Indonesia
NovelToon NovelToon

Mantan Ratu Pembunuh

Bab 1: Bayang Masa Lalu di Desa Sunyi

Desa Sungai Jernang terhampar tenang tersembunyi di balik bukit hijau yang rimbun, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota maupun kekacauan yang dulu ia kenal. Di ujung jalan tanah yang berdebu dan berbatu, berdiri sebuah rumah kayu sederhana dengan teras lebar yang dikelilingi kebun bunga berwarna-warni yang mekar sepanjang tahun. Di sanalah Laras duduk sendirian menenun anyaman daun pandan, sesekali menatap aliran sungai yang berkilau keperakan di bawah cahaya matahari sore yang mulai miring. Tak ada satu pun penduduk desa yang menyangka bahwa wanita pendiam yang setiap hari merawat tanaman dan bunga ini pernah memegang kendali atas nyawa ribuan orang.

Dua tahun telah berlalu sejak ia meninggalkan masa lalunya yang kelam dan penuh darah. Dulu namanya dibisikkan dengan rasa takut di setiap sudut negeri sebagai Ratu Bayangan—pemimpin kelompok pembunuh paling ditakuti yang kekuasaannya membentang luas hingga ke perbatasan negeri. Ia melepaskan segalanya: kekuasaan mutlak, kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, serta senjata andalan yang selalu setia di pinggangnya, hanya untuk mencari tempat terpencil di mana ia bisa bernapas dengan bebas. Di sini, ia menyembunyikan bekas luka lama di tubuhnya dan mengubur dalam-dalam segala keahlian mematikannya, berharap berjalannya waktu akan sepenuhnya menghapus jejak masa lalu itu.

Angin sore berhembus pelan menggerakkan dedaunan di sekelilingnya, namun suara langkah kaki yang mendekat dengan irama yang teratur dan ringan membuat panca indranya yang tajam kembali bangkit seketika. Laras mengangkat wajah perlahan, matanya yang biasa teduh dan dingin kini menatap waspada ke arah gerbang kayu yang terbuka sedikit.

Seorang laki-laki berdiri di sana, mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap dengan satu tas kain usang tergantung di bahu kekarnya. Penampilannya tampak biasa saja tak berbeda jauh dari orang yang melintas, namun ada sesuatu pada cara ia berdiri—tegap, tenang, dan seolah selalu mengamati segala sesuatu di sekelilingnya—yang jelas membedakannya dari warga desa biasa. Saat tatapan mereka bertemu, Laras merasakan sesuatu bergetar hebat di dalam dadanya; seolah laki-laki asing itu bisa melihat menembus penyamaran yang ia bangun dengan susah payah bertahun-tahun lamanya.

"Maaf telah mengganggu ketenanganmu," ucapnya dengan suara rendah namun tegas, sambil sedikit mengangguk sopan. "Banyak warga desa yang menyebutkan bahwa di sini ada kamar yang disewakan. Aku baru saja datang dari tempat yang sangat jauh dan sedang mencari tempat tinggal yang tenang untuk sementara waktu."

Laras berdiri perlahan dari kursi kayunya, tangannya tanpa sadar menggenggam ujung kain kebaya yang ia pakai erat-erat—sebuah kebiasaan lama saat sedang menjaga diri dari bahaya. "Benar, ada satu kamar kosong di bagian belakang rumah ini," jawabnya singkat dan penuh kehati-hatian. "Namaku Laras."

"Aku Dika," jawabnya sambil tersenyum tipis, senyum yang terasa menyembunyikan banyak hal sama persis seperti dirinya. "Aku hanya mencari ketenangan dan tempat untuk beristirahat sejenak dari perjalanan panjangku."

Kata-kata itu terdengar terlalu pas untuk tidak membuatnya semakin curiga. Laras melangkah membuka lebar gerbang kayu itu, namun matanya tak lepas dari menatap tajam ke arah pendatang baru itu. "Kau boleh menginap di sini," ucapnya tegas, "tapi ingat satu hal penting yang harus kau patuhi. Di sini ada batasan rahasia. Jangan pernah bertanya hal-hal yang tak perlu kau ketahui, dan jangan mencoba mengorek masa laluku apa pun yang terjadi."

Dika berjalan masuk melewati sampingnya perlahan, dan Laras bisa merasakan ada kekuatan serta kewaspadaan tersembunyi yang juga berusaha ia sembunyikan sekuat tenaga.

"Sepakat," jawab Dika singkat sambil menoleh ke belakang, menatapnya lekat-lekat dalam waktu yang cukup lama. "Asal kau juga tidak menanyakan hal yang sama padaku."

Sore itu perlahan berakhir meninggalkan langit berwarna jingga gelap, membawa serta firasat tak menentu yang memenuhi hati Laras. Apakah kedatangan Dika adalah awal dari kisah baru yang damai, atau justru orang yang dikirim khusus untuk menyeretnya kembali ke dalam kegelapan yang berusaha ia tinggalkan sejauh mungkin?

Bersambung......

Bab 2: Tatapan yang Tak Pernah Lupa

Kamar yang disewakan itu sederhana saja, beralaskan papan kayu yang sudah mulai kusam dan berderit sedikit jika diinjak. Ruangan itu hanya berisi sebuah kasur tipis beralaskan kain tenun sederhana, sebuah meja kecil berlubang di sudut ruangan, serta jendela kayu yang terbuka menghadap ke arah bukit lebat di belakang rumah. Dika meletakkan tas kain tua yang ia bawa ke atas lantai, sementara Laras berdiri diam di ambang pintu, matanya tak lepas mengamati setiap gerak-gerik laki-laki itu seolah sedang menjaga musuh.

"Air bersih ada di tempayan besar di sudut halaman belakang. Makanan sederhana akan tersedia di meja dapur mulai pagi hingga menjelang matahari terbenam," ucapnya dengan nada datar dan singkat. Ia tetap berdiri tegak di sana, tidak berniat masuk lebih jauh. "Ada dua hal yang harus kau ingat dan patuhi: jangan pernah berkelana terlalu jauh ke bagian belakang kebun yang tertutup semak belukar, dan jangan pernah bertanya hal-hal yang tidak perlu kau ketahui tentangku atau masa laluku."

Dika perlahan berbalik menghadapnya, bersandar ringan pada dinding kayu di sebelah jendela. Ia tersenyum tipis—senyum yang terasa menyembunyikan banyak rahasia—dan menatap lurus ke arah mata Laras.

"Kau sangat berhati-hati, Laras," ucapnya pelan namun tegas, seolah setiap kata yang diucapkannya memiliki makna ganda. "Bahkan bagi seorang wanita yang tinggal sendirian jauh dari keramaian di ujung desa yang damai ini."

Laras mengeratkan genggamannya pada bingkai kayu pintu hingga buku jarinya memutih. "Di tempat asalaku dulu, kehati-hatian adalah satu-satunya cara agar seseorang bisa tetap hidup hingga esok hari. Kelalaian sedikit saja bisa berarti kematian yang datang dengan cepat."

Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, ia berbalik badan dan berjalan menjauh menyusuri lorong kayu itu, meninggalkan Dika sendirian di kamar tersebut. Ia kembali duduk di kursi kayu panjang di teras depan, namun ketenangan yang biasa ia rasakan kini sepenuhnya hilang. Angin sore berhembus kencang membawa bau tanah yang baru saja diguyur hujan ringan serta wangi melati yang tumbuh merambat di tiang rumah, namun indra penciumannya yang tajam justru menangkap bau lain—bau besi berkarat yang bercampur bau darah kering, bau yang melekat samar pada pakaian pendatang itu. Bau yang sudah sangat ia kenal dan ia benci seumur hidupnya.

Malam pun perlahan turun, menyelimuti seluruh desa dalam kegelapan pekat dan kesunyian yang mendalam. Hanya suara jangkrik dan aliran sungai yang terdengar memecah keheningan. Namun Laras sama sekali belum bisa memejamkan mata. Ia duduk tegak di atas tempat tidurnya, telinganya menangkap setiap suara sekecil apa pun yang terjadi di dalam rumah itu. Hingga terdengar suara langkah kaki yang mendekat—langkah yang sangat ringan, nyaris tak bersuara, persis seperti cara orang yang terlatih bergerak diam-diam di balik bayang-bayang gelap.

Pintu kamarnya diketuk pelan sekali, hanya satu ketukan lembut.

"Kau belum tidur?" suara Dika terdengar rendah dari balik dinding kayu.

Laras segera bangkit berdiri, tangannya meraba sebuah bilah pisau tajam berukuran kecil yang terselip tersembunyi di balik bantalnya—satu-satunya senjata yang berani ia simpan di tempat ini. Ia membuka pintu sedikit saja, hanya cukup untuk memperlihatkan separuh wajahnya ke arah luar.

"Ada keperluan apa datang ke sini saat malam sudah sedalam ini?" tanyanya dengan nada dingin dan penuh kewaspadaan.

Dika berdiri diam di sana, wajahnya yang teduh kini tampak jauh lebih serius dan berat dari sebelumnya. Cahaya bulan yang masuk dari celah jendela lorong menerangi separuh wajahnya yang tegas. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Laras seolah sedang berusaha membaca apa yang tersembunyi di balik benak wanita itu.

"Aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal penting sebelum terlambat," ucapnya dengan suara yang hampir berbisik. "Kau bukan satu-satunya orang yang datang ke sini untuk bersembunyi, Laras. Bahaya yang selama ini kau takuti dan kau hindari... mungkin sebenarnya sudah berdiri jauh lebih dekat di sampingmu daripada yang pernah kau bayangkan."

Sebelum Laras sempat membuka mulut untuk bertanya atau menuntut penjelasan lebih lanjut, Dika sudah berbalik badan dan berjalan perlahan menjauh, menghilang seketika ke dalam kegelapan lorong yang gelap. Laras berdiri diam terpaku di sana, jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Ia semakin yakin sekarang: kedatangan laki-laki itu bukanlah kebetulan semata, dan masa lalu kelam yang ia coba kubur dalam-dalam perlahan mulai bangkit kembali.

Bersambung...

Bab 3: Rahasia di Balik Senyum Dingin

Malam semakin larut, namun Laras tetap berdiri diam di depan pintunya, menatap ke arah lorong gelap tempat Dika menghilang. Ucapan laki-laki itu terus berputar di benaknya bagaikan teka-teki yang mengancam. Ia menutup pintu perlahan dan menguncinya dengan kayu penyangga, lalu kembali duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam erat bilah pisau kecil itu. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan: siapa sebenarnya Dika? Apakah ia tahu siapa dirinya dulu? Atau apakah ia justru utusan dari orang-orang yang dulu ingin memburunya?

Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti bukit-bukit di sekitar desa saat Laras keluar menuju dapur. Ia terkejut melihat Dika sudah duduk di sana, menunggunya dengan secangkir teh hangat yang disiapkan sendiri. Wajahnya tampak tenang seolah tidak ada pembicaraan berat yang terjadi di antara mereka tengah malam tadi.

"Selamat pagi," sapa Dika pelan saat melihat Laras masuk. "Udara pagi di sini sangat sejuk, bukan?"

Laras tidak menjawab seketika. Ia berjalan mendekat dengan langkah hati-hati, matanya tak lepas dari menatap laki-laki itu. "Kau bangun sangat pagi," ucapnya akhirnya, nada bicaranya masih terdengar dingin dan menjaga jarak. "Biasanya orang yang baru datang dari perjalanan jauh akan lebih suka beristirahat lama."

"Aku sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit," jawab Dika santai sambil menyesap tehnya perlahan. "Di tempatku dulu, siapa yang bangun terlambat, seringkali sudah tidak memiliki kesempatan untuk melihat matahari itu bersinar."

Kalimat itu sederhana namun memiliki makna mendalam yang membuat dada Laras kembali sesak. Ia duduk di ujung meja, menjaga jarak sejauh mungkin. "Kau selalu berbicara dengan makna ganda seperti ini?" tanyanya menantang.

Dika meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja hingga terdengar bunyi ketukan halus. Ia menatap lurus ke arah Laras, senyum tipisnya kembali muncul namun kali ini terasa lebih tulus sedikit. "Hanya kepada orang yang aku rasa bisa mengerti makna tersembunyinya. Laras, kita sama-sama orang yang pernah hidup di dunia di mana kepercayaan adalah hal paling berbahaya."

Belum sempat Laras membalas, suara ketukan pintu terdengar dari teras depan. Keduanya saling berpandangan seketika, kewaspadaan kembali menguasai diri mereka serentak. Di desa yang sepi ini, jarang ada orang yang datang berkunjung, apalagi sepagi ini.

Laras bangkit berjalan menuju pintu, sementara Dika diam-diam ikut berdiri dan mengikuti dari belakang, tetap berada di bayang-bayang ruangan agar tidak terlihat sekaligus siap bertindak jika ada bahaya. Saat Laras membuka pintu, ia melihat dua orang pria berpakaian gelap berdiri tegak di sana. Wajah mereka asing, namun tatapan mata mereka tajam dan dingin—ciri khas orang yang terlatih untuk membunuh.

"Maaf mengganggu pagi hari, Nyonya," ujar salah satu dari mereka dengan suara berat. "Kami hanya bertanya, apakah ada pendatang baru yang menginap di rumah ini? Kami sedang mencari seseorang yang hilang dari tempat kami."

Darah Laras seakan berhenti mengalir sejenak. Ia tahu betul tatapan mata itu—tatapan yang dulu sering ia miliki saat memimpin pasukannya sendiri. Sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara berat terdengar dari belakangnya.

"Tidak ada orang lain di sini selain aku dan nyonya rumah ini," ucap Dika sambil melangkah maju berdiri tepat di samping Laras, menatap berani ke arah kedua orang asing itu. "Kalian salah tempat."

Terjadi keheningan sejenak yang menegangkan saat kedua pria itu mengamati Dika dari ujung kepala hingga kaki. Laras bisa merasakan ketegangan yang menguat di udara, siap untuk melompat dan bertindak secepat kilat jika diperlukan. Akhirnya, pria itu mengangguk singkat.

"Kalau begitu maafkan gangguan kami," ucapnya sebelum berbalik pergi bersama temannya.

Setelah bayangan mereka menghilang di balik kabut pagi, Laras menoleh tajam ke arah Dika. "Siapa mereka? Dan kenapa kau berani menjawab seolah ini rumahmu sendiri?" tanyanya berbisik.

Dika menatapnya serius, senyumnya lenyap sepenuhnya berganti ekspresi tegas. "Mereka bukan orang biasa, Laras. Dan aku rasa... mereka bukan datang untuk mencariku."

 

bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!