Suasana ruang tengah malam itu sebenarnya cukup santai. Di meja, secangkir teh hangat beradu dengan sepiring cemilan malam rendah kalori, karena memang keluarga Pak Broto sangat menjaga kesehatan
Arsen sedang asyik memeriksa ponselnya, sementara Pak Broto sibuk membolak-balik koran sore.
Rindu baru saja duduk setelah menyelesaikan cucian piring di dapur, bergabung dengan Dinda yang sedang selonjoran di sofa panjang.
Bu Ratna menyesap tehnya perlahan, meletakkan cangkir itu hingga menimbulkan bunyi yang memecah keheningan. Tatapannya menyapu ruangan, sebelum akhirnya mendarat pada Rindu, lalu beralih ke langit-langit seolah sedang menerawang.
"Ya ampun, Ibu tiba-tiba ingat kejadian siang tadi waktu arisan di restoran biasa. Ibu tidak sengaja ketemu sama Jeng Linda, teman kuliah Ibu dulu. Pangling sekali Ibu melihatnya. Auranya itu, lho... segar, berseri-seri betul."
Pak Baskoro hanya bergumam kecil tanpa mengalihkan pandangan dari korannya. Arsenio mendongak sedikit, memberikan perhatian kepada ibunya.
"Oh, Tante Linda yang dulu pernah tinggal di Bandung itu ya, Ma?"
"Nah, iya, betul! Kamu masih ingat ternyata. Tadi itu dia sedang menggendong bayi, lucu sekali, putih, montok. Ibu tanya, Jeng, ini anak siapa?' Eh, dia langsung tertawa bangga sekali. Katanya, itu cucunya'"
Bu Ratna sengaja menjeda kalimatnya. Ia membetulkan posisi duduknya, bersandar dengan anggun seraya melirik Rindu yang mulai menata senyum formal di wajahnya.
Rindu tahu ke mana arah pembicaraan ini. Instingnya sebagai menantu selama tiga tahun terakhir tidak pernah meleset.
"Jeng Linda itu cerita, anaknya baru menikah setahun lalu. Hebatnya, sebulan setelah resepsi langsung berbadan dua. Tokcer betul! Istilahnya kalau orang dulu bilang, subur tanpa drama. Begitu menikah, langsung jadi. Jeng Linda bilang rumahnya sekarang ramai sekali, berisik suara tangisan bayi tapi bikin hati senang. Katanya, lengkap sudah kebahagiaan dia sebagai wanita tua."
Dinda, yang sejak tadi menyimak sambil mengunyah cemilan, langsung menimpali tanpa beban.
"Wah, cepat banget ya, Ma. Zaman sekarang kan jarang yang langsung hamil sebulan setelah nikah. Tapi, saudara teman-temannya Dinda juga begitu si, cuman hitungan bulan langsung hamil."
"Ya itu dia, Dinda. Makanya Ibu bilang ke Jeng Linda, dia beruntung sekali. Dapat menantu yang... ya, ibarat tanah itu, tanah yang gembur dan subur. Ditanam benih langsung tumbuh subur. Tidak perlu pupuk mahal-mahal, tidak perlu bolak-balik ke dokter kandungan buat program ini-itu yang habis-habisin duit."
Kata-kata Bu Sarah meluncur bagai anak panah yang dilapisi madu. Terdengar seperti pujian untuk orang lain, namun ujungnya menghujam tepat ke jantung Rindu. Kamar tengah seketika terasa lebih dingin. Arsen mulai merasa tidak nyaman, ia melirik istrinya yang kini meremas pelan jemarinya sendiri di atas pangkuan.
"Mama jadi mikir, ya... Pernikahan itu kalau sudah masuk tahun ketiga, tapi rumah masih sepi, rasanya ada yang kurang. Uang banyak, karier bagus, tapi kalau belum ada tangisan bayi, rumah itu rasanya kayak kuburan. Dingin. Jeng Linda tadi sampai kasihan sama Mama, dia nanya, Ratna, kamu kapan nimbang cucu dari anak pertamamu? Kan dia sudah lama nikahnya. Ibu cuma bisa senyum kecut, bingung mau jawab apa." Ujar Bu Ratna menatap langsung ke arah Rindu dengan senyum tipis.
Rindu menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar. Udara di ruangan itu mendadak terasa begitu pekat dan menyesakkan.
Rindu merasakan tenggorokannya mendadak kering. Sindiran Bu Ratna malam ini terasa jauh lebih tajam dari biasanya, langsung menusuk ke titik paling sensitif dalam hidupnya.
Tiga tahun membina rumah tangga dengan Arsen bukanlah waktu yang singkat untuk terus-menerus menelan pil pahit berupa tuntutan tak kasat mata ini.
Dia melirik Arsen, berharap suaminya itu akan membuka suara. Namun, Arsen hanya menatap cangkir tehnya dengan pandangan lurus, tampak serba salah dan enggan memicu perdebatan lebih lanjut dengan ibunya.
Pak Broto pun masih bersembunyi di balik lembaran koran sorenya, seolah-olah halaman berita politik jauh lebih menarik daripada ketegangan yang sedang mendidih di ruang tengahnya sendiri.
Rindu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, tipe senyuman yang biasa ia gunakan untuk menutupi rasa terluka.
"Ikut senang mendengarnya, Mah. Berkah sekali untuk Tante Linda dan keluarganya. Memang rezeki setiap orang kan berbeda-beda, ya, Mah. Ada yang cepat, ada juga yang harus diminta bersabar sedikit lebih lama."
Suara Rindu terdengar lembut namun tegas, berusaha menjaga martabatnya di depan seluruh anggota keluarga besar itu. Namun, Bu Ratna tampaknya belum puas sebelum melihat menantunya itu benar-benar tersudut.
"Ya memang rezeki itu beda-beda, Rindu. Tapi kalau tidak dijemput dengan usaha yang benar, ya bagaimana mau datang? Mama ini bukannya mau membanding-bandingkan, tapi sebagai orang tua, Mama juga punya rasa maklum kalau ditanya teman-teman sebaya. Ibu-ibu di komplek sebelah saja yang menantunya baru menikah sudah sibuk beli baju bayi. Lah, Mama? Tiap ditanya orang, cuma bisa bilang belum dikasih."
Bu Ratna menghela napas panjang, sengaja mendramatisasi suasana dengan nada suara yang dibuat seolah-olah dia adalah pihak yang paling menderita.
"Arsen ini kan anak laki-laki Mama satu-satunya. Harapan Mama besar sekali sama dia untuk meneruskan nama keluarga. Dinda kan perempuan, besok kalau menikah ya ikut suaminya. Makanya, Mama itu berharap banyak sama kamu, Rindu."
Dinda memutar bola matanya sedikit, lalu kembali sibuk dengan ponselnya, merasa suasana ruangan sudah mulai terlalu panas bahkan untuk sekadar ditonton.
Arsen yang merasa namanya disebut-sebut dan tidak tahan lagi melihat istrinya terus dipojokkan, akhirnya meletakkan ponselnya ke meja dengan ketukan yang agak keras.
"Mah, sudahlah. Kan Arsen dan Rindu sudah pernah bilang, kami berdua juga sudah berusaha. Kami juga rajin cek ke dokter. Dokter bilang kami berdua sehat-sehat saja, cuma memang butuh waktu dan jangan sampai stres. Jadi tolong, Mah, jangan dibahas terus setiap kita lagi kumpul seperti ini. Kasihan Rindu."
Mendengar pembelaan dari anak lelakinya, air muka Bu Ratna langsung berubah ketus. Ia merasa otoritasnya sebagai seorang ibu sedang dipertanyakan.
"Lho, Arsen, Mama ini bicara begini karena Mama peduli, karena Mama sayang sama kalian! Kok kamu malah menyalahkan Mama? Dokter mana yang kamu datangi? Jangan-jangan dokternya yang kurang pintar. Kalau kalian sehat, tidak mungkin sudah tiga tahun kosong begini. Zaman sekarang itu banyak opsi, tapi kalau kamunya santai-santai saja, ya kapan mau jadi?"
Suasana di ruangan itu kini benar-benar mendingin. Pak Broto akhirnya menurunkan korannya sedikit, melirik sekilas ke arah istrinya seolah memberi kode untuk berhenti, namun Bu Ratna telanjur dikuasai ego.
Rindu hanya bisa menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan erat. Di balik senyum formal yang mati-matian ia pertahankan, ada sebentuk luka yang menganga lebar malam itu.
Pintu kamar tertutup dengan pelan,
Rindu berjalan mendekati meja rias, melepas jepit rambutnya, lalu mulai membersihkan sisa riasan tipis di wajahnya.
Gerakannya sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihujani sindiran tajam.
Arsen berdiri di dekat tempat tidur, menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah yang kentara. Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Rindu, menatap pantulan wajah istrinya dari cermin.
"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan? Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati ya, perkataan Mama tadi. Kamu tahu sendiri kan Mama kalau sudah telanjur bicara, kadang suka lepas kendali. Maksud Mama sebenarnya tidak bermaksud jahat kok, cuma..."
Arsen menjeda kalimatnya sendiri, merasa pembelaannya terdengar hambar dan klise di telinganya sendiri.
Rindu menghentikan usapan kapas di wajahnya sejenak. Ia menatap pantulan mata Arsen di cermin, lalu membalikkan badan menghadap suaminya. Ia memegang tangan Arsen yang berada di bahunya.
"Tidak apa-apa, Mas. Sungguh. Nanti setelah bangun tidur besok, aku pasti sudah melupakannya kok. Kamu tenang saja." Katanya.
"Lagipula, aku kan memang sudah terbiasa dengan hal itu, Mas. Ini bukan pertama kalinya Mama bicara begitu, kan? Tiga tahun ini sudah cukup membuat telingaku tebal."
Rindu melepaskan tangan Arsen, lalu berjalan menuju tepi ranjang dan mendudukkan diri di sana. Ia menatap lantai kamar dengan pandangan kosong, menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya yang paling jujur.
"Dan setelah aku pikir-pikir, mama ada benarnya juga, Mas. Aku juga sadar diri. Sebagai perempuan, ini memang salahku. Salahku karena sampai sekarang belum bisa memberikan cucu untuk Mama dan Papa. Belum bisa menjaga harapan keluarga ini."
"Sayang, kenapa kamu bicara begitu? Ini bukan salah siapa-siapa. Dokter kan sudah bilang kita berdua bisa terus berusaha."
Arsen menghela napas panjang, lalu ikut merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang kosong. Ia bergeser mendekat, merapatkan tubuhnya ke punggung Rindu, lalu melingkarkan lengannya di pinggang sang istri. Ia bisa merasakan tubuh Rindu yang sempat menegang sejenak sebelum akhirnya kembali relaks.
"Jangan pernah bilang kalau ini kekuranganmu. Menikah itu urusan kita berdua. Kalau ada yang belum sempurna, itu adalah proses kita berdua, bukan salahmu sendiri. Aku yang suamimu saja tidak pernah menyalahkanmu, jadi tolong, jangan hukum dirimu sendiri dengan pikiran seperti itu."
Arsen mengecup pundak Rindu dengan lembut, menyalurkan seluruh rasa bersalah dan cinta yang tak mampu ia bahasakan sepenuhnya. Tangan Rindu perlahan bergerak ke bawah, menyentuh jemari Arsen yang melingkari perutnya, menggenggamnya erat.
****
Sesuai ucapannya semalam, Rindu bangun dengan wajah yang tampak segar, seolah mendung semalam telah luruh bersama pekatnya malam.
Mengenakan daster rumahan dan rambut yang dicepol rapi, ia sudah sibuk di dapur memotong sayuran untuk sarapan.
Langkah kaki yang terseret pelan menandakan kehadiran Bu Ratna masuk ke area dapur. Rindu langsung menoleh dan menyapa mertuanya dengan memasang senyum ramah yang biasa.
"Selamat pagi, Mah. Ini Rindu sedang buat sup ayam sayur. Mama mau kopi atau teh hangat pagi ini? Biar sekalian Rindu buatkan."
"Teh hangat saja, gulanya sedikit. Oya, supnya jangan terlalu asin, Papa semalam tensinya agak tinggi."
"Iya, Ma. Supnya Rindu buat agak hambar nanti," jawab Rindu lembut, tangannya kembali cekatan mengiris wortel, sebelum meninggalkannya sebentar untuk membuat teh.
Bu Ratna tidak langsung pergi. Beliau bersandar di dekat konter dapur, sambil memperhatikan gerak-gerik menantunya.
Ada keheningan yang sempat menggantung sebelum Bu Ratna kembali berdeham, memecah kesunyian dengan nada suara yang, meski tidak setajam semalam, tetap terasa menuntut.
"Rindu, soal ucapan Mama semalam, kamu jangan lebay sampai sampai merengek pada Arsen, ya. Mama bicara begitu kan karena peduli. Umur kalian itu sudah tidak muda lagi untuk ukuran rumah tangga."
Gerakan Rindu menuang air panas ke gelas sempat tertahan. Detak jantungnya serasa melompat, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia menarik napas dalam-dalam melalu hidung, lalu mengembuskannya perlahan sebelum berbalik menghadap mertuanya sembari mengulas senyum tipis.
"Tidak kok, Ma. Rindu tidak merengek ke Mas Arsen. Mama tenang saja," ucapnya tenang.
"Rindu tahu Mama hanya ingin yang terbaik untuk kami."
Bu Ratna tampak sedikit terkejut dengan reaksi Rindu yang begitu tenang, seolah semua sindiran pedas semalam menguap begitu saja tanpa bekas. Sebelum Bu Ratna sempat menanggapi lagi, langkah kaki Arsen yang terdengar mendekati dapur.
"Pagi, Ma. Pagi, Sayang," sapa Arsen, langsung mengecup pelipis Rindu sekilas sebelum mengambil posisi duduk di meja makan.
Matanya sempat melirik bergantian antara ibu dan istrinya, mencari-cari tanda ketegangan. Namun, melihat Rindu yang sedang menuangkan teh hangat ke cangkir Bu Ratna dengan tangan yang stabil, Arsen bisa sedikit bernapas lega.
"Ini tehnya, Ma," Rindu meletakkan cangkir itu di hadapan Bu Ratna, lalu beralih mengambilkan segelas air putih untuk suaminya.
"Terima kasih, Sayang," ujar Arsen hangat, menggenggam jemari Rindu sekilas di bawah meja, menyalurkan rasa terima kasih yang mendalam atas ketegaran istrinya pagi ini.
Rindu hanya membalasnya dengan kerlingan mata jenaka, seolah ingin meyakinkan suaminya bahwa badai semalam benar-benar telah berlalu, atau setidaknya, telah ia kunci rapat-rapat di dalam hatinya demi kedamaian rumah ini.
Bu Ratna menyesap tehnya sedikit, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya dengan denting halus yang memutus keheningan.
"Ya sudah, Mama mau bangunkan Papa dulu. Jangan lupa supnya segera dihidangkan kalau sudah Mateng, Arsen harus berangkat kerja, kan?"
"Iya, Ma. Sebentar lagi matang kok," jawab Rindu sopan.
Begitu sosok Bu Ratna menghilang di balik lorong menuju kamar utama, ketegangan yang sempat menyelimuti dapur itu perlahan mencair.
Arsen segera berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Rindu yang kembali sibuk mengaduk sup di atas kompor. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Rindu dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Kamu hebat banget pagi ini. Terima kasih ya, Sayang," bisik Arsen lembut, menyapukan kecupan singkat di pipi Rindu.
Rindu terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu dramatis.
"Hebat kenapa? Cuma masak sup sama buat teh saja dibilang hebat. Sudah, Mas, lepas dulu, aku susah gerak ini."
Arsen melonggarkan pelukannya tetapi tidak benar-benar menjauh. Ia membalikkan tubuh Rindu agar menghadapnya.
"Bukan soal supnya. Soal Mama. Aku tahu tidak mudah bagi kamu untuk bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa."
Rindu menatap mata suaminya yang penuh dengan binar kecemasan sekaligus rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang. Ia meraih kedua tangan Arsen, menggenggamnya erat sembari memberikan senyuman terbaiknya.
"Mas, kita sudah bahas ini semalam, kan? Aku tidak apa-apa. Lagipula, apa yang dibilang Mama tadi ada benarnya, beliau hanya khawatir. Dan aku tidak mau memulai hari dengan menyimpan dendam atau cemberut. Itu cuma bakal merusak suasana rumah, dan aku tidak mau kamu berangkat kerja dengan pikiran yang terbebani. Lagipula, pernikahan kita ini bukan baru berjalan tiga bulan, mas. Kita sudah menikah tiga tahun, masa aku masih seperti menantu baru."
Arsen terdiam, menatap lekat-lekat wanita di depannya. Ada rasa kagum yang membuncah di dadanya melihat kedewasaan Rindu, namun di sisi lain, ada secercah rasa perih karena ia tahu, istrinya sedang melapisi hatinya dengan tameng yang sangat tebal demi menjaga perasaan semua orang.
"Aku beruntung banget punya kamu, Rindu," ujar Arsen tulus, lalu mengecup kening istrinya lama.
"Iya, aku tahu aku memang berharga," gurau Rindu sambil mengedipkan sebelah matanya, berusaha memecah keharuan yang mulai merayap.
"Sekarang, bantu aku bawa mangkuk sup ini ke meja makan sebelum Papa dan Mama keluar. Oke?"
Arsen tertawa kecil, rasa hangat menjalar di hatinya.
"Siap, Nyonya Arsen."
Aroma kopi yang pekat dan petikan gitar akustik yang memutar lagu indie memenuhi sudut kafe estetik di kawasan Jakarta Selatan itu.
Di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan kota, Nia melambaikan tangannya dengan heboh begitu melihat sosok yang dicarinya berjalan mendekat.
"Rindu! Sini!" seru Nia setengah berbisik, takut mengganggu pengunjung lain.
Rindu tersenyum lebar, mempercepat langkahnya dan langsung menjatuhkan diri di kursi empuk di depan sahabatnya sejak zaman kuliah itu.
"Hai, Maaf ya, agak telat. Tadi jalanan agak tersendat di lampu merah depan."
"Santai saja, Rin. Aku juga belum lama sampai kok. Nih, aku sudah pesankan iced americano kesukaanmu, dan triple chocolate cake buat kita berdua," kata Nia sambil menggeser cangkir kaca ke hadapan Rindu.
"Duh, peka banget! Tahu saja kalau aku butuh kafein dosis tinggi hari ini," ujar Rindu tertawa kecil, langsung menyesap kopinya dengan nikmat.
Nia mengamati wajah sahabatnya itu lekat-lekat. Sebagai orang yang sudah tumbuh bersama Rindu lama, Nia tahu persis arti dari setiap lengkungan senyum dan sorot mata Rindu.
"Rin," Nia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Rindu menyelidik.
"Kamu tidak bisa bohongi aku ya. Senyummu itu, senyum formalitas. Ada apa? Mertuamu berulah lagi?"
Rindu yang baru saja hendak menyuap potongan coklat cakenya langsung tertegun. Ia meletakkan kembali garpunya sambil menghela napas panjang, sadar bahwa benteng pertahanannya selalu runtuh jika berhadapan dengan Nia.
"Kelihatan banget, ya?" tanya Rindu lirih.
"Banget, Rindu. Di dahi kamu itu kayak ada tulisan aku sedang menahan beban hidup. Cerita sini, semalam ada kejadian apa?" desak Nia, suaranya melembut, penuh dengan empati seorang sahabat.
Rindu mengaduk-aduk es batu di dalam gelasnya, membiarkan bunyi denting kaca mengisi jeda di antara mereka.
"Biasalah, Ni. Mama mulai lagi soal anak. Tapi kali ini agak lebih tajam." Rindu tersenyum pahit.
"Mama bahkan membanding-bandingkan aku dengan anak temannya yang langsung hamil setelah nikah."
Nia berdecak kesal, tangannya mengepal di atas meja.
"Astaga... kok bisa-bisanya sih bicara begitu? Mereka pikir bikin anak itu kayak bikin nyeduh mi instan apa. Kamu sama Arsen kan sudah usaha, sudah ke dokter juga. Lagian, Arsen pembelaannya gimana?"
"Arsen baik sekali, Ni. Dia selalu bela aku, bahkan semalam dia merasa bersalah sampai minta maaf berkali-kali. Justru karena Arsen sebaik itu, aku jadi merasa makin bersalah." Kata Rindu, pandangannya dialihkan ke luar jendela.
"Kadang aku mikir, apa emang benar ini salahku ya? Tiga tahun, Ni. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar buat menanti."
Nia langsung meraih tangan Rindu di atas meja, menggenggamnya dengan sangat erat.
"Rin, dengar aku," kata Nia tegas namun lembut, memaksa Rindu untuk kembali menatap matanya.
"Jangan pernah sedetik pun kamu berpikir ini salahmu. Kamu itu perempuan yang hebat, istri yang luar biasa buat Arsen. Anak itu rezeki yang waktunya sudah diatur sama Tuhan, bukan tolok ukur kesuksesan kamu sebagai wanita. Jangan biarkan ucapan mertuamu meracuni pikiranmu sendiri."
Mendengar kalimat tulus dari Nia, pertahanan Rindu akhirnya runtuh. Setitik air mata lolos dari sudut matanya, namun ia segera menghapusnya dengan cepat sambil tertawa getir.
"Tuh kan, kalau ketemu kamu pasti ujung-ujungnya aku jadi cengeng begini."
"Tidak apa-apa, tumpahin saja semuanya di sini. Di depan Arsen kamu boleh jadi istri yang tegar, tapi di depan aku, kamu tetap Rindu yang boleh nangis kalau lagi capek," ucap Nia tulus, menyodorkan selembar tisu.
Rindu menerima tisu itu, menghirup napas dalam-dalam, dan merasakan dadanya menjadi jauh lebih lapang. Pertemuan akhir pekan dengan Nia selalu menjadi tempat perlindungan terbaiknya, tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Rindu menyeka sudut matanya yang basah dengan tisu, lalu mengembuskan napas panjang, melepaskan sisa sesak yang sempat menyumbat dadanya. Ia menatap Nia dengan binar mata yang jauh lebih jernih, senyumnya kali ini terasa lepas tanpa beban buatan.
"Makasih banyak ya," ucap Rindu tulus, meremas balik jemari sahabatnya yang masih menggenggam tangannya di atas meja.
"Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu sebagai sahabatku."
Nia tersenyum hangat, mengibaskan sebelah tangannya dengan gaya santai andalannya.
"Ah, kayak sama siapa saja kamu ini. Tugas sahabat kan memang begini, jadi tempat sampah buat segala keluh kesah, sekaligus jadi satpam yang menjaga biar warasmu tidak hilang."
Rindu terkekeh mendengar selorohan Nia. Beban di pundaknya perlahan terasa terangkat.
"Tapi serius, Ni. Terima kasih karena selalu mengingatkan aku kalau ini bukan salahku. Di saat semua orang menuntut, cuma kamu, dan Arsen yang bikin aku merasa kalau aku ini masih cukup sebagai manusia," lanjut Rindu, suaranya terdengar jauh lebih tegar sekarang.
"Kamu itu lebih dari cukup, Rin. Ingat itu," potong Nia tegas, memastikan kalimatnya tertanam kuat di hati sahabatnya.
"Sudah ah, jangan melow lagi, setelah ini kita hunting baju atau skincare, pokoknya hari ini kita harus bersenang-senang!"
Rindu tertawa lepas, mengangguk setuju.
"Siap, Ibu Negara! Hari ini aku ikut semua agenda bimbingan konseling dan belanjamu," ujar Rindu bersemangat, menyendok coklat cake ke mulutnya.
Setelah menyelesaikan pembayaran di kafe, kedua sahabat itu langsung meluncur ke salah satu mal terbesar di Jakarta Selatan.
Agenda pertama mereka adalah berburu skincare dan kosmetik. Nia dengan heboh menyeret Rindu dari satu gerai ke gerai lain, memaksa Rindu mencoba berbagai warna lipstik cerah yang selama ini jarang ia gunakan.
"Nah, coba pakai warna peach-nude yang ini, Rin. Wajahmu langsung kelihatan segar dan bersinar. Jangan pakai warna pucat terus, biar Arsen makin nempel, dan... ya, biar aura kamu makin keluar!" seru Nia sambil mematut wajah Rindu di cermin konter kosmetik.
Rindu melihat pantulan dirinya. Benar kata Nia, rona merah di bibirnya membuat matanya yang sempat sembap kini terlihat lebih hidup.
"Bagus juga ya, Ni. Ya sudah, aku ambil yang ini."
Puas berbelanja kebutuhan perempuan, mereka memutuskan untuk berpindah ke area lantai atas demi berburu pakaian. Di sinilah tawa Rindu benar-benar pecah tanpa beban.
Nia berulang kali mengambil baju-baju dengan model yang unik dan nyentrik, lalu menempelkannya ke badan Rindu sambil berpose kocak, membuat beberapa pengunjung mal sempat menoleh ke arah mereka.
"Ni, ampun deh! Umur kita sudah hampir kepala tiga, masa aku harus pakai baju model bolong-bolong di bahu begini? Bisa dicoret dari kartu keluarga sama Mama mertua kalau aku pakai ini di rumah," protes Rindu di sela tawanya, perutnya sampai terasa kaku karena terlalu banyak tertawa.
"Biarin! Sekali-kali bikin kejutan dong di rumah," sahut Nia mengedipkan mata, ikut tertawa lepas.
Sore mulai merayap naik ketika mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat di area food court dengan membawa beberapa kantong belanjaan di tangan. Sambil menikmati segelas es teh manis, Rindu bersandar di sandaran kursi, merasakan pegal di kakinya namun hatinya terasa begitu lapang.
Energi negatif yang menyelimutinya sejak semalam seolah luruh bersama setiap tawa yang ia bagikan dengan Nia hari ini.
"Capek juga ya, tapi rasanya puas banget," gumam Rindu, menatap kantong belanjanya dengan senyum tulus.
Nia yang sedang sibuk melihat ponselnya tiba-tiba menoleh ke arah Rindu.
"Rin, lihat deh, sudah jam empat sore. Kamu tidak dicariin Arsen atau orang rumah?"
Mendengar ucapan Nia, Rindu refleks mengecek ponselnya yang sejak tadi ia masukan ke dalam tas dalam mode getar. Layar ponselnya langsung menyala, menampilkan beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dari mertuanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!