"Astaghfirullah! Gusti Allah nyuwun ngapuro! (Ya Allah, mohon ampun.)" Ucap Arsha saat melihat dua cucu laki - lakinya yang penuh dengan lumpur sambil mendorong mini motor cross.
Dua bocah laki - laki berusia empat dan tiga tahun itu, tampak cengar - cengir saat melihat Kung - Kungnya berdiri sambil berkacak pinggang.
Bahuraska Adiwangsa (Aka) adalah putra kandung dari Arjuna yang berusia empat tahun. Sementara, Bimantara Aswangga (Bima) adalah anak dari saudara sepupu Arjuna, yang sejak bayi sudah di asuh oleh Arjuna dan istrinya, Meshwa.
"Kok Kung - Kung di sini?" Tanya Aka sambil cengar - cengir.
"Iya, Kung - Kung abis nyusul Nty Ncim sekolah." Jawab Arsha.
"Kalian berdua dari mana panas ngetang - ngetang (Panas sekali) gini? Mbun nyariin dari tadi." Ujar Arsha.
"Main motor di pematang sawah." Jawab Bima.
"Sawah mana?" Tanya Arsha.
"Sawahnya Opa, Kung." Jawab Aka.
"Kok geluprut lendut ngeneki? (Kok penuh lumpur kayak gitu?)" Tanya Arsha.
"Tadi kecemplung sawah waktu ngajarin dek Bima, Kung." Jawab Aka.
"Kowe ki yo aneh kok, Mas! Ngajari ki neng lapangan opo neng latar omah kono! Lah ngajari kok neng galengan sawah. (Kamu ini ya aneh kok, Mas! mengajari itu di lapangan apa di halaman rumah sana! Lah ngajari kok di pematang sawah.)" Omel Arsha yang membuat Aka cengar - cengir.
"Udah gek mandi sana." Kata Arsha kemudian.
"Mandi di rumah Kung - Kung, ya. Nanti kalo ketauan Mbun, di marahin." Kata Aka.
"Yaudah, langsung ke kamar mandi samping. Nanti Nty Ncim ngomel kalo lantainya kotor." Kata Arsha.
Aka dan Bima pun masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang langsung masuk ke dapur dan kamar mandi yang ada di dekat dapur. Sementara Arsha langsung mencuci motor milik cucunya.
"Astaghfirullah ya Allah!" Seru Meshwa saat melihat dua putranya yang mengendap - endap masuk melalui pintu samping.
Saat itu, Meshwa bersama Raina dan Shima memang sedang berada di dapur. Shima sedang makan, sementara Meshwa dan Raina sedang asyik mengobrol.
"Ya Allah, Mamas, Adek! Kenapa malah kayak telur asin gitu?" Tanya Meshwa sambil menghampiri dua putranya yang mematung di depan pintu.
"Ya Allah, telur asin." Kata Shima yang tertawa sambil menunjukkan telur asin di hadapannya.
"Kalian berdua dari mana sih, Nang, Le?" Tanya Raina.
"Main motor, Mbun. Kan tadi udah bilang mau main motor." Jawab Aka.
"Romo... Romo... Lihat ini anakmu." Panggil Meshwa pada Arjuna yang ada di rumah orang tuanya juga.
"Pripun to, Mbun? (Gimana to, Mbun?)" Tanya Arjuna sambil berjalan menuju ke dapur.
"Gusti Allah ingkang Ageng! (Allah yang maha besar!)" Ujar Arjuna saat melihat dua putranya yang hanya terlihat mata dan gigi putihnya.
"Kok yo dadi koyok kebo ngono kuwi to? (Kok ya jadi kayak kerbau gitu to?)" Omel Arjuna yang membuat Shima tertawa terbahak - bahak.
"Lho! Romo sama Mbun kok di sini?" Tanya Aka.
"Romo sama Mbun abis anter Uti belanja." Jawab Raina.
"Kok belanja rame - rame? Memang Uti belanja banyak?" Tanya Bima.
"Uti mau bikin acara di rumah?" Aka itu bertanya.
"Udah, gak usah mengalihkan pembicaraan. Cepetan mandi yang bersih. Ambumu wes saingan karo kebo kuwi! (Baumu udah saingan sama kerbau itu!)" Ujar Arjuna yang membuat dua putranya langsung berlari ke kamar mandi.
"Bajunya di basahin sekalian Mas, Dek! Biar gak susah nyucinya." Kata Raina sambil terkekeh.
"Njaluk di gantung kuwi motore. (Minta di gantung itu motornya.)" Omel Arjuna.
"Mas Juna yang beliin. Sekarang kok malah ngomel - ngomelin anaknya." Kata Shima.
"Ya maksudnya biar main di halaman aja lho, Cim. Kok malah keluyuran turut sawah (ke sawah)." Jawab Arjuna.
"Beliin mobil aja makanya, Mas." Kata Shima.
"Gak mau! Itu lihat mobil kecilmu. Mobil bagus - bagus, malah di otak - atik. Kan akhirnya bisa bongkar, gak bisa masangnya lagi." Jawab Arjuna.
"Harusnya ngomongnya gitu sambil ngaca lho, Jun. Kamu dulu kecilnya ya gitu." Celetuk Arsha yang membuat para wanita terkekeh.
"Tapi kan aku sama Dipta dulu kreatif, bikin mainan sendiri, bikin mobil - mobilan sendiri." Kata Arjuna yang membela diri.
"Nanti kalo udah waktunya lak ya bisa bikin mainan sendiri." Sahut Arsha.
"Udah to, Mas. Namanya cucu tuh pasti menang di mata Kung - Kung sama Utinya." Kata Shima.
"Emang bener kok, Cim." Sahut Arjuna yang kali ini satu suara dengan Shima.
...****************...
"Siang - siang gini, enaknya ngapain ya Nty?" Tanya Aka pada Shima. Mereka berempat bersama Ara, sedang duduk di teras rumah setelah bosan mewarnai gambar yang di buat Shima.
"Gak tau, bingung mau ngapain." Jawab Shima.
"Main ingkling aja yuk?" Ajak Ara.
"Mau main ingkling!" Seru Bima sambil mengangkat tangannya.
Mereka pun kemudian menggambar petak - petak persegi yang tersusun rapi untuk bermain ingkling.
Permainan mereka terlihat sangat seru siang itu. Tawa dan canda terdengar riuh di halaman rumah Abimanyu yang terasa sangat teduh itu.
Setelah lelah bermain, mereka kembali duduk di teras rumah Abimanyu yang sepi.
"Yuyut... Yuyuut..." Panggil Aka dengan wajah sedih.
Belum genap empat puluh hari kepergian Abimanyu yang menyusul sang istri tepat di hari ke empat puluh meninggalnya sang istri.
Duka pun masih terasa, terutama pada keempat anak kecil yang memang banyak menghabiskan waktu dengan Abimanyu dan Arunika.
"Bima kangen Yuyut...." Kata Si paling kecil. Bocah kecil itu kemudian terisak.
"Udah - udah jangan nangis, Bim." Ujar Shima sambil mengusap air mata keponakannya.
"Kata Ibu, kalau rindu Yang Kung dan Yang Ti, kita berdoa aja biar Yang Kung dan Yang Ti senang." Imbuh Shima sambil mengusap sayang kepala Bima.
Sejenak, suasana menjadi hening. Mereka tampak sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Merasakan rindu yang teramat sangat berat pada sosok yang tak akan bisa mereka peluk lagi.
"Makan dondong, enak tuh." Celetuk Shima saat melihat buah kedondong yang pohonnya besar di halaman belakang rumah Abimanyu.
"Tapi gak bisa ambilnya. Aku takut di marahin Mbun lagi." Kata Aka yang memang belum lama terjatuh saat memanjat pohon kedondong itu.
"Jatuhin aja buahnya, Ka. Nanti kita kumpulin terus minta buatin bumbu rujak sama Bulik Awa." Usul Ara yang di jawab anggukan setuju oleh Aka.
Mereka kemudian berjalan menuju ke belakang rumah. Shima,Ara dan Bima berlindung di dekat dinding,sementara Aka berdiri di dekat pohon.
Aka pun mulai melakukan persiapan. Ia memejamkan mata sambil bersidekap dada. Mulutnya berkomat - kamit melafalkan bacaan, setelah itu, tangannya mulai bergerak ke belakang lalu kedepan seperti sedang membuang sesuatu.
Tak lama, angin yang sangat kencang berhembus menerpa pohon kedondong lebat itu, hingga menjatuhkan banyak buah, daun dan juga ranting yang rapuh.
Setelah angin berhenti, mereka segera memunguti kedondong yang berjatuhan itu dengan riang. Mereka meletakkan kedondong yang mereka temukan di dalam keranjang yang tergeletak di belakang rumah.
"Waah! Mamas hebat! dondongnya banyaaak!" Puji Bima dengan riang.
"Bima mau yang mateng? Ini manis." Kata Aka yang kemudian meretakkan kedondong dengan tangannya. Tangan bocah kecil itu sangatlah kuat, hingga bisa meretakkan buah kedondong yang keras.
"Aku mau, Ka!" Pinta Ara. Aka kemudian menghancurkan tiga buah kedondong lain untuknya, Shima dan Ara.
Setelah menikmati kedondong masak, mereka kembali melanjutkan mengumpulkan buah kedondong yang masih berserakan.
"Aaaaaa AKA! Buahnya aja yang di jatuhin, kenapa ularnya juga ikutan jatuh!" Teriak Shima saat melihat seekor ular melilit batang kedondong yang jatuh.
"Assalamualaikum, Mas." Sapa Nala yang melakukan panggilan vidio pada Arjuna malam itu.
"Waalaikumsalam, Nduk." Jawab Arjuna.
"Mama..." Terdengar suara Bima yang langsung naik ke pangkuan Arjuna.
"Maa Syaa Allah, Sayangnya Mama." Ujar Nala sambil melihat putranya di pangkuan Arjuna.
"Kak Bagas sama Mbak Bibil mana?" Tanya Bima.
"Ini ada." Jawab Nala sambil menyorot ke arah Bagaskara dan Bilva yang sedang bermain.
"Adek! Dek Bima!" Seru Bagas dan Bilva sambil melambaikan tangannya.
"Pak Ade... Pak Ade kapan main kesini? Udah lama Pak Ade gak main ke rumah Bibil." Kata Bilva.
"Nanti ya, Cah Ayu. In Syaa Allah setelah empat puluh harian Yuyut nanti." Jawab Arjuna.
"Dek Bima sama Mamas Aka, ikut juga, ya?" Tanya Bagas.
"Mamas sama Adek belum bisa ikut, karena Pakde ada jadwal penting di Perusahaan. Sabar, ya, nanti kalau longgar, Pakde ajak Mamas sama Adek ke Kota." Jawab Arjuna dengan lembut. Meski terlihat kecewa, namun Bagas dan Bibil tetap mengangguk patuh.
"Mamas Aka mana?" Tanya Nala.
"Lagi di hukum Mbun. Gara - gara panen kedondong sore tadi." Jawab Bima sambil berbisik.
"Kenapa kok Mamas di hukum, adek enggak?" Tanya Nala dengan tatapan menyelidik.
"Kata Mamas, Adek suruh sama Romo aja. Nanti tangan adek berdarah kalau bantuin Mamas kupas kedondong." Jawab Bima.
"Aduduh, so sweet banget Mamas sama kesayangannya." Ujar Nala sambil terkekeh.
Hal itu lah yang selalu Nala syukuri. Bima tinggal di sana dengan penuh limpahan kasih sayang. Ia terlihat sangat bahagia dan selalu ceria meskipun jauh dari keluarga kandungnya.
Bahkan, saat Nala dan Mifta mengajak Bima untuk menginap di Kota selama beberapa hari, Bima selalu menolak. Ia lebih suka tinggal di Desa Banyu Alas.
"Kenapa kok bisa di hukum, Mas?" Tanya Nala pada Arjuna.
"Wong manen dondong kok daun sama rantingnya di panen juga." Kata Arjuna. Nala yang mengerti dengan maksud Arjuna pun tertawa terbahak - bahak.
"Banyak dong, panenannya?" Tanya Nala di sela tawanya.
"Buanget! Itu mau di bikin manisan sama Mbakmu." Jawab Arjuna.
"Mamas yang kupas kedondong, Mbun yang bikin bumbunya." Timpal Bima.
"Bima tinggal makan aja, gak bantuin Mbun sama Mamas." Sahut Nala yang membuat Arjuna tertawa.
"Bima bantuin kok, nanti Bima yang buangin sampah kulit kedondongnya kalau belum di buang sama Mamas." Jawab Bima yang kembali membuat Nala dan Arjuna tertawa.
"Halah! Pasti udah beres di kerjain sama Mamasmu semua, Le." Ujar Nala.
"Dek Bima... Dek Bima... Nanti Kak Bagas mau manisannya, ya." Kata Bagas.
"Nanti Bima bilang sama Mbun, biar Kak Bagas di bagi juga manisannya. Karena mau di bagi sama Nty Ncim sama Mbak Ara juga. Kan tadi ambilnya sama Mbak Ara dan Nty Ncim juga." Cerocos Bima.
"Tapi gimana kita ambilnya? Kan jauh." Tanya Bibil.
"Gampang, ada Mamas Aka. Nanti di uncal (lempar) sama Mamas, pasti bisa sampe ke sana." Ujar Bima dengan percaya diri hingga kembali membuat Nala dan Arjuna tertawa.
"Papa kemana, Ma? Kok gak ada?" Tanya Bima.
"Papa masih di Perusahaan karena harus lembur sama Pakde Dipta." Jawab Nala.
"Ah! Pakde Dipta ini, selalu ajakan Papa lembur." Kata Bima.
"Romo mu tuh, yang bikin Papa sama Pakde Dipta lembur." Kekeh Nala.
"Enggak lah! Gak mungkin Romo yang suruh, orang Romo aja di rumah." Kata Bima yang membela Arjuna.
"Iya ya, Le. Romo aja di rumah kok, ya." Kekeh Arjuna yang kemudian menciumi Bima.
"Si paling gak terima kalau Romonya di salahin." Kata Nala sambil geleng - geleng kepala.
"Romoku gak pernah salah kok." Kata Bima.
"Romo apa, Le?" Tanya Arjuna.
"Romo selalu benar." Jawab Bima yang kembali membuat mereka tertawa.
"Siapa yang selalu benar?" Tanya Meshwa yang turut bergabung bersama Aka.
"Romo yang selalu benar. Kalau Mbun Maha Benar! Lebih hebat dari Romo." Kata Bima yang membuat mereka kembali tertawa.
"Kamu kok ada aja sih, bahasanya, Bim! Siapa yang ngajarin?" Tanya Nala.
"Siapa lagi kalo bukan Opa Aksa! Opaku, guruku, panutanku." Jawab Bima.
"Memang bener - bener ya, Opamu. Njaluk di sentil lambene (Minta di sentil bibirnya)." Kata Nala.
"Sentil aja itu bibirnya Opa, Mas Aka. Kalau Opa ngajarin yang aneh - aneh." Ujar Nala pada Aka yang hanya bisa terkekeh.
"Jangan, Mama! Nanti gigi Opa ikut hilang kalau Mamas yang nyentil." Ujar Bima yang kembali membuat mereka terbahak - bahak.
...****************...
"Mbuun... Mbuuunn..." Panggil Bima yang baru bangun tidur pagi itu.
"Dalem, Le..." Jawab Meshwa.
Ia menyambut Bima yang menghampirinya di dapur. Selalu seperti itu, Bima akan selalu mencari Meshwa dan memeluk Mbunnya setiap bangun tidur.
"Hmmm! Acem banget anak Mbun." Komentar Meshwa setelah menciumi Bima yang berada di pangkuannya.
"Mamas sama Romo gak sholat subuh di Masjid, Mbun?" Tanya Bima.
"Sholat di Masjid, kok." Jawab Meshwa.
"Kok Adek gak di bangunin?" Tanya Bima.
"Adek udah di bangunin, tapi adek gak mau bangun." Kekeh Meshwa sambil menarik hidung mancung Bima.
"Adek mimpi apa sih? Kok susah banget di bangunin?" Tanya Meshwa kemudian.
"Adek mimpi main sama Yuyut Kung sama Yuyut Ti, Mbun." Kata Bima dengan suara bergetar. Netranya pun terlihat mulai berembun.
"Adek kangen main sama Yuyut." Lirih Bima yang kemudian menangis di pelukan Meshwa.
"Cup... Cup.. Cup..." Ujar Meshwa yang menenangkan Bima.
Hatinya terasa ngilu. Ia pun merasa rindu pada sosok Yang Ti dan Yang Kung. Selama ini, beliau berdua yang lebih sering menemani Meshwa saat Arjuna harus pergi ke Kota.
"Kita doakan Yuyut ya, kalau rindu." Ujar Meshwa yang mati - matian berusaha menahan tangisnya.
"Adek doain Yuyut setiap sholat sama Mamas. Tapi Adek masih kangen sama Yuyut." Kata Bima.
Meshwa pun tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya lalu menghujani kepala putranya dengan kecupan.
"Lho! Ini Ibu sama Anaknya pagi - pagi kok udah sedih?" Tanya Arjuna.
"Romoo..." Bima mengulurkan tangannya pada Arjuna. Arjuna pun dengan senang hati menggendong putranya.
"Duh alah, Ya Allah. Kenapa to, Sayangku?" Tanya Arjuna.
"Bima kangen sama Yuyut. Tadi Bima mimpi main sama Yuyut Kung dan Yuyut Ti." Kata Bima.
"Sama, Romo juga kangen sama Yuyut. Yang lain pun gitu. Tapi, kita gak boleh sedih berlarut - larut. Kalau rindu, kita kirimkan doa. Yuyut pasti seneng kalau kita kirim doa." Ujar Arjuna.
"Bima selalu doain Yuyut kok, sama Mamas." Kata Bima.
"Wih! Pinter anak Romo." Kata Arjuna yang kemudian menciumi Bima.
"Mamasku kemana, Mo?" Tanya Bima.
"Mamasmu lagi nyapu halaman tuh. Bantuin sana." Kata Arjuna.
"Iya! Aku mau bantuin Mamas!" Jawab Bima yang meminta turun dari gendongan Arjuna.
"Kok gak bawa sapu, Le?" Tanya Meshwa.
"Aku bantu doain Mamas aja du teras, Mbun. Biar Mamas cepet selesai nyapunya." Jawab Bima yang membuat Meshwa dan Arjuna tertawa.
"Mamas... Mamas..." Panggil Bima yang berlari ke arah Aka.
"Kenapa, Bim?" Tanya Aka yang sedang menyapu halaman.
Bocah empat tahun itu memang terbiasa menyapu halaman rumah setiap pagi. Ia selalu mengerjakan tugasnya tanpa di perintah oleh Mbun atau Romonya.
"Mamas lagi nyapu halaman?" Tanya Bima saat melihat Aka sedang menyapu.
"Enggak, Bim. Garukin rumput ini lho, kata rumputnya dia gatel, makanya minta di usuk - usuk." Jawab Aka sambil terus menyapu. Sementara, Bima hanya bisa tertawa mendengar jawaban dari Mamasnya itu.
"Aku bantuin ya, Mas." Ujar Bima yang kemudian menghampiri Aka.
"Bantuin kok gak bawa sapu?" Tanya Aka sambil melihat ke arah Adiknya.
"Ini aku bantuin pegangin cikrak (pengki)." Kata Bima dengan wajah tanpa dosa.
"Sekalian bantuin doa, Bim. Biar cepet selesai." Kata Aka.
Berbeda dengan Aka yang sedikit pendiam, Bima adalah orang yang lebih aktif dan cerewet. Ia akan selalu bertanya pada Mamas tersayangnya itu tentang banyak hal, meskipun Mamasnya juga belum tau jawaban dari pertanyaan Bima.
Bahuraska, meskipun baru berusia empat tahun, namun kewibawaannya sangat terlihat. Ia tampak selalu tenang dan bisa mengontrol emosi.
Sikap tenang Aka sudah terlihat sejak ia masih kecil. Disaat anak seusianya kerap kali menangis tantrum, namun hal itu hampir tak pernah terjadi pada Aka.
Tetapi, seperti Arjuna kecil, Aka kecil pun selalu membuat gebrakan yang kerap kali membuat keluarganya mengelus dada.
"Mamas... Mamas..." Panggil Bima setelah membuang sampah dedaunan yang sudah di sapu oleh Aka.
"Dalem." Jawab Aka.
"Aku mau buah sirsak itu, Mas." Kata Bima sambil menunjuk ke arah pohon sirsak.
"Belum mateng itu buahnya, Dek." Jawab Aka.
"Emangnya Mamas gak bisa bikin buahnya mateng?" Tanya Bima.
"Gak bisa lah, Bim. Aneh - aneh aja kamu ini." Jawab Aka sambil geleng - geleng kepala.
"Tapi aku pingin buah sirsak, Mamas gak bisa cariin yang mateng?" Tanya Bima sambil merebahkan diri di paha Aka yang duduk di lincak (kursi panjang yang terbuat dari bambu) sembari menikmati hangatnya matahari pagi.
Aka menghela nafas. Meski ia merasa jengah dengan permintaan Bima yang macam - macam, namun ia tak tega jika harus menolak keinginan Adiknya itu.
Aka mulai memejamkan mata. Tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri beberapa kali sebelum berhenti dan kembali membuka mata.
Bima yang tidur di pangkuan Aka, hanya bisa berkedip - kedip sembari menatap ke arah Aka dengan wajah polosnya.
"Mamas ngapain?" Tanya Bima.
"Gak ngapa - ngapain." Jawab Aka.
"Kita kapan sekolah ya, Mas? Nty Ncim sama Mbak Ara aja udah sekolah." Kata Bima yang mengalihkan pembicaraan.
"Emangnya kalo kita ke sekolah, nanti gak di terima dan di suruh pulang karena masih kecil, Mas?" Tanya Bima kemudian.
"Kamu kata siapa?" Aka justru balik bertanya.
"Kata Opa!" Jawab Bima.
"Mungkin iya, makanya kita masih belum sekolah." Jawab Aka.
Keduanya kembali terdiam. Pagi - pagi seperti ini, terasa sepi bagi mereka berdua karena Shima dan Ara sudah berangkat ke sekolah.
Tuk!
"Adooohh!" Seru Bima yang langsung terduduk sambil mengusap dahinya.
"Ngapa, Bim?" Tanya Aka.
"Bathuk (dahi) ku kejatuhan apa ini..." Kata Bima sambil mencari benda yang mengenai dahinya.
"Ini lho, Dek." Kekeh Aka sambil menunjukkan satu buah jambu air kecil yang tadi jatuh mengenai dahi Bima.
"Kok ada jambu?" Tanya Bima dengan bingung.
"Mamas juga gak tau." Jawab Aka sambil melihat kesana dan kemari, seperti sedang mencari sesuatu.
Melihat Aka yang celingukan, Bima pun ikut celingukan sembari menggigit jambu yang tadi jatuh dan mengenai dahinya.
Tak lama kemudian, gerombolan burung yang terbang menghampiri mereka. mereka menjatuhkan berbagai macam jenis buah di atas rumput yang ada di dekat Aka dan Bima sebelum kembali terbang.
"Wuaaahh! Wuaaah! Ada sirsak matang!" Seru Bima saat melihat ada beberapa buah sirsak yang masak.
Bima yang kegirangan itu segera mengumpulkan berbagai jenis buah yang di jatuhkan oleh burung - burung itu.
Sementara, Aka hanya tersenyum saat melihat adiknya yang begitu girang mengumpulkan buah - buahan.
"Mamas hebat! Makasih ya, Mas." Ucap Bima dengan riang.
"Maa Syaa Allah! Pagi - pagi dapet buah dari mana, Le?" Tanya Arjuna saat melihat Bima menyusun banyak buah di atas lincak.
"Di kasih sama burung, Mo! Tadi ada burung banyak yang bawa buah - buahan ini. Mamas Aka yang panggil." Kata Bima sambil tersenyum bangga.
"Iya, Mas?" Tanya Arjuna.
"Adek minta sirsak, Mo. Tapi yang itu kan belum mateng." Kata Aka sambil menunjuk ke arah buah sirsak yang ada di halaman rumah.
"Jadi aku suruh burung cariin buah sirsak. Tapi malah di bawain buah banyak kayak gini." Imbuh Aka yang membuat Arjuna geleng - geleng kepala.
"Mamas, Adek, sini. Romo mau bicara." Kata Arjuna yang memanggil dua putranya.
Bima dan Aka pun segera menghampiri Arjuna yang sedang duduk di teras. Keduanya lalu duduk di sebelah kanan dan kiri Arjuna.
"Mamas, Romo tau kalau Mamas sayang sama Dek Bima. Tapi, gak semua hal harus Mamas turuti." Kata Arjuna yang mulai menasehati putranya.
"Gini lho, Nang. Romo kan sudah pernah bilang kalau kamu jangan selalu nuruti mintanya adekmu. Bukan Romo melarang Mamas nunjukin kasih sayang Mamas ke Dek Bima, tapi, jangan terlalu sering menggunakan kemampuanmu."
"Kemampuanmu itu di gunakan untuk menolong orang yang terdesak dan butuh pertolongan. Bukan untuk menuruti kesenangan atau keinginan sendiri yang tidak penting. Paham, Nang?" Tanya Arjuna.
"Njih, Romo." Jawab Aka.
"Romo... Jangan marahin Mamas, ya. Bima yang minta Mamas cariin buah." Kata Bima dengan wajah khawatir.
"Romo gak marahin Mamas. Romo cuma menasehati Mamas Aka." Jawab Arjuna sambil. Tersenyum.
"Dek Bima juga gak boleh minta macam - macam ke Mamas karena tau kalau Mamas punya kemampuan yang berbeda dengan kita. Semua kemampuan yang di miliki Mas Aka, itu harus di gunakan untuk menolong orang." Ujar Arjuna.
"Kan Mamas nolong Bima, Mo. Bima kan orang." Kata Bima.
"Bima juga terdesak karna pingin makan buah sirsak, Mo." Imbuh Bima lagi.
"Kan bisa bilang sama Romo atau Mbun. Nanti Romo atau Mbun belikan." Kata Arjuna.
"Nanti lama kalau nunggu romo sama Mbun. Romo kan mau ke Balai Desa dulu. Minta sama Mamas Aka aja, lebih cepet." Kata Bima yang masih saja mengeyel.
Mendengar itu, tak ayal langsung membuat Aka menepuk dahinya. Sementara Arjuna hanya bisa memijat pelipisnya.
"Dasar ponakannya Dipta! Mbok ya nurun Papamu gitu lho, Le. Papa mu lebih mending dari pada Pakde Dipta. Lha kok polahmu malah nurun Dipta." Kata Arjuna.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!