Aroma bunga lili memenuhi ballroom Hotel Arunika sejak pagi. Rangkaian bunga putih menjuntai dari langit-langit, berpadu dengan cahaya lampu kristal yang memantul di setiap sudut ruangan. Para staf berjalan cepat membawa daftar tamu, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat.
Hari itu seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi Adrian Mahendra.
Di ruang tunggu pengantin, Adrian berdiri di depan jendela. Jas hitam yang dikenakannya dijahit sempurna, tetapi wajahnya tetap datar. Ia melirik arloji di pergelangan tangan.
Pukul sembilan lewat dua belas menit.
Akad dijadwalkan dimulai delapan belas menit lagi.
Pintu diketuk dua kali.
"Masuk."
Dimas, asisten pribadinya, muncul dengan tablet di tangan. Biasanya pria itu selalu tenang, tetapi pagi ini napasnya terdengar sedikit terburu-buru.
"Pak Adrian..."
"Ada apa?"
"Nona Maya belum tiba."
Adrian mengangkat pandangannya.
"Macet?"
"Tim pengawal sudah menyusuri rute yang seharusnya dilalui."
"Teleponnya?"
"Tidak aktif."
Ruangan kembali sunyi.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil ponselnya sendiri dan mencoba menghubungi Maya.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Hasilnya sama.
Nomor itu tidak dapat dihubungi.
Dimas berdiri dengan gelisah. Selama lima tahun bekerja bersama Adrian, ia tahu atasannya bukan tipe orang yang mudah panik. Justru ketika Adrian terlalu tenang, biasanya masalah yang dihadapi jauh lebih besar.
"Terus cari," ucap Adrian akhirnya.
"Baik, Pak."
---
Di sisi lain hotel, Rafa Pratama baru saja menutup telepon ketika melihat adiknya keluar dari ruang rias.
"Sudah selesai?" tanyanya.
Kayla mengangguk sambil merapikan blazer krem yang dikenakannya.
"Aku hanya membantu Mbak Rina mengecek dekorasi ruang keluarga pengantin. Sepertinya semuanya sudah beres."
Rafa tersenyum kecil.
"Kalau bukan karena kamu, mereka pasti kewalahan."
Kayla hanya membalas dengan senyum tipis.
Ia memang bekerja sebagai desainer interior. Beberapa minggu sebelumnya, perusahaan tempatnya bekerja mendapat proyek menata area khusus keluarga untuk acara pernikahan keluarga Mahendra. Karena salah satu staf mendadak sakit, Kayla diminta datang membantu pemeriksaan akhir.
Ia tidak menyangka akan bertemu Adrian lagi.
Terakhir kali mereka berjumpa hampir tiga tahun lalu, saat Rafa mengadakan acara ulang tahun sederhana di rumah. Adrian datang terlambat, membawa hadiah, lalu pulang lebih cepat karena harus menghadiri rapat.
Percakapan mereka saat itu bahkan tidak sampai lima menit.
"Melamun?"
Suara Rafa membuat Kayla tersadar.
"Nggak."
"Capek?"
"Sedikit."
Rafa mengacak pelan rambut adiknya.
"Nanti setelah acara selesai kita makan siang. Sudah lama kita nggak pergi berdua."
Kayla mengangguk.
"Janji, ya."
"Janji."
---
Waktu terus berjalan.
Pukul sembilan lewat dua puluh lima menit.
Para tamu mulai saling berbisik.
"Pengantinnya belum datang?"
"Mungkin sedang touch-up."
"Biasanya acara keluarga Mahendra selalu tepat waktu."
Bisik-bisik kecil mulai memenuhi ballroom.
Di ruang tunggu, Dimas kembali datang.
Kali ini wajahnya jauh lebih pucat.
"Pak..."
Adrian menoleh.
"Kami menemukan mobil Nona Maya."
"Di mana?"
"Di area parkir apartemennya."
"Orangnya?"
"Tidak ada."
"Rekaman CCTV?"
Dimas menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Masih diperiksa."
Adrian memejamkan mata sejenak. Bukan karena marah, melainkan mencoba menyusun kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Maya bukan orang yang ceroboh.
Jika ia terlambat, setidaknya ia akan memberi kabar.
Kalau ponselnya mati dan mobilnya ditinggalkan...
Berarti ada sesuatu yang tidak beres.
"Aku akan mencarinya sendiri."
Baru saja Adrian melangkah, pintu terbuka lagi.
Seorang petugas keamanan masuk sambil membawa sebuah amplop putih.
"Pak, ini ditemukan di meja resepsionis. Seseorang meminta agar diberikan langsung kepada Anda."
Tak ada nama pengirim.
Tak ada alamat.
Hanya tertulis satu kalimat pendek.
**Untuk Adrian Mahendra.**
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Adrian membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya hanya ada secarik kertas.
Tulisan tangan yang sangat dikenalnya memenuhi halaman.
> *Maaf. Aku tidak bisa menikah denganmu. Jangan mencariku.*
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada alasan.
Hanya satu kalimat yang mengakhiri rencana yang telah disusun berbulan-bulan.
Dimas menatap Adrian dengan cemas.
"Pak..."
Adrian melipat kembali surat itu dengan hati-hati.
Wajahnya tetap tenang.
Terlalu tenang.
Namun orang yang mengenalnya pasti tahu, ketenangan itu adalah tanda bahwa badai baru saja dimulai.
Di luar ruangan, suara musik pembuka mulai terdengar.
Sementara ratusan tamu masih menunggu mempelai wanita yang tak kunjung datang.
**Bersambung ke Episode 2**
Surat itu masih berada di tangan Adrian.
Selembar kertas sederhana yang dalam hitungan detik mengubah seluruh rencana hari itu.
*"Maaf. Aku tidak bisa menikah denganmu. Jangan mencariku."*
Ia membaca kalimat itu sekali lagi, seolah berharap ada bagian yang terlewat. Namun tetap sama. Tidak ada alasan. Tidak ada penjelasan.
Hanya perpisahan yang datang di saat paling tidak seharusnya.
"Pak..."
Suara Dimas terdengar hati-hati.
"Para tamu mulai bertanya."
Adrian melipat surat itu, lalu memasukkannya ke dalam saku jas.
"Berapa lama lagi acara bisa ditunda?"
"Paling lama tiga puluh menit. Setelah itu media pasti mulai curiga."
Adrian mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya bekerja tanpa henti.
Maya bukan perempuan yang gemar membuat keputusan gegabah. Selama tiga tahun mereka bertunangan, ia selalu memikirkan segala sesuatu dengan matang. Karena itu, surat pendek tanpa penjelasan justru terasa janggal.
"Rekaman CCTV apartemen?"
"Tim keamanan sedang memeriksanya."
"Kalau ada kabar, hubungi aku langsung."
"Baik, Pak."
---
Di ballroom, suasana mulai berubah.
Musik yang semula terdengar meriah kini hanya menjadi pengisi keheningan. Para tamu saling bertukar pandang, sementara beberapa wartawan mulai memperhatikan jam.
Rafa berjalan ke arah ruang tunggu pengantin setelah menerima pesan dari Dimas.
Begitu pintu terbuka, ia langsung menangkap ekspresi sahabatnya.
"Kejadiannya separah itu?"
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan surat yang ada di sakunya.
Rafa membaca isinya perlahan.
"Lalu... ini maksudnya apa?"
"Aku juga ingin tahu."
"Kamu yakin ini tulisan Maya?"
"Ya."
Rafa mengembalikan surat itu.
"Ada kemungkinan dia dipaksa menulis?"
Adrian mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada secercah harapan di matanya.
"Itu juga yang kupikirkan."
"Kalau begitu kita belum bisa menyimpulkan dia sengaja kabur."
Adrian mengangguk.
Ia lebih memilih mempercayai fakta daripada prasangka.
---
Sementara itu, Kayla sedang membantu seorang panitia merapikan meja penerima tamu yang mulai berantakan.
Beberapa tamu bertanya dengan nada tidak sabar.
"Acara jadi dimulai atau tidak?"
"Kami sudah menunggu hampir setengah jam."
Kayla hanya bisa tersenyum sopan.
"Mohon maaf, Bapak, Ibu. Mohon menunggu sebentar lagi."
Begitu tamu itu pergi, Mbak Rina mengembuskan napas panjang.
"Semoga semua cepat selesai."
Kayla ikut mengangguk.
Entah mengapa, sejak tadi hatinya terasa tidak tenang.
Pandangannya tanpa sadar mencari sosok Adrian yang tadi sempat ia lihat dari kejauhan.
Ia masih mengingat pria itu.
Bukan karena statusnya sebagai CEO, melainkan karena sebuah kejadian bertahun-tahun lalu.
Saat itu Kayla masih mahasiswa tingkat akhir. Ia tanpa sengaja menjatuhkan seluruh maket tugas akhirnya di lobi kampus. Orang-orang hanya melihat sekilas lalu berlalu.
Hanya satu orang yang berhenti membantu mengumpulkan potongan-potongan maket itu.
Orang itu adalah Adrian.
Ia bahkan tidak mengenal Kayla.
Setelah selesai membantu, Adrian hanya berkata, *"Kalau menyerah karena hal kecil, dunia kerja akan terasa jauh lebih berat."*
Kalimat sederhana itu terus diingat Kayla sampai sekarang.
Namun Adrian mungkin sudah melupakannya.
---
Ponsel Rafa bergetar.
Pesan dari Dimas.
**Segera ke ruang rapat kecil. Penting.**
Rafa berpamitan kepada Kayla.
"Tunggu di sini, ya."
"Ada apa, Kak?"
"Belum tahu."
"Semoga bukan sesuatu yang buruk."
Rafa memaksakan senyum.
"Aku juga berharap begitu."
---
Ruang rapat hotel dipenuhi wajah-wajah tegang.
Selain Adrian, ada Dimas, kuasa hukum keluarga Mahendra, dan dua orang direktur perusahaan.
"Kita tidak punya banyak waktu," ujar salah satu direktur.
"Kalau berita ini bocor hari ini juga, harga saham bisa langsung terdampak."
"Prioritas saya bukan saham," potong Adrian tenang.
"Saya ingin menemukan Maya."
"Tapi perusahaan juga harus dipikirkan."
"Justru karena itu kita harus berhenti berspekulasi."
Ruangan kembali sunyi.
Tak lama kemudian, Dimas menerima panggilan telepon.
Ia menjauh beberapa langkah sebelum mengangkatnya.
Wajahnya berubah semakin serius.
"Baik... kirim rekamannya sekarang."
Telepon ditutup.
Semua mata tertuju padanya.
"Dimas?"
"Tim keamanan baru mengirim cuplikan CCTV apartemen Nona Maya."
"Apa dia keluar sendiri?"
Dimas menelan ludah.
"Ya."
"Lalu?"
"Dia membawa koper."
Ruangan mendadak senyap.
Adrian tidak langsung bereaksi.
Ia hanya menatap layar tablet yang kini menampilkan gambar seorang perempuan bertopi dan bermasker berjalan meninggalkan lobi apartemen sambil menarik koper berwarna putih.
Wajahnya memang tidak terlihat jelas.
Namun cara berjalan dan pakaian yang dikenakan tidak mungkin salah.
Itu Maya.
Dan yang paling mengejutkan...
Ia pergi seorang diri.
Di luar ruang rapat, Kayla yang sedang mencari Rafa tanpa sengaja melihat pintu yang belum tertutup rapat.
Ia tidak mendengar seluruh pembicaraan.
Tetapi satu kalimat dari dalam ruangan membuat langkahnya terhenti.
"Dengan atau tanpa penjelasan, publik akan menganggap pengantin wanita meninggalkan Pak Adrian."
Kayla menatap lantai beberapa saat.
Entah mengapa, ada rasa iba yang perlahan memenuhi hatinya.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa pria yang selama ini dikenal sempurna ternyata juga bisa menjadi seseorang yang terluka.
**Bersambung ke Episode 3**
Kayla buru-buru melangkah menjauh dari ruang rapat.
Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena rasa penasaran, melainkan karena tidak sengaja mendengar pembicaraan yang seharusnya bukan untuknya.
Ia berhenti di dekat jendela lorong hotel. Dari lantai tiga, halaman depan tampak dipenuhi mobil-mobil tamu yang masih terparkir rapi. Beberapa orang berdiri di teras sambil berbincang pelan, sementara para fotografer mulai sibuk mengambil gambar dekorasi. Mereka belum tahu bahwa di balik pintu ballroom, semuanya berubah.
Kayla mengembuskan napas panjang.
Hari yang seharusnya dipenuhi ucapan selamat justru berubah menjadi kepanikan.
"Kay."
Suara Rafa membuatnya menoleh.
"Kak."
"Kamu ngapain di sini?"
"Tadi aku mau nyari Kakak."
Rafa memperhatikan wajah adiknya yang terlihat murung.
"Kamu dengar sesuatu?"
Kayla terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan.
"Aku nggak sengaja."
Rafa mengusap wajahnya pelan.
"Memang lagi kacau."
"Mbak Maya benar-benar pergi?"
"Belum ada yang tahu."
"Kasihan Kak Adrian."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Rafa menatap adiknya cukup lama. Sudah lama ia menyadari satu hal yang tidak pernah diucapkan Kayla kepada siapa pun.
Adiknya selalu berubah menjadi lebih pendiam setiap kali nama Adrian disebut.
Dulu ia mengira itu hanya rasa kagum.
Namun seiring waktu, ia mulai curiga bahwa perasaan itu jauh lebih dalam.
Hanya saja Kayla terlalu pandai menyembunyikannya.
"Kamu masih ingat pertama kali kenal Adrian?" tanya Rafa tiba-tiba.
Kayla tersenyum kecil.
"Dia pasti sudah lupa."
"Tapi kamu masih ingat."
"Iya."
Bagaimana mungkin ia lupa?
Hari itu hujan deras mengguyur kampus. Maket tugas akhirnya rusak setelah tersenggol mahasiswa lain. Semua orang terburu-buru menyelamatkan diri dari hujan.
Hanya Adrian yang berhenti.
Pria itu ikut memungut potongan-potongan maket tanpa banyak bicara.
Bahkan setelah selesai membantu, Adrian tidak pernah menanyakan namanya.
Perbuatan sederhana itu justru menetap paling lama di ingatan Kayla.
"Jangan terlalu dipikirkan," ucap Rafa sambil menepuk pelan bahunya.
"Ayo pulang. Sepertinya acara ini memang tidak akan dilanjutkan."
---
Di ruang rapat, keputusan akhirnya diambil.
Pernikahan resmi ditunda.
Pihak keluarga mengumumkan kepada tamu bahwa calon pengantin wanita mengalami keadaan darurat sehingga acara tidak dapat dilaksanakan.
Sebagian tamu menerima penjelasan itu dengan sopan.
Sebagian lagi langsung membuka ponsel dan mulai berspekulasi.
Berita menyebar jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Dalam waktu kurang dari satu jam, nama Adrian Mahendra sudah menjadi pembicaraan di berbagai media sosial.
"Pak."
Dimas menunjukkan layar tabletnya.
"Beberapa akun sudah mulai membuat narasi bahwa Nona Maya kabur."
Adrian hanya melihat sekilas.
Ia tidak tertarik membaca komentar orang-orang yang bahkan tidak mengetahui kenyataan.
"Tim pencarian?"
"Masih bekerja."
"Teruskan."
"Baik."
Tak lama kemudian, ponsel Adrian berdering.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah.
**Ayah.**
Ia mengangkat panggilan itu.
"Ya."
Suara berat di seberang langsung terdengar.
"Datang ke rumah malam ini."
"Ada yang harus kuselesaikan dulu."
"Tidak."
Nada bicara ayahnya tidak memberi ruang untuk membantah.
"Ini bukan hanya tentangmu. Ini tentang nama keluarga Mahendra."
Sambungan telepon berakhir begitu saja.
Adrian menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memasukkannya kembali ke saku.
Kadang, menjadi pewaris keluarga besar berarti tidak memiliki cukup waktu untuk merasakan kecewa.
---
Sore mulai berganti malam.
Kayla sudah berganti pakaian dan bersiap pulang bersama Rafa.
Mereka berjalan menuju area parkir belakang hotel yang jauh lebih sepi.
"Akhirnya selesai juga."
Rafa meregangkan bahunya.
"Capek?"
"Banget."
Mereka tertawa kecil.
Namun tawa itu terhenti ketika melihat Adrian berdiri sendirian di dekat mobilnya.
Pria itu sedang menatap langit yang mulai gelap.
Dasi yang sejak pagi terpasang rapi kini sudah sedikit longgar.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya Adrian tidak terlihat seperti CEO yang selalu percaya diri.
Ia tampak lelah.
Sangat lelah.
Rafa menghampiri lebih dulu.
"Bagaimana?"
"Belum ada kabar."
"Kalau butuh bantuan, bilang."
Adrian mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Kayla hanya berdiri beberapa langkah di belakang.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Ingin menghibur.
Namun merasa tidak punya hak.
Beberapa detik kemudian Adrian menoleh ke arahnya.
Tatapan mereka bertemu.
"Terima kasih."
Kayla sedikit bingung.
"Untuk apa?"
"Dimas bilang kamu membantu menenangkan tamu dan panitia."
"Oh... itu bukan apa-apa."
"Bagiku itu membantu."
Kayla tersenyum tipis.
"Semoga Mbak Maya segera ditemukan."
Adrian tidak langsung menjawab.
"Semoga."
Satu kata itu terdengar lebih seperti doa daripada keyakinan.
Mereka kemudian berpisah.
Kayla masuk ke mobil Rafa, sementara Adrian berdiri sampai mobil itu benar-benar keluar dari area hotel.
Ia baru hendak masuk ke mobilnya ketika sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Tidak ada nama.
Tidak ada foto profil.
Hanya satu kalimat.
> **"Kalau ingin menemukan Maya hidup-hidup, datang sendiri ke alamat yang kukirim. Jangan bawa polisi."**
Adrian menatap pesan itu tanpa berkedip.
Beberapa detik kemudian, sebuah titik lokasi menyusul masuk.
Ia tidak mengenali alamat tersebut.
Namun firasatnya mengatakan bahwa malam itu, semuanya akan berubah.
**Bersambung ke Episode 4**
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!