"Party kitaaaa."
Jedug jedug jedug
Suara musik yang dimainkan oleh seorang disk jockey di kelab itu begitu memekakkan telinga namun sangat enak diikuti. Beberapa orang turun ke lantai dansa dan mulai menari. Namun ada beberapa yang enggan dan hanya memilih duduk sambil menikmati minuman.
Termasuk seorang pria yang masih mengenakan jasnya dengan rapi. Pria itu enggan diajak turun ke lantai dansa dan memilih untuk tetap duduk.
Wajahnya yang tampan beberapa kali dihampiri oleh para wanita, namun lagi-lagi dia menolak.
"Oh ayolah Kael, ini minum. Ya kali kamu cuma pesen jus gini sih," ucap salah seorang pria yang mungkin adalah temannya.
"Aku nyetir sendiri jadi nggak minum," elak pria tersebut. Dia menolak ajakan minum dari teman-temannya.
"Kaelus Danurwenda, please jangan jadi anak Mami. Kamu tuh dah umur 24 tahun, tapi masa ya kelakuan mu kayak bayi sih. Kamu bahkan udah gantiin papa kamu mimpin perusahaan. Ya kali minum dikit aja nggak mau," ledek pria berbaju hitam dengan memegang sebuah gelas wine.
"Nggak, aku lagi nggak pengen. Dah kalia aja," jawab Kaleus. Dia terus menolak ajakan teman-temannya.
Kaelus adalah seorang pewaris dari sebuah perusahaan Agri Danur Alam atau di sebut PT ADA yang berlokasi di Bandung. Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang perkebunan, pertanian pangan dan juga peternakan.
PT ADA juga membuat sebuah peternakan yang bisa dikunjungi bagi para pelajar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Meski masih muda Kaelus sudah didapuk untuk jadi pewaris, walau ayahnya masih tetap berperan aktif.
Saat ini Kaelus tengah bereuni dengan teman-teman kuliahnya di Jakarta. Awalnya dia tak ingin pergi karena lelah setelah menemui klien. Namun teman-temannya memaksa dan tidak masalah menunggu. Terlebih jarak dan kesibukan masing-masing membuat mereka tidak bisa sering bertemu. Alhasil Kael pun datang di acara tersebut.
"Ah nggak asik kamu mah."
Kael tidak peduli dikatai begitu. Yang jelas dia sudah datang, dan tak lama kemudian ia pun pamit undur diri.
"Lah, udah mau pulang. Masih sore ini, baru jam 10," ucap salah satu teman Kael.
"Iya, besok pagi-pagi aku harus udah balik ke Bandung. Jadi butuh istirahat juga. Cabut dulu ya, have fun buat kalian. Kapan-kapan kita kumpul lagi."
Kaelus beranjak dari duduknya. Pria yang tingginya 184 cm itu melangkahkan kaki panjangnya dengan segera. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena tangannya di pegang oleh seseorang.
"Lho mau kemana?" tanya orang itu.
"Mau pulang. Sorry ya Vic aku duluan," jawab Kael.
"Yah kok udahan sih. Kita belum ngobrol ini. Tck, ya udah kalau gitu. Hati-hati ya. Ah ya, minum ini dong. Spesial dari gue nih. Tenang, ga ada alkoholnya kok ini."
Meski sempat ragu, Kael mengambil juga gelas pemberian Victor. Dia mengendus sesaat dan benar saja tak ada bau alkohol di sana. Kael pun segera menenggak minuman itu hingga tandas tak bersisa.
"Nih, udah ya. Ya udah aku cabut," ucap Kael sambil memberikan gelas itu kepasa temannya.
Victor hanya tersenyum, dimana senyumnya begitu penuh arti. Dia melambaikan tangan ke arah sang teman yang sudah meninggalkan kelab tersebut.
"Terima hadiah kecil ku itu kawan. Kamu pasti akan suka," ucap Victor sambil tertawa penuh kepuasan.
Ughhh
Di dalam mobil, Kael mulai mengernyitkan keningnya karena merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Namun, pria itu masih bisa mengemudikan mobilnya hingga ke rumah.
Meski tinggal di Bandung, tapi keluarga Kael juga memiliki rumah di Jakarta. Setiap ada urusan bisnis atau urusan lainnya, mereka akan menggunakan rumah itu sebagai tempat singgah sehingga tak perlu menginap di hotel.
Ckiiit
Dengan terburu-buru Kael memarkirkan mobilnya ketika sampai di depan rumah. Komplek perumahan yang memang sangat aman tersebut memang tak perlu menggunakan gerbang di setiap rumahnya. Kecuali memang si pemilik menginginkannya.
"Sial, kenapa panas banget?" umpat Kael. Dia membuka jasnya, mengendurkan dasi yang membelit leher, dan bahkan sudah mengeluarkan kemejanya dari dalam celana agar terasa lebih nyaman.
Namun rasa panas yang menjalar dari dalam tubuh itu tak kunjung hilang.
Blak!
Kael mendorong pintu rumah dengan begitu keras. Karena sedang dalam kondisi yang tidak normal, dia tidak sadar bahwa pintu rumah itu ada yang membukanya.
Kael terus berjalan menuju ke dapur. Ia membuka kulkas, mengambil air lalu menegakkan hingga habis satu botol. Namun rasa panas dalam tubuhnya tetap tak mau hilang.
"Sebenarnya aku ini kenapa? Kok panas banget gini, ughhh dan kenapa 'dia' jadi meronta-ronta dan sakit gini? Ughhh ... ."
Kael melihat ke bawah, bagian tubuhnya yang berada di antara dua paha itu terasa sangat tegang dan menyakitkan. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya.
Pria itu coba mengingat-ingat apa yang dilakukannya sebelumnya. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh tak ada yang salah. Di kelab, ia juga hanya meminum jus.
"Aaah dasar brengsek!" umpat Kael ketika dia menemukan sesuatu dalam ingatannya. Victor, Kael baru ingat jika dirinya minum sesuatu yang diberikan sang teman.
"Dia pasti yang ngelakuinnya," ucapnya.
Kael bergegas menuju ke kamar mandi terdekat. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower air dingin tanpa melepaskan pakaiannya. Kael berada di sana untuk beberapa waktu.
Dirasa sudah cukup reda, ia pun keluar. Namun prediksi Kael salah. Tubuh yang ia rasa sudah netral itu malah sangat bergejolak sekarang ketika melihat seorang gadis di depannya.
"Siapa kamu?" tanya Kael. Seingatnya rumah ini sama sekali tidak ada penghuninya.
"Saya Rosa, Tuan. Saya adalah orang yang dipekerjakan oleh pengawas yang mengawasi rumah ini. Saya bertugas bersih-bersih dan menyiapkan keperluan tuan pemilik rumah yang datang."
Gadis dengan rambut dikuncir bak ekor kuda itu menjawab dengan lancar. Kael merasa bahwa itu memang bukanlah mengada-ada.
"Rosa ya namamu. Sekarang, pulanglah. Aku nggak butuh apapun lagi," ucap Kael.
"Baik, kalau begitu saya permisi Tuan. Oh iya, ini handuk. Saya tadi lihat Tuan masuk ke kamar mandi tanpa membawanya."
Rosa mendekat, mengulurkan handuk kepada kael. Tangan yang mengulur berwarna kuning langsat itu tampak sangat menggoda di mata Kael. Gejolak dalam dirinya yang sama sekali belum padam malah semakin membara itu membuatnya kehilangan akal sehat.
Hasrat yang ia tahan mati-matian, kini membuncah. Ia menarik tangan Rosa, lalu meraup bibir gadis itu dengan rakus.
"T-tuan a-apa yang Anda lakukan?" pekik Rosa. Gadis berusia 21 tahun itu terkejut bukan main saat mendapati tubuhnya sudah berada di rengkuhan pria yang bahkan baru pertama kali ini dia temui.
Ia berusaha memberontak dengan memukul dan mendorong Kael. Namun tenaganya sama sekali bukan tandingan Kael.
"Jangan, saya mohon jangan," ucap Rosa dengan air mata yang terus berlinang.
Namun Kael jelas tak mendengarkan rintihan Rosa. Dia terus saja menjajah tubuh Rosa.
Mata Kael gelap karena hasrat, tubuhnya bergerak karena nafsuu yang membabi buta. Hingga ia tak menyadari bahwa malam itu, dia sudah merenggut kesucian seorang gadis tak berdosa dan juga menghancurkan masa depan si gadis.
TBC
Holaaa, karya baru lagi nih. Minta tolong ya baca konsisten, biar karya ini bisa panjaaaaaang hehehe.
Happy Reading Guys ...
Semoga kalian terhibur ^_*
Ughhhh
Sinar matahari yang menembus kaca jendela membuat Kael melenguh. Di mengedipkan matanya berkali-kali untuk menetralkan pandangannya terhadap sinar matahari tersebut.
Kepalanya terasa sedikit sakit, namun Kael tetap berusaha bangkit. Dan pria itu langsung terkejut ketika mendapati dirinya yang bangun dari tempat tidur tanpa mengenakan pakaian sama sekali.
"A-apa ini?"
Mata Kael menelisik ke seluruh ruangan kamar. Dia melihat baju miliknya yang berserakan. Kael mengambil baju-baju itu, dan mendapati baju tersebut basah.
"Ah sialan!" umpatnya ketika mengingat apa yang terjadi semalam.
Kael bergegas kembali ke ranjang. Dia menyibakkan selimut itu dengan cepat. Dan betapa terkejutnya dia melihat bercak darah disana.
"Dasar bajingann kamu, Kael!"
Ia duduk di tepi ranjang, mencoba mengingat-ingat sepenuhnya dengan kejadian tadi malam.
Potongan-potongan ingatan itu pun muncul. Mulai dari ketika dirinya pulang, mengguyur tubuhnya sendiri dengan air dingin, hingga menyeret gadis tak bersalah untuk melepaskan hasratnya.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakuin sama gadis itu. Rosa, namanya Rosa kan ya?"
Kael buru-buru membersihkan diri, mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar. Dia mencari-cari gadis itu, namun di rumah itu tak ada siapa-siapa.
Tapi Kael tidak menyerah. Dia menghubungi ibunya dan menanyakan kontak si pengawas rumah.
"Pak, gadis yang namanya Rosa apa bapak tahu dimana dia sekarang?" tanya Kael saat mendapatkan nomor kontak pengawas dari sang ibu.
"Waduh Den, bapak nggak tahu. Dini hari tadi dia nelpon, katanya mau pergi karena ada urusan mendadak gitu. Tapi bapak nggak tahu, dia pergi kemana."
Sial!
Kael mengumpat kesal mendengar hal tersebut. Bagaimana bisa gadis itu pergi begitu saja. Tidak, Kael bukannya menyalahkan Rosa. Dia hanya kesal dan marah kepada dirinya sendiri karena telah melakukan hal buruk terhadap orang lain.
"Ugh brengsek, aku harus segera pulang. Tapi gadis itu. Tunggu, aku akan nyuruh Rowan aja buat nyari."
Pikiran Kael sangat kalut sebenarnya. Namun dia tetap harus bersikap tenang karena dirinya harus segera kembali ke Bandung. Laporan tentang pertemuannya bersama klien must secepatnya dilaporkan kepada sang ayah. Maka dari itu Kael menunda pencariannya.
Akan tetapi Kael tak sepenuhnya menunda. Katika berada di perjalanan Jakarta Bandung, Kael menghubungi asisten pribadinya.
"Yap Bos," jawab seseorang diseberang sana.
"Rowan, datanglah ke Jakarta sekarang. Temui pengawas rumah ku yang ada di sini. Lalu cari informasi tentang gadis yang bernama Rosa. Setelah itu cari gadis itu sampai dapat,"ucap Kael.
"Ciri-cirinya kayak gimana?"
"Cewek, rambutnya item. Dah itu cari."
APA??
Tuuuut
Mata Rowan langsung mendelik mendengar perintah tuannya yang menurutnya sangat sembarangan. Bagaimana tidak, tiba-tiba dia diminta mencari seorang gadis yang wajahnya seperti apa saja dia tidak tahu.
"Dia udah mulai stress apa ya. Cewek yang namanya Rosa dengan rambut hitam itu banyak bambaaaang. Arghhhhh!!!"
Rowan memekik kesal. Dia tahu dan paham bahwa bos mudanya ini memang terkadang bertindak di luar nalar, namun kali ini benar-benar Rowan tak bisa mentolerir lagi.
Tring
Sebuah pesan masuk ke handphone Rowan dan pesan itu berasal dari Kael.
"Jangan beritahu Papi sama Mami. Lakukan ini secara diam-diam. Secret mission, awas kalau bocor."
Ughhh
Rowan kembali mendengus kesal. Menjadi asisten pribadi Kael, ada saja kejutannya. Kael memang masih muda, jadi bagi Rowan yang usianya 3 tahun lebih tua merasa lumrah. Akan tetapi juga tak dipungkiri bahwa kadang dirinya merasa kesulitan.
"Cari ya cari aja lah. Haduh mana ini jam lagi macet-macetnya. Ah elah si bos mah."
Meskipun menggerutu akan tetapi Rowan tetap melaksanakan perintah sang bos muda nya itu.
Sedangkan di Jakarta, Kael yang tadinya hendak segera pulang, mengundurkan waktunya sejenak. Dia memutar balik mobilnya, ada tempat yang harus didatanginya lebih dulu sebelum kembali ke Bandung.
"T-tuan masih belum bangun Tuan Kael,"ucap seorang wanita yang usianya mungkin seusia ibunya Kael.
Kael bergeming, dia tidak peduli dengan ucapan salah seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu. Kemarahan yang tertampak pada wajahnya sangat cukup jelas, yang mena sebenarnya cukup menakutkan bagi si asisten rumah tangga.
Namun, dia tidak bisa membiarkan Kael menuju ke tempat tuannya berada. Terlebih saat ini sang tuan tengah bersama seseorang.
"Jangan halangi aku, Mbok. Mbok tahu kan kalau saat ini aku lagi teburu-buru,"ucap Kael dengan sorot mata yang tajam.
"T-tapi Tuan, Mbok beneran tidak bisa membiarkan Tuan Kael masuk. Bisa-bisa Mbok nanti~"
Kael merasa iba dengan si mbok, tapi dia tetap tidak bisa pergi sebelum menemui teman brengseknya itu.
Langkah Kael semakin lebar dan cepat yang mana membuat si mbok kesulitan dan akhirnya Kael bisa berada di depan pintu milik Victor. Tanpa mengetuk, tanpa permisi, Kael menendang pintu kamar yang memang tak terkunci.
Wajah Kael yang dingin tampak tak peduli dengan pemandangan yang ada di dalam kamar itu. Pemandangan yang sebenarnya membuatnya sangat enggan untuk dilihat karena merasa jijik pada dirinya sendiri. Ya Kael merasa jijik pada dirinya yang sudah melakukan perbuatan tercela tadi malam dimana semua itu adalah ulah dari sang teman durjana.
"Apa yang kamu campur dalam minuman ku semalam, Vic? Brengsek kamu!"
"Woaaah Tuan Muda Kaelus Danurwenda, selamat pagi. Waah seger banget nih roman-romannya ya. Gimana enak nggak? Enak dong pastinya. Suka kan sama hadiah gue. Lo terlalu polos sampai-sampai gue gemes sendiri. Mana ada laki-laki seusiamu yang belum pernah ngerasain nikmatnya sekss. Nah sekarang udah ngerasain kan, coba ceritain ke gue gimana rasanya."
Victor nampak sangat puas melihat wajah Kael yang kesal. Dia tahu kalau Kael pasti akan mendatanginya dengan penuh kemarahan.
Drap drap drap
Bugh!
Aaaaaah
"Bajingan!"
Kael jalan ke arah ranjang, dan dia langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Victor hingga sudut bibirnya berdarah. Victor tersenyum namun tidak dengan wanita yang ada di sebelahnya.
"Hahaha, melihat reaksi lo, gue yakin kalau lo udah asik-asikan semalem. By the way, siapa cewek yang beruntung ngeperawanin lo Kael."
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Tuaaaaan!!
Si mbok datang bersama seorang security rumah Victor. Melihat tuannya dipukuli, si mbok terkejut dan segera meminta security untuk menahan Kael. Dia pun juga membantu memisahkan Kael dari Victoor.
"Bajingan lo Vic, nggak semua orang harus kayak lo. Apa yang gue jaga selama ini hancur karena lo. Mulai sekarang, jangan pernah nganggep gue temen karena gue nggak pernah mau punya temen brengsek. Lo kalau mau brengsek ya brengsek aja sendiri, nggak usah ngajak-ngajak orang lain. Cuih, dasar bajingan!"
Kael menepis pegangan security dan si mbok. Dia juga membenarkan bajunya yang sedikit berantakan itu. Dan tanpa bicara lagi, Kael pun melenggang pergi meninggalkan kamar Victor. Tak hanya kamar victor, namun Kael juga meninggalkan pertemanan yang sudah dijalin selama 6 tahun lamanya dengan pria tu.
"Cih, munafik, dasar sok suci."
TBC
"Gimana, udah sampe Jakarta belum? Udah ketemu sama penjaga rumah? Dapet nggak alamat cewek itu?"
Ditengah perjalanannya menuju ke Bandung, Kael menghubungi Rowan dan bertanya tentang perintah yang diberikan. Padahal baru satu jam yang lalu ia menurunkan perintah, tapi sudah kembali bertanya. Jelas saja Rowan merasa kesal.
Sampai di Jakarta? Itu tentu tidak mungkin terjadi. Saat ini bahkan Rowan masih berada di dalam mobil dan berada di jalan tol yang mengarah ke kota Jakarta.
"Nyang bener ajeee Booooos. Lagi di jalan eniiiih. Eh buset dah ah. Sabar apa Bos. Jakarta Bandung nggak kayak Pasar Rebo-Lenteng Agung. Lagian ada apa sih nyari-nyari cewek yang namanya Rosa, tuh cewek ada salah ama Bos?" pekik Rowan dengan nada bicara yang benar-benar kesal.
"Bukan urusan mu. Tugas mu cuma buat nyari, bukan buat tahu alasannya. Ya udah cepet, dan laporkan hari ini juga."
Tuuuuuut
Rowan mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar bingung dengan sikap sang tuan yang seperti ini. Rowan juga bertanya-tanya, kenapa Kael begitu ingin bertemu dengan gadis yang namanya baru kali itu disebut.
"Apa nih bocah lagi puber ya? Tapi nggak segininya juga. Euh meni lier euy."
Pusing dan bingung, itulah yang sekarang dirasakan Rowan dalam menjalankan perintah sang tuan. Namun dia tetap melaksanakan sepenuh hatinya.
Sedangkan Kael, posisinya sekarang sudah dekat dengan rumah. Akan tetapi pemuda itu memilih untuk langsung pergi ke perusahaan. Rasanya dirinya tak mampu memghadapi sang ibu setelah melakukan perbuatan buruk tadi malam. Kael memilih ke perusahaan dan langsung bekerja.
"Hai Pap, aku mau langsung laporan terkait hasil ketemu klien kemarin," ucap Kael saat masuk ke ruangan ayahnya. Pemuda itu masih berdiri di ambang pintu dan belum masuk ke ruang kerja ayahnya.
"Oh, nggak istirahat dulu kah? Mami mu udah nungguin lho," jawab pria dengan rambut putih yang sudah menghiasi kepalanya. Usianya sudah 64 tahun namun pria itu masih nampak begitu segar. Bahkan tubuh atletisnya pun masih sangat terjaga.
"Tak apa, ini akan ku laporkan dulu ke Papi. Baru nanti nemuin Mami," jawab Kael.
Alasan yang bagus untuk menghindari ibunya. Kael benar-benar tidak sanggup melihat wajah sang ibu atas masalah yang ditimbulkannya itu. Tindakan yang dilakukannya terhadap gadis bernama Rosa secara kasar bisa disebut pemerkosaan. Bagaimana tidak disebut demikian, Kael memaksa gadis itu untuk tidur dengannya meski hal itu adalah pengaruh obat.
Dan rasanya sangat tidak sanggup menatap wajah wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya untuk saat ini. Kael sungguh merasa bersalah karena telah berbuat buruk dengan seorang wanita.
Ia membayangkan, bagaimana jika hal itu menimpa ibunya. Dadanya menjadi sangat sesak sekarang. Akan tetapi Kael berusaha tenang, dia mengaburkan perasaan bersalahnya itu dengan bekerja.
Laporan kepada sang ayah tak membutuhkan waktu lama. Kael langsung menuju ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan. Ia menyibukkan dirinya hingga melewatkan makan siang. Bahkan dia lupa telah memberi sebuah perintah kepada sang asisten pribadinya.
Tok tok tok
"Masuk," ucap Kael tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun terhadap kertas-kertas yang tengah ia baca dan periksa.
"Namanya Rosalina. Umurnya 21 tahun. Dia seorang yatim piatu. Dia bekerja di rumah Bos yang ada di Jakarta udah setengah tahun ini. Bos mungkin sesekali lihat, namun nggak ngeh karena cuma sambil lalu."
Sreek
Kael meletakkan kertas yang dipegangnya. Punggungnya langsung menegak, matanya melayangkan tatapan tajam ke arah Rowan. Siapa sangka asistennya itu sudah ada di sini. Kael melirik ke arah jam, dan ternyata ini sudah masuk waktu sore hari.
"Terus, dimana rumahnya? Kamu udah langsung cari ke sana kan?" tanyanya.
"Rumahnya ada di kampung belakang komplek. Iya aku tadi sudah kesana. Tapi cewek itu udah nggak ada. Kata yang punya kost, pagi-pagi sekali dia pergi. Dan pas aku tanya pergi kemana, ibu kost nya nggak tahu."
"Sial!"
Kael menggebrak meja lalu mengusap wajahnya kasar. Nampak ia begitu frustasi saat ini. Dimana hal itu lagi-lagi membuat bingung Rowan.
Ada apa dengan gadis itu? Mengapa wajah Kael begitu frustasi? Apa hubungan Kael dengan gadis yang bernama Rosalina?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Rowan. Namun dia hanya menyimpannya sendiri dan sama sekali tak mengungkapkannya. Baru kali ini Rowan melihat Kael yang begitu frustasi atas suatu hal. Tak pernah Rowan melihat Kael seperti ini sebelumnya.
"Cari, Rowan."
"Ya? Maksudnya?"
Rowan bertanya bingung. Meski sudah berada di sisi Kael dalam kurun waktu yang cukup lama, dia tetap tidak bisa membaca isi kepala sang tuan muda.
"Cari cewek itu sampai ketemu. Terserah mau dengan cara apa kamu nyarinya, pokoknya cari sampai ketemu. Tugas mu itu sekarang, dan kamu nggak perlu ngerjain apapun sampai kamu nemuin cewek itu."
Mata Rowan membulat sempurna mendengar ucapan Kael. Bahkan ia merasa bola matanya hampir keluar sepenuhnya sekarang atas perintah tuan.
"Aku nggak ngerti beneran deh. Kenapa sih Kael? Kamu ada apa sebenernya sama cewek itu?" tanya Rowan lantang.
Kael terdiam. Pertanyaan Rowan tak bisa dijawabnya. Sebelum gadis itu ditemukan, dia tak bisa mengungkapkan perbuatannya kepada orang lain.
"Untuk alamat mungkin kita nggak tahu. Tapi untuk wajah kita bisa lihat melalui kamera pengawas," ucap Rowan pada akhirnya. Tentu saja dia sambil membuang nafasnya kasar.
Degh!
Kael terperanjat ketika Rowan membahas tentang kamera pengawas. Jika Rowan melihat kamera itu, maka kejadian tadi malam bisa dilihat juga oleh Rowan. Kael tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Seperti yang dipikirkannya tadi, saat ini tidak ada yang boleh tahu tentang kejadian semalam.
"Biar aku yang lihat. Kau bawa rekamannya kan? Dan kamu belum lihat juga kan?" ucap Kael cepat.
"Belum kok bos, aku belum lihat. Nih," jawab Kael sambil memberikan hasil rekaman kamera pengawas yang di dapat dari penjaga rumah.
Ketika Kael menerima rekaman itu, dia jadi kepikiran. Mungkin sang penjaga tahu perbuatannya. Pria itu lantas meminta Rowan untuk pergi dulu dengan dalih istirahat.
Setelah Rowan meninggalkan ruangan, Kael langsung menelpon si penjaga rumah yang ada di Jakarta. Tanpa basa-basi Kael langsung mengatakan inti permasalahannya.
"Tutup mulut mu. Jangan sampai bocor, kalau bocor kamu bakalan yang nanggung akibatnya. Inget, keluarga mu aku tahu semua."
"B-baik Tuan Muda. S-saya tidak akan bicara apapun," jawab si penjaga rumah dengan ketakutan.
Kael tak hanya sekedar bicara. Dia melakukan sebuah ancaman yang sangat tegas.
Niat hati ingin menemukan Rosa dan mengungkapkannya, namun ucapan Kael terhadap si pemilik rumah membuat pria itu salah paham.
Pria paruh baya itu menganggap bahwa Kael tak akan bertanggung jawab. Sehingga Kael mengancam dengan begitu lugasnya.
"Kasihan Rosa, gadis baik itu harus jadi korban bejatnya si tuan muda. Kok ya kamu kena apesnya to, Ros. Beruntung kamu memutuskan untuk langsung pergi. Itu bener-bener pilihan yang tepat. Lebih baik nggak berurusan sama orang kaya, pasti bakalan ribet jadinya," gumam si penjaga rumah lirih.
Dia menyayangkan nasib buruk yang menimpa Rosa. Gadis baik nan ceria itu, mungkin mulai sekarang akan mengalami kesulitan yang benar-benar sulit.
TBC
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!