya yang gemetar, mencengkeram ujung jubah kain rami Gu Jue dan menariknya mendekat.

Gu Jue tidak bergeming saat tubuhnya tertarik sedikit condong ke depan. Kulit tangan Shen Liya yang membara menyentuh pergelangan tangannya.

Seketika itu juga, getaran spiritual yang aneh menyengat inti iblis di dalam dada Gu Jue. Ada sebuah tarikan tak kasat mata yang kuat antara energinya dan energi wanita ini—seperti malam yang merindukan fajar.

"Jangan menyesali ini besok, Dewi. Aku hanya mengambil apa yang diperlukan untuk menyelamatkan ketenanganku," bisik Gu Jue, matanya berkilat ungu sesaat, melepaskan sekat emosinya sebagai manusia samaran.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, Gu Jue naik ke atas tempat tidur kayu. Ia melepaskan jubah abu-abu kasarnya, menyisakan tubuhnya yang kokoh dan dipenuhi beberapa bekas luka pertempuran masa lalu yang sengaja disembunyikan.

Saat kulit dinginnya bersentuhan langsung dengan kulit membara Shen Liya, wanita itu mengeluarkan lenguhan pelan, seolah-olah baru saja menemukan oase di tengah gurun pasir yang gersang.

Malam itu, di dalam pondok kayu yang terisolasi oleh kabut Hutan Bambu Ungu, tatanan kuno tentang batas suci dan noda runtuh tak bersisa.

Gu Jue menundukkan tubuhnya, mengunci kedua tangan Shen Liya yang bergerak gelisah ke atas kasur dengan satu tangan besarnya. Ketika bibir mereka akhirnya bertemu, sebuah ledakan energi yang dahsyat terjadi secara internal. Rasa manis dan murni dari energi suci Shen Liya menyerbu rongga mulut Gu Jue, sementara energi hitam sepekat malam miliknya mulai dialirkan secara perlahan masuk melalui meridian bibir menuju tenggorokan wanita itu.

Shen Liya melengkungkan punggungnya saat rasa dingin yang pekat menusuk langsung ke dalam dadanya yang membara. Itu bukan rasa sakit yang menghancurkan, melainkan sebuah pelukan es yang langsung menjinakkan api kutukan di dalam pembuluh darahnya. Penyatuan fisik yang terjadi kemudian bukan didasari oleh nafsu duniawi, melainkan sebuah pertempuran spiritual yang intens antara hidup dan mati.

Setiap kali mereka bersatu lebih dalam, Gu Jue mengendalikan napasnya dengan sangat hati-hati. Ia harus menekan kebuasan energi iblisnya agar tidak merusak dinding meridian Shen Liya yang rapuh, sembari membiarkan esensinya menyerap racun Jue Qing San yang meleleh keluar.

Energi mereka berputar seperti pusaran Yin dan Yang—hitam dan emas yang saling menjalin di udara di atas tempat tidur, menciptakan riak cahaya gaib yang berputar-putar di dalam kamar yang remang-remang.

Keringat bercampur dengan air mata samar di sudut mata Shen Liya. Di balik ketidaksadarannya, jiwanya merasakan kehadiran sesosok makhluk yang sangat kuat, sebuah eksistensi luas sepekat ruang hampa udara yang kini sedang menopang jiwanya yang hampir hancur.

Rasa takut yang semula mencengkeramnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang asing namun sangat pekat.

Proses penyatuan spiritual itu berlangsung berjam-jam, melewati pergantian malam yang sunyi. Gu Jue terus mengalirkan energinya tanpa henti, memandu api racun di tubuh Shen Liya untuk perlahan-lahan jinak dan mengendap di bawah kendali energi dingin iblisnya.

Tanpa disadari oleh keduanya, seiring berjalannya waktu, sebagian kecil dari esensi energi kegelapan Gu Jue mulai berakar dan tertinggal di dalam relung inti suci Shen Liya, mengunci sebuah ikatan spiritual permanen yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh sihir apa pun di tiga alam.

Ketika semburat cahaya fajar pertama mulai menembus celah-celah jendela kayu pondok, badai spiritual di dalam kamar akhirnya mereda.

Uap kemerahan yang mengerikan itu telah hilang sepenuhnya dari kulit Shen Liya. Napasnya kini telah kembali teratur, mengalun halus seirama dengan detak jantungnya yang telah stabil.

Warna merah alami telah kembali ke pipinya yang mulus, dan luka-luka luar di tubuhnya mulai menutup berkat efek regenerasi dari energi gabungan mereka.

Gu Jue duduk di tepi tempat tidur, membelakangi wanita yang kini tengah tertidur lelap dalam balutan selimut tebal. Wajah sang Raja Iblis tampak sedikit pucat; proses menetralkan racun langit menggunakan tubuhnya sendiri menguras cukup banyak konsentrasi dan energinya.

Ia menoleh sekilas ke belakang, menatap wajah damai Shen Liya yang tertidur. Sudut matanya menangkap bercak merah pekat yang tersisa di atas seprai putih—sebuah bukti bisu atas hilangnya kesucian sang Dewi di tangan seorang pria yang seharusnya menjadi musuh alaminya.

Gu Jue menghela napas panjang, bangkit berdiri lalu mengenakan kembali jubah abu-abu kasarnya. Ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintu kayu dengan sangat pelan agar tidak mengganggu istirahat wanita di dalam.

Berjalan ke halaman depan, udara pagi yang dingin langsung menerpa wajahnya. Kabut di Hutan Bambu Ungu tampak lebih tebal dari biasanya. Gu Jue mengangkat tangan kanannya, menatap telapak tangannya sendiri. Di balik kulitnya, samar-samar terlihat pendaran cahaya keemasan tipis yang mengalir di pembuluh darahnya—sisa energi suci Shen Liya yang terserap ke dalam tubuhnya selama penyatuan malam tadi.

"Energi sucinya terlalu murni," gumam Gu Jue pada diri sendiri. "Jika ia keluar dari hutan ini sekarang, getaran auranya yang telah bercampur dengan energiku akan membuat seisi alam langit dan alam iblis gempar."

Menyadari bahaya besar yang mengintai jika eksistensi mereka terendus, Gu Jue menghentikan langkahnya di tengah halaman.

Ia memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada ikatan spiritual baru yang baru saja terbentuk di antara mereka malam tadi. Karena sebagian energinya kini berada di dalam tubuh Shen Liya, Gu Jue memiliki kendali penuh atas bagaimana aura wanita itu memancar.

Ia menghentakkan kaki kanannya ke tanah dengan pelan.

Wusss!

Sebuah lingkaran cahaya hitam transparan melesat keluar dari bawah kakinya, merayap cepat ke segala arah menembus pagar pondok dan membentuk kubah raksasa tak kasat mata yang mengurung seluruh area tempat tinggalnya. Itu adalah Segel Penjerat Jiwa—perisai iblis tingkat tinggi yang paling mematikan.

Namun, Gu Jue memodifikasi frekuensinya. Ia menggunakan sisa energi suci Shen Liya yang ada padanya untuk menyamarkan perisai tersebut, mengubah penampilannya menjadi transparan dan menyatu dengan energi alam fana biasa.

Perisai ini bekerja dua arah: ia akan menahan serangan fisik dari luar, dan di saat yang sama, ia bertindak sebagai penyaring absolut.

Setiap kali aura suci dari tubuh Shen Liya mencoba bocor keluar, perisai ini akan menyerapnya dan mengubahnya menjadi aroma embun pagi dan udara hutan biasa, sehingga tidak akan pernah bisa dilacak oleh radar pencarian ataupun cermin gaib milik Dewa Tinggi Ling Cang.

Semua perlindungan luar biasa ini ia bangun secara rahasia, menaruh seluruh energinya demi memastikan keberadaan sang Dewi terkubur rapat di dunia fana, tanpa wanita itu sadari sedikit pun saat ia terbangun nanti.

Gu Jue menurunkan tangannya kembali, merasakan perisai gaibnya telah terpasang dengan sempurna. Ia berjalan menuju rak anyaman bambu, kembali mengambil pisau kecil dan potongan kayu obatnya yang sempat tertunda tadi malam. Saat ia mulai mengikis kulit kayu dalam kesunyian fajar, sepasang matanya menatap pintu kamar yang tertutup, menantikan badai emosi yang pasti akan pecah begitu sang Dewi membuka matanya.

3. Penyelamatan dalam Dinginnya Malam

Aroma pekat dari rebusan akar manis dan daun mint liar menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Shen Liya saat kesadarannya perlahan kembali ke permukaan.

Kelopak mata sang Dewi bergerak halus sebelum akhirnya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit pondok yang terbuat dari susunan bambu tua yang rapi. Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah jendela kayu yang terbuka sedikit, memantulkan debu-debu kecil yang melayang di udara.

Untuk beberapa detik, otak Shen Liya terasa kosong. Namun, sedetik kemudian, memori mengerikan tentang malam sebelumnya menghantam kepalanya bak gada raksasa.

Pengkhianatan Ling Cang. Altar pengorbanan. Kejaran Panglima Gao. Dan... anak panah beracun.

"Ah!"

Shen Liya tersentak, mencoba langsung bangkit berdiri dari tempat tidur dengan insting waspada yang penuh. Namun, begitu ia menggerakkan tubuhnya, rasa lemas yang luar biasa dan nyeri samar di bagian inti spiritualnya membuat ia kehilangan keseimbangan. Pandangannya berputar sejenak, memaksanya kembali terduduk di tepi ranjang sembari memegangi kepalanya yang berdenyut pening.

Saat itulah, kesadarannya menangkap keanehan lain pada tubuhnya.

Baju zirah kain sutra langitnya yang robek dan berdarah telah lenyap. Ia kini mengenakan jubah tidur longgar berwarna putih polos yang terbuat dari kain katun kasar khas dunia manusia. Lebih mengejutkannya lagi, hawa panas membakar dari racun Jue Qing San yang semalam menggerogoti sukmanya telah hilang tanpa bekas.

Meridian tubuhnya yang sempat terputus kini mengalirkan energi spiritual dengan sangat tenang, bahkan luka tusuk di bahu kirinya telah menutup, menyisakan kulit mulus kemerahan yang baru tumbuh.

Bagaimana mungkin? batin Shen Liya terkesiap. Racun tingkat tinggi dari langit itu... tidak mungkin bisa sembuh dengan sendirinya.

Siapa yang menolongku?

Belum sempat ia menemukan jawaban, sudut matanya menangkap sesuatu di atas seprai putih tempatnya berbaring tadi. Sebuah noda merah pekat yang telah mengering berbentuk kelopak bunga yang patah.

Sebagai seorang dewi yang telah hidup ribuan tahun, Shen Liya seketika membeku. Wajahnya yang semula pucat langsung memerah, lalu berubah menjadi putih pucat karena syok yang teramat sangat.

Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan getaran spiritualnya yang aneh. Kesuciannya—lambang kehormatan tertinggi bagi seorang dewi langit—telah tiada.

Pintu kayu kamar tiba-tiba berderit pelan, terbuka dari luar.

Shen Liya secara insting langsung menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya, matanya berkilat penuh amarah dan kewaspadaan tingkat tinggi saat melihat seorang pria melangkah masuk.

Pria itu mengenakan jubah kain rami abu-abu gelap yang sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak pahatan dewa perang yang sempurna namun beralur dingin, dengan sepasang mata sehitam malam yang seolah tidak bisa ditembus oleh apa pun.

Di tangannya, pria itu membawa sebuah mangkuk tanah liat kecil yang mengeluarkan asap tipis dan aroma herbal yang menyengat.

Gu Jue menghentikan langkahnya tepat tiga langkah dari tempat tidur. Tatapan matanya yang acuh tak acuh menyapu wajah Shen Liya yang kini menatapnya seolah ingin mencabik-cabiknya hidup-hidup.

"Kau sudah bangun," ujar Gu Jue, suaranya terdengar datar, rendah, dan sangat tenang. Sama sekali tidak mencerminkan rasa takut atau bersalah.

"Siapa kau?!" desis Shen Liya, suaranya parau namun sarat akan tekanan energi suci yang coba ia bangkitkan. Ia mengangkat tangan kanannya, memaksakan sekerat energi spiritual di ujung jarinya untuk membentuk jarum es tajam, lalu menodongkannya lurus ke arah tenggorokan Gu Jue.

"Apa yang kau lakukan pada tubuhku, Manusia Kurang Ajar?!"

Gu Jue menatap jarum es spiritual yang melayang beberapa senti di depan jakunnya tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit geli.

Energi suci wanita ini memang murni, tetapi dalam kondisi selemas ini, serangan seperti itu bahkan tidak akan bisa menggores kulit iblisnya.

Dengan gerakan yang sangat santai, Gu Jue berjalan melewati jarum es tersebut—membuat Shen Liya terpaksa menarik serangannya karena terkejut dengan keberanian pria ini—lalu meletakkan mangkuk obat di atas meja kayu kecil di samping ranjang.

"Jika aku jadi kau, aku tidak akan membuang sisa tenaga yang berharga untuk membuat mainan es seperti itu," kata Gu Jue, berbalik menghadap Shen Liya sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Aku adalah Gu Jue, seorang tabib di hutan ini. Dan jika kau bertanya apa yang kulakukan pada tubuhmu... jawabannya adalah menyelamatkan nyawamu yang hampir menjadi mayat gosong tadi malam."

"Selamatkan nyawaku?!" Suara Shen Liya bergetar menahan amarah dan kehinaan yang mendalam. Air mata samar mulai menggenang di sudut mata indahnya saat ia menunjuk ke arah noda darah di atas kasur.

"Lalu bagaimana kau menjelaskan ini? Kau memanfaatkanku saat aku tidak sadarkan diri! Kau menodai kesucian seorang de—"

Shen Liya menggigit bibir bawahnya, menahan kata "Dewi" agar tidak lolos dari mulutnya. Ia ingat ia sedang melarikan diri dan tidak boleh membongkar identitas aslinya kepada siapa pun, termasuk manusia fana di depannya.

Gu Jue menatap noda darah tersebut, lalu kembali menatap mata Shen Liya yang dipenuhi rasa penderitaan yang hebat. Sisi dingin di hatinya sedikit bergetar melihat harga diri sang Dewi yang runtuh, namun ia harus tetap menjaga penyamarannya sebagai manusia biasa yang "terpaksa" melakukan hal tabu demi alasan medis.

"Kau terkena racun supernatural tingkat tinggi," ujar Gu Jue dengan nada suara yang sengaja dibuat berat, seolah ia adalah korban yang direpotkan.

"Kulitmu membara, inti tubuhmu hampir meledak, dan kau terus memohon padaku untuk menghentikan rasa panas itu. Sebagai tabib, aku tahu tidak ada obat herbal di dunia ini yang bisa meredam racun itu selain metode penyatuan energi Yin dan Yang."

Gu Jue melangkah satu tindakan lebih dekat, membuat Shen Liya refleks mundur hingga punggungnya membentur dinding tempat tidur.

"Energi tubuhku adalah jenis dingin murni sejak lahir, sesuatu yang dicari oleh racun di tubuhmu. Semalam, kau yang kehilangan kendali dan menarikku ke atas ranjang ini, bukan sebaliknya," lanjut Gu Jue dengan dusta yang diucapkannya dengan begitu mulus dan meyakinkan.

"Aku harus membiarkan energiku mengalir ke dalam meridianmu semalaman untuk menjinakkan racun itu. Jika aku tidak melakukannya, kau sudah meledak bersama seluruh hutan ini, dan aku tidak ingin pondok obatku hancur hanya karena seorang wanita asing yang jatuh dari langit."

Mendengar penjelasan yang begitu logis dari sudut pandang medis fana, Shen Liya terpaku. Memorinya yang samar-samar tentang malam tadi mulai berputar kembali. Di balik rasa sakit yang membakar semalam, ia memang ingat ada sebuah sensasi dingin yang sangat nyaman yang ia kejar dengan putus asa. Ia ingat bagaimana jemari kokoh ini memegangnya, dan bagaimana ia sendiri yang meringkuk memeluk tubuh dingin pria ini demi mencari keselamatan.

Jadi... aku yang menariknya? pikir Shen Liya dengan hati yang hancur.

Rasa bersalah, malu, dan kemarahan kini bercampur aduk di dalam dadanya. Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pria ini jika situasinya adalah darurat medis demi menyelamatkan nyawa mereka berdua. Namun, tetap saja, kenyataan bahwa dirinya kini telah terikat secara spiritual dan fisik dengan seorang pria fana biasa membuatnya merasa terasing dari dunianya sendiri.

"Minum obatmu," potong Gu Jue, memecah keheningan yang menyesakkan itu sembari menunjuk mangkuk tanah liat. "Itu hanya herbal biasa untuk memulihkan otot-otot manusiamu yang kaku. Setelah kau bisa berjalan, silakan tinggalkan tempat ini. Aku tidak suka tamunya membawa terlalu banyak masalah."

Shen Liya menatap mangkuk obat itu dengan pandangan kosong. Kebanggaan dewinya menolak untuk menerima bantuan lagi dari pria ini. "Aku tidak butuh obatmu. Dan aku akan pergi sekarang juga."

Dengan keras kepala, Shen Liya menyibakkan selimutnya. Ia mencoba menurunkan kakinya ke lantai batu yang dingin. Namun, begitu seluruh berat badannya bertumpu pada kakinya, sisa efek samping dari racun Jue Qing San yang baru saja dinetralkan membuat seluruh ototnya mati rasa.

"Ah—"

Tubuh rapuh Shen Liya limbung ke depan. Ia bersiap untuk menghantam lantai dengan keras, namun sebuah lengan yang kokoh dan hangat dengan cepat menyusup di bawah ketiaknya, menangkap tubuhnya sebelum sempat terjatuh.

Wajah Shen Liya menghantam dada bidang Gu Jue. Aroma tubuh pria itu—perpaduan antara wangi kayu bambu yang basah, tanaman obat kering, dan secercah hawa dingin yang misterius—kembali menyerbu indra penciumannya, memicu debaran aneh di jantungnya yang berpacu liar karena memori keintiman semalam.

Gu Jue menatap ke bawah, melihat kepala wanita itu yang bersandar di dadanya. Rambut halus Shen Liya menggelitik lehernya. Detak jantung sang Dewi yang tidak beraturan terdengar jelas di telinganya.

"Sudah kubilang, jangan keras kepala," bisik Gu Jue tepat di dekat telinga Shen Liya, suaranya terdengar sedikit lebih tajam namun entah mengapa mengandung rasa aman yang pekat.

Dengan satu gerakan mudah yang tidak terbantahkan, Gu Jue kembali mengangkat tubuh Shen Liya dan membaringkannya di atas kasur. Kali ini, ia memastikan menyelimuti tubuh sang Dewi hingga sebatas dada.

Shen Liya menatap langit-langit pondok dengan mata yang mulai berkaca-kaca, membiarkan dirinya pasrah karena tubuhnya yang mengkhianati tekadnya. Ia merasa sangat lemah, sangat tidak berdaya, tidak seperti seorang dewi agung yang biasanya dipuja di langit sembilan tingkat.

"Aku akan berada di halaman depan untuk memotong kayu," kata Gu Jue sembari berbalik menuju pintu, membawa kembali mangkuk obat yang sengaja tidak diminum oleh Shen Liya agar tidak memaksanya terlalu jauh di awal.

"Jika kau butuh sesuatu, panggil saja. Tapi jangan coba-coba melarikan diri dalam kondisi kaki yang bahkan tidak bisa menopang tubuhmu sendiri."

Pintu kayu itu kembali tertutup, menyisakan kesunyian di dalam kamar. Shen Liya memiringkan tubuhnya, meringkuk di bawah selimut hangat yang masih menyisakan aroma tubuh sang "tabib fana".

Air matanya akhirnya luruh, membasahi bantal kayu yang keras. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah terikat dengan dunia fana ini, dengan perisai tak kasat mata yang diam-diam telah mengurung auranya, dan dengan pria dingin bernama Gu Jue yang tanpa ia sadari... adalah sosok paling ditakuti di seluruh Alam Kegelapan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!