Malam di benteng timur selalu membawa aroma yang sama: campuran tanah basah, besi berkarat, dan bau samar belerang yang entah datang dari mana. Kai berdiri di ambang jendela batu yang menghadap langsung ke arah jurang mati. Angin malam yang dingin mengoyak jubah hitamnya, tetapi anehnya, kulitnya justru terasa panas. Di balik dadanya, ada denyut asing yang berdetak terlalu cepat, seolah-olah ada makhluk hidup lain yang sedang mencoba mencakar jalan keluar dari jantungnya.
Ia menyentuh pelipisnya yang berdenyut. Suara itu datang lagi. Bukan berupa kata-kata yang jelas, melainkan sebuah getaran rendah yang menggetarkan tulang selangka, sebuah bisikan serak yang terdengar seperti tawa sekaligus tangisan dari seekor reptil raksasa. Naga Merah. Kutukan atau anugerah, Kai sendiri belum bisa memutuskan.
"Kau melamun lagi, Kai."
Suara langkah kaki yang teratur memecah keheningan kamar. Kai tidak perlu berbalik untuk tahu siapa yang datang. Bau harum bunga kamelia yang bercampur dengan hawa dingin yang ganjil sudah cukup menjadi penanda.
Yuki berdiri dua langkah di belakangnya. Di jemari lentiknya, sebuah topeng kitsune putih dengan guratan merah menyala bergantung longgar. Wajah aslinya yang cantik malam ini tampak begitu tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang menyimpan begitu banyak rahasia di balik lengan bajunya.
"Angin malam ini sedang gelisah, Yuki," sahut Kai, suaranya terdengar serak di tenggorokan. Ia akhirnya berbalik, menyandarkan punggungnya pada bingkai jendela batu yang dingin. "Atau mungkin, hanya darah di dalam tubuhku yang menolak untuk tenang."
Yuki melangkah mendekat, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Kai yang mulai menampakkan semburat merah samar. Tanpa permisi, ia mengulurkan tangan, menyentuh dada Kai tepat di mana jantungnya berpacu liar. Sentuhan tangan Yuki sedingin es, dan untuk sesaat, rasa panas di tubuh Kai mereda.
"Dia mendesakmu lagi?" tanya Yuki lembut, hampir berupa bisikan. "Jangan biarkan suara itu mengambil alih. Sekali kau menyerah pada bisikannya, kau bukan lagi Kai yang mengenalku."
Kai tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang terasa getir. "Apakah itu sebuah peringatan, atau hanya caramu untuk memastikan aku tetap bisa kau gunakan, Yuki?"
Yuki tidak menarik tangannya. Ia justru memiringkan kepalanya, membiarkan rambut hitamnya jatuh melewati bahu. "Kau selalu sinis. Padahal kau tahu, dari semua orang di benteng ini, hanya aku yang tidak pernah berbohong tentang seberapa berbahayanya dirimu."
Sebelum Kai sempat membalas, pintu kayu berat di ujung ruangan berderit terbuka tanpa ketukan. Suasana dingin yang dibawa Yuki seketika pecah oleh kehadiran sesosok wanita lain yang berjalan dengan keanggunan yang menuntut perhatian.
Rei masuk dengan gaun beraksen sulaman merah yang menyerupai sisik naga di sepanjang lengannya. Rambut peraknya berkilau diterpa cahaya lilin, dan matanya yang kelabu langsung tertuju pada tangan Yuki yang masih menempel di dada Kai. Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara namun sarat akan provokasi, muncul di wajahnya.
"Kuharap aku tidak merusak momen berharga kalian berdua," ujar Rei, suaranya renyah namun menyimpan ketajaman yang konstan. Ia berjalan menghampiri meja kayu di tengah ruangan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme yang lambat.
"Tapi tetua menunggumu di aula utama, Kai. Dan kurasa, tamumu yang berharga dari klan seberang sudah tidak sabar untuk melihat apakah sang pewaris naga masih waras malam ini."
Kai menghela napas, melepaskan tangan Yuki dengan perlahan dari dadanya. Kehadiran Rei selalu membawa atmosfer yang berbeda penuh tekanan politik dan intrik yang melelahkan.
"Aku akan segera ke sana, Rei," jawab Kai tegas.
Rei tidak langsung pergi. Ia berjalan memutari meja, mendekati Kai hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Bau wangi dupa mahal yang pekat menguar dari tubuhnya. Ia menatap Kai dari bawah ke atas, lalu beralih menatap Yuki dengan pandangan menilai.
"Baguslah," bisik Rei, matanya berkilat di bawah cahaya remang-remang.
"Karena malam ini Hana juga akan hadir. Kau tahu betapa gadis suci itu sangat membenci bau darah dan... muslihat rubah." Rei melirik topeng di tangan Yuki sejenak sebelum kembali menatap Kai. "Jangan buat dia menunggu terlalu lama, Kai. Kau tahu apa yang bisa dilakukan keluarganya pada perbatasan kita jika dia merasa tersinggung."
"Aku tahu tugasku, Rei. Kau tidak perlu mengingatkannya setiap saat," potong Kai dengan nada yang mulai meninggi. Rasa panas di dadanya kembali menyengat, dipicu oleh ketegangan yang mulai merayap di dalam ruangan.
Rei hanya terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar merdu namun dingin, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah anggun yang sengaja diperlambat.
Yuki tetap bergeming di tempatnya berdiri, matanya menatap pintu yang baru saja tertutup dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dia benar tentang satu hal, Kai," ucap Yuki memecah keheningan yang kembali mencekam. "Malam ini semua mata tertuju padamu. Hana dengan kepolosannya yang mematikan, dan... jangan lupakan Mai yang selalu mengintai dari bayang-bayang."
Kai mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Di dalam kepalanya, bisikan bernada tawa itu kembali terdengar, seolah menertawakan takdirnya yang dikelilingi oleh jaring-jaring yang ditenun oleh para wanita di sekitarnya.
"Biarkan mereka menonton," bisik Kai pada dirinya sendiri, melangkah melewati Yuki menuju pintu keluar. "Mari kita lihat, siapa yang akan terbakar lebih dulu."
Aula utama benteng timur malam ini tampak seperti panggung sandiwara yang megah sekaligus mencekam. Puluhan lilin besar yang terbuat dari lemak paus digantung pada langit-langit batu, meneteskan lelehan lilin hangat yang menguapkan aroma malam yang pekat. Di bawahnya, para tetua klan dan bangsawan perbatasan duduk bersila di atas tikar sutra, berbisik-bisik di balik cawan-cawan arak mereka.
Namun, seketika Kai melangkah melewati pintu gerbang kayu yang tinggi, atmosfer ruangan itu mendadak mengendap. Bisik-bisik itu surut, digantikan oleh keheningan yang sarat akan penilaian.
Kai berjalan dengan dagu terangkat, mencoba mengabaikan rasa panas yang kembali merayap dari pangkal leher hingga ke pelipisnya. Di sebelah kirinya, Rei berjalan mendampingi dengan langkah yang begitu tenang, seolah ia adalah pemilik sah dari seluruh perhatian di ruangan ini. Sementara itu, Yuki memilih untuk melebur dengan bayang-bayang di barisan belakang, wajahnya kini telah tertutup rapat oleh topeng *kitsune* putihnya yang dingin.
"Tersenyumlah sedikit, Kai," bisik Rei tanpa menoleh, bibirnya yang merah merekah nyaris tak bergerak. "Para tetua sedang mencari celah untuk melihat apakah kutukan Naga Merah sudah mulai menggerogoti akal sehatmu."
"Aku tidak datang untuk menghibur mereka, Rei," jawab Kai dengan nada rendah yang sarat akan tekanan.
Di ujung aula, di atas podium yang agak meninggi, duduk seorang gadis dengan pakaian putih bersih tanpa cela, sangat kontras dengan dominasi warna merah dan hitam di ruangan itu. Dialah Hana. Rambut peraknya yang panjang dihiasi oleh tusuk konde emas berbentuk bangau, simbol kemurnian klan seberang. Saat pandangan mereka bertemu, Hana meletakkan cawan tehnya dengan gerakan yang sangat halus, lalu memberikan anggukan hormat yang terukur.
Kai melangkah mendekat dan mengambil tempat duduk di sisi seberang meja Hana, sementara Rei dengan anggun mengambil posisi tepat di sebelah kanan Kai, menegaskan posisinya sebagai penasihat sekaligus penengah politik yang tak tergantikan.
"Lama tidak berjumpa, Tuan Muda Kai," suara Hana memecah keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar jernih, mirip lentingan lonceng angin di musim semi, namun ada ketegasan yang tak bisa dibantah di balik kelembutan itu. "Kudengar angin di benteng timur sedang bergolak akhir-akhir ini. Kuharap kedatanganku tidak mengganggu ketenanganmu."
Kai menatap sepasang mata Hana yang bening, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh gadis suci ini. "Kedatanganmu selalu membawa kehormatan bagi benteng ini, Hana. Hanya saja, tempat ini mungkin terlalu dingin untuk seseorang yang terbiasa dengan kehangatan istana selatan."
Hana tersenyum tipis, matanya melirik sekilas ke arah Rei yang sedang menuangkan arak ke dalam cawan Kai. "Dingin tidak akan menjadi masalah, selama api di dalam benteng ini tidak membakar orang-orang di sekitarnya. Keluargaku mengkhawatirkan... bisikan yang belakangan ini sering terdengar hingga ke luar perbatasan."
Atmosfer di meja itu seketika menegang. Pertanyaan Hana langsung menusuk ke inti masalah.
Sebelum Kai sempat merangkai kata, Rei memotong dengan tawa kecil yang terdengar sangat alami. "Nona Hana tampaknya terlalu banyak mendengarkan dongeng para pelancong di pasar. Api benteng timur selalu terkendali dengan baik di bawah tangan Kai. Bukankah begitu?"
Hana tidak mengalihkan pandangannya dari Kai, mengabaikan interupsi Rei dengan keanggunan yang mematikan. "Aku ingin mendengarnya langsung dari mulut Tuan Muda Kai, bukan dari juru bicaranya."
Rasa panas di dada Kai mendadak menyengat hebat, seolah sang naga di dalam dirinya tersinggung oleh desakan itu. Semburat merah samar kembali melintasi pupil matanya. Tepat saat situasi mulai terasa berbahaya, sebuah bayangan bergerak di sudut pilar tak jauh dari meja mereka.
Sesosok wanita berambut merah kecokelatan yang bergelombang acak tampak bersandar malas di sana. Mai. Ia tidak mengenakan pakaian formal seperti yang lain; jubahnya tampak sedikit longgar dan ada kesan liar yang melekat kuat pada dirinya. Di jemarinya, sebuah belati kecil diputar-putar dengan kecepatan yang mengerikan, memantulkan cahaya lilin ke dinding-dinding batu.
Mai tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun tatapan matanya yang tajam dan senyum seringai tipis di sudut bibirnya seolah mengunci seluruh pergerakan di area itu. Ia adalah peringatan berjalan bahwa malam ini tidak ada yang benar-benar aman.
Kai menarik napas dalam-dalam, menekan gejolak darahnya, lalu membalas tatapan Hana dengan senyum yang dipaksakan tegak.
"Jika api ini memang berbahaya, Hana," ucap Kai, suaranya terdengar berat dan bergema halus, membuat Hana sedikit menahan napas. "Maka pastikan kau tidak berdiri terlalu dekat. Karena jika kutukan ini benar-benar bangkit, aku tidak bisa menjamin siapa yang akan hangus menjadi abu terlebih dahulu."
Hana terpaku sejenak, matanya melebar sebelum ia kembali menguasai diri dan menundukkan kepala dalam-dalam. Di sudut ruangan, putaran belati Mai mendadak berhenti, dan dari balik topengnya, Yuki tampak mengencangkan pegangan tangannya pada bilah kipas yang tersembunyi. Jamuan baru saja dimulai, namun bara api di bawah meja mereka sudah siap untuk meledak.
Malam semakin larut ketika jamuan di aula utama akhirnya membubarkan diri. Suasana tegang yang sempat tercipta di antara Kai dan Hana perlahan mencair menjadi formalitas yang kaku, meski bara di bawah permukaan tidak benar-benar padam.
Selepas kepergian rombongan klan seberang yang dikawal ketat oleh Rei, Kai memilih untuk tidak langsung kembali ke kamarnya. Langkah kakinya membawa pemuda itu menyusuri lorong-lorong batu di bagian belakang benteng, tempat di mana angin malam berembus lebih bebas tanpa sekat dinding-dinding tinggi.
Rasa panas di dadanya kini telah mereda menjadi denyutan hangat yang samar. Sang naga tampaknya telah kembali tertidur, puas setelah sempat memamerkan taringnya di hadapan Hana. Namun, ketenangan itu justru membuat Kai merasa tidak nyaman. Keheningan di tempat ini terlalu sunyi, seolah-olah seluruh benteng sedang menahan napas.
"Kau membiarkan dirimu terbuka dari belakang, Tuan Muda."
Sebuah suara bernada malas memecah kesunyian dari atas kepala Kai.
Kai menghentikan langkahnya, namun ia tidak mendongak. Ia sudah sangat mengenali siluet yang kini tengah duduk santai di atas salah satu pilar penyangga atap lorong. Mai berada di sana, dengan satu kaki berayun bebas di udara. Jubah merah kecokelatannya tampak berkibar pelan ditiup angin, dan di bawah cahaya bulan yang temaram, belati kecilnya masih setia berputar di antara sela-sela jarinya.
"Aku tahu kau di sana sejak aku melewati belokan pertama, Mai," sahut Kai, suaranya terdengar datar.
Mai terkekeh pelan. Dengan satu gerakan yang sangat ringan dan tanpa suara, ia melompat turun dari pilar setinggi tiga meter itu, mendarat tepat dua langkah di depan Kai. Tatapan matanya yang liar langsung mengunci pandangan pemuda itu.
"Tentu saja kau tahu. Naga di dalam dirimu itu punya penciuman yang terlalu tajam untuk seekor reptil yang terkurung," ucap Mai sambil melangkah lambat memutari Kai, persis seperti seekor predator yang sedang menilai mangsanya. "Tapi kau tahu apa yang menarik malam ini, Kai? Gadis suci dari selatan itu... dia datang bukan cuma untuk menanyakan kabarmu."
Kai memutar tubuhnya, mengikuti pergerakan Mai. "Hana hanya menjalankan perintah keluarganya untuk memastikan perbatasan tetap stabil."
"Oh, naif sekali," Mai berhenti melangkah, menatap Kai dengan seringai tipis yang sarat akan cemoohan. Ia mendekatkan wajahnya, hingga Kai bisa mencium aroma kayu manis dan besi yang samar dari tubuh wanita itu. "Klan selatan itu ketakutan, Kai. Mereka tahu segelmu mulai melemah. Hana dikirim ke sini sebagai penentu: apakah mereka harus terus bersekutu denganmu, atau... langsung menebas kepalamu sebelum naga itu benar-benar mengamuk dan membakar wilayah mereka."
Mendengar ucapan Mai, tangan Kai secara refleks bergerak mencengkeram pergelangan tangan wanita itu. Gerakannya begitu cepat, namun Mai sama sekali tidak terkejut. Ia justru menatap pergelangan tangannya yang dicengkeram kuat dengan binar mata yang semakin bersemangat.
"Kau tahu terlalu banyak untuk seseorang yang statusnya hanya 'pengintai perbatasan', Mai," bisik Kai, suaranya mendalam dan berbahaya.
"Dan kau terlalu meremehkan seberapa besar orang-orang di luar sana menginginkan kematianmu," balas Mai tanpa rasa takut sedikit pun. Ia membiarkan belatinya terjatuh ke tangan kirinya yang bebas, lalu ujung bilah yang dingin itu dengan lembut menyentuh dagu Kai, memaksanya untuk tetap saling bertatapan. "Rei sibuk berpolitik untuk menyelamatkan muka klanmu. Yuki bersembunyi di balik topengnya untuk merencanakan entah apa. Tapi aku? Aku hanya peduli pada satu hal, Kai."
"Apa?"
Mai menarik tangannya yang dicengkeram Kai dengan satu hentikan sentakan yang terlatih, lalu melangkah mundur satu blok. "Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa bertahan sebelum kau benar-benar terbakar. Dan jika hari itu tiba... aku ingin menjadi orang pertama yang berada di sana, entah untuk menyelamatkanmu, atau justru untuk menghabisimu dengan tanganku sendiri."
Sebelum Kai sempat membalas, sekelebat bayangan putih melintas cepat di ujung lorong, disusul oleh suara gemerisik daun yang jatuh. Mai melirik ke arah bayangan itu, lalu kembali menatap Kai dengan senyuman misteriusnya yang khas.
"Sepertinya rubah kecilmu sudah mulai gelisah karena kita mengobrol terlalu lama," ucap Mai sambil menyarungkan belatinya ke balik jubah. "Pikirkan ucapanku, Tuan Muda. Malam ini Hana mengawasimu, tapi besok... seluruh dunia mungkin akan memburumu."
Tanpa menunggu jawaban, Mai berbalik dan berjalan cepat, melebur dengan kegelapan lorong dalam hitungan detik.
Kai tetap berdiri di tempatnya, menatap ke arah koridor yang kini kosong. Angin malam kembali berembus kencang, membawa kembali bisikan rendah yang kali ini terdengar seperti sebuah peringatan yang mendesak di dalam kepalanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!