Langit sore di atas Jakarta tampak muram, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah mewakili kehancuran yang tengah berkecamuk di dalam dada Anjani Direja. Anjani berdiri mematung di ambang pintu ruang kerja suaminya, Malik Wiratama. Napasnya tercekat, paru-parunya seolah menolak untuk menghirup oksigen. Tangan yang tadi memegang nampan berisi teh hangat kini gemetar hebat, hingga denting cangkir porselen yang beradu dengan tatakan terdengar sumbang di tengah kesunyian rumah mewah itu.
Di depannya, sebuah pemandangan yang seharusnya mustahil terjadi justru terpampang nyata. Malik, pria yang telah ia nikahi selama lima tahun, pria yang selalu ia banggakan kesetiaannya, kini tengah membelit pinggang wanita lain. Dan wanita itu bukanlah orang asing. Dara Mitha Dahayu, sahabat karib Anjani sejak masa kuliah, sosok yang ia anggap sebagai saudara perempuan sendiri, kini tengah tertawa renyah dalam pelukan Malik.
Dunia Anjani runtuh dalam sekejap. Rasanya seperti ribuan jarum tajam menusuk jantungnya secara bersamaan. Ia melihat ponsel Malik yang tergeletak di atas meja kerja, layarnya yang menyala menampilkan pesan singkat bernada mesra yang tak sanggup lagi ia baca lebih jauh. Pengkhianatan ini terasa dua kali lipat lebih menyakitkan karena melibatkan dua orang yang paling ia percayai di dunia ini.
"Anjani?"
Suara Malik yang berat dan tenang kini terdengar seperti belati bagi telinga Anjani. Malik melepaskan pelukannya dari Dara, namun tidak ada ekspresi bersalah atau malu di wajahnya. Pria itu justru menatap Anjani dengan tatapan datar, seolah keberadaan istrinya di sana hanyalah gangguan kecil dalam rencananya. Sementara itu, Dara hanya menunduk, menyembunyikan seringai kemenangan yang tipis di balik helai rambutnya yang terurai.
Sebelum Anjani mampu mengeluarkan satu patah kata pun dari tenggorokannya yang tercekat, suara melengking yang familiar dan menyakitkan telinga memecah suasana.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di depan pintu? Dasar tidak punya sopan santun!"
****
Bu Anne, ibu mertua Anjani, melangkah masuk ke ruangan dengan angkuh. Jubah sutranya menjuntai di lantai marmer, seolah-olah rumah itu adalah istana miliknya seorang. Matanya yang tajam bak elang segera tertuju pada Anjani. Tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tanpa peduli pada air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata menantunya, Bu Anne langsung mengeluarkan taringnya.
"Oh, lihat ini! Si gembel ini berdiri seperti orang linglung. Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain memata-matai suamimu, hah?" Bu Anne berjalan mendekat, menunjuk wajah Anjani dengan jari yang dihiasi cincin berlian besar. Suaranya yang cempreng, yang sering Anjani sebut sebagai 'mulut petasan banting', memenuhi ruangan dengan cacian yang menyayat hati.
"Anjani, aku sudah muak melihat wajah pasrahmu itu! Kau pikir dengan wajah memelas seperti itu kau bisa menutupi asal-usul keluargamu yang miskin papa? Kau ini benalu! Malik seharusnya menikah dengan wanita yang sepadan, bukan dengan gadis kampung yang datang dari keluarga tidak jelas seperti kau!"
Anjani terdiam, bukan karena ia takut, melainkan karena ia tengah berusaha mengumpulkan serpihan harga dirinya yang berserakan. Ia menatap Malik, berharap pria itu akan membela atau setidaknya menegur ibunya. Namun, Malik justru berbalik memunggungi mereka, kembali duduk di kursi kerjanya dan sibuk dengan dokumen di depannya, mengabaikan drama yang terjadi seolah-olah Anjani sudah tidak lagi dianggap sebagai manusia.
"Diamlah, Ma," suara Malik datar, tanpa emosi. "Dia hanya kaget. Biarkan dia pergi dari sini. Aku sedang sibuk."
"Dengar itu!" Bu Anne meludah kata-katanya ke arah Anjani. "Bahkan anakku saja jijik melihatmu! Kau tidak tahu malu, sudah numpang hidup, tidak bisa memberi cucu, sekarang malah mengganggu pekerjaan suamimu. Pergi! Jangan sampai aku memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari rumah ini, atau sekalian aku masukkan kau ke sel polisi karena kau sudah berani masuk ke ruang kerja tanpa izin!"
****
Anjani merasakan kemarahan yang luar biasa, namun ia juga menyadari satu hal: di rumah ini, ia sudah tidak memiliki siapa-siapa. Cinta Malik telah mati, sahabatnya telah berkhianat, dan ibu mertuanya adalah iblis yang siap mencabik-cabiknya setiap detik.
"Aku bukan benalu," suara Anjani bergetar, namun tegas. Ia meletakkan nampan teh yang masih ia pegang dengan perlahan ke atas meja nakas di dekat pintu. "Dan aku tidak pernah memohon untuk berada di sini. Perselingkuhan ini... aku sudah melihatnya. Malik, kau dan Dara... kalian benar-benar menjijikkan."
Dara yang sedari tadi diam akhirnya mengangkat wajah. Ia menatap Anjani dengan tatapan merendahkan. "Anjani, jangan dramatis. Malik hanya tidak bahagia bersamamu. Kau terlalu membosankan. Kau tidak tahu cara bersenang-senang, tidak seperti kami."
Bu Anne tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar seperti suara besi beradu. "Dengar itu! Bahkan temanmu sendiri sudah muak denganmu. Memang benar kata orang, orang miskin itu mentalnya tidak akan pernah bisa naik kelas. Sudah, pergi sana! Jangan tunjukkan lagi wajah memuakkanmu itu di depan rumahku!"
Anjani menatap mereka satu per satu. Malik yang pengecut, Dara yang pengkhianat, dan Bu Anne yang lalim. Ia menyeka air mata di pipinya dengan kasar. Hari ini, ia menyadari bahwa ia telah membuang lima tahun hidupnya untuk orang-orang yang tidak layak. Ia berbalik, langkah kakinya terasa berat namun mantap saat ia mulai berjalan meninggalkan ruangan itu.
****
Di belakangnya, ia masih bisa mendengar suara Bu Anne yang terus memaki, menghina latar belakang keluarganya, membandingkan betapa kayanya keluarga Dara dengan keluarga Anjani yang sederhana. Setiap kata yang keluar dari mulut wanita tua itu adalah racun, namun entah mengapa, Anjani tidak lagi merasa sakit. Ia justru merasa terbebaskan.
Saat kakinya menapak keluar dari pintu utama rumah besar tersebut, angin malam menerpa wajahnya. Ia tidak membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia tidak lagi memikirkan harta, tidak memikirkan reputasi, dan tidak lagi memikirkan pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.
Anjani Direja baru saja kehilangan dunianya, namun di balik kehancuran itu, sebuah tekad baja mulai tumbuh. Ia tidak akan membiarkan mereka menginjak-injak harga dirinya lebih jauh. Ini bukan akhir dari segalanya, melainkan babak baru yang justru akan membawa kejutan bagi Malik, Dara, dan sang mertua lalim itu.
Anjani berjalan menjauh dari rumah megah itu, tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia tahu, perjalanan yang akan ia tempuh setelah ini tidak akan mudah, namun ia akan memastikan bahwa orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan, Anjani bukan lagi wanita yang lemah dan pasrah. Ia adalah seseorang yang baru saja bangkit dari abu kehancurannya sendiri, siap untuk menuntut keadilan.
Langkah kaki Anjani terasa seberat timah saat ia menyusuri jalan setapak menuju rumah petak sederhana di pinggiran kota. Cat tembok yang mengelupas dan aroma tanah basah setelah hujan menyambutnya, kontras dengan lantai marmer dingin dan wewangian mahal di rumah Malik yang baru saja ia tinggalkan. Di sini, di rumah ini, Anjani dulu dibesarkan dengan kasih sayang yang tulus meski dalam keterbatasan. Namun, hari ini ia datang bukan sebagai putri yang membanggakan, melainkan sebagai sosok yang hancur, menanggung malu atas kegagalan rumah tangga yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat.
Pintu kayu yang berderit nyaring terbuka. Di ruang tamu yang hanya berisi dua kursi kayu tua dan sebuah meja kecil, Pak Santo tengah duduk melipat koran sore, sementara Bu Purwati sibuk menjahit robekan baju di sudut ruangan. Begitu pandangan mereka beralih ke pintu, suasana hening seketika.
Bu Purwati menjatuhkan jahitan di pangkuannya. Matanya yang mulai rabun memicing, mencoba memastikan sosok yang berdiri di depan pintu adalah benar putrinya. "Anjani? Kamu... kenapa pulang malam-malam begini? Malik mana?"
Anjani tak sanggup menjawab. Tenggorokannya tercekat oleh isak yang sejak tadi ia tahan. Ia hanya mampu berdiri mematung, dengan bahu yang bergetar hebat. Melihat kondisi putrinya yang kacau—wajahnya pucat, matanya sembap, dan pakaiannya yang sedikit berantakan—insting seorang ibu langsung bereaksi. Bu Purwati bangkit dari duduknya dengan terburu-buru, kakinya tertatih menghampiri Anjani.
"Anjani? Sayang, ada apa?" Bu Purwati memeluk putrinya dengan erat. Saat merasakan tubuh Anjani yang dingin dan gemetar, bendungan air mata Bu Purwati akhirnya jebol. "Anakku... apa yang terjadi? Kenapa kamu pulang dengan wajah seperti ini? Apa Malik menyakitimu?"
Pak Santo berdiri dengan perlahan. Ia meletakkan korannya ke atas meja dan menatap tajam ke arah Anjani. Kerutan di dahi pria tua itu semakin dalam, menyiratkan firasat buruk yang mulai nyata. "Jani, katakan pada Bapak. Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya kamu berada di rumah suamimu?"
****
Anjani melepaskan pelukan ibunya perlahan, lalu duduk di kursi kayu yang terasa keras. Ia menunduk, menatap lantai semen yang retak. Dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, ia mulai menceritakan semuanya. Mulai dari kecurigaannya, hingga momen saat ia memergoki Malik dan Dara di ruang kerja. Ia tak melewatkan sedikit pun detail tentang cemoohan Bu Anne, tentang penghinaan mertuanya terhadap status sosial orang tuanya yang sederhana, dan tentang bagaimana suaminya sendiri tak sedikit pun menunjukkan pembelaan.
Ruangan itu mendadak sunyi senyap setelah Anjani menyelesaikan ceritanya. Hanya terdengar suara detak jam dinding tua yang beradu dengan isak tangis tertahan Bu Purwati.
Bu Purwati menutupi mulutnya dengan sapu tangan, air matanya berderai deras. Hatinya seperti diiris sembilu mendengar betapa hinanya perlakuan keluarga kaya raya itu terhadap putrinya yang ia besarkan dengan tetesan keringat dan doa. "Tega-teganya mereka... Tega-teganya mereka menghinamu seperti itu, Jani. Ibu tidak pernah meminta banyak, Ibu hanya ingin kamu bahagia. Kenapa Malik begitu kejam? Apa gunanya harta yang mereka punya kalau mereka tidak punya hati nurani?"
Pak Santo, yang sedari tadi terdiam, mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu. Sebagai seorang ayah yang selalu berusaha menjaga martabat keluarganya meski dalam kemiskinan, mendengar putrinya diinjak-injak harga dirinya oleh ibu mertua yang angkuh dan dikhianati oleh pria yang ia percayai, adalah pukulan yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan pekerjaan atau uang.
"Jadi itu alasan mereka selama ini memandang kita rendah?" suara Pak Santo rendah namun bergetar hebat karena amarah. Ia menatap dinding, seolah sedang menahan gejolak emosi yang hampir meledak. "Selama ini Bapak diam, Bapak sabar karena Bapak pikir menantu Bapak adalah pria terhormat yang bisa membahagiakanmu. Tapi kalau ternyata dia hanya pengecut yang membiarkan ibunya menginjak-injak kehormatan istri sendiri... Malik benar-benar tidak pantas mendapatkanmu, Jani."
"Pak, tolong jangan marahi Malik dulu," isak Anjani lirih. "Aku sudah tidak peduli padanya. Yang membuatku sakit adalah... Bu Anne menghina Bapak dan Ibu dengan kata-kata yang tidak pantas. Dia bilang kita keluarga sampah yang menumpang hidup. Dia bilang... dia bilang aku ini parasit."
****
"Parasit?" Pak Santo tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh dengan kepedihan. Ia melangkah mendekati Anjani, lalu meletakkan tangannya yang kasar dan penuh bekas luka kerja di atas pundak putrinya. "Anjani, dengarkan Bapak. Kita memang miskin, kita memang tidak punya rumah mewah atau harta berlimpah seperti mereka. Tapi Bapak tidak pernah mendidikmu untuk menjadi wanita yang tidak punya harga diri. Rumah ini memang kecil, tapi tidak ada satu pun orang di dalamnya yang pernah mengkhianati orang lain."
Bu Purwati mendekat dan membelai rambut Anjani dengan penuh kasih. "Anjani, Nak, kalau kamu memang tidak bahagia lagi di sana, Ibu tidak akan memaksamu untuk kembali. Biarlah kita hidup susah asalkan hati kita tenang. Ibu tidak rela kalau kamu harus diperlakukan seperti babu di rumah suamimu sendiri."
Anjani menatap orang tuanya bergantian. Di mata Pak Santo, ia melihat sebuah tekad untuk melindungi, sementara di mata Bu Purwati, ia melihat ketulusan yang selama ini ia abaikan demi ambisi dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang sempurna. Ia menyadari satu hal: di saat dunia luar menghujat dan mengkhianatinya, rumah inilah tempat satu-satunya yang menerima ia apa adanya.
"Aku tidak akan kembali, Bu," ucap Anjani mantap, menghapus sisa air mata di pipinya. "Tapi aku juga tidak akan membiarkan mereka menang begitu saja. Mereka pikir dengan menginjak-injak kita, mereka bisa lepas tangan begitu saja? Tidak, aku akan memastikan mereka tahu bahwa Anjani Direja bukanlah wanita yang bisa dibuang sesuka hati."
****
Pak Santo menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secercah kebanggaan yang tumbuh di sana, namun juga kekhawatiran yang mendalam. "Apa yang ingin kamu lakukan, Jani? Jangan sampai dendam menghancurkan dirimu seperti mereka menghancurkanmu."
"Aku tidak ingin menghancurkan mereka, Pak," jawab Anjani dengan nada dingin yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku, dan membuktikan pada mereka bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh isi rekening bank mereka."
Malam itu, di rumah kecil tersebut, keputusan besar telah diambil. Anjani bukan lagi wanita yang datang dengan tangisan pilu. Ia adalah wanita yang sedang menata strategi. Sementara di luar, hujan mulai reda, meninggalkan genangan yang mencerminkan cahaya lampu jalanan yang remang—seperti nasib Anjani yang kini tengah bersiap untuk menentukan arah masa depannya sendiri.
Namun, Anjani sadar bahwa Malik dan Bu Anne bukanlah lawan yang mudah. Mereka memiliki kekuasaan, jaringan, dan uang untuk membungkam siapa saja. Sementara ia, hanya memiliki orang tua yang renta dan tekad yang kini menyala dalam dadanya. Apakah kekuatan tekad ini cukup untuk meruntuhkan tembok kesombongan keluarga Wiratama yang angkuh itu?
Matahari pagi belum sepenuhnya naik ke ufuk timur, namun ketenangan di rumah Pak Santo sudah terusik. Suara mesin mobil mewah yang menderu keras di depan rumah petak mereka yang sempit memecah keheningan jalanan kampung. Suara pintu mobil dibanting dengan kasar disusul langkah sepatu hak tinggi yang mengetuk-ngetuk tanah berbatu, menciptakan irama yang angkuh dan mengintimidasi.
Anjani, yang baru saja hendak menyeduh teh untuk ibunya, membeku. Ia tahu siapa pemilik langkah kaki itu.
Belum sempat Anjani melangkah ke pintu depan, pintu kayu tua rumah mereka didorong dengan kasar. Bu Anne berdiri di sana, mengenakan setelan desainer yang mencolok, kacamata hitam besar bertengger di hidungnya, dan ekspresi wajah yang seolah sedang mencium bau busuk yang sangat menyengat. Di belakangnya, dua orang pria berbadan tegap berjas hitam berdiri seperti pengawal pribadi, membuat suasana ruang tamu yang kecil itu terasa sesak dan mencekam.
Bu Purwati yang sedang melipat kain di dekat jendela tersentak kaget hingga hampir terjatuh. "A-astaga... siapa kalian?"
Pak Santo yang sedang memperbaiki rak sepatu di sudut ruangan segera berdiri, menatap para tamu tak diundang itu dengan tatapan waspada namun bermartabat. "Siapa Anda? Dan apa maksudnya masuk ke rumah orang tanpa permisi seperti ini?"
Bu Anne melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang penuh dengan kebencian dan penghinaan. Ia menatap sekeliling ruangan dengan tatapan yang merendahkan. "Jadi ini sarang kalian? Pantas saja menantu saya—maksud saya, mantan menantu saya—tidak pernah berkelas. Tempat ini lebih mirip gudang penyimpanan barang bekas daripada rumah tinggal. Bau pengapnya saja sudah membuat kepalaku pusing!"
Anjani melangkah maju, tubuhnya menegang namun tatapannya tajam menatap mertuanya. "Apa maumu, Bu Anne? Setelah apa yang kalian lakukan padaku, apa lagi yang belum cukup?"
Bu Anne mendengus sinis. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari tas tangannya yang berharga puluhan juta rupiah. Dengan gerakan yang penuh kebencian, ia melemparkan amplop itu tepat ke arah wajah Anjani. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan ke lantai, mendarat di depan kaki Anjani.
****
"Itu surat gugatan cerai," ucap Bu Anne dengan suara cempreng yang menusuk telinga. "Malik sudah menandatanganinya. Dia sudah muak hidup dengan wanita yang tidak punya kelas sepertimu. Baca itu! Dia menuntut hak atas seluruh aset yang selama ini dia biayai. Kau tidak akan mendapatkan satu sen pun dari harta keluarga Wiratama. Anggap saja selama lima tahun ini kau sudah cukup beruntung bisa menumpang hidup di istana kami."
Anjani memungut salah satu lembar kertas itu. Tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mulai membakar dadanya. Di sana tertulis poin-poin yang tidak masuk akal; Anjani dituduh sebagai istri yang tidak berbakti, mandul, dan bahkan ada tuduhan palsu mengenai penggelapan uang perusahaan. Malik benar-benar ingin menghancurkannya secara total.
Pak Santo, yang melihat putrinya diperlakukan seperti sampah, maju ke depan. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena harga dirinya sebagai seorang ayah yang diinjak-injak. "Anda keterlaluan, Bu. Kami memang miskin, kami memang tidak punya apa-apa secara materi, tapi kami punya harga diri! Apa Anda pikir Anda bisa membeli kebahagiaan anak saya dengan harta? Dan apa Anda pikir Anda bisa memperlakukan anak saya seperti budak hanya karena Anda kaya?"
****
Bu Anne tertawa melengking, sebuah tawa yang merendahkan. Ia berjalan mendekati Pak Santo, menunjuk wajah pria tua itu dengan jari yang dipenuhi perhiasan. "Harga diri? Bicara tentang harga diri? Pak Tua, harga diri itu untuk orang-orang yang bisa hidup layak! Kalian ini apa? Hanya parasit yang menempel pada pohon besar bernama keluarga Wiratama. Jangan sok suci di depanku! Kalian seharusnya bersyukur putri kalian bisa mencicipi kehidupan mewah berkat Malik. Tanpa Malik, putri kalian mungkin masih sibuk mencari uang untuk bayar sewa kontrakan kumuh ini!"
Bu Purwati terisak di sudut ruangan, tangannya gemetar memegang dadanya yang sesak. "Tolong... tolong hentikan. Kami tidak pernah meminta harta anak Anda. Kami hanya ingin Anjani bahagia. Kenapa Anda begitu jahat?"
"Diam kau, wanita kampung!" teriak Bu Anne, membuat suara cemprengnya bergema di ruangan sempit itu. "Aku sudah cukup sabar selama lima tahun menahan diri melihat Anjani yang kampungan itu ada di silsilah keluargaku. Sekarang, dengan surat itu, dia bukan lagi siapa-siapa. Dia adalah sejarah yang akan segera kami hapus. Dan kau, Anjani, dengar baik-baik: jangan berani-berani mencoba menuntut hak gono-gini atau mengancam Malik. Jika kau berani melangkah ke pengadilan dengan klaim macam-macam, aku punya seribu cara untuk membuatmu membusuk di penjara!"
Anjani menatap mata mertuanya. Ia tidak lagi melihat sosok ibu mertua yang ia takuti dulu. Ia hanya melihat seorang wanita tua yang kehilangan akal sehat karena kesombongannya sendiri.
"Ibu," suara Anjani terdengar tenang, justru jauh lebih mengintimidasi daripada teriakan Bu Anne. "Ibu pikir dengan semua kekuasaan ini, Ibu sudah menang? Ibu mungkin bisa membuat Malik menandatangani surat cerai, dan Ibu mungkin bisa membuatku tidak mendapatkan apa pun dari harta yang dia miliki. Tapi Ibu lupa satu hal."
****
Anjani berdiri tegak, merapikan rambutnya. "Ibu tidak bisa membeli kebenaran. Dan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan Wiratama selama lima tahun terakhir, tentang siapa yang sebenarnya mengelola semua pembukuan itu, ada di tangan saya. Saya mungkin miskin, tapi saya tidak bodoh. Saya menyimpan semua cadangan data yang selama ini kalian anggap tidak penting."
Wajah Bu Anne sedikit pucat, meski ia segera menutupinya dengan seringai angkuh. "Gertak sambal! Kau pikir aku takut dengan ancaman kosongmu?"
"Kita lihat saja nanti," jawab Anjani dingin. "Silakan keluar dari rumah orang tua saya sekarang. Sebelum saya memanggil polisi untuk melaporkan tindakan pengancaman dan pencemaran nama baik yang baru saja Anda lakukan di sini. Saya memiliki rekaman percakapan kita sejak Anda menginjakkan kaki di pintu rumah ini."
Bu Anne terbelalak. Ia menatap ponsel Anjani yang tergeletak di meja, yang lampu indikatornya menunjukkan sedang merekam. Wajahnya yang tebal dengan makeup tampak menegang. Ia tahu bahwa jika rekaman ini tersebar ke publik atau rekan bisnis Malik, reputasi keluarga Wiratama bisa hancur berantakan.
"Kau... kau berani?!" desis Bu Anne.
"Keluar!" suara Pak Santo membentak dengan penuh wibawa. Meskipun ia hanyalah pria sederhana, keberaniannya saat ini membuat pengawal Bu Anne pun tampak ragu untuk bertindak.
Bu Anne mendengus kasar, memutar tubuhnya dengan angkuh. "Ini belum berakhir, Anjani. Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan dengan keangkuhanmu itu!"
Setelah rombongan itu pergi, suasana kembali sunyi. Pak Santo jatuh terduduk di kursinya, napasnya tersengal. Bu Purwati segera memeluk putrinya sambil menangis. Anjani tidak menangis. Ia memandang surat gugatan cerai di tangannya dengan tatapan yang tajam.
Ia telah memenangkan pertempuran kecil hari ini, tapi ia tahu, perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Malik bukan hanya sekadar suami yang berselingkuh; ia adalah lawan yang akan melakukan apa saja untuk melindungi kedudukannya.
"Jani," suara Pak Santo terdengar serak. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa benar kamu memiliki bukti-bukti itu?"
Anjani menatap orang tuanya dengan tekad yang membaja. "Ya, Pak. Selama lima tahun, Malik selalu menyuruhku mengurus semua dokumen rahasianya agar dia bisa bersenang-senang dengan Dara. Dia tidak tahu bahwa aku selalu membuat salinan setiap kali aku menandatangani sesuatu atas nama perusahaan. Dia pikir aku hanya istri penurut yang bodoh."
Anjani meremas kertas cerai itu hingga lecek. "Mereka ingin aku pergi dengan tangan kosong dan kehancuran? Baiklah. Kalau mereka menginginkan perang, maka mereka akan mendapatkan perang yang akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!