Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Awal

Suasana di kediaman keluarga Volkov terasa sangat sunyi dan tegang. Para pelayan berjalan dengan langkah sangat hati-hati, berbicara dalam bisikan nyaris tak terdengar, seolah takut memecah keheningan yang menyelimuti seluruh sudut rumah megah itu. Selama empat hari terakhir, suasana ini tak pernah berubah sejak Bellatrix Alexandra Volkov mengalami kecelakaan kereta kuda yang parah, membuatnya terbaring lemah dan tak sadarkan diri sama sekali.

Mereka tinggal di Kerajaan Arcadia, sebuah negeri luas yang makmur dan dihormati, di mana sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Keluarga Volkov memegang gelar dan pangkat Duke salah satu kedudukan bangsawan tertinggi di kerajaan, hanya berada di bawah keluarga kerajaan sendiri. Sebagai keluarga Adipati, mereka memiliki wilayah kekuasaan yang luas, hak istimewa yang besar, serta tanggung jawab menjaga keamanan, kesejahteraan rakyat, dan kestabilan wilayah yang dipercayakan langsung oleh Raja.

Ayahnya, Leonidas Volkov, adalah Duke Volkov kepala keluarga, penguasa wilayah kekuasaan keluarga, sekaligus pemimpin militer yang sangat dihormati karena keberanian, pengalaman perang, dan kekuatan sihir tempur yang luar biasa.

Sementara itu, ibunya, Elara Volkov, adalah Duchess Volkov, pasangan sang Adipati, yang mengelola urusan sosial, adat, serta kesejahteraan rakyat di wilayah kekuasaan mereka dengan bijaksana. Nama Volkov selalu dikaitkan dengan kehormatan, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan kekuatan yang disegani oleh seluruh kerajaan.

Di mata seluruh orang yang mengenalnya, Bellatrix adalah gadis yang dikenal sangat sombong, egois, dan memiliki keinginan yang sangat kuat. Seluruh pikiran dan perhatiannya hanya tertuju pada satu orang saja: sang Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado, pewaris takhta Kerajaan Arcadia. Demi bisa mendekati pria itu, ia rela melakukan apa saja, bahkan menggunakan sihir yang ia pelajari secara diam-diam untuk mengubah penampilan dirinya.

Secara alami, Bellatrix memiliki rambut panjang berkilau berwarna biru terang, secerah dan sejernih langit di siang hari, serta sepasang mata dengan warna yang sama yaitu biru terang yang memancarkan cahaya lembut seperti permata yang terkena sinar matahari. Sementara itu, Thiago memiliki ciri khas rambut blonde dan mata berwarna biru gelap, dalam dan tenang seperti kedalaman lautan malam. Karena terobsesi ingin terlihat serasi dan lebih pantas berdampingan dengan Putra Mahkota, Bellatrix terus-menerus menggunakan mantra penyamaran untuk mengubah warna rambut dan matanya agar menyerupai milik Thiago. Ia pikir dengan cara itu, ia akan terlihat lebih menarik dan mendapatkan perhatian yang ia dambakan. Bahkan untuk mengikat pertunangan itu pun, ia menggunakan segala cara, hingga akhirnya berhasil namun dengan harga harus menjauhi keluarganya sendiri.

Namun, di balik tubuh yang terbaring lemah itu, jiwa asli Bellatrix sudah tiada. Kini, ruang dalam tubuh itu ditempati oleh Eloise Morgan, seorang tentara dari dunia modern yang tewas secara mengenaskan dikhianati oleh rekan yang ia percayai sepenuh hati, hingga nyawanya melayang sia-sia di tengah tugas yang berbahaya.

Saat detik terakhir kesadarannya memudar, ingatan terakhir Eloise hanyalah rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam. Sebelum tertidur untuk selamanya, ia baru saja selesai membaca sebuah novel fantasi populer berjudul Takhta dan Sihir, kisah tentang Kerajaan Arcadia, keluarga bangsawan tinggi Duke Volkov, intrik istana, dan seorang gadis bernama Bellatrix yang berakhir dengan nasib tragis karena obsesinya sendiri. Ia sempat berpikir, “Andai saja dia tidak bodoh, hidupnya pasti akan jauh lebih baik…” sebelum semuanya menjadi gelap.

Ketika ia kembali merasakan kesadaran, ia menyadari sesuatu yang sangat mustahil.

Matahari sudah melambung tinggi di langit, sinarnya masuk lewat celah tirai sutra tebal dan menyinari seluruh ruangan kamar yang luas dan mewah. Waktu sudah hampir memasuki jam makan siang, ketika jemari yang terasa berat dan lemah itu mulai bergerak perlahan. Satu per satu kelopak matanya terbuka, perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya yang terasa menyilaukan. Pandangannya masih kabur, namun dalam sekejap itu, mantra sihir yang selama ini dipaksakan oleh Bellatrix yang lama mulai melemah karena tubuhnya yang masih sangat lemah.

Lapisan sihir itu perlahan memudar, sehingga rambut dan matanya kembali menampakkan wujud aslinya biru terang yang bersinar lembut dan alami di bawah cahaya matahari.

“Ugh…”

Sebuah erangan lembut keluar dari bibirnya. Kepalanya terasa berdenyut sangat hebat, seolah dihantam benda berat berkali-kali. Dan dalam sekejap, aliran memori yang bukan miliknya mengalir deras masuk ke dalam benaknya seperti aliran sungai yang tak terbendung, membawa semua ingatan tentang kehidupan Bellatrix, kebiasaan, pikiran, hingga semua kejadian yang pernah ia lalui.

Eloise tertegun, matanya terbelalak tak percaya. Ia mengenali setiap nama, setiap tempat, dan setiap peristiwa yang terputar di kepalanya ini. Ini bukan sekadar ingatan asing ini adalah dunia yang persis sama dengan dunia di dalam novel yang ia baca sebelum mati! Dan dia sekarang berada di dalam tubuh Bellatrix Alexandra Volkov, putri dari Duke Volkov, tokoh yang nasibnya paling menyedihkan di akhir cerita.

Ia mengernyit kuat, merasa bingung sekaligus kesal membaca sifat dan perbuatan pemilik tubuh ini.

“Sombong, keras kepala, membenci keluarganya sendiri, mengabaikan semua kasih sayang yang tulus, dan rela mengubah dirinya sendiri hanya demi meniru orang yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada… sampai memaksakan pertunangan dengan segala cara yang memalukan. Dasar bodoh sekali gadis ini! Pantas saja berakhir buruk,” geram Eloise dalam hati, namun di sisi lain ia sadar ini adalah kesempatan kedua yang diberikan takdir padanya.

Belum sempat ia mengatur napasnya atau memproses semuanya, suara langkah kaki tergesa namun teratur terdengar mendekat, diikuti suara berat namun sarat kecemasan yang langsung terasa menyentuh hatinya.

“Bellatrix? Putriku… apakah kau sudah sadar?”

Eloise menoleh perlahan, dan matanya terbelalak lebih lebar. Di samping ranjang berdiri seorang pria paruh baya yang berpostur sangat tegap, mengenakan pakaian resmi lengkap dengan lambang kebesaran keluarga Duke Volkov. Wajahnya terlihat tegas dan penuh wibawa, disegani oleh seluruh rakyat, bangsawan, dan pasukan militer, namun saat ini matanya terlihat berkaca-kaca, menatapnya dengan rasa lega yang tak bisa disembunyikan.

Jantung Eloise berdegup kencang. Wajah itu, sorot matanya, bahkan cara ia berdiri dan menatap dengan penuh perhatian… sangat mirip dengan mendiang ayahnya di dunia modern. Ayah yang juga seorang pemimpin tinggi, tegas dan disiplin, namun selalu memperlakukannya dengan sangat lembut dan melindunginya sepenuh hati hanya karena ia adalah anak bungsu yang sedikit dimanja.

Belum sempat ia berkata apa-apa, pintu kamar terbuka lebar dan masuklah seorang wanita berparas cantik yang terlihat sangat lelah. Itu adalah Duchess Elara Volkov, istri dari sang Adipati. Meskipun mengenakan pakaian anggun yang sesuai kedudukannya, raut wajahnya terlihat pucat, matanya bengkak dan ada lingkaran hitam di bawahnya tanda bahwa ia tidak tidur nyenyak selama empat hari penuh menjaga putrinya. Begitu melihat Bellatrix sudah membuka mata dan menoleh ke arahnya, ketakutan yang membeku di wajahnya langsung berubah menjadi kelegaan yang meluap.

Ia melangkah cepat tanpa memedulikan aturan sopan santun yang kaku, lalu langsung mendekat dan memeluk tubuh Bellatrix dengan erat, seolah takut gadis itu akan lenyap kembali jika dilepaskan.

“Syukurlah… terima kasih kepada Dewi Sihir… akhirnya kau sadar juga, Putriku,” bisik Elara dengan suara bergetar menahan tangis yang hampir meledak.

Eloise tertegun sejenak saat merasakan kehangatan pelukan itu kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan, bahkan sejak ia masih hidup di dunia lamanya. Rasa rindu yang mendalam pada keluarga yang telah tiada, bercampur dengan rasa syukur yang luar biasa karena mendapatkan kesempatan kedua, membuat air matanya tiba-tiba mengalir deras tanpa bisa ditahan.

Ia mengangkat tangannya yang masih terasa lemah, lalu membalas pelukan itu sekuat tenaga yang ia miliki, dan tanpa sadar panggilan yang paling ia kenal dan cintai di hatinya keluar begitu saja dari mulutnya.

“Bunda…”

Suara itu terdengar lirih, sedikit serak karena belum terbiasa, namun penuh dengan rasa rindu dan ketulusan yang mendalam.

Begitu mendengar panggilan itu, tubuh Elara yang sedang memeluknya seketika menegang. Ia perlahan melepaskan sedikit pelukannya, menatap wajah putrinya dengan mata terbelalak penuh keterkejutan.

“B-Bunda?” ulangnya pelan, seolah tidak percaya mendengarnya.

Selama ini, Bellatrix selalu memanggilnya dengan sebutan resmi, bahkan sering menjawab dengan nada dingin atau malas, seolah merasa terganggu. Belum pernah sekalipun ia mendengar panggilan yang begitu lembut, akrab, dan penuh kasih sayang seperti ini.

Di sampingnya, Duke Leonidas Volkov juga tertegun, matanya melebar melihat perubahan yang tiba-tiba itu. Namun keterkejutan itu hanya berlangsung sebentar. Saat mereka melihat air mata yang mengalir deras di pipi Bellatrix, melihat tatapan matanya yang kini terasa lebih lembut, jernih, dan tulus bukan lagi tatapan dingin atau penuh obsesi seperti dulu hati mereka yang sempat kaku langsung luluh.

Rasa kaget itu perlahan berubah menjadi rasa haru yang luar biasa. Elara segera mengeratkan kembali pelukannya, membelai rambut panjang putrinya dengan lembut, dan air matanya pun akhirnya tumpah juga.

“Ya… ini Bunda di sini, Nak. Bunda ada di sini,” jawabnya dengan suara yang terasa lebih lembut dari sebelumnya, seolah takut jika ia berbicara terlalu keras, momen indah ini akan hilang begitu saja.

Bellatrix terus menangis, membenamkan wajahnya di bahu Bunda, membiarkan semua rasa sepi, sakit, dan kekecewaan dari kehidupan lamanya luruh bersama air matanya. Ia merasa sangat aman, sangat dicintai, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa punya tempat untuk pulang.

Leonidas mendekat juga, lalu mengusap lembut kepala putrinya dengan tangan besar dan hangat. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini terlihat sangat lembut, matanya berkaca-kaca menahan haru yang meluap.

“Sudah… sudah jangan menangis lagi. Ayah dan Bunda ada di sini, tidak akan pergi ke mana pun. Kau sudah sadar, itu yang paling penting,” ucapnya dengan nada yang menenangkan, suara yang terasa sangat menenangkan hati Bellatrix.

Baru setelah ia agak tenang, Bellatrix mengangkat wajahnya, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh penyesalan. Ia menggenggam tangan mereka satu per satu dengan lembut, lalu berbicara dengan suara yang tulus dan mantap.

“Ayah… Bunda… maafkan Bella ya… maafkan aku yang selama ini keras kepala, tidak mau mendengar nasihat, menjauh dari kalian, dan hanya memikirkan keinginanku sendiri. Aku menyia-nyiakan semua kasih sayang dan perhatian yang kalian berikan, padahal kalian adalah orang-orang yang paling menyayangiku tanpa syarat.”

Air matanya kembali menetes, namun kali ini adalah air mata penyesalan yang tulus.

“Mulai hari ini, aku berjanji akan berubah. Aku akan menjadi anak yang baik, mendengarkan setiap kata dan nasihat Ayah serta Bunda, tidak lagi bertindak sembarangan, dan tidak akan menyakiti hati kalian lagi. Aku ingin menjadi kebanggaan keluarga Volkov, bukan lagi beban atau kekecewaan untuk kalian. Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikannya.”

Mendengar pengakuan dan janji itu, hati Leonidas dan Elara terasa sangat terenyuh. Mereka tidak pernah menyalahkan Bellatrix sepenuhnya, namun mendengar permintaan maaf dan tekad yang begitu jelas membuat rasa bahagia mereka meluap-luap.

Elara segera mencium kening putrinya dengan lembut, sementara Leonidas menepuk punggung tangannya dengan penuh keyakinan.

“Kami sudah mengampunimu sejak lama, Nak. Janji itu cukup untuk membuat Ayah dan Bunda sangat bahagia. Jalani saja hidupmu dengan jujur dan apa adanya, itu sudah lebih dari cukup bagi kami,” ujar Leonidas dengan suara hangat.

Di dalam hati yang masih berdebar kencang, Bellatrix membuat keputusan yang paling tegas dalam hidupnya. Ia sudah sadar sepenuhnya ia sekarang berada di dunia novel yang ia baca, di dalam tubuh Bellatrix Alexandra Volkov, putri Duke Volkov, dan memiliki keluarga yang jauh lebih baik dan penuh kasih sayang daripada yang ia bayangkan.

“Jika ini adalah kesempatan kedua yang diberikan padaku, maka aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti Bellatrix dulu. Aku tidak peduli lagi pada Putra Mahkota Thiago, tidak peduli pada pertunangan yang dipaksakan, dan tidak akan pernah lagi mengubah diriku hanya demi orang lain. Mulai hari ini, aku adalah Bellatrix Alexandra Volkov yang baru. Aku akan menjaga nama baik keluarga, mendukung tugas Ayah, mendampingi Bunda, dan melindungi mereka dengan segenap kekuatanku, membalas semua kasih sayang yang dulu diabaikan.”

Ia perlahan mengangkat wajahnya, menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang jernih, tegas, namun tetap lembut.

Mereka bertiga hanya duduk berdampingan dalam keheningan yang hangat, menikmati momen yang sudah lama tak terasa di rumah ini.

 

Cincin ruang

Setelah orang tuanya meninggalkan Bellatrix untuk membersihkan diri, gadis ini mendekati cermin besar itu, matanya tak lepas memandang bayangan dirinya sendiri. Ia masih terpesona melihat wujud aslinya yang kini terlihat jelas tanpa lapisan sihir apa pun. Rambut biru terangnya melambai lembut, dan matanya bersinar jernih bagai danau di bawah langit cerah jauh lebih indah daripada penampilan buatan yang dulu ia paksakan.

Namun saat ia menatap lebih teliti, ia mengerutkan kening perlahan. Memang wajahnya memiliki garis-garis yang sempurna, tulang pipi yang tinggi, dan rahang yang halus, namun terlihat agak kusam, kering, dan ada bekas tekanan yang tidak alami. Kulitnya yang seharusnya bersih dan bercahaya justru terlihat sedikit kasar di beberapa bagian, dan pori-porinya terasa tidak rapi.

Dari ingatan yang mengalir di kepalanya, ia segera paham alasannya. Selama ini, Bellatrix yang lama selalu mengenakan riasan yang sangat tebal dan berat, bahkan di pagi hari sekalipun, hanya agar terlihat lebih mencolok dan sesuai selera Putra Mahkota.

Sayangnya, kualitas kosmetik yang ia gunakan tidaklah sebaik yang ia bayangkan banyak yang mengandung bahan kasar atau kurang cocok dengan jenis kulitnya. Ditambah lagi, ia sama sekali tidak peduli dengan perawatan dasar, sehingga seiring waktu kulitnya menjadi tertekan, kusam, dan kehilangan kilau alaminya.

Bellatrix menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.

“Tidak heran rasanya ada yang kurang pas. Dulu saat menjadi tentara di dunia lama, aku bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan perawatan kulit yang ada hanya pelatihan, misi, dan menjaga kondisi fisik agar tetap kuat. Riasan? Hampir tidak pernah aku gunakan. Tapi sekarang… aku punya tubuh yang indah, dan aku berhak merawatnya dengan baik. Tidak untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri.”

Saat ia bergerak sedikit, jari tangannya tanpa sengaja menyentuh sebuah cincin sederhana berwarna perak kusam yang melingkar rapi di jari manis tangan kirinya. Ia baru benar-benar memperhatikan benda itu, dan ingatan tentangnya langsung muncul dengan jelas.

Ini adalah Cincin Dimensi, peninggalan turun-temurun keluarga Volkov. Tidak terlihat mewah dari luar, namun di dalamnya tersimpan ruang sihir yang luas dan tak terbatas, seolah memiliki dunia kecil tersendiri. Ruang ini terpisah dari dunia nyata, waktu di dalamnya berjalan lebih lambat, sehingga barang-barang yang disimpan tidak akan pernah rusak, basi, atau lapuk. Hanya keturunan Volkov yang memiliki kesesuaian aliran sihir yang bisa membuka, mengakses, dan mengatur isinya sesuka hati.

Dengan rasa penasaran, ia menutup matanya sejenak dan menyalurkan seulas tenaga sihir ke dalam cincin itu. Seketika, ruang luas itu terbuka di dalam kesadarannya. Saat ia menjelajahi setiap sudut ruangan itu, ia menemukan satu bagian khusus yang membuat matanya berbinar penuh kegembiraan.

Saat ia menjelajahi setiap sudut ruangan itu, ia menemukan satu bagian khusus yang membuat matanya berbinar penuh kegembiraan.

Di sana tersusun rapi berbagai jenis perawatan kulit, minyak esensial, krim pelembap, sabun pembersih lembut, masker alami, hingga berbagai produk perawatan rambut dan tubuh yang terbuat dari bahan-bahan terbaik Kerajaan Arcadia. Ada juga rangkaian minyak wangi halus dan peralatan bersolek yang berkualitas tinggi, jauh lebih baik dibandingkan barang-barang yang dulu ia gunakan.

“Bagus sekali… ini semua yang aku butuhkan,” gumamnya pelan.

Dengan kemampuan mengatur ruang dimensi yang kini ia pahami, ia memindahkan satu per satu produk yang diperlukannya ke atas meja rias di kamar itu cairan pembersih, toner penyegar, pelembap yang ringan namun menutrisi, serum khusus untuk memulihkan kulit yang lelah, serta minyak perawatan rambut yang lembut. Ia juga menyiapkan kain lembut dan spons halus untuk membersihkan wajahnya.

Sambil mulai merawat kulitnya dengan gerakan perlahan dan teratur, rasa penasaran di hatinya kembali muncul. Ia baru ingat bahwa keluarga Volkov memiliki garis keturunan yang dikenal memiliki afinitas sihir yang sangat kuat. Ia memusatkan perhatiannya ke dalam diri sendiri, merasakan aliran energi yang mengalir di sepanjang pembuluh sihirnya.

Tiba-tiba, ia merasakan aliran energi yang lembut, dingin, dan tenang mengalir seperti air yang bergerak lancar tanpa hambatan.

“Sihir air…” bisiknya dalam hati.

Benar saja. Seperti yang tercatat dalam sejarah keluarga, afinitas utama keturunan Volkov adalah sihir air. Sihir ini bukan hanya sekadar mengendalikan air biasa, melainkan memiliki sifat yang sangat luas bisa digunakan untuk penyembuhan, pembersihan, menenangkan, hingga pertahanan yang kuat dan serangan yang mematikan jika dikuasai dengan baik.

Bellatrix tersenyum lega. Sebagai mantan tentara, ia sangat mengerti bahwa memiliki satu jenis sihir dasar saja tidak cukup jika ingin bertahan dan melindungi orang-orang tercinta.

“Sihir air adalah dasar yang sangat baik. Sifatnya fleksibel, bisa digunakan untuk banyak hal. Tapi aku tidak akan berhenti hanya di sini. Di dunia ini, ada banyak jenis sihir lain api, angin, tanah, cahaya, bahkan sihir ruang dan waktu. Selama tubuh ini memiliki kapasitas yang cukup, aku akan mempelajari semuanya sedikit demi sedikit. Aku ingin menguasai apa pun yang bisa membuatku lebih kuat dan mandiri.”

Ia melanjutkan perawatan wajahnya dengan penuh ketelitian, membiarkan bahan-bahan alami itu meresap ke dalam kulitnya. Seiring berjalannya waktu, ia bisa merasakan perbedaannya sendiri kulit yang tadinya terasa kaku dan kering perlahan menjadi lebih lembap, halus, dan rileks. Bahkan aliran sihir air di dalam dirinya seolah merespons, membantu menyalurkan nutrisi lebih dalam ke lapisan kulit, mempercepat pemulihan kondisi tubuhnya yang masih lemah akibat kecelakaan empat hari lalu.

Setelah selesai merawat wajah dan membersihkan sisa riasan lama yang menempel keras, ia melanjutkan merawat rambutnya. Ia mengoleskan minyak perawatan yang lembut, lalu menyisirnya perlahan hingga helai demi helai rambut biru terangnya menjadi lebih halus, berkilau alami, dan tidak lagi terasa kering atau kusut.

Saat ia kembali berdiri di depan cermin, perubahannya terlihat sangat mencolok.

Kulitnya yang sebelumnya kusam kini memancarkan kilau segar dan bersih, seolah memantulkan cahaya sendiri. Bekas tekanan akibat riasan tebal sudah hilang, meninggalkan permukaan yang halus dan lembut saat disentuh. Wajahnya yang memang sudah memiliki bentuk yang sempurna kini terlihat lebih alami, menawan, dan jauh lebih segar tanpa perlu ditutupi lapisan kosmetik yang berat. Matanya yang berwarna biru terang itu kini terlihat lebih hidup, lebih tajam, namun tetap lembut mencerminkan jiwa baru yang kini menghuni tubuh itu.

Bellatrix menatap bayangannya dengan rasa bangga dan puas.

“Ini baru aku. Cantik, alami, dan sehat. Dulu aku tidak punya waktu untuk merawat diri, tapi sekarang aku bisa melakukannya sepuasnya. Dan dengan kekuatan sihir air ini, aku bisa menjaga kondisi tubuh dan penampilan ini tetap terjaga dengan mudah.”

Ia menggerakkan jari-jarinya perlahan, dan setetes air jernih sebesar kacang polong muncul di atas telapak tangannya, melayang stabil di udara. Ia menggerakkannya ke kiri, ke kanan, lalu mengubah bentuknya menjadi lembaran tipis sebelum akhirnya menghilang kembali menjadi uap halus.

“Masih dalam tahap awal, tapi potensinya sangat besar. Mulai hari ini, selain membiasakan diri dengan kehidupan baru, aku juga akan mulai melatih sihir air ini secara serius, dan perlahan mempelajari jenis sihir lain yang bisa dikuasai. Cincin dimensi ini juga akan sangat berguna ada buku-buku sihir dan panduan pelatihan di dalamnya, bukan hanya senjata dan barang kebutuhan.”

Dengan hati yang tenang dan penuh semangat, ia mengenakan gaun yang disiapkan para pelayan sederhana namun anggun, tanpa hiasan berlebihan yang bisa mengganggu pergerakannya. Ia memastikan cincin dimensi tetap tersembunyi rapi di jari tangannya, tidak menarik perhatian siapa pun.

Saat ia melangkah keluar kamar menuju ruang makan, tatapannya sudah penuh keyakinan. Ia tahu, perjalanan baru ini tidak akan selalu mudah, tapi ia memiliki keluarga yang menyayanginya, kekuatan yang terus berkembang, dan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri sepenuhnya.

 

Bellatrix melangkah perlahan menuju ruang makan, langkahnya masih sedikit lemah namun terasa jauh lebih ringan dibandingkan tadi pagi. Begitu tiba di ambang pintu, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang sudah menunggunya Duke Leonidas Volkov yang duduk di ujung meja utama, dan Duchess Elara Volkov yang duduk di sebelahnya, keduanya menoleh serentak begitu mendengar langkah kakinya.

Saat melihat penampilan putrinya yang baru, mata mereka terbelalak takjub.

Rambut biru terangnya terurai rapi, berkilau lembut seolah memancarkan cahaya sendiri. Kulitnya kini terlihat bersih, halus, dan bercahaya alami tanpa sedikit pun riasan tebal yang biasa ia kenakan. Matanya yang juga berwarna biru terang memandang mereka dengan tatapan lembut dan jernih, jauh berbeda dari sorot mata dingin atau penuh obsesi yang dulu sering mereka lihat. Gaun yang dikenakannya sederhana namun sangat cocok, membuatnya terlihat lebih segar, lebih muda, dan jauh lebih menawan dari sebelumnya.

“Ya Dewi Sihir… lihatlah dia, Leonidas,” bisik Elara dengan suara penuh kekaguman, matanya kembali berkaca-kaca. “Sejak kapan dia terlihat begitu alami dan bersinar seperti ini?”

Leonidas mengangguk perlahan, senyum tipis namun tulus terukir di wajahnya yang biasanya tegas. “Memang benar. Inilah wujud asli putri kita. Lebih indah daripada yang pernah kita lihat sebelumnya.”

Begitu mendengar pujian itu, pipi Bellatrix sedikit memerah. Ia melangkah lebih dekat, lalu tanpa ragu langsung mendekati sisi ibunya dan bersandar lembut di lengan Elara, persis seperti anak kecil yang mencari tempat nyaman.

“Bunda… Ayah…” panggilnya dengan suara lembut dan sedikit merajuk, terasa sangat akrab.

Elara segera mengelus punggung dan kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, sementara Leonidas hanya menatap dengan tatapan hangat yang tak tersembunyi.

“Duduklah di sini, Nak. Jangan terlalu lelah berjalan,” ujar Elara sambil menarik kursi di sebelahnya agar Bellatrix bisa duduk dengan nyaman.

Begitu duduk, Bellatrix tidak langsung menyentuh makanan. Ia malah mendekatkan wajahnya ke bahu ibunya lagi, memejamkan mata sejenak sambil menghirup aroma wangi bunga yang selalu melekat pada pakaian Elara. Rasanya sangat menenangkan, membuat seluruh rasa lelah dan kekhawatiran di hatinya perlahan menghilang.

“Bunda baunya enak sekali… terasa tenang,” gumamnya pelan, suaranya terdengar manja dan lembut.

Elara terkekeh lembut, lalu mencium kening putrinya dengan sayang. “Dasar kamu ini. Dulu kamu hampir tidak pernah mau mendekat atau bahkan bicara lama dengan Bunda. Sekarang malah lengket seperti ini… Bunda sangat senang sekali.”

Mendengar itu, Bellatrix hanya tersenyum malu, lalu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah ayahnya. Matanya yang jernih menatap Leonidas dengan tatapan yang penuh kekaguman, persis seperti cara ia memandang ayahnya di dunia lama.

Leonidas mengangkat tangannya yang besar dan kasar karena sering memegang senjata, lalu mengusap lembut kepala putrinya.

Setelah suasana semakin hangat, para pelayan mulai menyajikan hidangan yang beraneka ragam sup hangat yang beraroma sedap, daging panggang yang empuk, sayuran segar yang ditanam di kebun sendiri, hingga roti lembut dan buah-buahan manis.

Bellatrix menatap makanan itu dengan pandangan bersemangat, namun saat ia ingin mengambil sendoknya, tangannya terasa sedikit gemetar karena masih lemah. Tanpa berpikir panjang, ia menoleh lagi ke ibunya dengan wajah memelas dan sedikit merajuk.

“Bunda… tanganku masih agak lemas. Bisa tolong ambilkan sedikit untukku? Yang lembut saja ya, yang tidak terlalu keras,” pintanya dengan nada manja yang tak pernah terdengar sebelumnya dari mulut Bellatrix.

Elara hanya tersenyum lebar, hatinya terasa meluap-luap bahagia. “Tentu saja, sayang. Bunda siapkan yang terbaik untukmu.”

Ia segera mengambil piring kecil, lalu mengisinya dengan sup hangat yang bergizi, daging yang sudah dipotong kecil-kecil agar mudah dimakan, dan sedikit sayuran yang lembut. Sesekali ia menyuapi putrinya dengan lembut, dan Bellatrix menerimanya dengan senyum lebar, sesekali mengelap sisa kuah di sudut bibirnya sambil terus mengobrol dengan nada yang santai dan manja.

“Ayah… sup ini enak sekali. Ayah juga harus makan banyak ya, biar tetap kuat menjaga kita semua,” ucapnya sambil menatap Leonidas, lalu tanpa ragu mengambil sepotong daging dari piringnya sendiri dan menyuapkannya ke arah ayahnya.

Leonidas tertegun sejenak, matanya terasa panas. Ia menerima suapan itu dengan senyum bahagia, sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. “Baiklah, Ayah akan makan banyak. Asalkan kamu juga memulihkan tenagamu dengan cepat.”

Sepanjang makan siang itu, Bellatrix terus menunjukkan sisi manjanya. Ia bersandar ke ibunya saat merasa sedikit lelah, meminta tolong untuk memotongkan makanan, memuji setiap hidangan yang ada, dan sesekali mengeluh kecil jika ada yang terasa kurang pas namun semua itu terdengar sangat tulus dan membuat suasana menjadi hangat, bukan mengganggu.

Ia sadar, selama hidup sebagai tentara di dunia lama, ia tidak pernah bisa bersikap seperti ini. Ia harus selalu tegas, kuat, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun. Tapi sekarang, di sini, di samping orang-orang yang menyayanginya tanpa syarat, ia merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri — menjadi anak bungsu yang sedikit manja, yang ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang selama ini ia rindukan.

Di dalam hatinya, ia berjanji lagi. “Ini adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah aku lepaskan. Aku akan menjadi anak yang baik, sedikit manja tapi juga bisa melindungi mereka saat dibutuhkan. Hidup baru ini terasa sangat indah…”

Sementara itu, Duke dan Duchess hanya saling bertukar pandang sesekali, dengan senyum bahagia yang tak terhapuskan dari wajah mereka. Meskipun perubahan sikap putrinya terasa sangat drastis, mereka tidak mempertanyakannya. Yang mereka tahu hanyalah satu hal: Bellatrix mereka sudah kembali, dan kali ini dia jauh lebih baik dari sebelumnya.

 

Sihir air

Setelah makan siang selesai, Bellatrix merasa tenaganya sudah pulih jauh lebih baik. Perutnya terasa kenyang dan hangat, ditambah suasana hati yang ringan membuatnya ingin segera mencoba apa yang baru ia sadari kekuatan sihir air yang mengalir di dalam tubuhnya.

Namun, ia tidak langsung beranjak pergi. Ia malah masih bersandar manja di lengan Duchess Elara, enggan melepaskan pelukan ibunya.

“Bunda… Bunda tidak pergi ke mana-mana dulu ya?” tanyanya dengan suara lembut dan sedikit merajuk, jari-jarinya memainkan ujung lengan gaun ibunya.

“Kalau Ayah ada pekerjaan, Bunda temani aku sebentar saja… aku ingin mencoba sesuatu, tapi rasanya lebih tenang kalau Bunda ada di dekatku.”

Elara tertawa lembut, lalu mengusap rambut panjang putrinya dengan sayang. “Tentu saja, Nak. Bunda tidak ada urusan penting hari ini. Bunda akan menemanimu. Bahkan Ayah pun sepertinya ingin melihatnya juga.”

Benar saja, Duke Leonidas yang baru saja meletakkan serbetnya menoleh dengan senyum tipis. “Ayah juga penasaran. Sihir air adalah warisan keluarga kita, tapi sudah lama sekali kita tidak melihatmu menggunakannya dengan sungguh-sungguh.”

Mendengar itu, Bellatrix tersenyum lebar, lalu bangkit berdiri sambil tetap menggandeng tangan ibunya. “Kalau begitu, ayo ke halaman belakang saja. Tempatnya luas, ada kolam kecil juga cocok sekali untuk latihan.”

Mereka bertiga berjalan perlahan menuju halaman belakang kediaman yang luas dan tertata indah. Angin sepoi-sepoi berhembus membawa aroma bunga dan rumput segar, dan di tengah halaman terdapat kolam kecil yang airnya jernih dan tenang.

Begitu sampai di tepi kolam, Bellatrix melepaskan genggamannya sebentar, lalu berdiri menghadap ke air. Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan perhatian ke dalam dirinya, merasakan aliran energi yang lembut dan dingin mengalir lancar di sepanjang saluran sihirnya.

“Ingat… sihir air itu mengikuti arus, bukan dipaksa. Tenang, mengalir seperti sungai…” bisiknya dalam hati, menggunakan logika yang ia pelajari saat menjadi tentara kendali dan ketenangan adalah kunci kekuatan.

Perlahan ia mengangkat telapak tangannya menghadap ke permukaan kolam. Dengan konsentrasi lembut, ia menyalurkan seulas tenaga sihirnya. Seketika itu, permukaan air yang tadinya tenang beriak pelan, lalu sedikit demi sedikit naik membentuk tiang air setinggi pinggangnya, melayang stabil di udara tanpa tumpah.

Bellatrix membuka matanya, wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan. Ia menggerakkan jari-jarinya, dan tiang air itu berubah bentuk menjadi bola, lalu menjadi pita yang melingkar di sekelilingnya, seolah menari mengikuti irama yang hanya ia dengar.

“Wah… bisa juga!” serunya antusias, lalu seketika berbalik dan berlari kecil kembali mendekati kedua orang tuanya. Ia langsung memeluk lengan Elara lagi, bersandar dengan wajah berseri. “Bunda lihat? Bisa! Rasanya enak sekali, mengalir begitu saja.”

Elara membelai pipinya dengan bangga. “Tentu saja bisa, sayang. Darah Volkov mengalir di tubuhmu. Lihatlah, bahkan lebih halus dan terkontrol dibandingkan saat pertama kali Ayah atau Bunda mempelajarinya dulu.”

Leonidas mengangguk setuju, matanya memancarkan rasa bangga yang tak tersembunyi. “Dasar keturunan kita. Sihir air bukan hanya untuk pertarungan, tapi juga untuk penyembuhan, membersihkan, bahkan mengubah kondisi lingkungan. Kamu baru mulai, tapi potensinya sangat besar.”

Mendengar pujian itu, Bellatrix tersenyum malu, lalu mengangkat wajahnya sedikit merajuk. “Tapi ini baru permulaan saja, Ayah. Aku masih lemah sekali. Nanti Ayah ajari aku lebih banyak ya? Jangan terlalu keras mengajarinya… aku masih baru pulih, nanti lelah lho.”

Nada bicaranya terdengar manja, membuat Leonidas tertawa rendah suara yang jarang terdengar begitu ceria. “Baiklah, baiklah. Ayah akan mengajarimu pelan-pelan saja. Tidak akan dipaksa, janji.”

Setelah puas menunjukkan kemampuan dasarnya, Bellatrix kembali mendekati kolam. Kali ini ia ingin mencoba hal lain yang terlintas di pikirannya menggunakan sihir air untuk membantu merawat dirinya sendiri. Ia menggerakkan tangannya, dan air dari kolam itu berubah menjadi butiran-butiran halus seperti kabut, melayang mendekati wajah dan rambutnya. Kabut itu terasa sejuk, menyejukkan kulitnya, dan sekaligus membersihkan sisa-sisa kotoran serta menyegarkan tubuhnya.

“Wah… rasanya jauh lebih enak dibandingkan hanya mencuci biasa,” gumamnya sambil memejamkan mata menikmati sensasi itu. Lalu ia kembali mendekat dan memeluk lengan kedua orang tuanya bergantian, seolah tidak ingin berhenti mencari perhatian. “Bunda, Ayah… nanti aku juga mau belajar sihir yang lain ya? Di dalam cincin dimensi ada banyak buku panduan, tapi aku butuh bimbingan kalian juga. Jangan biarkan aku belajar sendirian, takut salah.”

“Tentu saja tidak akan dibiarkan sendirian,” jawab Elara sambil mencium kening putrinya. “Kita semua akan membantumu. Selama kamu mau belajar dengan sungguh-sungguh, tidak ada yang mustahil.”

Bellatrix tersenyum lebar, hatinya terasa sangat ringan dan bahagia. Ia sadar, di dunia ini, ia tidak lagi harus berdiri sendirian. Ia punya keluarga yang mendukung, kekuatan yang terus berkembang, dan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri termasuk menjadi anak yang manja dan dicintai tanpa syarat.

Saat matahari mulai bergeser ke barat, ia masih tetap berdiri di antara Ayah dan Bundanya, sesekali mencoba menggerakkan sihirnya lagi, sesekali bersandar dan mengeluh kecil kalau tangannya terasa sedikit pegal, lalu meminta dipijat lembut oleh Elara.

Hari itu terasa sangat sempurna hari pertama dari hidup barunya yang penuh harapan, kasih sayang, dan kekuatan yang perlahan ia bangun.

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!