"Ini gila, Yah! Sam tidak bisa menerima perjodohan ini!"
Suara Sam kembali meninggi, kali ini terdengar lebih frustrasi hingga menembus celah pintu ruang kerja. Di sudut ruang luar, Mita semakin merapatkan pelukannya pada kedua lutut. Kalimat Sam barusan terus terngiang, menghantam dadanya dengan rasa bersalah yang amat besar. Siang itu terasa begitu mencekam bagi Mita yang baru saja lulus SMA.
Di dalam ruangan, Baskoro berdiri dari kursi kebesarannya. Sorot matanya tajam, menatap putra tunggalnya yang sedang diliputi amarah.
"Jaga bicaramu, Sam! Ini bukan sekadar perjodohan biasa. Ini adalah wujud tanggung jawab dan cara kita membalas budi kepada keluarga Mita!" balas Baskoro, suaranya berat dan menekan, membuat atmosfer ruangan terasa semakin panas.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Yah! Ini gila!" Sam mengacak rambutnya kasar, mondar-mandir di depan meja kerja ayahnya. Di usianya yang baru saja menyelesaikan bangku kuliah, Sam sudah mulai belajar menjabat untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai CEO. Namun, posisi terhormat itu terasa tidak ada artinya sekarang.
"Menikahkan Sam dengan Mita? Ayah tahu sendiri, sejak kecil Sam sudah menganggap Mita seperti adik kandung Sam sendiri. Sam sangat menyayanginya, tapi bukan sebagai seorang istri! Ayah tidak bisa mengatur hidup Sam seperti ini!" Sam menahan kalimat selanjutnya di dalam tenggorokan. Dia ingin berteriak bahwa dia sudah memiliki kekasih, namun dia tahu ayahnya yang otoriter tidak akan mau mendengarkan.
Baskoro memukul permukaan meja dengan telapak tangan. Brak!
Mita tersentak di tempat duduknya. Air matanya kian deras. Dia tahu diri akan posisinya di rumah ini yang hanyalah anak seorang pembantu. Berbeda dengan Baskoro yang buta akan kehidupan pribadi putranya, Mita tahu betul sebuah rahasia besar: Sam sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya. Kenyataan bahwa dirinya kini dipaksa menjadi penghalang hubungan orang lain membuat dada Mita terasa begitu sesak.
Namun, ada ikatan darah dan air mata yang jauh lebih kelam di balik keberadaannya di sini. Bertahun-tahun lalu, sebuah kecelakaan tragis telah merenggut kedua orang tuanya yang tewas demi menyelamatkan Baskoro dan Diana. Karena utang budi itulah, keluarga Sam menampung dan merawatnya.
"Kalau bukan karena orang tua Mita yang bertaruh nyawa dalam kecelakaan itu, kamu tidak akan punya ayah dan ibu sekarang, Sam!" suara Baskoro kembali menggema dari dalam ruangan. "Seluruh kehidupan, fasilitas, dan jabatan CEO yang akan kamu nikmati hari ini adalah napas yang mereka tebus untuk kita!"
"Sam tahu, Yah! Sam tidak pernah melupakan jasa orang tua Mita!" Sam memotong, napasnya memburu dengan mata yang mulai memerah. "Sam rela merawat Mita, menjamin pendidikannya, atau memberikan apa pun yang dia butuhkan sebagai seorang kakak. Tapi pernikahan? Ayah memaksakan ini hanya karena rasa bersalah Ayah yang berlebihan! Keputusan Ayah ini egois!"
Baskoro terdiam sesaat, namun rahangnya tetap mengeras. "Dia akan aman bersamamu, Sam. Menjadi bagian dari keluarga ini adalah posisi terbaik yang bisa kita berikan untuknya. Keputusan Ayah sudah bulat. Tidak ada bantahan lagi!"
"Ayah egois!"
Sam berteriak, lalu berbalik dan menyentak gagang pintu dengan kasar.
Di luar, Mita tersentak. Dia tidak sempat menghapus air mata yang membasahi pipinya saat pintu kayu jati itu terbuka lebar, menampilkan sosok Sam yang berdiri dengan dada kembang kempis menahan amarah. Mata mereka bertemu, dan seketika itu juga keheningan yang menyakitkan menyergap di antara mereka.
Sam terpaku menatap Mita. Guratan amarah di wajahnya perlahan luruh, berganti dengan rasa bersalah dan frustrasi yang amat dalam saat melihat mata Mita yang sembap dan merah. Dia melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri itu. Tatapannya melembut, kontras dengan suaranya yang membentak ayahnya tadi.
"Mita..." panggil Sam lirih, tangannya terangkat ingin menyentuh bahu Mita, namun tertahan di udara sebelum akhirnya jatuh kembali ke sisi tubuhnya. "Kamu... mendengar semuanya?"
Mita tidak sanggup mendongak untuk menatap mata calon CEO itu. Dia hanya mengangguk pelan, meremas ujung bajunya hingga buku-uku jarinya memutih. Mita tahu Sam sedang tersiksa karena memikirkan kekasihnya yang tidak diketahui oleh Baskoro, sementara dirinya sendiri terikat oleh belenggu utang budi masa lalu yang mengunci rapat mulutnya.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)
Mita masih bergeming dalam posisi berlututnya di atas lantai marmer yang dingin. Di hadapannya, Sam menghela napas berat. Keheningan di koridor luar ruang kerja Baskoro terasa begitu pekat, hanya menyisakan sisa-sisa ketegangan dari perdebatan hebat yang baru saja reda.
"Mita, tatap mas," lirih Sam, suaranya parau.
Perlahan, Mita memberanikan diri mendongak. Di mata Sam, tidak ada lagi kilatan amarah yang meledak-ledak seperti saat menghadapi Baskoro di dalam ruangan tadi. Yang tersisa hanyalah tatapan penuh luka dan kebingungan. Pria yang biasanya tampil berwibawa sebagai calon penerus takhta perusahaan itu kini tampak begitu rapuh di hadapannya.
"Mas... Mas Sam tidak perlu merasa bersalah," bisik Mita akhirnya, memecah kebisuan. Suaranya serak, bergetar menahan tangis yang siap tumpah kembali. "Mita tahu... Mas Sam sudah punya seseorang yang sangat Mas cintai."
Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat Sam tersentak. Kedua mata Sam melebar seketika. "Kamu... tahu dari mana?"
Mita tersenyum getir, menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Mita tidak sengaja melihat foto di ponsel Mas Sam beberapa bulan lalu. Dan... Mita juga pernah melihat Mas Sam mengantarnya pulang. Dia sangat cantik, Mas. Jauh berbeda dengan Mita yang hanya menumpang di rumah ini."
Sam terdiam, lidahnya mendadak kelu. Rahasia yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat dari sang ayah yang otoriter, ternyata sudah lama diketahui oleh gadis di depannya. Kenyataan ini justru membuat dada Sam semakin berdenyut nyeri. Dia merasa menjadi pria paling brengsek karena harus mengecewakan dua wanita sekaligus dalam hidupnya.
"Mita, ini bukan soal fisik atau status," kata Sam dengan nada mendesak, meraih kedua telapak tangan Mita yang terasa dingin dan gemetar. "Mas menyayangimu, sangat menyayangimu. Tapi demi Tuhan, perasaan itu murni seperti seorang kakak kepada adik kandungnya sendiri. Mas tidak bisa membohongi diri Mas, dan Mas juga tidak mau menodai pernikahan kita nanti dengan keterpaksaan."
"Lalu kita harus bagaimana, Mas?" Mita menatap Sam dengan pandangan putus asa. "Mas Sam tahu sendiri bagaimana watak Om Baskoro. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Dan bagi Mita... menolak pernikahan ini sama saja dengan menjadi anak yang tidak tahu diri setelah semua kebaikan keluarga ini."
Bayangan kecelakaan belasan tahun lalu kembali melintas di benak Mita. Nyawa kedua orang tuanya yang melayang demi menyelamatkan Baskoro dan Diana adalah sebuah utang yang tidak akan pernah bisa dia lunasi. Setiap jengkal pakaian yang melekat di tubuhnya, setiap suap nasi yang dia makan, dan seluruh biaya pendidikannya hingga lulus SMA adalah bentuk tebusan dari keluarga ini.
Bagaimana mungkin dia tega menggagalkan satu-satunya keinginan Baskoro untuk membalas budi?
Sam mencengkeram rambutnya frustrasi, melepaskan tangan Mita lalu bangkit berdiri. Dia berjalan mondar-mandir di koridor yang sepi itu. Pikirannya bercabang antara masa depan perusahaan yang dibebankan di pundaknya, kekasihnya yang sedang menanti kepastian, dan Mita yang terikat belenggu rasa bersalah.
"Harus ada jalan keluar, Mit. Mas tidak akan membiarkan kita berdua terjebak dalam lingkaran setan ini," ujar Sam mantap, meskipun di dalam hatinya sendiri dia tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja kembali terbuka. Baskoro berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tatapannya beralih dari Sam yang tampak kacau menuju Mita yang masih bersimpuh di lantai.
"Samudra, kembali ke kamarmu dan persiapkan dirimu untuk rapat direksi besok pagi. Jangan biarkan masalah pribadi mengganggu performamu sebagai calon CEO," perintah Baskoro dengan suara baritonnya yang mutlak. "Dan Mita, ikut Om ke dalam. Ada hal penting yang harus kita bicarakan mengenai persiapan pernikahan kalian."
Mita merasakan seluruh pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang. Dia melirik Sam yang mengepalkan tinjunya erat-erat, menahan amarah yang kembali tersulut. Namun sebelum Sam sempat memprotes, Mita dengan cepat berdiri dan mengangguk patuh ke arah Baskoro, melangkah melewati Sam menuju ruang kerja yang terasa seperti sangkar emas yang siap mengurung kebebasannya selamanya.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)
Langkah kaki Mita terasa begitu berat saat melewati ambang pintu ruang kerja. Suara ketukan pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti vonis hakim yang mengunci kebebasannya.
Namun, rupanya Baskoro tidak sendiri di ruangan itu. Di sudut sofa kulit dekat jendela, Diana sudah duduk tanpa bergeming. Ibu kandung Sam itu hanya diam menatap kosong ke arah lantai, wajahnya pucat dan kaku, memancarkan aura kesedihan sekaligus kepasrahan yang mendalam.
"Duduk, Mita," ujar Baskoro tanpa nada tinggi, namun sarat akan perintah yang tidak boleh dibantah.
Mita memilih duduk di ujung kursi, merapatkan kedua lututnya dengan sisa-sisa tubuh yang masih gemetar. "Iya, Om."
Baskoro menatap Mita lekat-lekat.
"Kamu sudah dengar semuanya di luar tadi, bukan? Tentang apa yang Sam katakan?" tanya Baskoro langsung pada intinya.
Mita menelan ludah dengan susah payah.
"Iya, Om. Mita... Mita tidak sengaja mendengar semuanya."
"Bagus kalau begitu. Jadi Om tidak perlu berputar-putar lagi," Baskoro memperbaiki posisi duduknya, mencondongkan tubuh ke depan. "Samudra itu keras kepala. Dia masih muda, darahnya masih bergejolak, dan dia belum paham apa yang terbaik untuk masa depannya serta masa depan keluarga ini. Tapi Om tahu apa yang terbaik."
Baskoro menghela napas sejenak, sorot matanya melembut namun tetap mengintimidasi. "Mita, sejak orang tuamu tiada, Om dan Tante Diana sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Tapi, statusmu di luar sana akan selalu dipandang sebagai anak angkat yang tidak punya ikatan hukum."
Pria itu mengetukkan jarinya ke meja. Tok. Tok.
"Dengan menikahi Sam, kamu akan resmi menjadi bagian dari keluarga Kusuma. Kamu akan memiliki nama, posisi, dan perlindungan penuh. Ini adalah cara Om menunaikan janji Om di depan makam kedua orang tuamu untuk menjamin hidupmu sampai akhir."
Airmata Mita kembali merebak, namun dia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh.
"Tapi... Mas Sam tidak mencintai Mita, Om," cicit Mita akhirnya, mengumpulkan sisa keberaniannya yang paling dalam. "Mas Sam... sudah memiliki wanita lain yang dia cintai."
Mita melihat sudut mata Diana sedikit berkedut mendengar kalimat itu, namun sang ibu tetap memilih bungkam dan tidak bergerak dari posisinya.
Sementara itu, Baskoro tidak tampak terkejut. Dia justru mendengus pelan, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya. "Cinta? Hubungan anak muda yang didasari nafsu sesaat seperti itu tidak ada artinya di dunia nyata, Mita. Samudra adalah calon CEO Kusuma Group. Dia tidak bisa menikah dengan sembarang wanita yang hanya akan mengincar hartanya atau mengacaukan fokusnya memimpin perusahaan."
Baskoro menatap Mita dengan tajam, mengunci pandangan gadis remaja yang baru lulus SMA itu.
"Om hanya percaya padamu. Kamu anak yang penurut, tahu balas budi, dan Om tahu kamu tidak akan pernah mengkhianati keluarga ini. Pernikahan ini akan tetap dilaksanakan bulan depan, setelah pesta kelulusanmu."
Mita mematung. Kata 'tahu balas budi' yang diucapkan Baskoro telak menghantam jantungnya. Itu bukan sekadar pujian, melainkan sebuah peringatan tak kasatmata. Sebuah pengingat bahwa menolak perintah ini berarti dia adalah seorang pengkhianat yang tidak tahu diri atas nyawa yang telah dikorbankan orang tuanya demi pria di hadapannya ini.
"Om tidak mau mendengar ada penolakan darimu, Mita. Om harap kamu bisa membujuk Samudra agar dia bisa menerima kenyataan ini dengan cepat. Kamu mengerti?"
Mita mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ruangan itu terasa begitu dingin dan hampa, terutama dengan kehadiran Diana yang terus duduk membeku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membelanya maupun membela putra kandungnya sendiri. Lidah Mita terasa kelu, terkunci rapat oleh belenggu utang budi yang begitu pekat. Tidak ada celah untuk lari. Tidak ada ruang untuk membantah.
Dengan perlahan dan hati yang hancur berkeping-keping, Mita mengangguk. "Iya, Om. Mita mengerti."(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!