Indonesia
NovelToon NovelToon

JADIAN YUK!!

Bab 1. gadis menyebalkan

pagi itu terasa gerah di halaman SMA Cendekia. Jam pelajaran baru saja dimulai, tapi sekelompok siswa laki-laki sudah menyelinap lewat celah pagar belakang sekolah. Di barisan paling depan berjalan Arjuna Baskoro siswa kelas dua belas yang sudah terkenal di seluruh lingkungan sekolah sebagai ketua geng yang paling sering bikin onar, bolos, dan melanggar peraturan apa pun yang ada.

“Cepat, jangan lelet! Kalau ketahuan bisa brabe urusannya,” bisik Arjuna sambil melirik ke sekeliling dengan tatapan waspada.

Namun nasib sedang tidak berpihak pada mereka. Baru saja melangkah keluar setapak, terdengar suara berat dan lantang memecah kesunyian siang itu.

"HEI!! KALIAN MAU KEMANA?!”

Semua tertegun. Berdiri di ujung koridor depan ada Pak Ramlan, guru BK yang dikenal paling galak dan tidak pernah kompromi. Di sampingnya berdiri dua orang guru lain yang kebetulan lewat. Wajah mereka langsung memerah melihat kelompok siswa itu.

“kabur woy! Cepet kabur!” teriak Arjuna tanpa pikir panjang.

Mereka pun berhamburan ke segala arah. Beberapa temannya berhasil menerobos ke arah selatan dan menghilang di balik rimbunnya pohon. Sebagian lagi kurang beruntung langsung tertangkap dan ditarik kembali oleh guru-guru itu. Arjuna sendiri berlari sekuat tenaga menyusuri lorong kosong, napasnya memburu sementara keringat mulai membasahi dahi dan lehernya.

Di ujung lorong, matanya menangkap satu pintu yang sedikit terbuka. Tanpa berpikir panjang soal apa ruangan itu, ia melesat masuk dan langsung menutup pintu rapat-rapat sambil menyandarkan punggungnya di sana.

Napasnya terengah-engah, keringat bercucuran turun membasahi kemeja seragamnya. Namun justru di saat begini, ketampanannya makin terlihat...kulitnya yang sedikit berkeringat memantulkan cahaya, garis rahangnya tegas, dan sorot matanya tetap tajam meski baru saja kelelahan.

Setelah napasnya mulai teratur, Arjuna mengedarkan pandangan. Baru sadar, ia ternyata masuk ke dalam Ruang Usaha Kesehatan Sekolah. di pojok ruangan, duduk seorang gadis yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam seolah sedang menilai makhluk asing yang baru saja menerobos masuk.

Arjuna yang biasanya percaya diri mendadak merasa kikuk sesaat. Namun ia segera menepis perasaan itu, kembali memasang gaya santai dan slengeannya. Ia melangkah perlahan mendekat, lalu menyugar rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan satu tangan gerakan yang biasa ia lakukan untuk memikat perhatian lawan jenis.

“Hai… sendirian aja di sini? Nama lo siapa?” tanyanya sambil tersenyum tengil, lalu menjulurkan tangannya seolah hendak berkenalan.

Belum sempat Arjuna melanjutkan kata-katanya, suara gadis itu terdengar datar tanpa nada ramah sedikit pun.

“Kalau tidak ada kepentingan kesehatan, tolong keluar dari ruangan ini.”

Mata Arjuna melotot kaget. Tangannya yang terulur terhenti di udara. Ia menunjuk dirinya sendiri, suaranya terdengar tak percaya.

“L-Lo… lo ngusir gue?!”

Tak lama kemudian, Arjuna terkekeh pelan. Baru kali ini ia bertemu gadis yang setegas dan sedatar ini. Biasanya gadis-gadis langsung salah tingkah atau tersipu melihatnya.

Namun percakapan mereka terhenti mendadak saat suara langkah kaki berat dan teriakan Pak Ramlan terdengar jelas dari luar pintu.

“Arjuna! Arjuna Baskoro! Di mana kamu bersembunyi? Keluar sekarang juga!”

Wajah Arjuna berubah tegang. Ia menatap pintu dengan panik, lalu menoleh cepat ke arah gadis itu. Di saat yang sama, ia melihat sudut bibir gadis itu sedikit terangkat membentuk senyum menyeringai tipis seolah tahu persis posisi Arjuna yang sedang terjepit.

Belum sempat Arjuna bereaksi, gadis itu langsung berdiri dan melangkah cepat ke arah pintu, seolah berniat membukanya dan memanggil guru itu. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, tubuh mungil itu tiba-tiba terangkat ke udara.

Arjuna bergerak lebih cepat. Dengan postur tubuhnya yang menjulang 180 cm dan berotot padat khas anak SMA yang sering berolahraga, ia mengangkat gadis itu ringan saja. Tangannya langsung menutup mulut gadis itu rapat-rapat, lalu memojokkannya ke dinding agar tidak bisa berteriak atau melarikan diri.

Gadis itu berontak sekuat tenaga, kakinya menendang udara, tangannya memukul lengan Arjuna, tapi percuma saja. Tingginya hanya sekitar 150 cm dan tubuhnya yang mungil tidak ada sebanding tenaganya dengan Arjuna.

Dengan napas yang masih agak memburu, Arjuna membungkuk sedikit dan berbisik tepat di telinga gadis itu dengan nada rendah yang terdengar mengancam.

“Bisa diem nggak?! Kalau lo berani kasih tahu gue ada di sini… lo bakal rasain akibatnya, paham?!”

Setelah bicara, kepalanya terus menengok ke arah jendela, memantau apakah Pak Ramlan sudah mendekat ke depan ruangan.

Namun saat Arjuna sedikit lengah, gadis itu langsung menggigit telapak tangan yang menutup mulutnya sangat kuat sampai terasa nyeri menusuk tulang. Arjuna meringis kesakitan dan secara refleks melepaskan cengkeramannya.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, gadis itu langsung melesat ke pintu, membukanya lebar-lebar, lalu berteriak sekuat tenaga ke arah lorong.

“PAK! ARJUNA ADA DI SINI!”

Suara itu memecah keheningan. Tak sampai semenit, Pak Ramlan sudah tiba di depan . Arjuna hanya bisa menggaruk kepalanya kesal saat telinganya langsung dijewer kuat oleh tangan besar Pak Ramlan.

“Nah, ketahuan juga kamu, dasar anak bandel! Sudah kelas dua belas masih saja bikin ulah! Ayo, ikut Bapak ke ruang BK, hukuman buat kamu sudah menunggu!”

Arjuna berjalan menunduk menahan sakit di telinga, tapi matanya secara tak sengaja menangkap sosok gadis itu yang berdiri santai di ambang pintu ruang UKS. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menatapnya dengan wajah datar tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Dengan gaya sok berani dan nada keras, Arjuna berteriak menunjuk tajam ke arah gadis itu sebelum dibawa pergi.

“WOY, INGET BAIK-BAIK! MULAI SEKARANG LO RESMI BERURUSAN SAMA GUE!”

Gadis itu hanya mengangkat satu alis, tetap diam tanpa menjawab apa pun seolah tantangan itu sama sekali tidak berarti baginya.

Bab 2. menemukan mainan baru

Hukuman sudah jatuh dan tak bisa ditawar. Di jam istirahat kedua, Arjuna beserta tiga temannya yang ikut ketahuan harus melaksanakan tugas membersihkan seluruh area halaman belakang sekolah dan kamar mandi laki-laki yang terkenal paling jarang terurus.

Sinar matahari siang cukup terik, tapi di bawah rindangnya pohon beringin tua, udara terasa lebih sejuk. Arjuna menyapu dengan gerakan lambat dan tak bersemangat, seolah sapu di tangannya terbuat dari timah yang sangat berat. Tak lama, ia sudah merasa lelah sendiri.

“Gila capek banget, kalau bukan karena cewek itu harus nya gue aman,” gerutunya pelan.

Ia meletakkan sapu sembarangan, lalu berjalan santai menuju batang pohon besar itu. Tanpa ragu ia duduk bersandar, lalu merebahkan tubuhnya sepenuhnya di atas rumput yang agak kering. Tangan kanannya ia jadikan bantal di bawah kepala, sementara matanya perlahan terpejam menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah dan rambutnya. Akhirnya bisa beristirahat sebentar, pikirnya.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Sebuah suara perempuan terdengar jelas memecah keheningan, suaranya datar, tegas, dan tidak ada nada manja atau dibuat-buat sama sekali. Sangat berbeda dengan suara gadis-gadis lain yang biasanya terdengar lembut atau berusaha terlihat imut saat berhadapan dengannya.

“Bangun, hukuman lo belum kelar.”

Arjuna langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia mendongak dan tepat di depannya berdiri sosok yang tak asing lagi, gadis yang sama di ruang UKS tadi pagi. Seketika Arjuna berdiri sigap, tangannya langsung bertolak pinggang dengan wajah kesal.

“Mau apa lo ke sini? Belum puas bikin gue kena hukuman?!” bentaknya dengan nada tinggi.

Gadis itu menatapnya tenang tanpa takut sedikit pun. Namanya Laila Arsyila, siswa berprestasi penerima beasiswa penuh, dikenal cerdas, mandiri, dan tidak pernah gentar menghadapi siapa pun meski tubuhnya terlihat mungil. Di tangannya, ia memegang gagang sapu lidi yang sudah siap pakai.

“Itu salah lo sendiri yang melanggar aturan,” jawabnya datar, lalu menyodorkan sapu itu ke arah Arjuna. “Nih, lanjutkan. Hukuman lo belum kelar sampai ini bersih semua.”

Arjuna menatap sapu itu dengan pandangan tajam, lalu menoleh kembali ke wajah Laila. Ia menghempaskan sapu yang dipegangnya sendiri ke tanah hingga menimbulkan bunyi berisik.

“Heh, dengar baik-baik ya. Kita itu nggak punya urusan apa-apa, nggak kenal, dan nggak ada hubungan apa pun. Jadi gausah berlagak menyuruh-nyuruh gue seolah lo bos di sini!” sergahnya kesal.

Laila hanya mengangkat kedua bahunya dengan sikap tak acuh.

“Terserah lo mau denger atau nggak. Gue cuma menjalankan tugas yang di kasih Pak Ramlan, ngecek hukuman kalian dikerjakan dengan benar atau cuma main-main aja.”

Setelah bicara begitu, Laila tak menunggu jawaban lagi. Ia memutar badan dan berjalan pergi meninggalkan Arjuna yang masih terdiam di tempat.

Arjuna berdecak keras, mengusap wajahnya karena kesal. Mau tidak mau, ia harus melanjutkan pekerjaannya kalau tidak ingin dapat hukuman tambahan yang lebih parah.

Di sebelahnya, Rian yang sejak tadi masih menyapu sambil mengamati kejadian itu langsung menyeringai dan berceletuk lantang.

“Hati-hati ya, Bos! Jangan terlalu benci nanti malah jodoh loh!”

Tawa Rian langsung disusul oleh Bowo, Gibran dan yang lain. Mereka semua sudah tahu jelas bahwa gadis itulah penyebab utama Arjuna tertangkap dan harus membayar kesalahannya sekarang.

Arjuna mendengus kesal, lalu mengulurkan tangan dan menjitak keras kepala Rian sampai pemuda itu meringis kesakitan sambil memegang bagian kepalanya.

“Berisik lo! Kerjain aja kerjanya, jangan ngomong yang nggak-nggak!” dengus Arjuna.

Namun sesaat kemudian, rasa penasaran muncul di benaknya. Ia menoleh ke ketiga temannya dan bertanya, “Ngomong-ngomong… ada yang tahu nggak siapa nama cewek tadi?”

Bowo, yang bertubuh agak gempal dan cukup banyak kenalan di sekolah, langsung menjawab tanpa ragu. “Kalau nggak salah namanya Laila Arsyila. Dia siswa penerima beasiswa, selalu masuk daftar sepuluh besar nilai tertinggi. Dengar-dengar sih, orang tuanya cuma punya usaha toko sembako kecil di dekat perumahan warga.”

Alis Arjuna langsung terangkat dan mengerut bingung. “Sembako? Apaan tuh?”

Rian langsung menepuk dahinya sendiri sambil geleng-geleng kepala. “Ya ampun… inilah akibatnya jadi anak orang kaya yang terlalu dimanja, sampai nggak tahu apa itu sembako. Pokoknya barang kebutuhan pokok sehari-hari, tahu kan?”

Arjuna terkekeh santai, tidak tersinggung sama sekali. “yelah bercanda kali. serius amat lo, gue cuma ngetes lo aja.”

Ia lalu menoleh ke arah jalan tempat Laila menghilang tadi.

“Laila…” gumamnya pelan, seolah mencicipi nama itu di lidahnya.

Tak lama, sudut bibir Arjuna terangkat membentuk senyum menyeringai khasnya senyum yang sering muncul setiap kali ia menemukan tantangan baru atau menentukan target baru.

Melihat ekspresi itu, Rian dan yang lain saling pandang dan langsung mengerti. Permainan baru sudah dimulai. Arjuna sudah resmi menandai Laila sebagai musuh sekaligus sasaran perhatian barunya.

bab 3.Bukan Kebetulan, Tapi Apes

Malam itu suasana rumah sudah mulai hening. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul sembilan, namun Arjuna tahu betul Ayah dan Bundanya pasti sudah di dalam kamar. Perlahan, ia membuka pintu kamarnya tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun, lalu melangkah berjinjit menuju pintu belakang rumah. Ia harus berhati-hati agar tidak membangunkan siapa pun.

Berhasil keluar dari pekarangan, Arjuna langsung berjalan mendekati motor sport kesayangannya yang terparkir rapi di garasi samping. Ia berniat mendorongnya menjauh dulu baru menyalakan mesinnya, supaya suaranya tidak sampai terdengar masuk ke dalam rumah. Namun baru beberapa langkah ia mendorong kendaraan itu, sebuah suara memanggil dari belakang yang membuat seluruh tubuhnya mematung di tempat.

“Abang mau ke mana? Ikut...”

Arjuna menoleh cepat dengan ekspresi kaget. Di sana berdiri sosok mungil berkacamata dengan rambut sedikit acak-acakan...Haikal, adik bungsunya yang baru duduk di kelas satu SD.

Arjuna langsung menahan geramnya, lalu berusaha memasang senyum paling lembut yang ia bisa. “Jangan ikut, De. Abang cuma keluar sebentar aja. Lo masih kecil, nggak boleh pergi malam-malam begini.”

Mendengar jawaban itu, bibir Haikal langsung mengerucut, tangannya bersedekap dada dengan wajah mulai berkaca-kaca seolah sebentar lagi akan menangis keras.

“Nggak mau! Pokoknya Ade mau ikut juga! Kalau nggak diajak, Ade teriak aja panggil Bunda!” ancamnya tegas.

Arjuna menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. “Aelah, nih tuyul segala liat gue,” gerutunya pelan. Ia tahu Haikal memang jago merecoki kemanapun ia pergi. “Ya udah, ya udah! Gue ajak lo ke Alfamart saja, habis itu lo langsung pulang, nggak boleh ikut-ikut main abang lagi, paham?!”

Haikal langsung mengangguk semangat, air matanya tadi seketika menghilang begitu saja. “Siap! Asal dibelanjain, Abang paling baik sedunia!”

Tak lama kemudian,Arjuna mengangkat badan Haikal ke atas motornya, adiknya sudah duduk manis di bagian depan motor posisi yang paling aman menurutnya agar bisa melihat jalan. Sesampainya di minimarket terdekat, ia langsung turun dan berlari cepat masuk seolah baru masuk surga. Matanya berbinar terang melihat deretan makanan ringan, minuman, dan permen. Ia mengambil apa saja yang menarik perhatiannya tanpa ragu.

Arjuna hanya mengikuti dari belakang dengan gaya santai dan tampak dingin, seolah tidak peduli meski beberapa gadis yang sedang belanja meliriknya sambil berbisik-bisik. Bagi Arjuna, ini sudah hal biasa.

Setelah belanja selesai dan Haikal membawa kantong plastik penuh isinya, mereka kembali melaju pulang. Sesampainya di depan gerbang rumah, Arjuna segera memberi peringatan serius.

“Ingat janji ya, De! terus Jangan bilang apa-apa ke Bunda atau Ayah kalau gue keluar malam ini. Kalau bocor,! gue ngga bakal ngasih jajan lagi.”

Haikal langsung mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. “Aman! Mulut Ade dijamin terkunci rapat!”

Begitu Haikal masuk ke dalam rumah dan pintu tertutup, raut wajah Arjuna berubah seketika. Ia langsung memutar arah motor dan menginjak gas dalam-dalam. Bruuum! Suara mesin menderu kencang membelah keheningan malam ia hampir terlambat, dan itu bukan hal baik bagi ketua geng.

Sesampainya di sirkuit balap liar yang terletak di pinggir kota dan sepi dari warga, ia sudah melihat tiga inti geng petir dan beberapa anggota lain dari Geng Petir menunggu dengan tidak sabar. Arjuna langsung memarkirkan motor sportnya di tempat tersembunyi, lalu beralih menaiki motor balap khusus yang sudah disiapkan. ia sengaja tidak membawa motor kesayangannya, takut ada goresan atau lecet yang nanti jadi bukti keberadaannya saat balap.

Gibran, wakil ketua, langsung menepuk pundaknya keras. “Kirain lo batal datang, Jun. Kita udah deg-degan ditunggu lawan.”

Arjuna hanya terkekeh santai sambil mengenakan helmnya. “Mana mungkin. Kalau gue nggak datang, nanti dikatai pengecut sama Geng Elang . Nggak lucu nama geng Petir jadi tercemar.”

Tak lama, pertandingan dimulai. Bendera diangkat lalu diturunkan delapan motor melesat bersamaan meninggalkan asap hitam. Suara mesin bergemuruh memekakkan telinga. Di tikungan pertama, Arjuna sengaja melambatkan lajunya, membiarkan dua pembalap lawan mendahului.

“Kok malah mundur, Jun?!” teriak salah satu temannya.

Arjuna hanya melirik sekilas sambil tersenyum menyeringai. “Biarin mereka senang dulu, baru jatuhnya makin sakit.”

Memasuki tikungan tajam ketiga, aksi kocak sekaligus lincah dimulai. Arjuna mengayunkan badannya ke kiri dan kanan, seolah hampir terjatuh sampai penonton berteriak kaget, padahal itu triknya untuk mengurangi hambatan angin. Saat satu lawan mencoba memotong jalannya, Arjuna sengaja sedikit mendekatkan motornya sampai hampir bersentuhan membuat lawannya panik dan mengerem mendadak, hingga akhirnya tergelincir keluar jalur tanpa cedera serius.

“hahahaha! Salah sendiri nggak sabar!” teriak Arjuna sambil mempercepat lajunya.

Di putaran terakhir, ia melesat meninggalkan pesaing terdekat sejauh puluhan meter. Saat melewati garis finis, sorakan teman-temannya meledak keras. Geng Petir kembali memegang gelar juara malam itu.

Arjuna melepas helmnya, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap terlihat gagah. Ia menatap ketua Geng Elang dengan senyum meremehkan. “Sudah berkali-kali gue bilang, Geng Elang nggak akan pernah bisa mengalahkan Geng Petir. Kalau nggak kuat, jangan paksain balapan.”

Mereka hanya memandang tajam tanpa bisa membantah. Tak lama, teman-teman Arjuna menyerbu dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi sebagai bentuk kemenangan yang sudah biasa mereka raih.

Setelah puas merayakan, Arjuna mengajak semuanya untuk beristirahat sekaligus makan malam. “Ayo kita ke kafe dekat sini, gue yang traktir!”

Seketika seluruh anggota geng bergerak menuju kafe dua lantai yang masih buka sampai tengah malam. Begitu masuk, ruangan yang tadinya tenang seketika ramai dan penuh kehadiran mereka. Para pelayan langsung sibuk membagikan meja dan mencatat pesanan, dan harus bekerja ekstra malam ini.

Di antara para pelayan yang sibuk melayani, ada Laila Arsyila. Ia sudah bekerja paruh waktu di kafe ini sejak kelas sepuluh untuk membantu biaya hidup dan tabungannya sendiri. Gerakannya lincah dan terampil, mencatat pesanan dengan tulisan rapi tanpa perlu bertanya ulang.

Arjuna duduk santai di meja pojok, matanya sibuk menunduk memainkan ponselnya, sama sekali tidak sadar siapa yang akan melayani mereka.

Saat Laila mendekati meja itu membawa buku pesanan dan pulpen, Rian yang duduk di sebelah Arjuna menyenggol lengannya cukup keras.

“Bos… lihat ke depan sebentar, Bos.”

Arjuna berdecak kesal tanpa mendongak. “Apaan sih, ganggu aja. udah lo pesen aja. ”

Namun begitu ia mengangkat wajahnya, tatapan keduanya langsung bertemu.

Arjuna membulatkan matanya lebar-lebar, lalu dengan gaya sangat dramatis ia sedikit melompat sambil berteriak kaget.

“LO....?! NGAPAIN LO ADA DI SINI?! Jangan-jangan lo sengaja nguntit gue kemana-mana, ya?!” tuduhnya lantang membuat beberapa pengunjung lain menoleh sebentar.

Laila hanya memutar bola matanya malas, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi terkejut sedikit pun. Sungguh, rasanya hari ini memang sial bertemu lagi dengan laki-laki yang bikin pusing itu.

“Gue kerja di sini. Lagian kafe ini milik umum, nggak ada yang nguntit siapa-siapa. Mending sebutin aja pesanan lo kalau mau makan, atau pindah ke tempat lain saja kalau ribut,” jawabnya dingin dan tegas.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!