DUAARRR!!!
Dentuman ledakan mengguncang seluruh hutan tropis.
Asap hitam membumbung tinggi ke langit malam, bercampur dengan cahaya api dan suara tembakan yang tak berhenti sejak dua jam terakhir. Pepohonan besar runtuh satu per satu, sementara tanah basah berubah kacau oleh jejak pertempuran.
Perang besar antara dua klan mafia terbesar, yakni Dark Blood melawan Darkness, baru saja dimulai.
“Awas sebelah kiri!”
“Jangan biarkan mereka masuk!”
Suara teriakan anggota klan bersahutan di tengah kekacauan. Tubuh-tubuh bersenjata berlari di antara kabut dan asap, saling menyerang tanpa ampun.
Awalnya, Dark Blood berada di atas angin. Pasukan mereka berhasil mendesak Darkness hingga ke area sungai hutan. Namun kemenangan itu tak bertahan lama. Karena pengkhianatan muncul dari dalam.
Dor!
Salah satu anggota Dark Blood tiba-tiba menembak rekannya sendiri dari belakang. Jeritan memenuhi udara. Dalam hitungan detik, formasi pertahanan mereka runtuh berantakan.
“Pengkhianat…?!”
“Mustahil—ugh!”
Satu per satu anggota inti Dark Blood tumbang.
Di antara kepulan asap dan suara tembakan yang bersahutan, sosok seorang wanita masih berdiri tegak di tengah medan perang, namanya adalah Anneta.
Pemimpin Dark Blood sekaligus satu-satunya wanita yang berhasil membawa klannya menjadi salah satu kekuatan terbesar di dunia mafia.
Anneta berdiri di tengah medan perang dengan napas berat. Kemeja hitam yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian akibat pertempuran, sementara bercak lumpur dan darah menodai lengan serta bahunya. Di genggaman tangannya, sebuah pedang masih terarah ke depan. Meski tubuhnya dipenuhi luka, tatapan tajam itu belum kehilangan sedikit pun kewibawaannya.
Di hadapannya, puluhan anggota Darkness perlahan mendekat. Dan di belakang mereka, Joe berjalan santai dengan senyum tipis di wajahnya. Namun jika dilihat lebih dekat, kondisi pria itu tidak jauh berbeda dari Anneta. Kemeja hitamnya telah sobek di beberapa bagian. Luka sayatan terlihat di lengan dan bahunya. Bahkan salah satu sisi wajahnya dipenuhi goresan yang masih mengeluarkan darah segar. Meski begitu, langkahnya tetap tenang. Seolah rasa sakit bukanlah sesuatu yang layak ia pedulikan.
"Aku ga nyangka Dark Blood masih bisa bertahan," ucap Joe lalu berhenti beberapa meter di depan Anneta.
Anneta menyeringai tipis, sebelum membalas, "Aku juga ga nyangka Darkness akan kehilangan setengah pasukannya cuma buat jatuhin aku."
Senyum Joe sedikit memudar. Ucapan itu memang benar. Kemenangan yang diraihnya malam ini tidak datang dengan mudah. Tubuhnya dipenuhi luka karena pertarungan melawan pasukan Dark Blood. Bahkan beberapa komandan terbaik Darkness telah tumbang selama pertempuran berlangsung.
Joe mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya lalu tertawa pelan.
"Lo masih bisa bercanda dalam keadaan kayak gini?"
"Gue cuma ngomong fakta."
Angin malam berembus dingin di antara pepohonan yang porak-poranda akibat peperangan. Di tengah suara api dan rintik hujan yang mulai turun, Anneta dan Joe hanya saling menatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sulit dipercaya bahwa dua orang yang kini saling menghunus senjata itu pernah menghabiskan bertahun-tahun bersama, saling mencintai dan merencanakan masa depan yang sama. Namun malam ini, mereka berdiri sebagai pemimpin dua klan yang saling menghancurkan.
"Kalau aja kita ga jadi musuh..." gumam Joe.
"Ucapan lo bikin gue mau muntah," potong Anneta.
Joe mengepalkan tangannya, tatapan matanya berubah dingin.
"Akhiri semuanya!" perintah Joe.
Begitu perintah itu keluar, beberapa anggota Darkness langsung bergerak maju. Anneta menggenggam pedangnya lebih erat. Meski tubuhnya nyaris mencapai batasnya, ia tidak berniat mundur. Anneta mengangkat pistol di tangan kirinya.
Dor! Dor! Dor!
Beberapa anak buah Joe yang berada paling depan langsung terjatuh, membuat langkah pasukan Darkness sedikit terhenti.
Namun Anneta tidak memberi mereka kesempatan untuk mengatur ulang formasi. Dengan gerakan cepat, ia menerjang ke depan dan mengayunkan pedangnya ke arah musuh yang mendekat. Suara benturan logam bersahutan di tengah hujan dan kepulan asap. Satu demi satu lawan tumbang di hadapannya, tak mampu menahan serangan yang datang tanpa ampun.
Meski tubuhnya dipenuhi luka, gerakan Anneta tetap tajam dan terukur. Setiap ayunan pedangnya seolah membawa tekad terakhir untuk mempertahankan Dark Blood. Percikan darah membasahi pipi dan dagunya, kontras dengan wajah cantik yang kini tampak begitu dingin dan menakutkan hingga beberapa anggota Darkness tanpa sadar mundur selangkah.
"Kenapa mundur? Takut?" ejek Anneta dengan seringai khas yang selalu berhasil memancing emosi lawannya.
Rahang Joe mengeras. Tangannya yang menggenggam pedang mengepal semakin kuat. Namun sebelum anak buah Darkness kembali bergerak—
Syuuttt....Syuuttt....Syuuttt
Puluhan anak panah melesat dari balik pepohonan.
Para anggota Darkness yang berada di garis depan langsung langsung tumbang sebelum sempat menyadari dari mana serangan itu datang.
Mata Joe langsung menyipit. Ternyata, serangan itu datang dari pasukan bantuan milik Dark Blood.
"Curang," desis Joe.
Anneta terkekeh pelan sambil mengusap darah di sudut bibirnya.
"Lo bicara soal kecurangan setelah mengirim pengkhianat ke klan gue? Lucu."
Ucapan itu membuat wajah Joe semakin gelap. Tanpa membuang waktu, ia langsung melesat maju. Dalam sekejap jarak di antara mereka terpangkas habis. Pedang di tangannya berayun cepat, mengarah lurus ke Anneta yang masih berdiri di tengah medan perang. Anneta refleks mengangkat pedangnya.
Clang!
Benturan logam menggema di seluruh area. Keduanya saling menatap dari jarak yang begitu dekat.
"Gue bersumpah," gumam Joe pelan. "Malam ini akan jadi akhir kalian, Dark Blood."
Anneta mendorong pedangnya hingga Joe terpaksa mundur selangkah.
"Lo kebanyakan ngomong."
Tanpa menunggu balasan, Anneta langsung menyerang. Pedangnya bergerak cepat membelah udara malam. Joe menangkis serangan itu, lalu membalas dengan ayunan yang tak kalah cepat.
Clang! Clang! Clang!
Percikan api bermunculan setiap kali kedua pedang beradu.
Para anggota kedua klan masih saling menyerang tanpa berani ikut campur dalam pertarungan keduanya. Mereka tahu pertarungan di hadapan mereka bukanlah pertarungan biasa. Ini adalah duel antara dua pemimpin.
Joe berputar dan mengayunkan pedangnya ke arah samping. Anneta berhasil menghindar, namun gerakan itu membuat luka di tubuhnya kembali terasa nyeri.
Joe kembali menerjang dengan serangan bertubi-tubi. Pedangnya beradu dengan milik Anneta berkali-kali hingga suara benturan logam menggema di seluruh medan perang.
Clang!
Clang!
Clang!
Meski tubuhnya dipenuhi luka, Anneta masih mampu mengimbangi setiap serangan yang datang. Bahkan beberapa kali Joe terpaksa mundur untuk menghindari serangan balasan yang mengarah ke titik vitalnya.
Rahang Joe mengeras. Dalam kondisi seperti itu, Anneta seharusnya sudah tumbang sejak lama. Namun wanita itu masih berdiri. Masih menjadi ancaman.
Saat pedang mereka kembali beradu, Joe sempat melirik ke arah salah satu bukit kecil di kejauhan. Hanya sepersekian detik. Namun itu sudah cukup baginya memberi isyarat dengan gerakan tangan yang hampir tidak terlihat.
Anneta terlalu fokus pada Joe yang berdiri di hadapannya. Membuatnya sama sekali tidak menyadarinya adanya pergerakan disekitarnya.
Clang!
Keduanya kembali bertukar serangan. Namun kali ini Joe tiba-tiba melompat mundur beberapa langkah. Anneta mengernyit. Ada yang tidak beres.
Syuuttt...
Sebuah anak panah melesat dari balik kegelapan. Mata Anneta langsung membelalak saat merasakan sakit yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
Anak panah itu menghantam tubuhnya sebelum ia sempat menghindarinya. Pedang di tangannya terlepas dan jatuh ke tanah. Tubuhnya membeku. Napasnya terasa sesak. Perlahan, Anneta menunduk menatap anak panah yang menancap pada tubuhnya. Pandangannya kemudian beralih kepada Joe yang berdiri beberapa meter di depannya.
Perlahan, lutut Anneta menyentuh tanah. Dunia di sekelilingnya mulai kabur. Air mata yang tak sempat ia tahan jatuh membasahi pipinya. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun memimpin Dark Blood, ia merasa begitu lelah.
Bruk.
Tubuhnya tersungkur ke tanah.
"ANNETA!!" teriak Viona. Suaranya menggema di seluruh medan perang.
Seluruh anggota Dark Blood terdiam. Tidak ada yang bergerak. Mereka masih belum bisa menerima kenyataan jika pemimpin mereka telah jatuh.
"Net..." lirih Naura dengan suara bergetar.
Matanya berkaca-kaca menatap tubuh sahabatnya yang tak lagi bergerak.
"Nggak mungkin..." gumam salah seorang anggota Dark Blood.
Harapan mereka runtuh bersamaan dengan tumbangnya Anneta. Satu per satu senjata mulai terlepas dari genggaman. Sebagian anggota bahkan berlutut di tempat mereka berdiri.
Pertempuran telah berakhir. Namun Viona tidak peduli. Dengan air mata yang terus mengalir, ia berlari menerobos kerumunan menuju tubuh Anneta.
"ANNETA! BANGUN!" teriaknya histeris sambil mengguncang bahu sahabatnya. "JANGAN TINGGALIN KITA!"
Tubuh Anneta tetap diam. Tidak ada jawaban ataupun gerakan. Hanya keheningan yang terasa semakin menyakitkan.
Naura menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar hebat menahan tangis. Namun tiba-tiba matanya membelalak. Di belakang Viona, seorang anggota Darkness mengangkat pedangnya.
"VIO, AWAS!!"
Viona tidak menoleh. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Anneta yang berada dalam pelukannya. Sesaat kemudian tubuhnya menegang. Tangannya yang semula memegang tubuh Anneta mulai melemah. Detik berikutnya, tubuh Viona roboh tepat di samping Anneta.
Bruk.
"Vio!" teriak Naura.
Sret.
Belum sempat ia berlari menghampiri, pedang tajam menembus tubuh gadis itu. Rasa sakit menjalar dari punggungnya. Naura membeku. Dalam hitungan detik, tubuhnya roboh ke tanah. Matanya perlahan tertutup. Hingga akhirnya ia juga menghembuskan napas terakhirnya.
Malam itu...
Dark Blood kehilangan tiga orang terpentingnya sekaligus.
...****************...
Di saat yang sama…
Sebuah rumah sakit besar di pusat kota dipenuhi kepulan asap tebal. Alarm darurat berbunyi nyaring tanpa henti.
“Api di lantai tiga!”
“Cepat evakuasi pasien!”
Orang-orang berlarian panik di lorong rumah sakit. Di salah satu ruangan ICU, dua remaja kembar masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien. Mereka adalah Leo dan Luna.
Selang oksigen masih terpasang di wajah mereka, sementara cahaya api mulai terlihat dari balik pintu ruangan. Api semakin membesar dan asap hitam memenuhi langit-langit.
"Masih ada pasien di dalam!" teriak seorang perawat.
Beberapa petugas medis segera berlari menuju ruang ICU sambil membawa alat pemadam. Wajah mereka dipenuhi kepanikan.
"Ruang ICU 307 belum dievakuasi!"
"Cepat! Ada dua pasien di sana!"
Salah satu perawat mencoba membuka pintu ruangan, namun gelombang panas langsung menyambut dari dalam.
Brak!
Ia terpaksa mundur karena api telah menjalar ke seluruh sisi ruangan.
"Kita tidak bisa masuk!"
"Tapi kita harus menyelamatkan mereka!" teriak perawat lainnya dengan mata berkaca-kaca.
Mereka mencoba lagi. Namun kobaran api semakin membesar. Asap tebal memenuhi lorong hingga membuat siapa pun sulit bernapas. Petugas pemadam yang baru tiba segera menarik para perawat menjauh dari area tersebut.
"Sudah terlambat!" teriak salah satu petugas
"Apa maksudmu terlambat? Masih ada dua pasien di dalam!" balas salah seorang perawat sedikit emosi.
Petugas itu menunjuk ke arah ruangan yang kini sepenuhnya dilalap api.
"Api sudah mencapai sumber oksigen dan seluruh ruangan ICU hampir runtuh! Kalau kita memaksa masuk sekarang, kita hanya akan menambah korban!"
Beberapa detik kemudian, suara gemuruh terdengar dari dalam bangunan.
Brak!
Sebagian langit-langit ruangan ambruk disertai kobaran api yang semakin membesar. Wajah para perawat langsung pucat.
"Tim satu, amankan koridor timur!"
"Tim dua, cegah api menyebar ke ruang operasi!"
Perintah demi perintah segera diberikan. Para petugas pemadam bergerak cepat menuju posisi masing-masing. Selang air bertekanan tinggi mulai diarahkan ke titik-titik api yang masih aktif. Sementara itu, petugas medis membantu mengevakuasi pasien lain yang berhasil diselamatkan dari lantai atas.
Perjuangan melawan kobaran api berlangsung selama berjam-jam. Hingga menjelang dini hari, api akhirnya berhasil dipadamkan. Yang tersisa hanyalah bangunan hangus, asap tipis, dan bau menyengat yang memenuhi udara.
Tim penyisiran kemudian memasuki area yang sebelumnya tidak dapat dijangkau. Dengan hati-hati mereka memeriksa setiap sudut reruntuhan. Hingga akhirnya, mereka pun mencapai bekas ruang ICU 307.
Hujan gerimis turun membasahi area pemakaman yang sepi. Di antara deretan nisan yang masih tampak baru, lima makam berdiri berdampingan. Anneta. Naura. Viona. Leo. Luna. Nama-nama itu terukir rapi pada batu nisan yang kini menjadi satu-satunya penanda bahwa mereka pernah hidup, tertawa, dan mengisi hari-hari orang-orang yang mencintai mereka.
Puluhan orang telah pulang sejak prosesi pemakaman selesai. Namun sepasang suami istri masih berdiri di sana. Mata mereka sembab akibat terlalu banyak menangis. Wanita paruh baya itu berlutut di depan makam putrinya sambil menggenggam bunga yang mulai basah oleh hujan. Bahunya bergetar hebat, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.
"Kenapa..." suaranya pecah. "Kenapa kalian semua meninggalkan Mommy dan Daddy?"
Pria di sampingnya memejamkan mata. Meski berusaha tegar, matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan yang sama.
"Kami akan merasa sangat kesepian tanpa kalian..." lanjut wanita itu sambil menatap satu per satu nisan yang berjajar di hadapannya. "Viona... Mommy rindu suara teriakan kamu nak. Mansion akan terasa begitu sepi tanpa mu Nak."
Tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia kemudian menggeser pandangannya ke makam Anneta.
"Anneta..." lirihnya dengan suara bergetar. "Mommy dan Daddy menyayangimu, Nak. Sangat menyayangimu. Kamu satu-satunya yang selalu ada dihati kami. Andai saja dulu Mommy tidak mengijinkan mu memasuki dunia Mafia, mungkin kamu masih ada sampai detik ini."
Air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
"Maafin Daddy, Mom."
Wanita itu menggeleng seolah mengatakan jika ia tidak ingin memaafkan suaminya yang telah memaksa Anneta memasuki dunia Mafia. Perlahan ia beralih menatap makam Naura yang berada tepat di sebelah Anneta.
"Naura... makasih ya, sudah menemani Anneta selama ini. Mommy tahu kamu yang paling dekat dengannya. Mommy juga tahu... kamu mengenal Anneta jauh lebih baik dibanding Mommy dan Daddy. Terimakasih untuk semuanya ya."
Angin dingin berembus pelan di antara pepohonan pemakaman. Namun wanita itu tetap bertahan di tempatnya, seolah berharap kelima anak itu bisa mendengar setiap kata yang ia ucapkan.
Tatapannya kemudian berpindah ke dua makam terakhir.
"Leo... Luna... maaf..." isaknya semakin lirih. "Andai kalian tidak dirawat di rumah sakit itu..."
Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tubuhnya gemetar hebat.
"Mom, sudah ya. Kita harus mengikhlaskan kepergian mereka. Aku tahu ini tidak mudah. Bukan hanya Anneta yang pergi... tapi kita telah kehilangan semuanya sekaligus," ucap suaminya sambil merangkul bahu sang istri yang terus menangis.
...****************...
"Dorong!"
"Dorong!"
"Dorong!"
Sorakan para siswa menggema di sekitar sungai yang terletak jauh di dalam hutan. Mereka adalah murid-murid SMA Alexander School yang sedang mengikuti kegiatan camping tahunan. Di antara kerumunan tersebut, seorang gadis berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada sambil menatap sinis ke arah seorang siswi yang terpojok di tepian sungai. Gadis itu bernama Aleta, sosok yang dikenal sebagai ratu bully sekolah.
Di hadapan Aleta, seorang gadis bernama Aura tampak berusaha menahan tangis. Seragam olahraga yang dikenakannya sudah kotor akibat didorong dan dipermainkan sejak tadi. Namun tidak ada satu pun orang yang berniat membantunya. Sebagian hanya menonton, sementara yang lain justru ikut tertawa melihat penderitaannya.
"Ayo, dorong lagi!" teriak salah seorang siswa.
Senyuman di bibir Aleta semakin lebar. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya dan mendorong tubuh Aura hingga kehilangan keseimbangan.
Byur!
Tubuh gadis itu langsung terjatuh ke dalam sungai. Jeritannya terdengar nyaring saat arus deras menyeret tubuhnya menjauh dari tepian. Aura berusaha menggerakkan tangan dan kakinya agar tetap berada di permukaan, namun arus sungai itu jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan.
"Tolong..." lirihnya dengan suara bergetar.
Panik mulai menguasai dirinya. Semakin keras ia berusaha berenang menuju tepian, semakin sulit tubuhnya bergerak. Bahkan perlahan-lahan ia mulai merasa seolah ada sesuatu yang menyeretnya lebih jauh ke tengah sungai.
"Tolong!"
"Aura!"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari tepian. Sesaat kemudian, seseorang berhasil meraih tangannya.
Hap!
Mata Aura membelalak. Di hadapannya berdiri Viana yang tengah berlutut di tepi sungai sambil menggenggam tangannya erat.
"A-ana..." ucap Aura dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tahan, Au! Pegang tangan gue erat-erat!" teriak Viana sambil menarik tubuh sahabatnya sekuat tenaga.
"Ugh..." ringis Viana.
Tubuhnya menegang. Rasa sakit mendadak menghantam kepalanya. Potongan-potongan ingatan asing bermunculan di benaknya. Suara ledakan, bau asap, hutan yang dipenuhi darah, seorang wanita bernama Anneta, organisasi bernama Dark Blood dan dirinya sendiri, yaitu Viona.
Mata gadis itu membelalak. Jantungnya berdetak semakin cepat.
'Gue...Viana?'
Pandangan Viona beralih ke kedua tangannya. Tangan itu bukan miliknya. Tubuh ini juga bukan tubuhnya.
'Jangan bilang... Gue berpindah ke tubuh orang lain?
"Na! Tolong!" teriak Aura.
Kesadaran Viona langsung kembali. Apa pun yang sedang terjadi padanya, itu bisa dipikirkan nanti. Saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan Aura. Begitulah pikirnya.
Ia pun kembali menarik tangan Aura sekuat tenaga. Sementara itu, Aleta hanya berdiri sambil menyaksikan semuanya dengan ekspresi datar.
"Sekeras apa pun lo narik dia, lo ga akan pernah berhasil. Lo gak lihat arusnya?" tanya Aleta dengan nada meremehkan.
Viana mengangkat kepalanya. Tatapan keduanya bertemu.
"Trus kenapa kalian ga bantuin gue?" tanya Viana kesal.
"Kita? Bantuin lo narik si miss Queen? Yang ada kita ketularan," ucap sahabat Aleta pedas.
"Kalo gue ga bisa nyelamatin dia, kalian semua terutama lo..." Viana menatap Aleta. "Harus tanggung jawab atas nyawanya."
Aleta terdiam sesaat. Entah kenapa, cara bicara Viana terdengar berbeda. Biasanya gadis itu bahkan tidak berani menatap matanya lebih dari beberapa detik. Namun sekarang, tatapan itu justru terasa tajam dan penuh keberanian.
"Lo nyuruh gue tanggung jawab?" cibir Aleta. "Emangnya lo siapa?"
"Ini bukan tentang siapa gue," balas Viana tegas. "Ini tentang kemanusiaan."
Beberapa siswa langsung saling pandang. Mereka merasakan hal yang sama. Viana yang mereka kenal tidak pernah berbicara seperti itu. Aleta pun mengernyit pelan. Untuk pertama kalinya, gadis itu merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Viana.
"Tolongin gue, Na!" teriak Aura tiba-tiba dengan nada ketakutan. "Ada sesuatu yang narik kaki gue!"
"Apa?" Viana mengernyit.
"Gue serius!" Aura hampir menangis. "Ada yang narik gue dari bawah!"
Viana refleks menunduk menatap air sungai yang keruh. Namun ia tidak melihat apa pun selain arus yang bergerak deras. Hingga akhirnya, tiba-tiba sesuatu mencengkeram pergelangan tangan Viana dari dalam air.
"Ahh!!"
Tubuhnya langsung tersentak ke depan. Viana refleks menundukkan kepala. Dan saat itulah wajahnya memucat. Sebuah tangan muncul dari dalam sungai.
Tangan itu menyerupai tangan manusia. Namun kulitnya hitam pekat, dipenuhi bulu kasar, dengan kuku-kuku panjang yang menancap ke pergelangan tangannya.
Semua siswa yang berada di sekitar sungai langsung terdiam. Tawa mereka menghilang seketika. Beberapa orang bahkan mundur beberapa langkah karena ketakutan.
"A-apa itu?"
"Itu bukan tangan manusia..."
"Jangan-jangan... itu makhluk gaib penjaga sungai ini, yang diceritain sama Pak Naza?"
"Iya juga ya..."
Cengkeraman makhluk itu semakin kuat. Perlahan-lahan tubuh Viana ikut terseret menuju sungai. Sementara itu, permukaan air yang semula hanya bergelombang mulai berputar membentuk pusaran besar tepat di bawah Aura dan Viana.
"Apa-apaan ini?!"
"Bukannya Pak Naza udah peringati kita soal bahayanya sungai ini?"
"Ale, kita harus gimana sekarang?" tanya Linda panik.
"Jangan tanya gue. Ini semua kan ide Lala," ucap Aleta sinis.
"La!" panggil Linda.
"Gue nggak peduli. Jadi jangan tanya gue," ucap Lala ketus.
Di sisi Viana, begitu tubuhnya ditarik ke dalam air, ia refleks memejamkan mata. Arus deras menyeret tubuhnya entah ke mana. Air sungai memenuhi telinganya, membuat suara dari luar perlahan menghilang.
Saat kembali membuka mata, napasnya hampir terhenti. Di hadapannya, sosok yang menarik mereka terlihat jelas. Makhluk itu menyerupai manusia. Namun kulitnya pucat keabu-abuan, rambut hitam panjangnya melayang mengikuti arus. Tangannya yang kurus mencengkeram pergelangan tangan Viana dan kaki Aura dengan erat. Jantung Viana berdegup kencang.
'Jadi benar... Ada sesuatu di sungai ini.'
Meski ketakutan, Viana memaksa dirinya tetap tenang. Ia segera menahan napas dan memberi isyarat kepada Aura untuk melakukan hal yang sama. Aura mengangguk lemah. Namun wajah gadis itu sudah terlihat pucat. Tenaganya terkuras akibat terus melawan arus sejak tadi.
Viana segera meraih lengan Aura dan berusaha menariknya menjauh dari makhluk tersebut. Namun sia-sia. Cengkeraman makhluk itu terlalu kuat. Sementara itu, dadanya mulai terasa sesak. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Viana berusaha melepaskan diri. Jaket panjang yang dikenakannya tersangkut pada cengkeraman makhluk tersebut. Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan jaket itu dan menyisakan tank top yang menempel di tubuhnya.
'Berhasil!'
Mata Viana langsung berbinar ketika tubuhnya akhirnya terbebas. Ia kembali berusaha meraih tangan sahabatnya. Namun saat itulah hatinya terasa jatuh. Aura sudah tidak memberikan respons. Mata gadis itu tertutup. Tubuhnya terkulai mengikuti arus.
Viana mengguncang lengannya pelan. Tetap tidak ada jawaban. Dan napas Viana sendiri sudah berada di batasnya. Jika ia tetap bertahan, mereka berdua bisa berada dalam bahaya yang lebih besar. Dadanya terasa seperti terbakar. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Dengan air mata yang mulai bercampur dengan air sungai, Viana melepaskan genggaman tangannya perlahan.
'Maaf...'
Untuk sesaat, tubuh Aura terlihat semakin jauh terbawa arus bersama makhluk tersebut. Viana menggigit bibirnya kuat-kuat sebelum akhirnya berenang menjauh.
Ia terus berenang tanpa menoleh lagi. Satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya saat itu adalah bertahan hidup. Beberapa saat kemudian, tubuhnya menghantam tepian sungai.
Bruk!
Viana langsung merangkak naik ke daratan. Ia terbatuk hebat sambil memuntahkan air yang masuk ke tenggorokannya. Dadanya naik turun dengan kasar, sementara seluruh tubuhnya gemetar akibat kelelahan.
Untuk beberapa saat, ia hanya terduduk diam. Pikirannya kosong. Namun perlahan, bayangan wajah Aura kembali muncul di benaknya. Mata gadis itu langsung memerah.
"Gue..." Suaranya bergetar. "Gue baru aja ninggalin dia..."
Air mata mulai jatuh satu per satu. Viana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia merasakan rasa bersalah yang begitu besar.
"Kenapa gue setega itu?" lirih Viana. Air mata terus mengalir di pipinya.
Bayangan Aura yang perlahan menghilang bersama arus sungai terus terulang di kepalanya.
"Dia satu-satunya sahabat yang dimiliki tubuh ini..." Viana mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Gak!" teriak gadis itu sembari menggeleng. "Gue nggak boleh diam aja!"
Ia lalu berdiri meski tubuhnya masih gemetar akibat kelelahan.
"Gue bakal meminta bantuan warga sekitar. Bukannya mereka tinggal di sekitar sini ya? Mereka pasti tahu sesuatu tentang sungai ini. Gue harus pergi sekarang." Viana menarik napas panjang. "Gue yakin Aura masih bisa diselamatkan."
Baru saja hendak melangkah, matanya menangkap sesuatu di antara rerumputan.
Deg!
Seekor ular hitam yang sedang melingkar tenang di atas sebuah batu sambil menatap ke arahnya. Untuk beberapa saat, Viana hanya diam. Bukannya berlari ketakutan, ia malah berjongkok perlahan di hadapan reptil tersebut.
Tok.
Jari telunjuknya mengetuk pelan kepala sang ular.
"Gue butuh bantuan lo."
Anehnya, ular itu tidak menunjukkan tanda-tanda menyerang. Ia justru mengangkat kepalanya sebelum berbalik dan mulai merayap menjauh. Tanpa membuang waktu, gadis itu segera mengikuti ular tersebut.
Mereka melewati semak belukar, jalan setapak, hingga area hutan yang semakin jarang ditumbuhi pepohonan. Kakinya terasa nyeri akibat berjalan tanpa henti, namun ia terus memaksa dirinya bergerak maju.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, beberapa rumah kayu mulai terlihat di kejauhan. Viana langsung menghela napas lega. Ular hitam itu berhenti di depan gerbang desa sebelum menghilang ke balik semak-semak.
"Terima kasih," gumam Viana pelan.
Viana menatap ke arah semak-semak tempat ular itu menghilang. Ternyata kemampuan menaklukkan ular masih ada. Bahkan di tubuh ini, ia masih bisa menggunakan kemampuan tersebut.
Namun sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Aura masih menunggunya. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berlari memasuki desa. Kedatangannya langsung menarik perhatian warga.
"Siapa itu?"
"Bukannya itu murid dari rombongan camping?"
"Dia kenapa?"
Warga-warga segera mendekatinya. Viana yang masih terengah-engah menatap mereka dengan mata memerah.
"Tolong..." ucapnya. "Sahabat saya terseret arus sungai terlarang."
Suasana desa yang semula ramai mendadak hening. Beberapa warga saling bertukar pandang. Ekspresi mereka perlahan berubah ketakutan.
Seorang pria paruh baya berjalan keluar dari kerumunan. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya menunjukkan kewibawaan seorang pemimpin. Ia adalah kepala desa.
"Kau bilang sungai terlarang?" tanyanya serius.
Viana mengangguk cepat.
"Saya juga melihat sesuatu di sana. Sosok yang menyerupai manusia. Dia yang membawa sahabat ku."
Mendengar itu, wajah beberapa warga langsung memucat. Ada yang saling bertukar pandang. Bahkan ada yang tanpa sadar mundur satu langkah. Sementara kepala desa hanya terdiam. Tatapannya perlahan mengarah ke hutan di kejauhan.
"Bukankah aku sudah melarang kalian mendekati sungai itu?" tanyanya dengan nada berat.
"Kami tidak berniat ke sana, Pak. Aura dibully oleh teman-teman sekolah saya," ujar Viana sambil menundukkan kepalanya.
"Dibully?" Kepala desa mengernyit.
Viana mengangguk.
"Mereka mendorongnya ke sungai. Saya berusaha menolongnya, tapi..." suaranya mulai bergetar. "Saya juga ikut jatuh ke sungai. Saya berhasil menyelamatkan diri tapi tidak berhasil menyelamatkannya."
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Kepala desa menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya.
"Anak-anak zaman sekarang..." gumamnya pelan. Pandangannya kemudian tertuju pada pakaian Viana yang masih basah kuyup.
"Kau kedinginan. Mari ikut denganku."
"Tapi Aura—"
"Kau tidak akan bisa menolong siapa pun dalam kondisi seperti ini."
Viana terdiam. Pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk pelan. Pak Kades kemudian membawanya menuju rumahnya yang berada tidak jauh dari balai desa.
Rumah itu cukup sederhana namun terlihat terawat. Begitu memasuki rumah, seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu ruang tamu langsung menghampiri mereka.
"Ya ampun!" serunya kaget. "Anak ini kenapa?"
"Ia baru keluar dari sungai terlarang," jawab Pak Kades.
"Astaga... untung masih bisa keluar."
"Benar. Dia benar-benar diberikan kesempatan untuk hidup," ucap kepala desa.
"Apa maksudnya?" tanya Viana penasaran.
"Semua orang yang sudah masuk ke dalam sungai terlarang, tidak ada yang bisa keluar apalagi dalam keadaan selamat," jelas wanita itu.
"Lia, tolong carikan pakaian untuknya."
Wanita bernama Lia itu langsung mengangguk. "Tentu," sahutnya.
Beberapa menit kemudian, Lia kembali sambil membawa satu set pakaian milik putrinya.
"Kebetulan ukuran tubuh kalian hampir sama," ujarnya ramah.
"Tidak apa jika saya pakai Bu?" tanya Viana pelan.
"Tidak apa-apa Nak. Putri ibu juga sedang tidak ada di desa."
"Oh..." ucap Viana pelan.
Viana menerima pakaian itu dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian baru.
Ia mengenakan baju kaos putih yang pas di tubuhnya serta celana panjang berwarna gelap. Viana sempat menatap dirinya beberapa saat. Ternyata selera berpakaian putri Pak Kades tidak jauh berbeda dengannya.
Setelah merasa sedikit lebih nyaman, Viana kembali duduk di ruang tamu bersama Pak Kades dan Lia.
"Pak..." panggilnya pelan. "Apa Aura masih bisa diselamatkan?"
Pak Kades terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
"Nanti sore saya akan mengajak beberapa warga untuk mencarinya."
"Benarkah?" tanya Viana dengan mata yang langsung berbinar.
Pria itu mengangguk.
"Tapi saya tidak bisa menjanjikan apa pun."
Harapan yang baru muncul di wajah Viana perlahan memudar.
"Saya ikut!" seru Viana.
"Jika hingga malam kami tidak menemukannya, maka pencarian akan dihentikan."
"Kenapa?" tanya Viana cepat.
Pak Kades dan Lia saling pandang. Ekspresi keduanya terlihat serius.
"Kau berhasil lolos dari sungai itu, bukan?" tanya Pak Kades.
Viana mengangguk.
"Itulah masalahnya."
Kening Viana langsung berkerut mendengar ucapan Pak Kades.
"Aku tidak mengerti."
Pak Kades menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Selama puluhan tahun, tidak pernah ada orang yang berhasil lolos setelah ditarik ke sungai itu."
Jantung Viana berdegup lebih cepat. "Maksud Bapak?"
"Jika dugaan kami benar, makhluk yang menyeret kalian ke sungai akan menyadari bahwa kau berhasil melarikan diri."
"Lalu?"
"Untuk malam ini, kau boleh tinggal di rumah kami." Pak Kades menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Lalu besok?"
"Besok malam kau harus pindah."
"Pindah ke mana?"
"Ke rumah dukun desa."
Viana membeku. Lia yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
"Itu demi keselamatanmu."
"Keselamatanku?"
Wanita itu mengangguk pelan.
"Makhluk itu bisa saja datang mencarimu," ujar Lia pelan. "Bahkan ada kemungkinan ia dapat mengetahui keberadaanmu jika terus menerus berada di tempat yang sama."
Viana langsung menegang.
"Satu-satunya cara yang kami tahu adalah tinggal bersama dukun desa," jawab Pak Kades. "Dia akan menggunakan ilmunya untuk melindungimu. Jika makhluk itu benar-benar datang mencarimu, dia akan berusaha mengusirnya."
Wajah Viana sedikit memucat. Ia sudah mendengar kata Dukun sejak tadi. Entah kenapa kata itu terdengar menakutkan baginya. Seolah memahami apa yang sedang dipikirkannya, Lia tersenyum lembut.
"Jangan khawatir. Dia orang baik."
"Benarkah?"
"Tentu. Dia tidak akan mengganggumu," jawab Lia meyakinkan. "Sebaliknya, dia akan melindungimu."
Hening sejenak.
"Jadi selama ini warga desa tahu tentang makhluk itu?"
"Kami tahu cukup banyak untuk takut padanya," jawab Pak Kades pelan.
"Tapi kami tidak tahu cara mengalahkannya," timpal Lia.
"Kalau begitu kenapa sungai itu tidak ditutup saja?" tanya Viana.
"Kami sudah mencoba." Pak Kades menatap ke luar jendela. "Namun setiap kali kami mencoba menutup akses menuju sungai itu, selalu terjadi hal-hal aneh."
Viana terdiam.
"Karena itulah kami hanya bisa melarang siapa pun mendekatinya." Lia kemudian menatap gadis itu dengan wajah lembut. "Kau pasti lelah. Istirahatlah dulu."
"Tapi Aura..."
"Kami akan membangunkan mu sebelum kami berangkat mencarinya," ujar Pak Kades tegas. "Untuk saat ini, yang harus kau lakukan adalah menjaga dirimu sendiri."
Viana menunduk. Meski hatinya masih dipenuhi rasa bersalah, ia tahu Pak Kades benar. Tubuhnya sudah mencapai batasnya. Jika ia memaksakan diri sekarang, ia tidak akan bisa membantu siapa pun.
"Terima kasih..." ucapnya pelan.
Pak Kades hanya mengangguk.
Sementara itu, jauh di dalam hutan, arus sungai terlarang masih terus mengalir seperti biasa. Seolah tidak pernah terjadi apa pun. Namun tak seorang pun menyadari bahwa di dasar sungai tersebut, sepasang mata perlahan terbuka. Dan mata itu sedang mencari seseorang yang berhasil lolos dari genggamannya.
...****************...
Menjelang sore, beberapa warga desa berkumpul di depan balai desa.
Sesuai janjinya, Pak Kades memimpin pencarian Aura. Mereka membawa beberapa peralatan sederhana. Meski sebagian warga terlihat takut, tidak ada yang tega membiarkan seorang gadis hilang begitu saja.
Viana tentu ikut. Sejak siang tadi, pikirannya terus dipenuhi rasa bersalah. Ia harus memastikan sendiri keadaan Aura. Rombongan mulai memasuki hutan dan menyusuri aliran sungai terlarang.
"Periksa area sekitar semak-semak!"
"Tolong lihat bagian hilir!"
"Jangan jalan sendiri!"
Beberapa warga mulai berpencar. Sementara itu, Viana berjalan di dekat Pak Kades sambil sesekali memanggil nama sahabatnya.
"Au!"
"Aura!"
"Lo di mana?!"
Suaranya menggema di antara pepohonan. Namun tidak ada jawaban. Semakin lama, wajah Viana semakin pucat. Bukan karena lelah, tetapi karena terlalu khawatir.
'Gimana kalau Aura benaran...
'Gak. Gak boleh!'
Ia menggeleng keras.
'Aura pasti masih hidup..Aura harus hidup.'
"AU! LO DI MANA?!" Teriaknya sekali lagi.
Kresek!
Tiba-tiba suara semak-semak bergerak terdengar tidak jauh dari mereka. Seluruh warga langsung membeku. Beberapa pria bahkan refleks mengangkat tongkat yang mereka bawa. Pak Kades langsung memasang wajah waspada.
"Kalian dengar itu?"
Kresek...
Kresek...
Suara itu semakin dekat. Jantung Viana berdegup kencang.
Semua orang menahan napas. Hingga akhirnya dua sosok muncul dari balik semak-semak. Mata Viana membelalak.
"Aura?!" Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari.
Bruk!
Tubuh Aura langsung dipeluk erat olehnya. Air mata Viana hampir jatuh saat itu juga.
"Aura! Lo nggak pa-pa?!"
Aura yang terlihat lelah hanya menggeleng pelan. Viana menghela napas lega. Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari ada seseorang yang berdiri tidak jauh di belakang Aura. Seseorang yang sangat dikenalnya. Mata Viana langsung membelalak.
"Lo?!"
Aura refleks menoleh. Sementara gadis yang berdiri di belakangnya tetap diam dengan ekspresi datar.
"Ngapain lo di sini?!" teriak Viana kepada Aleta.
"Dia siapa, Nak? Kenapa kau terlihat sangat membencinya?" tanya Pak Kades.
Viana langsung menunjuk Aleta. "Dia orangnya, Pak!"
"Orang apa?"
"Dia yang mendorong Aura ke sungai!"
Suasana langsung berubah. Beberapa warga saling pandang. Wajah mereka menunjukkan ketidaksukaan. Pak Kades sendiri tampak terkejut. Viana melangkah maju sambil menatap Aleta tajam.
"Ngapain lo ada di sini? Pergi!"
"Viana..." ucap Aura lembut berusaha menenangkan Viana.
"Pergi dari sini!" teriak Viana.
Aleta masih tidak menjawab. Sikap itu justru membuat Viana semakin kesal. Namun sebelum ia sempat melanjutkan omelannya, Aura langsung menarik ujung bajunya.
"Udah, Na..."
Viana menoleh. Aura terlihat ragu-ragu.
"Dia yang nyelamatin gue."
Hening.
"Apa?" Viana berkedip.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!