"Brengsek..."
Umpatan itu meluncur pelan dari bibir Kael Lucien Raventhorne. Tangannya bergetar saat menggenggam selembar surat hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Tatapannya terpaku pada beberapa baris tulisan yang terasa seperti menghancurkan seluruh harapannya.
Surat itu menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi reproduksi Kael mengalami gangguan serius sehingga peluangnya untuk memiliki anak secara alami sangat kecil.
"Ini pasti ada yang keliru..."
Kael mengangkat wajahnya dengan sorot mata penuh penolakan. Ia tidak sanggup menerima kenyataan itu begitu saja. Tanpa berpikir panjang, ia meminta dokter melakukan pemeriksaan ulang terhadap sampel benihnya. Dalam benaknya, pasti telah terjadi kesalahan pada pemeriksaan pertama.
Namun, harapan itu hanya bertahan sesaat.
Beberapa waktu kemudian, dokter kembali datang membawa hasil pemeriksaan kedua. Dengan nada tenang dan penuh empati, dokter menyampaikan bahwa hasilnya tetap sama.
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Kael hanya mampu menatap kosong lembar hasil pemeriksaan di tangannya.
Dokter kemudian menjelaskan bahwa kondisi tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan kecelakaan hebat yang dialami Kael beberapa minggu lalu. Benturan dan cedera yang dideritanya diduga memengaruhi fungsi reproduksinya. Meski begitu, dokter menegaskan bahwa masih diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui tingkat kerusakan serta peluang penanganan yang mungkin dapat dilakukan.
Penjelasan itu bagaikan petir di siang bolong.
Beberapa minggu yang lalu, Kael nyaris kehilangan nyawanya dalam sebuah kecelakaan. Saat ia mulai yakin bahwa dirinya telah melewati masa terburuk, takdir kembali memberinya pukulan yang jauh lebih menyakitkan.
Perlahan, jemarinya menggenggam kuat surat itu hingga kusut.
Rasa marah, kecewa, dan putus asa bercampur menjadi satu. Luka di tubuhnya mungkin mulai sembuh, tetapi luka di hatinya baru saja terbuka.
Mimpi sederhana yang selama ini ia simpan—membangun keluarga dan suatu hari mendengar tawa anaknya sendiri—seakan runtuh dalam hitungan detik.
Kael memejamkan mata, menarik napas panjang yang terasa begitu berat. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ia benar-benar merasa hidupnya telah berubah. Bukan karena bekas luka yang masih menghiasi tubuhnya, melainkan karena kenyataan pahit bahwa masa depan yang selama ini ia impikan kini terasa semakin sulit untuk diraih.
Srak... Srak...
Tiba-tiba suara robekan kertas memecah keheningan ruang konsultasi.
Dengan rahang mengeras dan tatapan dipenuhi amarah, Kael merobek dua lembar hasil pemeriksaan itu menjadi beberapa bagian. Potongan-potongan kertas kemudian ia lepaskan begitu saja hingga berhamburan di lantai, tepat di depan meja dokter yang sedari tadi hanya bisa menghela napas panjang.
Dokter paruh baya itu tetap berdiri tenang. Rambutnya yang hampir seluruhnya memutih membuat raut wajahnya tampak semakin bijaksana. Ia memahami bahwa pria di hadapannya sedang berusaha menerima kenyataan yang begitu berat.
"Maafkan saya, Tuan. Saya mengerti ini bukan kabar yang mudah diterima." ucap dokter itu dengan suara pelan dan penuh simpati.
Kael terkekeh hambar. Tatapannya tajam, seolah menantang takdir.
"Jadi menurutmu aku tak akan pernah punya anak?" katanya lirih, lalu menggeleng sambil tersenyum sinis. "Kalau begitu, aku akan membuktikan sendiri. Aku akan terus menjalani hidup sesukaku dan mendekati siapa pun yang kuinginkan. Sampai akhirnya aku tahu... apakah ucapanmu benar, atau justru salah."
Tanpa menunggu jawaban, Kael berbalik menuju pintu.
Setiap langkahnya terdengar berat, namun emosinya jauh lebih berat daripada langkah kakinya. Di balik punggungnya yang tampak tegar, amarah, kecewa, dan rasa hancur bercampur menjadi satu.
Sesaat, jemarinya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Bukan karena ia ingin melukai dokter yang hanya menyampaikan hasil pemeriksaan, melainkan karena ia tahu kemarahannya tak akan mampu mengubah kenyataan.
Dengan napas yang masih memburu, Kael akhirnya membuka pintu ruang pemeriksaan dan pergi meninggalkan rumah sakit, membawa luka yang tak terlihat, tetapi jauh lebih dalam daripada luka mana pun yang pernah ia rasakan.
...----------------...
Hari demi hari berlalu.
Pagi itu, suasana mansion megah milik Kael masih diselimuti keheningan.
Di ruang kerja, cahaya matahari yang menembus jendela kaca tak mampu menghangatkan ruangan luas bernuansa abu-abu itu. Kael berdiri membelakangi pintu, menatap hamparan bunga di halaman mansion tersebut. Wajahnya tetap dingin, tetapi sorot matanya menyimpan gejolak yang tak mampu ia sembunyikan.
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pelan.
"Masuk."
Cassian Vale, asisten kepercayaannya, melangkah masuk dan berdiri dengan sikap hormat.
Tanpa menoleh sedikit pun, Kael membuka suara.
"Cassian... carikan aku seorang gadis untuk malam ini." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada datar. "Aku ingin merasakan bagaimana rasanya bersama perempuan yang belum pernah disentuh pria lain."
Perintah itu membuat Cassian terdiam sesaat.
Seumur hidup mengenal Kael, baru kali ini atasannya meminta hal seperti itu. Selama ini Kael tak pernah sekalipun berhubungan dengan gadis yang belum pernah menikah.
"Baik, Tuan. Saya akan mengusahakannya." jawab Cassian akhirnya, meski keraguan jelas tersirat di wajahnya.
Begitu keluar dari apartemen, Cassian langsung mengembuskan napas panjang.
Mencari seorang gadis yang memenuhi seluruh kriteria Kael bukanlah perkara mudah. Rasanya seperti mencari sebutir pasir yang berbeda di tengah hamparan pantai. Namun, sebagai orang kepercayaan Kael, ia tak memiliki pilihan selain menjalankan perintah itu sebaik mungkin.
Sepanjang pagi, Cassian menghubungi beberapa agensi yang memiliki jaringan luas. Ia menawarkan kerja sama dengan imbalan yang sangat besar, asalkan mereka mampu menemukan seorang gadis yang sesuai dengan permintaan Kael malam itu.
Bukan sekadar muda, gadis itu juga harus berpenampilan menarik, memiliki kepribadian yang baik, dan memenuhi seluruh syarat yang diminta sang tuan.
Cassian juga meminta setiap kandidat melalui pemeriksaan kesehatan sesuai prosedur yang berlaku demi memastikan semuanya dalam kondisi baik.
Berjam-jam berlalu tanpa hasil yang memuaskan.
Hingga akhirnya, salah satu agensi kembali menghubunginya.
Mereka mengaku memiliki seorang gadis yang baru bergabung beberapa bulan terakhir. Usianya baru menginjak dua puluh tahun, berparas cantik, dan memiliki latar belakang yang sesuai dengan kriteria yang diminta.
Cassian menatap profil digital yang baru saja dikirimkan ke ponselnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
"Baik," ucapnya kepada direktur agensi. "Siapkan dia. Antar ke Grand Imperial Hotel, Presidential Suite 2701, malam ini."
Setelah panggilan berakhir, Cassian memandang layar ponselnya sekali lagi.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia berharap perintah itu tidak akan berakhir dengan penyesalan bagi siapa pun yang terlibat.
...****************...
📚 BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN ✨
Hai, teman-teman! 😊
Kalau kalian lagi cari novel yang penuh drama, bikin penasaran, ada romansa, konflik, dan plot yang seru, coba deh baca BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN.
Siapa sangka, seorang bos mafia yang dikenal dingin justru harus menghadapi situasi yang bisa mengubah hidupnya. Akankah kehadiran seorang bayi meluluhkan hati yang selama ini tertutup?
Yuk, ikuti kisahnya dari awal sampai akhir! Semoga ceritanya bisa menemani waktu santai kalian dan bikin susah berhenti baca. 😄
Jangan lupa tinggalkan komentar ya. Aku senang banget membaca pendapat, tebakan, atau teori kalian tentang jalan ceritanya.
Terima kasih banyak sudah mampir dan mendukung karya ini. Selamat membaca! ❤️
✍️ Yudi Chandra
Aurora Elise Beaumont, gadis berusia dua puluh tahun, berdiri di balik tirai berat berwarna biru tua. Dentuman musik orkestra yang lembut mulai mengalun dari balik panggung, menandakan bahwa gilirannya hampir tiba. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena inilah malam yang selama ini ia impikan.
Lampu panggung perlahan menyala, menyoroti sosoknya yang anggun dalam balutan gaun balet berwarna putih keperakan. Ia melangkah perlahan, lalu mulai menari. Setiap gerakannya begitu lembut, penuh penghayatan, seolah bercerita tentang harapan, kehilangan, dan keteguhan hati. Penonton terdiam, terpaku oleh keanggunan gadis yang menari di atas panggung itu.
Aurora adalah seorang penari balet. Meski baru pertama kali tampil secara profesional di sebuah pertunjukan besar, bakatnya begitu memukau. Gerakannya mengalir begitu alami, seakan tubuhnya menyatu dengan musik. Banyak yang tak percaya bahwa ini adalah debutnya. Namun, Aurora tahu betul, semua ini bukan keajaiban semata—melainkan hasil dari latihan bertahun-tahun dan mimpi yang tak pernah padam.
"Luar biasa... dia luar biasa." bisik seseorang di antara penonton.
"Aurora Elise Beaumont... nama yang akan kita dengar lebih sering mulai malam ini." sahut yang lain penuh kagum.
Namun, di balik tepuk tangan meriah dan sorotan panggung yang gemerlap, Aurora menyimpan sebuah kisah yang tidak banyak orang tahu.
Ia adalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya telah tiada sejak ia masih kecil. Kini, ia hanya memiliki satu-satunya keluarga di dunia ini—kakaknya, Adrian Theodore Beaumont. Pria itu bukan hanya kakak baginya, tetapi juga pengganti peran ayah dan ibu.
Adrian selalu ada di setiap langkah Aurora. Ia yang mengantarkan Aurora ke sekolah balet, menjemputnya saat latihan hingga larut malam, memastikan adiknya makan dengan cukup, dan selalu menjadi sandaran ketika Aurora merasa lelah. Meski sibuk dengan pekerjaannya sendiri, Adrian tidak pernah absen dari kehidupan Aurora.
Aurora memang tidak pernah tahu apa pekerjaan kakaknya. Ia hanya tahu, Adrian bekerja di sebuah organisasi yang entah apa namanya. Setiap hari, Adrian menghabiskan waktu di depan komputer, menatap layar dengan serius. Kadang ia menerima panggilan di tengah malam, kadang pula pergi begitu pagi tanpa banyak bicara.
Pernah suatu malam, saat mereka makan malam berdua, rasa penasaran Aurora akhirnya tak bisa lagi ia sembunyikan.
"Kak, sebenarnya kakak kerja di mana?" tanyanya hati-hati. "Aku cuma tahu Kakak selalu di depan komputer. Organisasi apa memangnya?"
Adrian hanya tersenyum kecil. Ia mengusap pelan kepala adiknya sebelum menjawab dengan nada tenang.
"Yang perlu kamu tahu cuma satu, Aurora. Kakak bekerja agar kamu bisa terus mengejar mimpimu. Soal pekerjaan kakak... biarkan itu jadi urusan kakak."
Aurora hanya mengangguk. Ia tahu, Adrian tidak suka membicarakan pekerjaannya. Karena itu, ia tidak pernah memaksa. Yang ia tahu, apapun keinginannya—dari sepatu pointe, les tambahan, hingga keinginan kecil yang bahkan tak pernah ia ucapkan—semuanya selalu terwujud berkat Adrian.
Dan malam ini, setelah ia menari sepenuh hati di panggung, ia kembali mengingat semua pengorbanan kakaknya. Air matanya nyaris jatuh saat ia membungkuk memberi hormat di akhir penampilan. Ia menari bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk seseorang yang selalu percaya padanya: Adrian Theodore Beaumont.
Pertunjukan malam itu berakhir dengan gemilang. Penampilan Aurora berhasil memikat setiap tamu yang memenuhi gedung pertunjukan. Tepuk tangan panjang dan pujian yang mengalir dari berbagai kalangan menjadi bukti bahwa debut profesionalnya sebagai penari balet telah melampaui ekspektasi banyak orang.
Usai berganti pakaian, Aurora dipanggil oleh manajernya ke ruang rias.
Wanita berusia sekitar tiga puluh dua tahun itu menyambutnya dengan senyum penuh kepuasan.
"Selamat, Aurora. Penampilanmu malam ini benar-benar luar biasa," ujarnya sambil menyerahkan selembar kartu nama berwarna hitam elegan. "Ada perusahaan besar di bidang perhiasan yang tertarik menjadikanmu wajah baru mereka. Mereka ingin bertemu langsung denganmu."
Aurora menerima kartu itu dengan mata berbinar. Ini adalah kesempatan yang selama ini ia nantikan.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
"Tentu. Pertemuannya bersifat pribadi agar pembahasannya lebih nyaman. Besok malam datanglah ke Grand Imperial Hotel, Presidential Suite 2701. Mereka sudah menunggumu."
Aurora mengangguk pelan tanpa sedikit pun menyimpan rasa curiga. Selama bertahun-tahun bekerja bersama wanita itu, sang manajer selalu membimbing kariernya dengan baik. Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya bahwa orang yang begitu ia percaya justru sedang menjerumuskannya ke dalam sebuah perangkap.
Aurora sama sekali tidak mengetahui bahwa pertemuan yang disebut sebagai negosiasi kerja sama itu hanyalah kedok belaka. Diam-diam, manajernya telah menjual informasi tentang dirinya kepada salah satu organisasi mafia paling berpengaruh di negeri itu.
Sementara Aurora masih membayangkan masa depan yang semakin cerah, seseorang di balik layar tengah menyusun rencana yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya.
...----------------...
Dalam perjalanan pulang, Aurora memilih singgah di sebuah pusat perbelanjaan. Ia ingin membeli beberapa perlengkapan balet baru, sekaligus mencari hadiah kecil untuk Adrian sebagai ucapan terima kasih atas semua pengorbanan kakaknya selama ini.
Mobilnya perlahan memasuki area parkir bawah tanah. Basement mal malam itu tampak lengang. Hanya beberapa kendaraan yang terparkir berjauhan, sementara suara langkah kaki sesekali bergema di antara deretan pilar beton.
Baru saja mematikan mesin mobil, Aurora merasakan dorongan untuk segera ke toilet.
"Aduh... sepertinya aku tidak bisa menunggu lebih lama." gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.
Ia mengambil tas tangan, mengunci mobilnya, lalu melangkah menuju toilet yang berada di sudut basement. Lorong menuju ke sana terlihat sepi dan diterangi cahaya lampu yang redup. Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa sejak ia memasuki area parkir, sepasang mata tajam telah mengawasi setiap gerakannya dari kejauhan.
Aurora mempercepat langkahnya menyusuri lorong basement yang lengang. Pantulan suara hak sepatu baletnya bergema pelan di antara dinding beton yang dingin. Cahaya lampu putih yang redup membuat suasana terasa semakin sunyi. Di ujung lorong, ia melihat papan penunjuk menuju toilet wanita.
Tanpa berpikir panjang, Aurora mendorong pintu toilet itu.
Namun, baru selangkah memasuki ruangan, tubuhnya seketika membeku.
Di hadapannya, seorang pria bertubuh gempal tergeletak tak bergerak di atas lantai keramik. Pakaiannya telah berlumuran darah, sementara beberapa luka tampak memenuhi wajahnya yang pucat. Genangan darah mengelilingi tubuh pria itu, membentuk noda merah gelap yang perlahan mengalir mengikuti celah lantai.
Aurora menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan jeritan yang hampir lolos dari bibirnya. Napasnya tercekat.
Aroma anyir yang menyengat memenuhi seluruh ruangan, membuat perutnya terasa mual.
Tatapannya tanpa sadar beralih ke tangan kiri pria tersebut. Darah terus menggenang di bawah lengannya. Dari bekas luka yang tampak jelas di pergelangan tangannya, Aurora dapat menebak bahwa pria itu sudah kehilangan terlalu banyak darah. Tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Namun, pemandangan mengerikan itu ternyata bukanlah hal yang paling membuatnya ketakutan.
Beberapa langkah dari tubuh pria tersebut berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan bahu bidang. Sebagian lengan kirinya dipenuhi tato berwarna hitam yang terlihat jelas hingga ke pergelangan tangan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
Pria itu berdiri di depan wastafel, membuka keran air, lalu mencuci kedua tangannya dengan tenang. Air yang mengalir perlahan membawa noda merah yang menempel di jemarinya hingga menghilang ke lubang pembuangan. Bercak darah juga masih tampak mengenai sebagian wajah, kemeja, dan ujung lengannya.
Di atas wastafel, tergeletak sebilah belati dengan mata pisau yang masih berlumuran darah.
Pemandangan itu membuat tubuh Aurora bergetar hebat. Ia bahkan lupa bagaimana cara bernapas.
Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap pantulan cermin di depannya. Tatapan dingin itu kemudian beralih ke sosok Aurora yang masih berdiri kaku di ambang pintu.
Tak ada kepanikan di wajahnya.
Tak ada usaha untuk melarikan diri.
Seolah keberadaan seorang saksi bukanlah sesuatu yang perlu ia khawatirkan.
Pria itu adalah Kael.
Dengan gerakan tenang, Kael menutup keran air, mengambil sapu tangan berwarna hitam dari saku jasnya, lalu mengeringkan jemarinya satu per satu. Sikapnya begitu santai, seakan ruangan itu hanyalah kamar mandi biasa, bukan tempat yang baru saja menjadi lokasi sebuah pembunuhan.
Sementara itu, Aurora masih terpaku di tempatnya. Wajahnya memucat, kedua kakinya terasa lemas, dan pikirannya kosong. Ia hanya mampu menatap pria asing itu dengan rasa takut yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Malam yang semula dipenuhi kebahagiaan kini berubah menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan.
...****************...
"Astaga..."
Aurora menahan napas yang terasa semakin sesak. Jantungnya berdegup begitu keras hingga seolah hendak meloncat keluar dari dadanya.
"Apa hari ini benar-benar akan menjadi akhir hidupku?" batinnya gemetar.
Bayangan wajah orang tuanya yang telah tiada tiba-tiba memenuhi pikirannya.
"Ma... Pa... aku memang merindukan kalian. Tapi... jangan sekarang. Aku belum siap menyusul kalian."
Rasa takut yang menyelimuti Aurora kini jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah ia rasakan.
Di hadapannya, Kael perlahan mengangkat wajah.
Sepasang mata kelabu pria itu beralih menatap Aurora dengan sorot yang tajam dan sulit ditebak. Tatapan itu menyapu wajah gadis tersebut tanpa terburu-buru, seolah sedang mengamati setiap perubahan sekecil apa pun.
Aurora spontan menelan ludah.
Ia pernah melihat tatapan seperti itu di berbagai film—tatapan seseorang yang sedang berusaha memastikan apakah lawan bicaranya menyimpan sesuatu.
Kini ia sadar, berpura-pura tidak melihat atau tidak tahu apa-apa sudah bukan pilihan. Semuanya telah terlambat.
Tatapan Kael terlalu tajam untuk dikelabui.
Yang membuat Aurora semakin gugup adalah bercak merah yang menghiasi sisi wajah pria itu. Alih-alih mengurangi pesonanya, noda itu justru membuat aura dingin Kael tampak semakin liar dan mengintimidasi.
"Ya ampun... dalam situasi seperti ini aku masih sempat mengakui kalau dia tampan?" rutuk Aurora dalam hati, kesal pada dirinya sendiri.
Kael mengusap perlahan cipratan merah di pipinya dengan ujung jarinya, lalu membersihkannya menggunakan sapu tangan putih yang sedari tadi berada di saku jasnya.
Setelah itu, ia kembali menatap Aurora tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.
"Apa yang sedang kau perhatikan?" tanyanya tenang, tetapi nada suaranya cukup rendah untuk membuat bulu kuduk Aurora meremang.
Aurora berdiri membeku di ambang pintu.
Bibirnya sedikit terbuka, namun tak satu kata pun berhasil keluar. Tenggorokannya terasa kering, sementara seluruh tubuhnya menegang.
Kedua lututnya mendadak kehilangan tenaga, seolah berubah selembek agar-agar yang tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.
Napasnya terasa berat, sementara jantungnya berdetak begitu keras hingga seolah memenuhi seluruh ruangan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurora benar-benar memahami seperti apa rasanya berdiri begitu dekat dengan seseorang yang hanya dengan satu tatapan mampu membuat keberaniannya runtuh seketika.
Naluri pertamanya berteriak agar segera berlari, tetapi akal sehatnya menahan langkah itu.
Ia sadar, pria di hadapannya bukan orang biasa.
Jika ia berbalik dan mencoba melarikan diri, belum tentu ia sempat mencapai pintu keluar.
Dengan susah payah Aurora menarik napas panjang, berusaha menyembunyikan gemetar yang mulai menguasai tubuhnya. Ia menundukkan pandangan, berharap pria itu tidak menganggapnya sebagai ancaman.
Keheningan memenuhi toilet yang dingin itu.
Hanya terdengar suara tetesan air dari keran yang belum benar-benar berhenti mengalir.
Kael memecah kesunyian tanpa menoleh.
"Apa kau memang suka berdiri di depan pintu?" ucapnya datar.
Kalimat itu terdengar biasa, tetapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat bulu kuduk Aurora meremang.
Pria itu kemudian mengangkat pandangan melalui pantulan cermin.
"Atau...kau juga ingin bernasib sama dengannya?" katanya pelan sambil melirik pria bertubuh gempal yang sudah terbujur kaku di lantai.
Aurora tersentak kecil. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu kata pun berhasil keluar. Tenggorokannya terasa kering, seolah seluruh keberaniannya menghilang begitu saja.
Kael memperhatikannya beberapa detik.
"Lidahmu hilang?" tanyanya singkat, masih dengan nada yang tenang, nyaris tanpa emosi.
Aurora buru-buru menggeleng.
"T-tidak..." jawabnya lirih. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, "...aku hanya... ingin menggunakan toilet."
Untuk pertama kalinya sejak Aurora masuk ke ruangan itu, Kael memalingkan tubuhnya menghadap sang gadis.
Tatapannya tetap dingin, tetapi tidak menunjukkan niat untuk mendekat.
"Kalau begitu," ucapnya pelan, "selesaikan urusanmu. Anggap saja kau tidak melihat apa pun di ruangan ini."
Kalimat itu terdengar seperti izin.
Namun, bagi Aurora, kalimat tersebut lebih menyerupai sebuah peringatan.
Dengan kaki yang terasa lemas, ia memaksakan diri melangkah masuk. Setiap langkah terasa begitu berat. Saat melewati tubuh pria yang tergeletak di lantai, Aurora memalingkan wajahnya, berusaha keras agar tidak melihat lebih lama.
Meski demikian, ia tetap harus melangkahi tubuh itu untuk mencapai bilik toilet di sisi lain.
Tangannya gemetar ketika menyentuh gagang pintu.
Ia masuk ke dalam bilik, lalu menutup pintunya perlahan tanpa menimbulkan suara.
Baru setelah pintu tertutup rapat, Aurora menyandarkan punggungnya ke dinding. Kedua tangannya menutupi mulut, menahan napas yang nyaris berubah menjadi isak.
Di luar bilik, suasana kembali sunyi.
Aurora tidak tahu siapa sebenarnya pria menyeramkan itu.
Namun satu hal yang sangat ia yakini...
Malam ini, tanpa sengaja, ia telah masuk ke dalam dunia yang seharusnya tidak pernah ia lihat.
Aurora masih bisa merasakan tatapan itu.
Meski telah melangkah melewati Kael, nalurinya terus memaksanya menoleh. Dengan sudut matanya, ia menangkap pantulan pria itu melalui cermin besar di atas wastafel. Kael tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya berdiri tenang dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, menatap Aurora melalui pantulan cermin seolah memastikan gadis itu tidak melakukan sesuatu yang gegabah.
Tatapan mereka sempat bertemu dalam pantulan itu.
Aurora buru-buru mengalihkan pandangan.
Ia mempercepat langkah menuju bilik toilet paling ujung. Jemarinya yang gemetar nyaris gagal memutar pengunci pintu. Begitu terdengar bunyi klik, seolah seluruh tenaga di tubuhnya ikut menghilang.
Tubuhnya meluruh perlahan hingga terduduk di atas kloset. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya tanpa sadar memegangi dada yang berdegup begitu keras.
"Astaga..." bisiknya lirih. "Baru kali ini aku merasa benar-benar berhadapan dengan kematian."
Ia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menenangkan diri.
Namun bayangan tubuh pria yang tergeletak di lantai terus memenuhi pikirannya.
Lalu wajah Kael.
Tatapan dingin pria itu.
Sikapnya yang terlalu tenang.
Dan kalimatnya yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan ancaman yang sulit dijelaskan.
Aurora bahkan mulai merasa detak jantungnya terlalu keras. Sesaat ia khawatir, jika suasana di luar benar-benar sunyi, mungkin Kael bisa mendengar gemuruh jantungnya dari balik pintu bilik.
Ia menggigit bibir bawahnya pelan, memaksa dirinya bernapas lebih teratur.
"Tenang... jangan panik. Jangan membuatnya curiga."
Entah berapa lama Aurora bertahan di dalam bilik itu. Waktu terasa berjalan begitu lambat hingga setiap detik seolah berubah menjadi menit.
Lalu...
Suara pintu toilet kembali terbuka.
Aurora sontak membuka mata.
Ia menahan napas, memasang telinga.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki memasuki ruangan.
Bukan satu pasang.
Lebih dari itu.
Meski tak seorang pun berbicara, Aurora dapat membedakan irama langkah yang berbeda-beda. Ada yang berjalan mantap, ada pula yang berhenti sejenak sebelum kembali melangkah.
Paling tidak...
Ada tiga orang di luar sana.
Aurora mengernyit bingung.
"Siapa mereka?" batinnya.
"Pengunjung mall... atau orang-orang Om itu?"
Ia tidak berani membuka pintu sedikit pun untuk memastikan.
Di balik dinding tipis bilik toilet, Aurora hanya mampu memeluk dirinya sendiri, menunggu dalam diam.
Sementara di luar, suasana tetap sunyi.
Justru kesunyian itulah yang terasa paling menakutkan. Tidak ada percakapan, tidak ada suara kepanikan, seolah semua orang memahami apa yang harus dilakukan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Aurora mulai menyadari satu hal yang membuat bulu kuduknya meremang.
Mungkin...
Pria itu tidak pernah benar-benar sendirian.
...****************...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!