Indonesia
NovelToon NovelToon

Trapped By You

Kayna Ramida

Bagi sebagian orang, pakaian hanyalah selembar kain pelindung raga. Namun bagi Kayna Ramida, sehelai pakaian adalah cerminan dari diri seseorang. Jadi setiap benang harus dijahit dengan pasti agar tidak ada kecacatan. Bagi Kayna juga, sebutir benang yang salah tempat pada lipatan kain adalah sebuah pengkhianatan terhadap seni.

​Suasana pagi di salah satu kawasan padat penduduk di kota Jogja selalu menyuguhkan hawa sejuk yang menusuk tulang, tetapi di dalam gedung berlantai tiga dengan arsitektur modern minimalis itu, atmosfernya terasa begitu panas oleh ambisi yang membara. Papan nama kuningan yang terukir indah di dinding marmer depan bertuliskan: Butik LiLYRa – Jogja Branch. Di balik pintu kaca raksasa yang berkilau bersih tanpa noda, seorang wanita muda berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada, sepasang mata bulatnya yang tajam bak elang sedang memindai setiap sudut ruangan dengan ketelitian yang nyaris tidak manusiawi.

​Kayna Ramida. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun, ia sudah memikul tanggung jawab besar sebagai kepala pengelola cabang utama butik legendaris milik ibunya, Liliana. Namun, siapa pun yang mengira Kayna hanyalah anak manja yang mendapatkan posisi mentereng ini karena jalur nepotisme semata, dipastikan akan langsung menarik kembali kata-kata mereka dalam waktu kurang dari lima menit setelah berhadapan dengannya.

​Gadis itu memiliki kecantikan yang dingin, misterius, sekaligus tajam —rambut panjangnya yang berwarna gelap pekat berkilau indah di bawah pendar lampu kristal, membingkai wajahnya yang proporsional dengan garis rahang yang tegas.

Pagi ini, ia mengenakan salah satu blazer formal berpotongan pas badan hasil rancangannya sendiri, dipadukan dengan celana kain senada yang memberikan kesan sebagai seorang wanita karier mandiri yang berkuasa, visioner, dan mutlak tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.

​"Siska, kemari," panggil Kayna. Suaranya tidak keras, tidak pula berteriak, tetapi memiliki intonasi rendah yang penuh otoritas, sanggup membuat langkah kaki sang asisten langsung bergerak secepat kilat.

​"I-iya, Nona Kayna? Ada yang bisa saya bantu?" Siska, seorang wanita muda yang terpaut usia tiga tahun di atas Kayna, datang dengan napas sedikit terengah-engah sambil memegang catatannya.

​Kayna menunjuk sebuah manekin yang terletak tepat di tengah jendela pajangan utama butik, tempat di mana sorot matahari pagi mulai masuk menyinari kain satin premium berwarna hijau zamrud yang membalut manekin tersebut. "Siapa yang menata pencahayaan dan posisi manekin ini semalam?"

​Siska menelan ludah dengan susah payah, merasakan aura ketegangan yang mendadak menguar dari tubuh atasannya. "Itu... tim dekorasi malam, Nona. Mereka bilang perpaduan warna satin hijau zamrud dengan latar belakang panel beludru hitam akan memberikan kesan misterius yang sangat mewah."

​"Misterius?" Kayna menaikkan satu alisnya, sebuah senyuman sinis tipis terukir di sudut bibirnya yang dilapisi lipstik nude. "Kesan yang ditimbulkan bukan misterius, Siska, melainkan mati. Beludru hitam itu menyerap seluruh cahaya, membuat warna zamrud yang indah ini terlihat kusam dan murahan seperti kain kiloan di pasar loak. Singkirkan beludru hitam itu sekarang juga. Ganti dengan panel kayu ek dengan aksen emas hangat agar memantulkan sinar fajar jogja dengan sempurna. Kita menjual kemewahan kelas atas, bukan perlengkapan berkabung."

​"Tapi, Nona Kayna..." Siska mencoba menyela dengan ragu, "panel beludru itu adalah konsep dekorasi yang dikirimkan langsung oleh Ibu Liliana dari pusat Jakarta untuk peluncuran koleksi musim ini..."

​Kayna membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Siska lurus pada manik matanya. Tatapan itu begitu intimidatif, membuat Siska seketika mengunci mulutnya rapat-rapat. "Ibu Liliana adalah pemilik utama LiLYRa, dan aku sangat menghormati selera beliau. Namun, di cabang Jogja ini, akulah yang memegang kendali penuh. Aku yang paling tahu bagaimana karakter pencahayaan dan selera pasar di kota ini. Konsep Jakarta tidak bisa ditelan mentah-mentah di sini tanpa penyesuaian. Kerjakan apa yang kukatakan, Siska. Dalam waktu tiga puluh menit, aku ingin melihat jendela pajangan ini sudah berubah sempurna sebelum klien VIP pertama kita datang."

​"Baik, Nona! Segera saya laksanakan!" Siska membungkuk hormat dan langsung berlari ke arah ruang belakang untuk memanggil tim dekorasi.

​Kayna menghembuskan napas pelan setelah kepergian asistennya. Ambisinya memang luar biasa besar. Ia tidak ingin dikenal hanya sebagai 'anak dari pemilik LiLYRa'. Ia ingin membuktikan kepada dunia, terutama kepada kedua orang tuanya, bahwa ia mampu membawa cabang Jogja ini mencapai kesuksesan yang bahkan melampaui butik pusat di Jakarta. Baginya, setiap detail visual butik adalah pertaruhan harga diri.

​Pintu depan butik tiba-tiba berdenting, menandakan ada seseorang yang masuk. Kayna segera menoleh dengan pandangan profesionalnya, namun ketegangannya sedikit mengendur saat melihat seorang pria paruh baya dengan seragam rapi melangkah masuk sambil membawa sebuah kotak rotan besar yang mengembuskan aroma makanan yang sangat familier dan menggugah selera.

​"Selamat pagi, Nona Kayna," sapa pria itu sambil tersenyum ramah. "Saya kurir dari restoran Sunny Bless. Tuan Erick meminta saya mengantarkan menu sarapan khusus ini untuk Nona."

​Mendengar nama restoran milik ayahnya disebut, senyum tulus akhirnya terbit di wajah cantik Kayna, mencairkan kebekuan ekspresinya yang sedari tadi terpasang. Erick, ayahnya, adalah seorang maestro kuliner legendaris yang memiliki jaringan restoran elite Sunny Bless. Kerja keras dan dedikasi ayahnya di dunia bisnis kuliner adalah salah satu inspirasi terbesar mengapa Kayna tumbuh menjadi wanita yang begitu ambisius dan berprinsip kuat.

​"Pagi, Pak Yusuf. Wah, Papa repot-repot sekali mengirimkan sarapan sepagi ini," ujar Kayna sembari menerima kotak rotan tersebut.

​"Tuan Erick berpesan agar Nona Kayna tidak melupakan jam makan lagi hanya karena sibuk memeriksa serat kain. Beliau bilang, seorang bos besar tidak akan bisa berpikir jernih jika perutnya kosong," kata Pak Yusuf menyampaikan pesan sang ayah dengan menirukan nada bicara Erick yang jenaka namun penuh kasih sayang.

​Kayna terkekeh kecil. "Baiklah, sampaikan terima kasihku pada Papa. Katakan padanya aku akan menghabiskan semua makanan ini." Setelah Pak Yusuf pamit dan melangkah keluar, Kayna meletakkan kotak makanan itu di meja kerjanya. Sentuhan perhatian dari keluarganya selalu menjadi bahan bakar ekstra bagi jiwanya yang haus akan pencapaian.

​Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Baru saja Kayna hendak membuka kotak rotan tersebut, suara keributan dari area depan butik kembali memecah keheningan pagi. Suara pekikan melengking seorang wanita terdengar mendominasi ruangan, diikuti oleh suara Siska yang mencoba menenangkan dengan nada panik.

​Kayna mengernyitkan dahi. Ia segera merapikan blazer hitamnya dan melangkah keluar dari ruangan dengan langkah anggun namun mantap. Di area pajangan tengah, tampak seorang wanita sosialita paruh baya berpenampilan mencolok dengan perhiasan berlian berlebihan sedang berkacak pinggang di depan cermin besar. Di tangannya, ia memegangi sehelai gaun malam sutra brokat berwarna merah marun.

​"Ini keterlaluan! Bagaimana bisa butik sebesar LiLYRa membuat kesalahan amatir seperti ini?!"

...●Bersambung●...

Kayna Ramida

​"Ini keterlaluan! Bagaimana bisa butik sebesar LiLYRa membuat kesalahan amatir seperti ini?!" teriak wanita itu, yang tak lain adalah Nyonya Rosa, salah satu pelanggan VIP yang terkenal sangat rewel dan kerap memanfaatkan status sosial suaminya untuk menindas para pekerja.

​"Ada masalah apa di sini, Nyonya Rosa?"

​Suara dingin dan tenang Kayna mendadak memotong omelan Nyonya Rosa. Seluruh staf butik menoleh ke arah Kayna dengan pandangan lega, seolah melihat malaikat pelindung yang siap membereskan kekacauan.

​Nyonya Rosa menoleh, menatap Kayna dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan karena melihat usia Kayna yang masih sangat muda. "Oh, jadi kamu manajer di sini? Baguslah! Lihat ini! Gaun pesanan khususku untuk acara gala dinner besok malam sama sekali tidak muat di bagian pinggang! Ini terlalu sempit! Penjahit kalian pasti tidak becus mengukur, atau mungkin mereka sengaja memotong kainnya terlalu hemat!"

​Siska mencoba menjelaskan dengan gemetar, "Tapi Nyonya, ukuran yang kami gunakan adalah ukuran resmi yang Anda kirimkan—"

​"Diam kamu! Aku tidak bicara denganmu!" bentak Nyonya Rosa kasar.

​Kayna melangkah maju satu langkah, menempatkan dirinya tepat di depan Nyonya Rosa untuk melindungi stafnya. Ia mengambil gaun merah marun itu dari tangan sang sosialita, memeriksanya selama beberapa detik dengan mata jelinya, lalu menatap kembali wajah Nyonya Rosa tanpa ada sedikit pun rasa takut atau terintimidasi di matanya. Sifat berani Kayna yang terkenal keras kepala mulai mengambil alih.

​"Nyonya Rosa," ucap Kayna dengan nada suara yang sangat tenang namun tajam menghujam. "Gaun ini dikerjakan dengan presisi tinggi menggunakan detail ukuran lingkar pinggang 68 sentimeter, persis seperti data tertulis yang Anda tanda tangani minggu lalu. Tim penjahit kami tidak melakukan kesalahan satu milimeter pun. Potongan kain ini adalah mahakarya seni yang sempurna."

​"Lalu kenapa sekarang tidak muat di tubuhku?! Kamu mau menuduhku bertambah gendut, hah?!" wajah Nyonya Rosa memerah menahan geram.

​Kayna tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional yang sarat akan sindiran halus. "Tentu saja tidak, Nyonya. Masalahnya bukan pada berat badan Anda, melainkan pada pilihan korset yang Anda kenakan di balik pakaian Anda hari ini. Anda mengenakan korset bersabuk tebal yang sama sekali tidak cocok dengan struktur potongan A-line gaun malam ini, sehingga menciptakan volume tambahan di area perut Anda sendiri. Jika Anda memaksakan diri menyalahkan penjahit kami atas pilihan pakaian dalam Anda yang keliru, maka itu adalah tindakan yang tidak adil."

​Nyonya Rosa tertegun, matanya membelalak kaget. Ia tidak menyangka akan dikonfrontasi dengan argumen yang begitu teknis, logis, dan menohok oleh seorang gadis muda. Biasanya, manajer butik mana pun akan langsung berlutut meminta maaf dan menawarkan diskon besar demi meredam amarahnya. Namun gadis di depannya ini justru menatapnya dengan pandangan superior yang tak tergoyahkan.

​"Kamu... berani-beraninya kamu berbicara seperti itu pada pelanggan VIP?!" desis Nyonya Rosa dengan suara bergetar karena malu dan marah yang bercampur aduk.

​"Aku menghormati setiap pelanggan yang menghargai karya kami, Nyonya Rosa," balas Kayna dengan intonasi tegas. "Butik LiLYRa tidak pernah menjual produk gagal. Jika Anda ingin gaun ini terlihat menakjubkan di tubuh Anda esok malam, penjahit kami bisa menyesuaikan lingkar pinggangnya dalam waktu lima belas menit dari sekarang—atau, Anda bisa membeli koleksi korset sutra premium kami di lantai dua yang dirancang khusus untuk gaun berpotongan seperti ini. Keputusan ada di tangan Anda. Apakah Anda ingin tampil sebagai wanita paling elegan besok malam, atau Anda ingin terus membuang waktu dengan berteriak di butik saya?"

​Keberanian dan ketegasan Kayna yang mutlak membuat Nyonya Rosa benar-benar mati kutu. Keangkuhan wanita sosialita itu perlahan runtuh di hadapan aura dominan yang dimiliki Kayna. Setelah terdiam beberapa saat sambil menahan malu di depan para staf lainnya, Nyonya Rosa akhirnya mendehem pelan, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang tersisa.

​"Ehem... baiklah. Minta penjahitmu menyelesaikannya dalam lima belas menit. Dan... ambilkan korset sutra premium yang kamu katakan tadi ke ruang ganti saya," ketus Nyonya Rosa, lalu berbalik pergi menuju ruang ganti dengan langkah terburu-buru.

​Siska dan para staf lainnya langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Mereka menatap Kayna dengan pandangan penuh kekaguman yang luar biasa.

​"Nona Kayna, Anda benar-benar hebat! Saya tadi sudah gemetar setengah mati," bisik Siska dengan mata berbinar.

​Kayna hanya mengangguk kecil, wajahnya kembali dingin. "Kembali bekerja, Siska. Pastikan panel kayu ek yang kuminta tadi selesai tepat waktu. Aku tidak ingin ada kesalahan lagi hari ini."

​"Baik, Nona!"

​Kayna melangkah kembali ke dalam ruang kerjanya. Baru saja ia mendudukkan diri di kursi kebesarannya, ponsel pribadinya yang terletak di atas meja bergetar hebat. Layar gawai itu menampilkan nama yang sangat ia hormati sekaligus ia hindari jika sedang sibuk dengan urusan butik: Ibu Liliana.

​Kayna menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Selamat pagi, Ma."

​"Selamat pagi, Kayna sayang," suara Liliana terdengar anggun dan penuh wibawa dari seberang telepon di Jakarta. "Mama baru saja membaca laporan keuangan sementara dari cabang Jogja. Perkembangan bisnis di sana luar biasa, Mama sangat bangga padamu."

​Kayna tersenyum bangga dengan kepuasan yang disampaikan ibunya. "Terima kasih, Ma. Ini semua berkat tim yang solid dan kedisplinan yang kuterapkan di sini. Aku tidak akan membiarkan nama baik LiLYRa turun di tanganku."

​"Mama tahu itu, Nak. Sifat keras kepala dan ambisimu memang persis seperti Mama waktu muda," Liliana terkekeh pelan sebelum nadanya berubah menjadi sedikit lebih serius dan penuh teka-teki. "Oh ya, Kayna. Minggu depan, Mama ingin kau menyerahkan kendali butik Jogja sementara kepada asistenmu. Kau harus datang ke Jakarta."

​Kayna langsung mengernyitkan dahi, firasatnya mendadak terasa tidak enak. "Ke Jakarta? Untuk apa, Ma? Minggu depan jadwal cabang Jogja sangat padat, ada kedatangan kain sutra baru dari Italia yang harus kuperiksa sendiri."

​"Tunda dulu urusan kain itu, Kayna. Ini jauh lebih penting," potong Liliana dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Kita diundang untuk menghadiri jamuan makan malam privat yang sangat eksklusif. Ini bukan sekadar pertemuan bisnis biasa, melainkan makan malam keluarga besar bersama mitra bisnis utama kita yang baru kembali dari luar negeri... keluarga Veldens."

​Mendengar nama asing itu, kerutan di dahi Kayna semakin dalam. "Keluarga Veldens? Maksud Mama, miliarder keturunan Belanda yang memiliki pengaruh besar itu? Kenapa aku harus ikut terlibat dalam makan malam keluarga mereka?"

​Sisi intuitif Kayna yang tajam mendadak mengirimkan sinyal alarm bahaya yang pekat di dalam benaknya. Ada sesuatu di balik nada suara ibunya yang menyiratkan sebuah rencana besar yang sengaja disembunyikan darinya.

​"Nyonya Johanna Marelia Veldens sangat mengagumi tabiat dan prestasimu dalam mengelola bisnis, Kayna. Beliau secara khusus meminta kehadiranmu dalam makan malam itu," jelas Liliana, suaranya terdengar penuh harap namun juga menyimpan misteri. "Lagipula, ada seseorang yang sangat penting yang ingin diperkenalkan kepadamu di sana. Seseorang yang akan memegang peranan besar bagi masa depanmu."

​Kayna menggenggam ponselnya lebih erat, matanya menatap tajam ke luar jendela kaca ruang kerjanya yang menampilkan pemandangan Kota Bandung. "Siapa yang ingin Mama perkenalkan padaku? Tolong jangan bilang kalau ini adalah..."

​"Bersiaplah dengan gaun terbaik hasil rancanganmu sendiri, Kayna. Kita bertemu di Jakarta minggu depan," ucap Liliana tanpa menjawab pertanyaan putrinya, lalu langsung memutus sambungan telepon sepihak.

​Kayna perlahan menurunkan ponselnya, menyandarkan punggungnya pada kursi dengan napas yang memburu. Detak jantungnya berpacu cepat bukan karena rasa takut, melainkan karena kemarahan dan penolakan yang mulai bergejolak di dalam dadanya. Sebagai seorang wanita yang mandiri dan penuh prinsip, ia benci dikendalikan atau diatur dalam hal apa pun, terutama jika itu menyangkut masa depan hidupnya sendiri.

​Ia tahu betul apa arti dari kata 'perkenalan' dalam kamus kalangan elite sosialita: sebuah perjodohan paksa.

​Kayna menatap lurus ke depan dengan pandangan sedingin es, tangannya mengepal kuat di atas meja kerja. "Keluarga Veldens... siapa pun pria yang ingin kalian sodorkan padaku, dia sudah salah memilih lawan. Aku tidak akan pernah membiarkan diriku menjadi boneka dalam permainan bisnis kalian."

​Gadis ambisius itu tidak pernah tahu bahwa perkataannya hari ini adalah awal dari sebuah konfrontasi berdarah, dan bahwa di luar sana, takdir yang jauh lebih gelap, posesif, dan berbahaya telah menguncinya sebagai target utama yang tidak akan pernah bisa meloloskan diri.

...●Bersambung●...

Damara Lexander Veldens

Jika Jogja adalah panggung bagi fajar yang tenang dan ambisi yang tertata rapi milik Kayna, maka Jakarta adalah Istana beton berdarah tempat malam berkuasa tanpa ampun. Di tengah-tengah kepulan polusi dan gemerlap lampu kota yang tak pernah tidur, berdiri sebuah monolit kaca hitam setinggi lima puluh lantai di kawasan pusat bisnis Jakarta. Papan nama di lobi utama memancarkan kemewahan yang dingin dan absolut: Veldens Management.

​Di lantai teratas gedung tersebut, atmosfer ruangan terasa begitu mencekam hingga helaan napas pun terdengar seperti sebuah pelanggaran. Di balik meja kerja raksasa yang terbuat dari kayu jati kuno berlapis marmer hitam, seorang pria duduk dengan keanggunan seorang raja yang sedang mengawasi daerah jajahannya.

​Damara Lexander Veldens. Di usianya yang baru menginjak dua puluh delapan tahun, pria berdarah campuran Indo-Belanda itu telah menjelma menjadi sosok paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti di industri hiburan dan fashion internasional. Sebagai CEO tunggal Veldens Management, satu petikan jarinya bisa mengangkat seorang model amatir menjadi bintang kelas dunia dalam semalam—atau sebaliknya, menghancurkan karier seorang selebritas papan atas hingga tak bersisa hanya dengan satu kedipan mata.

​Secara fisik, Damara—atau yang lebih kerap disapa Pak Mara oleh para bawahannya—adalah definisi dari ketampanan yang berbahaya. Garis rahangnya yang tegas dan tajam seolah dipahat oleh seniman berhati dingin. Rambut gelapnya ditata rapi ke belakang, mempertegas kening dan sepasang mata elang berwarna abu-abu gelap kebiruan—warisan genetik murni dari ayahnya, Nollan Andriaan Veldens, sang miliuner Belanda. Namun, tatapan mata itu sama sekali tidak memiliki kehangatan; kosong, tajam, dan sanggup menguliti keberanian siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama. Pagi ini, ia mengenakan setelan tiga potong jas hitam premium yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak seorang diktator.

​Di hadapannya, seorang wanita muda yang dikenal sebagai supermodel papan atas Indonesia sekaligus ikon fashion Asia, sedang berlutut di atas lantai marmer yang dingin dengan air mata yang merusak riasan wajah mahalnya.

​"T-tolong saya, Pak Mara... Saya mohon, beri saya satu kesempatan lagi," tangis wanita itu bersujud, bahunya berguncang hebat karena ketakutan. "Saya mengaku salah karena telah menerima kontrak dari agensi saingan tanpa persetujuan Anda. Tapi saya bersumpah, saya tidak membocorkan rahasia desain eksklusif Veldens!"

​Mara tidak bergerak. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen laporan keuangan di tangannya. Ia meraih cangkir porselen berisi espresso hitam pekat, menyesapnya perlahan dengan gerakan yang begitu tenang, seolah wanita yang menangis histeris di depannya hanyalah sebutir debu yang tidak berarti.

​"Di dalam duniaku, Renata," suara Mara akhirnya terdengar. Suara itu berbariton rendah, berat, terdengar begitu tenang namun membawa hawa dingin yang sanggup membekukan darah di dalam nadi. "Hanya ada dua jenis manusia. Mereka yang patuh, dan mereka yang dihancurkan. Kamu sudah memilih opsi kedua saat kamu menandatangani kontrak bodoh itu di belakangku."

​"Pak Mara, saya memohon pada Anda! Jika Anda memutus kontrak saya secara sepihak dan mem-blacklist nama saya, karier saya di seluruh dunia akan mati! Tidak akan ada satu pun desainer atau majalah yang mau memakai saya lagi!" ratap Renata dengan suara parau, mencoba meraih ujung sepatu pantofel mengilap milik Mara.

​Sebelum tangan Renata sempat menyentuh sepatunya, Mara sedikit menggeser kakinya dengan tatapan jijik. Ia menutup dokumen di depannya dengan ketukan pelan yang terdengar seperti vonis mati di ruang sidang.

​"Karier? Kamu salah paham, Renata," Mara menundukkan kepalanya sedikit, menatap wanita itu dengan senyuman tipis yang sangat mengerikan—senyuman seorang predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya. "Bukan aku yang mematikan kariermu. Kamu sendiri yang membunuhnya saat berpikir bahwa kamu cukup penting hingga bisa mengelabui seorang Veldens. Juan, bawa dia keluar. Mulai detik ini, hapus namanya dari seluruh jaringan agensi global. Dia tidak ada lagi di industri ini."

​"Baik, Tuan," seorang asisten pria berbadan tegap yang berdiri di sudut ruangan segera maju, menarik Renata yang terus menjerit dan menangis keluar dari ruangan kantor yang luas itu.

​Begitu pintu ganda berlapis peredam suara itu tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan. Mara menyandarkan punggungnya pada kursi kulit premium, wajahnya kembali datar tanpa emosi. Kekuasaannya di dunia bisnis fashion hanyalah satu dari sekian banyak topeng yang ia kenakan. Di balik tirai legalitas Veldens Management, Mara memikul warisan yang jauh lebih pekat dan berdarah: Mafia Lexans.

​Sebuah organisasi bawah tanah internasional yang diwariskan oleh kakeknya, Willem Veldens. Jaringan perdagangan senjata api ilegal kelas kakap dan operasi hitam yang terorganisasi dengan sangat rapi, bersih, dan tak tersentuh oleh hukum negara mana pun. Jika di siang hari ia adalah seorang CEO flamboyan yang dikagumi, maka di malam hari ia adalah sang Capo berdarah dingin yang mengatur perputaran senjata di wilayah Asia Tenggara bahkan lebih luas lagi. Bagi Mara, manusia hanyalah bidak catur, dan dunia adalah papan permainan yang harus tunduk di bawah perintahnya.

​Pintu kantornya kembali terbuka tanpa ketukan. Hanya ada satu orang di dunia ini yang berani masuk ke ruang kerja Damara Lexander Veldens tanpa izin terlebih dahulu.

​Seorang wanita paruh baya dengan keanggunan aristokrat sejati melangkah masuk. Johanna Marelia Veldens, ibu kandung Mara, anak dari penguasa perkebunan sawit raksasa di Sumatra dan Kalimantan. Mengenakan gaun tenun sutra tradisional yang dipadukan dengan perhiasan mutiara langka, Johanna memancarkan wibawa yang setara dengan putranya.

​"Kamu masih saja keras kepala dan tidak punya belas kasihan pada bawahanmu, Mara," ujar Johanna sembari meletakkan tas jinjing mewahnya di atas sofa kulit.

​Ekspresi dingin di wajah Mara sedikit mengendur, digantikan oleh kepatuhan formal seorang anak terhadap ibunya. "Belas kasihan adalah kelemahan yang sangat mahal di bidang ini, Ma. Apa yang membawa Mama datang ke kantor sepagi ini? Bukankah Mama seharusnya masih berada di Sumatra?"

​Johanna tersenyum tipis, melangkah mendekati meja kerja putranya. "Mama sengaja kembali lebih cepat karena ada urusan yang jauh lebih penting daripada sekadar memeriksa hasil panen sawit. Ini tentang masa depanmu, dan masa depan dinasti Veldens."

​Mara menaikkan satu alisnya, ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. "Jika ini tentang daftar putri konglomerat yang Mama susun untuk diperkenalkan padaku, kupikir aku sudah memberikan jawaban yang jelas. Aku tidak punya waktu untuk bermain rumah-rumahan dengan wanita-wanita manja yang hanya mengincar nama belakangku."

​"Kali ini berbeda, Mara," potong Johanna dengan nada suara yang berwibawa namun penuh penekanan. "Dia bukan salah satu dari wanita sosialita tidak berguna yang biasa kamu temui di kelab malam atau pesta amal. Dia adalah Kayna Ramida. Putri dari Liliana, pemilik Butik LiLYRa yang menjadi mitra fashion utama kita, dan Erick, pengusaha kuliner legendaris itu."

​Mendengar nama itu, Mara terdiam sejenak. Ingatannya berputar pada laporan bisnis bulanan Butik LiLYRa cabang Jogja yang belakangan ini menunjukkan lonjakan grafik keuntungan yang luar biasa ekstrem di bawah pengelolaan seorang gadis muda berusia dua puluh tiga tahun.

​"Kayna Ramida..." Mara menggumamkan nama itu dengan nada datar, seolah sedang mengecap rasa dari kata-kata tersebut. "Gadis kecil dari Bandung yang ambisius itu? Aku tahu dia pintar mengelola bisnis ibunya. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia masih terlalu muda dan tidak menarik bagiku."

​"Jangan meremehkannya, Mara," Johanna terkekeh pelan, matanya berbinar dengan kilatan yang sulit diartikan. "Mama sudah bertemu dengannya secara langsung di Jakarta minggu lalu. Dia bukan harimau sirkus yang bisa kamu jinakkan dengan uang atau kekuasaanmu. Gadis itu memiliki sepasang mata elang yang persis sepertimu—penuh ambisi, keras kepala, berprinsip kuat, dan mutlak menolak untuk dikendalikan oleh siapa pun. Sangat jarang ada yang seperti ini. Dan Liliana sempat sangat khawatir karena putrinya itu agak menolak pertemuan kita. Tapi tenang saja, pertemuan akan tetap berlangsung."

​Mendengar kalimat terakhir ibunya, gerakan tangan Mara yang hendak mengambil pulpen premiumnya mendadak terhenti di udara. Sepasang mata abu-abunya yang dingin seketika menyipit tajam. Aura intimidatif yang pekat mendadak menguar dari tubuhnya, membuat suhu di dalam ruangan itu terasa turun drastis.

​Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, Damara Lexander Veldens selalu menjadi pusat gravitasi. Pria, wanita, rekan bisnis, hingga musuh-musuh di dunia bawah tanah selalu berlutut dan memohon di hadapannya. Tidak pernah ada satu makhluk hidup pun yang berani mengucapkan kata 'tidak' atau menolak apa pun yang berkaitan dengan namanya.

​"Dia... menolakku?" desis Mara, suaranya kini terdengar lebih rendah, membawa nada berbahaya yang sanggup membuat merinding.

​"Ya," Johanna tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi putranya yang mulai terpancing. "Dia bahkan menolak untuk di kenalkan denganmu." Johana semakin memancing Mara.

Ia kembali menatap ibunya dengan sepasang mata abu-abu yang kini berkilat penuh obsesi yang kelam. "Katakan pada keluarga LiLYRa, Ma. Makan malam minggu depan di Jakarta harus tetap berjalan sesuai rencana. Aku sendiri yang akan menyambut gadis pemberani itu."

"Sudah dulu, Mama mau lanjut belanja. Sampai bertemu di acara makam malamnya ya, Sayang." Johanna meninggalkan ruangan putranya dengan perasaan senang karena telah berhasil membuat putranya mau menghadiri acara makan malam dengan keluarga Liliana. Meskipun harus di kompori dulu.

​Mara bersandar kembali pada kursinya. Kali ini, sebuah tawa rendah yang dingin dan terdengar sangat maskulin keluar dari tenggorokannya.

Mengapa ada seorang gadis kecil di kota kecil seperti Johja yang memiliki keberanian sebesar itu untuk menolak seorang penguasa sepertinya? Sifat diktator dan arogansi absolut di dalam darah Mara seketika bergejolak hebat. Penolakan dari Kayna tidak membuatnya mundur, melainkan menyulut sebuah percikan ketertarikan yang gelap dan berbahaya di dalam lubuk hatinya.

​"Menarik," ucap Mara perlahan, jemarinya mengetuk meja marmer dengan ritme yang konstan, seolah-olah sedang menghitung mundur waktu menuju kehancuran mangsa barunya. "Keras kepala, ambisius, dan berani menolakku bahkan sebelum kami bertemu... Dia pikir dia siapa?"

​Mara mengambil ponsel pribadinya, menekan sebuah nomor khusus yang langsung terhubung dengan kepala intelijen pribadinya di jaringan Mafia Lexans.

​"Kirimkan seluruh data pribadi, jadwal harian, dan setiap detail kehidupan Kayna Ramida ke mejaku dalam waktu dua jam," perintah Mara tanpa basa-basi begitu telepon diangkat, lalu memutus sambungan.

​Mara tersenyum sinis, membayangkan bagaimana wajah cantik yang digambarkan ibunya itu akan memucat saat berhadapan langsung dengan dominasi mutlaknya.

Di dalam benak sang tirani, sebuah rencana perburuan yang kejam telah dimulai. Kayna Ramida boleh saja merasa dirinya adalah ratu di atas takhta sutranya di Jogja, tetapi begitu ia menginjakkan kaki di wilayah kekuasaan Damara Lexander Veldens di Jakarta, gadis itu akan segera menyadari bahwa dirinya hanyalah seekor burung merpati cantik yang sedang berjalan sukarela masuk ke dalam sangkar emas milik sang predator malam.

​"Kamu ingin bermain denganku, Kayna?" bisik Mara pada keheningan ruangan setelah ibunya pergi. "Akan kupastikan kamu memohon untuk dilepaskan setelah seluruh duniamu berada di bawah kendaliku."

...●Bersambung●...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!