Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

1

Malam itu hujan turun sejak magrib, membasahi jalanan hingga mengkilapkan aspal seperti cermin. Nadia menggenggam erat tangan kecil Kian yang berjalan di sampingnya sambil membawa kantong berisi bubur ayam kesukaan ibu mertuanya. Sudah dua hari Reno tidak pulang. Pesan yang dikirim suaminya selalu sama, singkat dan terdengar meyakinkan, "Ibu sedang sakit. Aku menginap di rumah beliau dulu."

Nadia tidak pernah curiga. Selama tujuh tahun menikah, ia percaya pada laki-laki yang menjadi ayah dari anaknya itu. Bahkan ketika Reno hanya mengirim kabar lewat pesan singkat dan menolak dihubungi dengan alasan sedang menjaga ibunya, Nadia tetap berpikir suaminya sedang kelelahan. Karena itulah, malam ini ia memutuskan datang tanpa memberi tahu siapa pun. Ia ingin memberi kejutan. Mungkin ibu mertuanya akan senang melihat cucunya datang. Mungkin Reno juga akan tersenyum karena istrinya begitu perhatian.

Rumah itu tampak jauh lebih ramai daripada yang Nadia bayangkan. Halaman dipenuhi beberapa mobil yang dikenalnya sebagai milik kakak ipar dan adik iparnya. Lampu ruang tamu menyala terang, suara tawa terdengar sampai ke teras, bahkan aroma makanan memenuhi udara. Nadia mengernyit. Bukankah Reno bilang ibunya sedang sakit? Mengapa rumah ini justru seperti sedang mengadakan syukuran? Ia mengangkat tangan hendak mengetuk pintu, tetapi suara seseorang dari dalam membuat langkahnya terhenti.

"Pelan-pelan, Karin. Kamu kan lagi hamil." Suara Reno.

Bibir Nadia perlahan membeku. Dadanya mendadak sesak. Ia mengenal suara itu lebih dari siapa pun. Namun ada kelembutan yang selama ini tidak pernah lagi ia dengar ketika Reno berbicara kepadanya. Pintu yang tidak tertutup rapat terbuka lebih lebar saat Kian tanpa sengaja mendorongnya. Semua orang menoleh. Dan dalam satu detik, dunia Nadia seperti runtuh.

Reno berdiri di tengah ruang tamu sambil merangkul pinggang seorang perempuan muda berwajah cantik. Gaun longgar yang dikenakan perempuan itu tidak mampu menyembunyikan perutnya yang sudah membuncit. Tangan Reno bahkan masih bertumpu di perut itu dengan gerakan begitu hati-hati, seolah bayi di dalam kandungannya adalah harta paling berharga di dunia. Kantong bubur yang dibawa Nadia terlepas dari genggamannya. Isinya tumpah ke lantai.

"N-Nadia..." Reno terkejut. Wajahnya pucat sesaat, tetapi keterkejutan itu hanya berlangsung sekejap sebelum berganti menjadi tatapan datar.

Kian mendongak polos ke arah ayahnya. "Ayah... kenapa peluk tante itu?"

Tidak ada yang menjawab. Ruangan yang semula riuh berubah sunyi. Bahkan suara hujan di luar terdengar jauh lebih keras daripada napas orang-orang di dalam rumah.

Tatapan Nadia berpindah dari wajah Reno ke tangan yang masih melingkari pinggang perempuan itu. Lalu ke perut yang membuncit. Berkali-kali ia mencoba menolak kenyataan yang terpampang di depan matanya, tetapi semua terasa begitu nyata hingga membuat lututnya gemetar. "Siapa dia?" suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Reno mengembuskan napas panjang. Bukannya melepaskan pelukannya, ia justru menggenggam tangan perempuan itu semakin erat. "Namanya Karin." Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada rasa bersalah. Seolah Nadia hanyalah tamu yang kebetulan datang di waktu yang tidak tepat.

Perempuan bernama Karin itu menatap Nadia dengan ragu. "Mbak Nad,"

Belum sempat kalimat itu selesai, Reno memotongnya. "Aku memang mau bilang ke kamu, Nad. Sekalian sekarang saja."

Jantung Nadia berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging.

"Karin hamil." Empat huruf itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya berkali-kali.

Nadia memandang Reno dengan mata yang mulai dipenuhi air mata. "Lalu...?"

Reno mengusap tengkuknya tanpa sedikit pun terlihat panik. "Anak itu darah dagingku."

Kalimat itu menghancurkan sisa harapan Nadia. Ia menunggu. Menunggu Reno mengatakan semua ini adalah kesalahan yang ingin diperbaiki. Menunggu suaminya meminta maaf. Menunggu penyesalan. Namun yang keluar justru sesuatu yang tidak pernah terbayangkan olehnya.

"Aku ingin kamu menerima Karin. Dia akan tinggal di rumah ini. Aku mau bertanggung jawab sama kalian berdua."

Dunia Nadia benar-benar berhenti berputar. "Apa?"

"Aku ingin adil. Kamu tetap istriku. Karin juga akan jadi istriku."

Tamparan itu bahkan terasa lebih menyakitkan daripada perselingkuhan itu sendiri. Nadia tertawa pelan. Tawanya terdengar asing, getir, dan nyaris seperti tangisan. "Jadi... selama dua hari ini kamu bilang menjaga ibu yang sakit..." suaranya bergetar. "Ternyata kamu sedang mengurus perempuan yang hamil anakmu?"

Reno tidak membantah.

Yang membuat Nadia semakin hancur justru suara ibu mertuanya yang terdengar dari sofa. "Nadia, jangan membesarkan masalah. Laki-laki memang kadang khilaf. Yang penting Reno mau bertanggung jawab."

Nadia menoleh perlahan. Perempuan yang selama ini ia rawat ketika sakit, yang ia hormati seperti ibunya sendiri, kini duduk dengan wajah tenang, seolah tidak ada yang salah.

"Karin sedang mengandung cucu kami," sambung ibu mertuanya. "Kasihan kalau anak itu lahir tanpa ayah."

Darah Nadia berdesir dingin. "Lalu bagaimana dengan anak saya?" tanyanya lirih.

Tidak ada yang menjawab. Yang terdengar justru kakak iparnya berkata pelan, "Kamu perempuan yang sabar, Nad. Mengalah sedikit demi keutuhan keluarga."

Mengalah. Kata itu membuat dada Nadia sesak. Selama bertahun-tahun ia mengalah. Mengalah saat Reno pulang larut. Mengalah ketika uang belanja semakin sedikit. Mengalah saat suaminya lebih mementingkan keluarganya daripada istri dan anaknya. Dan hari ini, mereka masih meminta dirinya mengalah agar suaminya bisa hidup bahagia dengan perempuan lain.

Kian yang sejak tadi diam tiba-tiba memeluk kaki Nadia. "Bu... kita pulang saja."

Suara polos anaknya menyadarkan Nadia sepenuhnya. Ia menghapus air mata yang akhirnya jatuh tanpa izin, lalu menatap Reno untuk terakhir kalinya malam itu. "Aku akan pulang," katanya pelan, tetapi setiap katanya terdengar tegas. "Tapi bukan untuk memberimu kesempatan."

Reno mengernyit.

Nadia menggenggam tangan Kian erat-erat. "Aku pulang untuk mengemasi sisa harga diriku. Setelah itu... kamu tidak akan pernah melihatku memohon agar tetap menjadi istrimu."

Reno mengembuskan napas panjang, lalu menatap Nadia tanpa sedikit pun rasa bersalah. Tangannya masih menggenggam jemari Karin yang berdiri di sampingnya. "Kamu jangan sembarang bicara, Nadia," ucapnya datar. "Maumu apa sekarang? Toh semuanya sudah terjadi."

Nadia menatap laki-laki yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Rasanya asing. Wajah yang dulu membuatnya merasa aman kini hanya menyisakan luka. "Apa yang baru saja kamu katakan?" tanyanya lirih. "Kamu ingin aku menerima perempuan yang mengandung anak hasil perselingkuhanmu?"

"Iya." Reno menjawab tanpa ragu. "Aku nggak mungkin ninggalin Karin. Dia hamil anakku. Aku harus bertanggung jawab."

"Dan tanggung jawabmu sebagai suami? Sebagai ayah Kian?"

"Itu tetap jalan. Aku bisa adil."

Nadia tertawa pelan. Tawanya hambar, dipenuhi rasa kecewa yang tak lagi mampu disembunyikan. "Adil?" Tubuh Nadia gemetar menahan emosi. "Menurutmu membawa perempuan lain ke hadapan istrimu lalu memintanya berbagi suami itu namanya adil?"

2

Reno mulai kehilangan kesabaran. Rahangnya mengeras. "Sudahlah, Nadia. Jangan bikin semuanya tambah rumit."

"Yang bikin rumit itu kamu, Reno!"

Suasana kembali sunyi. Bahkan Karin menundukkan kepala, tak berani ikut bicara. Reno mendekat satu langkah. Nada suaranya berubah lebih dingin. "Kalau memang maumu cerai, ya silakan. Tapi pikir baik-baik." Reno menyeringai tipis. "Yakin kamu mau cerai? Kamu nggak akan dapat apa-apa. Semua harta atas namaku." Mata Nadia membelalak. "Kamu nggak punya pekerjaan tetap. Orang tuamu sudah meninggal. Kamu juga nggak punya siapa-siapa lagi yang bisa jadi tempat bergantung." Reno menatap istrinya dengan penuh keyakinan. "Jangan keras kepala. Yang rugi nanti kamu sendiri."

Setiap kalimat itu terasa seperti pisau yang sengaja diputar di luka yang masih menganga. Selama ini Nadia berhenti bekerja atas permintaan Reno. Ia meninggalkan kariernya demi mengurus rumah dan membesarkan anak mereka. Semua dilakukan agar suaminya bisa fokus membangun usaha. Kini, pengorbanan itu justru dijadikan senjata untuk merendahkannya. "Kamu pikir aku akan bertahan karena takut miskin?" suara Nadia bergetar.

"Bukan begitu."

"Lalu apa? Kamu pikir aku nggak sanggup hidup tanpa uangmu?"

Reno mengangkat bahu. "Aku cuma sedang mengingatkan kenyataan. Hidup itu nggak cukup pakai harga diri. Kamu butuh makan, anakmu butuh sekolah, butuh biaya. Tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa."

Kalimat terakhir itu membuat sesuatu di dalam diri Nadia seolah patah. Ia menatap wajah Reno lama sekali. Tidak ada lagi laki-laki yang dulu bersumpah akan menjaganya seumur hidup. Yang ada hanyalah seorang pria yang begitu yakin istrinya tidak akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. "Kalau itu yang kamu yakini," katanya dengan suara yang jauh lebih tenang, "maka aku akan membuktikan kalau kamu salah."

Reno terkekeh meremehkan. "Kita lihat saja berapa lama kamu bisa bertahan."

Nadia menggenggam tangan Kian lebih erat. "Suatu hari nanti, saat kamu menyesali semua ini, jangan pernah datang mencariku. Karena saat itu, aku dan anak-anakku sudah belajar hidup... tanpa kamu."

"Sudahlah!" bentak ibu mertua sambil berdiri dari sofa. Wajahnya memerah karena kesal. "Kalau mau ribut-ribut, jangan di rumahku!"

Nadia menoleh perlahan. Dadanya semakin sesak. Sejak tadi ia berharap setidaknya ada satu orang yang menegur Reno. Satu orang saja yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan putra mereka adalah sebuah kesalahan. Namun harapan itu kembali pupus.

"Kamu ini juga, Nad," sambung ibu mertuanya dengan nada menyalahkan. "Suami pulang ke rumah harusnya disambut dengan sambutan istimewa. Pantas saja Reno betah di luar."

Kakak ipar yang duduk di sudut ruangan ikut menimpali sambil melipat tangan di dada. "Coba introspeksi dulu. Nggak mungkin laki-laki cari perempuan lain kalau di rumah sudah dapat pelayanan yang baik."

Adik iparnya mengangguk setuju. "Iya. Selama ini Mas Reno kerja keras cari nafkah. Mungkin kamu terlalu sibuk mengurus anak sampai lupa memperhatikan suami."

Nadia memandang mereka satu per satu dengan tatapan tak percaya. "Jadi, menurut kalian, perselingkuhan Reno terjadi karena salahku? Pintar sekali. Sekarang kesalahan malah dialihkan padaku. Norak!"

"Lah memang kenyataannya begitu," jawab kakak iparnya enteng. "Kalau istri bagus, suami nggak akan cari yang lain."

Kalimat itu membuat Nadia tersenyum pahit. Bukan karena lucu. Melainkan karena baru kali ini ia menyadari, keluarganya Reno benar-benar hidup di dunia yang berbeda. Kini mereka menunjukkan sifat aslinya pada Nadia. Padahal dari dulu ia selalu berusaha berbakti dan tak pernah ada komplain karena Nadia juga berusaha masuk ke keluarga Reno. Tapi sekarang, karena ada yang baru, kesalahannya dicari-cari.

"Lagipula..." ibu mertuanya kembali bersuara. "Apa salahnya poligami? Dalam agama juga boleh."

Nadia menarik napas panjang. Ia menahan amarah yang sejak tadi hampir meledak. "Poligami?" ulangnya pelan.

"Iya."

Nadia mengangguk pelan sebelum menatap lurus ke arah ibu mertuanya. "Poligami itu dimulai dengan cara yang halal, Bu." Ruangan kembali hening. "Bukan dimulai dengan perselingkuhan." Suara Nadia terdengar semakin tegas. "Bukan dengan menghamili perempuan lain diam-diam, lalu setelah perutnya membesar baru meminta istri menerima semuanya." Wajah ibu mertuanya berubah kaku. "Itu bukan poligami," lanjut Nadia. "Itu pengkhianatan yang sedang dicari pembenarannya."

"Kamu!" bentak kakak iparnya.

Namun ibu mertua mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua diam. "Nadia," katanya dengan nada lebih rendah, "kamu juga harus tahu sesuatu."

"Apa lagi yang belum saya tahu?"

Ibu mertua melirik Karin sekilas, lalu kembali menatap Nadia. "Karin ini bukan cuma calon istri kedua Reno." Nadia mengernyit. "Dia juga rekan bisnis Reno."

Reno yang sejak tadi diam akhirnya mengangguk.

"Usaha kafe yang sekarang berkembang pesat itu juga karena bantuan Karin." Ibu mertua melanjutkan dengan bangga, "Banyak relasi bisnis yang datang lewat Karin. Modal usaha juga sebagian dari dia. Kalau sekarang usaha Reno maju, itu karena mereka saling mendukung."

Nadia merasakan tenggorokannya tercekat. "Jadi selama ini..."

"Betul," potong Reno tanpa rasa bersalah. "Kami sudah lama kerja sama."

"Lama?" bisik Nadia. Tiba-tiba Nadia ingat tentang rekan kerja yang pernah dibicarakan Reno. Rekan kerja itu pasti Karin. Jadi perselingkuhan ini dimulai dari situ. Nadia tersenyum getir.

"Jauh sebelum kamu tahu soal kehamilan ini."

Kalimat itu seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Berarti hubungan mereka bukan baru kemarin. Bukan karena khilaf. Bukan karena satu kesalahan. Mereka telah lama bersama, sementara dirinya masih sibuk menyiapkan bekal anak-anak setiap pagi dan menunggu suaminya pulang setiap malam.

"Kamu juga menikmati hasilnya, kan?" ujar ibu mertuanya lagi. "Rumah yang kamu tempati, mobil yang dipakai Reno, uang belanja yang kamu terima... semua itu ada campur tangan Karin."

Tatapan Nadia perlahan beralih kepada perempuan yang berdiri di samping Reno. Karin menundukkan kepala, tetapi tidak membantah sedikit pun. "Bukan karena aku menikmati hasil kerja perempuan itu, Bu," ucapnya lirih. "Melainkan karena selama ini aku benar-benar tidak tahu bahwa suamiku membangun kesuksesan di atas pengkhianatan." Ia lalu menatap Reno dengan sorot mata yang kini tidak lagi dipenuhi harapan. "Hari ini kalian bukan hanya menghancurkan rumah tanggaku." Nadia berhenti sejenak. "Kalian juga menghancurkan rasa hormatku pada keluarga ini."

Nadia menggeleng pelan, tetapi kali ini tatapannya justru terasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi istri yang memohon agar dipilih. Yang berdiri di hadapan Reno kini adalah seorang perempuan yang mulai menerima kenyataan bahwa laki-laki yang dicintainya telah berubah menjadi orang asing. Ia menatap Reno dari ujung kepala hingga kaki, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. "Tahu nggak, Reno?" suaranya pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang. "Salah satu pertimbanganku menerima lamaranmu dulu karena aku mengira pemahaman agamamu baik."

3

Reno mengernyit.

"Kamu rajin ikut kajian, hafal banyak dalil, cara bicaramu selalu membawa-bawa agama. Aku pikir, perempuan yang menikah dengan laki-laki sepertimu akan hidup tenang." Nadia tertawa lirih. Tawanya terdengar begitu getir. "Tapi ternyata..." Ia menggeleng pelan sambil tersenyum mengejek. "Yang kamu pelajari hanya dalil yang menguntungkanmu."

Wajah Reno langsung mengeras. "Nadia!"

"Kamu bicara soal poligami, tapi lupa bagaimana Islam mengajarkan amanah, kejujuran, dan menjaga kehormatan istri. Kamu sembunyikan perselingkuhanmu, menghamili perempuan lain, lalu ketika semuanya terbongkar, kamu menyebutnya sebagai jalan untuk beribadah."

Ruangan kembali sunyi. Tidak ada satu pun anggota keluarga Reno yang berani memotong ucapan Nadia.

"Bahkan hari ini..." Nadia melirik Karin sekilas. "Kamu masih ingin terlihat sebagai laki-laki bertanggung jawab, padahal yang sebenarnya kamu lakukan hanyalah memaksa orang lain menerima akibat dari kesalahanmu."

Reno mengepalkan kedua tangannya. "Cukup!"

"Kenapa? Sakit mendengarnya?" Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya sejak Nadia datang, Reno tidak mampu langsung membalas ucapan istrinya. Nadia tahu, setelah malam ini mungkin hidupnya akan jauh lebih sulit. Ia akan menjadi janda tanpa pekerjaan tetap, membesarkan anak seorang diri, sementara laki-laki yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga berdiri di hadapannya dengan penuh kesombongan. Namun entah mengapa, melihat wajah Reno yang mulai kehilangan kata-kata membuat sesak di dadanya sedikit berkurang. Hari ini hatinya memang hancur berkeping-keping. Tetapi setidaknya, untuk sekali ini, ia berhasil membuat Reno merasakan perih yang sama meski hanya sedikit. Dan itu sudah cukup menjadi pengingat bahwa tidak semua luka harus dibalas dengan air mata. Ada kalanya, kebenaran yang diucapkan di waktu yang tepat jauh lebih menyakitkan daripada seribu makian.

Ia menarik napas panjang, lalu menatap seluruh penghuni ruang tamu itu bergantian. "Baiklah," ucapnya tenang. "Sebelum aku pergi, izinkan aku memberi dua nasihat." Semua mata tertuju kepadanya.

"Nasihat?" Reno mencibir. "Sekarang kamu mau menggurui kami?"

Nadia tersenyum tipis. "Nggak. Aku cuma menyampaikan sesuatu yang mungkin belum kalian pikirkan." Ia memandang Reno terlebih dahulu. "Pertama." Nadia berhenti sejenak. "Kalian belum menikah, kan?" Tidak ada yang menjawab. "Tapi perempuan itu sudah hamil." Karin refleks memegang perutnya. "Kalau nanti bayi yang lahir perempuan jangan jadi wali nikahnya ya." Nadia menatap Reno tanpa berkedip. "Setahuku, nasab anak hasil zina tidak dinisbatkan kepada laki-laki yang menghamili, melainkan kepada ibunya. Jadi sebelum sibuk mencari pembenaran atas perselingkuhanmu dengan membawa-bawa agama, mungkin kamu perlu belajar lagi tentang konsekuensi dari perbuatanmu."

Raut wajah Reno berubah seketika. Ibu mertuanya tampak gelisah. Sementara kakak iparnya yang sejak tadi paling banyak bicara mendadak terdiam.

Nadia tidak memberi kesempatan siapa pun menyela. "Kedua." Ia menoleh kepada Karin. "Mbak... siapa tadi namanya?"

"Ka ... Karin," jawab perempuan itu lirih.

"Oh, iya. Karin." Nadia mengangguk pelan. "Sebenarnya aku nggak terlalu peduli siapa kamu. Tapi sebagai sesama perempuan, aku cuma mau kasih satu peringatan." Karin menelan ludah. "Laki-laki yang sudah pernah berselingkuh itu seperti penyakit kambuhan."

Reno langsung memotong, "Nadia, jaga ucapanmu!"

Namun Nadia mengabaikannya. "Hari ini dia meninggalkan istrinya demi kamu. Besok, bukan tidak mungkin dia meninggalkan kamu demi perempuan lain." Karin memucat. "Semoga saja kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan hari ini dan berdoalah aku nggak mendoakan kalian yang buruk-buruk sebab doa orang terzalimi, apalagi istri yang diselingkuhi, cepat diijabah Allah!" Suasana menjadi begitu sunyi hingga suara hujan di luar kembali terdengar jelas. "Oh ya..." Nadia tersenyum tipis. "Kalau boleh memberi saran lagi, tetaplah bekerja." Karin mengernyit bingung. "Soalnya..." tatapan Nadia beralih kepada ibu mertua dan ipar-iparnya. "Dari tadi yang paling sering mereka banggakan dari kamu bukan akhlakmu, bukan juga hubunganmu dengan Reno." Ia berhenti sejenak. "Yang mereka banggakan adalah usahamu, relasimu, dan uangmu."

Tidak seorang pun mampu membantah. Senyum di wajah ibu mertua perlahan memudar. Kakak iparnya menundukkan kepala. Bahkan Reno terlihat kehilangan kata-kata.

Nadia mengangguk pelan, merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. "Sudah dulu, ya." Ia menggenggam tangan Kian. "Assalamu'alaikum." Tanpa menunggu jawaban, Nadia berbalik dan melangkah menuju pintu. Kian menoleh sebentar ke arah ayahnya, lalu kembali menggenggam tangan ibunya lebih erat. Pintu rumah itu tertutup pelan di belakang mereka. Begitu sampai di halaman, Nadia mengangkat wajah menatap langit yang masih diguyur hujan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Hatinya memang hancur. Rumah tangganya telah berakhir. Namun setidaknya malam ini, untuk pertama kalinya, ia pergi tanpa merasa kalah. Ia meninggalkan rumah itu dengan kepala tegak, sementara orang-orang yang tadi begitu lantang menghakiminya hanya mampu saling berpandangan dalam kebungkaman.

***

Mobil yang dikemudikan Nadia melaju meninggalkan rumah mertuanya tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Gerbang perumahan perlahan menjauh di kaca spion, bersama semua kenangan yang selama bertahun-tahun ia perjuangkan mati-matian. Kedua tangannya menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pandangannya mulai kabur, bukan karena hujan yang membasahi kaca depan, melainkan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya.

Begitu keluar dari kawasan perumahan, Nadia menepikan mobil di bawah sebatang pohon yang rindang. Mesin dimatikan. Suara hujan yang menghantam atap mobil langsung memenuhi keheningan. Dadanya naik turun, napasnya memburu. Rasanya baru sekarang semua tenaga yang ia gunakan untuk berdiri tegar di hadapan Reno dan keluarganya benar-benar habis.

Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tidak. Ia tidak boleh menangis. Bukan di depan Kian. Mulai hari ini, tidak ada lagi bahu suami yang bisa ia andalkan. Ia harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi putranya. Kalau dirinya runtuh sekarang, kepada siapa Kian akan bersandar? Nadia menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menelan sesak yang memenuhi dadanya. Namun tangan yang sejak tadi mencengkeram setir tak berhenti gemetar.

Tiba-tiba sebuah tangan kecil menyentuh punggung tangannya. "Bu..." Suara Kian terdengar sangat pelan.

Nadia menoleh. Putranya yang baru tujuh tahun itu sedang menatapnya dengan mata yang memerah. Entah sejak kapan anak itu ikut menahan tangis.

"Ibu pasti sedih, ya?"

Nadia buru-buru menggeleng sambil memaksakan senyum. "Nggak kok. Ibu kuat."

Kian mengerucutkan bibirnya. Ia menggeleng pelan, seolah tahu ibunya sedang berbohong. "Nggak apa-apa kalau ibu mau nangis." Kalimat sederhana itu langsung meruntuhkan benteng yang sejak tadi Nadia bangun. "Kian akan pura-pura nggak lihat." Air mata Nadia akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Ibu nggak usah kuat terus."

Kian melepaskan sabuk pengamannya, lalu merangkak mendekati kursi pengemudi. Dengan kedua tangan kecilnya, ia memeluk lengan ibunya sekuat yang ia bisa. "Kian akan menggantikan Ayah menjaga Ibu."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!