Indonesia
NovelToon NovelToon

Di Balik Cintanya, Aku Yang Kedua

Kehangatan Pagi

Terlihat sosok wanita cantik tengah tertidur lelap dalam gumpalan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia merasa sangat pulas, hingga derap langkah kaki yang mendekat ke arah ranjang sama sekali tak mengusik tidurnya. Setetes air dingin jatuh di wajahnya, sisa dari basuhan air wudhu, tetapi belum cukup membuat dirinya terjaga. Sebuah tangan besar nan hangat mendarat di pipinya, mengusap kulit lembut itu dengan penuh kasih guna membangunkannya.

"Humairah, bangun yuk. Sudah subuh, apa kamu enggak mau bangun?" tanya seorang pria dengan suara berat dan serak khas bangun tidur.

Azra Ayren, wanita pemilik mata hazel yang indah itu, mulai membuka matanya dan mengerjap pelan. Tatapan matanya langsung tertuju pada wajah tampan sang suami dengan rambut yang masih basah karena air wudhu. Alih-alih langsung beranjak, Azra justru memejamkan matanya lagi, menarik kembali selimutnya hingga menutupi kepala.

"Baru juga adzan, aku masih ngantuk banget, Mas," ucapnya dengan nada manja yang khas.

Melihat tingkah manja sang istri, tak ada sedikit pun rasa marah di wajah Azzam Naufal Ardana. Pria itu justru tersenyum maklum. Dengan lembut, ditariknya selimut yang menutupi wajah Azra, lalu dikecupnya kening sang istri dengan penuh kasih sayang.

"Bangunlah, ayo kita shalat. Setelah ini Mas harus bersiap-siap," ucap Azzam sembari beranjak berdiri.

Mendengar kata 'bersiap', kantuk Azra seketika menguap. Ia segera meraih tangan suaminya, menatap pria itu dengan tatapan lekat yang sarat akan permohonan.

"Mas akan pergi lagi?" tanyanya dengan nada suara yang memelan, seolah tak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang mendalam.

Azzam mengangguk pelan, "Iya, Mas sudah dua minggu di sini, Sayang. Hanya seminggu saja kita berpisah seperti biasanya, hm?" Azzam mencoba menenangkan, lalu mengelus kepala Azra. "Sudah, sana ambil wudhu. Atau ... mau Mas bantu?" goda Azzam dengan alis yang sengaja dinaik-turunkan.

"Enggak ah! Mas modus, alasan mau bantu wudhu tahunya malah mengajak mandi bareng!" pekik Azra dengan wajah merona. Ia buru-buru berlari ke kamar mandi, meninggalkan Azzam yang terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan istrinya.

Tak lama kemudian, keduanya menunaikan shalat subuh secara berjamaah. Azzam berdiri tegap sebagai imam, memimpin salat dengan bacaan yang fasih dan menyejukkan hati. Sosok pria dengan sedikit bulu halus di dagunya itu terlihat sangat tampan, berwibawa, dan dewasa dalam setiap gerakan shalatnya.

"Assalamualaikum warahmatullah," Azzam menoleh ke kanan, lalu berlanjut ke kiri dengan lafadz yang sama, menandakan shalat telah usai.

Di belakangnya, Azra menguap lebar. Ia menoleh dan mengikuti salam yang diucapkan suaminya.

"Aku mengantuk sekali," gumam Azra lirih.

Azzam tersenyum tipis. Ia berbalik posisi, dan seolah sudah menjadi kebiasaan, sang istri langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Azzam. Dengan penuh ketelatenan, Azzam mengelus kepala Azra yang masih tertutup mukena putih bersih itu sembari berdzikir pelan.

"Mas selalu berdoa untuk kesehatan dan keselamatanmu, Sayang," ucap Azzam tiba-tiba, membuat Azra membuka mata dan menatapnya heran.

"Aku kan tak pernah ke mana-mana, selalu di rumah ini," sahut Azra bingung. "Coba pikir, bagaimana caranya aku bisa terluka? Aku tidak pernah keluar rumah kecuali bersamamu. Aku tidak punya teman di sini, anak-anak pun home schooling. Bagaimana bisa aku berada dalam ancaman?" desis Azra dengan nada sedikit kesal, merasa suaminya terlalu protektif.

"Dunia luar tidak cukup bagus untuk pertumbuhan anak-anak kita. Aku sudah menyediakan segalanya di sini, kamu hanya perlu patuh dan menurut, hm? Seorang istri itu harus patuh pada suaminya, dan tugas suami adalah mencukupi seluruh kebahagiaan istrinya," ucap Azzam dengan nada tegas namun lembut, membuat Azra mendelikkan matanya kesal.

"Mulaaaaai, ceramah lagi, ceramah lagi," gerutu Azra pelan.

Meski mulutnya menggerutu, Azra perlahan terdiam. Ia memejamkan mata, menikmati elusan tangan Azzam di kepalanya sementara suaminya itu mulai melantunkan shalawat dengan suara baritonnya yang sangat merdu. Suara itu selalu berhasil membuat hati Azra yang gundah menjadi tenang. Azzam adalah dunianya sekarang.

"Mas," panggil Azra lirih, membuat Azzam menunduk menatapnya tanpa menghentikan elusannya.

"Bisakah kamu di sini saja untuk minggu ini? Jangan pergi ke mana-mana," pinta Azra. Permintaan itu seketika membuat Azzam menghentikan lantunan shalawatnya.

"Kenapa, Humairah?" tanya Azzam lembut, lalu mengecup kening istrinya sekali lagi.

"Perasaanku ... sedang tidak enak. Entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seperti akan ada hal buruk yang—"

"ABIIIII!"

Suara teriakan cempreng dari arah luar memotong ucapan Azra. Azzam menoleh ke arah pintu kamar. "Sebentar ya, Maira sudah bangun," ucap Azzam buru-buru beranjak berdiri, meninggalkan Azra yang seketika merengut kesal. Putri kecil mereka itu seolah selalu berhasil merebut perhatian suaminya. Apalagi, Azzam memang sangat memanjakan anak perempuan.

Namun, keheningan kamar yang tiba-tiba melingkupinya membuat Azra terdiam dalam lamunan. Pernikahannya dengan Azzam sudah berjalan delapan tahun. Ingatannya berputar pada masa lalu yang kelam. Dulu, dia adalah wanita malang yang terjebak di tempat prostitusi, menjadi tawanan seorang mucikari kejam. Tugasnya setiap malam adalah menemani banyak pria hidung belang meminum alkohol, sebuah kehidupan kelam yang membuatnya kehilangan arah dan harga diri.

Setelah ibunya tiada, Azra harus pasrah dihantam kerasnya takdir. Sementara sang ayah, dia bahkan tidak tahu apakah pria itu masih hidup atau sudah mati di suatu tempat. Kehidupannya dulu begitu berantakan, hingga ia sempat mengutuk takdir dan merasa Tuhan tidak pernah hadir untuknya. Jika pun hadir, Tuhan hanya memberinya luka.

Sampai akhirnya, ia bertemu dengan Azzam. Sosok pria saleh yang datang bak malaikat, merengkuh dirinya dari kubangan dosa, dan mengubah hidupnya menjadi seberharga sekarang. Azzam membatasi hidupnya dari dunia luar, menempatkannya di sebuah rumah yang sangat luas, mewah, dan nyaman di pinggiran Bandung, jauh dari hiruk-pikuk pemukiman. Tanpa perlu bersosialisasi dengan tetangga, Azzam menjamin ketenangannya.

Tapi, di sudut hatinya yang terdalam, terkadang Azra merasa kesepian dan jenuh dengan kehidupan yang terisolasi ini. Apalagi, Azzam harus sering pergi ke Jakarta selama berminggu-minggu untuk mengurus restoran besarnya, meninggalkan dirinya sendiri di rumah megah yang sunyi ini.

"Ummah ...,"

Panggilan lembut itu membuyarkan lamunan kelam Azra. Ia mendongak, menatap putra tampannya yang baru saja masuk ke kamar dengan wajah khas bangun tidur. Bocah laki-laki itu berjalan mendekat, lalu langsung memeluk tubuh ibunya erat. Azra tersenyum hangat, membalas pelukan putranya dengan penuh kasih.

"Ada apa, Sayang? Sudah shalat subuh belum? Nanti Abi marah loh," ucap Azra lembut sembari merapikan rambut putranya.

"Abi keren banget ya, Ummah," ucap bocah itu tiba-masing dengan mata berbinar.

Azra mengernyitkan alisnya, merasa bingung dengan pernyataan putranya yang tiba-tiba itu. "Keren kenapa? Menurut Ummah, Abimu itu galak. Kerjaannya mengomel terus."

"Itu karena Ummah sering tidak menurut," sahut Adam, berbalik menasihati ibunya yang langsung membuat Azra tidak terima.

"Hei! Kenapa kamu selalu membela Abimu, sih? Ummah yang melahirkanmu tahu, seharusnya kamu membela Ummah," tegur Azra sambil mencubit gemas pipi putranya.

Adam melepaskan pelukannya, duduk tegap di hadapan sang ibu dengan raut wajah yang mendadak serius mirip sekali dengan Azzam. "Abi itu lelah bekerja mencari uang, Ummah. Tapi sekalinya pulang ke rumah, Abi harus menghadapi Ummah yang manja dan sering mengeluh. Aku salut sama Abi, Dia sabar kali menghadapi Ummah, untung ummah gak di makan Abi," ucap Adam dengan mata bulatnya yang menatap tajam.

Azra mendesis pelan, "Abi sering memakan Ummah tahu, kamu saja yang tidak lihat," gumam Azra dengan suara sangat pelan, setengah berbisik.

"Apa, Ummah? Adam tidak dengar," tanya anak itu, memiringkan kepalanya karena pendengarannya merasa kurang jelas.

"Ah, tidak apa-apa. Sudah sana cepat ambil wudhu dan shalat. Nanti kalau Abimu lihat kamu belum shalat, dia akan marah, dan akhirnya Ummah lagi yang kena omel," ucap Azra mengalihkan pembicaraan, menyuruh putranya bersiap.

Adam mengangguk patuh, "Oke deh. Uhibbuki fillah, Ummah," ucap Adam manis, lalu mengecup sekilas pipi ibunya sebelum berlari keluar kamar.

Azra tertegun sejenak, memegangi pipinya yang baru saja dicium sambil tersenyum geli. "MasyaAllah ... Adam benar-benar mirip sekali dengan Mas Azzam sifatnya. Padahal saat membuatnya, aku juga ikut goyang," gumam Azra asal, sedikit bernada kesal namun penuh rasa sayang.

"UMMAAAAH!"

Suara teguran berat itu membuat Azra tersentak. Ia menoleh ke arah pintu dan menyengir tanpa dosa saat melihat Azzam sudah berdiri di sana sambil menggendong putri kecil mereka. Pria itu menatapnya tajam sembari menggelengkan kepala, memberi isyarat peringatan karena mendengar ucapan frontal istrinya di depan kamar anak-anak.

"Maaf, Mas ... khilap ...," ucap Azra pelan sambil menunjukkan dua jarinya, membuat Azzam hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan istrinya yang terkadang masih seperti remaja.

____________________________

Ekhem dar der dor euy🤣

Kebohongan Azzam

"Abi pergi dulu yah," Azzam mengecup gemas pipi gembil putrinya. Namun, anak kecil itu justru menatapnya dengan kedua alis yang menukik tajam, seolah-olah hendak menerkam sang ayah. Azzam yang melihat ekspresi itu pun turut bingung.

"Kenapa Maira lihat Abi begitu?" tanya Azzam heran.

Maira Rumaisha, anak kedua pasangan itu, mencicit kesal, "Kita kele yah? Kenapa keljaaaaa aja telus Abi tuh. Kata Abi, Allah cudah kacihkan kita lejeki. Ngapain Abi kelja, nanti Allah kacih," ucap Maira dengan logika polos khas seorang bocah.

Mendengar ucapan bocah berusia empat tahun itu, senyum Azzam seketika merekah. "Tentu saja Allah sudah siapkan rezeki buat Maira, Abi, Ummah, dan Kak Adam. Tapi, kita harus jemput rezekinya. Masa tidak dijemput, iya kan? Abi pergi hanya seminggu kok," ucap Azzam berusaha memberi pengertian.

Maira mengerucutkan bibirnya makin maju, "Pake glab loh kan bica jemputnya, kata Abi cekalang celba gampang. Ya nda gampang itu macuk nelaka,"

"Surga, Mai, surga," potong Adam membenarkan ucapan adiknya, membuat Azzam dan Azra tidak bisa menahan tawa mereka.

"Iya culga, yaudah ciiiiih milip jugaaaa," bela Maira tidak mau kalah.

"Beda Maaaai, huh! Mau Abang jual saja rasanya jadinya!" geram Adam, gemas sekaligus kesal dengan kepolosan adiknya yang ajaib.

Azzam menurunkan putri kecilnya ke lantai. Ia kemudian beralih mendekati istrinya, memeluk tubuh Azra dengan erat, lalu mengecup kening wanita itu dengan penuh kelembutan. Sebuah kecupan yang selalu terasa seperti sebuah pamitan yang berat.

"Kalau ingin keluar rumah, jangan sendiri. Kabari aku kalau mau ke mana-mana. Dan jangan pulang sampai Maghrib, Aku tidak suka kamu di luar malam-malam," peringat Azzam dengan nada protektif yang tegas sembari menangkup kedua pipi istrinya.

"Iya, Mas. Kamu bilangnya ituuuu terus selama delapan tahun ini, sampai aku hafal di luar kepala," sahut Azra dengan nada gemas.

Azzam tersenyum tipis. Ia mendekatkan wajahnya, berniat memberikan kecupan perpisahan yang lebih intim pada sang istri. Namun, sudut matanya menangkap kedua anak mereka yang masih berdiri diam di sana, menatap mereka dengan tatapan polos tanpa berkedip. Seolah mengerti situasi orang dewasanya, Adam dengan sigap menarik kerah baju adiknya untuk masuk ke dalam rumah.

"Mai, ku dengar ikanmu mati di akuarium," bohong Adam demi mengalihkan perhatian adiknya.

"Ekheee Abaaaang belbohoooong!" pekik Maira panik, langsung berlari masuk diikuti Adam.

Azzam tersenyum geli melihat tingkah kedua anaknya. Ia kembali menatap sang istri, lalu tangannya bergerak merapikan helaian rambut Azra. "Kapan kamu siap pakai hijab heum?" bisik Azzam lembut. Pria itu kemudian mengecup cepat bibir istrinya, sebelum akhirnya menatap netra hazel Azra dengan lekat.

"Sebentar lagi," ucap Azra yang membuat Azzam mengangguk. Ia tak memaksa sang istri, tetapi dirinya memberi wanita itu waktu untuk memantapkan diri. Bukan karena paksaan, tetapi dari hati.

"Mas ... entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku," ucap Azra tiba-tiba.

Kalimat sederhana itu seketika merenggut senyuman dari wajah tampan Azzam. Dalam sekejap, raut wajah pria itu berubah menjadi tegang, matanya berkedip kaku, dan tubuhnya seolah membeku menahan napas. Atmosfer di antara mereka mendadak terasa mencekam.

"Kamu ... gak rela kan sebenarnya jauh-jauh dari akuuuu?!" seru Azra kemudian dengan nada menggoda, memecah ketegangan yang sempat tercipta.

Mendengar kelanjutan kalimat istrinya, Azzam langsung mengembuskan napas lega. Senyumnya kembali lepas, seolah ada beban seberat batu yang baru saja diangkat dari pundaknya.

"Astaga, Sayang. Kamu membuatku takut setengah mati," ucap Azzam, langsung menarik Azra ke dalam dekapan hangatnya yang erat, menyembunyikan sisa kepanikan di wajahnya. Azra yang tidak menyadari perubahan ekspresi suaminya pun membalas pelukan itu dengan sayang.

"Kenapa harus takut? Kayak punya simpanan rahasia besar saja," seloroh Azra terkekeh.

Azzam tidak menjawab. Ia perlahan melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening Azra untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar melangkah mundur.

"Mas sudah kesiangan, pergi dulu yah. Assalamualaikum," ucap Azzam sembari masuk ke dalam mobilnya. Ia membunyikan klakson sekali sebagai tanda perpisahan, lalu mulai melajukan kendaraannya membelah jalanan sepi di daerah pinggiran Bandung itu.

Azra berdiri di ambang pintu, mengangkat tangannya dan melambaikannya pelan. "Wa'alaikumussalam," lirihnya.

Perlahan, senyuman di wajah cantik Azra luntur seiring dengan mobil Azzam yang kian menjauh dan menghilang di balik tikungan jalan. Tatapan matanya berubah menjadi redup dan kosong. Rasa sepi yang teramat sangat kembali menyergapnya, menyisakan sebuah tanya yang selama delapan tahun ini selalu berusaha ia kubur dalam-dalam.

"Bahkan di usia pernikahan kita yang ke-delapan tahun ... kamu belum mau mengenalkan aku dan anak-anak pada keluarga besarmu, Mas," lirih Azra dengan suara bergetar menahan kesedihan yang teramat dalam di tengah kesunyian rumah megah mereka.

Sementara itu di dalam mobil, setelah memastikan jarak rumah rahasianya sudah cukup jauh, raut wajah hangat Azzam yang penuh kasih sayang seketika sirna. Wajahnya berubah menjadi datar, dingin, dan dipenuhi ketegangan yang tertahan.

Azzam mengulurkan tangan ke depan, membuka laci dashboard mobilnya yang terkunci rapat. Dari dalam sana, ia mengambil sebuah ponsel lain, ponsel khusus yang tidak pernah diketahui oleh Azra sama sekali. Dengan gerakan tak sabar, ia menyalakan benda pipih tersebut. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi yang sempat terabaikan langsung bermunculan, seolah mengingatkan dirinya pada realitas dunia aslinya yang rumit.

Azzam segera mencari sebuah kontak, lalu menghubungi seseorang di seberang sana. Nada sambung berdering tak lama, sebelum akhirnya panggilan itu terhubung.

"Aku akan pulang hari ini," ucap Azzam tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat dingin, tegas, dan penuh penekanan, berbanding terbalik dengan suara lembut yang ia gunakan pada Azra beberapa menit lalu.

Azzam menarik napas dalam-dalam, mencengkeram kuat setir mobilnya dengan sebelah tangan sembari melanjutkan, "Bilang pada Umi untuk jangan membuat masalah. Aku ke sana sekarang."

Setelah mendengar jawaban singkat dari seberang telepon, Azzam langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Ia melempar ponsel tersebut ke kursi penumpang di sebelahnya. Tatapannya lurus menatap jalanan di depan dengan rahang yang mengeras. Ada rasa bersalah, lelah, dan ketakutan yang besar di matanya, takut jika dinding kebohongan yang ia bangun dengan rapi selama delapan tahun ini perlahan mulai runtuh.

Kehidupan Yang Lain

Di dalam ruang tengah rumah megah yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota Bandung, keheningan pagi itu dipecahkan oleh coretan antusias di atas kertas. Maira tengah menggambar di buku gambarnya dengan sangat serius. Ia sedang menggambar seekor kupu-kupu yang cantik, begitulah bentuk yang diinginkan oleh imajinasi khas anak usia empat tahun. Saking fokusnya pada krayon warna-warni di tangannya, Maira sampai menjulurkan sedikit ujung lidahnya dan menggigitnya di sebelah kanan bibir. Kedua alisnya menukik tajam, sementara kedua matanya mendadak juling, seolah-olah tengah memecahkan sebuah teka-teki yang sangat rumit pada kertas di hadapannya.

Adam yang sedang duduk tenang di sofa sembari membaca buku bacaannya, melirik tingkah aneh tersebut. Ia menghela napas panjang melihat kebiasaan buruk adiknya yang selalu muncul setiap kali sedang terlalu fokus.

"Maira, jangan dijulingin begitu matanya. Nanti kalau enggak bisa balik lagi ke posisi semula bagaimana? Mau matanya begitu terus?" tegur Adam dengan nada sok dewasa.

Maira menghentikan goresan krayonnya sejenak. Ia mengangkat wajah, menatap sang kakak dengan bibir yang langsung mengerucut maju.

"Apa cih Abang? Olang nda cengajaaa, nda cadal jugaaa. Ingat kata Loosuuul, kalau nda cengaja itu nda papa. Jadi olang kok lepot kali lah bapak pala nabi ini," gerutu Maira panjang lebar, membawa-bawa nama Rasul dengan logika polosnya.

Setelah berhasil mengomeli kakaknya, ia kembali menunduk untuk melanjutkan gambarnya. Namun, baru dua detik berlalu, anak kecil itu tiba-tiba mengangkat kepalanya lagi dengan ekspresi syok, seolah baru saja mengingat sebuah bencana besar. Ia langsung beranjak berdiri dari lantai, berlari kecil menuju lemari pakaian di sudut kamar, lalu mengambil sebuah celengan plastik berbentuk ayam jago berwarna merah dari sana.

"Maila lupaaaa minta uang ke Abi buat kacih makan ini Lembooo," gumamnya dengan raut wajah penuh rasa kecewa dan penyesalan yang amat sangat.

Pandangannya lalu berputar, beralih menatap ke arah Adam yang sudah kembali fokus dengan buku bacaannya. Detik berikutnya, seulas senyum licik yang lebar merekah di bibir mungil Maira setelah mendapatkan sebuah ide cemerlang. Dengan langkah yang sengaja dibuat mengendap-endap agar tidak bersuara, ia berjalan perlahan mendekati Adam yang masih tak terusik.

"Heh bapak pala nabi, minta dua lebu," Maira menjulurkan telapak tangan mungilnya tepat di depan wajah Adam, menghalangi pandangan kakaknya dari buku.

Adam melongo, menatap telapak tangan kecil yang bergoyang-goyang di depan hidungnya itu dengan tatapan tak percaya. "Ngapaiiiin tiap hari kamu kasih makan celengan ayam itu duit dua ribu? Kayak mau bangun dinasti aja kamu, Mai. Enggak ada, Abang enggak punya uang."

Maira langsung menarik kembali tangannya, berkacak pinggang dengan wajah yang merengut total. "Ih Abang nih, nda cayang adik kali! Cudahlah, Maila mau ganti Abang balu saja. Melepotkan punya Abang, dua lebu pun nda punya. Namanya aja yang bapak pala nabi, tapi pelit," gerutu Maira kesal. Dengan langkah mengentak-entak, ia membalikkan badan dan berjalan pergi mengabaikan kakaknya.

Adam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat drama acak sang adik yang selalu berhasil membuatnya pening. "Apa sih dia itu? Anak Abi bukan sih sebenarnya? Kelakuannya kadang-kadang mirip anak kambing," gumam Adam pelan, kembali melanjutkan bacaannya di tengah rumah yang sunyi itu, tanpa tahu bahwa di luar sana, dunia mereka yang tenang sebenarnya sedang berdiri di atas bom waktu.

.

.

.

.

Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda dan berjarak ratusan kilometer dari ketenangan Bandung, Azzam mengayunkan langkah kakinya di sebuah rumah sakit mewah di pusat kota Jakarta. Pria itu berjalan tegap menyusuri koridor panjang yang sunyi dan beraroma obat yang tajam. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusi. Langkah kakinya akhirnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu kokoh dengan plang ruang rawat VVIP.

Azzam memejamkan mata sejenak, menetapkan hatinya dan membuang jauh-jauh sisa kehangatan yang baru saja ia rasakan bersama Azra beberapa jam lalu. Perlahan, ia mengulurkan tangan, menarik handle pintu, dan mendorongnya ke dalam.

Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya, membawa atmosfer yang kaku dan penuh tekanan formalitas. Beberapa orang kerabat dekat yang sejak tadi berdiri mengelilingi ranjang pasien seketika menoleh menatap kedatangannya. Menyadari siapa yang baru saja melangkah masuk, para kerabat itu pun perlahan mundur dan menyingkir ke sudut ruangan, memberi ruang bagi sang putra mahkota keluarga.

Azzam melangkahkan kakinya mendekati sosok wanita paruh baya yang tengah terbaring lemas dengan selang infus menancap di tangannya. Wanita itu adalah sang ibu. Begitu melihat sosok Azzam, garis wajah wanita tua itu yang semula tegang langsung melunak, berganti dengan seulas senyum yang menyiratkan sindiran halus.

"Umi sakit, baru kamu mau datang sudi menemui Umi, ya?" ucap wanita paruh baya itu dengan suara serak yang sarat akan kekecewaan yang dipendam lama.

Azzam memilih untuk tidak membela diri. Ia tahu, kata-kata hanya akan memperpanjang perdebatan yang melelahkan. Ia melangkah semakin dekat ke sisi ranjang, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk meraih dan mengecup punggung tangan sang ibu dengan takzim, menunjukkan baktinya yang tak pernah putus meski hatinya bercabang di tempat lain. Setelahnya, ia menegakkan tubuh, membalas tatapan ibunya yang kini menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi.

"Apa sesibuk itu kamu mengurus cabang restoranmu yang lain di luar kota, Azzam? Sampai-sampai kamu tidak ingat jalan pulang ke rumah ini? Mau sampai kapan kamu terus-terusan menjadikan Bandung sebagai alasan untuk mengabaikan keluarga?" cecar sang ibu bertubi-tubi.

"Umi ...," Azzam mencoba memotong dengan suara rendah dan tenang, memberi kode bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk meributkan urusan mereka.

Namun, sang ibu tampaknya sudah kehilangan kesabaran. Tatapannya beralih ke arah lain di dalam ruangan tersebut. "Apa kamu tidak lelah terus-menerus menjalani hubungan jarak jauh dengan istrimu? Menelantarkannya di sini sendirian demi bisnis yang tidak ada habisnya? Hana, kemari, Nak. Tegur suamimu ini, jangan hanya diam saja melihat dia bersikap semaunya sendiri."

Perkataan sang ibu seketika membuat seluruh persendian di tubuh Azzam menegang kaku. Jantungnya berdegup lebih kencang, memicu rasa bersalah yang selama ini ia tekan kuat-kuat di dalam dadanya.

Azzam perlahan menolehkan kepalanya ke arah sudut ruangan yang remang-remang. Di sana, seorang wanita cantik dengan pakaian muslimah yang sangat anggun dan jilbab berwarna merah marun mulai melangkah mendekat dengan sangat pelan.

"Mas ...,"

_________________________________

Siapin tisu🤣

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!