Indonesia
NovelToon NovelToon

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

chapter 1

Di meja makan, hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen. Keheningan di rumah mewah itu mendadak terpecah saat suara ketukan sepatu pantofel terdengar menuruni anak tangga marmer satu demi satu.

Di ujung tangga, berdiri kokoh seorang laki-laki yang sudah berpakaian sangat rapi. Amerta menoleh sejenak ke arah sumber suara. Detik itu juga, Amerta tertegun. Ia begitu kaget karena merasa mahakarya Tuhan yang begitu indah sedang berdiri di sana. Laki-laki itu memiliki mata yang biru sebiru laut luas, hidung yang mancung, dan bibir yang sedikit tebal. Rambutnya disisir rapi dengan gaya klimis, menambah kesan sempurna sekaligus angkuh pada penampilannya.

Lalu, sebuah suara memecah lamunan Amerta.

"Amerta, kenalkan, dia kakakmu sekarang," ucap Mama Jingga lembut, mencoba mencairkan kecanggungan.

Mendengar ucapan ibunya, Amerta memberanikan diri. Ia mengulurkan tangan kanan, berniat mengajak berjabat tangan sebagai tanda perkenalan yang baik. Namun, usahanya nihil. Tidak ada sambutan hangat. Jangankan membalas uluran tangan Amerta, Mahesa bahkan tidak melirik jemari gadis itu sama sekali. Yang ada hanyalah sepasang tatapan mata biru yang sangat tajam, menembus langsung ke manik mata Amerta.

Merasa ditolak, Amerta menarik kembali tangannya dengan canggung, meremas jemarinya sendiri di bawah meja.

Tanpa sepatah kata pun, Mahesa berjalan menuju meja makan, menarik kursi di seberang Amerta, lalu duduk. Ia mulai mengoles roti dan makan dengan tenang seolah Amerta hanyalah makhluk tidak kasatmata di ruangan itu.

Melihat atmosfer yang mendadak kaku, Ayah Dirga membuka suara, "Bagaimana pekerjaanmu di kantor, Esa?"

"Baik," jawab Mahesa singkat, tanpa menatap sang ayah.

"Ayah dan Mama Jingga akan pergi honeymoon ke beberapa negara. Ayah harap kamu bisa menghandle semua pekerjaan di perusahaan selama kami pergi," lanjut Ayah Dirga, nadanya penuh wibawa namun penuh harap.

"Baik."

Hanya satu kata itu yang kembali terdengar dari bibir tebal Mahesa. Tak ada pertanyaan lanjutan, tak ada basa-basi. Setelah menghabiskan kopi hitamnya dalam beberapa tegukan, tiba-tiba laki-laki itu berdiri, merapikan jasnya, lalu melangkah pergi tanpa pamit secara verbal.

Hari itu adalah hari pertama Amerta tinggal di rumah ayah barunya. Untuk mengusir rasa canggung dan bosan karena ditinggal sendirian oleh orang tuanya yang sibuk mengemas koper, Amerta memutuskan berjalan-jalan menyusuri rumah baru tersebut. Rumah itu sangat luas, dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar besar yang membuat Amerta merasa makin kecil.

Hingga akhirnya, Amerta merasa lelah dan berniat kembali ke kamarnya sendiri di lantai dua. Namun, saat melewati lorong sunyi, matanya menyapu satu bilik kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya.

Pinto kamar itu sedikit terbuka, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter. Rasa penasaran Amerta bergejolak. Dengan langkah seringan kapas, ia melangkah pelan menyusuri kamar yang bernuansa serbaterbuka namun didominasi warna gelap—hitam dan abu-abu arang. Amerta sangat yakin bahwa ini adalah kamar Mahesa. Bau pertama yang menyengat indra penciumannya adalah aroma maskulin, campuran kayu cendana dan parfum mahal yang sangat menenangkan.

Amerta melihat-lihat sekeliling kamar yang sangat rapi dan minimalis itu, hingga matanya tertuju pada sebuah bingkai foto perak di atas nakas tempat tidur. Di dalam foto itu, Mahesa tampak tersenyum tipis—senyuman yang belum pernah Amerta lihat sebelumnya—bersama seorang perempuan berambut panjang yang sangat cantik.

TAP... TAP... TAP...

Tiba-tiba, terdengar suara langkah sepatu yang menggema dari arah lorong, hendak memasuki kamar. Jantung Amerta seakan berhenti berdetak. Panik menjalar ke seluruh tubuhnya. Cepat-cepat ia menaruh kembali foto itu ke atas nakas, namun karena terlalu terburu-buru, posisinya sedikit miring. Karena tidak ada waktu lagi untuk lari ke pintu luar, Amerta nekat merangkak dan menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah kolong tempat tidur Mahesa yang tertutup seprai panjang.

Suara langkah sepatu itu semakin mendekat, lalu berhenti tepat di samping tempat tidur. Amerta menahan napasnya rapat-rapat, memejamkan mata dengan jantung yang berpacu gila-gilaan. Ia mengira dirinya aman.

Namun, detik berikutnya, seprai tempat tidur disingkap kasar. Sebuah tangan yang kekar dan dingin dengan kuat menarik pergelangan tangan Amerta, menyeret tubuh gadis itu keluar dari bawah kasur.

Amerta mendongak dengan tubuh gemetar, dan langsung disambut oleh tatapan mata biru Mahesa yang berkilat marah, sedingin es kutub.

"Keluar sekarang! Jangan pernah masuk ke ruang ini tanpa seizinku!" desis Mahesa dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah. Saat Amerta masih mematung karena syok, Mahesa membentak lebih keras, "KELUARR!!"

Amerta sangat terkejut sekaligus ketakutan. Air matanya hampir tumpah. Ia bergegas bangkit dengan kaki lemas dan berlari keluar dari kamar itu. Tak lama setelah ia melangkah melewati ambang pintu, terdengar suara deritan pintu yang dibanting dengan sangat keras dari belakangnya. BRAKK!

Amerta termenung di depan kamarnya sendiri sambil memegangi dadanya yang bergemuruh. Sepanjang sisa hari itu, ia terus bertanya-tanya dalam hati: Sebenarnya, Mahesa itu orang yang seperti apa? Mengapa dia begitu sensitif dengan kamarnya? Dan siapa perempuan di foto itu?

Satu minggu pun berlalu sejak kejadian menegangkan di kamar tersebut. Selama satu minggu pula, Mahesa benar-benar menjelma menjadi sosok yang asing dan dingin di rumah itu. Ia tidak pernah mengeluarkan suara sepatah pun. Jika mereka berpapasan di lorong, Mahesa akan berjalan melewatinya begitu saja seolah-olah Amerta hanyalah embusan angin.

Hingga akhirnya, hari yang dinantikan tiba. Hari di mana Ayah Dirga dan Mama Jingga akan berangkat pergi honeymoon untuk waktu yang cukup lama.

Di ruang makan sebelum keberangkatan, Ayah Dirga membuka percakapan, "Mungkin Ayah dan Mama akan pergi cukup lama, sekitar dua atau tiga bulan karena ada urusan bisnis sekalian. Kalian di rumah harus akur dan membiasakan diri satu sama lain."

Amerta langsung menjawab dengan anggukan patuh dan senyum paksa, "Iya, Yah. Hati-hati di jalan."

Sementara itu, Mahesa yang duduk di seberangnya hanya merespons dengan satu deheman berat tanpa minat, matanya sibuk menatap layar iPad yang menampilkan grafik saham.

Malam harinya, setelah mobil orang tua mereka lenyap di balik gerbang menuju bandara, rumah itu mendadak terasa sepuluh kali lebih luas dan mencekam. Di ruang makan yang megah, kini hanya tersisa dua orang yang duduk saling berhadapan. Tidak ada percakapan, tidak ada kehangatan. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, memecah kesunyian yang seolah mencekik leher Amerta.

Amerta berulang kali menelan ludah dengan susah payah, merasa atmosfer di sekitarnya begitu berat karena aura intimidasi dari laki-laki di hadapannya.

Tiba-tiba, Mahesa meletakkan sendoknya. Dentingan kecil itu membuat Amerta sedikit tersentak di kursinya. Laki-laki bermata biru itu mendongak, menatap Amerta lurus-lurus untuk pertama kalinya malam itu.

"Selama Ayah belum pulang, aku akan jarang pulang," ucap Mahesa, suaranya terdengar datar, dingin, dan penuh dengan penekanan bahwa dia tidak ingin dibantah.

Amerta menundukkan kepalanya, meremas ujung bajunya di bawah meja, lalu menjawab pelan, "Iyaa, Kak."

Mahesa tidak merespons lagi. Laki-laki itu menyeka bibirnya dengan tisu, mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan decitan halus di lantai marmer, lalu berjalan pergi begitu saja. Punggung tegapnya menghilang di balik lorong menuju pintu utama.

Tak lama kemudian, deru mesin mobil sport-nya yang menggelegar terdengar menjauh dari halaman rumah, meninggalkan Amerta sendirian dalam keheningan total malam itu. Amerta menatap kursi kosong di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Babak baru kehidupannya di rumah ini baru saja dimulai, dan dia tahu, menghadapi kakak tirinya yang sedingin es tidak akan pernah menjadi hal yang mudah.

Chapter 2

Pagi pertama setelah keberangkatan orang tua mereka, Amerta terbangun oleh keheningan yang terasa sangat asing di telinganya. Biasanya, di rumah kontrakan kecil mereka dulu, pagi hari akan disambut oleh suara bising penggorengan dari dapur, ketukan pintu dari ibunya yang menyuruhnya bergegas mandi, atau suara radio usang tetangga sebelah rumah. Namun di rumah mewah ini, segalanya digantikan oleh kesunyian yang megah sekaligus mencekam. Kamar barunya yang luas seolah menelan seluruh suara, menyisakan ruang kosong yang membuat Amerta merasa terasing.

Amerta menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu hias minimalis. Ia menyibak selimut tebalnya, lalu melangkah turun ke lantai bawah dengan canggung. Setiap derap langkah kakinya di atas anak tangga marmer seolah menggema di seluruh sudut rumah. Di ruang makan yang luas, sepi kembali menyambutnya. Namun, di atas meja makan kayu jati yang panjang, sebuah tudung saji perak sudah teronggok rapi di sana.

"Non Amerta, silakan sarapan. Mengapa berdiri saja di sana?" sebuah suara ramah memecah keheningan.

Amerta menoleh dan mendapati Bi Sumi, kepala pelayan di rumah itu, sedang berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi segelas susu hangat dan jus jeruk. Wanita paruh baya itu tersenyum tulus, membuat rasa canggung di dada Amerta sedikit berkurang.

"Eh, iya, Bi. Terima kasih," jawab Amerta dengan senyum kaku. Matanya melirik ke arah kursi kosong di seberang meja, tempat Mahesa duduk semalam. "Apakah... Kak Mahesa belum turun?"

Bi Sumi meletakkan gelas susu di depan Amerta sembari menata piring. "Ah, Den Mahesa sudah berangkat ke kantor sejak pukul enam pagi tadi, Non. Memang sudah menjadi kebiasaannya setiap hari."

Amerta mengangguk pelan sembari mendudukkan diri. "Pagi sekali ya, Bi? Padahal ini kan masih jam tujuh."

"Iya, Non. Sejak masih kuliah hingga sekarang memegang kendali penuh di perusahaan Ayah Dirga, Den Mahesa memang sangat disiplin. Laki-laki gila kerja, kalau orang zaman sekarang bilang. Hampir seluruh waktunya habis di dalam ruang kerja atau di kantor pusat," jelas Bi Sumi panjang lebar sembari merapikan area dapur bersih.

Amerta terdiam, mulai menyuap nasi goreng seafood mewah yang disiapkan Bi Sumi. Setidaknya, sebersit rasa lega muncul di hatinya. Laki-laki bermata biru sebiru laut itu ternyata tidak sedang sengaja menghindarinya karena kejadian di kamar seminggu yang lalu, melainkan memang memiliki kesibukan yang luar biasa padat. Namun, ramalan Mahesa semalam terbukti sepenuhnya. Kursi di seberang Amerta tetap kosong selama tiga hari berturut-turut. Laki-laki itu benar-benar menjelma menjadi sosok tak kasatmata yang hanya meninggalkan jejak berupa aroma parfum maskulin yang samar di area tangga saat dini hari, atau segelas air putih yang tersisa di meja dapur pagi-pagi sekali.

Untuk mengisi waktu luangnya yang membosankan sebelum semester baru di universitas dimulai, Amerta memutuskan untuk mencoba beradaptasi dan lebih mengenal rumah barunya—tentu saja dengan sekaut tenaga menghindari lorong sebelah kamarnya yang menjadi area terlarang milik Mahesa. Ia mulai menghabiskan siang hari dengan membantu Bi Sumi merawat tanaman di rumah kaca mini yang terletak di halaman belakang. Di sanalah Amerta menemukan sedikit kedamaian di tengah kemewahan yang terasa hambar ini.

"Den Mahesa itu sebenarnya anak yang baik dan penyayang, Non," celetuk Bi Sumi pada hari keempat, saat mereka berdua sedang memangkas daun-daun kering pada tanaman mawar putih kesayangan mendiang nyonya rumah terdahulu.

Amerta yang sedang memegang gunting tanaman langsung menghentikan gerakannya. Rasa ingin tahu yang sempat ia kubur dalam-dalam setelah dibentak tempo hari, mendadak kembali bergejolak di dalam dadanya. "Benarkah, Bi? Tapi... kenapa sikapnya ketus sekali ya? Bahkan sejak hari pertama aku dan Mama datang ke sini."

Bi Sumi menghela napas panjang, tatapannya menerawang menatap barisan bunga mawar. "Hanya saja... sejak kepergian almarhumah ibunya beberapa tahun lalu karena sakit, dan ditambah setelah adanya suatu kejadian besar beberapa waktu lalu... Den Mahesa berubah total. Laki-laki yang dulunya hangat itu berubah menjadi sangat dingin dan tertutup. Dia sengaja mengunci dirinya sendiri dari dunia luar, Non. Termasuk dari ayahnya sendiri."

Amerta mengabaikan gunting di tangannya, fokus mendengarkan. Potongan teka-teki itu mulai berputar di kepalanya. "Kejadian besar apa yang Bibi maksud? Apakah ada hubungannya dengan wanita yang..." Amerta menggantung kalimatnya, hampir saja keceplosan menyebutkan tentang foto wanita cantik yang ia lihat di atas nakas kamar Mahesa.

Bi Sumi mendadak bungkam, menyadari dirinya telah berbicara terlalu jauh melampaui batasannya sebagai seorang pelayan. Wanita paruh baya itu tersenyum canggung, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah, maafkan Bibi, Non Amerta. Bukan hak Bibi untuk menceritakan urusan pribadi keluarga. Maaf ya, Non."

Meski didera rasa kecewa dan penasaran yang teramat sangat, Amerta tahu diri untuk tidak memaksa Bi Sumi berbicara lebih jauh. Namun, informasi singkat itu cukup untuk mengubah pandangan Amerta. Laki-laki angkuh yang tempo hari membentaknya habis-habisan itu, ternyata bukanlah monster tanpa perasaan. Mahesa hanyalah seorang manusia biasa yang sedang membawa luka masa lalu yang amat mendalam dan belum sembuh hingga detik ini.

Malam kelima tiba, membawa badai besar yang mengguyur kota Jakarta sejak sore hari. Angin kencang berembus kasar, membuat gorden-gorden tebal di ruang tengah melambai-lambai menakutkan, diselingi kilatan petir yang berkelebatan di balik jendela kaca besar. Tepat pukul sembilan malam, seluruh aliran listrik di kawasan perumahan elit itu padam total. Rumah megah itu seketika berubah menjadi labirin gelap yang sangat menyeramkan bagi Amerta.

Amerta yang dasarnya adalah seorang penakut akut langsung meraba-raba meja nakas di kamarnya, mencari ponsel dengan tangan gemetar. Beruntung, ia berhasil menyalakan lampu senter ponselnya yang sayangnya memiliki sisa baterai yang menipis akibat lupa diisi daya. Sinyal selulernya pun timbul tenggelam akibat cuaca buruk di luar. Karena merasa tenggorokannya kering dan suasana kamar terlalu mencekam, ia memberanikan diri berjalan turun ke lantai bawah menggunakan bantuan cahaya senter yang temaram, bermaksud mencari lilin dan segelas air di dapur.

KLIK...

Suara kunci pintu depan yang diputar membuat langkah Amerta mendadak terhenti tepat di anak tangga terbawah. Jantungnya berdegup gila-gilaan, hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Apakah ada penyusup di tengah badai seperti ini? Melalui pantulan cahaya senter yang sengaja ia arahkan ke lantai marmer lorong depan, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang basah melangkah masuk dengan tegap.

Itu Mahesa. Kakak tirinya pulang di tengah amukan badai.

Mahesa tampak terkejut sesaat saat melihat sorot lampu senter ponsel Amerta mengarah tepat ke arah kakinya. Namun dengan sangat cepat, ekspresi terkejut di wajah tampannya kembali berubah menjadi datar, dingin, dan tak terbaca. Jas hitam mahalnya tampak disampirkan begitu saja di lengan kiri, sementara kemeja putih rapinya terlihat sedikit basah di bagian bahu karena terkena rintik hujan. Rambut indahnya yang biasa disisir klimis kini tampak agak berantakan karena terpaan angin malam, memberikan kesan kasual yang belum pernah Amerta lihat sebelumnya.

"M-mati lampu sejak setengah jam yang lalu, Kak," ucap Amerta memberanikan diri memecah kesunyian yang mencekik di antara mereka. Ia berusaha bersikap biasa dan ramah, mencoba memposisikan dirinya sebagai seorang adik yang baik. "Aku baru mau ke dapur untuk mengambil lilin atau senter cadangan."

Mahesa tidak langsung menjawab ucapan Amerta. Ia melangkah maju mendekati area tangga, membuat jarak di antara mereka mengikis. Aroma parfum maskulinnya yang khas—campuran kayu cendana dan mint—bercampur dengan aroma segar air hujan langsung menyeruak, memenuhi indra penciuman Amerta. Di dalam kegelapan ruang tengah, mata biru Mahesa yang seindah mahakarya Tuhan tampak memantulkan sedikit cahaya kuning dari ponsel Amerta, menciptakan binar mistis yang memikat namun berbahaya.

"Tidak usah ke dapur. Genset otomatisnya rusak?" tanya Mahesa akhirnya. Suaranya terdengar sangat berat, dalam, dan serak—nada suara khas dari seseorang yang baru saja menghabiskan sisa energinya setelah seharian penuh memeras otak di dunia korporat yang kejam.

Amerta menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjawab, merasa terintimidasi oleh kedekatan jarak mereka. "Sepertinya begitu, Kak. Tadi sebelum tidur, Bi Sumi sempat bilang kalau ada komponen mesin genset yang aus dan baru bisa diganti oleh teknisi besok pagi."

Mahesa menghela napas panjang, sebuah helaan napas keletihan yang teramat sangat. Ia merogoh saku celana bahan hitamnya, mengeluarkan sebuah korek api gas berlogo perak mewah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, laki-laki tegap itu berjalan melewati tubuh Amerta begitu saja, menuju meja konsol panjang yang terletak di sudut ruang tengah.

Dengan gerakan tangan yang cekatan dan tenang, Mahesa mulai menyalakan satu per satu lilin aromaterapi berwadah gelas kaca yang memang sengaja dipajang di sana sebagai hiasan ruangan.

Dalam sekejap, ruang tengah yang tadinya gelap gulita dan menyeramkan perlahan-lahan diterangi oleh cahaya kuning keemasan yang hangat dan lembut. Aroma vanila dan lavender yang menenangkan dari lilin-lilin tersebut mulai menguar ke udara, mengusir atmosfer dingin dan mencekam yang sempat dibawa oleh badai di luar sana.

Amerta berdiri diam seribu bahasa di dekat sofa, kedua tangannya meremas ujung kaus tidurnya. Matanya tidak bisa lepas dari punggung tegap kakak tirinya yang sedang sibuk menyalakan lilin terakhir. Malam ini, keajaiban tampaknya sedang terjadi. Mahesa tidak membentaknya sama sekali. Tidak ada kata-kata kasar, pun tidak ada tatapan mata mengintimidasi yang menghakiminya seperti malam kejadian di kamar terlarang itu. Yang ada di hadapan Amerta saat ini hanyalah seorang laki-laki dewasa yang tampak sangat lelah oleh rutinitas hidupnya sendiri.

Setelah selesai dengan lilin terakhir, Mahesa membalikkan tubuhnya yang tinggi kokoh. Ia menatap Amerta yang masih berdiri mematung di tempatnya dengan pandangan lurus.

"Masuk ke kamarmu sekarang dan kunci pintunya rapat-rapat. Di luar sedang badai besar, tidak usah berkeliaran di lantai bawah," ujar Mahesa dengan nada suara datar tanpa ekspresi.

Namun, kali ini intonasi suaranya tidak sedingin biasanya. Kalimat itu memang mutlak sebuah perintah khas Mahesa yang tidak suka dibantah, namun entah mengapa, di telinga Amerta, kata-kata itu terdengar seperti sebuah bentuk kepedulian kecil tersembunyi yang tulus.

Sebelum Amerta sempat membuka mulut untuk membalas ucapan itu, Mahesa sudah melangkah lebih dulu menaiki anak tangga marmer menuju lantai atas, membiarkan aroma maskulinnya tertinggal dan perlahan menyatu dengan wangi vanila dari lilin yang menyala. Amerta berdiri terpaku selama beberapa saat, menatap nyala lilin yang menari-nari dengan perasaan di dadanya yang mendadak terasa sedikit lebih hangat. Dinding es yang dibangun oleh Mahesa memang masih berdiri kokoh menjulang tinggi, namun malam ini, Amerta tersadar akan satu hal: kakak tirinya tidak sepenuhnya kejam ataupun tidak peduli pada keberadaannya di rumah ini.

MAHESA PUTRA DIRGANTARA

AMERTA BUNGA ADIGUNA

chapter 3

Matahari pagi menembus celah-celah gorden tipis di kamar Amerta, membawa kehangatan yang sedikit mengusir rasa canggung yang menggelayuti rumah mewah itu sejak semalam. Amerta menggeliat pelan, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya. Ingatannya langsung berputar pada kejadian semalam. Di tengah badai dan kegelapan, untuk pertama kalinya, Mahesa tidak membentaknya. Suara berat laki-laki itu saat menyuruhnya masuk ke kamar dan mengunci pintu masih terngiang jelas. Itu bukan sebuah usikan kasar, melainkan sebuah instruksi datar yang entah mengapa terasa seperti seulas perlindungan tipis.

Amerta bangkit, bergegas mandi dan merapikan penampilannya. Hari ini adalah hari pertamanya mengikuti orientasi mahasiswa baru di Universitas Indonesia, kampus impian yang berhasil ia masuki melalui jalur prestasi yang ketat. Dengan mengenakan kemeja putih rapi dan rok hitam, Amerta menyisir rambut panjangnya dan menguncirnya kuda. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menyuntikkan rasa percaya diri yang sempat luntur sejak menginjakkan kaki di rumah ini.

Saat melangkah turun menuruni anak tangga marmer, Amerta dikejutkan oleh pemandangan di ruang makan. Lampu-lampu kristal sudah menyala terang karena aliran listrik telah pulih sejak dini hari. Di sana, duduk di kursi kebesarannya, adalah Mahesa. Laki-laki itu sudah berpakaian sangat rapi dengan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga sebatas siku, menampakkan urat-urat tangan yang tegas dan jam tangan melingkar mewah. Sepasang mata birunya yang sebiru laut luas fokus menatap lembaran koran bisnis di tangannya, sementara tangan kanannya sesekali menyesap kopi hitam yang mengepulkan asap tipis.

Amerta menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Jantungnya mendadak berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia bimbang antara harus berbalik kembali ke kamar atau meneruskan langkahnya. Namun, suara dentingan cangkir yang diletakkan Mahesa di atas tatakan porselen memecah keraguannya.

"Duduk," ucap Mahesa tanpa mengalihkan pandangannya dari koran. Suaranya rendah, serak khas bangun tidur, namun penuh wibawa.

Amerta menelan ludah dengan susah payah. Ia melangkah ragu-ragu dan mengambil tempat duduk di ujung meja yang paling jauh dari Mahesa, persis seperti posisinya seminggu yang lalu. Atmosfer di sekitar mereka langsung terasa berat dan kaku, jenis keheningan yang membuat suara sekecil apa pun akan terdengar seperti ledakan.

Bi Sumi datang dari arah dapur membawa semangkuk bubur ayam hangat dan meletakkannya di depan Amerta dengan senyum penuh arti. "Silakan sarapan, Non Amerta. Hari ini hari pertama kuliah, kan? Harus banyak energi."

"Terima kasih, Bi," bisik Amerta pelan, merasa tertolong oleh kehadiran wanita paruh baya itu.

Amerta mulai mengaduk buburnya dengan canggung, berusaha tidak menimbulkan suara gesekan antara sendok dan mangkuk porselen. Di seberang sana, Mahesa melipat korannya dengan rapi, meletakkannya di samping piring. Laki-laki itu mendongak, membuat manik mata birunya beradu tepat dengan sepasang mata Amerta yang jernih. Amerta refleks menahan napas, merasa terintimidasi oleh tatapan tajam yang seolah bisa membaca seluruh isi kepalanya.

"Universitas Indonesia?" tanya Mahesa tiba-tiba. Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah interogasi dibanding obrolan keluarga.

Amerta mengangguk cepat, hampir tersedak air liurnya sendiri. "I-iya, Kak. Jurusan Manajemen Bisnis."

Mahesa hanya mendengus pelan, ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali, tetap datar seperti dinding batu. Namun, kilatan aneh sempat melintas di matanya saat mendengar nama jurusan yang diambil Amerta. Laki-laki itu kembali menyesap kopinya hingga tandas, lalu berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap seketika mendominasi ruang makan.

"Ikut aku," perintah Mahesa singkat sambil menyambar kunci mobil sport hitamnya di atas meja.

"Eh? Ke-ke mana, Kak?" Amerta mengerutkan keningnya bingung, sendoknya menggantung di udara.

"Jangan membuatku mengulang ucapan," jawab Mahesa dingin, membalikkan badannya dan berjalan keluar menuju garasi tanpa menunggu jawaban dari adik tirinya.

Amerta menatap Bi Sumi dengan pandangan meminta tolong, namun Bi Sumi justru mengangguk penuh semangat sambil memberikan isyarat tangan agar Amerta segera menyusul. Tanpa pikir panjang lagi, Amerta menyambar tas ranselnya yang diletakkan di kursi sebelah, menenggak segelas air putih dengan terburu-buru, dan berlari kecil mengejar langkah lebar Mahesa yang sudah menghilang di balik pintu penghubung garasi.

Di dalam garasi yang luas dan bersih, mobil sport hitam milik Mahesa sudah menyala, mengeluarkan deru mesin yang halus namun bertenaga besar. Amerta berdiri canggung di samping pintu penumpang, ragu apakah ia benar-benar boleh masuk ke dalam kendaraan mewah yang tampak sangat dijaga kebersihannya itu.

Kaca mobil perlahan turun, menampilkan wajah tampan Mahesa dari dalam yang menatapnya dengan kernyatan di dahi. "Masuk. Aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu melamun."

Amerta cepat-cepat membuka pintu dan mendudukkan dirinya di kursi penumpang yang dilapisi kulit premium beraroma maskulin yang sangat akrab—aroma yang sama dengan yang ia hirup di kamar Mahesa seminggu lalu. Ia menarik sabuk pengaman dengan tangan yang sedikit bergetar, merasa luar biasa gugup berada di ruang tertutup sekecil ini hanya berdua dengan kakak tirinya yang sedingin es.

Mobil mewah itu bergerak membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan pagi. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Keheningan di dalam mobil terasa begitu pekat, hanya diisi oleh suara sayup-sayup instrumen musik klasik dari radio yang sengaja dinyalakan Mahesa dengan volume sangat rendah. Amerta memilih untuk melempar pandangannya ke luar jendela, berpura-pura sibuk menatap deretan gedung bertingkat, padahal pikirannya sedang berkecamuk gila-gilaan. Ia tidak mengerti mengapa Mahesa tiba-tiba mau mengantarnya, padahal laki-laki itu terkenal sangat tidak peduli dan menjaga jarak sejak hari pertama perkenalan mereka.

Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa, hingga akhirnya mobil sport itu memasuki gerbang kampus Universitas Indonesia yang megah. Kehadiran mobil mewah berharga miliaran rupiah itu sontak menarik perhatian ratusan mahasiswa baru yang sedang berjalan kaki menuju aula utama. Mereka menoleh, berbisik-bisik penasaran tentang siapa sosok yang berada di dalam kendaraan tersebut.

Mahesa menghentikan mobilnya tepat di area drop-off depan gedung fakultas ekonomi dan bisnis. Amerta menghela napas lega, merasa terbebas dari kurungan atmosfer yang mencekik sepanjang perjalanan. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan berbalik menghadap Mahesa, mencoba menyunggingkan senyum terbaiknya sebagai tanda terima kasih.

"Terima kasih banyak sudah mengantar, Kak Mahesa," ucap Amerta tulus.

Mahesa tidak menoleh, kedua tangannya masih mencengkeram kemudi mobil dengan erat, matanya menatap lurus ke depan. "Jangan berpikir aku melakukan ini karena peduli. Jalur ke kantorku searah dengan kampus ini. Ayah akan cerewet jika tahu aku membiarkanmu naik taksi di hari pertama."

Senyum di wajah Amerta perlahan menyusut, digantikan oleh rasa maklum yang sedikit getir. Tentu saja, tebaknya dalam hati. Laki-laki ini melakukan semuanya hanya karena kewajiban formalitas kepada Ayah Dirga, bukan karena menganggapnya sebagai seorang adik.

Namun, sebelum Amerta sempat membuka pintu mobil untuk keluar, Mahesa kembali membuka suara, menghentikan gerakan tangan gadis itu pada gagang pintu.

"Jika ada yang mengganggumu di kampus ini, sebut namaku. Aku tidak suka nama baik keluargaku diseret dalam masalah kekanak-kanakan mahasiswa baru," ucap Mahesa datar, nadanya sedingin biasanya, namun kalimat itu mengandung sebuah proteksi terselubung yang luar biasa besar di lingkungan kampus ini. Amerta tahu dari Bi Sumi bahwa Mahesa adalah salah satu alumni terbaik dan donatur terbesar di fakultas ini.

Amerta tertegun sejenak, menatap profil samping wajah Mahesa yang tampak begitu kokoh dari jarak dekat. Hidung mancungnya, bibir tebalnya yang terkatup rapat, dan rahang tegasnya yang mengeras. Mahakarya Tuhan yang indah ini benar-benar diselimuti oleh dinding es yang luar biasa tebal, namun di balik itu semua, Amerta bisa merasakan ada garis tipis tanggung jawab yang mulai ditarik oleh Mahesa untuknya.

"Baik, Kak. Aku mengerti," jawab Amerta pelan.

Ia melangkah keluar dari mobil, menutup pintunya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras yang bisa memicu amarah kakak tirinya. Begitu pintu tertutup, mobil sport hitam itu langsung melesat pergi tanpa menunggu Amerta berbalik, meninggalkan kepulan asap tipis dan tatapan kagum sekaligus iri dari mahasiswa di sekitar yang menyangka Amerta adalah kekasih atau adik dari seorang konglomerat muda.

Amerta mengembuskan napas panjang, merapikan tas ranselnya di bahu, dan mulai berjalan membaur dengan kerumunan mahasiswa baru. Di dalam hatinya, sebuah keyakinan baru mulai tumbuh. Menghadapi Mahesa memang tidak akan pernah mudah, dan dinding es itu mungkin masih berdiri kokoh memisahkan mereka. Namun, hari ini Amerta tahu, dinding es itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa ditembus, melainkan sebuah pertahanan diri dari seseorang yang teramat terluka di masa lalu. Dan entah mengapa, Amerta merasa tertantang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di balik dinginnya sikap sang kakak tiri.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!