Gemerlap lampu kristal yang menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu memantulkan kemewahan yang menyilaukan mata. Ratusan tamu undangan dari kalangan konglomerat, pejabat tinggi, hingga rekan bisnis internasional memadati ruangan, memberikan ucapan selamat atas pernikahan paling fenomenal tahun ini. Pernikahan antara Arga Dirgantara dan Keysha Amalia.
Di bawah sorotan lampu sorot, Arga Dirgantara berdiri dengan tegak. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia adalah definisi nyata dari kesempurnaan seorang pria. Sebagai CEO utama dari Dirgantara Group, sebuah imperium bisnis yang bergerak di bidang properti dan teknologi, Arga memiliki wibawa yang sanggup mengintimidasi siapa saja hanya dengan satu tatapan mata. Postur tubuhnya tinggi tegap, proporsional layaknya seorang model papan atas dengan perut sixpack yang terbentuk sempurna, tersembunyi rapi di balik setelan tuksedo rancangan desainer ternama Italia yang melekat pas di tubuh bidangnya. Tak hanya sukses di dunia korporasi, kecerdasan otaknya yang di atas rata-rata juga membawanya mengabdi sebagai seorang dosen di universitas swasta paling ternama di ibu kota.
Namun, di balik semua kemewahan, ketampanan, dan kekuasaan yang dipuja-puja semua orang, tidak ada yang tahu bahwa Arga seumpama bidak catur yang tak berdaya di tangan keluarganya sendiri.
Pernikahan megah malam itu sama sekali tidak dilandasi oleh setitik pun rasa cinta. Ini adalah murni transaksi bisnis. Demi mengamankan merger raksasa dan menguatkan cengkeraman saham Dirgantara Group di pasar Asia, Arga dipaksa menerima perjodohan mutlak dari kedua orang tuanya. Ia harus menikahi Keysha, putri dari mitra bisnis terbesar ayahnya. Arga telah mencoba menolak, namun kewajiban sebagai putra mahkota keluarga Dirgantara mengikat lehernya terlalu kencang. Ia mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kejayaan dinasti keluarganya.
Di sudut ballroom, seorang gadis muda dengan gaun satin berwarna marun menatap panggung pelaminan dengan tatapan yang dipenuhi rasa cemas sekaligus iba. Dia adalah Alya Dirgantara, adik kandung Arga. Berbeda dengan para tamu yang tersenyum lebar, Alya adalah satu-satunya orang yang tahu betapa dinginnya telapak tangan sang kakak saat menjabat tangan para tamu. Alya menyaksikan seluruh prosesi itu dengan dada yang sesak. Ia tahu betul bahwa kakaknya sedang mengorbankan diri masuk ke dalam sangkar emas yang mematikan.
Ketika jam dinding berdentang menunjukkan pukul dua dini hari, pesta mewah itu akhirnya usai. Arga dan Keysha melangkah masuk ke dalam kamar presidential suite yang telah didekorasi dengan taburan kelopak bunga mawar merah dan keharuman aromaterapi yang menenangkan. Malam pertama yang seharusnya menjadi lembaran baru yang penuh kehangatan bagi sepasang pengantin baru, justru menjadi awal dari kehancuran hidup Arga.
Arga keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah tidur satin hitam, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Di atas ranjang berukuran king size, Keysha sudah menunggu dengan gaun malam yang minim. Arga menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk menerima takdir ini dan memperlakukan Keysha dengan baik sebagai istrinya yang sah.
Namun, lembaran malam itu robek dengan cara yang paling menyakitkan.
Ketika penyatuan itu terjadi, naluri dan akal sehat Arga sebagai seorang pria dewasa tersentak hebat. Tidak ada rintangan yang seharusnya ada pada malam pertama seorang gadis, tidak ada ketegangan yang alami, dan bercak merah yang menjadi simbol kesucian di atas seprei putih itu sama sekali absen. Keysha telah menyerahkan tubuhnya pada Arga dengan begitu lancar, seolah ranjang ini bukanlah tempat baru baginya. Di atas ranjang pengantin itu, Arga mendapati kenyataan pahit yang menghantam harga dirinya telak: istrinya sudah tidak perawan.
Arga bangkit, menjauhkan tubuhnya dengan napas yang memburu. Matanya menatap tajam ke arah Keysha yang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Kecewa, terhina, dan amarah bercampur menjadi satu, menghantam dada Arga hingga ia merasa sesak. Ego lakilakinya yang selama ini dijaga tinggi-tinggi, runtuh seketika di malam pertamanya sendiri.
Keysha mulai terisak, air matanya menetes membasahi bantal. "Mas Arga... maafkan aku... aku bisa jelaskan..."
Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Sebagai pria yang memegang teguh tanggung jawab dan sangat menghormati komitmen pernikahan, Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menelan seluruh kepahitan itu sendirian. Demi nama baik Dirgantara Group, demi kehormatan orang tuanya yang telah mempertaruhkan segalanya untuk perjodohan ini, Arga memilih mengubur egonya dalam-dalam.
"Tidur," ucap Arga dingin, suaranya sedatar es. "Aku memaafkanmu kali ini. Jangan pernah bahas malam ini lagi."
Arga berbalik, berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar dan menghabiskan sisa malamnya di sana dengan hati yang mulai mendingin. Ia mengira pengorbanannya malam itu adalah puncak dari kelapangan hatinya. Namun, ia keliru. Badai yang sesungguhnya baru saja bersiap menghantam satu minggu kemudian.
Tepat tujuh hari setelah malam yang hancur itu, Arga baru saja pulang dari kantornya saat ia mendapati Keysha terduduk di lantai kamar mandi, menangis gemetar sambil memegangi sebuah benda kecil di tangannya.
Arga melangkah mendekat, matanya tertuju pada benda putih dengan dua garis merah yang sangat jelas di tangan istrinya. Jantung Arga seakan berhenti berdetak sesaat.
"Kamu... hamil?" suara Arga bergetar hebat. Ada nada ketidakpercayaan yang mendalam di sana. Satu minggu. Mereka baru menikah satu minggu, dan alat itu menunjukkan hasil positif yang sangat kuat. Secara medis, itu adalah hal yang mustahil jika benih itu berasal darinya.
Keysha langsung merangkak, bersimpuh di kaki Arga, menangis histeris sambil memegangi ujung celana kain suaminya. "Maafkan aku, Mas... Maaf... ini anak... ini anak pacarku. Hubungan kami tidak direstui oleh orang tuaku, makanya mereka memaksaku menerima perjodohan ini... Maafkan aku, Mas Arga!"
Blar!
Dunia Arga serasa runtuh seketika. Langit-langit kamar mewah itu seolah runtuh menimpa kepalanya. Satu minggu pernikahan yang dipaksakan, dan kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa rahim wanita yang berstatus sebagai istrinya telah diisi oleh benih pria lain. Rasa muak, benci, jijik, dan hancur bergolak menjadi satu di dalam dadanya. Jiwanya serasa tercabik-cabik tanpa sisa.
"Lepas!" bentak Arga, menghempaskan kaki hingga pegangan Keysha terlepas. "Kau menjadikanku tameng untuk menyembunyikan aibmu?!"
Arga ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ia ingin menyeret wanita manipulatif ini keluar dari rumahnya dan melemparkan surat cerai ke wajahnya detik itu juga. Pernikahan sandiwara ini harus berakhir. Ia tidak sudi menjadi ayah dari anak pria lain yang telah merusak istrinya.
Namun, Keysha bukanlah wanita amatir yang mudah menyerah. Mendengar keributan di lantai atas, kedua orang tua Arga yang kebetulan sedang berkunjung segera berlari masuk ke dalam kamar. Dan di sinilah sandiwara menjijikkan itu dimulai.
Keysha dengan cepat mengubah gestur tubuhnya. Di depan mertuanya, ia menangis tersedu-sedu, bersujud di lantai seolah dirinya adalah korban paling menderita yang tertindas. Ia memoles wajahnya dengan akting yang begitu luar biasa, merangkai cerita bohong bahwa ia dijebak dan diperkosa oleh mantan pacarnya sebelum pernikahan terjadi, dan ia terlalu takut untuk jujur pada Arga.
Orang tua Arga, yang terbuai oleh sifat manipulatif dan air mata buaya sang menantu, langsung termakan sandiwara tersebut. Bagi mereka, yang paling utama bukanlah perasaan Arga, melainkan saham, bisnis, dan nama baik keluarga Dirgantara yang dipertaruhkan di lantai bursa.
"Arga, cukup!" bentak sang ayah, menatap putranya dengan pandangan sedingin es. "Maafkan Keysha. Apa kamu tidak memikirkan dampak jangka panjangnya jika berita ini tersebar? Saham kita akan anjlok, investasi ratusan triliun akan gagal! Demi nama baik keluarga dan kelangsungan bisnis kita, pertahankan pernikahan ini dan akui anak itu sebagai anakmu!"
Arga menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. "Ayah... dia mengandung anak pria lain! Di mana harga diriku sebagai seorang suami?!"
"Harga dirimu ada pada kejayaan Dirgantara Group, Arga!" balas ayahnya tanpa belas kasihan.
Di sudut ruangan dekat pintu kamar yang sedikit terbuka, Alya menyaksikan seluruh kekacauan itu dengan air mata yang mengalir di pipinya. Jantungnya berdenyut sakit melihat bagaimana kakak laki-lakinya yang selalu ia banggakan, kini ditekan dan dihancurkan dari segala arah. Alya melihat bagaimana Keysha sempat melirik ke arah Arga dengan tatapan kemenangan di sela-sela tangis palsunya. Alya mengepalkan tangannya erat-erat; ia sangat muak melihat kelakuan kakak iparnya yang berhati iblis itu.
Arga berdiri mematung di tengah kamar. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya sendiri. Menolak berarti menghancurkan imperium yang dibangun ayahnya, menerima berarti membunuh jiwanya sendiri.
Malam harinya, di dalam kamar yang sunyi, Arga duduk di kegelapan. Keysha baru saja kembali dari kamar mandi setelah membersihkan wajahnya. Wanita itu memegang ponselnya, tersenyum tipis, dan dengan jari-jarinya yang lentik, ia sibuk bertukar pesan mesra dengan pacarnya di balik selimut. Keysha mengira Arga sudah tidur, namun sepasang mata elang Arga mengawasi setiap gerak-gerik menjijikkan itu dari kegelapan. Hanya beberapa jam setelah memohon ampun dengan bersujud di kaki Arga, wanita itu sudah kembali bermain belakang tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Arga memejamkan mata, menghela napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Demi kewajiban moral yang dipaksakan, demi ambisi buta orang tuanya, Arga memaafkan untuk kedua kalinya. Ia memilih diam dan membiarkan sandiwara ini berlanjut. Namun, malam itu, di dalam kesunyian kamar yang dingin, hati Arga Dirgantara telah mati seutuhnya. Rasa percaya, kehangatan, dan cinta telah menguap dari dalam dirinya, digantikan oleh kekosongan yang membeku.
Sejak hari yang terkutuk itu, Arga berubah total. Topeng kesempurnaan yang ia kenakan sehari-hari kini dilapisi oleh dinding es yang tak tertembus oleh siapa pun. Ia mengunci rapat-rapat hatinya dari dunia luar. Pria yang dulunya masih bisa melemparkan senyum tipis kini bertransformasi menjadi sosok yang dingin, cuek, dan sama sekali tak tersentuh. Pengkhianatan beruntung yang dilakukan oleh istrinya sejak awal pernikahan telah merubah genetik emosinya menjadi monster yang mati rasa.
Perubahan drastis itu paling terasa di lingkungan universitas tempatnya mengajar. Di koridor kampus, nama Arga Dirgantara berubah menjadi momok yang paling ditakuti. Ia dikenal luas sebagai 'Dosen Killer'.
Setiap kali langkah kaki panjang Arga yang dibalut sepatu pantofel mewah terdengar menggema di lorong gedung fakultas ekonomi, para mahasiswa yang sedang mengobrol akan langsung terdiam seketika. Aura dingin dan mencekam yang menguar dari tubuh tegapnya sanggup membuat nyali siapa pun menciut. Di dalam kelas, Arga tidak pernah mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Tatapan matanya yang setajam silet, ditambah suara baritonnya yang datar namun menusuk, siap menguliti mental mahasiswa yang tidak siap mengikuti kuisnya.
Bagi Arga, ruang kelas dan ruang kerja CEO-nya adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa memegang kendali penuh atas hidupnya, sebuah kompensasi dari kehidupan rumah tangganya yang hancur berantakan dan dikendalikan oleh orang lain. Aura dingin yang menakutkan itu sebenarnya hanyalah sebuah perisai kokoh. Sebuah topeng yang ia gunakan untuk melindungi hatinya yang telah hancur berkeping-keping di balik kemeja mahalnya. Pria tampan berusia 30 tahun itu telah bersumpah, tidak akan pernah ada satu wanita pun di dunia ini yang diizinkan untuk mendekat atau menyentuh hatinya lagi.
Namun, Arga tidak pernah menduga bahwa takdir memiliki caranya sendiri untuk mempermainkan manusia. Di balik ketatnya perisai es yang ia bangun, sebuah badai baru yang jauh lebih liar, berisik, dan tak terduga sedang bersiap untuk menerjang hidupnya yang sepi. Badai dalam wujud seorang gadis belia berusia 20 tahun yang siap menghancurkan seluruh kewarasannya.
Dentuman bas yang berat dari sistem suara kelas dunia menggetarkan dinding-dinding Illusion, salah satu club malam paling eksklusif di jantung ibu kota. Cahaya lampu neon berwarna biru dan ungu berputar malas, membelah kabut tipis dari kepulan asap rokok elektrik dan aroma alkohol mahal yang menguar di udara. Tempat ini adalah pelarian bagi mereka yang memiliki uang tak berseri, sebuah dunia malam yang tidak pernah tidur, di mana moralitas sering kali ditinggalkan di luar pintu masuk.
Malam itu, kepala Arga Dirgantara serasa ingin pecah menjadi berkeping-keping. Lembaran dokumen di kantor dan tumpukan tugas mahasiswa yang biasanya menjadi pelarian terbaiknya, sama sekali tidak mempan mengusir rasa muak yang bergejolak di dadanya. Beberapa jam yang lalu, sebuah pertengkaran dingin kembali pecah di rumah mewahnya. Keysha, dengan wajah tanpa dosa, kembali memutarbalikkan fakta, menangis seolah-olah dia adalah korban paling menderita ketika Arga memergokinya memesan barang mewah menggunakan kartu kreditnya untuk sang pacar. Kemunafikan wanita itu telah mencapai batas yang bisa ditoleransi oleh akal sehat Arga.
Muak. Arga benar-benar berada di titik kulminasi rasa muaknya terhadap kehidupan pernikahan sandiwara tersebut.
Kaki panjangnya melangkah dengan tegap menembus kerumunan orang yang sedang berdansa, mengabaikan tatapan-tatapan lapar dari beberapa wanita berpakaian minim yang mencoba menarik perhatiannya. Arga tidak peduli. Ia terus berjalan menuju area V.I.P yang terletak di sudut remang-remang club, tempat yang sedikit lebih tenang dan jauh dari jangkauan lampu sorot utama. Ia membutuhkan pelarian yang instan, sesuatu yang bisa mematikan fungsi otaknya sejenak dari kerumitan hidup yang mengikatnya.
Arga menghempaskan tubuh tegapnya ke atas sofa kulit berwarna hitam. Dengan gerakan kasar yang sarat akan frustrasi, ia melonggarkan ikatan dasi sutranya, lalu menariknya lepas dan melemparkannya begitu saja ke atas meja. Tidak cukup sampai di sana, jemari kokohnya bergerak membuka tiga kancing kemeja linen putih bagian atasnya. Tindakan sederhana itu seketika mengekspos garis lehernya yang tegas, jakun yang bergerak naik-turun seirama dengan napasnya yang berat, serta dada bidangnya yang sangat maskulin dan kokoh.
Seorang barista mendekat dengan sigap, meletakkan segelas whiskey dengan sebongkah es batu besar di dalamnya. Arga langsung menyambar gelas tersebut. Suara gemerincing es beradu dengan kaca terdengar samar di antara dentuman musik saat ia meneguk cairan amber itu dalam sekali tegak. Sensasi panas yang membakar tenggorokannya memberikan sedikit rasa lega yang ia cari. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan mata sejenak, membiarkan rahangnya yang tegas sedikit mengendur di bawah bayang-bayang lampu remang.
Tanpa sedikit pun Arga sadari, di sudut lain lantai V.I.P yang letaknya berseberangan, tiga pasang mata sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya sejak pertama kali ia melangkah masuk ke dalam club.
"Ehh, itu bukan dosen killer kita, ya?" ucap Alya tiba-kira. Matanya yang bulat menyipit tajam, mencoba menembus remang lampu club yang berputar-putar untuk memastikan penglihatannya.
Karin, yang sedang menyesap minumannya, langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh dagu Alya. Detik berikutnya, matanya melebar sempurna. "Ouh, iya! Itu Pak Arga!" Karin memekik tertahan, menutupi mulutnya sendiri dengan telapak tangan agar suaranya tidak tenggelam oleh dentuman musik. "Ganteng banget, hot lagi... Cuman sayang, dia kan sudah punya bini. Kenapa cowok sekelas dia bisa ke club malam-malam begini? Jangan-jangan dia mau jajan?"
Di sebelah mereka berdua, seorang gadis duduk dengan gaya yang teramat santai, bersandar pada sofa dengan satu kaki yang ditumpukan di atas kaki lainnya. Dia adalah Queen. Gadis berusia 20 tahun yang namanya selalu menjadi buah bibir di seantero universitas. Queen dikenal bukan karena prestasi akademiknya yang gemilang, melainkan karena kombinasi mematikan yang ia miliki: wajahnya yang luar biasa manis dengan sepasang mata yang memancarkan binar nakal, namun memiliki lekuk tubuh yang teramat seksi bak gitar spanyol yang terpahat sempurna di balik gaun ketat berwarna hijau zamrud yang dikenakannya malam ini.
Lebih dari itu, semua orang tahu siapa Queen. Dia adalah anak tunggal dari konglomerat raksasa pemilik universitas tempat Arga mengajar. Meskipun otaknya pas-pasan dan sering kali membuat para dosen mengelus dada saat memeriksa kertas ujiannya, tidak ada satu orang pun yang berani mengusiknya. Ditambah lagi dengan sifatnya yang terkenal cegil (cewek gila) dan bar-bar, Queen selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Dan selama satu semester terakhir ini, target utamanya hanya satu: Pak Arga Dirgantara.
Saat Karin dan Alya sibuk bergosip, Queen hanya diam. Sepasang mata indahnya menatap lurus ke arah Arga dengan pandangan yang penuh dengan rasa lapar yang tidak ditutup-tutupi. Di matanya, Arga malam ini terlihat sepuluh kali lipat lebih menggoda daripada saat pria itu berdiri kaku di depan kelas dengan kapur atau spidol di tangannya. Kemeja yang terbuka, rambut yang sedikit berantakan, dan aura frustrasi yang menguar dari tubuh sang dosen justru membuat insting liar di dalam diri Queen bergejolak hebat. Queen selalu mengejar dosen itu secara terang-terangan di kampus, mengabaikan semua sikap dingin dan penolakan mentah-mentah yang selalu ia terima. Bagi Queen, semakin Arga menjauh, semakin besar rasa penasarannya untuk menaklukkan pria itu.
Di sisi lain meja, Alya tersenyum miring, sebuah kilatan rencana melintas di kedua matanya yang cerdas. Faktanya, ada satu rahasia besar yang tidak pernah diketahui oleh Queen maupun Karin: Alya adalah adik kandung dari Arga Dirgantara. Alya sengaja menyembunyikan identitasnya di kampus agar bisa hidup normal tanpa embel-embel nama besar Dirgantara Group.
Sebagai adik yang tinggal satu atap dan melihat bagaimana hancurnya kehidupan rumah tangga sang kakak, Alya sudah berada di titik paling muak. Ia tidak tahan lagi menyaksikan kakaknya yang berhati emas itu selalu mengalah, ditekan oleh ambisi bisnis ayah mereka, dan dimanfaatkan secara menjijikkan oleh Keysha, si istri manipulatif yang terus bermain belakang dengan pacar miskinnya. Alya tahu betul bahwa Arga membutuhkan kejutan besar untuk keluar dari lingkaran setan pernikahan tanpa cinta itu. Dan saat matanya beralih menatap Queen yang sedang menatap kakaknya seperti singa mengincar mangsa, Alya tahu ia telah menemukan senjatanya. Hanya gadis bar-bar, nekat, dan tidak waras seperti Queen yang memiliki peluang untuk meruntuhkan tembok es tebal yang mengunci hati kakaknya.
"Eh, daripada kita bosen duduk doang di sini, gimana kalau gue tantang lo, Queen?" tantang Alya tiba-tiba, mencondongkan tubuhnya ke depan meja dengan nada memprovokasi yang kental. "Lo goda tuh dosen killer. Bila perlu, bikin dia sampai terangsang malam ini juga!"
Mendengar tantangan gila itu, Karin hampir saja menyemburkan minuman yang baru masuk ke dalam mulutnya. "Gila! Pikiran mu itu sange sekali ya!" sahut Karin setengah berteriak, menyenggol keras lengan Alya dengan wajah yang memerah karena syok. "Dia itu dosen kita, Alya! Lagian dia itu suami orang!"
Alya hanya terkekeh meremehkan, matanya tetap mengunci pandangan Queen yang kini mulai tertarik dengan ucapannya. "Hehe, itu mah untung di Queen. Lo lihat sendiri kan kondisi Pak Arga sekarang? Tubuhnya itu loh... ganteng sebadan-badan! Gak bakal rugi seandainya Queen bisa menyentuhnya. Lagian, Queen juga dari dulu ngejar-ngejar Pak Arga secara terang-terangan, kan? Ini kesempatan emas, Queen." hasut Alya lagi, menuangkan bensin ke dalam api keberanian sahabatnya.
Queen menyunggingkan senyum menantang yang sangat menawan. Sifat keras kepalanya langsung terpancing. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Alya dan Karin bergantian dengan binar nakal yang semakin menyala di kedua matanya.
"Oke, gue setuju dengan tantangan lo," jawab Queen, suaranya terdengar renyah namun penuh dengan nada kepercayaan diri yang tinggi. "Tapi... harus ada hadiahnya dong? Kan gue akan berperan jadi 'pelacur' gratisan untuk malam ini demi menghibur dosen kesayangan kita. Lagipula, jujur aja, gue juga udah lama penasaran banget sama gimana rasanya menyentuh tubuh sang dosen killer itu."
Alya tertawa puas di dalam hatinya. Umpannya telah dimakan mentah-mentah. "Oke, kesepakatan dibuat. Kalau lo berhasil membuat Pak Arga kehilangan kendali malam ini, tas Hermes limited edition koleksi terbaru gue yang harganya ratusan juta itu bakal jadi milik lo. Tapi ingat syaratnya, lo harus ganas ngegodanya. Kalau perlu, duduk langsung di pangkuannya, kasih dia ciuman paling hot, dan goyang pinggula seksi lo itu di atasnya agar dia benar-benar terangsang!" ucap Alya, sengaja mendiktekan skenario yang ia tahu akan membuat kakaknya kewalahan.
Karin menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Alya dengan pandangan tidak percaya. "Gila lo, Alya! Lo kebanyakan nonton film bokep ya sampai otaknya geser begini?" Namun, melihat binar mata Queen yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, jiwa kompetitif Karin ikut tersulut. "Tapi... ya sudahlah, gue juga penasaran seberapa kuat pertahanan Pak Arga. Kalau lo berhasil membawa pulang kemenangan malam ini, Queen, mobil Mini Cooper baru yang ada di garasi rumah gue bakal jadi buat lo. Tenang aja, di rumah gue stok mobil masih banyak, bokap baru beliin bulan lalu."
Queen tertawa remeh, suara tawa khasnya yang terdengar seksi menembus kebisingan club. Ia berdiri dari sofanya, merapikan sedikit bagian bawah gaun hijaunya yang super ketat, mempertegas lekuk tubuh "gitar spanyol"-nya yang bisa membuat pria mana pun menelan ludah dalam sekali lihat.
"Oke, gue setuju dengan taruhan ini," ucap Queen sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah kedua sahabatnya. "Meskipun sebenarnya gue gak butuh-butuh banget sama hadiah tas Hermes atau Mini Cooper dari lo semua—keluarga gue bisa beli pabriknya kalau mau—tapi gue setuju karena satu hal. Gue cuman penasaran... seberapa kuat es di dalam diri Pak Arga sebelum mencair di tangan gue."
Tanpa membuang waktu lagi, Queen melangkah meninggalkan meja mereka. Dengan langkah yang penuh percaya diri, pinggulnya bergoyang seksi mengikuti irama musik, berjalan lurus menuju meja remang-remang tempat Arga Dirgantara sedang duduk sendirian dengan segelas alkoholnya. Sementara di belakangnya, Alya menatap punggung Queen dengan senyuman misterius yang sarat akan harapan, berharap malam ini menjadi malam di mana kakaknya akhirnya bisa terbebas dari belenggu masa lalunya yang kelam.
Langkah kaki Queen terasa sedikit seringan kapas. Kesadarannya sudah agak kabur akibat pengaruh alkohol dari beberapa gelas koktail yang ia teguk sebelumnya, namun hal itu justru melipatgandakan keberaniannya. Di bawah siraman cahaya lampu club yang berputar liar, Queen melangkah mantap dengan pinggul yang bergoyang seksi menuju ke sudut remang-remang tempat meja Arga berada. Gaun satin hijau zamrud yang melekat ketat di tubuhnya mengekspos setiap lekuk tubuh indahnya dengan sempurna mulai dari pinggangnya yang ramping hingga siluet tubuhnya yang padat berisi, benar-benar gambaran nyata dari bentuk tubuh gitar spanyol yang mematikan.
Setiap mata pria yang dilewatinya menatap lapar, namun pandangan Queen terkunci mutlak pada satu sosok pria yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa V.I.P dengan kemeja setengah terbuka.
"Ehh... ada Pak Dosen ganteng," ucap Queen dengan nada centil yang sengaja dibuat manja saat ia akhirnya sampai di depan meja Arga.
Arga yang sedang memejamkan mata perlahan mendongak. Begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, alis tebalnya bertaut rapat. Matanya yang hitam legam dan tajam menatap Queen dengan sorot dingin yang membekukan, sorot mata yang biasa ia gunakan untuk mengusir mahasiswa malas dari kelasnya.
"Ngapain kamu ke sini? Pergi sana," usir Arga tanpa ekspresi sedikit pun. Suara baritonnya terdengar berat, datar, dan sarat akan penolakan mutlak.
Bukannya takut atau mundur seperti mahasiswi pada umumnya, Queen justru terkekeh renyah. Jiwa cegil-nya tertantang berlipat ganda melihat sikap ketus sang dosen.
"Jangan galak-galak, Pak... nanti gantengnya hilang," goda Queen dengan kerlingan mata yang nakal.
Tanpa permisi dan tanpa memberikan celah bagi Arga untuk menghindar, Queen dengan gerakan berani langsung mendudukkan bokong indahnya dengan pas di atas pangkuan kokoh Arga. Tak tanggung-tanggung, kedua lengan lentiknya segera melingkar dengan erat di sekeliling leher kekar sang dosen, mengunci posisi mereka agar tidak ada jarak tersisa.
Deg!
Tubuh tegap Arga menegang seketika. Ia tidak pernah membayangkan ada mahasiswanya yang seberani atau se-tidak waras ini. Aroma parfum manis perpaduan vanila dan buah beri yang bercampur dengan aroma alkohol dari tubuh Queen langsung menyeruak, menusuk indra penciumannya dengan begitu pekat. Kedekatan fisik yang teramat intim ini membuat Arga bisa merasakan kehangatan kulit Queen yang kontras dengan suhu tubuhnya yang dingin.
Queen sedikit memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam netra gelap Arga yang mulai memancarkan kilatan emosi yang campur aduk.
"Pak Arga lagi suntuk, ya? Makanya main ke club," bisik Queen tepat di depan wajah Arga, embusan napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit sang dosen. Nada suaranya berubah menjadi sangat manja dan sensual. "Atau... istri Bapak lagi gak mau ngelayanin Bapak di rumah?"
Pertanyaan frontal itu bagai siraman bensin di atas bara api. Mata Queen bergerak turun, menatap lekat-lekat pada bibir seksi Arga—bibir kokoh yang biasanya hanya mengeluarkan makian dingin, peraturan ketat, dan kata-kata tajam yang menusuk telinga di dalam kelas. Malam ini, Queen ingin tahu apakah bibir itu bisa mengeluarkan suara yang berbeda.
"Turun, Queen. Lebih baik kamu pulang sekarang, dan belajar untuk kuis besok pagi," perintah Arga. Suaranya terdengar jauh lebih berat dari sebelumnya, ada getaran menahan diri yang amat kuat di sana. Arga mati-matian mengerahkan seluruh akal sehatnya yang tersisa untuk mempertahankan kewarasannya yang mulai goyah.
Namun, Queen adalah definisi nyata dari gadis bar-bar yang tidak pernah mengenal kata menyerah dalam kamus hidupnya. Ditantang seperti itu justru membuat gairahnya memuncak. Menatap bibir Arga yang begitu mengundang di depannya, Queen tidak tahan lagi. Ego dan rasa penasarannya meledak. Ia langsung memajukan wajahnya dan membungkam bibir Arga dengan sebuah ciuman yang ganas dan penuh tuntutan.
Arga tersentak kaget di tempat duduknya. Mata elangnya melebar sesaat. Naluri pertahanannya bangkit; ia merapatkan bibirnya dengan rapat, menolak memberikan akses apa pun bagi lidah nakal Queen untuk menginvasi mulutnya. Ia menolak didominasi oleh mahasiswanya sendiri.
Mendapat penolakan dan tidak ada balasan dari sang dosen, Queen tidak kehabisan akal. Dengan berani, ia sedikit menarik kepalanya lalu menggigit bibir bawah Arga dengan cukup kuat, memberikan rasa sakit yang mengejutkan sekaligus nikmat.
"Auhh..." Arga mendesah tertahan, mulutnya refleks terbuka akibat gigitan mendadak itu.
"Kau ini... benar-benar keterlaluan..." desis Arga di sela-sela napasnya yang mulai memburu dan tidak beraturan.
Namun, kata-kata Arga langsung lenyap ditelan malam. Begitu bibir kokoh itu terbuka, Queen tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia kembali merapatkan bibir mereka dan langsung melumat bibir Arga dengan brutal. Queen menyalurkan seluruh keliaran, rasa penasaran, dan jiwa mudanya yang meledak-ledak ke dalam tautan bibir mereka.
Detik itu juga, pertahanan Arga yang selama ini dikenal sekokoh es batu tiba-tiba luntur, hancur berantakan tanpa sisa. Rasa frustrasi karena tekanan pekerjaan, amarah yang membakar akibat dikhianati dan dibohongi oleh istrinya bertubi-tubi, serta gairah kelelakian yang sudah lama terpendam dan mati rasa, mendadak meledak bagai gunung berapi.
Pikiran sehat Arga menguap entah ke mana. Mengabaikan status mereka sebagai dosen dan mahasiswa, Arga mulai membalas ciuman Queen tak kalah brutal. Kedua tangan kokohnya yang dipenuhi urat-urat tegas secara refleks bergerak mencengkeram pinggang ramping Queen dengan sangat kuat, menarik tubuh seksi gadis itu agar semakin merapat dan menempel tanpa celah pada dada bidangnya. Arga melumat balik bibir manis Queen dengan dominasi penuh seorang pria dewasa, menghisap dan mengeksplorasi rongga mulut gadis itu dengan rakus, seolah-olah ia sedang melampiaskan seluruh beban hidupnya lewat ciuman panas tersebut.
Queen tersenyum penuh kemenangan di sela-sela ciuman brutal mereka. Merasa di atas angin, Queen perlahan mengalihkan kecupannya turun ke arah rahang tegas dan leher kokoh Arga yang berurat. Ia menghirup dalam-dalam aroma maskulin perpaduan parfum mahal dan wangi tubuh alami Arga yang sangat memabukkan bagi indra penciumannya.
Tidak berhenti sampai di situ, dengan gerakan yang teramat berani dan sengaja, Queen mulai menggesek-gesekkan bokong indahnya di atas selangkangan Arga. Tindakan provokatif itu langsung menyentuh titik paling sensitif dari kejantanan Arga yang kini sudah mulai menegang dan mengeras sempurna di balik celana kain mahalnya.
"Nggghh..." Arga mengerang rendah, sebuah suara serak yang sangat seksi lolos begitu saja dari tenggorokannya.
Napas sang dosen killer kini memburu hebat, terdengar ngos-ngosan di dekat telinga Queen. Seluruh tubuhnya terasa membara, dibakar oleh gairah liar yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Matanya yang biasa menatap dingin kini menggelap sepenuhnya, dipenuhi oleh hasrat murni seorang jantan yang siap menerkam mangsanya. Tangannya yang mencengkeram pinggang Queen bergerak naik, meraba lekuk punggung gadis itu dengan sentuhan yang menuntut lebih.
Namun, tepat saat Arga sudah berada di puncak gairah dan kehilangan seluruh kendali dirinya, Queen justru menyudahi kelakuannya secara mendadak. Ia menarik bibirnya dari leher Arga, memutus kehangatan yang baru saja tercipta.
Queen menarik diri sedikit, memberikan jarak yang membuat Arga menatapnya dengan pandangan tidak terima dan napas yang terengah-engah. Dengan senyum nakal yang tersisa di bibirnya yang kini basah dan sedikit bengkak, Queen mendekatkan wajahnya ke telinga Arga yang sudah memerah padam akibat gairah.
"Bapak terlihat sangat hot malam ini..." bisik Queen dengan nada manja yang teramat seksi, getaran suaranya langsung meremangkan bulu kuduk dan menggetarkan relung jiwa Arga yang paling dalam.
Queen memberikan jeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam otak Arga yang sudah mati kutu. "Kalau istri Bapak tidak mau melayani Bapak di rumah... aku siap kapan saja untuk menjadi teman ranjang Bapak."
Sebagai sentuhan akhir yang mematikan dan tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Arga, Queen menjulurkan lidahnya sejenak lalu menggigit cuping telinga Arga dengan lembut namun sensual, sebelum akhirnya ia dengan cepat berdiri dan melangkah turun dari pangkuan pria itu.
"Auhh..." Arga mengerang kecil, tubuhnya tersentak ringan.
Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat saat ia menelan salivanya sendiri yang terasa kering. Dengan napas yang masih memburu dan jantung yang berdegup kencang bagaigenderang perang, Arga hanya bisa terpaku di sofanya. Sepasang matanya yang menggelap menatap lurus kepergian Queen yang berjalan menjauh menembus kerumunan club. Di dalam dadanya, ada gairah yang menggantung tanpa tuntas, rasa penasaran yang teramat dalam, dan kesadaran pahit bahwa tembok es yang ia bangun dengan susah payah selama ini... telah runtuh seutuhnya malam ini di tangan mahasiswanya sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!