Indonesia
NovelToon NovelToon

Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

CTIKCD - Luka dan Amarah

“Lepasin tangan aku, Van. Kalian berdua itu udah cukup nyakitin nggak, sih? Di depan aku, kalian jadi manusia paling baik. Di belakangku, kalian main gila!” Nasya menunjuk Revan dan Cika bergantian.

Revan yang saat ini statusnya pacar Nasya yang dengan janjinya jika ekonominya sudah stabil akan menikahinya. Ternyata hari ini, hubungan yang seharusnya tak pernah terjadi diketahui oleh Nasya. Bukan orang lain, Revan berhubungan Cika yang sudah dianggap saudara oleh Nasya.

“Ini salah aku, Nasya. Kamu salahin aku aja, ya. Aku yang lancang suka sama Revan,” tukas Cika berusaha menenangkan Nasya yang menangis tersedu-sedu.

“Kalian berdua bersalah! Kalian! Ini terakhir kalinya kita ketemu. Aku gak mau kalian berhubungan lagi denganku. Apapun itu, gak ada alasannya. Meski hanya selangkah, jangan pernah muncul lagi.” Nasya berusaha tegar, menyeka air mata yang rasanya tak pantas dikeluarkan itu, dan melangkah meninggalkan mereka.

Revan yang hendak mengejar Nasya dihalangi oleh Cika. Gelengannya kuat. “Van, biarin Nasya pergi. Kamu gak denger omongannya tadi? Dia udah gak mau lanjutin hubungan sama kamu? Apa yang mau diharepin?” ucap Cika dengan tatapan memohon agar Revan tak mengejar Nasya yang semakin menjauh.

“Aku sayang sama dia. Gak tahu kenapa aku ngelakuin ini? Ini salah, Cik. Aku udah janji mau nikah sama Nasya,” jawab Revan yang benar-benar terlihat menyesali perbuatannya.

“Aku juga saya sama kamu, Van. Gak bisa kita mulai lagi dari awal? Kita lupain semua masa lalu. Sekarang, adanya kamu sama aku. Bisa?” Harapan seakan ada saat langkah Revan terhenti.

***

Nasya terus berjalan tanpa rasa lelah. Entah sampai kapan dia terus menyusuri jalanan kota yang sudah gelap. Bajunya sudah basah kuyup, tapi Nasya tak merasakan apapun. Hujan yang membasahi bumi malam ini, seakan memahami perasaannya yang sedang runtuh dan tangisan yang tertahan akhirnya keluar bebas.

“Kalian jahat! Jahat! Sebenarnya gak mau nangis, tapi kenapa sakit banget.” Nasya terduduk dan merutuki dirinya saat ini.

Nasya yang sibuk meluapkan rasa sakitnya. Sampai tidak memperhatikan bahwa ada mobil yang melaju sedikit cepat ke arahnya. Lampu yang begitu terang, Nasya mendongak. Terkejut dan juga takut, dia pun menutup matanya.

Terdengar ban mobil yang tertahan, seorang pria berwajah tegas itu mengerem mobilnya sekuat tenaga. Raut wajah penuh amarah, pria itu keluar dengan tergesa. Bukan untuk memeriksa seorang wanita yang hendak saja tertabbrak olehnya. Namun, dia ingin melampiaskan amarahnya.

“Kenapa ingin menyulitkan orang lain? Tidak adalah tempat yang lebih baik untuk mengakhiri hidup selain di jalan?!” bentak Elgan seraya menarik Nasya agar berdiri.

Elgan mendorong Nasya sampai dirinya bersandar di mobil hitam itu. Mata yang masih sembab dan merah itu memberanikan diri menatap pria yang tak dikenalnya itu. Sedangkan, Elgan yang saat ini sama-sama terkena air hujan masih menatapnya dengan tatapan masih sama. Penuh emosi dan kekesalan yang semakin memuncak kala Nasya berani menatapnya.

“Berani menatapku? Dasar wanita kampungan tak tahu diri!” ketus Elgan menekan kedua bahu Nasya.

Nasya pun meringis. “Sakit?! Lepas! Saya gak ada niatan mengakhiri hidup. Sok tahu dan langsung menghakimi. Lepasin!” pekik Nasya berusaha melepaskan tangan Elgan.

“Oke, saya lepaskan.” Elgan tersenyum miring seraya mengibaskan kedua tangannya.

“Jijik? Memang begini lah etika orang kaya yang benar. Sok atas segalanya dan selalu memandang rendah orang lain,” sindir Nayla sedikit menjauh.

“Kenapa? Ucapan orang yang belum pernah merasakan kaya selalu begini juga. Akan tetapi, kalau sudah dihadapkan dengan uang. Mereka juga tidak akan menolak. Benar, ‘kan?” balas Elgan tak mau kalah.

Nasya terdiam seakan berpikir. “Sudahlah, aku akan tetap kalah dari segi apapun. Aku juga tidak papa, lebih baik meninggalkan pria aneh ini pergi. Aku benar-benar tidak punya lagi energi untuk melawannya,” batin Nasya yang berbalik badan hendak pergi.

Elgan tidak suka diabaikan dan tidak akan membiarkan wanita yang akan melangkahkan kakinya itu pergi begitu saja. Dalam pikirannya, dia sudah memikirkan rencana. Kali ini, Elgan tidak ingin melepaskannya. Elgan meraih tangan Nasya, membawanya untuk masuk ke dalam mobil. Baru kali ini juga, Elgan membiarkan mobilnya dimasuki orang lain, biasanya dia sangat pemilih.

“Apa yang mau anda lakukan? Ini penculiikan ya namanya. Saya mau keluar, kalau nggak saya teriak, nih. Tolo …” Nesya dibuat takut dengan tindakan Elgan yang tiba-tiba. Tangan kekar itu pun menghalangi bibir Nasya yang akan berteriak.

Elgan semakin mendekat. “Saya ada penawaran bagus,” bisik Elgan yang bikin Nasya merinding.

“Saya memang tidak kaya, tapi bukan berarti mau dipermainkan.” Nasya mendorong Elgan sekuat tenaga.

Rupanya Elgan tidak benar-benar ingin membawa Nasya. Namun, niatnya masih ingin memiliki rencana bersama Nasya. Sedangkan, Nasya sedikit lega bisa berhasil keluar dari mobil itu. Siapa sangka, Elgan malah membalikkan Nasya hingga berhadapan tepat di depannya.

Mata Nasya membelalak. Ketakutan itu kembali menghampirinya. Pinggulnya ditarik semakin dekat lagi. “Saya bisa teriak sek …” ucapannya terhenti dan rasa takut berubah menjadi keterkejutan.

Bibir Elgan mendarat sempurna tepat mengenai bibir Nasya. Meski hanya sebentar, cukup membuat Nasya terdiam lama. Rasanya semuanya terhenti, ini pertama kali untuknya. Senyuman sinis Elgan berikan karena merasa puas. Nasya pun terlepas dari Elgan.

“Rupanya baru pertama merasakannya. Baguslah,” ucap Elgan lirih tapi tetap bisa didengar Nasya.

Nasya mundur selangkah. “Anda sudah gila?” Berani-beraninya.” Nasya mengumpulkan keberanian dan mengangkat salah satu tangannya untuk memberi pembalasan pada Elgan.

Elgan menangkap tangan itu dengan mudah. “Kegilaan yang menguntungkan, bukan? Ini bagian untuk mempertimbangkan dan diingat. Penawaran ini langka, jika kamu menerima itu lebih baik.” Seraya menurunkan tangan Nasya.

“Harus begini caranya? Memang baru pertama dan yang merenggut.” Nasya memandangi Elgan dari atas sampai bawah. “Pria dewasa yang tidak seharusnya!” Tunjuk Nasya.

“Sudahlah, saya tidak suka basa-basi. Tawaran saya ini mengenai pernikahan kontrak. Banyak hal yang akan kamu dapatkan terutama tentang uang dan juga kedudukan. Saya tidak akan mengulang untuk kedua kalinya. Ini sangat menguntungkan mu, jadi jangan banyak berpikir. Hubungi saya dan hanya ada waktu satu hari untuk berpikir, jika tidak berarti kamu melewatkan kesempatan emas.” Elgan pun berlalu melewati Nasya setelah memberikan kartu namanya.

Nasya menghela napas berat. Sedangkan, mobil Elgan melewatinya begitu saja. “Begitu hinakah diriku ini?”

Memandangi sekitar yang benar adanya tidak ada satupun yang peduli padanya. Langkah kecil itu pun mulai menyusui jalanan lagi. Dengan genggaman erat pada sebuah kartu yang didapatkannya. Tidak lama, mendadak ponselnya berdering.

“Aku sampai lupa bawa HP, untungnya gak rusak,” lirih Nasya membuka tas selempangnya yang sudah lusuh, tanpa sadar dia juga memasukkan kartu nama Elgan.

“Ibu? Pasti khawatir.” Nasya mengusap ponselnya ke arah atas untuk menjawab panggilan sang ibu.

“Iya, Bu?” ucap Nasya.

“Kamu di mana, sih? Ini Revan sama Cika nungguin kamu di rumah. Gak biasanya gak ngabarin Ibu kalau pulang telat. Apa masih ada kelas mengajar lagi? Bukannya cuma satu ya malam ini?” sahut Ibu Nasya.

Nasya tertegun sejenak. “Maaf ya, Bu. Nasya lupa ngasih kabar. Sebentar lagi pulang, kok. Ini lagi di jalan. Ibu suruh mereka pulang, takutnya kelamaan. Sama Nasya mau kasih kabar baik sama Ibu dan Bapak. Nasya mau bahas pernikahan,” jawab Nasya tanpa pikir panjang.

Mengejutkan sekali bagi Mira selaku Ibu Nasya. Tidak pernah terdengar ada perencanaan untuk menikah dalam waktu dekat ini. Meski kedua orang tua Nasya tahu bahwa hubungannya dengan Revan memang sudah sangat dekat. Namun, tidak untuk waktu ini juga.

“Ada apa, Bu?” tanya Revan melihat raut wajah Ibu Nasya kaget bercampur gelisah.

“Memangnya kamu sudah siap menikah, Revan? Semuanya sudah dipikirkan matang-matang? Kita ini sama-sama masih susah, kamu juga tahu sendiri kalau cuma Nasya yang bantu Ibu cari uang,” balas Mira.

“Nikah? Sebentar, ini maksudnya gimana ya, Buk?” sahut Revan kebingungan dengan ungkapan Bu Mira.

“Ibu juga gak tau. Pokoknya kalau masih sama-sama miskin. Ibu mau kalian tunda dulu pernikahan ini.” Mira meletakkan ponselnya tanpa mau tahu lagi ucapan apa yang akan Nasya katakan, karena panggilan tersebut belum ditutup.

CTIKCD - Pilihan Terakhir

“Jelaskan sekarang, Nasya! Nikah apa yang kamu maksud? Kamu gak mikirin Raya, Ibu, terutama Bapak kamu yang gak bisa apa-apa itu. Revan itu gak akan bisa bahagiain kamu hanya modal cinta. Awalnya, Ibu mau dukung hubungan kalian. Tapi lihatlah sampai detik ini. Apa yang dipunya Revan? Kamu malah nyusahin diri sendiri dan bakalan nyusahin keluarga kita,” ujar Mira yang baru saja membukakan pintu untuk Nasya. Bahkan, Nasya belum masuk rumah sudah mendapat ungkapan-ungkapan yang tidak mengenakkan.

Nasya menghirup udara sebanyaknya lalu menghembuskan perlahan. “Buk, biarin Nasya masuk terus bersih-bersih dulu. Ibu gak kasihan sama Nasya yang udah kedinginan ini. Nanti Nasya jelaskan, ya,” balas Nasya lembut karena tidak ingin menambah permasalahan.

Mira tidak mau tahu, dia membawa Nasya untuk duduk dan berhadapan tepat di hadapannya. Helaan napas berat entah sudah berapa kali Nasya keluarkan. Kali ini, mendapat jalan keluar sungguh sulit. Menangis dan mengeluh pun tidak ada gunanya. Nasya benar-benar sudah berada di paling akhir untuk menentukan pilihannya.

“Ibu beneran gak setuju, Nasya. Ibu gak sanggup biayai Raya dan Bapak sendirian. Apalagi, kamu malah mau ninggalin Ibu. Mana sanggup Ibu menanggung semuanya. Sudah lama derita ini dan sekarang mau semakin menderita. Kayaknya ini akibat dari melawan restu orang tua dan menikah dengan Bapakmu,” tutur Mira yang tak sanggup sampai mengeluarkan air matanya.

Nasya pun mengusap buliran putih itu di pipi ibunya. “Bu, jangan keras-keras. Nanti Bapak sama Raya dengar, mereka bakalan sedih. Gak ada yang salah, Bu. Ini semua sudah takdir. Nasya yang salah. Sungguh, bukan Nasya ingin membuat Ibu menderita dan khawatir,” balas Nasya seraya memeluk ibunya.

“Bu … bukan Revan. Nasya sudah punya calon yang tentunya gak akan bikin Ibu susah lagi. Nasya janji akan tetap bantu Ibu. Pilihan Nasya kali ini gak akan mengecewakan, jadi Nasya minta restu ke Ibu dan Bapak,” lanjut Nasya menenangkan.

Hatinya sangat hancur mengatakan ungkapan tersebut. Bukan dari hatinya, tapi dari keterpaksaan untuk menjawab kegelisahan sang Ibu. Beberapa tahun setelah Bapak Nasya tidak bisa berjalan karena kecelakaan kerja. Sudah menjadi bukti betapa perjuangan ibunya bukan main untuk keluarga ini. Bahkan, Nasya sampai tidak melanjutkan kuliahnya demi membantu perekonomian keluarganya.

Semua harapan pada takdir seakan mempermainkannya. Nasya menyerah dan memilih hidup sesuai dengan keadaan. Ada kemudahan, dia akan memilihnya. Mengingat tidak ada yang bisa dipertahankan lagi.

“Siapa, Sya? Siapa pria itu? Ibu mau tau,” lirih Mira sedikit ada kelegaan karena janji Nasya.

“Tidak lama lagi, Ibu tinggal menunggu waktu. Sedikit lagi, Bu.” Nasya menepuk-nepuk pelan bahu dalam pelukannya.

***

Tidak disangka, hanya beberapa hari saja. Nasib Nasya benar-benar berubah setelah menyetujui persyaratan dan juga imbalan yang perlahan-lahan nantinya ia dapatkan. Meskipun, Nasya tidak mendapat sambutan baik dari keluarga Elgan karena tidak disetujui dari berbagai aspek. Utamanya aspek ekonomi.

Nasya sudah tidak peduli. Dia hanya mengutamakan keluarganya. Selama baik-baik saja, cukup untuknya menjalani hidup ini meski menahan sakit berkali-kali. Seperti saat ini, Nasya yang baru saja tiba di kediaman Elgan harus beradaptasi dengan beberapa pellayan yang menatapnya sinis. Bahkan, langkahnya sedikit tersendat melihat kemewahan di hadapannya.

“Malam ini beristirahat lah dengan baik. Sesuai perjanjian, saya tidak akan memerankan peran suami. Buka!” ujar Elgan yang menghentikan langkah di depan pintu besar bersama Nasya yang sudah diperintah.

Nasya hanya bisa menurut dan membuka pintu tersebut. “Tenang saja, saya juga tidak menginginkannya.” Melangkah mengikuti Elgan.

“Bagus. Di sinilah kamar yang akan kamu tempati. Terserah ingin melakukan apapun. Asal pekerjaanmu sesuai kontrak kita dilaksanakan dengan baik.” Elgan memperingatkan dan hendak beranjak pergi.

“Tunggu, berarti kita pisah kamar? Takutnya kalau ada yang lapor sama Kakek bagaimana? Hanya Kakek yang merestui hubungan kita,” ucap Nasya.

“Tidak perlu khawatir, Orang-orang yang bekerja di sini sudah pasti patuh denganku.” Senyuman miring dan satu langkah lagi yang dihentikan.

“Tu-Tunggu! Saya hanya penasaran saja. Benar hanya karena ingin balas dendam dan kebencian pada mantan anda sampai-sampai harus menikah kontrak begini? Bagaimana kalau mantan anda memang tidak mencintai anda?” tanya Nasya memberanikan diri.

Elgan menatap Nasya dengan tatapan amarah yang tertahan. “Cukup kerjakan tugasmu. Selebihnya tidak perlu tahu, paham?!” ketus Elgan yang kemudian meninggalkan Nasya terdiam memandangi kepergiannya.

Tidak perlu tahu lebih dalam, Nasya lebih memilih membersihkan dirinya. Rasanya sangat melelahkan melewati serangkaian acara pernikahan yang sangat kaku dan monoton. Hanya disaksikan oleh dua keluarga saja, tapi energinya terkuras banyak. Menghadapi keluarga Elgan yang sangat sombong juga angkuh.

Setelah membersihkan diri, Nasya menghubungi ibunya. Ada rasa khawatir karena kejadian hari ini. Setidaknya, Nasya ingin memastikan. Sekaligus mencoba kasur premium yang pernah dia dambakan dan semua suasana sekarang ini. Saatnya berbaring, tersirat senyuman singkat.

“Ibu belum tidur?” tanya Nasya.

“Belum, Sya. Ibu lagi seneng sama menantu Ibu. Tadi ada orang yang anter Ibu paket. Kirain isinya apa gitu kan. Ternyata uang, Nasya. Uang yang gak pernah Ibu pegang. Ini Ibu masih hitung jumlahnya. Semua hinaan keluarga Elgan beneran sudah terbayarkan. Ibu gak papa banget, asal terus mengalir duitnya,” jawab panjang Mira yang sedang kegirangan.

“Baguslah kalau Ibu gak kenapa-napa. Takutnya Ibu sama Bapak gak nyaman. Kalau Raya gimana, Bu?” sahut Nasya sedikit berat.

“Aduh, Ibu jadi lupa hitungannya, kan. Semuanya baik, Sya. Bapak kamu kan mana dengar ocehan mereka, aman aja tadi sama Raya. Udah kamu istirahat aja, Ibu mau lanjut ngitung dulu.” Suara Mira terakhir dengan ungkapan yang lumayan membuat Nasya kecewa.

Kekecewaan karena keadaannya pun tidak dipertanyakan. Malam pertamanya yang kesepian meski berada di ruangan besar serba ada. Memiliki pasangan yang meninggalkannya di tempat yang sangat asing karena pertama kalinya. Nasya mengusap buliran bening yang keluar dari matanya.

Saat matanya hendak terlelap. Tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Nasya yang sudah tidak kuat membuka matanya, hanya bisa melihat sekilas. Namun, kedua kalinya ponselnya berdering. Terpaksa Nasya menjawab panggilan tersebut.

“Dimana Elgan?! Kenapa tidak bisa dihubungi?” ketus suara yang dia kenal.

“Ib-Ibunya Pak Elgan? Astaga, aku harus bagaimana? Mana aku gak tahu perginya.” Nasya bangkit dari tempat tidurnya dengan kepanikan.

“Hei, wanita rendahan. Jawab!” bentak Alina yakni mertua Nasya.

“In-Ini Pak, eh— maksudnya suami Nasya lagi mandi, Bu. Katanya tadi mau istirahat habis ini. Ada ap ...,” ucap Nasya guguk bukan main terhenti karena mertuanya menghentikannya.

“Buk?! Elgan belum mengajarimu. Sangat tidak pantas sebenarnya. Elgan bodoh sekali memilih istri. Seleranya sangat rendah!” ketus Alina.

CTIKCD - Kedatangannya

Pagi pertama yang sangat mengesankan untuk Nasya. Membuka hordeng panjang dan besar, benar-benar keindahan pertama kalinya yang dapat dinikmati dari jendela lebar di hadapannya. Nasya membuka jendela tersebut, menghirup udara sebanyak-banyaknya. 

Berusaha melupakan ingatan buruk dari berbagai perjalanan hidup sebelumnya. Meskipun, sekarang pun tidak ada jaminan ada kebahagiaan. Setidaknya ada yang berubah. Namun, Nasya terkejut saat pintu kamarnya terbuka. 

“Saya hari ini ada rapat. Tidak ada waktu menunggu, cepat bersiap untuk berpura-pura menjadi istri bahagia di hadapan rekan kerja,” ucap Elgan tanpa basa-basi. 

“Mendadak sekali, saya juga sudah kerja hari ini,” jawab Nasya. 

“Apakah saya harus mendengar penolakan itu? Kakak dari mantan saya salah satu yang akan datang. Saya ingin dia tahu dan kabar pernikahan ini cepat tersebar. Ingatkan jika kita menikah hanya keluarga saja yang datang? Inilah saatnya kamu bekerja,” jelas Elgan pada maksudnya. 

Tidak bisa menolak jika perintah itu harus dilaksanakan. Nasya bergegas untuk mandi dan selanjutnya melihat pakaian yang ada di tasnya. Ingatan ucapan Elgan mengenai rekan kerja, dia pasti akan diajak ke tempat suaminya bekerja. 

Nesya mengeluarkan pakaiannya dari tas. Tidak satupun yang bisa diharapkan untuk membuat orang kagum. Nesya paham sekali bahwa tingkatannya pasti sangat berbeda. Keadaannya membuatnya berpikir. 

“Baju ku gak ada yang bagus. Gimana kalau Bapak galak itu marah? Makin gak tenang aja hidupku. Mana kerjaan hari ini harus libur lagi,” gerutu Nasya. 

Bapak galak yang dimaksud pasti Elgan. Nasya hanya bisa mengomel pada dirinya sendiri. Bahkan, pada pekerjaannya. Sebelum menjadi tutor privat untuk jenjang SD dan SMP, Nasya sudah bekerja di rumah makan sebagai kasir. Di mana pekerjaan pertama dan terlamanya karena pemiliknya yang begitu baik padanya. 

Saat dirinya bergelut dengan pikirannya sendiri. Tetiba saja terdengar ketukan pintu dan tanpa persetujuannya ada dua wanita yang masuk dengan membawa kotak berukuran sedang. Nasya berdiri penuh waspada. 

“Siapa kalian?” tanya Nasya. 

“Maaf, kami disuruh Tuan Elgan untuk memberikan pelayanan terbaik untuk Nyonya di rumah ini. Mohon bantuannya untuk menerima pelayanan kami ini,” jawaban salah satu dari wanita tersebut. 

***

Setelah melalui beberapa tahapan merias wajah, menata rambut, dan memakai pakaian baru yang tentunya sudah Elgan persiapkan dari awal. Nasya sangat terpesona dengan dirinya. Menatap penampilannya yang berbeda dari pantulan cermin. Mengagumi setiap apapun yang ada pada dirinya. Terakhir, dia mengenakan sepatu hak standar tapi cukup menyulitkannya. 

“Susah juga pake barang mahal,” batin Nasya. 

Suara langkah kaki yang tak beraturan dari atas tangga mengganggu pendengar Elgan. Dia pun menghadap ke arah sumber suara, mendadak berdiri dari tempat duduknya tanpa berkedip. Elgan tak menyangka benar-benar sangat berbeda. 

Di saat tangga terakhir, Nasya tidak sengaja tersandung dan hampir saja terjatuh. Dengan sigap Elgan yang seakan sudah bisa membaca situasi lebih dulu mendekat ke tangga perlahan. Benar saja, saat ini Nasya sedang berada di pelukan suami kontraknya tanpa sengaja. 

“Selalu saja ceroboh.” Elgan membantu Nasya berdiri dan kemudian meninggalkannya. 

“Is, gimana kalau memang susah jalan. Dasar Bapak-Bapak,” ucap Nasya seraya mengejar ketertinggalannya dari langkah Elgan. 

“Saya bisa dengar, ya. Panggil saya Sayang di depan banyak orang dan sekiranya memang perlu. Atau layaknya panggilan istri pada suami. Jangan sampai ada yang curiga,” sahut Elgan masih dengan langkahnya menuju mobil yang sudah disiapkan sopirnya. 

Nasya bergidik karena penuturan Elgan barusan. “Huekk banget, pake sayang-sayangan lagi. Aku sama Revan aja jarang banget panggilan sayang. Kalau bukan terpaksa, mana mau aku ngelakuin semua ini.” Nasya membatin seraya mengejar langkah Elgan. 

***

Setibanya di kantor tempat Elgan melakukan pekerjaannya. Benar membuat Nasya terkagum-kagum menatap pemandangan di depannya. Tidak menyangka jika saat ini sudah menjadi istri orang kaya yang disegani. 

Elgan menyenggol lengan Nasya agar menggandeng tangannya. Sudah banyak karyawan yang mulai berbincang. Dari yang dapat didengar maupun lirih membicarakan keduanya. Nasya sedikit tidak nyaman dengan berbagai tatapan yang cukup mengganggu itu. Namun, dia harus ingat bahwa dirinya sudah menandatangani kontrak dan jangan sampai mengecewakan. 

“Jangan dengar hal yang tidak ingin didengar. Cukup disampingku saja. Ikuti langkahku, tidak akan lama. Hanya sampai mereka tahu saja, setelah itu pulanglah,” ucap Elgan satu-satunya tapi masih terdengar. 

Nasya mengangguk paham. Hanya perlu mengikuti ucapan Elgan saja. Namun, ketika duanya hendak memasuki pintu utama, suara-suara bisikan yang mengganggu mulai menghentikan mereka. Suara mobil yang baru saja berhenti dan dua orang yang keluar dari mobil tersebut menjadi pemecah perhatian. 

Elgan tanpa sadar membalikkan badan ke belakang saat para karyawan menyebut nama mantannya. Saat itu juga, mata penuh amarah dan kekecewaan itu kembali dia perlihatkan. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang seharusnya ia luapkan. 

“Bukankah itu Reina? Yang baru nikah itu, ‘kan? Kok bisa ya putus sama Pak Elgan dan anehnya Pak Elgan langsung dapat penggantinya. Keren, sih,” ucap salah satu karyawannya lirih. 

“Eh, jangan gitu. Lihat-lihat, tatapan Pak Elgan ke Reina. Kayaknya yang aneh itu pernikahannya Pak Elgan. Tiba-tiba banget terus itu istrinya gak pernah liat juga. Dari tampangnya si mending Reina sih, mana artis lagi,” sahut karyawannya yang lain. 

Tatapan keduanya bertemu. Suasana yang cukup membingungkan bagi Nasya. Sampai dia menyadari sesuatu bahwa tangannya sudah digenggam erat oleh Elgan. Nasya sampai menahan cengkeraman di jemarinya yang mulai tak nyaman. Bahkan, karyawan yang menyuarakan kalimat tak mengenakkan itu pun terdengar di telinganya. Rasanya menyesakkan. 

Reina sengaja mendekat, memberikan senyuman yang sempat menjadi favorit Elgan. “Apa kabar, Mantan? Ini yang di samping masa depan? Gak ngabarin kalau udah punya gandengan baru?” ucap Reina, matanya tak lepas memandangi Nasya. 

Dengan tersenyum singkat. “Ternyata aku tidak perlu susah payah agar orang lain mengajarkannya padamu. Kamu sudah tahu sendiri, kan? Ini istriku, Nasya. Iya, benar sekali. Masa depanku, karena masa lalu sudah tidak pantas mendapatkan tempat apapun,” balas Elgan.

Nasya ikut mengembangkan senyumnya. Melepaskan sejenak tangan Elgan. “Kenalin aku, Nasya. Aku sudah banyak dengar tentang mantannya em … Mas Elgan. Ternyata memang cantik, gak salah kabar yang beredar. Soalnya jarang liat sosial media maupun TV, jadi gak tau artis-artis yang terkenal atau nggak,” ujar Nasya yang begitu berani. 

“Oh, baguslah.” Reina mendekat dan sedikit menjinjit mendekati Elgan. “Tapi, kayaknya kamu salah pilih, deh. Dia gak ada apa-apanya dibandingin sama aku,” bisiknya. 

Nasya lagi-lagi memberanikan dirinya sedikit mendorong Reina untuk menjauh. “Kayaknya gak pantas deh kalau mantan dekat-dekat begini. Tuh, diliatin banyak orang. Takutnya citra artis malah jadi jelek karena deketin suami orang, MBAK. Suaminya nanti cemburu, loh,” tutur Nasya lembut, tapi cukup menjadi kalimat sindiran untuk Reina. 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!