Indonesia
NovelToon NovelToon

Dendam Dan Cinta

Jaring jaring sang Predator

Langkah kaki Bara Mahendra terdengar tegas, berirama konstan di atas lantai marmer lobi utama Amartya Group. Setelan jas abu-abu gelap melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Potongan rambut yang rapi serta rahangnya yang tegas memberikan impresi pria berkuasa yang tidak punya waktu untuk urusan sepele.

Di belakangnya, sang asisten pribadi bernama Rian berjalan cepat sembari memeriksa tablet digital.

"Semua dokumen akuisisi saham dari para pemegang saham minoritas sudah rampung, Pak Bara. Sesuai rencana, saat ini posisi Amartya Group benar-benar di ujung tanduk karena terlilit utang proyek di Kalimantan," lapor Rian dengan suara rendah, memastikan tidak ada telinga asing yang mendengar.

Bara tidak menyahut. Sudut bibirnya hanya terangkat samar, membentuk senyuman dingin yang mengerikan.

Lima belas tahun ia menunggu momen ini. Menghancurkan Darma Amartya lewat jalur hukum atau fisik saja tidak akan pernah cukup membayar nyawa kedua orang tuanya. Ia ingin mencabut fondasi hidup pria tua itu sampai ke akar-akarnya.

"Di mana putrinya sekarang?" tanya Bara, suaranya berat dan datar.

"Nona Senja Amartya ada di ruang kerja ayahnya di lantai atas. Informasi dari orang dalam, hari ini Nona Senja datang untuk memohon penundaan likuidasi aset pada bank, tapi semua akses mereka sudah kita blokir," jawab Rian.

"Bagus. Tetap di sini, Rian. Biar aku yang mengantar surat kematian untuk mereka sendiri."

Bara melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif. Ketika pintu lift berdenting terbuka di lantai paling atas, atmosfer sunyi langsung menyergap. Lantai ini dulunya adalah simbol kejayaan, kini terasa mencekam layaknya kapal yang hampir karam.

Bara berjalan menuju pintu kayu jati besar bertuliskan 'Presiden Komisaris'. Pintu itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang memperdengarkan suara kepanikan dari dalam.

"Tolong, Pak... berikan kami waktu dua minggu lagi. Saya jamin aset di Surabaya bisa menutup sebagian..."Suara itu lembut, namun bergetar hebat menahan tangis. Itu suara Senja Amartya.

Bara mendorong pintu tersebut tanpa mengetuk, membuat engselnya berdecit pelan.

Dua pasang mata di dalam ruangan seketika menoleh ke arah ambang pintu. Di balik meja kerja, Darma Amartya duduk di kursi roda dengan wajah pucat dan napas yang tampak berat. Di sampingnya, berdiri seorang gadis dengan gaun kasual berwarna pastel. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, membingkai wajahnya yang tampak lelah namun tetap menyiratkan kecantikan alami yang murni.

Matanya yang bulat kini tampak berkaca-kaca.

"Siapa kau? Berani-beraninya masuk tanpa izin!" bentak Darma, suaranya serak dan batuk kecil menyusul setelahnya. Pria tua itu tidak mengenali Bara. Wajar saja, lima belas tahun lalu Bara hanyalah anak belasan tahun yang kurus dan tak berdaya.

Bara melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Ia mengancingkan satu kancing jasnya, lalu menatap Darma dengan pandangan lurus yang menusuk.

"Nama saya Bara Mahendra, Pak Darma. Pemilik tunggal dari Mahendra Capital," ucap Bara memperkenalkan diri dengan nada terlampau sopan, namun sarat akan intimidasi.

Mendengar nama perusahaan tersebut, tubuh Darma mendadak menegang. Mahendra Capital adalah pihak ketiga yang diam-diam membeli seluruh surat utang dan saham Amartya Group dalam tiga bulan terakhir. Dengan kata lain, pria di depan mereka ini adalah pemegang kendali atas hidup dan mati perusahaan mereka.

"Jadi... Anda orangnya?" Senja melangkah maju, memotong pembicaraan. Ia menatap Bara dengan pandangan memohon, kedua tangannya saling bertaut di depan dada.

"Pak Bara, saya mohon... perusahaan ini adalah seluruh hidup ayah saya. Jika Anda menyita gedung dan aset kami sekarang, ayah saya tidak akan kuat."

Bara mengalihkan pandangannya pada Senja. Jarak mereka kini hanya terpaut dua langkah. Untuk pertama kalinya, Bara bisa melihat sedekat ini manik mata Senja yang jernih begitu polos, tanpa dosa, dan sangat menyayangi ayahnya. Sesaat, ada desiran aneh yang asing di dada Bara, namun ia segera menepisnya kasar. Gadis ini adalah anak dari seorang pembunuh.

"Bisnis tidak mengenal belas kasihan, Nona Senja," ucap Bara dingin, matanya tak beralih dari wajah gadis itu.

"Hari ini adalah batas akhir. Jika saya mau, sore ini juga nama Amartya Group akan dihapus dari bursa saham, dan seluruh aset Anda akan disita."

"Jangan... saya mohon," setitik air mata akhirnya lolos membasahi pipi Senja.

"Pasti ada cara lain. Apa pun... apa pun akan kami lakukan asal perusahaan ini tidak hancur."

"Senja! Jangan memohon pada orang asing ini!" seru Darma dari kursi rodanya, napasnya kian tersengal-sengal menahan amarah dan gengsi.

Bara mengabaikan seruan Darma. Ia justru maju satu langkah lagi, mengikis jarak dengan Senja hingga gadis itu bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam dari tubuh Bara.

Bara menurunkan sedikit intonasi suaranya, mengubahnya menjadi terdengar lebih dalam dan penuh manipulasi.

"Apa pun, Nona Senja? Anda yakin dengan ucapan Anda?"Senja mendongak, menatap mata elang Bara yang seolah siap menelannya hidup-hidup. Meski dilingkupi rasa takut yang luar biasa, demi ayahnya yang sakit-sakitan, Senja mengangguk pelan.

"Ya. Apa pun."Bara tersenyum tipis senyuman kemenangan seorang predator yang melihat mangsanya masuk sendiri ke dalam jaring yang dipasang.

"Menikahlah denganku," bisik Bara tanpa ragu. "Jadilah istriku, maka seluruh utang Amartya Group akan kuanggap lunas dalam semalam."

Ruangan itu seketika hening. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang monoton, mengiringi awal dari sebuah takdir kelam yang baru saja dikunci oleh Bara Mahendra.

Bersambung

Bersambung

Pengorbanan untuk Hidup

Hujan turun rintik-rintik di luar jendela kamar hotel mewah tempat Senja menginap. Di atas ranjang, sebuah gaun pengantin berwarna putih gading terhampar anggun. Gaun itu sangat indah, namun bagi Senja, kain sutra itu terasa seperti kain kafan yang siap membungkus kebebasannya esok pagi.

Dua minggu telah berlalu sejak lamaran gila dari Bara Mahendra di ruang kerja ayahnya. Dua minggu yang penuh air mata, perdebatan, hingga akhirnya kepasrahan.

Senja berdiri di depan cermin besar, menatap bayangan dirinya sendiri. Matanya sembap. Di ranjang rumah sakit beberapa hari lalu, sang ayah, Darma Amartya, menangis hebat sembari memegang tangannya. Pria tua itu merasa gagal melindungi putri tunggalnya dan mengutuk dirinya sendiri karena harus membiarkan Senja "dijual" demi menyelamatkan nama baik keluarga.

"Maafkan Papa, Senja... Papa tidak berguna," bisikan lirih ayahnya kembali terngiang, membuat dada Senja sesak.

Senja menghapus setitik air mata yang kembali jatuh di pipinya. "Ini demi Papa," bisiknya pada refleksi di cermin, mencoba menguatkan hati. Ia tidak mengenal Bara Mahendra. Bagi Senja, Bara adalah sosok pebisnis kejam, dingin, dan penuh teka-teki yang tiba-tiba datang memerasnya menggunakan jerat utang.

Namun, Senja tidak punya pilihan. Menikah dengan pria asing yang menakutkan jauh lebih baik daripada melihat ayahnya meninggal dalam kondisi terpuruk dan miskin di sisa usianya.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, atmosfer yang jauh lebih dingin menyelimuti ruang kerja Bara Mahendra.

Bara berdiri di balkon apartemen penthousenya, membiarkan angin malam yang menusuk menerpa wajahnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kalung perak usang dengan liontin berbentuk hati satu-satunya peninggalan ibunya yang berhasil ia selamatkan 15 tahun lalu.

Pintu kaca di belakangnya bergeser terbuka. Rian, asisten pribadinya, melangkah masuk dengan sopan.

"Semua persiapan untuk akad nikah dan resepsi besok pagi sudah 100 persen siap, Pak Bara. Media sudah dikondisikan untuk meliput ini sebagai 'Pernikahan Dongeng' antara penyelamat bisnis dan putri konglomerat," lapor Rian.

Bara tidak menoleh. Matanya tetap menatap gemerlap lampu kota Jakarta yang tampak seperti hamparan bara api di matanya.

"Bagaimana dengan kondisi Darma?"

"Kesehatannya menurun drastis setelah menandatangani surat perjanjian pranikah. Tim medis mengatakan jantungnya terlalu lemah untuk menghadiri acara besok. Beliau akan menyaksikan lewat siaran langsung dari ruang perawatan," jawab Rian ragu, tahu betul bahwa kondisi ini adalah bagian dari skenario yang diinginkan atasannya.

Bara mengepalkan tangannya yang memegang kalung ibunya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Bagus. Biarkan dia menonton dari ranjang pesakitannya. Biarkan dia melihat bagaimana putri kesayangannya melangkah masuk ke dalam sangkar yang kubuat."

Rian terdiam sejenak, lalu memberanikan diri bertanya, "Pak Bara... apakah Anda yakin Nona Senja tidak terlibat dalam kejadian 15 tahun lalu? Dia masih sangat kecil saat itu."

Bara membalikkan badannya, menatap Rian dengan tatapan elang yang sanggup menghentikan detak jantung seketika. Atmosfer ruangan langsung turun beberapa derajat.

"Dia anak Darma Amartya, Rian. Darah seorang pembunuh mengalir di tubuhnya," ucap Bara, suaranya pelan namun terdengar seperti vonis mati.

"Darma membunuh orang tuaku dan merenggut masa kecilku tanpa ampun. Jadi, sangat adil jika aku menggunakan anaknya sendiri untuk membalas setiap tetes darah yang tumpah malam itu."

Bara berjalan masuk ke dalam ruangannya, meletakkan kalung ibunya di atas meja kerja, tepat di samping dokumen legalitas aset Amartya Group yang kini sudah berpindah tangan atas namanya.

"Besok adalah awal dari akhir bagi keluarga Amartya. Aku tidak akan melepaskan mereka sampai Darma merasakan hancur yang sesungguhnya," pungkas Bara dingin.

Malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua orang manusia menatap langit malam yang sama dengan perasaan yang bertolak belakang. Senja yang berdoa meminta kekuatan untuk menghadapi pernikahan yang ia kira adalah pengorbanan suci, dan Bara yang tersenyum puas karena jaring pembalasan dendamnya siap ditarik esok hari.

Bersambung

Ikatan Sandera dan Topeng yang Retak

Gemerlap lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu memancarkan kemegahan yang membutakan mata. Ratusan tamu dari kalangan elite, pejabat, dan pengusaha papan atas berkumpul, memenuhi ruangan yang didekorasi dengan ribuan bunga mawar putih segar. Alunan musik instrumental gesekan biola terdengar begitu romantis, mengiringi apa yang disebut oleh media massa sebagai 'Pernikahan Dongeng Abad Ini'.

Di atas panggung pelaminan, Senja Amartya berdiri dengan anggun berbalut kebaya pengantin brokat putih gading yang menyapu lantai. Namun, di balik kerudung tile transparan yang menutupi wajahnya, tatapan Senja kosong. Tangannya yang dingin tersembunyi di balik buket bunga lily yang dipegangnya erat-erat.

Beberapa jam lalu, Bara Mahendra telah mengucapkan kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas yang tegas dan mantap di hadapan penghulu. Detik itu juga, status Senja resmi berubah menjadi seorang istri.

Di sampingnya, Bara berdiri dengan gagah dalam balutan beskap modern berwarna senada. Senyuman pria itu tampak begitu menawan, ramah, dan penuh pesona saat menyalami para kolega bisnis yang datang memberikan ucapan selamat. Siapa pun yang melihat akan mengira Bara adalah pria paling bahagia di dunia yang baru saja memenangkan hati putri seorang konglomerat.

Namun, setiap kali telapak tangan Bara yang hangat dan kokoh menyentuh pinggang Senja untuk keperluan foto bersama, tubuh Senja refleks menegang. Ia bisa merasakan aura dingin yang kontras di balik senyuman artifisial suaminya. Tatapan mata elang Bara yang sesekali meliriknya tidak memancarkan binar cinta, melainkan kilatan kepuasan seorang predator yang baru saja berhasil mengurung mangsanya di dalam sangkar emas.

"Tersenyumlah, Istriku," bisik Bara tiba-tiba, merapatkan tubuhnya ke telinga Senja saat kilatan kamera fotografer mengarah ke mereka. Suaranya begitu lembut di pendengaran orang lain, namun terasa seperti desisan ular di rungu Senja.

"Jangan biarkan ayahmu yang sedang menonton lewat layar rumah sakit melihat wajah sepucat mayat itu. Kita tidak ingin serangan jantungnya kambuh malam ini, bukan?"

Mendengar ancaman terselubung itu, jantung Senja mencelos. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu memaksa sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman palsu yang dipaksakan.

Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya ditahannya mati-matian agar tidak jatuh dan merusak riasan pengantinnya. Demi ayahnya, Senja berjanji pada diri sendiri untuk bertahan melewati sandiwara melelahkan ini.

______________________________________________

Pesta megah itu akhirnya usai saat jarum jam hampir menyentuh angka dua belas malam. Sebuah mobil sedan mewah membawa sepasang pengantin baru itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang, menuju apartemen penthouse pribadi milik Bara.

Sepanjang perjalanan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Bara sibuk menatap layar ponselnya, memeriksa laporan pergerakan saham dan pengalihan aset Amartya Group yang kini sudah resmi masuk ke dalam dekapannya.

Sementara Senja hanya mampu menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kota, meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya berada di tangan pria asing di sampingnya.

Begitu melangkah masuk ke dalam lantai penthouse, pintu kayu tebal di belakang mereka tertutup dengan bunyi klik yang solid. Detik itu juga, atmosfer di sekitar mereka berubah drastis.

Bara langsung melepaskan jubah beskapnya, melemparkannya ke atas sofa kulit hitam dengan sembarang. Senyuman ramah dan penuh pesona yang ia pamerkan di hadapan ratusan tamu undangan selama berjam-jam tadi lenyap seketika tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah sosok Bara Mahendra yang asli pria yang dingin, kaku, dengan tatapan mata yang dipenuhi kabut kebencian yang pekat.

Senja berdiri mematung di dekat pintu, masih dengan gaun pengantinnya yang berat. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang tiba-tiba menggigil karena hawa pendingin ruangan, atau mungkin karena rasa takut yang mulai menjalar ke ujung-ujung jarinya.

"Masuk ke kamar," perintah Bara datar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Senja. Ia berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan cairan whisky ke dalam gelas kaca.

Dengan langkah ragu dan gemetar, Senja menyeret gaunnya menuju kamar utama yang pintunya terbuka setengah. Kamar itu sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang suram.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang berukuran king size dengan sprei sutra hitam yang tertata rapi. Tidak ada dekorasi bunga mawar, tidak ada lilin aroma terapi, atau hiasan malam pertama seperti kamar pengantin pada umumnya. Kamar ini terasa asing dan menakutkan bagi Senja.

Senja duduk di tepi ranjang, mencoba melepaskan untaian pin dan sanggul di rambutnya dengan tangan yang gemetar. Beberapa kali tangannya malah menusuk kulit kepalanya sendiri karena terlalu gugup.

Cklek.

Suara pintu kamar yang ditutup dan dikunci dari dalam membuat Senja tersentak. Ia mendongak dan melihat Bara melangkah masuk. Pria itu sudah melonggarkan kemeja putihnya, membuka dua kancing teratas, memperlihatkan gurat lehernya yang kokoh. Di tangannya, gelas berisi minuman keras itu sudah kosong.

Bara berjalan mendekati ranjang perlahan, setiap langkah kakinya terdengar seperti ketukan vonis mati bagi Senja. Ia berhenti tepat di depan Senja, berdiri menjulang tinggi hingga bayangannya menutupi tubuh mungil sang istri.

"Buka penutup kepalamu," ujar Bara, suaranya berat dan tidak menerima bantahan.

Senja mendongak, menatap mata elang Bara dengan pandangan bergetar. "Ma-mas Bara... bolehkah aku ke kamar mandi dulu untuk membersihkan diri?" tanya Senja dengan suara cicitan yang hampir habis.

Bara tidak menjawab. Pria itu justru berlutut dengan satu kaki di depan Senja, membuat wajah mereka kini sejajar. Jarak yang teramat dekat ini membuat Senja bisa mencium aroma alkohol bercampur parfum maskulin yang pekat dari napas Bara.

Tangan Bara yang besar tiba-tiba terangkat, mencengkeram rahang Senja dengan tenaga yang cukup kuat hingga gadis itu memekik tertahan.

"Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu, Senja Amartya," bisik Bara, suaranya sedingin es di kutub. Matanya menyipit penuh kebencian yang membara.

"Pernikahan ini bukan awal dari kisah cinta yang indah. Pernikahan ini adalah awal dari hukumanmu."

Senja membelalakkan matanya, rasa sakit di rahangnya tidak sebanding dengan rasa bingung dan takut yang menghantam dadanya.

"Apa... apa maksudmu? Aku sudah memenuhi janjiku untuk menikahimu demi melunasi utang perusahaan Papa. Kenapa kau... sekejam ini?"

Bara tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar mengerikan di keheningan malam. Ia melepaskan cengkeramannya pada rahang Senja dengan sentakan kasar, membuat wajah gadis itu teralih ke samping.

Bara kemudian berdiri, merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah kalung perak usang dengan liontin berbentuk hati yang penyok. Ia melempar kalung itu tepat ke pangkuan gaun pengantin Senja.

"Lihat benda itu," desis Bara.

"Lima belas tahun lalu, ibuku memakai kalung itu saat dia merenggang nyawa di dalam mobil yang disabotase. Dan tahu siapa yang merancang kecelakaan itu demi menguasai seluruh saham Mahendra Group milik keluargaku?"

Bara maju selangkah, menunduk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Senja yang mulai dipenuhi air mata.

"Ayahmu. Darma Amartya. Pria tua bangka yang kau agung-agungkan sebagai malaikat itu adalah seorang pembunuh berdarah dingin!"

Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh tubuh Senja mendadak lemas dan mati rasa. Kepalanya berputar hebat mendengar untaian kalimat yang keluar dari mulut Bara.

"Tidak... itu tidak mungkin... Papa tidak mungkin melakukan hal sekeji itu! Kau bohong!" teriak Senja histeris, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Aku punya semua buktinya, Senja! Dan aku menghabiskan lima belas tahun hidupku di dalam neraka hanya untuk kembali dan membalas dendam," Bara mencengkeram kedua bahu Senja, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang memerah menahan amarah masa lalu.

"Membunuh ayahmu terlalu mudah. Dia harus melihat miliknya yang paling berharga satu-satunya putri tunggalnya hancur perlahan-lahan di tanganku. Kau di sini bukan sebagai seorang istri, Senja. Kau di sini sebagai sandera, sebagai alat bayar atas darah orang tuaku yang tumpah lima belas tahun lalu."

Air mata Senja tumpah ruah, membasahi pipi dan merusak seluruh riasan pengantinnya yang indah. Dunianya runtuh seketika di malam yang seharusnya menjadi malam pertamanya. Pria yang ia kira hanya seorang pebisnis kejam yang memanfaatkan keadaan, ternyata adalah sesosok monster yang menyimpan dendam kesumat pada keluarganya.

Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa dirinya hanyalah pion dalam papan catur balas dendam yang rumit ini.

Bara melepaskan cengkeramannya pada bahu Senja, lalu berdiri tegak sembari merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia menatap dingin ke arah istrinya yang kini menangis tergugu, meringkuk di atas ranjang dengan gaun pengantin yang tampak menyedihkan. Tidak ada setitik pun rasa iba di hati Bara saat melihat kerapuhan gadis itu. Baginya, setiap tetes air mata Senja adalah cicilan dari rasa sakit yang ia tanggung selama belasan tahun.

"Menangislah sepuasmu malam ini, Senja," ucap Bara datar sembari berjalan menuju pintu kamar.

"Mulai besok, hidupmu di rumah ini tidak akan pernah sama lagi. Jangan pernah berharap mendapatkan cinta atau kehangatan dari ruangan ini, karena bagiku, kau tidak lebih dari sekadar anak dari seorang pembunuh."

Bara melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan dentuman keras, meninggalkan Senja sendirian di dalam kegelapan malam pertama mereka yang dipenuhi oleh gema tangis keputusasaan dan dinginnya jerat dendam yang baru saja dimulai.

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!