"Pak Ranu, sepertinya kita sedikit melenceng dari jalur," ucap Supardi, supirnya, dengan nada cemas. "Sinyal hilang total. Tidak bisa buka peta sama sekali."
Mobil yang membawa Ranu dan supirnya melaju perlahan membelah jalanan berkelok yang dikelilingi hutan jati. Langit mulai berubah warna, semburat jingga perlahan memudar digantikan kelabu yang kian pekat. Ranu duduk di kursi belakang, tatapannya kosong menatap jendela. Hatinya masih terasa berat. Kepergiannya ke Kota Bayangan bukan sekadar tugas membuka cabang baru untuk Global Sentosa CV. Tetapi upaya untuk menjauhkan diri dari rasa yang tak seharusnya tumbuh, rasa yang ia simpan rapat untuk Ning, istri adiknya.
Ranu menghela napas pelan. "Terus saja pelan. Pasti ada pemukiman warga di sekitar sini. Kita tanya arah."
Waktu terus berjalan. Matahari benar-benar tenggelam, menyisakan remang cahaya dari lampu kabin mobil yang mulai redup. Hingga akhirnya suara mesin mendadak tersendat, lalu mati total. Mobil berhenti tepat di tikungan dekat perkampungan kecil.
"Ada apa ini?" tanya Ranu sambil membuka pintu.
"Sepertinya ada masalah pada mesin, Pak. Atau mungkin ban juga bermasalah," jawab Supardi sambil memeriksa bagian bawah kendaraan. "Malam sudah gelap, sulit memperbaikinya sekarang."
Ranu menatap sekeliling. Jauh dari keramaian, hanya ada suara jangkrik dan angin yang berdesir. Tubuhnya terasa lelah, bekas masa koma satu setengah tahun lalu kadang masih terasa saat ia terlalu banyak beraktivitas.
"Kita cari tempat istirahat dulu. Besok pagi baru diperbaiki," kata Ranu.
"Ada apa ini, Bapak-bapak?"
Tak lama, seorang lelaki paruh baya melintas.
"Oh, ini, pak. Mobil kami ngadat. Tiba-tiba mati sendiri," jawab Supardi.
"Ngadatnya gimana, Pak? Boleh saya periksa?" tanya pria itu lagi.
Supardi tanpak ragu, melirik majikannya yang hanya diam mengamati. Lalu pria itu mengulurkan tangannya. "Saya Burhan. Saya tinggal di pemukiman sekitar sini, kebetulan saya cukup tau mesin. Saya kerja di bengkel," jelas pria bernama Burhan itu.
Supardi langsung tersenyum, menyambut uluran tangan itu dengan sama ramahnya. "Wah, beruntung sekali, Pak. Boleh. Silahkan. Saya supir Pak Ranu. Saya Supardi."
Pak Burhan lantas mengecek bersama Supardi. Mereka tampak serius membicarakan kronologi mobil berhenti hingga kemungkinan kerusakan mesin.
"Udah malam banget, ini pak. Kita juga nggak ada alatnya. Kalau berkenan, menginaplah di rumah saya saja," ucap Pak Burhan ramah. "Rumah saya sederhana, tapi cukup untuk beristirahat."
Ranu dan Supardi saling berpandangan, lalu mengangguk setuju. Mereka berjalan kaki sebentar sampai tiba di sebuah rumah panggung yang tampak asri. Di beranda, seorang wanita paruh baya tersenyum menyambut.
"Loh, pak? Sama siapa?"
"Mereka tersesat dan mobilnya rusak. Biarkan mereka istirahat di sini malam ini," kata Pak Burhan kepada istrinya.
"Baiklah. Silakan masuk," sahut wanita itu, lalu menoleh ke arah dalam rumah. "Galuh, tolong siapkan minum dan makanan ringan untuk tamu kita."
Tak lama kemudian, muncullah seorang wanita muda dengan wajah lembut tapi agak jutek. Itulah Galuh Putri. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang memandang Ranu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Silakan duduk," ucap Galuh dengan suara lembut.
Anak kecil itu mendekat, menarik ujung baju Ranu sedikit. "Om dari mana? Kenapa malam-malam datang ke rumahku?" tanyanya polos.
Ranu hanya menatap sekilas, lalu membuang muka dengan ekspresi dingin. Ia tidak terbiasa dengan keramahan berlebih, apalagi saat hatinya sedang kacau. "Dari jauh," jawabnya singkat dan datar.
Galuh tersenyum tipis, menarik pelan tangan anak itu. "Jangan mengganggu tamu, Ka. Bermainlah sebentar."
"Ibuk, Galuh. bapak keluar sebentar ya. Mau nutupin mobil sama coba panggil warga buat bantu dorong."
"Iya, pak. Hati-hati."
Pak Burhan dan Supardi berpamitan untuk keluar, mencoba memeriksa kondisi mobil walau cahaya terbatas. Tinggallah Ranu bersama ketiga orang itu di ruang tengah. Tak lama, Galuh kembali membawa nampan berisi pisang goreng hangat dan teh manis.
"Ini silakan seadanya, Pak," katanya sambil meletakkan hidangan di meja.
"Terima kasih," ucap Ranu pelan.
"Ini tempatnya pinggiran desa, Pak. Jadi hanya ada seadanya saja," ucap Bu Burhan sungkan.
"Oh, tidak apa-apa, Bu."
Sejak tadi Ranu merasa tidak nyaman. Perjalanan panjang membuat tubuhnya terasa lengket oleh keringat dan debu jalanan.
"Apakah ada tempat untuk membersihkan diri?" tanya Ranu kepada ibu Galuh.
"Tentu ada. Kamar mandi ada di belakang rumah, terpisah dari bangunan utama," jawab wanita itu. Ia lalu memanggil Galuh lagi. "Galuh, coba anterin bapak ini ke kamar mandi."
Galuh mengangguk. "Iya. Buk." lalu berganti pada Ranu, "Ayo."
Ranu mengikuti langkah Galuh menuju halaman belakang. Udara malam terasa sejuk.
"Malam-malam, sebaiknya jangan mandi, Pak. Nggak bagus buat kesehatan. Lagian di sini airnya dingin buat orang kota. Kalau mau mandi baiknya panaskan air dulu. Tapi, gas lagi langka. Jadi harus pake kayu."
Ranu hanya mendengarkan tanpa merespon.
"Nah, ini kamar mandinya," katanya sambil menunjuk satu ruang di dekat sumur.
"Ini?" Ranu ragu.
"Iya, ini di desa, jangan disamakan kamar mandi kota."
Ranu menoleh menatap Galuh. Wanita jadi merasa tak nyaman. "Apa?"
"Kamu... Sensitif sekali, dikit-dikit kota z dikit-dikit desa."
"Yahz biasanya kan, orang kota rewel. Bagus sih, kalau bapak enggak," katanya lagi. "Saya nyuci di sini," tunjuknya di samping sumur. Tadi lagi nyuci, belum kelar. Kalau ada apa-apa, tinggal bilang aja."
Ranu melangkah masuk ke area sekitar kamar mandi. lalu mulai membersihkan diri. Setelah tubuh kena air dingin rasanya lebih segar walau harus pakai baju yang sama lagi.
"Benar katanya. Airnya emang dingin."
Ranu keluar begitu selesai, lantai semen di sana agak licin. Pikirannya yang melayang pada kenangan masa lalu membuat kewaspadaannya berkurang. Tiba-tiba kakinya kehilangan pijakan. Ia tergelincir.
Refleks, ia mencoba meraih sesuatu untuk menahan jatuh. Sayangnya, posisi Galuh yang sedang membungkuk di dekat situ menjadi titik tumpu yang tak terelakkan. Tubuh Ranu menindih tubuh Galuh hingga keduanya terjatuh ke lantai dalam posisi yang sangat dekat dan tidak wajar.
Galuh terkejut, matanya membelalak. "Apa..."
Belum sempat kalimat itu selesai, suara langkah kaki terdengar mendekat. Beberapa warga yang baru pulang dari ladang melintas dan melihat pemandangan itu. Wajah mereka langsung berubah, pandangan penuh kecurigaan dan salah paham terlihat jelas di wajah masing-masing.
"Kalian ini... apa yang sedang kalian lakukan?" seru salah seorang warga dengan nada tinggi.
Suara warga yang memergoki mereka langsung memecah kesunyian malam.
"Kalian ini sedang apa?" bentak seorang lelaki sambil mengangkat lampu senter. Sorot cahayanya jatuh tepat ke tubuh Ranu dan Galuh yang masih sama-sama terduduk di lantai semen yang basah.
Galuh langsung tersentak. Wajahnya memucat. Ia buru-buru mendorong tubuh Ranu agar menjauh.
"Pak... bukan seperti yang Bapak pikirkan!" ucap Galuh gugup.
Ranu segera bangkit. Kemejanya yang tadi ia kenakan setelah mandi belum sempat dikancingkan seluruhnya. Dua kancing bagian atas masih terbuka. Rambutnya juga masih basah.
Sementara itu, Galuh yang sempat terjatuh membuat roknya tersingkap. Bahu kirinya sedikit terlihat karena kain bajunya ikut tertarik saat tubuh Ranu menimpa dirinya.
Pemandangan itu justru membuat para warga semakin yakin dengan dugaan mereka.
"Astaga..."
"Kurang ajar!"
"Berani sekali berbuat macam-macam di rumah orang!"
"Apa kalian pikir di sini sepi jadi mau berbuat asusila?"
Galuh buru-buru merapikan bajunya.
"Tolong dengarkan dulu. Beliau ini terpeleset. Tadi lantainya licin."
"Benar," sambung Ranu tenang. "Saya kehilangan keseimbangan."
Namun penjelasan mereka seolah menguap begitu saja.
"Halah! Jangan beralasan."
"Apa kami harus percaya?"
"Kalau cuma jatuh, kenapa posisinya begitu?"
"Kalau cuma terpeleset, kenapa bajumu berantakan?"
Ucapan demi ucapan terus menghujani mereka.
Galuh menggigit bibir bawahnya.
"Demi Allah, tidak terjadi apa-apa."
"Tidak usah bersumpah!" bentak seorang ibu. "Kami melihat dengan mata kepala sendiri."
Keributan itu terdengar sampai ke dalam rumah.
Bu Burhan bergegas keluar.
"Astaghfirullah... ada apa ini?"
Beliau memandang Galuh yang wajahnya sudah basah oleh air mata.
"Bu..." suara Galuh bergetar.
Seorang warga langsung menunjuk ke arah Ranu.
"Kami memergoki mereka berduaan di belakang rumah."
"Berduaan?" potong Bu Burhan cepat. "Galuh memang sedang mencuci tadi, Bu. Tamu kami juga tadi mau ke kamar mandi. Mungkin ini salah paham saja, Bu ibu."
"Iya, Bu," sambung Galuh. "tadi bapak ini terpeleset."
Bu Burhan ikut mengangguk.
"Benar. Saya sendiri yang menyuruh Galuh mengantar tamu ke kamar mandi."
"Tapi kami melihat sendiri mereka saling tindih!"
"Itu karena jatuh!"
"Tidak mungkin!"
"Mana ada orang jatuh sampai begitu."
Suasana semakin panas.
Ranu menghela napas panjang.
"Saya tidak akan mengulang penjelasan yang sama. Saya memang terpeleset."
Nada bicaranya tetap datar.
Justru itu membuat warga menganggapnya tidak merasa bersalah.
"Lihat itu."
"Masih berani membela diri."
"Orang kota memang pandai bicara."
Galuh memejamkan mata. Rasanya marah sekali. Ia merasa tidak ada lagi yang mau mendengar.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki tergesa. Pak Burhan datang bersama Supardi.
"Ada apa ini?" tanya Pak Burhan kebingungan.
Seorang warga langsung menjawab. "Pak Burhan, tamumu berbuat tidak pantas dengan anak perempuan mu."
Wajah Pak Burhan berubah. Tatapannya berpindah kepada anaknya. Seolah meminta penjelasan.
"Dia terpeleset tadi, pak," jelas Galuh.
Lalu pak Burhan pindah ke Ranu.
"Dia benar."
"Halah, mana ada maling mau ngaku!" seru warga, seorang ibu-ibu.
Galuh menggeleng berkali-kali.
"Pak... tidak seperti itu."
Pak Burhan tidak langsung menjawab. Ia mengenal putrinya. Tetapi, apa yang dilihat warga membuat pikirannya bercampur aduk.
Supardi maju selangkah.
"Pak, saya yakin Pak Ranu tidak melakukan hal seperti itu."
"Kenapa yakin?"
"Saya sudah lama bekerja dengan beliau."
"Memangnya kamu melihat kejadian tadi?"
Supardi terdiam. Ia memang tidak melihat. Seorang tokoh kampung akhirnya maju.
"Daripada ribut terus, lebih baik dibawa ke balai desa."
"Iya."
"Biar kepala desa yang memutuskan."
Galuh langsung panik.
"Jangan..."
Arkan yang sejak tadi berdiri di pintu rumah mulai menangis.
"Ibuk..."
Galuh langsung memeluk anaknya.
"Sudah... jangan menangis."
Arkan memandang wajah ibunya yang dipenuhi air mata.
"Ibuk kenapa?"
Galuh tidak sanggup menjawab. Pak Burhan memejamkan mata cukup lama. Sebagai seorang ayah, ia ingin mempercayai putrinya. Namun sebagai warga desa, ia tahu kabar seperti ini tidak akan berhenti hanya dengan penjelasan.
Nama baik Galuh sudah telanjur menjadi bahan pembicaraan. Tokoh kampung kembali bersuara.
"Pak Burhan."
"Iya."
"Kalau memang tidak ada penyelesaian malam ini, besok seluruh desa akan membicarakan anakmu."
Pak Burhan menunduk. Suaranya lirih. "Lalu... menurut Bapak harus bagaimana?"
"Sebaiknya dinikahkan."
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi. Galuh membeku.
"Apa?"
Ranu ikut mengangkat wajah.
"Saya bahkan baru mengenalnya malam ini."
"Tapi masyarakat sudah melihat kalian."
"Kalau tidak dinikahkan, nama baik perempuan ini akan hancur. Kau juga harus bayar denda. Kedua belah pihak."
Galuh memandang ayahnya. Pak Burhan tampak begitu terpukul.
"Galuh..."
Air mata kembali jatuh dari pelupuk mata wanita itu.
"Kalau memang ini yang harus terjadi... aku ikut keputusan Bapak."
Bu Burhan langsung memeluk putrinya. Tangis keduanya pecah. Arkan ikut menangis karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Ranu berdiri diam. Hidupnya terasa seperti sedang dipermainkan keadaan. Ia datang hanya karena mobil rusak. Kini ia diminta menikahi perempuan yang baru dikenalnya.
Supardi mendekat pelan.
"Pak..."
Ranu memejamkan mata. Lalu membuka dompetnya.
"Uang tunai saya hanya ada dua ratus ribu."
Tokoh kampung mengangguk.
"Itu saja cukup."
Malam itu juga akad sederhana dilaksanakan di ruang tamu rumah panggung itu. Tanpa pelaminan.Tanpa pakaian pengantin. Tanpa senyum. Tanpa keluarga besar.
Hanya ada saksi, penghulu desa, dan warga yang masih memenuhi halaman. Ranu mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap. Mahar yang ia berikan hanya uang sebesar dua ratus ribu rupiah.
Sah.
Satu kata itu terdengar begitu berat. Seorang ibu berbisik kepada tetangganya.
"Cuma dua ratus ribu."
"Kasihan Galuh."
"Apa orang kota semiskin itu?"
"Enggak tau, dia bawa mobil loh."
"Hmmm, pelit dia."
"Bisa jadi itu cuma mobil rental."
"Nasibnya memang begitu. Ndak pernah mujur kurasa."
"Janda dapat suami orang kota."
Galuh mendengar semuanya.
Namun ia memilih diam.
Sedari awal tidak ada yang benar-benar ingin mendengar penjelasannya.
Kini ia sudah terlalu lelah untuk membela diri. Malam semakin larut. Pak Burhan menghela napas panjang.
"Maafkan kami, Pak Ranu."
Ranu menggeleng pelan.
"Ini bukan salah siapa-siapa."
Karena rumah hanya memiliki dua kamar, akhirnya Ranu tidur di ruang tamu bersama Supardi. Arkan justru tampak sangat bahagia. Ia membawa bantal kecil bergambar mobil. Lalu berdiri di depan Ranu.
"Pak."
Ranu membuka mata.
"Ada apa?"
"Boleh tidur sama Ayah?"
Kalimat polos itu membuat semua orang terdiam. Galuh yang sedang membereskan gelas langsung menoleh.
"Arkan."
"Tapi sekarang Ayah sudah ada."
Galuh menunduk. Dadanya kembali terasa sesak. Ranu memandang anak kecil itu cukup lama. Lalu menggeser sedikit tempat tidurnya.
"Kalau hanya malam ini."
Arkan langsung tersenyum lebar.
"Iya."
Anak kecil itu memeluk lengan Ranu tanpa rasa canggung. Tidak lama kemudian ia tertidur dengan wajah penuh kebahagiaan. Ranu hanya menatap langit-langit rumah. Matanya sulit terpejam. Ia masih belum percaya. Dalam satu malam hidupnya berubah sepenuhnya.
Pagi datang bersama suara ayam berkokok. Arkan sudah mengenakan seragam sekolah. Ia berlari menghampiri Ranu yang baru selesai mencuci muka.
"Ayah."
Ranu menoleh.
"Hari ini antar Arkan sekolah ya."
"Ayah baru Arkan."
"Aku mau kenalkan ke teman-teman."
Galuh langsung menarik pelan bahu anaknya.
"Arkan."
"Tapi Buk..."
"Jangan memaksa."
Arkan langsung cemberut. Tatapannya berpindah kepada Ranu yang tetap memasang wajah dingin.
"Baik..."
Tak lama kemudian Supardi datang membawa kabar.
"Pak, mobilnya sudah selesai diperbaiki."
Ranu mengangguk. Ia kembali masuk ke dalam rumah. ia menulis dalam kertas kecil dan menyerahkan nya pada Galuh.
"Kalau ada sesuatu yang penting, hubungi nomor ini."
Hanya itu. Tidak ada janji. Tidak ada penjelasan. Tidak ada ucapan akan kembali.
Ranu berjalan menuju mobil. "Arkan! Ayo! Aku antar kamu ke sekolah."
"Horee!" Arkan berlari sampai halaman sambil bersorak.
"Arkan!" panggil Galuh, lalu menggeleng. Dia gak bisa membiarkan orang asing membawa anaknya.
"Tapi, Ayah..."
"Enggak!"
"Buk..."
Ramu hanya menatap, tapi lalu berbalik masuk ke mobilnya. Dia tak akan memaksa, dia tau ketakutan seorang ibu ketika anaknya ikut orang asing.
"Ayah!"
Mobil itu perlahan menjauh. "Jalan!"
"Ayah!"
Anak kecil itu masih melambaikan tangan hingga kendaraan tersebut menghilang di tikungan.
Galuh hanya berdiri mematung. Angin pagi meniup rambutnya.
****
Perjalanan pulang terasa begitu panjang. Setibanya di rumah, Ranu langsung masuk ke kamar. Ia merebahkan tubuh tanpa mengganti pakaian.
"Ning... Kenapa takdir begitu aneh?"
Matanya terpejam. Semua kejadian semalam terus berputar di kepalanya. Ia datang sebagai pria lajang. Pulang sebagai suami dan ayah bagi seorang anak yang bahkan baru dikenalnya.
Keesokan harinya, Ranu kembali menjalani rutinitas. Supardi mengantarnya menuju kantor Global Sentosa CV. Mobil berhenti di halaman gedung. Ranu turun sambil merapikan jasnya.
Ia melangkah menuju ruang direktur. Namun langkahnya mendadak terhenti. Di depan meja sekretaris berdiri seorang wanita.
Wanita itu mengenakan kemeja putih dan rok hitam rapi. Rambutnya disanggul sederhana. Saat mata mereka bertemu, keduanya sama-sama membeku.
"Kamu...!?"
"Kamu...!?"
Suara Ranu terdengar pelan, tetapi cukup membuat seluruh ruangan sekretaris menoleh.
Galuh berdiri membeku.
Map berisi berkas di tangannya hampir saja terjatuh.
"Pak... Ranu?"
Keduanya saling menatap tanpa berkedip.
"Selamat pagi, Pak Direktur. Ini sekretaris baru Bapak. Namanya Galuh Putri. Baru masuk minggu lalu."
Ranu masih menatap wanita itu.
"Masuk ke ruangan saya."
Galuh mengangguk pelan.
"Iya, Pak."
Suasana kantor mendadak sunyi.
Beberapa karyawan saling pandang.
"Aneh ya."
"Pak Direktur kok kenal sekretaris barunya?"
"Entahlah."
Galuh mengikuti langkah Ranu menuju ruang direktur.
Begitu pintu tertutup, Ranu langsung berdiri menghadap jendela.
Galuh memilih berdiri di dekat pintu.
Tidak ada yang berbicara.
Ruangan terasa begitu sunyi.
Akhirnya Ranu membuka suara.
"Kenapa kamu bekerja di sini?"
Galuh menarik napas panjang.
"Saya sudah diterima jauh sebelum kejadian itu."
"Kejadian itu?"
Galuh tersenyum pahit.
"Malam saat kita... menikah."
Ranu memejamkan mata.
"Lalu kenapa kamu tidak pernah bilang?"
"Saya juga baru tahu Bapak adalah Direktur Global Sentosa CV."
Ranu membalikkan badan.
Tatapannya tetap dingin.
"Dengarkan saya baik-baik."
Galuh mengangguk.
"Apa yang terjadi di desa itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."
"Saya mengerti."
"Di kantor ini saya atasan."
"Iya."
"Di luar kantor..."
Ranu menghentikan ucapannya.
Galuh menunggu.
"Kita hanya menjalankan kewajiban seperlunya."
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menggores perlahan.
Galuh menunduk.
"Saya paham."
"Tidak ada seorang pun yang boleh tahu kalau kita sudah menikah."
"Saya juga berpikir begitu."
"Bagus."
Galuh tersenyum tipis.
"Saya tidak akan mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan."
Ranu mengangguk.
"Kamu boleh keluar."
Galuh melangkah menuju pintu.
Tangannya sudah menyentuh gagang ketika suara Ranu kembali terdengar.
"Galuh."
"Iya, Pak?"
"Kerjakan tugasmu dengan baik."
Galuh mengangguk.
"Saya akan berusaha."
Ia keluar tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, senyum tipis di wajahnya menghilang. Dadanya terasa perih.
"Jadi... hanya sebatas itu."
Ia tertawa pelan.
"Memang seharusnya begitu."
Namun tetap saja terasa nyeri. Seolah pernikahan mereka tidak pernah memiliki arti.
****
Hari pertama bekerja bersama Ranu benar-benar menguras tenaga seluruh kantor. Baru pukul delapan pagi, suara Ranu sudah terdengar dari ruang rapat.
"Siapa yang membuat laporan ini?"
Seluruh staf saling pandang. Seorang supervisor berdiri perlahan.
"Saya, Pak."
Ranu meletakkan map di atas meja dengan keras.
"Angka bulan lalu tidak sinkron."
Supervisor langsung gugup.
"Mungkin salah cetak..."
"Mungkin?"
Ranu menatap tajam.
"Saya tidak menerima kata mungkin."
Ruangan langsung hening.
"Laporan ini ulang."
"Baik, Pak."
"Lima belas menit."
"Lima belas menit?"
"Iya."
Supervisor hampir menangis. Begitu rapat selesai, seluruh staf langsung mengembuskan napas panjang.
"Ya ampun..."
"Bos baru ini serem."
"Monster berkulit manusia."
"Ssst..."
"Nanti dengar."
"Kalau aku bilang sih kulkas berjalan."
"Iya."
"Wajahnya dingin terus."
"Kalau melotot rasanya mau pingsan."
Galuh yang sedang menyusun dokumen hanya menggeleng.
"Ih... kalian."
"Mbak Galuh."
"Apa?"
"Gimana rasanya jadi sekretaris monster?"
Galuh menghela napas.
"Jangan tanya," katanya. "Tiap lima menit dipanggil."
"Waahh..."
"Tiap sepuluh menit revisi," sambung Galuh lagi. "Aku juga hampir ikut menangis."
Semua tertawa pelan. Tepat saat itu interkom berbunyi.
"Galuh."
"Iya, Pak."
"Masuk."
Galuh memejamkan mata.
"Nah kan..."
Seorang staf berbisik. "Semoga selamat."
Galuh masuk membawa buku catatan.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Surat kerja sama ini."
"Iya."
"Margin kiri berapa?"
"Tiga sentimeter."
"Ini?"
Galuh melihat dokumen.
"Dua koma lima."
"Kenapa?"
"Saya..."
"Saya tidak suka pekerjaan asal."
"Saya minta maaf."
"Perbaiki."
"Baik."
Belum sempat keluar, Ranu kembali memanggil.
"Galuh."
"Iya?"
"Kopi saya dingin."
Galuh menatap cangkir.
"Tapi baru saya buat lima menit lalu."
"Saya bilang dingin."
"Iya, Pak."
Galuh membawa cangkir itu keluar. Begitu pintu tertutup, ia langsung mengembuskan napas.
"Dingin dari mana?"
Ia mengomel pelan.
"Air mendidih juga kalau masuk ruangan Bapak bisa ikut jadi es."
Seorang staf tertawa. "Mbak ngomong apa?"
"Enggak."
"Hati-hati."
"Nanti kulkas berjalan dengar."
Galuh mendengus pelan.
"Iya... iya..."
***
Tiga hari berlalu. Tidak ada perubahan yang signifikan. Ranu tetap perfeksionis. Semua harus sesuai SOP. Semua harus tepat waktu. Semua harus rapi. Semua harus sempurna. Akibatnya seluruh kantor bekerja dengan penuh tekanan.
"Galuh."
"Iya, Pak."
"Agenda saya."
"Sudah."
"Pulpen."
"Ini."
"Laptop."
"Sudah menyala."
"Kenapa jadwal rapat mundur tiga menit?"
"Karena tamunya terlambat datang."
"Tetap tidak boleh."
Galuh hanya mengangguk.
"Iya, Pak."
Begitu keluar ruangan, ia langsung mengusap dahinya.
"Ya Allah..."
Seorang staf menghampiri. "Masih dimarahi?"
Galuh mengangguk. "Kalau bos nikah sama pekerjaan mungkin dia bahagia."
"Mbak."
"Hah?"
"Jangan keras-keras."
Galuh langsung menutup mulut. "Iya."
Dalam hati ia terus menggerutu.
"Orang ini memang susah sekali."
"Tarik napas salah."
"Buang napas juga salah."
****
Siang itu telepon Galuh berdering. Ia melihat nama yang muncul di layar. Bu Guru TK Arkan. Galuh langsung mengangkat.
"Halo, Bu."
"Bu Galuh, bisa datang sekarang?"
"Memang ada apa?"
"Arkan bertengkar dengan teman."
Wajah Galuh langsung berubah.
"Kenapa?"
"Ibu ke sini saja. Ini masalah penting. Arkan berkelahi."
Jantung Galuh berdegup cepat. "Apa!?" pekiknya. "Saya segera ke sana."
Ia langsung masuk ke ruang Ranu.
"Pak."
"Ada apa?"
"Maaf, saya izin."
"Alasan."
"Anak saya."
Ranu tetap membaca berkas.
"Kenapa?"
"Saya dipanggil gurunya."
Ranu tidak mengangkat kepala. "Kenapa kamu? Apa tidak ada kakek neneknya? Kau sedang bekerja di sini!"
Galuh memejamkan matanya, menahan gejolak di dada. "Pak, saya keluar di jam makan siang. Tidak akan menganggu pekerjaan."
"Silakan kalau begitu. Balik tepat waktu."
"Terima kasih, Pak."
Galuh langsung berlari keluar. Ia bahkan lupa mengganti sepatu hak tinggi yang sejak pagi membuat kakinya sakit. Ranu mendengar langkah tergesa itu. Namun ia kembali fokus pada pekerjaannya.
****
"Makan siang saja, Pak?" tanya Supardi supirnya.
"Iya."
Mobil mulai berjalan. Supardi tiba-tiba berkata pelan.
"Kasihan juga Mbak Galuh."
Ranu tetap menatap ke depan. "Kenapa?"
"Tadi saya lihat beliau lari sampai keluar gerbang."
"Lalu?"
"Sepatunya patah."
Ranu menoleh.
"Patah?"
"Iya."
"Beliau tetap lari sambil membawa sepatunya." Supardi tersenyum kecil. "Kelihatannya khawatir sekali sama Arkan."
Ranu kembali diam. Entah kenapa bayangan Arkan yang memanggilnya Ayah muncul lagi. Lalu teringat wajah Galuh yang berlari tergesa. Dadanya terasa sedikit tidak nyaman.
Aneh.
Ia sendiri tidak mengerti perasaan itu. Mobil terus melaju.
"Kita mau ke resto mana, Pak?"
Ranu terdiam cukup lama. Lalu berkata pelan.
"Belok."
Supardi menoleh.
"Pak?"
"Ke sekolah Arkan."
Supardi tersenyum kecil.
"Baik, Pak."
Mobil segera berbelok menuju taman kanak-kanak tempat Arkan bersekolah. Sesampainya di sana...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!