Cepat!!!
Harus lebih cepat!!!
Aku menekan tumitku ke sisi tubuh Steadfeet, dan kuda hitamku itu menerjang lebih dalam ke hutan elm yang gelap. Tanah di bawah kami basah karena hujan yang turun sejak sore, berubah menjadi lumpur pekat yang mengisap sepatu kudanya setiap kali ia menapak. Air kotor menciprat ke celana, ke mantel, ke wajahku, dingin dan asin ketika bercampur dengan keringat di bibirku.
Bunyi sepatu kuda menghantam tanah becek terdengar terlalu keras di antara batang-batang elm. Duk. Duk. Duk. Duk. Cepat, liar, tidak rata. Suara itu memecah keheningan hutan, menenggelamkan nyanyian serangga malam, menakuti burung-burung kecil yang tidur di dahan rendah. Beberapa dari mereka beterbangan panik ketika kami lewat, sayap mereka mengibas basah di antara daun-daun gelap.
Dad....
Mom....
Cecil....
Nama-nama itu berputar di kepalaku seperti doa yang rusak.
Tanganku masih gemetar hebat di atas tali kekang. Bukan hanya karena dinginnya udara malam yang menembus sarung tangan dan menggigit sampai ke tulang jari, tapi karena aku masih bisa merasakan lantai marmer istana di bawah lututku. Licin. Dingin. Terlalu merah di beberapa tempat. Masih bisa kudengar benturan baja di lorong timur, jeritan yang dipotong terlalu cepat, suara pintu besar ruang keluarga dihantam dari luar.
Aku mengatupkan rahang sampai gigi belakangku sakit.
Jangan berhenti.
Jangan melihat ke belakang.
Cepat!!!
Lebih cepat!!!
Steadfeet mendengus keras, napasnya keluar dalam kepulan putih yang langsung pecah diterpa angin. Lehernya basah, surainya menempel berat, dan setiap gerakan tubuhnya terasa sampai ke pahaku. Kuda itu lelah. Aku tahu ia lelah. Tapi ia tetap berlari, menembus semak rendah, melompati akar besar yang mencuat dari tanah, menyelinap di antara batang-batang elm yang terlalu rapat untuk jalur kuda perang.
Langit hampir tidak terlihat. Rimbun daun elm menutup bagian atas hutan seperti langit kedua yang hitam dan basah. Kadang, di sela-selanya, aku melihat potongan kecil bulan yang pucat, lalu hilang lagi ketika cabang-cabang bergesekan di atas kepalaku. Air hujan yang tertahan di daun jatuh satu-satu ke mantelku, ke tengkukku, ke kulit yang sudah dingin dan kaku.
“Sedikit lagi, boy,” bisikku pada Steadfeet.
Suaraku pecah. Terlalu kecil untuk malam sebesar itu.
“Kita hampir sampai.”
Aku tidak tahu apakah aku sedang meyakinkan dia atau diriku sendiri.
Angin berembus kencang menerpa wajahku. Sebuah garis merah di pipiku masih menyisakan rasa sakit yang panas, perih setiap kali udara dingin menyentuhnya. Luka itu tidak dalam, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ujung pedang pria itu hampir menemukan leherku. Aku masih bisa melihat matanya. Bukan marah. Bukan ragu. Kosong saja. Seperti membunuhku hanya bagian lain dari pekerjaannya malam itu.
Pasukan Dann.
Nama itu naik di tenggorokanku seperti sesuatu yang pahit.
Pamanku.
Aku menarik tali kekang terlalu keras ketika Steadfeet hampir tergelincir di turunan kecil. Kaki belakangnya terpeleset, lumpur menyembur ke samping, dan untuk sesaat seluruh tubuhku condong ke depan. Jantungku seperti jatuh ke perut. Aku mencengkeram pelana, menahan napas, lalu kuda itu berhasil menemukan pijakan lagi dan terus berlari.
“Good boy,” bisikku cepat. “Good boy.”
Tanganku meraba sisi dalam mantelku, memastikan koin perak itu masih di sana. Koin dengan lambang elang yang terukir di salah satu sisinya, koin yang diberikan Raja Jerrod Valdyr, ayahku, dengan tangan berdarah dan suara yang hampir habis. Aku tidak mau mengingat wajahnya saat itu. Tidak sekarang. Kalau aku mengingatnya terlalu jelas, aku akan jatuh dari pelana dan membiarkan hutan menelan tubuhku begitu saja.
Cari Marlow Renad.
Itu yang ia katakan.
Bukan pergi ke utara. Bukan cari pasukan setia. Bukan selamatkan diri sejauh mungkin.
Cari Marlow Renad.
Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku, tapi bagi Dad, nama itu cukup penting untuk menjadi pesan terakhirnya. Cukup penting untuk ia paksa keluar dari mulutnya sementara seluruh istana runtuh di sekitar kami.
Steadfeet mendadak mengangkat kepala. Telinganya bergerak ke belakang.
Aku ikut menegang.
Di belakang kami, jauh di antara pohon-pohon, ada suara lain.
Tidak jelas. Hampir tertelan hujan yang masih menetes dari daun. Tapi aku mendengarnya.
Derak ranting.
Ringkik pendek.
Logam yang beradu pelan.
Mereka masih mengejar.
Darahku terasa berubah dingin.
Aku menunduk lebih rendah di atas leher Steadfeet, merapatkan tubuhku ke pelana. Bau kuda basah, kulit pelana, lumpur, dan darah kering di lengan bajuku memenuhi hidung. Aku menekan tumitku lagi, lebih dalam, lebih putus asa.
“Run,” bisikku.
Steadfeet melesat.
Hutan elm berubah menjadi garis-garis hitam di kiri dan kananku. Cabang-cabang rendah menyambar bahuku, menggores mantelku, satu ranting menghantam pelipisku cukup keras sampai cahaya putih meledak sebentar di mataku. Aku tidak berhenti. Tidak boleh. Kalau aku berhenti, semua yang Dad lakukan akan sia-sia. Semua yang Mom tahan dengan tubuhnya di depan pintu itu akan sia-sia. Semua yang Cecil....
Napasku patah.
Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai terasa darah.
Jangan.
Jangan pikirkan Cecil.
Tidak sekarang.
Di depan, hutan mulai sedikit terbuka. Bukan jalan besar, hanya celah sempit di antara pohon-pohon tua, tempat tanah menurun menuju lembah kecil yang pernah kutandai dari peta perburuan Dad. Kalau ingatanku benar, ada sungai di bawah sana. Sungai sempit dengan batu-batu licin dan jembatan kayu tua yang jarang dipakai.
Kalau kami bisa menyeberang....
Aku menoleh sekilas ke belakang.
Tidak banyak yang bisa kulihat, hanya gelap, batang-batang pohon, kabut tipis, dan jauh di antara semuanya, kilatan kecil obor yang bergerak.
Terlalu dekat.
Aku kembali menghadap depan.
“Sedikit lagi,” kataku, kali ini hampir tanpa suara.
Steadfeet berlari menuruni lereng.
Tanah basah membuat setiap langkah terasa seperti taruhan. Kuda itu menahan tubuhnya dengan kaki depan, otot-ototnya bekerja keras, napasnya pecah kasar. Aku mencengkeram tali kekang dan pelana sekaligus, membiarkan lututku menekan sisi tubuhnya agar aku tidak terlempar. Di bawah, suara sungai mulai terdengar, gemericik deras di antara batu, dingin dan gelap.
Lalu jembatan itu muncul.
Kayunya hitam oleh hujan. Tali sampingnya kendur. Beberapa papan terlihat patah di bagian tepi.
Aku tidak punya pilihan.
“Go!”
Steadfeet melompat ke atas jembatan.
Papan pertama mengerang keras di bawah berat kami. Suaranya seperti tulang tua yang dipaksa bangun. Air sungai berdesir di bawah, gelap dan cepat, menghantam batu-batu besar dengan suara basah yang tajam. Aku merasakan jembatan bergoyang, merasakan Steadfeet ragu setengah detik, lalu aku menepuk lehernya dengan tangan gemetar.
“Terus. Terus, boy.”
Kami menyeberang.
Setiap langkah terdengar terlalu keras.
Duk.
Krek.
Duk.
Krek.
Di belakang, suara pengejar semakin jelas. Teriakan pendek. Perintah. Sepatu kuda mendekati turunan.
Steadfeet mencapai ujung jembatan dengan hentakan berat, lalu kembali ke tanah padat. Aku hampir menangis karena lega, tapi tubuhku tidak punya cukup ruang untuk itu.
Aku menarik napas tajam, lalu menoleh.
Obor pertama muncul di sisi seberang sungai.
Seorang prajurit berhenti di awal jembatan, wajahnya tersembunyi di balik helm basah. Di belakangnya, dua orang lagi menyusul. Salah satu dari mereka mengangkat tangan, menunjuk ke arahku.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
Aku melihat mereka.
Mereka melihatku.
Lalu aku melihat tali jembatan di sisiku, tua, basah, tertarik tegang oleh berat kayu.
Pisau kecil di pinggangku terasa menekan tulang pinggul.
Tanganku bergerak sebelum pikiranku sempat menyusul.
Aku turun dari pelana hampir jatuh, kakiku menghantam lumpur sampai betisku terbenam. Lututku gemetar. Seluruh tubuhku menolak bergerak lagi, tapi aku memaksa. Aku mencabut pisau itu, menggenggamnya dengan tangan yang licin oleh hujan dan keringat.
Prajurit pertama mulai menyeberang.
Papan jembatan berderak di bawah langkah kudanya.
Aku menyayat tali pertama.
Tidak langsung putus.
Seratnya terlalu basah, terlalu tebal. Aku menggeram, menekan lebih keras, menggerakkan pisau dengan panik. Serpihan tali menggigit telapak tanganku. Dari seberang, seseorang berteriak.
Aku menyayat lagi.
Tali itu putus dengan suara cambukan basah.
Jembatan miring.
Kuda di atasnya menjerit.
Aku hampir jatuh ketika seluruh struktur kayu berguncang. Tanpa menunggu, aku menyerang tali kedua. Napasku keluar kasar, dadaku sakit, luka di pipiku terbakar. Pengejar di tengah jembatan berusaha mundur, tapi papan di bawahnya sudah miring, kukunya tergelincir, suara kayu pecah bercampur dengan teriakan manusia.
Tali kedua putus.
Jembatan runtuh ke sungai.
Suara kayu, logam, kuda, dan air menghantam malam sekaligus. Aku mundur tersandung, jatuh duduk di lumpur, pisau masih tergenggam di tangan. Di bawah, arus sungai menelan papan-papan patah dan obor yang padam satu per satu.
Aku duduk di sana beberapa detik, gemetar, napas terputus-putus, telingaku berdenging.
Steadfeet mendekat dan menyentuh bahuku dengan moncongnya yang basah.
Aku menoleh padanya.
Di seberang sungai, masih ada obor. Masih ada suara. Mereka belum selesai. Tapi untuk sekarang, sungai berada di antara kami.
Untuk sekarang, aku masih hidup.
Aku memaksa tubuhku berdiri. Kakiku lemah, tapi bergerak. Aku memasukkan pisau kembali ke pinggang, menggenggam pelana, lalu menarik diriku naik ke punggung Steadfeet dengan sisa tenaga yang terasa seperti bukan milikku lagi.
Di belakangku, istana sudah tidak terlihat.
Tapi aku masih bisa mencium asapnya.
Pagi datang dalam warna abu-abu pucat ketika Gisa akhirnya muncul di balik kabut sungai.
Aku melihatnya dari atas punggung Steadfeet, dengan tubuh yang terasa bukan lagi milikku sendiri. Punggungku kaku, pahaku nyeri karena terlalu lama mencengkeram pelana, dan kedua tanganku masih gemetar di atas tali kekang. Semalam seperti belum benar-benar selesai. Dingin hutan masih menempel di tulangku. Bau lumpur, darah kering, kulit pelana basah, dan napas kuda yang kelelahan masih mengurungku seperti selimut busuk.
Gisa berdiri di atas air.
Bukan seperti Izengard yang menjulang dengan tembok batu dan menara-menara keras, tetapi seperti kota yang lahir dari sungai dan belajar hidup di atasnya. Kanal-kanal sempit membelah deretan bangunan tua berwarna pucat, airnya gelap kehijauan, memantulkan jendela-jendela tinggi, balkon besi, jemuran basah, dan papan nama toko yang bergoyang pelan tertiup angin pagi. Perahu-perahu kecil bergerak malas di antara rumah-rumah, didorong dayung panjang atau mesin kecil yang mendengung rendah. Di beberapa tempat, jembatan batu melengkung di atas kanal seperti punggung binatang tua.
Bau air asin dan kayu basah menyambutku lebih dulu. Lalu bau ikan dari pasar pagi, asap tipis dari dapur-dapur kecil, roti yang baru dibakar, lumut yang tumbuh di dinding bata, dan kotoran kuda dari jalan sempit yang mengarah ke gerbang darat kota.
Aku pernah datang ke sini saat masih kecil.
Dad membawaku bersama rombongan istana ketika ia punya urusan dengan orang penting di Gisa. Aku tidak ingat nama orang itu. Aku hanya ingat tanganku yang kecil menggenggam jari Dad, suara perahu menabrak tiang dermaga, dan Cecil yang tertawa karena takut jatuh ke kanal. Mom membeli kue madu dari kios dekat jembatan merah, lalu menyuruhku tidak makan terlalu cepat.
Ingatan itu datang terlalu tajam.
Aku menelannya sebelum sempat membuat dadaku pecah.
Gerbang luar Gisa tidak sebesar gerbang Izengard, tapi dijaga cukup ketat. Dua menara rendah berdiri di sisi jalan batu, basah oleh embun, dengan bendera kerajaan menggantung lesu di atasnya. Kainnya masih memakai lambang Valdyr.
Aku berhenti beberapa langkah dari pos penjagaan.
Tiga penjaga melihatku.
Awalnya mereka hanya berdiri diam, mungkin mencoba memahami apa yang mereka lihat: seorang pemuda dengan mantel koyak, wajah pucat, pipi tergores, pakaian kotor oleh lumpur dan darah, datang sendirian di atas kuda hitam yang hampir roboh karena lelah. Lalu salah satu dari mereka bergerak maju.
Tanganku turun ke gagang pedang.
Gerakan itu tidak kupikirkan. Tubuhku melakukannya lebih dulu. Jari-jariku menutup di kulit pegangan yang dingin, dan dunia langsung menyempit menjadi jarak antara aku dan pria itu. Aku menghitung langkahnya. Menghitung pedang di pinggangnya. Menghitung dua penjaga lain di belakangnya. Lututku lemah, tapi aku tetap siap. Kalau mereka mengenali aku sebagai buruan Dann, aku tidak akan membiarkan mereka mengambilku hidup-hidup.
Penjaga itu berhenti.
Matanya turun ke tanganku yang sudah berada di pedang.
Lalu ia mengepalkan tangan kanannya dan meletakkannya di dada.
Dua penjaga lain di belakangnya melakukan hal yang sama.
Salam kerajaan.
Salam untuk darah Valdyr.
Untuk beberapa detik, aku tidak bisa bernapas.
“Yang Mulia,” kata penjaga pertama, suaranya rendah dan terkejut. Bukan teriakan. Bukan pengumuman. Hanya bisikan yang hampir patah oleh rasa tidak percaya. “Apa yang terjadi pada Anda?”
Aku tidak menjawab.
Aku tidak tahu apa yang akan keluar dari mulutku kalau aku mencoba. Mungkin nama Dad. Mungkin jeritan. Mungkin kebohongan buruk yang langsung hancur sebelum selesai.
Mereka masih setia pada Dad, pikirku.
Atau berita kejatuhan istana belum sampai sejauh ini.
Mungkin keduanya.
Penjaga itu melangkah lebih dekat, lebih hati-hati sekarang, seperti mendekati hewan terluka yang masih bisa menggigit. Matanya bergerak ke luka di pipiku, ke mantelku yang sobek, ke tangan kiriku yang masih gemetar di tali kekang.
“Kami bisa memanggil tabib,” katanya.
“Tidak.” Suaraku keluar kasar.
Tenggorokanku terasa seperti penuh pasir.
Aku menelan ludah, tapi tidak banyak membantu.
“Rawat kudaku,” kataku.
Penjaga itu menatap Steadfeet. Kuda hitamku berdiri dengan kepala tertunduk, napasnya berat, kaki-kakinya berlumur lumpur sampai lutut. Uap tipis keluar dari tubuhnya yang panas setiap kali udara pagi menyentuh bulunya yang basah.
“Beri dia makan. Air bersih. Jangan langsung terlalu banyak.” Aku berhenti sebentar, mencoba mengingat sesuatu yang sepele di tengah semua kehancuran ini. Aneh sekali hal yang bisa bertahan di kepala manusia. “Dan akar lir. Kalau ada.”
Penjaga itu berkedip.
“Akar lir, Yang Mulia?”
Aku mengangguk pelan, mataku masih pada Steadfeet.
“Dia suka itu.”
Untuk alasan yang tidak kumengerti, kalimat itu hampir membuatku hancur.
Steadfeet mengangkat kepalanya sedikit ketika aku turun dari pelana. Kakiku menyentuh batu basah, lalu hampir menyerah. Salah satu penjaga bergerak cepat, tapi aku mengangkat tangan sebelum ia menyentuhku. Aku tidak ingin ditopang. Tidak di depan mereka. Tidak ketika satu-satunya hal yang masih kumiliki adalah cara berdiri.
Aku menyerahkan tali kekang pada penjaga termuda. Anak itu mungkin tidak jauh lebih tua dariku. Wajahnya pucat ketika menerima Steadfeet, seolah ia sadar sedang memegang sesuatu yang kembali dari neraka.
“Jaga dia,” kataku.
“Akan saya pastikan sendiri, Yang Mulia.”
Aku menarik mantelku lebih rapat, walaupun kainnya basah dan tidak banyak menahan dingin. Di dalam kota, suara pagi mulai tumbuh. Roda gerobak di jalan batu. Pedagang membuka daun pintu. Perempuan tua menyiram tangga depan rumahnya dengan seember air kanal. Sebuah perahu lewat di bawah jembatan, membawa peti-peti ikan yang masih berkilap. Kota ini hidup seperti tidak ada yang runtuh semalam.
Seolah Dad masih bernapas.
Seolah Mom masih menyisir rambut Cecil di ruang matahari.
Seolah aku masih punya rumah untuk pulang.
Aku memejamkan mata sebentar.
Ketika kubuka lagi, penjaga pertama masih menunggu.
“Aku mencari seseorang,” kataku.
“Siapa, Yang Mulia?”
Nama itu terasa asing di lidahku, meskipun semalam Dad mengucapkannya seperti satu-satunya jalan keluar yang tersisa di dunia.
“Marlow Renad.”
Ada perubahan kecil di wajah penjaga itu.
Tidak banyak. Ia terlalu terlatih untuk menunjukkan semuanya. Tapi cukup. Rahangnya mengeras sedikit. Matanya menajam, lalu cepat-cepat turun seolah ia baru sadar telah terlalu lama menatapku.
“Apakah dia masih di Gisa?” tanyaku.
Penjaga itu diam sesaat.
Di belakangnya, dua penjaga lain saling melirik.
Aku membenci jeda itu.
Tanganku hampir kembali ke pedang.
“Dia tinggal di pinggiran kota,” kata penjaga itu akhirnya. “Di pulau kecil dekat kanal tua. Tidak banyak orang pergi ke sana.”
“Aku perlu menemuinya.”
“Sekarang?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu mati di wajahnya.
“Tentu, Yang Mulia,” katanya cepat. “Kami akan menyiapkan perahu.”
Aku tidak mengucapkan terima kasih.
Bukan karena aku tidak mau. Hanya karena kata-kata terasa terlalu berat untuk hal kecil seperti sopan santun.
Mereka membawaku melewati gerbang samping, bukan gerbang utama. Mungkin untuk menghindari perhatian. Mungkin karena melihat keadaanku, mereka tahu seorang pangeran yang datang sendirian, berlumur lumpur, dan menanyakan nama tua seperti Marlow Renad bukan sesuatu yang seharusnya diumumkan ke pasar pagi.
Jalan batu Gisa licin di bawah sepatuku. Di kiri-kanan, bangunan-bangunan rapat berdiri dengan dinding yang lembap dan jendela-jendela tinggi. Air kanal menampar pelan tepi batu, membawa potongan daun, busa, dan kelopak bunga merah dari balkon seseorang. Sebuah lonceng kecil berbunyi jauh di dalam kota. Entah dari kuil Jessiah, dermaga, atau menara jam. Suaranya lembut, tapi membuat tubuhku tegang, karena semalam semua bunyi keras berarti bahaya.
Kami sampai di dermaga kecil di belakang pos.
Perahunya sempit, kayu tua dengan cat hitam yang sudah mengelupas di beberapa tempat. Seorang pendayung menunggu di dalamnya, pria kurus dengan topi lebar dan wajah yang tidak banyak bertanya. Penjaga pertama naik lebih dulu, lalu mengulurkan tangan padaku. Aku mengabaikannya dan turun sendiri.
Perahu bergoyang ketika kakiku menginjak papan.
Perutku ikut naik.
Aku duduk di bangku tengah, kedua tangan di atas lutut, jari-jari masih kaku dan kotor. Dari sini, Gisa terlihat berbeda. Lebih rendah. Lebih dekat dengan air. Rumah-rumahnya seolah menunduk ke kanal, jendela-jendelanya menatap dari atas seperti mata orang-orang yang pura-pura tidak melihat.
Pendayung menekan dayung panjang ke dasar kanal.
Perahu bergerak.
Air terbelah pelan di sisi kami, mengeluarkan suara lembut yang anehnya terdengar lebih tajam daripada seharusnya. Kami melewati bawah jembatan batu pertama, lalu jembatan kedua yang dipenuhi lumut di bagian bawahnya. Di atas, orang-orang berjalan tanpa menoleh. Seorang anak kecil menjatuhkan remah roti ke air. Seekor burung putih menyambar turun, lalu terbang lagi.
Gisa terus membuka dirinya dalam potongan-potongan kecil, balkon besi, tali jemuran, pintu-pintu biru yang menghadap langsung ke kanal, perahu buah, tangga batu yang masuk ke air, wajah-wajah pagi yang tidak tahu bahwa seorang pewaris kerajaan sedang duduk di perahu sempit dengan pakaian kotor dan jantung yang belum berhenti berlari.
Aku menatap ke depan.
Di ujung kanal, jauh dari bagian kota yang ramai, kabut masih menggantung rendah di atas air. Dari baliknya, perlahan muncul sebuah pulau kecil.
Tidak besar. Hanya sebidang tanah muram yang dipeluk kanal tua, dengan beberapa pohon willow menunduk di tepinya dan rumah batu kelabu berdiri sendirian di tengahnya. Atapnya gelap, jendelanya sempit, dan tidak ada bendera di sana.
Penjaga di depanku menoleh sedikit.
“Itu kediaman Marlow Renad,” katanya.
Aku tidak menjawab.
Perahu terus meluncur mendekati pulau itu, dan untuk pertama kalinya sejak aku meninggalkan istana, rasa takutku tidak lagi berlari di belakangku.
Tapi menunggu di depanku.
Perahu itu menepi di sisi pulau yang nyaris tidak pantas disebut dermaga.
Hanya ada beberapa tiang kayu tua yang ditancapkan miring ke dasar kanal, disambung papan-papan pendek yang warnanya sudah menghitam oleh air dan usia. Lumut tumbuh tebal di sela-selanya, hijau gelap, licin, seperti sesuatu yang dibiarkan terlalu lama membusuk tanpa pernah benar-benar mati. Ketika kakiku turun ke atasnya, papan itu mengerang pelan, dan air kanal menampar sisi pulau dengan suara kecil yang berulang.
Aku berhenti sebentar di sana.
Bukan karena ingin menikmati pemandangan. Tubuhku hanya belum sepenuhnya percaya bahwa ia boleh berhenti bergerak. Semalaman aku memaksanya berlari, menunduk, mencengkeram pelana, bernapas lewat gigi, menelan takut sampai rasanya perutku penuh batu. Sekarang, ketika perahu diam dan tanah berada di bawah kakiku, lututku justru terasa lebih lemah daripada saat Steadfeet menembus hutan elm dalam gelap.
Penjaga yang ikut bersamaku berdiri dari perahu. Ia hendak turun juga, satu tangan sudah memegang sisi kayu untuk menjaga keseimbangan.
“Saya akan menemani Anda, Yang Mulia.”
“Tidak.”
Suaraku keluar lebih cepat daripada niatku.
Ia berhenti. Matanya menatapku, lalu turun sedikit ke mantelku yang koyak, ke lumpur yang mengering di ujung jubahku, ke luka merah di pipiku yang masih terasa panas setiap kali angin kanal menyentuhnya. Aku bisa melihat keinginannya untuk membantah. Mungkin karena tugasku sebagai pangeran bukan berjalan sendirian ke pondok seorang pria asing di pulau kecil yang sepi. Mungkin karena ia masih cukup setia pada Dad untuk merasa harus menjaga anaknya.
Tapi aku tidak ingin dijaga.
Tidak sekarang.
“Aku pergi sendiri,” kataku.
Penjaga itu menelan bantahannya. Lalu, perlahan, ia mengepalkan tangan kanan dan meletakkannya di dada.
“Sesuai perintah Anda.”
Aku menatapnya beberapa saat. Wajahnya masih muda, tapi matanya sudah terlalu lama mengenal tugas. Di belakangnya, pendayung duduk diam, menunduk sedikit, pura-pura tidak mendengar apa pun. Kabut pagi bergulung rendah di permukaan air, membuat Gisa di kejauhan tampak seperti kota yang sedang memudar.
“Terima kasih,” kataku.
Kata itu terasa aneh. Terlalu kecil. Terlalu bersih. Tapi hanya itu yang bisa kuberikan tanpa membuka semua hal lain yang kutahan di tenggorokan.
Penjaga itu menundukkan kepala.
Perahu bergerak pergi beberapa saat kemudian. Dayung panjang menekan air, menciptakan garis-garis hitam yang melebar pelan di permukaan kanal. Aku berdiri di ujung papan basah, memandangi mereka menjauh. Perahu itu melewati kabut, lalu menyatu dengan bayangan rumah-rumah Gisa, dengan atap-atap pucatnya, balkon besinya, jembatan batunya, dan asap dapur yang mulai naik dari pemukiman.
Tidak lama kemudian, aku sendirian.
Pulau itu kecil. Terlalu kecil untuk menampung banyak rahasia, tetapi cukup sepi untuk menyembunyikan satu orang dari dunia. Tanahnya lembap dan gelap, ditumbuhi rumput liar yang basah oleh embun. Beberapa pohon willow berdiri di tepi kanal, cabang-cabangnya menunduk rendah sampai hampir menyentuh air, seperti orang tua yang terlalu lama memikul sesuatu di punggungnya.
Pondok Marlow Renad berdiri di tengah pulau.
Bangunannya rendah, terbuat dari batu kelabu yang kasar dan lembap. Atapnya miring, disusun dari genting hitam yang sebagian sudah ditumbuhi lumut. Tidak ada pagar. Tidak ada lambang. Tidak ada bendera kerajaan. Tidak ada tanda bahwa tempat itu pernah menerima tamu, apalagi seorang pangeran. Jendelanya sempit dan tertutup dari dalam, hanya menyisakan garis gelap di balik kaca buram. Di dekat dinding samping, ada tumpukan kayu bakar yang disusun terlalu rapi untuk rumah orang malas. Di bawah salah satu jendela, aku melihat ember logam, perangkap kecil, dan pisau pendek tertancap di batang kayu.
Pondok itu tidak tampak ramah.
Tapi juga tidak tampak terlantar.
Ada asap tipis yang hampir tidak terlihat keluar dari cerobongnya, bercampur dengan kabut pagi sebelum menghilang. Bau kayu terbakar yang sudah tua tercium samar, tertutup bau air kanal, tanah basah, daun willow, dan lumut. Segala sesuatu di pulau itu seolah dipelankan. Air bergerak pelan. Daun jatuh pelan. Bahkan napasku sendiri terdengar terlalu keras.
Aku berjalan mendekat.
Setiap langkah membuat lumpur tipis melekat di sol sepatuku. Mantelku terasa berat di bahu, kainnya kaku oleh air, darah, dan perjalanan. Jari-jariku dingin. Bukan hanya dingin udara. Dingin semacam lain, yang tidak hilang meski aku mengepalkan tangan.
Aku berhenti di depan pintu.
Pintunya terbuat dari kayu gelap, tua, dengan urat-urat kasar yang menonjol seperti punggung tangan pekerja. Pengetuk besinya berbentuk lingkaran polos, tanpa ukiran. Aku mengangkat tangan, lalu diam sesaat.
Dad menyuruhku mencari pria ini.
Dad, dengan darah di sela giginya, dengan suara yang hampir tidak lagi menjadi suara.
Cari Marlow Renad.
Aku mengetuk.
Tiga kali.
Bunyi itu masuk ke dalam pondok dan mati di sana.
Tidak ada jawaban.
Aku menunggu.
Di belakangku, kanal menampar pelan batu. Dari arah Gisa yang jauh, terdengar lonceng pagi, halus dan bergetar, lalu segera ditelan kabut. Seekor burung putih hinggap di salah satu cabang willow, menatapku sebentar, lalu terbang lagi seolah pulau itu bukan tempat yang baik untuk tinggal terlalu lama.
Aku mengetuk lagi.
Lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Rasa kesal naik ke dadaku, panas dan tajam. Untuk pertama kalinya sejak malam tadi, emosi lain selain takut berhasil menembus tubuhku. Aku membutuhkannya. Aku hampir menyambutnya. Marah lebih mudah ditahan daripada kehilangan.
“Buka pintunya, Marlow Renad,” kataku.
Suaraku serak, tapi cukup jelas.
“Aku tahu kau di dalam.”
Diam.
Aku menggertakkan gigi.
Tanganku terangkat lagi, kali ini bukan untuk mengetuk, tapi menggedor.
Sebelum buku jariku menyentuh kayu, pintu itu terbuka.
Tidak berderit. Tidak perlahan. Hanya terbuka secukupnya, seolah orang di baliknya sudah berdiri di sana sejak tadi, mendengarkan setiap ketukan, setiap napas, setiap detak kesabaranku yang pecah satu per satu.
Pria itu berdiri di ambang pintu.
Marlow Renad tidak terlihat seperti apa pun yang kubayangkan selama perjalanan dari Gisa. Bukan lelaki tua bungkuk dengan mata keruh. Ia mungkin berusia empat puluhan, tetapi tubuhnya masih tegap, padat, dan tidak banyak bergerak. Rambutnya pirang, namun sudah mulai memudar di dekat pelipis, bercampur warna pucat seperti abu dingin. Rahangnya ditumbuhi janggut tipis yang tidak rapi, memberi wajahnya kesan kasar, seperti seseorang yang hanya bercukur ketika ingat bahwa ia masih punya wajah.
Matanya biru.
Tajam, dingin, dan sangat sadar.
Ia menatapku dari kepala sampai kaki tanpa menunduk, tanpa memberi salam, tanpa mengepalkan tangan ke dada. Tatapannya melewati mantelku yang koyak, noda darah di lengan baju, lumpur di sepatu, luka di pipiku, lalu berhenti sebentar pada tanganku yang masih menggantung di udara.
“Aku tidak menerima tamu,” katanya.
Suaranya rendah, kasar di pinggirnya. Bukan suara orang tua. Bukan suara prajurit. Lebih seperti suara pintu yang lama terkunci lalu dipaksa terbuka.
“Aku bukan tamu.”
“Kelihatannya seperti tamu.”
“Aku datang dari Izengard.”
“Banyak orang datang dari Izengard.” Ia tidak berkedip. “Biasanya mereka membawa masalah dan mengira nama kota itu cukup untuk membuat orang lain membukakan pintu.”
Aku merasakan panas naik ke wajahku.
“Aku Kal Valdyr.”
“Aku tahu siapa kau.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada seharusnya.
Bukan karena ia meragukanku. Justru karena ia tidak meragukanku sama sekali. Ia tahu. Ia melihatku. Ia tahu aku adalah putra Raja Jerrod, pewaris takhta, darah Valdyr yang berdiri di depan pintunya dalam keadaan berantakan. Dan tetap saja, wajahnya tidak berubah.
Tidak ada hormat.
Tidak ada terkejut.
Tidak ada takut.
Marlow menatapku beberapa detik lagi, lalu tangannya bergerak ke sisi pintu.
“Pulanglah, Yang Mulia.”
Gelar itu keluar dari mulutnya seperti sesuatu yang sudah lama tidak ia gunakan dan tidak ia rindukan.
“Aku tidak bisa pulang.”
“Itu bukan urusanku.”
Pintu mulai menutup.
Panik menyambar dadaku begitu cepat sampai aku hampir kehilangan napas. Tanganku masuk ke kantong bagian dalam mantel. Jari-jariku meraba kain basah, jahitan robek, lalu menyentuh logam kecil yang dingin.
Aku menariknya keluar.
Koin itu terbungkus kain tipis, sudah lembap oleh hujan dan keringat. Aku membuka kainnya dengan gerakan kasar, lalu mengangkat koin itu di antara kami.
Pintu berhenti.
Marlow tidak melihat wajahku lagi.
Ia melihat koin itu.
Logamnya kusam, lebih gelap daripada emas, dengan ukiran burung kecil di salah satu sisi. Sayapnya terbuka setengah, paruhnya menunduk, dan lingkaran tipis di sekelilingnya hampir hilang dimakan usia. Koin itu tampak tidak berharga. Terlalu kecil untuk mengubah apa pun. Terlalu diam untuk menjadi pesan terakhir seorang raja.
Tapi Marlow melihatnya seperti orang melihat mayat lama yang baru muncul dari kubur.
Wajahnya tidak banyak berubah, tetapi matanya mengeras.
Untuk sesaat, acuh tak acuhnya retak. Di baliknya ada sesuatu yang lebih tua, ingatan, kewaspadaan, dan kemarahan yang langsung ia tutup sebelum sempat bernapas.
Aku tidak mengatakan apa-apa tentang istana.
Tidak tentang Dad.
Tidak tentang Mom.
Tidak tentang Cecil.
Tidak tentang lorong yang berubah merah, pintu yang dihantam dari luar, atau suara prajurit Dann yang memanggil namaku seolah aku binatang buruan. Semua itu menumpuk di tenggorokanku, tajam, panas, dan kalau kubiarkan keluar sedikit saja, aku takut seluruh tubuhku akan ikut runtuh.
Marlow tetap diam.
Tapi dari cara ia memandangi koin itu, aku tahu ia mengerti cukup banyak.
Mungkin belum semuanya. Mungkin ia belum tahu siapa yang mati, siapa yang mengkhianati, siapa yang duduk di takhta sekarang. Tapi ia tahu koin itu tidak diberikan untuk urusan kecil. Ia tahu seorang Valdyr tidak akan datang sendirian ke pulau kecil di pinggiran Gisa sebelum matahari naik tinggi kecuali sesuatu yang besar telah patah.
“Siapa yang memberimu itu?” tanyanya.
Aku menatapnya.
Ia sudah tahu jawabannya.
Dan ia tahu aku tahu bahwa ia sudah tahu.
Angin menggerakkan cabang willow di atas kepala kami. Daunnya bergesekan pelan dengan atap pondok, menghasilkan suara basah yang membuat kulit leherku meremang. Dari dalam rumah, aku mencium bau abu, besi, kulit tua, dan ramuan kering. Di balik bahu Marlow, ruangan itu tampak gelap dan sempit. Ada meja kayu panjang, rak berisi botol kaca, gulungan peta, dan senjata pendek tergantung di dekat perapian mati.
Tempat itu bukan rumah orang yang sudah benar-benar pensiun.
Tempat itu rumah orang yang menunggu dunia melakukan kesalahan yang sama dua kali.
Marlow melihat koin itu sekali lagi.
Lalu ia menatapku.
Kali ini, matanya tidak lagi sepenuhnya dingin. Masih keras. Masih tidak ramah. Tapi ada perhitungan baru di sana, sesuatu yang membuatku merasa ia sedang menimbang bukan hanya apakah aku boleh masuk, tetapi apakah dunia di luar pintunya sudah cukup buruk untuk membuatnya peduli lagi.
Akhirnya, ia melepaskan pegangan dari sisi pintu.
Kayu tua itu terbuka lebih lebar.
“Masuk,” katanya.
Aku menurunkan koin perlahan, merasakan telapak tanganku sakit karena terlalu lama menggenggamnya.
Marlow bergeser dari ambang pintu, memberi jalan ke dalam pondoknya. Wajahnya tetap datar, tetapi suaranya turun sedikit ketika ia menambahkan,
“Dan jangan sentuh apa pun.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!