"Kamu mau kan menggantikan ayahmu? Kerja jadi sopir?" tanya Wildan. Seorang lelaki dewasa dengan kumis tipis dan badan tegap. Dia merupakan kepala keluarga Narendra.
Adnan terdiam sejenak. Dia tentu memikirkan tawaran Wildan. Terlebih semenjak ayahnya meninggal sebulan lalu, dirinya kesulitan bayar uang kuliah dan akhirnya memilih berhenti.
"Adnan?" Wildan memanggil karena lawan bicaranya tak kunjung menjawab.
"Eh, iya, Mas Wildan. Maaf..." sahut Adnan sembari memegangi tengkuk. "Iya, aku mau, Mas. Aku mau gantikan ayahku kerja jadi sopir buat Mas Wildan. Tapi... Mas Wildan udah terlalu banyak bantuin aku. Rasanya aku--"
"Udah! Aku bantu kamu karena sudah menganggamu dan mendiang ayahmu keluarga. Kau dan ayahmu orang baik, Ad. Dan aku sangat beruntung punya kalian kerja sama aku," potong Wildan cepat.
Memang sebaik itulah Wildan dimata Adnan. Dia bahkan pernah membayarkan uang kuliah Adnan. Bahkan saat ayahnya sakit dulu, Wildan yang membayar biaya pengobatannya. Adnan hanya tak mau terus membuat Wildan repot karenanya.
"Aku rasanya gak mau terus ngerepotin--"
"Apaan kamu sih! Mana ada aku repot!" tegas Wildan. "Aku malah senang bisa bantu. Dari pada biarin kamu kerja luntang lantung di luar sana. Dulu aku pernah hidup susah, Ad. Aku tahu gimana susahnya cari kerjaan dan cari uang," lanjutnya.
"Baiklah kalau gitu, Mas. Aku mau melanjutkan pekerjaan ayah!" ucap Adnan akhirnya.
"Bagus! Besok pagi kamu udah bisa mulai kerja. Aku pengen kamu jadi sopir Liza," kata Wildan.
"Liza?" Mata Adnan terbelalak. Setahunya Liza adalah putri pertama Wildan. Liza memiliki paras cantik dan pernah berteman dengan Adnan waktu kecil.
"Iya. Akhir-akhir ini dia ketahuan sering kelayapan nggak jelas. Jadi aku tarik semua alat transportasi dia," jelas Wildan. "Ya udah. Datang besok pagi sebelum jam delapan. Itu Liza ada jadwal kuliah besok!"
"Baik, Mas. Besok aku akan mulai kerja, Mas!" sahut Adnan. Setelah itu dia pamit pulang dengan mengendarai motor lusuhnya.
...***...
Adnan tiba di rumah sederhananya yang terletak di pinggiran kota. Dia langsung duduk ke sofa tua kesayangan mendiang ayahnya. Sofa itu sudah koyak karena kelakuan Oyen, kucing peliharaan Adnan.
"Aku nggak bisa begini terus... Kenapa nggak aku saja yang mati, Pak? Kenapa Bapak yang malah pergi duluan?" gumam Adnan.
TOK!
TOK!
TOK!
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Mata Adnan sontak membulat sempurna. Dia langsung ingat kalau hari itu dia berjanji akan membayar hutang pada Bang Joni, preman rentenir yang rutin menagih hutang ke rumah. Semuanya jelas saat suara Bang Joni memanggil dari luar.
"Woy! Adnan! Lu nggak lupa kan kalau lu bakalan bayar hutang hari ini?!" ujar Bang Joni.
"Sial!" umpat Adnan. Dia tak punya pilihan selain membuka pintu.
Adnan sendiri sadar diri kalau dirinya sudah sering menunggak hutangnya. Terlebih sebelum ayahnya meninggal, beliau berpesan pada Adnan agar melunasi semua hutang yang ada. Ayahnya juga mengatakan kalau dia punya tabungan yang tersimpan di lemari kamarnya.
Pintu segera dibuka oleh Adnan. Bang Joni datang bersama dua anak buahnya yang berbadan kekar.
Adnan menyuruh Bang Joni dan anak buahnya menunggu sejenak. Mengingat Adnan harus mencari uangnya dulu.
Adnan bergegas masuk ke kamar mendiang ayahnya. Lalu mencari uang tabungan ke lemari tua yang ada di sana. Adnan periksa ke berbagai sudut, termasuk di celah-celah pakaian yang terlipat rapi. Sampai akhirnya Adnan menemukan sebuah kotak kayu yang tersembunyi di antara tumpukan kemeja.
Adnan buka kotak kayu itu. Di sana dia melihat ada beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah serta sebuah kamera tua.
"Apaan nih? Sejak kapan Bapak punya kamera begini? Apa dikasih Mas Wildan ya?" imbuh Adnan.
"Woy, Adnan! Lama amat sih! Lu nggak mencoba kabur kan?!" pekik Bang Joni yang sudah tak sabar menunggu.
"Eh, tunggu, Bang!" sahut Adnan. Dia mengambil semua uang di kotak kayu dan hanya menyisakan seratus ribu rupiah.
Adnan bergegas memberikan uang pada Bang Joni. "Aku hanya punya segini, Bang. Aku tahu ini kurang, aku janji akan--"
"Sialan! Ini cuman satu juta! Hutang bapak lu 50 juta! Separo aja nggak sampai ini!" potong Bang Joni mengomel.
"A-apa? 50 juta? Bukannya kemarin hanya 30 juta, Bang?" Adnan tercengang. Karena seingatnya minggu lalu hutang mendiang ayahnya 30 juta.
"Ya itu resiko karena lu nunggak terus! Bunganya bakalan nambah terus!" balas Bang Joni. Dia lalu menarik kerah baju Adnan, hingga kaki lelaki itu sedikit terangkat dari lantai.
"Gue akan maklumi bayaran lu hari ini. Tapi gue mau lu bayar lebih banyak minggu depan! Ngerti?!" timpal Bang Joni.
Adnan menatap getir pada lelaki berkepala pelontos itu. Dia langsung mengangguk dan menjawab, "Nge-ngerti, Bang..."
Bang Joni seketika melepas cengkramannya. Dia dan dua anak buahnya pun pergi.
Kini Adnan mendengus lega. Namun pikirannya tetap kalut karena harus memikirkan cara untuk mencari uang agar bisa melunasi semua hutangnya.
Setelah berpikir lama, Adnan teringat dengan kamera tua milik ayahnya yang dia temukan tadi. Ia pun mengambil kamera itu. Tapi keadaan kamera itu benar-benar lusuh. Lensanya bahkan dipenuhi debu tebal.
Adnan juga mencoba mengambil foto dengan kameranya. Namun tak bisa karena kameranya yang berdebu.
"Aku harus bersihin dulu. Setelah itu mungkin baru bisa bagus lagi. Kalau udah bagus, aku jual deh," gumam Adnan. Dia ke teras depan rumah dan mengambil ember berisi air.
Perlahan Adnan lap kamera itu dengan hati-hati.
"Eh, Adnan! Lagi ngapain kamu? Kayaknya serius banget?" Tari, janda muda sebelah rumah menyapa. Dia tampak mengambil jemuran yang sudah kering.
"Ini ngelap kamera, Mbak!" sahut Adnan sambil tersenyum ramah.
"Tak kirain mandiin burungnya tadi. Haha..." canda Tari.
"Mbak sendiri kan tahu aku nggak punya burung," balas Adnan polos.
"Masa sih? Terus yang di dalam celana itu bukan toh?" tanggap Tari.
"Astaga, Mbak bisa aja. Itu beda burung, Mbak..." ujar Adnan seraya menahan tawa. Bersamaan dengan itu, dia sudah selesai mengelap debu di lensa kamera.
"Hahaha! Ya iyalah beda. Burungnya nggak bisa terbang," kata Tari. Dia sudah selesai mengambil jemurannya. Tapi lanjut menyibukkan dirinya dengan menyiram tanaman di halaman rumah.
Saat itu Adnan mencoba mengambil foto dengan kamera yang sudah dia bersihkan dengan lap basah. Ternyata kamera itu masih bagus dan bisa dipakai. Ia mengambil foto ke arah jalanan.
"Wah... Coba foto Mbak aja, Ad!" seru Tari.
"Iya, Mbak!" Adnan lantas mencoba mengambil foto Tari. Namun saat dia melihat Tari melalui kamera itu, dia langsung dibuat syok.
"Astaga!" ucap Adnan refleks.
"Kenapa? Mbak kelihatan jelek ya?" tanya Tari cemas.
Tapi Adnan tak langsung menjawab. Dia tampak masih syok. Bagaimana tidak? Saat melihat Tari dari kameranya, dia melihat keadaan perempuan itu jadi tanpa busana. Kamera itu tembus pandang!
"Nggak, Mbak! Bukan apa-apa. Ini kameranya ternyata rusak. Aku nggak bisa foto, makanya kaget." Adnan segera memberi alasan kepada Tari. Dia berusaha tenang dan bergegas masuk ke rumah.
"Aku masuk dulu ya, Mbak! Permisi," kata Adnan seraya masuk ke rumah. Ia juga tak lupa mengunci pintu.
Adnan menatap kamera yang kini ada ditangannya. "Bagaimana bisa? Apa tadi itu nyata?" gumamnya tak percaya.
Adnan lantas kembali mencoba kameranya. Diam-diam dia mengarahkan kamera ke Tari yang masih ada di halaman rumah. Dari balik tirai jendelanya, Adnan bersembunyi.
Benar saja, setelah Adnan mencoba lagi, ternyata kameranya memang tembus pandang. Dia bisa melihat Tari dalam keadaan tanpa busana, meski perempuan itu sedang mengenakan pakaian. Tahi lalatnya bahkan bisa terlihat jelas melalui kamera Adnan.
"Ini gila! Kamera apa ini? Kenapa Bapak punya kamera macam ini?" ucap Adnan. Takjub sekaligus heran.
Adnan menenggak salivanya satu kali. Karena pemandangan perempuan tanpa busana bukanlah hal biasa untuknya. Dia pun memilih berhenti. Akan tetapi dahinya berkerut saat melihat ada tiga tombol kecil misterius di kamera. Tiga tombol itu punya tiga warna berbeda. Yaitu merah, kuning dan hijau.
Salah satu dari tombol yang berwarna kuning sudah aktif. Karena penasaran, Adnan mencoba menekan yang warna merah. Ia lalu mencoba melihat melalui kameranya lagi dan mengarahkannya pada Tari.
"Sial!" Adnan refleks mengumpat karena apa yang dilihatnya kali ini lebih sulit dipercaya. Bagaimana tidak? Kali ini kameranya bisa memperlihatkan keadaan organ, darah dan saraf pada Tari.
"Apa-apaan itu? Apa kameranya jadi mode ronsen sekarang?" ucap Adnan.
Kini hanya tombol hijau yang belum ditekan. Adnan pun menekan tombol yang hijau. Kemudian mencoba merekam ke arah Tari lagi.
Kali ini Adnan tidak kaget. Karena keadaan kamera sekarang jadi normal. Kameranya memperlihatkan yang seharusnya terlihat.
"Oh... Jadi hijau adalah mode normal. Gila nih kamera! Dimana Bapak beli kamera model begini?" kata Adnan. Dia merasa menemukan sebuah benda ajaib.
Saat itulah ide bisnis Adnan seketika muncul. Apalagi sekarang dia juga sedang sangat membutuhkan uang.
"Aku bisa pakai ini buat dapatin uang tambahan!"
Adnan bergegas masuk ke kamar. Dia membuka laptopnya dan membuka blog pribadinya. Dia membuat iklan jasa fotografer melalui akun media sosialnya.
"Kira-kira apa ya nama yang cocok biar iklannya menarik minat orang?" Adnan berpikir sambil mengarahkan matanya ke kanan atas.
"Fotografer paruh waktu... Emm... terlalu biasa..."
Adnan berpikir lagi. Dia melakukannya sambil menskrol media sosialnya. Sampai akhirnya dia teringat dengan cerita Wildan saat merintis jadi fotografer dulu. Katanya nama jasa fotografer Wildan dahulu adalah fotografer p|us-p|us. Katanya Wildan bisa menarik minat banyak kliennya dengan nama itu. Tapi Wildan juga tak lupa menyebutkan kalau beberapa kliennya punya permintaan di luar nurul, alias aneh.
"Menurutku semua manusia memiliki sisi aneh. Yang penting aku bisa dapat uang!" kata Adnan. Dia memutuskan untuk memakai nama fotografer p|us-p|us untuk iklannya.
Adnan tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, dia merasa memiliki harapan untuk melunasi hutang mendiang ayahnya.
Setelah berkutat dengan laptop, Adnan kembali bermain dengan kameranya. Kali ini dia yang jadi model untuk kameranya. Adnan menggunakan mode tombol merah dan hijau saja. Menurutnya menjijikan mengambil foto telanjangnya sendiri.
"Ini benar-benar kamera ajaib!" seru Adnan girang. Dia memperhatikan keadaan organ tubuhnya dan atensinya tertuju pada pankreas.
Sebagai pengidap penyakit diabetes tipe 1, Adnan tahu kalau pankreasnya sudah nyaris tak berfungsi. Dia menatap organnya itu cukup lama. Namun karena tak mengerti ilmu anatomi, Adnan tidak bisa mengetahui perbedaannya.
Karena lelah, Adnan memutuskan untuk tidur. Dia harus bekerja besok pagi.
...***...
Pagi hari menyapa. Adnan terbangun dan langsung mandi. Dia hanya sarapan alakadarnya. Yaitu hanya makan sebungkus roti stroberi yang harganya dua ribuan.
Selanjutnya, barulah Adnan pergi ke rumah keluarga Narendra. Hari itu dia tak lupa membawa kamera tuanya. Ia hanya mengenakan kemeja berwarna biru dongker dan celana kain hitam. Dia berusaha berpenampilan rapi agar bisa profesional.
"Masuk dulu, Ad! Sarapan yuk! Itu Liza nya baru sarapan," tawar Glenda, yang tak lain adalah istrinya Wildan.
"Makasih, Mbak. Aku udah sarapan," tolak Adnan sopan. Dia terlalu enggan untuk sarapan bersama majikannya. Adnan sadar kalau dirinya harus tahu diri.
"Yang benar? Ya sudah, kalau gitu minum teh sama makan kue ya? Kebetulan kemarin aku beli kue enak," kata Glenda.
"Ya udah, Mbak. Boleh deh kalau itu." Adnan kali ini tak bisa menolak. Dia lalu duduk ke kursi yang ada di teras.
Tak lama, Bi Surti datang dan menyodorkan teh dan kue. "Nih aku tambahin tempe mendoan biar kau semangat kerja di hari pertama," ucapnya.
"Wah... Makasih, Bi. Ini pasti enak banget," sahut Adnan bersemangat. Mengingat tempe mendoan adalah makanan favoritnya.
Adnan mulai makan dengan lahap. Lalu sesekali minum teh. Namun saat sedang nikmatnya makan, Liza keluar dengan langkah cepat.
Liza tampak cantik seperti biasa. Rambut panjangnya tergerai indah. Ia mengenakan pakaian kasual dan sopan untuk pergi ke kampus. Ia mengenakan sweater panjang dan celana jeans panjang.
"Ayo kita berangkat! Nanti aku telat!" Liza mendesak. Wajahnya tampak cemberut.
"I-iya, Mbak!" Adnan bergegas masuk ke mobil.
"Eh! Jangan panggil aku Mbak lah! Emang aku kelihatan setua itu? Lagian kita seumuran kan?" timpal Liza yang terkesan seperti mengomel.
"Iya, Mbak. Eh, anu..." Langkah Adnan terhenti di depan mobil. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung harus memanggil Liza apa.
"Panggil Liza aja!" perintah Liza sembari masuk ke mobil duluan. Dia duduk di kursi belakang seperti majikan pada umumnya.
Adnan mengangguk dan segera menyusul masuk mobil. Ia tentu duduk di kursi kemudi. Dia berkendara dengan tenang menuju kampus tempat Liza kuliah.
"Berhenti sebentar, Ad!" titah Liza mendadak. Padahal sebentar lagi mereka tiba ke tempat tujuan.
"Tapi, Liz. Kita bentar lagi sam--"
"Udah nurut aja! Lagian majikannya kan di sini aku! Nggak usah ngebantah!" potong Liza galak.
"Ya sudah..." Adnan pun menepikan mobil. Dia mendengus kasar. Sungguh, dia merasa Liza sangat berubah. Dulu sikap gadis itu tak begini.
"Udah berhenti. Sekarang kamu mau apa, Liz?" tanya Adnan sambil menoleh ke belakang. Namun saat melihat Liza, dia langsung kaget.
"Astaga! Kamu ngapain? Kenapa lepas baju?" timpal Adnan yang refleks kembali menatap ke depan.
"Kau sebaiknya rahasiakan ini dari orang tuaku," kata Liza.
"Tapi kenapa harus di sini? Kenapa nggak ganti di toilet mini market aja?" sahut Adnan sembari memejamkan matanya rapat-rapat.
Liza terkekeh geli. "Aku cuman lepas sweater sama celana doang kok. Lagian kita udah saling kenal kan dari kecil? Ngapain malu?" balasnya santai. Dia sudah selesai melepas sweater dan celana jeans panjangnya.
"Oh iya. Dan mengenai alasannya, sekarang lihat aku!" lanjut Liza.
Perlahan Adnan membuka mata. Kemudian menoleh ke belakang. Dia melihat Liza mengenakan pakaian berbeda. Bajunya tampak kekecilan di badan gadis itu, dia juga memakai rok mini di atas lutut.
Mata Adnan mengerjap cepat. Liza memang cantik. Tapi jujur saja, Adnan lebih suka melihatnya berpakaian sederhana dibanding minim begitu.
"Gimana? Aku tambah cantik kan?" tukas Liza percaya diri sambil memainkan rambut dengan jari telunjuk.
"Itu pakaian anak SMP ya, Liz? Kayaknya kekecilan di--"
"Apa?! Anak SMP kau bilang?!" potong Liza tercengang. Mulutnya juga sampai sedikit menganga. Baginya itu adalah ejekan dari Adnan.
"Maaf... Aku nggak bermaksud..."
"Kau tahu apa soal fashion, hah?! Pakaianmu aja lusuh gitu. Nggak usah nilai pakaian orang lain!" omel Liza.
"Maaf, aku hanya khawatir kau akan kena masalah kalau pakai baju begitu," ungkap Adnan.
Liza memutar bola mata kesal. "Bacot! Tugasmu itu cuman antar jemput aku ke kampus! Sekarang antar aku ke kampus!" perintahnya.
"Baik." Adnan menurut saja. Dia segera kembali menjalankan mobil.
Setibanya di area kampus, Liza langsung turun dan berkumpul bersama teman-temannya. Sedangkan Adnan terpaku menatap gadis itu yang sikapnya terasa jauh berbeda. Dulu Liza adalah gadis yang ceria, ramah dan tidak pemarah seperti sekarang.
"Apa beneran nggak apa-apa ke kampus pakau rok begitu?" gumam Adnan.
Lamunannya buyar saat dering suara ponselnya berbunyi. Adnan melihat ada nomor telepon tak dikenal menelepon. Pupil matanya membesar, dia menduga itu mungkin saja pelanggan yang tertarik memakai jasa fotografernya.
"Halo?" ujar Adnan.
"Halo, apa benar ini fotografer p|us-p|us yang ada di iklan itu?" tanya suara seorang wanita dari seberang telepon.
"Benar sekali, Mbak. Apa anda mau memakai jasa saya?" tanya Adnan.
"Ya! Ayo bertemu di alamat yang aku kirim. Ini terkait masalah pribadiku. Jadi kerjasama kita rahasia," kata wanita itu.
Adnan sempat terdiam. Mendadak dia teringat dengan cerita Wildan yang mengatakan kalau pelanggannya dulu sering meminta hal aneh. Adnan berharap pekerjaan pertamanya tidak melakukan hal aneh.
"Eh! Kau dengar atau tidak? Kok diam aja?" Wanita di seberang telepon mendesak.
"Maaf! Baik, Mbak! Kita ketemu nanti ya!" Adnan langsung menanggapi.
"Oke. Siang ini sekitar jam setengah satu!"
Pembicaraan berakhir di sana. Tugas Adnan sekarang adalah tetap menunggu Liza di kampus, karena memang selain disuruh jadi sopir, Wildan juga membayarnya untuk mengawasi Liza.
Di sisi lain, Liza mengamati Adnan dari kejauhan. Dia melihat Adnan tak kunjung pergi.
"Itu sopir barumu, Liz? Gila... Ganteng juga tuh cowok," imbuh Salma. Sahabat dekat Liza.
"Hah? Cowok ganteng? Mana dia? Yang itu?" Teman Liza yang satunya lagi menyahut. Namanya Rini.
"Tuh! Yang tadi nganterin Liza." Salma menunjuk ke arah Adnan. Cowok itu tampak duduk di dekat penjual batagor sambil memperhatikan sebuah kamera.
"Kau bener, Sal! Tuh cowok ganteng!" Rini setuju dengan pendapat Salma.
"Apaan sih kalian? Bagiku cowok ganteng nggak menarik kalau dia miskin!" celetuk Liza gamblang.
"Astaga... Jangan ngomong gitu, Liz. Nanti kwalat kau!" timpal Salma.
"Kwalat apaan coba!" sahut Liza tak peduli.
"Ya kwalat! Nanti malah jatuh cinta beneran gimana?" pungkas Rini.
"Aduh... Jangan dibilang gitu deh! Ngebayanginnya aja aku nggak sanggup. Pokoknya jangan sampai deh!" balas Liza seraya menggeleng tegas. "Tunggu bentar ya! Aku harus suruh dia balik," sambungnya. Dia lalu berjalan menghampiri Adnan.
Adnan sendiri sedang sibuk mencoba kameranya. Saat dia mengarahkan ke arah depan, dia tak sengaja menekan tombol warna kuning. Bersamaan dengan itu pula Liza datang mendekat.
Jepret!
Tanpa sengaja Adnan mengambil foto Liza dalam mode tembus pandang. "Sial!" rutuknya refleks.
"Woy, Ad! Kau ngapain masih di sini sih? Mau nunggu aku sampai pulang? Masih lama tahu! Aku kuliah sampai sore!" cerocos Liza.
Adnan menurunkan kameranya dan berdiri menghadap Liza dengan kikuk. "Nggak apa-apa, Liz. Ayahmu menyuruhku mengawasimu," jelasnya.
"Emang kamu nggak ada kesibukan gitu? Apa kek? Ketemu pacar atau kerja hal lain gitu?" sahut Liza.
"Untuk sekarang nggak ada. Tapi nanti siang aku ada janji sebentar. Setelah itu aku akan kembali lagi ke sini," kata Adnan.
"Aku mau kamu pergi! Aku nggak mau di awasi begini! Lagian aku nggak bakalan kemana-mana kok!"
"Tapi, Liz--"
"Nggak ada tapi-tapian! Aku mau kau pergi! Aku janji nggak akan bilangin ini sama Papah. Kau tenang aja. Anggap aja ini kesepakatan buat kita!" ujar Liza.
Adnan membisu. Dia akhirnya mengangguk dan memilih masuk ke mobil untuk bersiap pergi.
Liza tersenyum puas dan beranjak kembali berkumpul dengan teman-temannya.
Di dalam mobil, Adnan juga tersenyum. Karena dia berniat hanya pura-pura pergi dan akan tetap mengawasi Liza. Ia bertekad melakukan pekerjaannya dengan baik. Mengingat Wildan memperkerjakannya bukan hanya untuk jadi sopir, tapi juga menjaga Liza.
Kini Liza melangkah memasuki kampus bersama Rini dan Salma. Seketika semua mata tertuju kepadanya. Liza memang dikenal sebagai primadona kampus. Banyak cowok yang menyukainya.
Diam-diam, Adnan mengamati gerak-gerik Liza dari jauh. Dia malah ikut-ikutan terpesona pada gadis itu. Jantungnya bahkan berdegup kencang.
Ponsel Adnan tiba-tiba berdering. Wanita sebelumnya kembali menelepon. Adnan segera mengangkatnya.
"Aku sudah nggak tahan lagi! Kau punya waktu untuk bertemu sekarang nggak?!" timpal wanita itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!