Sore itu, langit di atas kota terlihat seperti kanvas yang dicoret-coret warna jingga dan ungu. Haruto Mirakawa sedang sibuk dengan dunianya sendiri di halaman belakang rumah kakeknya. Dengan tangan yang sedikit kotor terkena tanah, ia menyiram deretan tanaman kangkung dan tomat kecil yang ia tanam di kotak kayu.
"Kamu ini aneh, Haruto," suara Kakek terdengar dari kursi goyang di teras, diselingi suara sruputan teh hangat. "Anak muda zaman sekarang biasanya sibuk di depan layar ponsel, berteriak-teriak soal rank game tembak-tembakan atau apalah itu."
Haruto tersenyum tipis tanpa menoleh. "Aku juga main game kok, Kek."
Kakek menaikkan sebelah alisnya yang lebat. "Oh ya? Game apa yang dimainkan cucuku yang aneh ini? Pasti yang ada naga atau pedang raksasanya, kan?"
"Simulator berkebun," jawab Haruto datar. Ia meletakkan botol penyiram dan menyeka keringat di dahi. "Ada sistem irigasi, rotasi tanaman, dan manajemen pupuk. Sangat menenangkan."
Kakek terdiam. Ia mematung dengan cangkir teh yang menggantung di udara, menatap cucunya dengan tatapan campuran antara rasa heran yang dalam dan sedikit rasa iba. Setelah hening selama beberapa detik, Kakek hanya bisa mengembuskan napas panjang dan kembali ke tehnya. "Mungkin dia butuh teman," gumam pria tua itu pelan, yang untungnya tidak terdengar oleh Haruto.
Beberapa ratus meter dari sana, di trotoar jalan yang biasa Haruto lewati sepulang sekolah, suasana jauh lebih bising. Sekelompok siswa kelas 2-B sedang berjalan beriringan. Ada Kenji, sang kapten klub sepak bola yang suaranya selalu paling keras, dan Rina, gadis yang selalu sibuk dengan ponselnya. Haruto, yang baru saja selesai dari rumah kakeknya, kebetulan melintas di dekat mereka, berniat kembali ke rumahnya sendiri.
Tepat saat Haruto melintasi mereka, dunia seolah-olah tersedak.
Bukan karena gempa, bukan karena suara petir. Itu adalah suara "robekan" di realitas. Sebuah lingkaran sihir raksasa, selebar lapangan basket, tiba-tiba berpendar di bawah kaki mereka. Cahaya keemasan yang menyilaukan meledak dari dalam lingkaran itu, menelan segalanya.
"Hah? Apa ini?!" teriak Kenji.
"Tolong! Aku tidak bisa bergerak!" jerit Rina.
Haruto, yang berada di pinggiran lingkaran, sempat mencoba melompat mundur, namun gravitasi tiba-tiba menariknya seperti magnet raksasa. Cahaya itu bukan hanya menyilaukan, tetapi terasa dingin dan padat. Segala sesuatu yang ia kenal—aroma tanah basah, suara teh kakeknya, bau aspal—lenyap seketika, digantikan oleh sensasi jatuh ke dalam sumur tak berdasar.
Haruto membuka matanya dan mendapati dirinya tidak lagi berada di jalanan. Ia berdiri di atas permukaan yang menyerupai marmer putih, namun entah bagaimana, permukaan itu terasa seperti awan. Langit di atasnya adalah hamparan putih tanpa awan, tanpa matahari, tanpa ujung.
Di depannya, seorang pria berjubah putih yang tampak seperti pria paruh baya yang kelelahan sedang berdiri memegang papan klip. Ia terlihat sangat malas, bahkan sempat menguap sebelum menyadari kehadiran kelompok siswa itu.
"Selamat datang, para Pahlawan," ucap sang Dewa dengan nada yang lebih mirip pengumuman di loket antrean bank.
"EEEEHHHH?!" Paduan suara jeritan siswa itu cukup untuk membuat telinga Haruto berdenging.
Chaos pun meledak. Ada yang menangis sesenggukan, ada yang mencoba menelpon orang tuanya meski ponsel mereka tidak punya sinyal, dan beberapa anak yang memang kutu buku mulai berdebat tentang apakah ini isekai atau sekadar penculikan alien. Dewa itu, yang sepertinya sudah menghadapi skenario ini berkali-kali, hanya menepuk tangan sekali.
"Dengar, dunia lain sedang dalam krisis. Kalian dipanggil untuk menjadi pahlawan. Sebagai kompensasi, masing-masing boleh memilih satu kemampuan dari daftar yang tersedia. Ayo, cepat, aku ingin segera istirahat," perintah sang Dewa.
Layar transparan muncul di depan masing-masing siswa. Suasana berubah menjadi pasar malam yang bising.
"Aku pilih Sword Saint! Keren sekali!" teriak Kenji.
"Jangan ambil itu! Aku mau Elemental Mage!" balas siswa lain.
"Siapa yang mengambil Spirit Master?! Itu punyaku!"
Haruto berdiri di sudut, menatap layar transparan di depannya yang masih berkedip-kedip, berusaha memproses situasi ini. Pahlawan? Krisis dunia? Apa ini mimpi? Apakah aku tertidur saat menyiram kangkung?
Semua skill bergengsi mulai habis. Dragon Knight, Great Sage, bahkan Shadow Assassin sudah memiliki pemilik. Suasananya begitu kacau hingga sang Dewa harus beberapa kali menyuruh mereka untuk tertib. Akhirnya, setelah semua siswa selesai memilih, sang Dewa memeriksa daftar namanya.
Dewa itu menatap daftar di papan klipnya, lalu menatap kerumunan siswa. Ia mengernyit. Ia menghitung jumlah nama, lalu menghitung jumlah siswa yang ada di ruangan.
"...Kenapa ada satu lagi?" gumam sang Dewa. Ia menatap Haruto yang berdiri paling belakang, masih memegang botol penyiram yang entah bagaimana terbawa bersamanya.
Haruto menatap balik dengan polos. "Aku juga pengin tahu."
Dewa itu memeriksa daftar pemanggilan dengan lebih teliti. "Ah... sirkulasi sihir yang tidak stabil. Kamu bukan pahlawan. Kamu hanya... terseret. Sial."
Dewa itu melihat ke layar status Haruto yang masih kosong. Semua skill bagus sudah terdistribusi. Yang tersisa di daftar hanyalah satu baris yang tertulis dengan font yang sangat kecil, seolah-olah pengembang sistem lupa menghapusnya: Shadow Tool.
Deskripsi: Menciptakan satu alat dari bayangan.
Haruto menatap skill itu. "...Alat?"
Dewa itu mulai berkeringat dingin. "Ini buruk. Kalau laporanku berantakan, aku bisa kena potongan gaji keabadian," pikirnya. "...Alat."
Keheningan yang memalukan menyelimuti mereka berdua. Dewa itu mulai merasa bersalah. Sangat bersalah. Ia baru saja menculik seorang anak SMA yang damai dan mengirimnya ke dunia yang sedang berperang, hanya untuk memberinya skill yang bahkan tidak bisa dipakai untuk memotong bawang dengan benar.
"Kalau begitu..." Dewa itu berdehem, mencoba menutupi kegugupannya. "Apa yang ingin kamu lakukan di dunia sana? Kamu bisa minta apa saja untuk kompensasi."
Haruto berpikir sejenak. Ia tidak punya keinginan untuk menjadi raja. Ia tidak punya dendam pada iblis. Ia hanya memikirkan kebun kangkungnya yang belum selesai disiram. "Kalau bisa... aku cuma mau hidup santai."
Dewa itu terdiam.
"Punya rumah kecil," lanjut Haruto.
Dewa itu tidak merespons, namun matanya menunjukkan rasa kasihan yang mendalam.
"Berkebun mungkin. Bertani juga tidak buruk."
Dewa itu menutup matanya. Sempurna. Dia benar-benar orang biasa yang tidak sengaja terseret ke dalam kiamat. Dewa itu merasa rasa bersalahnya naik berkali-kali lipat hingga mencapai batas maksimal. Ia merasa menjadi sosok orang tua yang gagal memberikan kado ulang tahun yang layak.
"Sebentar," Dewa itu menghilang sejenak. Ruangan itu bergetar sesaat sebelum sang Dewa kembali dengan membawa sebuah tombak emas yang memancarkan aura kuno. Tombak itu terlihat terlalu mewah untuk orang seperti Haruto.
"Itu apa?" tanya Haruto.
"Tombak Dewa. Anggap saja ini... uang pesangon." Dewa itu dengan cepat melakukan ritual sinkronisasi, menggabungkan tombak itu ke dalam skill Shadow Tool milik Haruto, sekaligus memberikan Berkah Dewi Pertanian—sebuah berkah kecil yang ia curi dari rak inventaris dewa lain.
Shadow Tool berubah menjadi Divine Shadow Tool.
"Ini kuat?" tanya Haruto polos, memandangi bayangannya sendiri yang mulai membentuk cangkul imajiner.
Dewa itu memalingkan wajah, tidak berani menatap mata Haruto. "...Mungkin. Anggap saja alat itu bisa melakukan apapun yang kamu butuhkan jika kamu punya imajinasi yang cukup."
Dewa itu segera melambaikan tangan, memotong pembicaraan sebelum Haruto sempat bertanya lebih lanjut. "Aku akan mengirimmu ke tempat yang tenang. Jauh dari perang. Jauh dari para pahlawan yang sombong itu."
"Oh, itu terdengar enak. Terima kasih," ujar Haruto, merasa lega karena setidaknya ia tidak perlu terjebak dalam politik kerajaan.
"Semoga beruntung, Haruto Mirakawa."
Cahaya menyelimuti Haruto. Kali ini, transisinya bukan seperti jatuh ke sumur, melainkan seperti tenggelam dalam lautan madu yang hangat. Perjalanannya terasa panjang—ia merasakan sensasi menembus dimensi, melewati ruang yang penuh dengan bisikan elemen alam, hingga akhirnya sensasi itu berhenti dengan debuman halus.
Haruto membuka matanya. Ia tidak berada di istana kerajaan, tidak pula di lapangan latihan pahlawan.
Di depannya, pohon-pohon raksasa dengan kulit kayu yang tampak seperti baja gelap menjulang tinggi hingga menembus awan. Udaranya dingin, lembap, dan dipenuhi aroma tanah purba yang pekat. Hutan itu begitu sunyi, hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman drum.
GROOOOOOAAARRR!!
Sebuah raungan monster menggetarkan dedaunan di atas kepalanya. Suara itu begitu berat hingga membuat tanah di bawah kakinya bergetar. Haruto berkedip, menatap sekeliling dengan tenang, lalu bergumam pada diri sendiri, "Ini... desa terpencil?"
Raungan monster yang memecah kesunyian hutan terdengar begitu dekat, sebuah suara berat dan serak yang membuat dedaunan di puncak pohon raksasa berguncang. Haruto Mirakawa berdiri mematung di sana, membiarkan angin dingin menyapu seragam kaos rumahnya yang ringan. Ia menatap ke arah hutan yang tampak seperti labirin gelap, lalu menghela napas panjang.
"...Setidaknya udaranya segar," gumamnya datar.
Haruto bukanlah tipe orang yang akan berteriak histeris saat menghadapi situasi mustahil. Baginya, kepanikan hanyalah pemborosan energi yang tidak perlu. Ia baru saja diculik, dikirim ke dunia lain, dan dibuang ke hutan yang suaranya saja bisa membuat jantung orang normal berhenti. Namun, satu-satunya hal yang ia pikirkan saat ini adalah betapa bersih dan jernih oksigen di tempat ini dibandingkan udara kota.
Ia mulai berjalan, kakinya melangkah hati-hati di atas hamparan lumut yang tebal. Hutan ini memiliki aura yang berbeda; pohon-pohonnya memiliki kulit yang gelap dan keras seperti baja tua. Sesekali, ia melihat bunga-bunga berwarna ungu yang berpendar samar, namun Haruto cukup bijak untuk tetap menjaga jarak.
Setelah berjalan cukup lama—mungkin sekitar satu jam—suara gemericik air yang familiar menyambutnya. Haruto keluar dari balik semak-semak dan menemukan sebuah sungai lebar yang airnya jernih. Di tepi sungai itu, terdapat area yang cukup datar, relatif bersih dari semak berduri, dan memiliki tanah yang terlihat subur.
Haruto memindai area itu dengan mata seorang pekebun. "Ada air. Tanah lapang. Tidak ada predator yang terlihat sedang nongkrong. Lumayan."
Ia meletakkan tangannya di atas tanah, merasakan teksturnya yang agak padat namun kaya nutrisi. Haruto memutuskan untuk beristirahat di sini. Saat ia menatap sungai, ia melihat bayangan hitam bergerak cepat di bawah permukaan air. Seekor ikan besar, seukuran salmon dewasa namun dengan deretan gigi yang menyerupai piranha, melompat keluar dan menyambar dahan pohon yang menggantung.
"Ikan ganas ya?" Haruto menatap ikan itu datar. "Untung aku tidak berniat berenang sekarang."
Karena merasa perlu melakukan sesuatu agar tetap tenang, ia mencoba skill yang diberikan Dewa. "Cangkul," bisiknya. Sontak, bayangan di tangan kanannya memadat menjadi cangkul yang kokoh dengan gagang kayu yang terasa pas di genggamannya. Ia mencoba mengubahnya menjadi kapak, pisau, hingga sabit. Perubahan bentuknya halus, seperti air yang berubah bentuk di tangan seorang pesulap. Alat-alat itu terasa sangat berat sekaligus ringan di saat yang bersamaan, tanda dari status "Dewa" yang tertanam di dalamnya.
Haruto menatap tanah yang lembap di dekat sungai. Tanpa rencana besar, ia mulai mencangkul. Karena cangkul bayangannya sangat tajam dan kuat, tanah yang keras itu terbelah dengan kemudahan yang nyaris konyol. Ia bekerja dengan ritme yang stabil, mengayun, menarik, membalik.
Sambil bekerja, pikirannya mengembara. "Kakek pasti marah kalau kangkungku mati karena tidak disiram," gumamnya sambil membalik lapisan tanah yang kaya akan humus. "Tomat-tomat itu... ah, mungkin sudah waktunya dipanen. Rasanya pasti sangat segar kalau dimakan langsung dengan sedikit garam."
Ia terus mencangkul. Tidak ada ambisi untuk membangun istana, ia hanya merasa lebih tenang jika tangannya sibuk.
Srak.
Sebuah suara semak yang patah menyadarkan Haruto. Seekor monster kecil, sejenis tikus bertanduk dengan taring tajam, menerjang dari balik rimbunan pohon. Haruto tidak panik. Ia hanya melangkah sedikit ke samping, mengubah cangkulnya menjadi kapak dalam satu gerakan fluid.
Plak.
Monster itu tersungkur, mati seketika. Haruto menatap bangkai kecil itu, lalu menatap kapak di tangannya yang perlahan memudar menjadi bayangan, lalu kembali menjadi cangkul. "Dunia lain ternyata berbahaya," komentarnya singkat. Ia menyeret bangkai monster itu ke pinggiran semak agar tidak mengotori area cangkulannya, lalu kembali bekerja.
Sore menjelang malam, cahaya matahari mulai memudar di balik pepohonan raksasa. Haruto sadar, ia tidak punya tempat tidur. Ia mulai bekerja mengumpulkan batang pohon yang tumbang. Dengan kapak bayangannya, menebang kayu terasa seperti mengiris keju. Ia memotong-motongnya dengan presisi yang mengejutkan, lalu menggunakan palu bayangannya untuk menyambungkan kayu-kayu itu.
Ia tidak membangun rumah yang rumit. Ia hanya membuat gubuk kecil berbentuk kotak persegi yang sangat fungsional. Ukurannya hanya cukup untuk duduk tegak, berbaring meringkuk, dan menyalakan api kecil di tengah. Sangat sempit, tidak nyaman, dan jauh dari kata indah, tapi setidaknya ia punya atap.
"Masih lebih bagus daripada tenda," gumamnya.
Bagian tersulit adalah membuat api. Haruto mencari dahan kering yang tipis. Ia menghabiskan waktu cukup lama, mencoba menggesekkan kayu dengan berbagai teknik. Berkali-kali gagal, berkali-kali ia harus mengatur napas agar tidak emosi. Ketika akhirnya api kecil berhasil menyala di tumpukan dedaunan kering, Haruto menghela napas panjang dan tersenyum kecil. Melihat lidah api itu menari di tengah kegelapan hutan memberinya rasa aman yang tak terlukiskan.
Malam turun sepenuhnya. Haruto duduk di depan api unggunnya, memanggang daging tikus bertanduk tadi dengan menggunakan pisau bayangan. Setelah makan, ia duduk bersandar di pintu gubuknya yang kaku, menatap sungai yang memantulkan cahaya api.
"Besok cari makanan," gumamnya pelan.
Ia masuk ke dalam gubuknya yang sempit, merebahkan diri di atas lantai kayu, dan segera tertidur pulas karena kelelahan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di belakang gubuknya—di tanah yang sepanjang sore tadi ia cangkul dengan begitu rajin—beberapa gundukan kecil mulai terbentuk. Sesuatu yang hijau dan segar perlahan tumbuh dari dalam tanah, seolah-olah tanah itu sendiri sedang mencoba menyambut tuannya saat ia tidur.
Pagi di Hutan Kematian tidak datang dengan kicauan burung, melainkan dengan perubahan tekanan udara yang samar. Kabut tipis merayap di antara batang-batang pohon raksasa, menelan sungai hingga hanya menyisakan deru air yang terdengar seperti napas panjang bumi. Haruto Mirakawa keluar dari gubuknya, menyambut udara dingin yang langsung menusuk pori-pori kulitnya.
Ia tidak langsung menyapa dunia dengan semangat. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa bara api unggun semalam. Setelah memastikan tumpukan abu itu masih menyimpan sisa kehangatan—sebuah modal berharga agar ia tak perlu bersusah payah menggesek kayu lagi nanti—ia melangkah menuju tepi sungai dengan wadah kayu buatannya.
Namun, baru beberapa meter ia melangkah, kakinya terhenti.
Matanya tertuju pada lahan yang kemarin ia cangkul. Di antara tanah yang lembap, ada beberapa titik hijau kecil yang memecah permukaan bumi dengan gigih. Haruto berjongkok. Ia memiringkan kepala, mengamati kecambah-kecambah yang jumlahnya hanya segelintir itu. Bentuk daunnya berbeda-beda—ada yang runcing, ada yang membulat. Haruto tidak merasa ada keajaiban di sana; otak praktisnya justru sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Apakah kemarin aku tidak sengaja membawa benih di saku celanaku? Atau mungkin terbawa angin?
Tanpa berpikir jauh, ia menyiram kecambah-kecambah itu dengan air sungai yang dingin, sebuah rutinitas sederhana yang ia lakukan seperti sedang membasuh wajah sendiri.
Perutnya mulai mengeluarkan suara protes yang keras. Hari ini, ia tidak punya pilihan selain berburu.
Di sungai, ia belajar dengan cara yang kasar bahwa ikan-ikan di sini adalah predator puncak skala kecil. Tubuh mereka dipenuhi sisik sekeras lempengan baja, dan rahang mereka dilengkapi deretan gigi yang menyerupai gergaji piranha. Butuh waktu dua jam—dan hampir membuat tangannya terseret ke dalam arus—bagi Haruto untuk menjebak dua ekor ikan di area dangkal. Ia membunuh mereka dengan satu pukulan presisi menggunakan pisau bayangannya. Ia tidak menangkap lebih, karena ia tahu bahwa di tempat ini, sisa makanan adalah lonceng yang mengundang pemangsa lain.
Setelah itu, ia masuk ke area hutan yang lebih dalam, meski tetap menjaga radius aman dari gubuknya. Ia berhasil mendapatkan daging kelinci hutan berbulu kasar dengan bantuan Divine Shadow Tool. Semuanya dilakukan dengan efisiensi tinggi, nyaris membosankan. Haruto tidak menikmati perburuan ini; baginya, ini hanyalah bagian dari menjaga agar tubuhnya tetap bisa berfungsi untuk melakukan hal yang ia sukai: bertani.
Begitu kembali ke gubuk, Haruto menatap area tempat tinggalnya yang masih terasa sangat rentan. Ia menghabiskan sisa hari dengan menebang pohon-pohon muda di sekitar, menyusun batang-batang kayu tersebut menjadi pagar sederhana yang melingkar. Tidak ada desain, tidak ada keindahan. Hanya tumpukan kayu yang berfungsi sebagai pembatas agar ia setidaknya tahu di mana batas "rumahnya" berakhir.
Menjelang senja, rasa penasaran itu kembali.
Haruto menatap dua petak tanah kosong di samping kebun kecilnya. Ia teringat akan kebun di rumah kakeknya, teringat bagaimana kacang panjang tumbuh merambat dan kedelai menyebarkan aroma tanah yang khas. Ia berdiri di sana, memejamkan mata, membiarkan ingatannya bekerja. Ia memvisualisasikan tekstur kacang panjang dan bentuk bulat kedelai, menanamkan imajinasi itu ke dalam pori-pori tanah yang ia cangkul.
Tentu saja, tidak ada yang terjadi.
Haruto tertawa kecil, suara tawanya terasa ganjil di tengah hutan yang sunyi. "Haruto, Haruto... kau benar-benar mulai berhalusinasi gara-gara terlalu sering main simulator berkebun."
Ia tetap menyiram petak-petak itu, lalu melupakan semuanya. Malam itu, ia membakar ikan dan daging buruannya. Rasanya hambar—hanya rasa amis dan gosong—tapi perutnya berhenti menjerit. Sambil memandangi api yang menari, ia tidak memikirkan naga atau raja iblis. Ia hanya berharap besok matahari tidak terlalu terik agar tanamannya tidak layu.
...
Keesokan paginya, Haruto keluar dari gubuk dengan mata yang masih setengah tertutup. Ia membawa wadah air, siap untuk memulai rutinitas paginya. Namun, baru dua langkah, ia membeku.
Di atas dua petak kosong yang kemarin ia kerjakan, tanahnya sudah terangkat. Pucuk-pucuk hijau muda telah menembus permukaan dengan warna yang begitu cerah, kontras dengan warna tanah hutan yang gelap. Haruto mendekat, napasnya tertahan di tenggorokan.
Di pucuk kecambah petak pertama, kulit biji kacang panjang masih menempel—sebuah bukti tak terbantahkan. Di petak sebelah, kecambah kedelai tampak kokoh dengan sisa kulit bijinya yang masih menempel.
Haruto berdiri terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang menjalar di punggungnya. Ia menyentuh tanah itu dengan jemari yang gemetar.
Aku tidak membawa benih. Aku tidak melakukan ritual sihir. Aku hanya... mengingatnya.
Ia menatap telapak tangannya sendiri. Jika ia bisa memanggil apa pun dari bayangan dan menumbuhkan apa pun dari ingatan, apakah ini berarti ia tidak perlu lagi bertahan hidup? Apakah ini berarti ia bisa membangun kembali dunia kecilnya di tengah neraka ini?
Sebuah senyum lebar yang tidak biasa muncul di wajahnya. Ini bukan lagi soal bertani. Ini adalah soal memenangkan permainan yang bahkan tidak ia sadari sedang ia mainkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!