Suara bising dan deru mesin pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tidak mampu mengusik ketenangan wanita yang baru saja melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional.
Kacamata hitam besar bertengger manis di hidung mancungnya. Rambut gelombang sewarna cokelat madu dibiarkan terurai indah, berkilau setiap kali terkena pantulan lampu bandara dan kontras dengan setelan blazer merah marun serta celana kulot senada yang membungkus tubuh semampainya. Setiap pasang mata yang dilewatinya tak mampu berpaling. Dia berjalan dengan langkah yang begitu anggun, tegas, dan penuh percaya diri. Orang-orang yang berpapasan dengannya berspekulasi dalam hati; dia tampak seperti model papan atas dari Paris, atau mungkin jajaran selebriti kelas A yang sedang menyamar.
Dia adalah Elena. Lima tahun lalu, nama itu diasosiasikan dengan wanita malang, lemah, dan menyedihkan yang diusir bagai sampah dari kediaman megah keluarga Arkananta. Namun hari ini, dia kembali bukan lagi sebagai Elena yang bisa ditindas. Dia kembali sebagai Eleanor Vance, desainer interior nomor satu dari Milan, Italia, yang karya-karyanya diperebutkan oleh para konglomerat dunia.
"Mama, sistem keamanan siber di bandara ini ternyata sangat kuno. Hanya butuh waktu tiga detik bagiku untuk mengacaukan seluruh jadwal penerbangan domestik malam ini," sebuah suara kekanak-kanakan yang dingin namun renyah terdengar dari arah bawah.
Elena menghentikan langkahnya sebentar, lalu menunduk. Di sampingnya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang mengenakan jaket jeans, sepatu bot mini, dan sebuah topi hitam yang sengaja dipakai terbalik. Di tangan mungilnya, terdapat sebuah tablet pintar yang layarnya dipenuhi oleh barisan kode pemrograman yang rumit.
Bocah itu bernama Leon. Ketika melihat wajah Leon, dada Elena selalu berdesir tajam. Sepasang mata elang yang dingin, garis rahang yang tegas meski masih belia, hingga tatapan angkuh itu... Leon adalah cetakan sempurna dari pria yang paling Elena benci sekaligus ingin dia hancurkan di dunia ini: Arthur Arkananta.
"Leon, Mama sudah bilang jangan nakal, kan?" ucap Elena lembut, namun ada nada peringatan yang tegas di dalamnya. Dia mengusap kepala putranya dengan sayang. "Kita di sini bukan untuk meretas fasilitas publik atau membuat kekacauan. Kita di sini untuk menjemput kakakmu."
Leon mendongak, menatap sang mama dengan mata bulatnya yang memancarkan kecerdasan di luar nalar anak seusianya. "Kak Lia? Bocah cengeng yang ditinggal di rumah besar milik pria brengsek itu?"
Elena tersenyum tipis, meski di dalam hatinya, sebuah luka lama yang belum sepenuhnya sembuh mendadak berdenyut nyeri. Ingatan lima tahun lalu berputar kembali seperti kaset rusak di kepalanya.
Saat itu, Elena sedang hamil tua, mengandung anak kembar. Namun, kelicikan ibu tiri Arthur dan konspirasi keluarga besar Arkananta berhasil memfitnahnya. Mereka menuduh Elena mandul, memalsukan dokumen medis, dan bahkan menuduhnya berselingkuh dengan pria lain. Arthur, pria yang teramat dia cintai dan puji sebagai pelindungnya, justru berdiri dengan mata sedingin es, mempercayai fitnah tersebut tanpa mau mendengarkan satu pun penjelasan dari Elena.
Malam itu, di tengah badai hujan yang sangat lebat, Elena diusir dari rumah dengan pakaian yang basah kuyup tanpa sepeser pun uang. Dia terkapar di jalanan sebelum akhirnya diselamatkan oleh seorang mentor desainer asing yang membawanya pergi ke luar negeri. Di tengah badai salju di Milan, Elena melahirkan sepasang anak kembar melalui perjuangan antara hidup dan mati.
Sialnya, beberapa bulan setelah kelahiran mereka, sebuah insiden medis penculikan anak terjadi di rumah sakit tempat Elena bekerja paruh waktu. Anak perempuannya, Lia, berhasil direbut kembali oleh mata-mata keluarga Arkananta atas perintah Arthur yang baru menyadari kalau anak itu adalah darah dagingnya. Arthur membawa Lia kembali ke Jakarta, sementara Elena terpaksa menyembunyikan Leon dan melarikan diri ke Swiss untuk membangun kekuatannya dari nol.
Selama lima tahun, Elena menahan rindu yang membakar dada. Setiap malam dia menangis memandangi satu-satunya foto bayi Lia yang dia miliki. Dia bersumpah akan mengumpulkan kekayaan, reputasi, dan koneksi yang tak tertandingi demi hari ini. Kini, dayanya sudah penuh. Dia bukan lagi Elena yang miskin dan yatim piatu. Dia adalah ratu yang siap mengambil kembali takhtanya.
"Dia bukan bocah cengeng, Leon. Dia kakak kembarmu. Dia memiliki darah Mama yang mengalir di tubuhnya," bisik Elena, matanya berkilat tajam di balik kacamata hitam. "Dan pria brengsek yang kamu maksud... sebentar lagi dia akan tahu apa arti dari penyesalan dan kehilangan yang sesungguhnya."
Tiba-tiba, ponsel di dalam tas mewah Elena bergetar. Dia merogoh ponselnya dan melihat sebuah pesan instan masuk dari asisten pribadinya yang sudah tiba di Jakarta dua hari lebih awal.
“Nona Elena, draf kontrak kerja sama eksklusif dengan Grup Arkananta sudah rampung. Sesuai dengan rencana kita, mereka telah menyetujui semua klausul ketat yang Anda berikan. Besok pagi pukul sembilan, Anda dijadwalkan menghadiri rapat tender utama di kantor pusat mereka. CEO mereka, Arthur Arkananta, yang akan memimpin rapat itu sendiri.”
Elena meremas ponselnya hingga jemarinya memutih. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman dingin yang sangat mematikan sekaligus memesona. Segala rasa sakit, air mata, dan kehancuran yang dia rasakan lima tahun lalu seolah menuntut pembalasan malam ini.
"Arthur Arkananta... kurasa kamu tidak pernah membayangkan kalau wanita yang dulu kamu buang seperti sampah, kini memegang kendali atas proyek masa depan perusahaanmu," gumam Elena lirih.
Dia kemudian menggandeng tangan mungil Leon dengan erat, melangkah keluar menuju mobil jemputan mewah yang sudah menunggunya di lobi bandara. Angin malam Jakarta menyambut kehadirannya.
Permainan kita baru saja dimulai, Arthur. Bersiaplah untuk berlutut di kakiku.
Gedung pencakar langit milik Grup Arkananta berdiri dengan angkuh di pusat distrik bisnis ibu kota, mencerminkan kekuasaan absolut pemiliknya. Di lantai paling atas, tepatnya di dalam ruang rapat utama, atmosfer terasa begitu mencekam. Udara dingin yang diembuskan oleh pendingin ruangan sentral seolah membeku, kalah oleh ketegangan yang mendidih di antara belasan direksi dan pemegang saham yang duduk melingkari meja oval panjang dari kayu mahoni.
Di kursi utama, duduklah Arthur Arkananta. Pria berusia tiga puluh tahun itu mengenakan setelan jas hitam custom-made yang membungkus tubuh tegap atletisnya dengan sempurna. Wajahnya yang rupawan bak pahatan dewa Yunani tampak datar tanpa ekspresi, sepasang mata elangnya yang tajam menatap dingin ke arah jam dinding digital di ujung ruangan. Kurang dari satu menit sebelum waktu yang dijanjikan untuk presentasi tender proyek mega-resor di Bali.
"Apakah perwakilan dari firma Milan itu selalu tidak menghargai waktu?" suara Arthur rendah, berat, dan berwibawa, bergaung di ruangan yang sunyi. Nada bicaranya mengandung intimidasi yang membuat beberapa manajer senior spontan menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung sang CEO berdarah dingin.
Tepat ketika angka di jam digital berganti menunjukkan pukul sembilan tepat, pintu ganda ruang rapat yang terbuat dari kayu jati tebal diketuk dari luar, lalu terbuka lebar.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter menggema ritmis di atas lantai marmer yang mengkilap. Seseorang melangkah masuk dengan anggun, memecah keheningan yang sempat mencekam.
Arthur, yang awalnya bersedekap dada dengan posisi angkuh, seketika membeku di kursinya. Pena emas yang berada di sela jemarinya terlepas begitu saja, berdenting pelan di atas meja kaca sebelum berhenti bergerak. Sepasang mata elangnya melebar sempurna. Napas pria itu tertahan di tenggorokan, seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu mendadak lenyap ditelan bumi.
"Maaf membuat Anda semua menunggu, Tuan-Tuan," sebuah suara wanita yang merdu, jernih, namun sedingin es terdengar memenuhi ruangan.
Wanita itu melangkah maju tanpa ragu. Setelan blazer merah marun yang ia kenakan melekat indah di tubuh semampainya, memancarkan aura seorang pemimpin wanita yang tangguh dan mandiri. Rambut cokelat madunya bergoyang indah seiring dengan langkah kakinya. Ketika dia melepaskan kacamata hitam besarnya, seluruh orang di ruangan itu menahan napas. Wajahnya begitu cantik, dengan sorot mata yang tajam dan bibir merah merona yang melengkung membentuk senyuman formal yang sangat berjarak.
Itu Elena.
Jantung Arthur berdegup kencang secara tidak beraturan. Gemuruh di dadanya begitu hebat hingga tangannya yang berada di bawah meja mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Elena...? Bagaimana mungkin? batin Arthur menjerit frustrasi.
Wanita yang lima tahun lalu dia usir ke jalanan di tengah badai hujan, wanita yang dikabarkan oleh ibu tirinya telah meninggal kelaparan bersama janin di kandungannya di luar negeri, kini berdiri tegak di hadapannya. Elena tidak lagi tampak menyedihkan atau menangis tersedu-sedu memohon keadilan seperti dulu. Dia berdiri bagai seorang ratu yang siap menaklukkan dunia.
"Selamat pagi, Tuan Arkananta yang terhormat," ucap Elena lurus, menatap tepat ke sepasang mata Arthur yang tampak bergetar hebat. Tidak ada ketakutan, tidak ada kebencian yang meledak-ledak di mata wanita itu. Hanya ada kekosongan yang teramat dalam, seolah Arthur hanyalah orang asing yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan.
Elena mengulurkan tangannya yang lentik dan putih bersih secara profesional di depan Arthur. "Saya Eleanor Vance, perwakilan utama dan direktur kreatif dari firma desain interior Milan. Senang bisa bertemu dengan klien sebesar Grup Arkananta."
Arthur bangkit dari kursi kebesarannya dengan sentakan kasar, hingga kursi kulit mewah itu bergeser ke belakang dan menimbulkan suara decitan yang memekakkan telinga. Para direksi di sekitarnya saling pandang dengan wajah bingung, heran melihat bos mereka yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini tampak kehilangan kendali hanya karena melihat seorang desainer baru.
"Kamu... kamu masih hidup?" suara Arthur terdengar serak, sarat akan emosi yang campur aduk antara syok, rasa bersalah, dan kerinduan yang mendalam yang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi. Matanya memerah, menatap lekat-lekat wajah mantan istrinya, mencari tahu apakah ini semua nyata atau hanya ilusi belaka.
Elena menarik kembali tangannya dengan santai karena tidak disambut oleh Arthur. Dia melipat tangannya di depan dada, mempertahankan senyum formalnya yang menusuk.
"Tentu saja saya hidup, Tuan Arthur. Mengapa saya harus mati sebelum melihat kesuksesan proyek besar Anda?" Elena terkekeh pelan, sebuah kekehan yang terdengar begitu meremehkan di telinga Arthur. "Saya di sini untuk melakukan bisnis profesional dengan Anda. Kecuali... Anda berniat membatalkan kontrak bernilai ratusan miliar ini hanya karena masalah pribadi yang tidak penting?"
Kata-kata Elena mendarat telak bagai tamparan di wajah Arthur. Mengingat para pemegang saham asing juga ada di ruangan ini, Arthur terpaksa menelan kembali semua pertanyaan pribadi yang ingin dia muntahkan. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debaran jantungnya, lalu kembali duduk dengan gestur kaku.
"Silakan mulai presentasi Anda, Nona Vance," ucap Arthur dingin, sengaja menekankan nama belakang baru Elena dengan nada tidak suka.
Elena tersenyum sinis. Dia memberi kode kepada asistennya untuk menyalakan proyektor. Selama tiga puluh menit berikutnya, Elena mendominasi ruangan. Suaranya yang tegas memaparkan konsep desain resor mewah yang belum pernah dipikirkan oleh siapa pun di Indonesia. Dia memadukan unsur budaya lokal dengan kemewahan modern Eropa yang sangat berkelas. Para direksi dan investor asing berkali-kali mengangguk kagum, terpesona oleh kecerdasan dan visi bisnis yang dipaparkan Elena.
Arthur sendiri hampir tidak fokus pada materi presentasi. Matanya terpaku pada bibir Elena yang bergerak, pada ekspresi wajahnya yang penuh percaya diri. Ada rasa bangga, namun di sisi lain, ada rasa sakit yang menusuk hatinya saat menyadari bahwa wanita sehebat ini pernah dia sia-siakan.
"Jadi, Tuan Arkananta," Elena menutup presentasinya, berjalan mendekat ke arah meja Arthur dan meletakkan sebuah draf kontrak baru di hadapan pria itu. "Ini adalah klausul kerja sama kita. Saya meminta kendali penuh atas pemilihan material dan pekerja, serta hak veto seratus persen jika ada pihak internal perusahaan Anda yang mencoba mencampuri desain saya. Jika Anda tidak setuju, saya bisa membawa konsep ini ke kompetitor utama Anda, Grup Wijaya, yang kemarin juga menawarkan kerja sama."
Suasana kembali menegang. Elena terang-terangan memberikan ancaman bisnis dan memojokkan Arthur di depan para pemegang sahamnya sendiri. Jika Arthur menolak, dia akan kehilangan proyek masa depan perusahaan sekaligus mempermalukan dirinya sendiri di mata investor. Namun jika dia menerima, artinya dia harus membiarkan Elena memegang kendali penuh atas dirinya selama proyek ini berlangsung.
Arthur menatap kontrak itu, lalu mendongak menatap mata Elena yang berkilat menantang. Sudut bibir Arthur terangkat tipis, membalas tatapan itu dengan binar mata yang kembali berbahaya.
"Menarik," bisik Arthur, suaranya terdengar seksi sekaligus mengancam. Dia mengambil pena emasnya yang sempat terjatuh, lalu dengan cepat menandatangani kontrak tersebut tanpa ragu. "Saya menerima semua syarat Anda, Nona Vance. Mari kita lihat, seberapa jauh Anda bisa mengendalikan saya di proyek ini."
Elena menerima kembali dokumen yang sudah ditandatangani itu dengan senyum kemenangan. "Pilihan yang cerdas, Tuan CEO. Sampai jumpa di hari pertama kerja saya... besok pagi."
Elena berbalik, melangkah keluar dari ruang rapat dengan kemenangan mutlak di tangannya, meninggalkan Arthur yang menatap punggungnya dengan sejuta rencana untuk mengulik kembali rahasia lima tahun lalu yang terkubur rapat.
Suara ketukan sepatu hak tinggi Elena bergema di dinding-dinding beton area parkir bawah tanah khusus eksekutif. Langkahnya cepat dan konstan, mencerminkan suasana hatinya yang puas setelah berhasil membuat Arthur menandatangani kontrak kerja sama tanpa berkutik. Di tangan kanannya, Elena memeluk map kulit berisi dokumen berharga yang akan menjadi tiket masuknya untuk merebut kembali putri kandungnya.
"Kerja bagus, Mama. Aku melihat wajah pria tua itu di layar monitor ruang kontrol. Dia tampak seperti baru saja menelan seekor lalat hidup," suara Leon terdengar renyah dari earpiece nirkabel yang terpasang di telinga kiri Elena.
Elena terkekeh pelan, menekan tombol pada kunci otomatisnya hingga lampu mobil SUV hitam mewah di depannya berkedip. "Ini baru permulaan, Leon. Pria itu belum melihat apa-apa. Bagaimana dengan situasi di kediaman Arkananta? Apakah kamu sudah berhasil melacak jadwal Lia?"
"Sudah, Ma. Setiap hari Selasa dan Kamis sore, Kak Lia selalu dibawa ke kelas balet di kawasan Menteng. Besok adalah hari Selasa. Kita bisa—"
Ucapan Leon terputus seketika ketika sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul dari balik pilar beton besar di samping mobil Elena. Sebelum Elena sempat bereaksi, sebuah tangan kekar dan hangat mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, menarik tubuhnya hingga bersandar pada pintu mobil.
Brak!
Elena terperangah. Matanya membelalak menatap sosok pria yang kini mengurung tubuhnya di antara kedua lengan kekar yang bertumpu pada bodi mobil. Aroma parfum maskulin yang sangat familier campuran antara kayu cedar dan mint langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya.
Arthur Arkananta. Pria itu berdiri begitu dekat, hingga Elena bisa merasakan deru napasnya yang memburu dan tidak teratur. Setelan jas hitamnya sudah tampak sedikit berantakan, dasinya agak longgar, mencerminkan keputusasaan yang coba dia sembunyikan selama rapat berlangsung. Sepasang mata elangnya yang memerah menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Elena, seolah takut jika wanita di hadapannya ini akan menghilang lagi jika dia berkedip.
"Lepaskan saya, Tuan Arkananta," ucap Elena. Suaranya kembali memadat, dingin, dan penuh penekanan, menyembunyikan keterkejutan yang sempat menyengat dadanya. Dia mencoba menyentak tangannya, namun cengkeraman Arthur justru semakin mengerat, meski tidak sampai menyakitinya.
"Elena... hentikan sandiwara sialan ini!" suara Arthur serak, bergetar menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. "Eleanor Vance? Nama palsu apa itu?! Kamu Elena, istriku! Kamu masih hidup... dan kamu mengabaikanku seolah aku ini sampah di ruang rapat tadi!"
Elena menatap Arthur dengan tatapan meremehkan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang teramat dingin. "Istri? Maaf, memori Anda tampaknya agak terganggu, Tuan CEO yang terhormat. Seingat saya, istri Anda sudah mati lima tahun lalu. Bukankah Anda sendiri yang membiarkannya pergi di tengah badai hujan tanpa peduli apakah dia akan mati kelaparan atau tidak?"
Kalimat Elena menghantam ulu hati Arthur dengan telak. Pria itu tampak tersentak, binar matanya meredup, menyiratkan rasa sakit dan penyesalan yang mendalam.
"Malam itu... aku tidak tahu kalau Ibu tiri—" Arthur mencoba membela diri, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku mencarimu, Elena! Begitu aku tahu dokumen medis itu palsu dan semua itu hanya fitnah, aku mencarimu ke seluruh penjuru kota! Aku bahkan mengirim orang ke luar negeri setelah mendengar rumor tentangmu, tapi mereka bilang... mereka bilang kamu dan anak kita sudah tidak ada!"
"Lalu apa gunanya penyesalan Anda sekarang?!" Elena memotong ucapan Arthur dengan nada yang tiba-tiba meninggi. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangannya retak, menampilkan kilatan kemarahan yang membara. Dia mendorong dada bidang Arthur dengan seluruh kekuatannya hingga pria itu terpaksa mundur satu langkah.
Elena merapikan blazernya yang sedikit kusut dengan gestur elegan, menatap Arthur dengan pandangan penuh kebencian yang murni. "Apakah dengan mencari saya, lima tahun penderitaan saya di jalanan bisa terhapus? Apakah air mata saya bisa kembali? Tidak, Arthur. Hubungan kita sudah selesai sejak malam jahanam itu. Sekarang, saya adalah Eleanor Vance. Dan hubungan kita hanya sebatas bisnis profesional. Jika Anda melanggarnya, saya tidak akan segan-segan membatalkan proyek ini dan menghancurkan reputasi perusahaan Anda."
Arthur mengepalkan tinjunya, menatap wanita di depannya dengan perasaan campur aduk. Dia bisa merasakan dinding es yang begitu tebal telah dibangun Elena untuk memisahkannya. Namun, di tengah keputusasaannya, mata tajam Arthur tidak sengaja menangkap sesuatu yang ganjil.
Dari earpiece kecil yang terpasang di telinga Elena, terdengar suara bisikan anak kecil yang cukup jelas di keheningan basemen yang sepi itu.
"Mama? Apa pria brengsek itu menyakitimu? Aku akan mematikan seluruh aliran listrik di gedung itu sekarang juga!"
Arthur membeku. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Suara anak kecil? Dan anak itu memanggil Elena dengan sebutan 'Mama'?
"Siapa... siapa yang sedang berbicara denganmu, Elena?" tanya Arthur dengan suara bergetar, tatapannya beralih menatap tajam ke arah telinga Elena. "Kamu... kamu punya anak?"
Elena seketika tersentak. Dia tersadar kalau Leon masih terhubung di saluran telepon. Dengan cepat, Elena mematikan tombol koneksi pada earpiece-nya, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin, walau di dalam hatinya dia mulai panik. Rahasia tentang Leon tidak boleh terbongkar sekarang!
"Itu bukan urusan Anda, Tuan Arkananta," jawab Elena dingin. Dia langsung membuka pintu mobil SUV-nya, masuk ke dalam kemudi, dan menutup pintunya dengan keras sebelum Arthur sempat mengajukan pertanyaan lebih lanjut.
Arthur hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya saat mobil mewah Elena melesat pergi meninggalkan area basemen, menyisakan deru mesin yang menggema dan kepulan asap tipis. Pria itu memegangi dadanya yang terasa sesak, sementara otaknya terus berputar memikirkan suara anak kecil tadi.
Suara itu... entah mengapa terdengar sangat mirip dengan suara Lia, putri kecilnya yang kini dia rawat di rumah.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!