Indonesia
NovelToon NovelToon

I'M Not Gay

Varren Lucien Kaelor

PLAK!

Tamparan itu menggema di ruang tamu mansion keluarga Kaelor.

Kepala Varren terlempar ke samping. Sudut bibirnya robek akibat cincin berlian yang melingkar di jari wanita di hadapannya.

Namun, ia tidak mengeluh.

Tangannya hanya terangkat perlahan, menyeka darah yang mengalir dari sudut bibir.

Tatapannya tetap datar.

Seolah tamparan seperti itu bukan lagi sesuatu yang pantas dirasakan sakit.

"Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali!"

Suara Shena Kaelor menggema memenuhi ruangan.

"Lalu apa yang kau lakukan? Kau meninggalkan Celine sendirian di markas gengmu! Gadis itu pulang sambil menangis!"

Varren tidak menjawab.

Diam.

Selalu diam.

Diam adalah satu-satunya cara bertahan hidup di rumah ini.

"Celine itu tunanganmu!" bentak Shena lagi. "Dia cantik, pintar, berasal dari keluarga terpandang, bahkan rela menunggu laki-laki keras kepala sepertimu. Tapi kau memperlakukannya seperti orang asing!"

Varren tersenyum tipis.

Senyum yang bukan karena bahagia.

Melainkan karena lelah.

"Kenapa tersenyum?" tanya Shena murka.

"Aku hanya berpikir..."

Varren mengangkat wajahnya.

"...Mama benar-benar yakin aku bisa mencintainya?"

Ruangan mendadak sunyi.

Tatapan Shena berubah tajam.

"Maksudmu apa?"

Varren mengembuskan napas pelan.

"Mama tahu alasannya."

Kalimat itu terdengar pelan.

Tetapi cukup untuk membuat wajah Shena kehilangan warna.

Untuk pertama kalinya, wanita itu tampak takut.

"Bungkam."

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

"BUNGKAM!"

PLAK!

Tamparan kedua mendarat lebih keras.

Tubuh Varren terhuyung.

Sudut bibirnya kembali robek.

"Aku tidak mau mendengar satu kata pun lagi!" bentak Shena. "Kau adalah putra keluarga Kaelor! Kau akan menikahi Celine! Dan kau akan menjalankan semua yang sudah kutentukan!"

Varren menatap ibunya tanpa rasa takut.

"Putra keluarga Kaelor..."

Ia tertawa lirih.

"Kalimat itu lucu sekali."

Sorot mata Shena langsung berubah panik.

"Kau..."

"Apa Mama tidak lelah terus mengulang kebohongan yang sama?"

Seketika napas Shena tercekat.

Ia menatap seluruh ruangan dengan gelisah, memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar percakapan mereka.

"Kalau sampai ada orang lain yang mendengar ucapanmu..." bisiknya penuh ancaman.

"Aku akan menyesal?" potong Varren.

"Itu sudah biasa."

Shena mengepalkan tangan.

"Bersiaplah. Besok kau masuk ke Kaelor Imperial Academy."

Varren mengernyit.

"Kau akan tinggal di asrama eksklusif."

Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu dimulai...

Ekspresi Varren berubah.

"Asrama?"

"Iya."

"Dengan... siswa lain?"

"Benar."

Shena membalikkan badan tanpa sedikit pun menoleh.

"Jangan membuat masalah. Jangan mengecewakan keluarga Kaelor."

Suara langkah sepatu hak tingginya semakin menjauh.

Meninggalkan Varren seorang diri.

Ruangan kembali sunyi.

"Asrama..."

Varren bergumam pelan.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Telapak tangannya perlahan mengepal.

Ia benci ini.

BANJINGAN!

Amarah yang selama ini ia pendam meledak dalam diam. Ia akan tidur sekamar dengan laki-laki. Ia akan mandi di kamar mandi yang sama dengan laki-laki. Ia akan berbagi ruang dengan mereka. Bagaimana jika identitasnya terbongkar? Bagaimana jika mereka mengetahui bahwa Varren—ketua geng berandal yang ditakuti itu—sebenarnya adalah seorang gadis?

Varren menggigit bibirnya sampai berdarah. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Tapi itu tidak cukup untuk meredakan amarah yang membakar dadanya.

Ia membenci mamanya.

Sungguh, sangat membenci.

Sejak kecil, Shena tidak pernah sekali pun menunjukkan kasih sayang yang tulus. Yang ada hanya tuntutan. Hanya target. Hanya ambisi yang harus ia penuhi. Ia tidak pernah merasakan pelukan lembut. Tidak pernah mendengar kata "sayang" yang tulus. Tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu.

Tatapannya kosong.

Lalu untuk pertama kalinya malam itu...

Rasa takut memenuhi kedua matanya.

Besok..

Varren menyandarkan punggungnya pada daun pintu.

Perlahan.

Tubuh tegap yang selama ini tidak pernah goyah itu akhirnya kehilangan tenaga.

Bruk.

Ia terduduk di lantai.

Tangannya masih mengepal, tetapi kini mulai bergetar.

Entah karena marah.

Atau karena lelah.

Ruangan itu begitu sunyi hingga suara napasnya sendiri terdengar berat.

Di atas meja, berdiri sebuah bingkai foto yang selalu ia simpan rapat-rapat agar tidak ada seorang pun menyentuhnya.

Bukan foto keluarga.

Hanya selembar foto usang seorang pria muda yang tersenyum hangat ke arah kamera.

Pria yang bahkan tidak pernah benar-benar ia kenal.

Papa.

Varren meraih bingkai itu dengan kedua tangan.

Ujung jarinya mengusap wajah pria dalam foto tersebut seolah takut senyum itu ikut memudar.

"Papa..."

Suaranya nyaris tak terdengar.

"Apa Papa benar-benar tidak pernah menginginkan aku?"

Tidak ada jawaban.

Hanya hujan yang semakin deras menghantam jendela.

Bibir Varren bergetar.

"Kenapa Papa tidak pernah datang...?"

Satu tetes air mata jatuh mengenai bingkai foto.

Disusul tetes berikutnya.

Dan berikutnya lagi.

"Kalau Papa ada disini...."

Ia menggigit bibirnya sendiri, menahan isak yang sejak tadi ingin pecah.

"...apa Papa juga akan memaksaku hidup seperti ini?"

Dadanya terasa sesak.

Selama bertahun-tahun ia bertahan.

Selama bertahun-tahun ia meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.

Bahwa ia cukup kuat.

Bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun.

Namun malam itu...

Seluruh pertahanannya runtuh.

Ia memeluk bingkai foto itu erat-erat, seolah sedang memeluk seseorang yang selama ini hanya hidup di dalam khayalannya.

"Aku capek, Pa..."

Tangisnya akhirnya pecah.

"Aku benar-benar capek..."

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...

Pangeran Kaelor yang selalu terlihat dingin dan tak terkalahkan itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Ia menangisi seseorang yang bahkan tidak pernah sempat memeluknya.

Seseorang yang wajahnya hanya ia kenal lewat selembar foto.

Dan malam itu, di tengah hujan yang tak kunjung reda, Varren hanya memiliki satu harapan...

Semoga di suatu tempat, papanya masih hidup.

Dan suatu hari nanti...

Datang menjemputnya pulang.

Bersambung

Kaelor Imperial Academy

Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamar Varren. Sejak subuh, ia sudah terjaga. Bukan karena semangat, melainkan karena kegelisahan yang tak bisa ia tidurkan semalaman.

Ia berdiri di depan cermin panjang, mengenakan seragam Kaelor Imperial Academy untuk pertama kalinya. Jas berwarna biru tua dengan aksen emas di kerah dan saku, celana panjang hitam rapi, serta dasi merah marun yang melambangkan status eksklusif sekolah elit itu.

Varren menatap bayangannya sendiri.

Tampan.

Selalu tampan.

Rahang tegas, alis rapi, hidung mancung, dan bibir tipis yang selalu membentuk garis datar. Tidak ada yang bisa menebak bahwa di balik seragam rapi ini, ada seorang gadis yang terpaksa memakai korset pengikat dada setiap pagi, yang setiap hari berjuang menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya.

Ia mengacak-acak rambutnya dengan sengaja. Membuatnya terlihat berantakan, liar, seperti bad boy sejati. Kemudian ia memiringkan dasinya sedikit, membiarkan kemeja bagian atas tidak dikancing sempurna.

Karena itulah yang diinginkan ibunya.

Pangeran Kaelor yang tampan, berandalan, tapi tetap berkelas.

"Varren!"

Suara Shena menggema dari lantai bawah.

Varren menghela napas.

Ia berjalan menuruni tangga marmer megah. Setiap langkah terasa berat, seperti sedang berjalan menuju medan perang.

Shena sudah menunggu di ruang makan. Wanita itu duduk dengan sempurna—rambut tertata rapi, busana mahal, ekspresi dingin yang sudah menjadi ciri khasnya. Di hadapannya, meja panjang dipenuhi hidangan. Tapi Varren tahu, itu bukan untuk dinikmati bersama.

Itu hanya pameran.

Namun begitu Shena menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, ekspresinya langsung berubah.

"Kamu pikir itu sudah cukup?" tanyanya dengan nada tajam. "Rambutmu masih terlalu rapi! Dasi kamu belum miring! Kemeja kamu masih dikancing semua! Cowok tidak berpenampilan seperti ini, jangan buat mama marah Varren!"

Varren menahan napas. Ia memang sudah mengacak-acak rambutnya, tapi tampaknya masih belum cukup liar bagi standar ibunya.

Tanpa berkata apa pun, ia mengacak-acak rambutnya lebih brutal lagi sampai benar-benar berantakan. Ia juga membuka satu kancing kemeja tambahan dan memiringkan dasinya lebih ekstrem.

Shena mengamatinya dengan teliti, lalu mengangguk puas.

"Lebih baik. Sekarang kau terlihat seperti ketua geng yang seharusnya."

Itu satu-satunya pujian yang pernah ia dapatkan.

"Aku sudah bicara dengan kepala sekolah," lanjut Shena dingin. "Namamu sudah terdaftar di kelas internet. Asramamu di lantai tiga, kamar nomor satu. Penghuninya adalah anak-anak dari keluarga terpandang. Jangan mempermalukan keluarga Kaelor."

Varren mengangguk pelan.

"Dan satu hal lagi." Shena akhirnya menatapnya. Sorot matanya tajam, penuh peringatan. "Jangan pernah lupa siapa dirimu di mata dunia."

Varren menahan napas.

Kalimat itu selalu sama. Selalu.

Siapa dirimu di mata dunia.

"Kau mengerti?" desak Shena.

Varren menatap ibunya tanpa ekspresi.

"Aku mengerti, Mah."

Shena mendengus, lalu mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat.

"Pergi. Jangan terlambat di hari pertama. Dan ingat, jaga penampilanmu! Mama tidak mau dengar kau terlihat terlalu rapi seperti banci!"

Varren berbalik, melangkah keluar dari mansion megah itu. Tidak ada pelukan perpisahan. Tidak ada ucapan "hati-hati di jalan." Tidak ada senyuman.

Hanya dingin, dan tugas, dan tuntutan.

---

Di luar gerbang utama, sekelompok motor sport sudah menunggu.

Tiga belas motor, semua hitam pekat dengan aksen krom berkilau. Dan di depannya, berdiri tiga belas pria dengan jaket kulit hitam bertuliskan KINGS OF ASPHALT di punggung.

Gengnya.

"Bos!"

Satu kata itu serempak menggema di udara pagi.

Varren tersenyum tipis. Di antara mereka, ia tidak perlu berpura-pura. Di antara mereka, ia adalah pemimpin. Yang disegani. Yang ditakuti. Yang dihormati.

"Udah pada sarapan?" tanya Varren dingin.

"Belum, Bos. Nunggu Bos," jawab salah satu anak buahnya, seorang pria besar dengan tato naga di leher.

"Bodoh. Makan dulu, baru nakal nya," tegur Varren. "Gue gak mau anggota gw pingsan karena laper."

Mereka tertawa. Tapi tidak ada yang berani membantah.

Varren berjalan ke arah motornya—sebuah Ducati Panigale V4 hitam pekat yang menjadi kendaraan kebanggaannya. Ia mengayunkan kaki, duduk di atas jok kulit, lalu menyalakan mesin. Suara knalpotnya menggelegar memecah kesunyian pagi.

"Bos," salah satu anak buahnya mendekat. "Denger-denger Bos masuk Kaelor Imperial?"

Varren menatapnya tajam.

"Terus?"

"Anak buah gue ada yang sekolah di sana. Dia bilang, di sekolah itu banyak ular. Semua pura-pura baik, tapi di belakang saling tikam."

Varren mendengus dingin.

"Biarin. Yang penting mereka tau siapa yang ngejalanin sekolah itu."

Teman-temannya bersorak pelan. Mereka percaya pada Varren. Seperti biasa.

"Bos," kata anak buah yang lain, "kalo butuh apa-apa, kita standby. Sekolah elit macam gitu biasanya banyak masalah."

Varren mengangguk. "Gue tau. Gue juga gak bakalan tinggal di asrama selamanya. Nanti kalo libur, gue main ke markas."

"SIAP BOS!"

Tiga belas suara menggema bersamaan.

Varren menarik helmnya, menutup wajah tampannya.

"Gas."

Dan dua belas motor lainnya mengikutinya.

Meninggalkan mansion keluarga Kaelor, menuju babak baru dalam hidupnya.

---

Perjalanan menuju Kaelor Imperial Academy memakan waktu sekitar empat puluh menit. Semakin dekat, semakin terlihat kemegahan sekolah itu.

Kaelor Imperial Academy bukanlah sekolah biasa.

Berdiri di atas lahan seluas dua puluh hektar, kompleks sekolah itu seperti istana. Bangunan utamanya bergaya arsitektur kolonial dengan pilar-pilar marmer putih menjulang tinggi. Di depannya, terdapat air mancur besar dengan patung singa bersayap yang menyemburkan air dari mulutnya.

Varren menghentikan motornya di depan gerbang utama. Dua satpam berseragam langsung menghampiri.

"Anak baru?" tanya satpam dengan nada hormat.

Varren melepas helmnya. Rambutnya acak-acakan akibat helm—tapi itu justru membuatnya terlihat lebih liar. Dengan santai, ia mengacak-acak rambutnya lagi, memastikan tampilannya tetap seperti yang ibunya inginkan.

"Varren Lucien Kaelor."

Satpam itu membelalak. "T-tuan Kaelor? Maaf, kami tidak tahu. Silakan masuk."

Varren mengangguk lalu melesat dengan motornya, melintasi halaman luas yang dihiasi taman-taman indah. Ia memarkir kendaraannya di area khusus, lalu berjalan menuju lobi utama sambil membawa kopernya.

---

Lobi utama Kaelor Imperial Academy benar-benar seperti lobi hotel bintang lima. Lantai marmer mengkilap, lampu kristal besar menggantung di langit-langit, dan resepsionis yang ramah tersenyum menyambutnya.

Varren berdecap pelan menatap lobi yang dihadapinya. Segera ia menarik kopernya dan juga beberapa barang miliknya.

"Mas.."

Varren menoleh, melirik yang memanggilnya. Ia menaikkan satu alisnya bingung.

"Kamu mau ke asrama yah? Anak baru juga kan? Bareng aja yuk." Ujarnya tersenyum kepada Varren.

Varren meliriknya dan mengangguk pelan.

"Kenalin nama gue Reja, nama loe siapa?" tanyanya menjabat tangan Varren.

Varren menerima tangan Reja dan berdehem. "Varren."

Reja mendengarnya menyipitkan matanya. "Oh oke." Ia terkehek.

Varren meliriknya bingung. "Kenapa ketawa? Ada yang salah sama nama gue?"

Reja menggeleng pelan. "Soalnya sekilas loe mirip cewek cantik. Tapi pas denger suara loe gue jadi yakin loe cowok. Ayok cari asrama kita." jelas Reja pelan.

Varren mendengarnya hanya diam. Dirinya memang memiliki suara berat dan juga bas seperti laki-laki. Shena bahkan membawanya ke dokter spesialis agar pita suaranya berubah menjadi berat dan memiliki jakun agar dirinya seratus persen tulen mirip laki-laki.

"Btw asrama loe nomor berapa?" tanya Reja kepada Varren pelan. Varren menatap kartu akses yang diberi oleh petugas tadi, mengernyit pelan.

"Ini." ia menunjukkannya pada Reja.

Reja membulatkan kecil bibirnya. "Ini kita satu kamar. Kelas eksklusif wah haha. Ayok kita ke atas. Itu ada di lantai tiga." jelasnya semangat kepada Varren.

Varren mendengarnya agak suram. "Kenapa nggak lantai satu aja sih?" gumam Varren terdengar oleh Reja.

"Lantai satu? Enakan lantai tiga lah. Di sana kita bisa lihat pemandangan atap rumah orang atau bahkan kegiatan anak-anak lain. Di sana ada balkonnya." tegasnya.

"Yah tapi kalo ada gempa bumi kita nggak bisa lari. Masa loncat dari balkon?" tanya Varren tegas dan kesal.

Reja malah tertawa mendengar ucapan Varren. "Yaampun iya juga yah. Kok gue baru kepikiran." jelas Reja terkehek.

"Lagian loe ada aja sih kepikiran kesana?" tanyanya.

Varren mengangkat bahu acuh. "Nggak tau sih. Mungkin nyokap pas bikin gue kurang kasih vitamin, makanya otak gue rada miring." jawab Varren abstrak. Reja malah kembali tertawa terbahak.

Dan Varren meliriknya dengan tatapan kaget. Ini orang garing sekali yah...!!

---

Keduanya sudah sampai di kamar paling atas lantai tiga. Kamar nomor 1. Reja membuka pelan pintu menggunakan kartu bukan kunci membuat Varren diam mengikutinya dari belakang.

"Woy… gue sampai!" teriak Reja di sana riang dan bersorak.

Varren bisa melihat ada satu laki-laki yang sedang makan mie cup tersedak karena Reja berteriak. Varren meringis pelan meliriknya iba. Si anak anj, datang-datang teriak-teriak.

"Salam woy salam!" teriak temannya kesal melirik temannya yang nerobos masuk dan duduk di dekatnya.

Reja meliriknya mencibir. "Sorry sorry itu azab karena makan mie nggak ngajak-ngajak." jawabnya. Temannya hanya memajukan giginya mengejek.

"Oy iya gue bawa temen satu kamar juga sama kita-kita. Nih sini Varren masuk." teriak Reja pada Varren yang masih di dekat pintu.

Varren berdehem memasuki kamar pelan menatap Reja dan temannya yang makan mie santai.

"Nih kenalin namanya Varren, dia satu kamar sama kita." jelas Reja kepada temannya. "Dan Varren kenalin, ini namanya Tavian, anak pak Muba kepala sekolah, tapi kepala sekolah sekolah sebelah bukan kita hahaha." jelas Reja dengan tawa garingnya.

Varren tersenyum tipis mendengarnya. Tavian meliriknya kesal. "Nggak usah di dengerin Ren. Emang rada-rada nih orang." jelasnya mengibas tangan pada Varren. Tavian melirik Varren lagi tenang. "Dari SMP mana?" tanyanya lagi kepo.

Varren berdehem. "SMP Nugraha."

Reja berdehem pelan mendengarnya.

"Eh.." suara Tavian tercekat saat ada lelaki yang baru saja keluar dari kamar hanya menggunakan celana pendek. Varren di sana bahkan hampir tidak bernafas dibuatnya. Wah wah lihat lelaki itu.

"Brisik..!!!" tegasnya kepada Reja dan Tavian dingin, lalu melirik Varren yang berdiri kaku di sana tajam.

"Eh eh pak ketua bangun hhe. Maaf bapak ketua. Kita ada anggota baru nih baru dateng bareng Reja. Kenalan dulu lah." jelas Reja kikuk menggaruk rambut belakangnya.

"Ren.. kenalin diri loe." jelas Reja pada Varren yang diam saja.

Varren berdehem menjulurkan tangannya kepada pak ketua mereka. "Varren."

Pak ketua menatap Varren kesal tapi tetap menyambutnya tegas dan meremasnya kuat. Varren diam menatapnya dengan kesal.

"Sylas." jelasnya lalu melepaskan tangan Varren. "BTW tangan loe lembut banget. Loe nggak suka cowok kan?" tanya Sylas dingin.

Varren mendelik kesal. Sebenarnya dirinya suka cowok tapi bukan berarti di bilang begitu juga. Seakan-akan dirinya gay.

"Buset pak bos baru kenal aja udah ngomong ngasal. Varren nggak usah dengerin kata pak Ketua, dia emang gitu orangnya...!!!" Reja mendelik kepada Sylas yang tenang usai mengatakan hal tersebut.

"Udah Ren. Mending loe istirahat aja. Kamar loe yang disana yah." Reja melirik kamar yang ada di bagian paling ujung. Varren berdehem pelan dan melangkah menjauh.

Saat Varren jauh Reja melirik pak ketua mereka yang menatap Varren menjauh dingin. "Pak ketua jangan gitulah sama anak baru. Dia nggak nyaman nanti." jelas Reja dengan ketuanya pelan.

Sylas mendengus lalu melangkah ke kamarnya lagi. "Jangan berisik. Atau kalian gue tendang dari sini." tegasnya pada keduanya. Reja dan Tavian saling lirik dan menggeleng. Pak ketua mereka memang sangat dingin.

---

Varren menghela napas pelan memasuki kamarnya. Ia mendengus kesal mengingat Sylas yang bersikap begitu. Tapi ngomong-ngomong jika Varren dinobatkan pangeran sekolah, Sylas apa yah? Haha sebab wajah Sylas jauh lebih tampan darinya. Rahang tegas, mata tajam dengan alis rapinya. Bulu mata lentik yang terlihat jelas meskipun jauh. Tapi , Reja dan Tavian tak kalah tampan.

Varren menyisir rambutnya ke belakang. Menatap sekeliling kamarnya. Tidak terlalu besar, hanya ada kasur, lemari kecil, meja belajar dan juga lampu tidur. Tapi ini sangat nyaman karena kamarnya ada AC, ada kamar mandi sendiri juga disini. Varren menata semua barannya untuk ia siap besok. Besok dirinya sudah mulai masuk MOS.

---

Pagi-pagi Varren sudah siap dengan seragamnya. Pelan Varren meraba dadanya yang tepos, agak meringis pelan, ia harus mengikat dadanya menggunakan korset yang ia siapkan. Untunglah dirinya tepos jadi tidak terlalu sesak atau memaksakan diri.

Varren keluar dengan santai, menutup pintu dan segera keluar.

"Buset. Varren loe nggak pake perlengkapan MOS?" tanya Reja melihat Varren yang tak menggunakan peralatan MOS.

Varren melirik mereka dan menarik bahu acuh. Segera menatap makanan di atas meja. "Wah makanan siapa nih?" tanya Varren.

"Pak bos. Disini ada kantin buat kita, cuma harus ngambil kebawah. Ini dipesen pak bos kalo mau makan aja." jelas Reja kepada Varren.

Varren melirik Sylas yang duduk tenang disana tak meliriknya, dingin. "Nggak. Makasih." jelas Varren lalu keluar dari kamar meninggalkan mereka.

Reja melirik Sylas yang diam saja. "Dipikir pak bos nggak ngasih kali. Makanya dia nggap mau. Pak bos si diem aja. Liat dia jadi nggak sarapan bareng kita." jelas Reja kesal pada Sylas. Sylas menarik alisnya bingung menatap Reja yang malah kesal padanya.

"Iya. pak bos diem aja. Berarti dia beretika. Kalo yang punya nggak ngasih dia nggak bakal mau." jelas Tavian melahap cepat pizza ke dalam mulutnya. "Skuy lah kita pergi. Nanti kita telat." jelasnya kepada teman-temannya yang masih asik saling salah.

Varren menghela napas pelan, melirik pintu kamar mereka dengan lamban. Dirinya tau aturan juga, Sylas saja terlihat tak memandangnya ada, mana mau dia. Varren segera melangkah menuju kantin sekolah untuk mengisi perutnya pelan.

"Kiw kiw. Cantik..!!!"

Sial.

Bahkan dirinya menjadi laki-laki saja masih ada saja yang menggoda begitu.

Varren melirik tajam lelaki yang menggoda. "Gue laki." tegas Varren.

"Anj..." Mereka melotot melirik Varren. "Woh santai bro hehe, kirain ewek. Soalnya cantik." jelas ketuanya dengan pelan kepada Varren. Sebab suara Varren sangat ngebas dan berat.

Varren mendesis lalu mendekati mereka. "Kantin dimana bro? Gue laper nih." jelas Varren pelan memegang perutnya.

Mereka melirik Varren meringis. "Dibawah. Kalo mau bareng aja. Kita juga belum sarapan." jelasnya pelan. Lelaki berbadan sangat besar dan kekar itu mengangguk. Mereka bertiga dan Varren paling kecil di antaranya. Sehingga Varren seperti diapit oleh titan-titan saja.

"Btw kenalin nama gue Varren, nama kalian siapa?" tanya Varren memperkenalkan diri.

"Nama gue Ayub." jelas yang paling kekar dan manis tersenyum.

Varren mengangguk menatap kedua temannya. "Gue Brayen." jelas yang paling putih, mata sipit dan berlesung pipi, dia paling tampan.

"Gue Bastian." jelas salah satu berbadan berisi dan juga berperawakan biasa saja. Varren tersenyum mengangguk. Baik mereka akan menjadi temannya untuk hari berikutnya.

Yah, Varren tidak pernah kesusahan memiliki teman di manapun dirinya berada.

Bersambung...

Hari Pertama..

"Varren..!" Varren celingak-celinguk di kelasnya menatap orang memanggil namanya.

Reja dan Tavian melambaikan tangan semangat. "Sini duduk sini aja!" teriak Reja menunjuk kursi yang masih kosong di depan mereka.

Varren melirik orang-orang yang menatapnya. Segera Varren duduk di kursi kosong. "Loe perasaan tadi duluan ke kelas, kenapa jadi paling lama?" tanya Reja saat Varren sudah duduk di bangkunya.

Varren meliriknya dan mengusap perutnya. "Gue ngasih anak-anak gue makan dulu." jelas Varren.

"Si anj, dikira hamil," bisik Tavian membuat Varren terkekeh. "Anak-anak cacing gue." jelas Varren.

"Loe cacingan?" Reja bertanya tapi berteriak membuat Varren ditatap semua orang.

Varren tercegang menatap malas Reja. "Pernah di lempar dari lantai tiga belom?" tanya Varren mendesis.

Reja menciut menatap Varren yang melotot tajam padanya. "Berjanda gue berjanda. Yatuhan." gumam Varren mendesis lalu menyandarkan tubuhnya.

"Bercanda bege!!!" kepalanya di jitak oleh Tavian di sebelahnya membuat Reja meringis. Varren segera menatap kedepan saja malas melanjutkan perdebatan.

Di sisi lain ada Sylas yang diam saja menatap Varren dingin. Kelas ini memang bangkunya dipisah satu orang hanya di isi satu orang, jadi baik Sylas, Tavian dan juga Reja mereka duduknya sendiri-sendiri. Yang paling belakang ada Sylas, di depan Sylas ada Reja dan di sebelah Reja ada Tavian. Di depannya ada Varren, dan Varren berada di baris ke tiga dari depan dan kedua bagian belakang.

Sesaat setelahnya beberapa kakak tingkat masuk dengan menggunakan baju khas kebanggaan OSIS menatap tajam seluruh murid yang ada di kelas. Kelas yang berisi dua puluh lima orang diam menatap OSIS-OSIS yang datang.

"Silahkan taro tasnya di atas meja..!" tegas salah satu OSIS laki-laki kepada semua murid yang ada di dalam kelas.

Varren berdiam dan melipatkan tangan di depan dada. Saat semua OSIS sedang merazia murid, sekolah ini tidak boleh ada yang membawa beberapa peralatan, salah satunya seperti make up dan juga HP. Itu terjadi saat MOS saja, saat tidak MOS boleh membawa HP tapi tidak dengan make up.

"Mana tas loe?" tanya OSIS laki-laki di hadapan Varren tegas.

Varren meliriknya tak minat. "Gue nggak bawa tas." tegas Varren pelan.

OSIS laki-laki bernama Bimo itu menatap Varren nyalang. "Jangan bohong. Mana tas loe gue tanya?" tegas Bimo kepada Varren.

Varren mengusap telinganya pelan melirik Bimo yang berteriak di dekat telinganya. Dipikir keren apa bersikap begini? batin Varren. "Gue nggak bawa tas." tegas Varren lagi, kali ini lebih pelan dari sebelumnya.

"Jadi loe ke sekolah bawa apa kalo nggak bawa tas ha??? Bawa dengkul doang?" tanya Bimo keras kepada Varren. Semacam sudah memiliki dendam saja.

Varren meliriknya dingin. "Mending lo sikat gigi dulu lagi deh dibanding ngurusin hidup gue." tegas Varren kepada Bimo di sebelahnya.

Bimo terlihat tidak terima menatap Varren lebih tajam. "Anak baru udah belagu. Mentang-mentang ganteng loe yah..!!!" tegas Bimo memukul keras meja Varren yang berada di hadapannya.

"Makasih udh muji gue..." ujar Varren tersenyum miring.

Reja dan Tavian melihatnya menatap Varren meringis pelan. Semua murid bahkan sekarang melihat mereka.

"Bimo ada apa ini?" tanya salah satu OSIS lain, lebih dingin dan beraura tajam. Bisa dilihat Varren yakni dia ketua OSIS. Varren menatap tajam nama yang di almamater biru dikenakannya. Revo. Uh seperti nama motor, batinnya pelan.

"Ini Rev. dia nggak bawa tas." tegas Bimo kepada Revo mengadu.

Revo menatap Varren dingin tapi terdiam sejenak. "Loe nggak bawa tas?" tanyanya pelan.

Varren berdehem mengangguk. "Gue nggak bawa tas atau bawa tas itu bukan urusan kalian yah. Lagi pula sebelumnya juga nggak ada tu peraturan harus bawa tas." tegas Varren dengan dagu yang terangkat kesal.

Bimo dan Revo menatap Varren dingin. "Belagu banget loe baru anak baru juga. Nggak ada etitutnya loe yah." tegas Bimo kepada Varren dingin.

Varren meliriknya dengan malas. "Ngapain gue beretitut sama loe? Gue salah dimana emang ha? Yang teriak siapa yang marah-marah siapa. Selagi gue nggak ngelanggar aturan gue nggak takut sama loe." tegas Varren dingin. Varren bukan orang yang mau berurusan sama orang lain, tapi jika orang lain berurusan dengannya dirinya tidak masalah.

Brak. Bimo mengepak meja kembali di hadapan Varren. "Loe nggak bawa tas udah langgar aturan."

"Kasih tunjuk gue mana aturannya yang ngelarang murid nggak bawa tas? Gue mau lihat." tegas Varren kepada Bimo yang masih menatapnya tajam dan tidak suka.

Bimo menunjuk wajah Varren dengan telunjuknya. Revo menarik tubuh Bimo menjauh. "Udah Mo." jelasnya tegas.

"Dia anak belagu. Harus dikasih ultimatum Rev. Kalo nggak bisa-bisa mijak kepala." tegas Bimo kepada Revo. Varren mencibir dalam batin mendengarnya. Bilang saja tidak mau disalahkan.

Revo melirik Varren dingin. "Peralatan MOS kamu dimana?" tanya Revo mencari lagi alasan agar temannya kembali tidak disalahkan.

Varren meliriknya tersenyum sinis. "Ah iya. Mana peralatan MOS loe? Nggak liat loe orang bawa peralatan MOS ha?" tanyanya tegas kepada Varren lagi. Kali ini ia seperti menang jackpot besar untuk mengalahkan argumen Varren.

Varren mengeluarkan surat dari kantungnya di atas meja. Bimo dan Revo melirik kertas tersebut dan membacanya. Varren dinyatakan bebas dari MOS untuk tiga hari mendatang untuk persiapan lomba debat bahasa Inggris yang diadakan dua minggu lagi. "Udah kan? Sana pergi. Bikin muak aja." tegas Varren di sana kesal melihat keduanya.

Revo dan Bimo menatap Varren lebih dingin, tapi tidak bisa dipungkiri mereka kalah. Ada rasa malu di dada Bimo tapi ia tidak lagi banyak bicara selain diam menatap lamban Varren.

Varren yang ditatap begitu lamban dan dalam melirik Bimo. "Nggak usah liat-liat gitu. Naksir tau rasa." bisik Varren pelan mengedipkan matanya.

"Najis." jelas Bimo segera pergi. Varren malah terbahak melihat Bimo menjauh dengan wajah merah padam. Tau bukan salting tetapi lebih ke kesal karena kalah.

Varren melirik lagi ke arah Revo yang berdiri di sana melihat Varren lebih lama. "Kenapa??? Mau minta dansos?" tanya Varren lagi meremehkan.

Revo segera melirik Varren sinis. "Lain kali mulut di jaga." bisiknya dan segera pergi.

"Besok deh gue beli anjing buat jagainnya." teriak Varren. Revo menjauh mengepalkan tangan. Apalagi mendengar tawa dari Varren yang terdengar jelas. Ditambah beberapa anak kelas ikut tertawa. Kali ini mereka malu karena Varren.

"Njir hari pertama cari masalah si anjirr..!" bahu Varren ditepuk oleh Reja.

Varren melirik Reja. "Dia ngeselin, datang-datang nggak ucap salam tiba-tiba razia. Dikira dia doang nggak punya etitut. Gue juga bisa kali." jelasnya sinis. Reja dan Tavian saling lirik dan menggeleng.

Mereka pikir Varren ini anak yang kalem. Rupanya kebalikannya.

Sylas di belakang sekali memandang lamban Varren yang masih selonjoran kaki dan bersandar di kursi. Ada secarik senyum miring yang ia sematkan di bibirnya. Ia menatap lamban tangannya yang terasa masih lembut sentuhan Varren. Ia pikir Varren perempuan. Ternyata salah. Dia benar-benar seorang pria.

---

Setelah kelas selesai, mereka semua diarahkan ke lapangan untuk memulai MOS. Para senior sudah menunggu dengan ekspresi galak.

"Perhatian!" suara Revo menggema. "Kalian akan menghadapi berbagai tantangan! Dan ingat, tidak ada yang boleh menolak perintah senior!"

Varren berdiri di barisan dengan santai, tangannya tetap di saku celana. Revo menatapnya tajam—masih dendam dengan kejadian di kelas tadi.

"Kamu!" tunjuk Revo pada Varren. "Push-up lima puluh kali! Sekarang!"

Varren mengangkat satu alis. "Lima puluh? Itu aja?" ucapnya pelan, tapi cukup keras untuk didengar.

Revo memerah. "APA KAMU BILANG?! PUSH-UP! SEKARANG!"

Varren menghela napas, lalu menurunkan tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia mulai melakukan push-up. Satu, dua, tiga—hitungannya cepat dan stabil. Reja menutup mulutnya menahan tawa. Tavian hanya menggeleng.

Sampai hitungan kelima puluh, Varren berdiri kembali dengan wajah datar, tidak sedikit pun berkeringat.

"Selesai," katanya. "Ada tantangan lain, Ketua?"

Revo mengepalkan tangan. "KAMU—nyanyi!

Varren menatap Revo sebentar, lalu tersenyum miring. "Nyanyi? Lagu apa?"

"TERSERAH!"

Dengan tenang, Varren mulai bersenandung. Lagu anak-anak, dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Beberapa siswa baru terkekeh. Senior-senior lainnya saling melirik bingung.

Revo benar-benar tidak bisa berkata-kata. "Kau… kau sungguh keterlaluan!"

"Gue cuma ngikutin instruksi."

Sylas dari barisan depan menatap Varren dengan tatapan sulit dibaca. Ada sesuatu di balik tatapan dinginnya—mungkin kekaguman, mungkin rasa penasaran.

---

MOS berlanjut dengan tantangan berikutnya. Kali ini tantangan berpasangan.

"Pasangan akan kami tentukan dengan undian!" teriak senior di panggung.

Nama-nama mulai dipanggil. Reja dipasangkan dengan Tavian—mereka berdua langsung tertawa lega. Sylas dipasangkan dengan Farhan, yang tampak gugup di dekatnya.

Varren menunggu dengan tenang.

"Dan pasangan berikutnya… Varren Lucien Kaelor dengan—"

Drum roll kecil.

"—Celine Aurelia Wijaya!"

Varren membeku.

Celine?

Dari kerumunan, seorang gadis cantik melangkah keluar. Rambut panjang hitam pekatnya tergerai indah, seragam putih abu-abunya dikenakan sempurna. Matanya langsung mencari Varren—dan ketika bertemu, senyumnya melebar.

"Varren!" seru Celine gembira. "Aku tidak tahu kamu di sini! Sungguh kejutan yang menyenangkan!"

Varren terdiam. Kenapa dia ada di sini? Apa ini rencana mama?

"Varren?" Celine mendekat. "Kamu baik-baik saja?"

"Gue baik," jawab Varren datar. "Kita selesaikan tantangan ini dulu."

Celine tersenyum patuh. "Baik, Sayang."

Varren hampir tersedak. Reja dan Tavian saling melirik dengan tatapan penuh selidik. Sylas dari kejauhan memperhatikan dingin.

Tantangan mereka: membawa telur di sendok sambil melewati rintangan. Varren melakukannya dengan cepat dan stabil. Celine berusaha mengikuti, tapi beberapa kali hampir terjatuh. Varren buru-buru menangkapnya.

Celine tersenyum malu. "Maaf, Varren. Aku gugup dekatmu."

Varren tidak menjawab. Ia hanya terus bergerak maju, menjaga jarak di antara mereka.

Mereka berhasil menyelesaikan tantangan. Celine bersorak kegirangan. "Kita berhasil, Varren! Aku senang banget!"

Varren hanya mengangguk. "Ya."

Celine terus menempel, berbicara tentang betapa ia merindukan Varren, betapa ia sudah mempersiapkan masa depan mereka. Varren mendengarkan dengan setengah hati.

Reja mendekati Varren. "Ren, lo..."

"Nanti," potong Varren cepat. "Gue jelasin nanti."

Tapi Celine telah mendekat. "Varren, aku tahu kamu masih sulit terbuka, tapi aku sabar." Ia menggenggam tangan Varren.

Varren menatap tangan Celine yang menggenggamnya. Rasanya aneh. Salah.

Varren menarik tangannya perlahan. "Cel... nanti ya. Gue masih ada urusan."

Celine tampak kecewa, tapi tetap tersenyum. "Baik, Sayang."

Varren berbalik dan melangkah cepat. Ia hanya ingin menjauh.

Di kejauhan, Sylas menatap Varren dengan tatapan sulit dibaca. Matanya mengikuti sosok Varren yang menjauh, lalu beralih ke Celine yang masih tersenyum manis.

Apa hubungan mereka sebenarnya?

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!