"Lea, jangan tegang terus. Nanti riasannya rusak."
Suara Lani, penata rias langganan keluarga, membuat Alea tersenyum tipis. Ia menatap bayangannya di cermin besar yang memenuhi hampir seluruh dinding ruang rias.
Gaun putih yang dikenakannya menjuntai indah hingga menyapu lantai. Veil tipis menghiasi rambutnya yang disanggul sederhana. Sejak kecil, ia selalu membayangkan hari ini akan menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya.
Sayangnya...
Sudah hampir empat puluh menit waktu akad berlalu.
Arga belum juga datang.
Alea melirik jam tangan mungil di pergelangan tangannya untuk kesekian kali.
"Mungkin macet," gumamnya, lebih seperti sedang menenangkan diri sendiri.
Lani mengangguk cepat.
"Iya, daerah sini memang sering macet kalau akhir pekan."
Namun entah mengapa, hati Alea justru semakin gelisah.
Ia mengambil ponselnya dari atas meja.
Panggilan pertama.
Tidak diangkat.
Panggilan kedua.
Masih sama.
Panggilan ketiga.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."
Kalimat itu membuat dada Alea sesak.
"Aneh..."
Padahal semalam Arga masih mengirim pesan.
> Besok kita mulai hidup baru, ya. Aku janji bakal bikin kamu bahagia.
Pesan itu masih tersimpan.
Masih bisa dibaca.
Tapi orang yang menulisnya seperti lenyap ditelan bumi.
Tiba-tiba pintu ruang rias terbuka.
Seorang panitia masuk dengan wajah pucat.
"Mbak Alea..."
"Iya?"
"Pengantin pria... belum sampai."
Alea tersenyum canggung.
"Iya, saya tahu."
"Bukan itu..."
Panitia itu menelan ludah.
"Supir yang menjemput ke rumahnya bilang... rumahnya kosong."
Jantung Alea seakan berhenti berdetak.
"Kosong?"
"Iya."
"Katanya sejak subuh sudah tidak ada siapa-siapa."
Ruangan mendadak sunyi.
Lani saling berpandangan dengan para asisten rias.
Tak ada yang berani bicara.
"Enggak mungkin."
Alea menggeleng pelan.
"Arga bukan orang seperti itu."
Kalimat itu bahkan terdengar tidak meyakinkan di telinganya sendiri.
Ia langsung berdiri.
Gaun pengantin yang berat membuat langkahnya tidak nyaman.
"Aku mau cari dia."
Baru dua langkah berjalan, pintu kembali terbuka.
Ibunya masuk.
Wajah wanita itu pucat.
Maskara di matanya luntur karena air mata.
"Ma..."
Sang ibu langsung memeluk Alea.
Pelukan itu begitu erat sampai Alea bisa merasakan tubuh ibunya bergetar.
"Ma, ada apa?"
Tak ada jawaban.
Hanya tangisan.
Perlahan sang ibu menyodorkan sebuah ponsel.
"Arga mengirim ini."
Tangan Alea gemetar saat menerima ponsel itu.
Sebuah pesan singkat memenuhi layar.
> Maaf, Alea. Aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Pernikahan ini hanya bagian dari rencanaku. Jangan mencariku.
Di bawah pesan itu terdapat sebuah foto.
Arga sedang merangkul seorang perempuan di ruang tunggu bandara.
Perempuan itu tersenyum lebar ke arah kamera.
Nadira.
Sahabat yang dikenalnya sejak duduk di bangku SMA.
Bibir Alea bergetar.
"Enggak..."
Matanya terus menatap foto itu, berharap yang dilihatnya hanyalah hasil editan.
Namun tidak.
Kalung yang dikenakan Nadira adalah hadiah ulang tahun darinya dua bulan lalu.
Tidak mungkin salah orang.
Ponsel itu terlepas dari genggamannya.
Brak.
Layar ponsel membentur lantai.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh tanpa bisa dihentikan.
"Bohong..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Bohong..."
Selama tiga tahun ia mempercayai Arga.
Selama tiga tahun ia menganggap Nadira sebagai saudara sendiri.
Dan hari ini...
Keduanya menghancurkan hidupnya dalam waktu yang bersamaan.
Belum sempat ia mengumpulkan pikirannya, terdengar suara gaduh dari luar ruangan.
Langkah kaki berlari.
Teriakan.
Pintu kembali terbuka.
Ayahnya masuk dengan napas memburu.
Dasi yang biasanya rapi kini terlepas begitu saja.
"Pak..." ujar sang ibu panik.
Pram menatap putrinya dengan mata merah.
"Kita dalam masalah."
"Apa lagi, Yah?"
Pram mengusap wajahnya kasar.
"Arga membawa kabur uang perusahaan."
Alea membeku.
"Jumlahnya... hampir seratus miliar."
Dunia terasa berhenti.
Ia bukan hanya kehilangan calon suami.
Bukan hanya kehilangan sahabat.
Tetapi keluarganya juga berada di ambang kehancuran.
Dari luar ballroom mulai terdengar bisik-bisik para tamu.
"Katanya pengantinnya kabur."
"Kasihan banget..."
"Memalukan."
"Apa jangan-jangan keluarganya bangkrut?"
Setiap bisikan terdengar semakin jelas.
Menusuk harga diri Alea.
Air matanya belum sempat berhenti ketika seseorang mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Seorang pria bertubuh tinggi memasuki ruangan dengan langkah tenang.
Jas hitam yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi sangat pas di tubuhnya.
Tatapannya tajam.
Sulit ditebak.
"Aku minta maaf datang di waktu seperti ini."
Tak ada yang mengenalnya.
Ayah Alea mengernyit.
"Siapa Anda?"
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama.
"Nama saya Raka Arvin."
"Saya datang... untuk menyelamatkan pernikahan ini."
Semua orang saling berpandangan.
"Apa maksud Anda?" tanya Pram.
Raka menatap Alea beberapa detik.
Tatapannya aneh.
Seolah ia sudah mengenalnya jauh sebelum hari ini.
Lalu, dengan suara tenang, ia berkata,
"Kalau Nona Alea bersedia..."
"Saya akan menggantikan pengantin pria."
Ruangan mendadak sunyi.
Tak seorang pun menyangka, di tengah hari yang paling menghancurkan dalam hidup Alea, justru muncul seorang pria asing yang menawarkan sesuatu yang lebih mengejutkan daripada pengkhianatan itu sendiri.
**Bersambung...**
“Apa maksud Anda... menggantikan pengantin pria?"
Suara Ayah Alea terdengar berat. Tatapannya tak lepas dari pria asing yang berdiri dengan tenang di tengah ruang rias.
Raka tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Alea beberapa saat, seolah sedang memastikan sesuatu.
"Aku serius."
Dua kata itu terdengar mantap.
Ruangan kembali sunyi.
Alea mengusap air mata yang masih membasahi pipinya. Hari ini hidupnya sudah jungkir balik. Rasanya sulit percaya ada orang asing yang tiba-tiba menawarkan diri menikahinya.
"Maaf," ucap Alea pelan. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Raka menggeleng.
"Belum."
"Lalu kenapa Anda mau melakukan ini?"
"Kalian sedang membutuhkan jalan keluar."
"Itu bukan jawaban."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Raka terangkat membentuk senyum tipis.
"Aku memang tidak berniat menjawab semuanya hari ini."
Jawaban itu justru membuat Alea semakin curiga.
Ayahnya melangkah mendekat.
"Tuan Raka, saya menghargai niat baik Anda. Tapi menikah bukan perkara sederhana. Saya bahkan tidak tahu siapa Anda."
"Ayah benar." Alea mengangguk. "Aku tidak mungkin menikah dengan orang yang baru kutemui."
Raka mengeluarkan dompet kulit dari saku jasnya. Ia menyerahkan kartu identitas, kartu advokat, dan beberapa dokumen lain.
"Silakan diperiksa."
Ayah Alea membaca satu per satu dengan saksama.
"Raka Arvin..."
"Konsultan hukum."
Semua data terlihat asli.
Tidak ada yang janggal.
Namun justru itulah yang membuat keadaan terasa semakin aneh.
"Apa keuntungan yang Anda dapat?" tanya Ayah Alea.
"Karena tidak ada orang yang membantu tanpa alasan."
Raka terdiam beberapa detik.
"Aku memang punya alasan."
"Apa itu?"
"Aku membutuhkan seorang istri."
Jawaban singkat itu membuat semua orang saling berpandangan.
"Maksud Anda?" tanya Alea.
"Pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun."
"Aku tidak akan mencampuri kehidupanmu."
"Aku tidak akan menuntut apa pun setelah kontrak berakhir."
"Kau tetap bebas bekerja, bebas menentukan hidupmu."
"Aku hanya meminta satu hal."
"Apa?"
"Selama satu tahun, jalankan peranmu sebagai istriku di depan semua orang."
Alea menatap pria itu tanpa berkedip.
Permintaan itu terdengar sederhana.
Terlalu sederhana.
"Kenapa harus aku?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Raka menarik napas pelan.
"Karena hanya kamu yang bisa membantuku."
Jawaban itu menggantung.
Tak ada penjelasan lain.
Belum sempat suasana berubah, suara gaduh kembali terdengar dari luar ballroom.
"Pak Pram!"
Seorang staf hotel berlari menghampiri.
"Wartawan sudah ada di lobi. Mereka mulai bertanya kenapa akad belum dimulai."
Wajah Ayah Alea memucat.
Ia menoleh ke arah jam dinding.
Sudah lewat hampir satu jam dari jadwal.
Tak mungkin lagi menunda.
Jika pesta dibatalkan, bukan hanya nama keluarga mereka yang hancur.
Para klien perusahaan juga akan kehilangan kepercayaan.
Di tengah kebimbangan itu, Alea memandang gaun putih yang dikenakannya.
Gaun ini dipilih bersama ibunya enam bulan lalu.
Ia masih ingat bagaimana mereka tertawa saat mencoba berbagai model.
Ibunya berkata,
*"Suatu hari nanti, Ayah pasti bakal nangis lihat kamu jadi pengantin."*
Benar saja.
Hari ini ayahnya memang hampir menangis.
Bedanya...
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena merasa gagal melindungi putrinya.
Hati Alea terasa diremas.
Ia menoleh kepada kedua orang tuanya.
"Kalau aku menolak..."
"Semua ini akan semakin buruk, ya?"
Tak ada yang menjawab.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Alea menatap Raka.
"Aku punya syarat."
Raka mengangguk.
"Katakan."
"Jangan pernah membohongiku."
Kalimat itu meluncur tanpa berpikir.
Setelah dikhianati Arga dan Nadira, satu hal yang paling ia benci adalah kebohongan.
Raka menatapnya cukup lama.
Ada sesuatu yang berkelebat di matanya.
Rasa bersalah.
Hanya sesaat.
Lalu ia kembali memasang wajah datar.
"Aku akan berusaha."
Berusaha.
Bukan berjanji.
Entah mengapa, jawaban itu membuat hati Alea sedikit tidak nyaman.
Namun waktu mereka sudah habis.
Alea mengambil pena yang disodorkan Raka.
Tangannya gemetar saat menandatangani kontrak itu.
Begitu tinta terakhir mengering, ponsel di saku jas Raka bergetar pelan.
Ia melirik layar sekilas.
**Nomor Tak Dikenal**
> **Target sudah menjadi istrimu. Jangan lupa tujuanmu. Jangan sampai perasaan mengacaukan semuanya.**
Rahang Raka mengeras.
Tanpa membalas pesan itu, ia langsung mengunci layar.
"Ada masalah?" tanya Alea.
Raka memasukkan ponselnya kembali.
"Tidak."
Ia berbohong.
Dan itu adalah kebohongan pertama yang baru saja ia lakukan kepada istrinya.
Beberapa menit kemudian, pintu ballroom perlahan dibuka.
Musik pernikahan mulai mengalun.
Ratusan tamu berdiri menyambut kedua mempelai.
Tak seorang pun tahu bahwa pengantin pria yang berjalan di samping Alea bukanlah pria yang ia cintai.
Dan tak seorang pun tahu...
bahwa pernikahan yang baru saja dimulai itu adalah awal dari rahasia terbesar yang akan menghancurkan banyak kehidupan.
Sementara di sudut ballroom, seorang pria berkacamata hitam menatap mereka dari kejauhan.
Ia mengangkat ponselnya, mengambil satu foto, lalu mengirimkannya kepada seseorang.
> **"Mereka resmi menikah."**
Balasan datang hanya beberapa detik kemudian.
> **"Bagus. Sekarang permainan kita dimulai."**
**Bersambung...**
Tepuk tangan memenuhi ballroom begitu penghulu menyatakan mereka sah sebagai suami istri.
"Sah."
Satu kata itu terdengar begitu jelas di telinga Alea.
Namun anehnya, ia tidak merasakan kebahagiaan sedikit pun.
Tangannya masih berada dalam genggaman Raka. Hangat. Kokoh. Berbeda dengan pikirannya yang kacau sejak pagi.
Beberapa tamu mulai mendekat memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya, Pak Raka, Bu Alea."
"Semoga langgeng."
"Serasi sekali."
Alea hanya membalas dengan senyum tipis.
Kalau saja mereka tahu...
Pria yang berdiri di sampingnya bahkan baru dikenalnya kurang dari dua jam.
---
Acara resepsi tetap berlangsung.
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Musik mengalun pelan, para tamu bercengkerama seolah tak pernah terjadi kekacauan sebelum akad.
Sesekali Alea menangkap beberapa pasang mata yang memandangnya penuh rasa ingin tahu.
Mereka pasti mendengar kabar tentang Arga.
Hanya saja tidak ada yang cukup berani bertanya langsung.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Suara Raka memecah lamunannya.
Alea menoleh.
Pria itu berdiri di sampingnya sambil membawa segelas air putih.
"Boleh?"
Alea menerimanya.
"Terima kasih."
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Keheningan itu justru terasa lebih nyaman daripada basa-basi.
"Kamu tidak suka keramaian?" tanya Raka.
Alea menggeleng pelan.
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku sedang berusaha menerima kenyataan kalau pagi tadi aku hampir menikah dengan orang lain."
Raka tidak langsung menjawab.
Ia memahami bahwa luka seperti itu tidak mungkin sembuh hanya dalam hitungan jam.
"Aku tidak akan memaksamu menerima pernikahan ini."
Kalimat itu membuat Alea menatapnya.
"Kita tetap menjalankan kontrak."
"Tapi di luar itu... kamu bebas menentukan batas."
Alea mengembuskan napas panjang.
Setidaknya pria ini masih menghargai perasaannya.
"Terima kasih."
---
Di sisi lain ballroom...
Seorang pria berkemeja abu-abu berdiri di dekat meja prasmanan.
Tatapannya tidak pernah lepas dari Alea.
Ia mengambil ponsel.
"Bos."
"Ya?"
"Mereka benar-benar menikah."
Suara di seberang terdengar dingin.
"Terus awasi."
"Jangan sampai Raka mengetahui kita lebih dulu."
Telepon terputus.
Pria itu tersenyum tipis sebelum menghilang di antara kerumunan tamu.
---
Sore harinya...
Resepsi akhirnya selesai.
Alea duduk lemas di dalam mobil hitam yang disediakan hotel.
Ia baru menyadari betapa lelahnya hari itu.
Gaun pengantin yang sejak pagi terasa ringan kini mendadak seperti beban puluhan kilogram.
Raka duduk di kursi sebelah.
Tidak banyak bicara.
Mobil melaju meninggalkan hotel.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, hanya ada mereka berdua.
"Ke mana kita?" tanya Alea pelan.
"Ke rumah."
"Rumahku?"
"Bukan."
Jawaban singkat itu membuat Alea mengernyit.
"Rumah kita."
Dua kata itu terasa asing.
Rumah.
Mereka bahkan belum saling mengenal.
Namun kini mereka akan tinggal di bawah atap yang sama.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elite yang tenang.
Pepohonan rindang berjajar di sepanjang jalan.
Rumah-rumah di sana berdiri megah dengan halaman luas.
Alea menoleh ke arah Raka.
"Kamu bilang kamu cuma konsultan hukum."
"Iya."
"Kalau begitu..."
Ia melihat rumah tiga lantai bergaya modern yang baru saja mereka masuki.
"...kenapa rumahmu sebesar ini?"
Raka tersenyum tipis.
"Hasil kerja keras."
Jawaban yang terlalu sederhana.
Mobil berhenti.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam rapi sudah berdiri di depan pintu.
Begitu melihat Raka turun, pria itu langsung membungkukkan badan.
"Selamat datang, Tuan."
Alea spontan menoleh.
"Tuan?"
Raka langsung memberikan tatapan singkat kepada pria itu.
Tatapan yang sulit diartikan.
Pria paruh baya itu seolah sadar telah melakukan kesalahan.
Ia segera memperbaiki ucapannya.
"Maaf... maksud saya, Pak Raka."
Alea semakin bingung.
Ia memang belum mengenal suaminya.
Tetapi instingnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan.
Dan firasat itu semakin kuat ketika memasuki rumah.
Di ruang kerja, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang diletakkan menghadap ke bawah.
Karena penasaran, ia membaliknya.
Napasnya langsung tertahan.
Foto itu memperlihatkan seorang remaja laki-laki yang tersenyum di samping seorang gadis berseragam SMA.
Gadis itu...
adalah Alea.
Padahal ia sama sekali tidak ingat pernah berfoto dengan Raka.
"Sedang apa kamu?"
Suara Raka terdengar dari belakang.
Alea menoleh perlahan sambil menggenggam bingkai foto itu.
Wajahnya pucat.
"Raka..."
"Kenapa ada fotoku di rumahmu?"
Raka membeku.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresi tenang di wajahnya benar-benar menghilang.
**Bersambung...**
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!