Halo! Kenalkan nama ku Gaertn Candice atau biasa di panggil dengan nama Caca. Aku orang Indonesia asli, lahir dan besar di sini. Kalau bicara soal latar belakang keluarga, aku punya darah campuran Tionghoa-Indonesia dari kedua orang tuaku baik Papa maupun Mama sama-sama memiliki garis keturunan Tionghoa-Indonesia. Jadi, bisa dibilang aku tumbuh besar dengan perpaduan budaya yang sangat kental dan karena dominasi genetik Tionghoa yang kuat inilah yang membuat tampilan fisik ku lebih condong ke arah oriental.
Anggap saja ini sesi perkenalan paling jujur, sedikit berisik, dan penuh energi dari seseorang yang mungkin akan membuatmu kewalahan hanya dalam lima menit pertama.
Nama adalah perwujudan dari pepatah " tubuh kecil, tenaga raksasa." Jika kamu mencari seseorang yang berjalan dengan tenang, anggun, dan irit bicara, maka kamu sedang mencari orang yang salah.
Aku adalah tipe orang yang kalau disuruh duduk diam selama sepuluh menit, kakinya pasti sudah mengetuk-ngetuk lantai, matanya menyapu seisi ruangan mencari hal menarik untuk dibahas, dan mulutnya mulai gatal ingin melontarkan lelucon atau sekadar bertanya, "Eh, menurutmu warna cat tembok itu bagus nggak, ya?"
Secara fisik, dunia mungkin melihat saya sebagai sosok yang mungil. Seringkali orang mengira saya adik tingkat, atau bahkan anak sekolah jika saya sedang tidak memakai riasan. Tapi jangan salah, ukuran tubuh yang kecil ini justru menjadi keuntungan buat saya.
Saya bisa menyelinap di antara kerumunan, bergerak lincah tanpa harus menabrak banyak barang, dan tentu saja, memiliki stamina yang luar biasa. Saya tidak bisa diam. Diam bagi saya adalah sebuah penyiksaan. Hidup ini terlalu penuh dengan warna, suara, dan cerita untuk dilewatkan hanya dengan melamun.
Kalau bicara soal "cerewet", itu adalah pernyataan yang sangat halus. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "kurator informasi". Aku punya pendapat tentang hampir segala hal mulai dari mengapa kopi di kafe ujung jalan rasanya lebih enak kalau diseruput saat masih panas, hingga teori konspirasi tentang mengapa kucing selalu tahu kapan kita sedang butuh teman.
Aku bicara dengan cepat, terkadang tangan ku ikut bergerak seirama dengan kata-kata ku. Aku bukan tipe orang yang membiarkan keheningan mengisi ruangan, aku akan langsung mengisi celah kosong itu dengan topik apa pun yang terlintas di kepala.
Bagi banyak orang, sifat ku mungkin terdengar melelahkan. Namun, aku melihatnya sebagai antusiasme. Aku sangat mencintai hidup. Setiap orang yang aku temui adalah buku baru yang ingin aku baca.
Aku selalu ingin tahu, selalu ingin mencoba hal baru, dan selalu ingin memastikan bahwa orang-orang di sekitar aku juga ikut merasakan energi yang sama. Jika kamu sedang sedih, aku tidak akan diam saja. Aku akan berceloteh, membuat lelucon konyol, atau sekadar membicarakan hal-hal absurd agar setidaknya satu sudut bibirmu terangkat.
Tentu saja, aku sadar bahwa menjadi sosok yang hiperaktif dan tidak bisa berhenti bicara punya tantangannya sendiri. Terkadang aku bicara terlalu cepat sampai lupa bernapas, atau terlalu bersemangat hingga lupa mendengarkan.
Tapi percayalah, di balik segala kebisingan yang ku buat, ada keinginan tulus untuk menjalin koneksi. Aku bukan sekadar gadis kecil yang berisik aku adalah pendengar yang juga butuh didengarkan, dan teman yang akan selalu memastikan hari-harimu tidak akan pernah terasa membosankan.
Jadi, setelah mendengar perkenalan yang cukup panjang (dan mungkin melelahkan) ini, apakah kamu siap menghadapi seseorang yang dunianya selalu bergerak 24 jam sehari? Aku tidak menjanjikan ketenangan, tapi aku menjanjikan petualangan yang tidak akan pernah membuatmu mengantuk.
Ah satu lagi aku pernkenalkan namanya Abhinav Ruchir blesteran prancis, italia dan indonesia yang tak lain adalah orang yang aku cintai sekaligus orang yang membuat ku tidak berdaya dan tidak bisa melawan, Tunanganku.
Jangan tertipu dengan sikap irit bicaranya dunianya mungkin tenang, tapi aksinya jauh lebih lantang dari ucapannya. Dia bukan orang yang banyak menuntut, tapi dia tipe yang sangat protektif bahkan cenderung posesif.
Bagi dia, menjaga miliknya adalah prioritas nomor satu yang tidak bisa ditawar. Dia mungkin tidak bicara banyak, tapi kehadirannya sangat sulit untuk diabaikan.
Panggil saja Abhinav Ruchir atau biasa di panggil Abhi dan memiliki darah Prancis dari sisi Mommy, serta Italia dan Indonesia dari sisi Daddy.
Aku bukan tipe orang yang banyak bicara. Bagiku, tindakan jauh lebih penting daripada janji. Aku terbiasa memastikan semuanya berjalan sesuai kendali, terutama menyangkut privasi dan orang-orang di sekitar aku.
Aku tidak suka berbagi, dan aku tidak suka diganggu, aku tipe orang yang selalu ada di depan untuk membereskan masalah, dan aku punya proteksi yang cukup ekstrem terhadap apa pun yang aku anggap berharga.
Aku sarankan jangan pernah mencoba untuk melampaui batasku.
Bagiku mencintai tidak pernah tentang seberapa besar suara yang di keluarkan untuk mengumbar janji, melainkan tentang seberapa dalam napas yang di tahan setiap kali menatap mata wanitanya.
Aku adalah pria yang percaya bahwa cinta adalah kata kerja sebuah rentetan aksi yang dilakukan di balik layar, tanpa perlu tepuk tangan, apalagi pengakuan dunia. Ia mencintai wanitanya bukan dengan cara yang riuh, melainkan dengan ketenangan yang menghanyutkan, seperti sungai yang diam namun arusnya sanggup membelah batu paling keras sekalipun.
Jika orang lain melihatnya sebagai sosok yang dingin atau irit bicara, maka wanitanya melihat sisi yang berbeda. Di hadapannya, tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh begitu saja. Ia adalah tipe pria yang akan memperhatikan hal-hal kecil yang tidak disadari orang lain suhu kopi yang ia pesan agar tidak terlalu panas untuk lidah wanitanya, cara wanitanya merapikan rambut saat merasa cemas, atau lagu yang tiba-tiba membuat wanitanya terdiam dalam lamunan.
Ia tidak perlu bertanya, "Apa yang salah?" karena ia sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat garis halus di kening sang kekasih.
Cintanya termanifestasi dalam tindakan. Jika wanitanya lelah, ia tidak sekadar berkata, "Istirahatlah," melainkan ia akan memastikan seluruh urusan yang membuat wanitanya lelah itu selesai, agar wanitanya benar-benar bisa tidur dengan tenang.
Ia adalah pelindung yang tangguh. Dalam kamus hidupnya, ada batas tegas antara apa yang boleh disentuh dunia dan apa yang menjadi wilayah sakralnya yaitu wanitanya.
Posesivitas yang ia miliki bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan bentuk dedikasi yang begitu akut. Ia menganggap wanitanya sebagai harta paling berharga yang harus dijaga dari setiap ancaman, baik yang nyata maupun yang hanya sekadar tatapan mata orang asing yang terlalu lama tertuju pada sang kekasih.
Ia mencintai tanpa syarat, namun juga dengan batasan yang sangat ketat. Ia tidak akan membiarkan siapa pun melukai wanitanya, bahkan tidak akan membiarkan wanitanya melukai dirinya sendiri karena kesedihan yang tak perlu. Ia akan hadir di sana, berdiri sebagai tameng, diam namun memastikan segalanya terkendali.
Ketika dunia sedang berisik dan menuntut perhatian, ia justru menjadi tempat paling tenang untuk pulang.
Dalam dunianya yang sunyi, ia tidak butuh banyak kata untuk mengungkapkan rasa. Bagi pria ini, satu tatapan tajam yang mematikan bagi orang lain, berubah menjadi tatapan yang begitu lembut saat tertuju pada wanitanya. Ia memuja setiap inci eksistensi wanitanya, dari pola pikir yang membuatnya kagum hingga kelemahan yang justru membuatnya ingin terus melindunginya.
Ia adalah pria yang tidak banyak berjanji, karena ia terlalu sibuk membuktikan cintanya setiap hari. Baginya, mencintai wanita ini adalah tugas utama, kehormatan tertinggi, dan satu-satunya alasan mengapa ia terus berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri setiap waktu.
Ia mencintai bukan untuk memiliki, melainkan untuk memastikan bahwa selama ia masih bernapas, wanitanya tidak akan pernah merasakan dunia yang terlalu berat sendirian.
Ia membuka matanya tepat saat alarm pertama berbunyi, tanpa sisa kantuk yang berarti. Dengan gerakan yang terukur, ia merapikan tempat tidur—sebuah rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan.
Kakinya menapak lantai kayu dengan langkah yang sunyi saat ia keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni anak tangga terdengar berat dan ritmis, seolah ia sedang mengukur setiap inci ruang yang kini sepenuhnya berada di bawah pengawasannya.
Terdengar suara dingin dari arah bawah tangga.
Abhi " Perhatikan langkahmu sayang, jangan berlari "Caca " Apa yang kamu lakukan pagi-pagi sudah berada disini bhi ? "
Abhi " Memangnya kenapa ? Apa ada larangan untuk menemui tunangan sendiri ? "
Caca " Oh my god, kenapa kamu sudah bawel pagi-pagi begini ? Sedangkan jika bersama orang lain, kamu akan seperti patung "
Abhi " Sudah mengomelnya sayang ? Kemarilah "
Dengan langkah yang malas-malasan, aku melangkah gontai mendekati pusat duniaku. Begitu berada dalam jangkauan, abhi menarikku dengan tarikan yang kuat, menyatukan tubuh kita hingga tidak ada celah tersisa. Abhi memelukku dengan erat, hampir terasa mencekik. Sebuah bentuk posesif yang lahir dari rasa takut kehilangan. Ia tidak butuh kata-kata di dalam pelukan itu, ia sedang mengunci dunianya sendiri, dengan lirih berkata.
Abhi " I miss you SO BAD sweetheart...even though we meet every day. " (Aku sangat merindukanmu sayang...Meskipun setiap hari kita bertemu.)
Pelukannya yang semula terasa menuntut dan posesif, perlahan mulai melembut saat jemariku bergerak mengusap-usap punggungnya. Ia tampak begitu lelah, namun tangan besarnya masih mencengkeram pinggangku dengan posesif. Aku terus mengusapnya, mencoba menjadi penawar bagi dunia luar yang selalu menuntutnya untuk selalu kuat dan tanpa celah. membenamkan wajahnya lebih dalam di lekuk leherku, dan aku tahu, di saat-saat seperti inilah sisi dinginnya sepenuhnya tunduk pada rasa butuhnya padaku.
Aku menarik diri sedikit agar bisa memandang wajahnya dengan jelas. Mataku tak lepas menatap wajahnya yang kini tampak lebih tenang dalam dekapanku.
Di balik raut wajah yang biasanya dingin dan tak tersentuh itu, aku menemukan guratan lelah yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia. Dengan hati-hati, kubelai pipinya, merasakan tekstur kulitnya yang terasa hangat di bawah jemariku.
Dia tidak memalingkan wajah, justru memejamkan mata dan sedikit menyandarkan kepala pada telapak tanganku. Dengan lembut, kubelai garis rahangnya yang tegas, jemariku menelusuri tiap inci wajahnya seolah sedang menghafal setiap lekuk yang hanya boleh kusentuh dan membiarkan pertahanannya luruh sepenuhnya di hadapanku.
Caca " Bhi ayo kita sarapan, pasti kamu belum makan kan ? Lihat wajahmu kurusan, ada kerutan dimana-mana seperti orang tua. Masak tunangan aku kelihatan tua sih, sedangkan ceweknya masih cantik jelita nan imut-imut "
Melihatnya tertawa lepas adalah pemandangan langka yang selalu membuat hatiku hangat. Suaranya yang berat membaur dengan tawaku, menciptakan harmoni yang jarang sekali kami punya.
Setelah tawa itu mereda, ia menarik kursi untukku dengan gerakan yang sangat posesif namun lembut, memastikan aku duduk tepat di hadapannya sebelum kami akhirnya memulai sarapan bersama dalam ketenangan yang nyaman.
Setelah sarapan usai, aku beranjak untuk bersiap, meninggalkan Abhi yang kini duduk diam di ruang tamu. Meski Abhi tidak banyak bicara, aku tahu Abhi menunggu dengan penuh perhatian. Setiap kali aku melirik dari balik pintu kamar, abhi masih di sana duduk tegak dengan tatapan mata yang seolah mengunci seluruh ruangan, memastikan bahwa saat aku kembali nanti, aku masih menjadi miliknya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!