Indonesia
NovelToon NovelToon

Logika Diatas Cinta

Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es

​Aroma sup asparagus yang gurih berpadu dengan wangi panggangan daging premium memenuhi ruang VIP restoran hotel bintang lima itu. Alunan musik jazz lembut yang mengalun dari sudut ruangan seharusnya menciptakan atmosfer yang intim dan hangat. Hari ini, tepat tiga minggu sebelum hari pernikahan akbar digelar, dua keluarga besar berkumpul untuk mematangkan detail akhir. Namun, bagi Nadine Lavena, udara di dalam ruangan ini terasa mencekik, seolah-olah mereka sedang merayakan kepalsuan di atas tumpukan bangkai yang disembunyikan dengan rapi.

​Di sampingnya, Heyden Ames duduk dengan postur tegak dan senyum menawan yang tak pernah lepas dari wajah tampannya. Sesekali, pria itu mengusap punggung tangan Nadine dengan lembut, menunjukkan gestur penuh kasih sayang di hadapan orang tua mereka.

​"Untuk urusan suvenir kristal dan undangan tambahan dari relasi kerja, semua sudah diselesaikan minggu lalu, Tante. Nadine yang memilih konsepnya langsung," ucap Heyden dengan nada suara yang begitu manis dan penuh perhatian.

​"Ah, selera Nadine memang selalu mengagumkan. Ibu tidak sabar melihat kalian berdua berdiri di pelaminan nanti," sahut ibunda Heyden sembari menyesap teh kamomilnya dengan anggun.

​Nadine menarik tangannya perlahan dari genggaman Heyden, meletakkannya di atas pangkuan. Wajahnya yang berparas unik memancarkan ketenangan yang mutlak, seolah ia tengah menghadiri rapat bisnis alih-alih pembicaraan hari bahagianya sendiri.

​"Ada apa, Sayang? Kamu lelah?" Heyden berbisik lembut, mendekatkan wajahnya dengan tatapan mata yang dipenuhi kehangatan palsu.

​Nadine tidak menjawab. Wanita itu membuka tas jinjingnya dengan gerakan anggun yang terukur. Tangannya yang lentik meraba seberkas amplop cokelat tebal yang terasa berat di dalam sana. Dengan satu gerakan tegas, Nadine menjatuhkan amplop itu tepat di tengah meja bundar, berdentang pelan dengan mangkuk porselen di dekatnya. Bunyi deb yang berat itu seketika menghentikan tawa dan obrolan kedua keluarga.

​"Nadine? Apa ini?" Ayah Nadine yang duduk di ujung meja mengernyitkan dahi, menatap putrinya dengan bingung.

​"Silakan dibuka, Heyden. Kurasa isi di dalamnya jauh lebih menarik daripada pembahasan vendor katering kita hari ini."

​Heyden tertawa canggung, matanya melirik sekilas ke arah ibunya sebelum meraih amplop tersebut. "Kamu ini ada-ada saja, Nadine. Membuat kejutan di depan orang tua kita—"

​Kalimat Heyden terputus seketika saat segel amplop terbuka dan isinya terserak di atas meja. Lembaran-lembaran foto beresolusi tinggi memperlihatkan dirinya tengah memeluk erat seorang wanita seksi di dalam lobi sebuah apartemen mewah. Tidak hanya itu, beberapa lembar cetakan berisi riwayat obrolan digital yang teramat mesra terpampang nyata dengan tanggal dan waktu yang sangat jelas tepat satu bulan yang lalu, saat Heyden pamit untuk perjalanan bisnis ke luar kota.

​Warna darah langsung surut dari wajah tampan Heyden. Tangannya gemetar hebat, membuat selembar foto tergelincir jatuh ke lantai marmer.

​"Ini... Nadine, ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Ini hanya salah paham!"

​"Salah paham yang konsisten selama tiga bulan terakhir, Heyden? Di apartemen yang kamu sewa menggunakan kartu kredit atas namaku?" Nadine bertanya dengan suara yang sangat tenang, tanpa ada nada histeris sedikit pun.

​"Nadine! Apa-apaan kamu ini! Jangan membuat fitnah yang merusak nama baik anak saya di meja ini!" Ibu Heyden berdiri dari kursinya dengan wajah memerah, menunjuk Nadine dengan telunjuk yang bergetar karena murka.

​"Ibu Ames yang terhormat, anak Anda yang menghancurkan nama baik keluarga Anda sendiri. Pernikahan ini batal." Nadine berdiri dari kursinya. Ia merapikan blus satinnya yang sedikit berkerut dengan gerakan yang sangat santai, seolah tidak ada badai yang baru saja ia sulut di dalam ruangan itu.

​"Nadine, kumohon! Aku khilaf, aku mencintaimu! Hanya kamu yang akan menjadi tumpuanku, Nadine!" Heyden mencoba merangsek maju dan meraih pergelangan tangan Nadine, namun ayah Nadine dengan cepat berdiri dan menggebrak meja hingga cangkir-cangkir teh berdenting keras.

​"Jangan berani-berani menyentuh putriku dengan tangan kotormu, keparat! Pertemuan ini selesai!" Suara bariton sang ayah menggema penuh amarah, langsung menghentikan langkah Heyden.

​Nadine membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang VIP tanpa menoleh lagi. Punggungnya tegak, langkah kaki dengan sepatu berhak sedang terdengar konstan di atas karpet tebal koridor hotel yang sunyi dan berbau pengharum ruangan lavender yang mewah.

​{Cinta. Kasih sayang. Komitmen manusia. Semuanya benar-benar hal tabu yang paling menjijikkan dan tidak masuk akal di dunia ini.}

​Di dalam dadanya yang hampa, rasa sakit itu menjelma menjadi dinding es yang tebal. Kejadian hari ini seolah memutar kembali kaset rusak yang paling ia benci dalam hidupnya. Ingatan masa kecilnya mendadak berputar kejam saat ia masih berusia tujuh tahun, berdiri di bawah guyuran hujan melihat ibu kandungnya sendiri mengemas koper, membuangnya tanpa pernah menoleh lagi seolah Nadine hanyalah seonggok sampah yang tidak berharga.

​Nadine mencengkeram tali tasnya erat-erat. Air matanya tidak menetes, karena ia sudah bersumpah bahwa air mata terlalu berharga untuk dibuang demi manusia-manusia pengkhianat. Sungguh bodoh dirinya yang sempat memercayai Heyden sebagai semangat hidup dan tumpuan masa depannya. Di dunia ini, tidak ada satu pun manusia yang bisa dipercaya dan disayangi dengan tulus, terkecuali ayahnya sendiri. Selebihnya, segalanya hanyalah tentang transaksi dan bagaimana cara mempertahankan diri dari kejamnya rasa kecewa.

****

​Aroma asap cerutu mahal berpadu dengan wangi kayu cendana dari furnitur antik memenuhi ruang kerja utama kediaman Ernest. Di balik meja kaca besar, Kyle Ernest duduk dengan postur tegap yang kaku. Setelan jas hitam custom-tailored yang melekat sempurna pada tubuh maskulinnya menegaskan kekuasaan mutlak yang ia miliki di usianya yang masih tergolong muda. Namun, wajah tampannya sedingin es utara, sama sekali tidak tersentuh oleh kehangatan lampu kristal yang berpijar di atas kepalanya.

​Di seberang meja, sang ibu duduk dengan raut wajah yang dipenuhi tuntutan, membolak-balik selembar brosur profil dari putri seorang rekan bisnis terpandang.

​"Besok malam, jam delapan tepat di restoran hotel bintang lima. Ibu tidak mau mendengar alasan pekerjaan lagi, Kyle. Kamu harus datang ke kencan buta ini."

​"Aku tidak punya waktu untuk permainan kekanak-kanakan seperti ini, Ibu." Kyle menjawab dengan suara berat yang datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet yang menampilkan laporan saham.

​"Ini bukan permainan! Ibu dan Ayah ingin segera memomong cucu. Umurmu sudah lebih dari cukup untuk memimpin keluarga ini sepenuhnya. Sampai kapan kamu mau hidup membujang seperti ini?"

​"Sampai aku menemukan wanita yang tepat."

​"Wanita yang tepat? Maksudmu perempuan licik bernama Kinara itu?" Suara sang ibu mendadak meninggi, dipenuhi rasa antipati yang mendalam. "Sampai mati pun, Ibu tidak akan pernah mengizinkan wanita serakah seperti dia masuk ke dalam silsilah keluarga Ernest! Dia hanya menginginkan hartamu, Kyle!"

​"Kinara tidak seperti itu. Ibu tidak pernah mengenalnya dengan baik." Kyle meletakkan tabletnya di atas meja dengan ketukan yang cukup keras, mengisyaratkan bahwa kesabarannya mulai menipis.

​"Ibu yang mengirimnya keluar negeri lima tahun lalu karena Ibu tahu persis isi otaknya! Sudahlah, besok malam kamu harus datang, atau Ibu akan membekukan seluruh aset pribadimu di yayasan keluarga." Sang ibu berdiri, melangkah pergi dari ruangan dengan ketukan sepatu hak tinggi yang tajam, meninggalkan keheningan yang mencekik.

​Kyle menyandarkan punggungnya pada kursi kulit kebesarannya, menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya yang berdenyut. Pria itu merogoh laci mejanya yang terkunci, mengeluarkan sebuah ponsel khusus yang hanya memiliki satu kontak di dalamnya. Ia membuka sebuah aplikasi pelacak dan galeri foto terenkripsi yang dikirimkan oleh agen rahasianya di London.

​Di layar kaca itu, terpampang foto seorang wanita cantik nan seksi dengan gaun mini ketat yang sedang berjalan keluar dari sebuah butik mewah di kawasan mewah London. Kinara Inka. Wanita yang selama lima tahun ini selalu ia pantau diam-diam dari kejauhan, wanita yang ia yakini sebagai satu-satunya pemilik ketulusan di masa lalunya.

​{Kinara... tunggu sebentar lagi. Aku akan menemukan cara untuk membawamu kembali ke sini, tidak peduli seberapa keras Ibu dan Ayah menentang kita.}

​Kyle mengusap layar ponselnya dengan lembut, ekspresi es di wajahnya melunak sesaat sebelum kembali mengeras. Pria itu tidak pernah mengetahui, atau mungkin menolak untuk melihat fakta, bahwa di seberang lautan sana, Kinara Inka sedang tertawa riang di atas sofa kelab malam bersama beberapa pria asing, menggunakan kartu kredit tanpa limit yang setiap bulan diisi oleh Kyle. Bagi Kinara, Kyle Ernest hanyalah sebuah mesin ATM berjalan yang bodoh, pria tampan penuh kuasa yang sangat mudah dimanipulasi hanya dengan derai air mata palsu dan akting wanita tertindas.

​Begitu mudahnya Kyle dibayangi oleh ilusi cinta, sementara di sudut kota yang sama, takdir sedang mempersiapkan seorang wanita yang jauh berbeda untuk mematahkan seluruh keyakinan bodohnya itu.

BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran

​Semburat jingga kemerahan dari matahari senja mulai menyapu langit ibu kota yang bising. Seminggu telah berlalu sejak pembatalan pernikahan akbar yang sempat menghebohkan jagat maya itu. Nadine Lavena berjalan menyusuri trotoar beton yang ramai, membiarkan embusan angin sore menerpa wajahnya yang tanpa ekspresi. Pikirannya terasa hampa, lelah, dan nyaris mati rasa setelah badai pengkhianatan yang memporak-porandakan harga dirinya. Langkah kaki ini murni hanya sebuah pelarian sesaat. Ia butuh mengistirahatkan kepalanya dari tatapan kasihan dan bisik-bisik miring orang-orang di kantor yang mulai terasa seperti jarum halus.

​Langkah kaki Nadine terhenti di depan sebuah bangunan dengan eksterior bata merah tanpa plester. Sebuah papan besi berkarat bertuliskan nama restoran dengan konsep industrial berdiri kokoh di samping pintu masuk. Dari balik jendela kaca besar yang mulai sedikit berembun karena perbedaan suhu, suasana di dalam tampak begitu tenang. Kontras dengan kegaduhan jalan raya di luar sana.

​Nadine mendorong pintu kayu berbingkai besi hitam tebal. Bunyi denting bel kuningan menyambut kehadirannya, langsung disusul oleh aroma pekat biji kopi Arabica yang baru saja digiling, berpadu dengan keharuman mentega manis yang menguar dari panggangan roti yang baru matang. Perpaduan aroma yang menenangkan. Dinding semen ekspos berwarna abu-abu gelap, jajaran lampu gantung Edison yang berpijar kuning temaram, serta tiang-tiang baja hitam kokoh memberikan atmosfer kasual yang ia butuhkan saat ini.

​Nadine memilih meja paling pojok, sebuah area yang agak temaram namun memberinya sudut pandang bebas ke seluruh penjuru ruangan. Ia meletakkan tas jinjing kulitnya dengan anggun, lalu memesan secangkir iced americano tanpa gula dan sepotong croissant cokelat kepada pelayan yang datang mendekat.

​Tak lama setelah pesanannya tiba di atas meja kayu yang kasar, perhatian Nadine teralih oleh kedatangan seorang perempuan cantik bergaun merah ketat. Perempuan itu memilih meja yang berada tepat di jalur pandang Nadine. Dari gesturnya yang terus-menerus memeriksa riasan melalui cermin bedak kecil, juga aroma parfum melati sintetik yang menyengat tajam dari tubuhnya, perempuan itu jelas tengah menunggu seseorang yang sangat penting dengan tingkat kecemasan tinggi.

​Pintu restoran kembali berdenting beberapa menit kemudian. Detik itu juga, Nadine merasakan atmosfer di dalam ruangan mendadak turun beberapa derajat. Dingin yang menusuk.

​Seorang pria melangkah masuk dengan keangkuhan yang nyata dalam setiap gerakannya. Postur tubuhnya yang maskulin dan tegap dibalut setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi, meregang sempurna pada proporsi tubuh yang tampak terlalu tidak nyata untuk ukuran manusia biasa. Wajahnya luar biasa tampan dengan rahang tegas yang kaku, namun sepasang matanya memancarkan aura es yang menusuk. Pria itu adalah Kyle Ernest.

​Kyle berjalan lurus tanpa mengalihkan pandangan, menuju meja perempuan bergaun merah yang langsung menegakkan punggungnya dengan senyum lebar. Pria itu duduk di hadapannya tanpa sedikit pun berniat membalas keramahan tersebut. Sikapnya begitu angkuh saat tangannya menjatuhkan selembar dokumen tebal di atas meja kayu.

​"Langsung saja ke intinya. Ini draf pernikahan kontrak yang saya tawarkan. Baca dan tanda tangani jika Anda setuju."

​Suara berat dan datar itu terdengar sangat acuh tak acuh, seolah-olah Kyle sedang melakukan transaksi jual beli tanah alih-alih menawarkan sebuah komitmen hidup.

​Perempuan seksi itu mengernyitkan dahi. Begitu matanya membaca poin demi poin di lembaran tersebut, wajah cantiknya yang dilapisi riasan tebal mendadak berubah masai. "Apa-apaan ini, Pak Kyle? Tidak diperbolehkan tidur seranjang? Tidak boleh mencampuri urusan pribadi Anda? Bahkan tidak ada pembangunan keharmonisan secara nyata di luar rumah kecuali berakting di depan kamera? Anda sedang bercanda dengan saya?"

​Mata perempuan itu meneliti wajah Kyle, mencoba mencari celah. Secara objektif, perempuan mana yang tidak akan tergoda oleh ketampanan dan proporsi tubuh Kyle yang begitu sempurna? Perempuan itu memajukan tubuhnya, menatap Kyle dengan pandangan sensual yang kentara, mencoba menggoda pria es itu secara terang-terangan. "Kita bisa memulainya dengan lebih santai, Kyle. Tubuhmu... terlalu sayang untuk diabaikan begitu saja dalam sebuah pernikahan, bukan?"

​Kyle sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap sedingin es utara, sama sekali tidak tersentuh oleh godaan murah itu. "Saya tidak butuh romansa ataupun sentuhan fisik dari Anda. Tugas Anda hanya berakting sebagai istri yang patuh di depan orang tua saya agar mereka berhenti mengganggu saya dengan kencan buta ini."

​"Perjanjian ini benar-benar konyol dan menghina saya!"

​Perempuan itu berdiri dengan menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai semen ekspos, merasa harga dirinya diinjak-injak di tempat umum. Sebelum membalikkan badan untuk pergi, dengan refleks yang cepat ia meraih gelas air putih dingin di atas meja dan menyiramkannya tepat ke wajah tampan Kyle.

​"Percuma ganteng kalau tidak bisa digunakan! Dasar pria aneh!"

​Hentakan sepatu hak tingginya yang memekakkan telinga mengiringi langkah gusarnya keluar dari restoran.

​Nadine yang sejak awal menyaksikan seluruh pertunjukan gratis itu dari pojok ruangan spontan menarik sudut bibirnya. Suara percakapan mereka yang cukup jelas terdengar karena posisi meja yang berdekatan membuat insting humornya terusik. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah anggunnya, memperlihatkan sedikit barisan giginya yang rapi. Drama di depannya ini jauh lebih menghibur daripada tayangan televisi mana pun.

​Namun, gerakan kecil dari bibir Nadine ternyata tidak luput dari sepasang mata tajam milik Kyle. Pria itu meraih selembar tisu dari wadah di meja, mengusap sisa air putih yang menetes dari ujung rambut dan rahang tegasnya dengan gerakan perlahan, tanpa mengubah ekspresi dinginnya sama sekali. Matanya kini terkunci sepenuhnya pada Nadine.

​Kyle berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang lebar terdengar mantap mendekati meja pojok tempat Nadine duduk, lalu menatap wanita itu dari atas dengan pandangan mengintimidasi yang tajam.

​"Kenapa? Anda juga mau menggunakan saya?"

​Nadine menghentikan senyumannya, namun ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah takut atau salah tingkah karena tertangkap basah sedang menertawakan kemalangan orang lain. Ia mendongak dengan tenang, membalas tatapan tajam pria beraura es di depannya dengan ketenangan yang setara.

​"Maaf, saya tidak tertarik. Hanya merasa lucu."

​Mendengar jawaban yang begitu tenang dari seorang wanita asing, Kyle menaikkan sebelah alisnya. Ketertarikan samar yang belum pernah ada sebelumnya melintas di matanya yang biasa mati rasa. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Kyle menarik kursi besi di hadapan Nadine dan duduk dengan sikap angkuh yang khas.

​"Jadi bagaimana jika Anda saja yang menjadi pasangan kontrak saya?"

​Nadine terkejut. Cangkir kopi yang baru saja hendak diletakkannya kembali ke atas meja tertahan di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya mendarat dengan denting pelan. Ia menatap Kyle dengan tatapan tidak percaya, mengamati wajah tampan yang kini dipenuhi kelicikan yang mulai tampak di sela-sela ekspresi dinginnya.

​"Anda gila ya? Sekurang-itukah persediaan perempuan yang mau dengan Anda?"

​"Yang mau banyak, bahkan mengantre sampai luar jalan raya. Hanya saja saya tidak ingin mereka mencampuri urusan pribadi saya, apalagi menuntut kisah romantis sungguhan di dalam rumah. Namun Anda baru saja bilang tidak tertarik pada saya, jadi bagaimana jika terima saja?" Kyle bersandar pada kursi besi, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pose menantang.

​"Tidak, saya tidak mau."

​"Berarti ucapan Anda yang tidak tertarik pada tubuh saya itu bohong. Anda menolak karena sebenarnya Anda takut akan tergoda pada saya, sama seperti wanita bergaun merah tadi."

​Senyum smirk Kyle mengembang tipis, sangat tipis namun cukup untuk memprovokasi harga diri Nadine yang sedang berada di titik sensitif.

​"Tidak, saya tidak berbohong." Nadine menegaskan suaranya, sepasang matanya menajam menatap Kyle dengan ketegasan yang mutlak.

​"Ya sudah, terima saja jika begitu. Buktikan kalau ucapan Anda yang tidak tertarik itu nyata."

​{Pria ini... benar-benar tinggi hati sekali. Dia pikir semua hal di dunia ini bisa dia taklukkan dan dia tebak dengan mudah menggunakan ketampanannya?}

​Naluri pertahanan diri di dalam otak Nadine tiba-tiba merasa tertantang oleh perkataan provokatif dari Kyle. Sifat dasarnya yang keras kepala seketika mendominasi akal sehatnya, menenggelamkan rasa waspada yang seharusnya ia miliki terhadap orang asing. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Kyle yang kelabu sedingin salju.

​"Oke, saya terima."

​"Deal."

​Kyle memberikan senyuman smirk yang menandakan kemenangan mutlaknya atas ego wanita di hadapannya. Sebelum berdiri dari kursi dan meninggalkan meja, pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif berwarna hitam dengan tulisan berlapis emas, lalu meletakkannya dengan ketukan pelan di atas meja kayu.

​"Pendaftaran pernikahan akan diadakan tiga hari lagi di kantor KUA setempat, sekaligus menandatangani surat perjanjian pernikahan kontraknya. Jangan sampai terlambat, Calon Istri."

​Kyle berdiri, membalikkan tubuh maskulinnya, dan melangkah keluar dari restoran dengan gaya dinginnya yang berkuasa, meninggalkan aroma kayu cendana tipis di sekitar meja Nadine.

​Lima belas menit berlalu setelah kepergian Kyle, dan Nadine masih terpaku di kursinya, menatap kartu nama hitam bertuliskan 'Kyle Ernest - CEO Ernest Group' itu dengan pandangan horor yang mendalam. Kesadaran penuh mendadak menghantam kepalanya bagai gada besi yang sangat berat. Es di dalam gelas iced americano-nya telah mencair sepenuhnya, menyisakan air kopi yang tawar.

​{Nadine Lavena, kamu benar-benar bodoh! Sangat, sangat bodoh! Bagaimana bisa kamu menyetujui ajakan pernikahan kontrak dari orang asing yang sama sekali tidak kamu kenal hanya karena terpancing gengsi murah?}

BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun

​Malam merayap semakin larut, menyisakan keheningan pekat yang mendesak masuk lewat celah-celah jendela kaca kamar tidur Nadine. Mist tipis beraroma lavender dari mesin difuser uap terus menyembur ke udara, mencoba menenangkan atmosfer ruangan yang terasa kaku. Namun, keharuman menenangkan itu gagal total meredakan kepanikan yang sedang bergolak liar di dalam dada Nadine.

​Langkah kakinya yang telanjang bergerak gusar, mondar-mandir di atas karpet bulu domba putih yang empuk. Sesekali, matanya melirik tajam ke arah ponsel pintar yang tergeletak pasrah di atas tempat tidur berseprai abu-abu.

​{Bagaimana cara membatalkan kegilaan ini? Kalau Papa sampai tahu aku mendaftarkan pernikahan dengan orang asing dalam waktu tiga hari, beliau bisa terkena serangan jantung di tempat. Aku harus menghentikan ini sekarang juga sebelum semuanya terlambat.}

​Nadine menyambar perangkat tipis itu dengan gerakan cepat. Jemarinya yang sedikit gemetar menyentuh layar, mengetikkan deretan nomor telepon yang tertera pada kartu nama hitam mengilap di tangan kirinya. Jantungnya berdentang keras, seolah memukul dinding dadanya tanpa ampun saat nada sambung mulai terdengar. Satu dering. Dua dering. Tepat pada deringan ketiga, panggilan itu mendadak tersambung dengan suara klik yang pelan namun tegas.

​"Halo, Pak Kyle?"

​Nadine menempelkan ponsel erat-erat ke telinganya, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan getar samar pada suaranya agar terdengar seprofesional mungkin.

​"Siapa?"

​Suara berat dan dalam di seberang sana menyahut tanpa basa-basi. Nada bicaranya yang datar dan acuh tak acuh seketika mengirimkan sensasi dingin yang ganjil melalui gelombang udara telepon.

​"Wanita dari sudut restoran industrial tadi siang."

​"Ada apa?"

​Nadine menarik napas panjang, meremas ujung blus tidurnya yang berbahan katun tipis untuk mencari kekuatan batin. "Apakah... apakah masih ada celah bagi saya untuk membatalkan kesepakatan impulsif yang kita bicarakan tadi siang?"

​Hening sesaat, sebelum akhirnya terdengar suara kekehan sinis yang sangat tipis namun sarat akan ejekan dari seberang saluran. Kyle tampaknya sedang bergeser di atas kursi kerjanya, terdengar dari gesekan kulit mewah yang tertangkap mikrofon ponsel.

​"Ah, jadi dugaanku memang benar. Anda ternyata menyukai saya dan mendadak ketakutan tidak bisa menahan iman Anda setelah melihat ketampanan saya dari jarak dekat, bukan?"

​"Bukan begitu! Jangan terlalu percaya diri!"

​Nadine menyela cepat dengan suara yang naik satu oktav, tidak terima harga dirinya diinjak-injak begitu saja oleh pria yang baru ia temui beberapa jam lalu.

​"Lantas, apa alasan logis yang membuatmu berani mengganggu waktu istirahatku malam-malam begini?"

​Nadine menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat. Kepalanya berputar dengan kecepatan penuh, merangkai alasan yang paling masuk akal agar ia tidak terlihat kalah dalam permainan ego ini. "Saya belum meneliti draf perjanjian kontraknya secara detail dan tertulis. Ada beberapa poin perlindungan diri yang ingin saya tambahkan sebelum saya benar-benar berkomitmen dalam kerja sama jangka panjang ini."

​"Begitu?"

​Kyle menjeda ucapannya, tampaknya sedang menimbang kerasnya kepala wanita asing ini yang ternyata cukup menghibur untuk dilayani.

​"Tenang saja, Pak Kyle. Ini sama sekali bukan pasal yang mengarah pada kehidupan pribadi Anda, ataupun tuntutan pembagian harta gono-gini di kemudian hari. Ini murni draf profesional demi kenyamanan bersama selama masa kontrak berjalan."

​"Baik. Besok pagi sekretaris pribadiku akan mengirimkan draf resminya ke email Anda. Tulis apa saja pasal perlindungan yang Anda inginkan, sepanjang itu tidak mengusik batas privasi saya."

​"Terima kasih banyak atas pengertiannya."

​Nadine langsung memutuskan sambungan sepihak tanpa menunggu kalimat penutup dari pria itu. Ia melemparkan ponselnya ke atas tumpukan bantal dengan napas yang memburu, namun seulas kelegaan kini mulai merayap tipis di dadanya.

​Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang pucat menembus tirai tipis kamar kerja Nadine. Sebuah dokumen berformat PDF masuk ke dalam kotak masuk surat elektroniknya tepat pukul delapan pagi tanpa meleset satu menit pun, dikirim langsung oleh sekretaris pribadi dari kantor CEO Ernest Group.

​Nadine duduk dengan punggung tegak di depan meja kayu jati yang menghadap langsung ke arah taman samping rumah. Mengenakan kacamata baca berbingkai tipis, jemari lentiknya menggulirkan layar tablet, meneliti kata demi kata yang tertulis di atas draf kontrak tersebut dengan ketelitian tingkat tinggi seorang analis keuangan.

​Proses negosiasi ulang dan revisi pasal-pasal perlindungan diri yang diajukan Nadine berlangsung cukup alot selama beberapa jam berikutnya, dimediasi oleh sekretaris Kyle yang bergerak cepat tanpa banyak bertanya. Akhirnya, tepat sebelum tengah hari, kedua belah pihak mencapai kata sepakat secara mutlak. Saat Nadine membaca lembar akhir dokumen yang telah dibubuhi tanda tangan digital berwarna biru tua milik Kyle Ernest, sebuah senyuman puas terukir di wajah cantiknya.

​Dokumen tersebut kini memuat delapan pasal mutlak yang mengikat hubungan pernikahan kontrak mereka selama tiga tahun ke depan tanpa ruang untuk toleransi:

| Nomor Pasal | Isi Perjanjian Kontrak Pernikahan Kontrak |

| **Pasal 1** | Kontrak pernikahan ini hanya berlaku selama **3 tahun** terhitung sejak tanggal pendaftaran resmi di KUA. |

| **Pasal 2** | Pihak Pertama (Kyle Ernest) dan Pihak Kedua (Nadine Lavena) wajib **tidur di ruangan yang terpisah**. |

| **Pasal 3** | Kamar masing-masing pihak merupakan **ruang pribadi yang memiliki privasi penuh** dan dilarang keras dimasuki tanpa izin tertulis atau lisan dari pemilik kamar. |

| **Pasal 4** | Kedua belah pihak **dilarang keras mencampuri urusan pribadi** masing-masing di luar urusan yang melibatkan keluarga besar atau media. |

| **Pasal 5** | Kedua belah pihak **harus terlihat harmonis, serasi, dan saling mencintai** di depan keluarga besar dan di hadapan sorotan kamera media publik. |

| **Pasal 6** | **Tidak ada sentuhan fisik** yang bersifat intim di dalam rumah, apalagi perkembangan romansa dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. |

| **Pasal 7** | **Denda sebesar Rp30.000.000.000 (Tiga Puluh Miliar Rupiah)** wajib dibayarkan secara tunai jika tidak menyelesaikan masa kontrak atau melanggar perjanjian terlebih dahulu. |

| **Pasal 8** | Pihak Kedua akan menerima **gaji per bulan sebesar Rp100.000.000 (Seratus Juta Rupiah)**, di luar fasilitas kartu ATM khusus dan barang-barang mewah yang diberikan untuk menunjang penampilan publik. |

Nadine mengetukkan kuku jarinya ke atas permukaan layar tablet yang dingin, memandangi angka seratus juta rupiah dan nilai denda tiga puluh miliar rupiah itu bergantian dengan binar mata yang berkilat tajam. Bagi seorang wanita yang telah mematikan fungsi hatinya dari segala urusan asmara, angka-angka fantastis ini adalah bentuk keamanan paling nyata yang bisa ia miliki.

​{Tiga tahun hidup dalam kemewahan tanpa gangguan, dibayar seratus juta sebulan hanya untuk berpura-pura tersenyum di hadapan kamera, dan memiliki kamar tidur pribadi yang terpisah? Ini adalah kesepakatan bisnis terbaik yang pernah kudapatkan sepanjang hidupku. Pria angkuh sedingin es itu pikir dia bisa menakut-nakutiku dengan denda tiga puluh miliar? Dia tidak tahu saja bahwa aku sama sekali tidak tertarik pada tubuhnya atau kekuasaannya. Aku hanya memercayai uang, karena lembaran uang tidak akan pernah mengkhianatiku seperti Heyden, atau membuangku ke bawah guyuran hujan seperti wanita itu.}

​Di belahan kota yang lain, di dalam ruang kantor utama di lantai teratas gedung Ernest Tower yang beraroma harum maskulin perpaduan kayu cedar dan kulit mewah, Kyle Ernest menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kebesaran. Pandangannya menyapu pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di bawah sana melalui dinding kaca tebal setinggi langit-langit.

​Matanya beralih menatap salinan draf kontrak pernikahan yang baru saja selesai ditandatangani oleh kedua belah pihak di layar gawai pribadinya. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kelicikan muncul di wajah tampannya yang sedingin salju saat melihat nama 'Nadine Lavena' tertulis rapi di kolom pihak kedua.

​"Dia wanita yang sangat menarik dan cukup tegas untuk ukuran orang asing. Setidaknya dia tidak menatapku dengan pandangan lapar atau berusaha menyentuhku seperti wanita-wanita lain yang dikirimkan Ibuku."

​Kyle menggulirkan draf tersebut ke bawah, mengetuk-ngetuk jarinya pada poin denda tiga puluh miliar rupiah dengan santai.

​"Biarkan dia bermain dengan aturan bisnis kecilnya ini untuk sementara waktu. Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat Ibuku berhenti mengoceh tentang pernikahan."

​Kyle bergumam dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan, mengira dirinya telah mengendalikan seluruh jalannya bidak catur takdir ini dengan sempurna dari kursinya yang nyaman. Pria es itu sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang baru saja ia ikat dalam perjanjian tertulis ini memiliki kecerdikan dan keteguhan hati yang jauh lebih mematikan dari apa yang bisa ia bayangkan. Roda permainan baru saja dimulai, dan kali ini, sang penguasa bisnis mungkin telah menemukan lawan tanding yang sepadan untuk membekukan hatinya sendiri.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!