Desau angin malam bertiup kencang, membelai dingin wajah pemuda yang terduduk lemas di atas atap genteng tanah liat sebuah paviliun tua yang sudah reyot. Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah hamparan langit malam yang dihiasi ribuan bintang berkilauan, yang seolah-olah sengaja hadir hanya untuk mengejek seluruh kemalangan dalam hidupnya. Pemuda itu bernama Han Yu. Rambut hitamnya yang pendek tampak acak-acak tidak terurus, membingkai sepasang mata biru jernih yang biasanya memancarkan keteguhan, namun kini telah kehilangan seluruh cahayanya, menyisakan redup kehampaan yang mendalam. Wajah Han Yu sebenarnya memiliki struktur yang rupawan dengan garis rahang yang tegas, namun gurat keletihan batin yang luar biasa membuat parasnya tampak kusam, lelah, dan tidak lagi menarik bagi siapa pun yang melihatnya.
Kedua telapak tangan Han Yu dipenuhi dengan kapalan tebal serta bekas-bekas luka lama yang mengering dan mengeras. Tubuhnya yang kurus namun tegap itu sudah terlalu sering dihantam rasa sakit akibat pekerjaan kasar yang tidak manusiawi sebagai buruh angkut batu hitam di area pertambangan sekte bawah, namun semua rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan kehancuran yang saat ini berkecamuk hebat di dalam lubuk jiwanya.
"Sekarang, tidak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan di dunia yang terkutuk ini," desah Han Yu dengan suara serak, hampir menyerupai bisikan angin malam yang menyedihkan.
Bayangan wajah seorang gadis muda berusia lima belas tahun mendadak terlintas dengan sangat jelas di pelupuk matanya. Wajah itu begitu manis, polos, dan selalu menampakkan senyuman lembut yang menenangkan untuk menyambut Han Yu setiap kali dia pulang membawa sekantong kecil beras sisa. Gadis kecil itu adalah Han Li, adik kandungnya yang berharga, satu-satunya darah daging serta belahan jiwa yang masih tersisa bagi Han Yu di dunia yang sangat kejam ini. Namun, takdir berkata lain. Tepat lima jam yang lalu, Han Li mengembuskan napas terakhirnya di atas ranjang jerami setelah tubuh rapuhnya kalah bertarung melawan penyakit paru-paru akut yang menggerogoti tubuhnya akibat hawa dingin ekstrem musim salju, tanpa ada satu pun tabib sekte yang sudi menolong mereka karena mereka tidak memiliki batu spiritual untuk membayar. Kepergian Han Li telah merenggut seluruh sisa kewarasan dan semangat hidup yang dimiliki oleh Han Yu.
Rasa bersalah yang teramat sangat dan kesepian yang membara kini memenuhi kepalanya hingga terasa mau pecah. Han Yu meraih sebuah guci tanah liat berisi arak murah dengan kualitas rendah di samping kakinya, membuka sumbat kainnya dengan satu sentakan tangan yang gemetar hebat, lalu meneguk cairan keras itu dengan sangat rakus seolah ingin menenggelamkan seluruh kesedihannya. Cairan tajam yang membakar tenggorokan itu mengalir deras, bersatu dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya yang kurus. Satu jam, dua jam, hingga lima jam berlalu dalam keheningan malam yang pekat tanpa ada yang peduli. Han Yu terus menenggak arak tersebut hingga kesadarannya benar-benar runtuh dan matanya menjadi sangat beralih. Ketika rasa kantuk yang luar biasa berat datang menerjang pertahanannya, dia membiarkan matanya terpejam sepenuhnya, pasrah dan berharap jika esok hari dia tidak perlu terbangun lagi untuk menghadapi kenyataan pahit ini.
Rasa sakit yang menyengat dan dingin yang teramat sangat tiba-tiba menghantam seluruh tubuh Han Yu ketika seseorang menyiramkan seember air sedingin es tepat ke wajah dan dadanya. Hawa dingin yang menusuk tulang itu langsung memutus rasa mabuk berat yang dialaminya. Han Yu tersedak hebat, terbatuk-batuk kecil sambil berusaha sekuat tenaga membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat seolah direkatkan oleh lem. Kesadarannya masih sangat samar dan berputar, namun indra pendengarannya yang mulai pulih segera menangkap suara teriakan melengking dari beberapa wanita yang dipenuhi oleh nada ketakutan dan kebencian yang mendalam.
"Iblis! Dia adalah bajingan dari Sekte Iblis!"
"Cepat perkuat segel formasi di sekelilingnya! Jangan biarkan kutukan energi kegelapan yang menjijikkan itu terlepas ke tanah suci kita!"
Pandangan Han Yu perlahan-lahan menjadi jernih dari kabur. Namun, begitu matanya bisa melihat dengan jelas, dia langsung terpaku dan membeku di tempatnya berbaring. Di hadapannya kini berdiri lima orang gadis muda dengan kecantikan yang sangat memikat dan tidak masuk akal untuk ukuran manusia biasa. Mereka memiliki sepasang mata hijau jernih layaknya batu giok murni, rambut panjang berwarna pirang keemasan yang berkilau indah memantulkan cahaya sekitarnya, serta kulit seputih pualam yang sangat mulus. Namun, yang membuat jantung Han Yu mencelos adalah bentuk fisik mereka yang aneh, di mana telinga mereka berukuran lebih panjang dan memiliki ujung yang lancip. Mereka adalah para kultivator wanita dari ras manusia suci kuno yang mendiami lembah tersembunyi.
Aroma harum bunga ceri yang sangat manis dan pekat menguar dari tubuh kelima gadis itu, membuat kepala Han Yu yang masih terpengaruh sisa arak menjadi sedikit pusing. Namun, ketika Han Yu mencoba menggerakkan tubuhnya untuk berdiri, dia baru menyadari situasi mengerikan yang sedang dialaminya. Kedua pergelangan tangan dan kedua kakinya telah terikat erat oleh rantai besi prasasti kuno yang berpendar keemasan, menempel pada sebuah pilar batu besar. Lebih mengejutkan dan mengerikan lagi, Han Yu merasakan ada sebuah beban asing yang sangat besar, lebar, dan berat menempel di punggungnya.
"Siapa kalian? Di mana aku sebenarnya?" Han Yu bertanya dengan suara yang sangat parau, berusaha keras mencerna kegilaan yang sedang terjadi pada dirinya.
"Iblis jahat, tutup mulutmu yang kotor itu!" salah satu gadis berambut pirang yang berdiri paling depan berteriak dengan galak, sambil mengacungkan sebilah pedang tipis berenergi hijau tepat ke arah tenggorokan Han Yu.
Han Yu sama sekali tidak memedulikan gertakan pedang itu. Fokus pikirannya saat ini teralih sepenuhnya pada sensasi aneh di punggungnya sendiri. Ketika dia mencoba menggerakkan otot-otot di bagian belikatnya secara tidak sengaja, sepasang sayap raksasa berwarna hitam pekat, berselaput tebal seperti sayap kelelawar purba, mengepak pelan dengan lebar. Gerakan sayap itu langsung mengibas debu-debu di lantai batu dengan keras dan memicu rasa ngeri yang luar biasa di dalam dada Han Yu sendiri. Bagaimana mungkin tubuh manusianya tiba-tiba berubah memiliki sayap mengerikan seperti ini?
"Iblis, menyerahlah! Cepat katakan kepada kami dengan jujur, mengapa makhluk rendahan dari Sekte Iblis sepertimu bisa menerobos masuk dan mengotori wilayah suci Lembah Lingshu ini?" Gadis yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu melangkah maju satu pukulan, tatapan matanya menghunus tajam penuh dengan intimidasi.
Han Yu hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong. Lidahnya mendadak terasa kelu dan kaku. Dia benar-benar tidak tahu harus memberikan jawaban apa karena dia sendiri tidak memahami bagaimana kronologi dirinya bisa berpindah dari balkon paviliunnya yang kumuh di pemukiman buruh, tiba-tiba langsung berada di tempat asing yang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik bersenjata ini.
Ketidaktahuan dan keterdiaman Han Yu dianggap sebagai bentuk pembangkangan serta penghinaan besar oleh para gadis tersebut. Gadis pemimpin itu mengerutkan keningnya dengan sangat dalam. Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, dia mengibaskan lengan baju putihnya dengan cepat. Hembusan angin kencang yang membawa bilah energi tajam kasat mata melesat dengan cepat, menggores pipi kiri Han Yu hingga menyisakan luka robek yang mengalirkan rasa sakit yang sangat menusuk.
Rasa sakit yang parah itu mendadak memicu sesuatu yang tertidur jauh di dalam darah dan meridian tubuh Han Yu. Secara refleks, sebuah gelombang energi hitam pekat yang sangat pekat dan dingin meledak hebat dari dalam tubuhnya, menghancurkan seluruh rantai besi prasasti yang mengikatnya hingga berkeping-keping menjadi debu logam. Han Yu menyentuh pipinya yang terluka, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan terkejut. Bukan darah merah segar yang keluar dari lukanya, melainkan cairan kental berwarna hitam pekat yang memancarkan aura kematian yang sangat pekat.
Melihat cairan hitam tersebut, sebuah pengetahuan kuno dan insting bertarung yang gelap mendadak terukir dengan paksa di dalam otaknya. Tanpa sadar, Han Yu mengacungkan telapak tangan kanannya ke udara terbuka dan menggumamkan sebuah nama mantra supranatural yang keluar begitu saja dari bibirnya.
"Domain Kegelapan Absolut."
Seketika itu juga, sebuah gelombang kegelapan yang sangat masif bergulir keluar dari tubuhnya dan menelan seluruh ruangan batu tersebut dalam sekejap mata. Semua cahaya obor, batu lampu spiritual, dan formasi pelindung keemasan milik para gadis langsung padam total. Ruangan itu berubah menjadi gelap gulita tanpa ada seberkas cahaya pun yang tersisa, namun anehnya, pandangan mata Han Yu justru menjadi sangat terang, jelas, dan tajam seolah-olah hari masih siang bolong. Menggunakan kesempatan dalam kesempitan itu, Han Yu melompat tinggi melintasi jeruji besi yang telah hancur, mengabaikan seluruh teriakan histeris dan kepanikan dari kelima gadis di belakangnya. Dia berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar bangunan gua tersebut, melewati lorong-lorong batu, dan langsung menghilang ke dalam kelebatan hutan malam yang sangat lebat.
Setengah jam telah berlalu sejak aksi pelarian yang sangat mendebarkan dan memompa adrenalin tersebut. Han Yu terus menerus berlari tanpa arah yang jelas di bawah naungan pohon-pohon raksasa purba yang menjulang tinggi ke langit. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi dan seluruh tubuhnya, sementara jantungnya berdegup sangat kencang berkejaran seperti genderang perang yang ditabuh bertubi-tubi. Rasa lelah yang teramat sangat mulai menggerogoti energi fisiknya yang terbatas. Namun, saat dia melangkah lebih jauh, dia merasakan ada sesuatu yang sangat aneh dengan aliran energi spiritual di sekitarnya. Hawa di sekelilingnya mendadak berubah menjadi sangat menekan, dan hutan lebat yang tadinya dipenuhi suara serangga malam kini mendadak menjadi terlalu sunyi, seolah-olah seluruh alam sedang menahan napasnya. Han Yu mendadak menghentikan langkah kakinya di atas gundukan tanah.
"Apakah aksi pelarianmu yang melelahkan itu sudah selesai, anak muda?"
Sebuah suara wanita yang sangat lembut, merdu, namun mengandung tekanan berwibawa yang luar biasa besar tiba-tiba bergema dari arah belakangnya. Han Yu tersentak kaget dan segera membalikkan badannya dengan siaga, memasang kuda-kuda bertarung seadanya. Di atas sebuah dahan pohon besar yang diselimuti daun-daun hijau berkilau, berdiri seorang wanita dewasa yang memancarkan keanggunan serta aura kesucian yang sangat luar biasa, membuat pemandangan di sekitarnya menjadi redup.
Wanita itu memiliki bentuk telinga panjang yang lancip, melambangkan bahwa dia adalah pemilik darah murni tertinggi dari ras suci Lembah Lingshu. Rambut pirang panjangnya yAng selembut sutra mengalir indah di atas bahu hingga mencapai pinggang, sangat kontras dengan jubah sutra putih ketat berhias sulaman benang perak yang membungkus tubuh matangnya dengan sangat sempurna. Lekuk tubuhnya yang sangat menawan dan proporsional, dipadukan dengan sepasang mata hijau yang tenang namun memikat, membuatnya tampak bagaikan seorang dewi alam semesta yang baru saja turun dari langit sembilan. Jantung Han Yu berdebar semakin kencang di dalam dadanya, mengingatkannya kembali pada masa-masa remaja yang naif ketika gejolak muda masih menguasai dirinya, di mana setiap kali melihat gadis cantik selalu meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan.
Namun, pesona keindahan itu segera berganti dengan kewaspadaan tingkat tinggi serta rasa ngeri. Sepasang mata hijau wanita itu tiba-tiba berkilat tajam, mengeluarkan tekanan spiritual tingkat tinggi yang sangat masif dan berat, membuat seluruh tulang di tubuh Han Yu berderit keras dan lututnya gemetar hebat menahan beban tekanan tersebut agar tidak jatuh berlutut. Partikel-partikel cahaya hijau berbentuk dedaunan kecil yang mengelilingi jari-jari lentik wanita itu memancarkan niat membunuh yang sangat dingin dan terselubung. Han Yu tahu persis, dengan tingkat kekuatannya yang sekarang, satu gerakan salah atau mencurigakan saja dari tubuhnya bisa membuat wanita itu menghancurkan fisiknya menjadi serpihan debu dalam sekejap mata.
Tanpa mampu memberikan perlawanan sedikit pun karena seluruh tubuhnya telah dikunci oleh energi alam, Han Yu langsung dibawa pergi dari tempat itu menggunakan teknik sihir peringkas jarak yang sangat tinggi. Hanya dalam hitungan beberapa kedipan mata saja, kesadaran Han Yu sempat berputar sebelum akhirnya dia menyadari bahwa dirinya kini sudah berada di dalam sebuah aula megah yang sangat luas, di mana pilar-pilar penyangganya terbuat dari batu giok putih kuno yang memancarkan cahaya lembut.
Di atas sebuah singgasana tinggi yang terbuat dari kayu cendana hitam dan dihiasi oleh ukiran rumit tanaman merambat yang hidup, wanita dari hutan tadi sudah duduk dengan posisi yang sangat anggun dan santai. Dia adalah pemimpin tertinggi sekaligus penguasa mutlak dari tempat ini, Ratu Lin Xian, sang penguasa tertinggi ras suci Lembah Lingshu yang disegani oleh berbagai sekte besar. Dengan gerakan tangan yang sangat santai, elegan, namun penuh dengan wibawa tirani, Lin Xian memasukkan buah anggur spiritual berenergi murni ke dalam mulutnya satu per satu, menikmati rasa manisnya dengan acuh tak acuh. Sementara itu, Han Yu dipaksa berlutut dengan kedua lutut menempel di lantai batu giok yang dingin di bawah tangga singgasana, berusaha keras menahan rasa sakit di tubuhnya dan mengumpulkan sisa kesadarannya yang hampir hilang.
Setelah selesai memakan buah anggur terakhir yang ada di piring perak kecil di sampingnya, Lin Xian perlahan-lahan menyilangkan kakinya yang jenjang, membuat jubah putihnya sedikit tersingkap. Bibirnya yang merah merekah melengkung membentuk sebuah senyuman manis yang sangat memikat, seolah-olah dia sedang menyambut kedatangan seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Namun, Han Yu sama sekali tidak terkecoh atau terbuai oleh keramahan palsu yang penuh dengan jebakan tersebut. Pemuda itu hanya bisa mendengus pelan dengan raut wajah masam, menolak untuk menundukkan kepalanya terlalu dalam di hadapan sang penguasa.
"Jadi, namamu adalah Han Yu," ucap Lin Xian, suaranya yang merdu mengalun indah memenuhi setiap sudut aula giok, terdengar seperti alunan alat musik petik yang menenangkan namun menghanyutkan. "Sungguh sebuah kejutan yang sangat besar bagi tempat terpencil kami ini untuk kedatangan seorang pengunjung misterius dari tempat yang sangat jauh. Katakan padaku, apakah kamu adalah sebilah bidak rahasia yang sengaja dikirim oleh Permaisuri Hua untuk mengacau di sini?"
Ada nada kekesalan yang sangat tipis dan tersamar dalam intonasi suaranya ketika Lin Xian menyebut nama Permaisuri Hua, pemimpin tertinggi dari sekte luar yang selama ratusan tahun ini menjadi rival bebuyutan bagi kelangsungan Lembah Lingshu.
"Bukan, aku bukan bidak siapa pun," jawab Han Yu sambil menggelengkan kepalanya yang terasa pening dengan lemah. Dia menghela napas panjang yang terasa sangat berat, mencoba sekuat tenaga untuk menstabilkan detak jantung dan aliran napasnya yang tidak beraturan. "Aku sudah mengatakan hal yang sama berkali-kali kepada kelima pengawal gadismu yang galak itu. Aku sendiri benar-benar tidak tahu bagaimana caranya aku bisa tiba-tiba terbangun dan terdampar di dalam hutan mistis milik wilayahmu ini."
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Han Yu, Lin Xian tampak sedikit terkejut, namun sedetik kemudian senyuman manisnya kembali melebar, menyembunyikan kilat ketidakpercayaan dan kecurigaan yang mendalam di dalam bola mata hijaunya. "Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi di dunia ini? Apakah seorang kultivator yang memiliki energi iblis murni tingkat tinggi sepertimu bisa tersesat begitu saja tanpa membawa ingatan sedikit pun? Apakah kamu sedang mencoba meyakinkanku bahwa saat ini kamu sedang menderita penyakit amnesia yang parah, anak muda?"
Han Yu tidak langsung menjawab. Dia memilih untuk mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam sepasang mata hijau milik Ratu Lin Xian tanpa ada rasa takut sedikit pun. Rasa lelah yang teramat sangat atas seluruh jalan hidupnya yang hancur berantakan di dunia sebelumnya membuat mentalnya mati rasa, hingga dia tidak lagi mengkhawatirkan atau takut pada ancaman kematian yang ada di depan mata. Hubungannya dengan dunia kultivasi yang baru ini barulah dimulai dalam hitungan jam, dan dia sama sekali tidak memiliki ambisi, impian, atau keinginan apa pun lagi untuk dipertahankan setelah kehilangan adik perempuan yang teramat dicintainya. Bagi Han Yu, hidupnya sudah berakhir di hari kematian adiknya.
"Jika Ratu yang agung tetap tidak mau mempercayai kata-kataku, maka silakan bunuh saja aku di tempat ini sekarang juga. Tebas kepalaku, aku sama sekali tidak peduli lagi dengan kelanjutan hidup yang tidak berguna ini," tantang Han Yu dengan nada suara yang sangat datar, dingin, dan penuh dengan kepasrahan yang tulus dari lubuk hatinya.
Bagi seorang Han Yu, mati dieksekusi di aula giok mewah ini atau mati merana karena kelaparan dan kedinginan di dunia lamanya sama sekali tidak memiliki perbedaan yang berarti. Dia tidak merasa beruntung atau bahagia bisa berpindah tempat ke dunia kultivasi bela diri yang dipenuhi keajaiban ini jika pada kenyatannya jiwanya sendiri tetap terasa kosong, mati, dan hancur. Kenangan-kenangan manis akan tawa renyah Han Li saat mereka masih bersama kembali terbayang dengan jelas di benaknya, semakin memperkuat rasa kepasrahan dan keteguhan hatinya untuk melepas nyawa. Dia benar-benar sudah tidak memiliki alasan atau satu pun hal berharga di dunia ini untuk dipertahankan secara gigih.
Han Yu kemudian mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit aula megah yang dihiasi oleh formasi permata malam yang bersinar terang, lalu perlahan-lahan memejamkan kedua matanya dengan rapat. Posisi tubuh dan lehernya saat ini terekspos dengan sangat sempurna, memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin melayangkan pedang untuk memenggal kepalanya dalam satu kali tebasan bersih. Namun, setelah lima menit berlalu dalam keheningan yang sangat mencekam dan sunyi di dalam aula tersebut, rasa sakit yang sangat dia tunggu-tunggu itu tidak kunjung datang menerpa lehernya.
Ketika Han Yu kembali membuka kedua matanya karena merasa heran, dia mendapati Ratu Lin Xian sedang duduk menopang dagu sambil menatap ke arahnya dengan sepasang mata hijau yang memancarkan pandangan menyelidik yang sangat mendalam dan penuh arti. Mata mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain untuk beberapa saat yang terasa sangat lama, sebelum akhirnya Lin Xian memecah kesunyian yang tegang itu dengan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat renyah dan menghibur.
"Menarik. Aku bisa melihat pantulan kejujuran yang sangat murni di dalam matamu yang biru itu, anak muda. Kamu tampaknya memang bukanlah seorang mata-mata licik yang dikirim oleh musuhku untuk menghancurkan formasi segel kuno lembah ini," ucap Lin Xian sambil perlahan menyandarkan kembali tubuh matangnya ke sandaran singgasana kayu cendana dengan santai. "Namun, terlepas dari kejujuranmu itu, demi menjaga keamanan dan keselamatan seluruh rakyat serta ras suci yang kupimpin, aku tetap tidak bisa membiarkan sesosok makhluk asing yang memiliki aliran energi iblis murni berkeliaran dengan bebas di wilayahku. Oleh karena itu, aku harus menahanmu di dalam penjara bawah tanah untuk sementara waktu sampai asal-usul tubuh iblismu menjadi jelas. Kuharap kamu bisa memaklumi kebijakan tegas yang kuambil ini."
Han Yu hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas dan mengembuskan napas pendek, tidak berniat untuk melakukan protes yang sia-sia. Detik berikutnya, dua orang prajurit pengawal bertubuh tegap dan kekar yang mengenakan zirah perak lengkap maju ke depan atas perintah isyarat mata sang Ratu. Mereka langsung mencengkeram kedua lengan Han Yu dengan pegangan yang sangat kuat namun anehnya tidak kasar atau menyakiti. Kedua prajurit itu kemudian menuntun Han Yu berjalan keluar dari aula giok, menyusuri koridor-koridor bawah tanah yang sangat panjang, gelap, dan bersuhu dingin, hingga akhirnya mereka menurunkan dan memasukkan pemuda itu ke dalam sebuah sel penjara bawah tanah yang untungnya berukuran cukup bersih, luas, dan memiliki ranjang batu yang nyaman. Pintu besi tebal nan berat itu kemudian ditutup dengan dentangan keras yang bergema, menandai sebuah awal baru dari lembaran kehidupan Han Yu yang penuh misteri di dalam dunia kultivator bela diri yang kejam ini.
Han Yu membaringkan tubuhnya yang letih di atas ranjang batu di dalam sel penjara yang dingin. Dia perlahan memejamkan sepasang mata birunya, membiarkan napasnya teratur. Dari luar, dia tampak seolah-olah sudah terlelap ke dalam tidur yang nyenyak, namun kenyataannya kesadaran Han Yu justru sedang ditarik masuk ke dalam sebuah dimensi yang sama sekali asing.
Saat membuka mata di dalam dunia batinnya, Han Yu mendapati dirinya berdiri di tengah-tengah ruang hampa berlantai putih tak berujung. Di hadapannya, menjulang enam buah patung raksasa yang terpahat dari batu giok purba. Masing-masing patung itu memancarkan tekanan energi yang berbeda, mewakili jalan kultivasi legendaris.
Han Yu melangkah pelan, mengamati satu per satu. Patung pertama adalah seorang Panglima Perang bertubuh kekar dengan zirah berat. Patung kedua adalah Pendekar Pedang yang memancarkan niat membunuh yang tajam. Patung ketiga adalah Ahli Mantra yang dikelilingi simbol-simbol kuno. Patung keempat adalah Pengendali Mayat dengan aura kematian yang pekat. Patung kelima adalah Pembunuh Bayangan yang sosoknya seolah menyatu dengan kegelapan.
Namun, pandangan Han Yu terhenti pada patung keenam yang berada di ujung. Patung itu menggambarkan sosok pria berambut sangat panjang yang menjuntai indah. Sepasang matanya hitam pekat, sangat dalam menyerupai jurang tak berdasar. Di atas bahunya, hinggap seekor burung gagak bermata merah, sementara seekor ular sanca perak melingkari lengan kirinya dengan anggun.
Han Yu menggaruk bagian belakang kepalanya, merasa sangat bingung dengan fenomena aneh ini. Tiba-tiba, sebuah prasasti cahaya tembus pandang bermanifestasi di udara, mengambang tepat di depan wajahnya. Prasasti itu menampilkan tulisan kuno yang bergetar penuh energi, menyuruhnya untuk memilih satu jalur takdir kultivasi.
Pilihan itu terdiri dari Jalan Panglima Perang, Jalan Pendekar Pedang, Jalan Ahli Mantra, Jalan Pengendali Mayat, Jalan Pembunuh Bayangan, dan pilihan terakhir yang membuat Han Yu mengernyitkan dahi karena tidak mengerti, yaitu Jalan Kaisar Pesona.
Han Yu mengamati nama terakhir itu dengan saksama. Begitu fokusnya tertuju pada teks tersebut, prasasti cahaya di depannya mendadak berubah, menjabarkan seluruh rahasia dari Jalan Kaisar Pesona.
Jalur ini adalah sebuah jalan kultivasi langka yang berfokus pada seni rayuan, keindahan surgawi, dan manipulasi sukma. Seorang kultivator yang mengambil jalan ini akan dianugerahi pesona magis tingkat tinggi serta kemampuan mutlak untuk menarik perhatian makhluk lain. Gaya bertarungnya dibedakan oleh keanggunan, ketenangan, dan keindahan dalam setiap gerakan yang dilakukan.
Prasasti itu juga menjabarkan tiga spesialisasi utama. Pertama adalah Pemikat Sukma, di mana kultivator mampu memikat lawan-lawannya dan merayu mereka hingga menurunkan kewaspadaan serta melemahkan niat bertarung. Kedua adalah Estetika Surgawi, sebuah kemampuan menggunakan efek energi spiritual untuk meningkatkan ketampanan dan karisma fisik guna memukau siapa saja yang memandang. Ketiga adalah Manipulator Sanubari, sebuah seni menguasai emosi orang lain hanya melalui untaian kata dan gerak-gerik tubuh.
Lebih jauh lagi, Han Yu melihat empat teknik dasar yang akan langsung dikuasainya. Teknik pertama adalah Seni Pemikat Jiwa untuk menciptakan ilusi magis yang menghipnotis sasaran. Teknik kedua adalah Komunikasi Penyelaras Rasa yang membuat penggunanya pandai berbicara, mudah mencari kesamaan, dan mengarahkan dialog demi memengaruhi lawan bicara. Teknik ketiga adalah Paras Sempurna yang mampu mengubah getaran aura wajah demi memicu kekaguman penonton. Teknik keempat adalah Sentuhan Lembut Surgawi, sebuah kemampuan mistis yang mampu membuat seorang wanita merasakan kenikmatan luar biasa hanya melalui satu sentuhan fisik.
Jalur ini juga memberikan tiga fitur bawaan, yaitu Peningkatan Karisma Alami, Aura Ketertarikan Menular yang membuat interaksi sosial selalu berhasil, serta Stamina Tiada Tanding yang memberikan ketahanan fisik luar biasa ketika berada di atas ranjang. Jalur Kaisar Pesona menegaskan bahwa seni rayuan bisa menjadi senjata paling mematikan untuk mengendalikan dunia dengan rasa percaya diri.
Han Yu tertawa gugup menyaksikan semua tulisan aneh itu. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Apa-apaan semua kegilaan ini, pikirnya.
Namun, sebelum dia sempat mundur, patung giok pria bermata malam di depannya mendadak retak dan menjelma menjadi sosok hidup. Pria tampan itu tersenyum dengan sangat lembut, lalu membungkuk memberikan penghormatan yang sangat anggun kepada Han Yu.
Han Yu menahan napas, mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari apa yang dia kira sebagai mimpi buruk. Dia melayangkan satu pukulan keras ke pipinya sendiri demi memeriksa realitas. Rasa sakit yang menyengat di pipinya membuktikan bahwa ini bukanlah sebuah ilusi tidur.
Han Yu harus mengakui bahwa sosok di depannya memang sangat pantas menyandang gelar tersebut. Sosok pria itu tampak sangat maskulin dengan postur tubuh yang berotot namun ramping dan proporsional. Rambut hitamnya yang panjang mengalir indah hingga menyentuh tulang ekor, dan setiap gerakannya memancarkan wibawa bangsawan yang bercampur dengan pesona yang mematikan.
Jika saja Han Yu seorang wanita, dia pasti sudah jatuh hati pada sosok ini. Namun, karena dia seorang pria, rasa iri yang besar mendadak bangkit di dalam dadanya melihat ketampanan yang tidak masuk akal tersebut.
Seandainya di dunia lamanya dia memiliki penampilan sesempurna ini, dia tidak akan berakhir merana sebagai buruh kasar yang kesepian. Han Yu menghela napas sedih, lalu menepuk pundak pria patung hidup itu seraya bergumam parau, meminta agar pria itu meminjamkan sedikit saja ketampanannya.
Mendengar permintaan itu, pria bermata malam tersebut membuka matanya lebar-lebar seolah terkejut, sebelum akhirnya tawanya yang renyah bergetar di dalam ruangan. Han Yu tersentak kaget ketika pria itu menjawab dengan suara yang sangat berat, dalam, dan menggoda, menyatakan bahwa hal itu sama sekali bukan masalah.
Seketika itu juga, seluruh tubuh pria misterius itu meledak dalam cahaya keemasan yang sangat menyilaukan. Han Yu refleks menutup kedua matanya menggunakan lengan baju. Sedetik kemudian, rasa panas yang membakar mengalir deras ke seluruh pembuluh darah dan meridian tubuhnya, disusul oleh sebuah gema suara gaib yang bergaung langsung di dalam pusat jiwanya.
Suara itu memberitahukan bahwa Jalan Kaisar Pesona telah dipilih secara mutlak, dan jalur kultivasi berikutnya baru bisa dibuka setelah Han Yu mencapai tingkat keseratus dari ranah ini.
Han Yu berteriak penuh amarah, memaki energi gaib yang mengikatnya sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar runtuh dan tenggelam ke dalam kegelapan total.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!