Indonesia
NovelToon NovelToon

Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Bab 1

Jam empat subuh, saat azan awal baru saja samar-samar berkumandang membelah dinginnya udara, Diaz Aruna Saraswati sedang mengemas tas ranselnya dengan gerakan secepat kilat.

Kamarnya gelap, hanya diterangi lampu jalan yang menerobos masuk lewat celah ventilasi.

Jantungnya bertalu hebat ketika ketukan pelan terdengar di daun pintu.

"Diaz, Nduk? Sudah bangun?" Suara ibunya terdengar parau dari balik pintu.

"Ayo siap-siap. Jam sembilan nanti rombongan calon suamimu datang. Jangan bikin malu keluarga, ya. Ini demi kebaikanmu juga."

Diaz membekap mulutnya sendiri agar isakannya tidak lolos.

Rasa tercekik itu kembali datang, mencengkeram dadanya hingga sesak.

Menikah dengan pria egois pilihan rekan bisnis almarhum ayahnya.

Pria yang memandangnya tak lebih dari sekadar piala pajangan.

Sejak ayahnya meninggal dunia, Diaz merasa kehilangan pelindung utamanya, dan kini ia menolak menyerahkan sisa hidupnya pada pernikahan tanpa cinta.

Dengan tekad yang sudah bulat, Diaz menyandang ranselnya.

Ia membuka grendel pintu belakang dengan sangat hati-hati, menyelinap ke garasi, dan menuntun motor sport miliknya keluar pagar tanpa menyalakan mesin.

Begitu jaraknya sudah cukup jauh dari rumah, Diaz menyalakan mesin motornya.

Suara raungan knalpot memecah keheningan subuh.

Ia memacu motornya membelah jalanan menuju Kabupaten Malang.

Pikirannya kosong, namun satu nama tempat terus berputar di kepalanya yaitu Gunung Kawi.

Tempat mistis yang sering ia dengar dari obrolan orang-orang sebagai tempat pelarian mencari ketenangan—atau bahkan hal-hal yang lebih gelap.

Diaz tidak peduli, yang ia inginkan hanyalah lari sejauh mungkin.

Pelataran Baiturrahman yang Mencekam

Matahari sudah meninggi, memancarkan terik yang membakar kulit saat Diaz memasuki wilayah Kepanjen.

Tubuhnya lelah, dehidrasi, dan hatinya masih berkecamuk hebat.

Melihat menara megah Masjid Baiturrahman Kepanjen, Diaz memutuskan untuk melipir.

Ia butuh bersujud, memohon petunjuk sekaligus menenangkan batinnya yang lelah setelah berjam-jam berkendara.

Namun, suasana di masjid siang itu sangat kontras dengan ketenangan yang ia cari.

Halaman masjid dipenuhi deretan mobil mewah. Dekorasi pernikahan bernuansa putih-emas terpasang megah, menciptakan atmosfer yang luar biasa mewah namun entah mengapa terasa mencekam bagi siapa pun yang melihat ke dalam.

Di serambi masjid, seorang pria dengan jas akad putih yang gagah sedang berjalan mondar-mandir.

Wajahnya yang biasanya terpajang rapi dengan senyum karismatik di media sosial, kini pucat pasi.

Butiran keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahinya.

Pria itu adalah Ganda Mahesa seorang anak kyai kondang di Indonesia.

Baru saja ponselnya mati setelah menerima pesan singkat yang menghancurkan dunianya dimana Laura, calon istrinya, tidak bisa dihubungi dan menghilang tanpa jejak.

Sebentar lagi akad nikah dimulai. Dua ratus undangan VIP sudah memenuhi area utama, katering mewah sudah lunas dibayar, dan yang paling mengerikan—keluarga besarnya, terutama sang mama, masih berada di ruang transit VIP tanpa tahu bahwa pengantin wanitanya telah kabur.

Sebagai anak dari kiai paling dihormati se Indonesia sekaligus selebgram agamis dengan ratusan ribu pengikut, pembatalan ini bukan sekadar patah hati bagi Ganda.

Ini adalah aib yang akan menghancurkan nama besar pesantren ayahnya seketika.

Satu Indonesia, bahkan satu Malang, akan menertawakan keluarganya. Ganda sudah setengah gila menahan panik.

Di saat yang sama, Diaz keluar dari tempat wudhu perempuan.

Ia sudah mengenakan mukena putih polos miliknya, berjalan agak terburu-buru sambil menunduk, bersiap memasuki area salat utama.

Karena kurang memperhatikan jalan, di tikungan koridor masjid yang berlantai marmer dingin...

Brak!

Diaz menabrak dada bidang seorang pria dengan keras hingga tubuhnya nyaris terjungkal ke belakang.

"Maaf, Mas! Maaf, saya tidak sengaja," ucap Diaz panik sembari mendongak.

Begitu matanya menangkap wajah pria di hadapannya, kata-kata Diaz langsung tertelan di tenggorokan.

Jantungnya seolah berhenti berdetak. Pria di depannya adalah Ganda Mahesa.

Sosok selebgram agamis yang selama ini hanya bisa ia kagumi dalam diam lewat layar ponsel, tempat ia sering stalking di malam-malam sepinya.

Sementara itu, Ganda menatap Diaz dari atas ke bawah.

Di matanya, gadis yang menabraknya ini terlihat sangat polos.

Wajahnya bersih tanpa riasan tebal, menyisakan sisa-sisa air wudu yang segar. Dan yang paling krusial bagi Ganda saat ini: gadis itu sudah berbalut mukena putih bersih. Terlihat persis seperti seorang pengantin wanita yang siap bersanding di pelaminan.

Pikiran putus asa Ganda langsung mencengkeram situasi.

Logikanya sudah kalah oleh kepanikan demi menjaga harga diri keluarga.

Tanpa basa-basi, Ganda menatap mata Diaz dengan intensitas yang membuat gadis itu meremang.

"Mbak, mau nggak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen," tembak Ganda, suaranya bergetar namun penuh penekanan.

Diaz terbelalak, mengira pria di depannya sudah gila karena stres.

"Oalah Mas, saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke Gunung Kawi untuk mencari ketenangan!"

Mendengar kata 'Gunung Kawi', mata Ganda makin melebar, salah paham.

"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah, Mbak, eling Mbak! Jangan ke sana. Menikah sama saya saja, saya kasih semuanya, Mbak. Seluruh harta saya!"

"Bukan begitu! Saya nggak cari pesugihan, saya hanya—"

Belum sempat Diaz menyelesaikan kalimatnya, Ganda sudah menyambar pergelangan tangan Diaz yang terbalut mukena, menariknya dengan paksa namun pasti menuju ruang utama masjid tempat takmir dan beberapa saksi inti berada.

Ganda tahu, ia harus bergerak sebelum mamanya keluar dari ruang VIP.

"Pak penghulu, ini pengantin wanitanya. Ada perubahan mendadak demi kemaslahatan umat dan menghindari fitnah," ucap Ganda tegas kepada penghulu yang terperangah melihat Diaz yang hanya bermukena tanpa riasan pengantin.

Dengan otoritasnya sebagai anak kiai, Ganda memotong semua keraguan.

Menggunakan mahar fantastis yang seharusnya menjadi milik Laura.

"Siapa nama lengkap kamu? Apakah ayahmu masih ada? Saya akan menjemput beliau,"

Ganda langsung menjabat tangan penghulu yang bertindak sebagai wali hakim.

Di atas karpet hijau masjid, dalam waktu kurang dari sepuluh menit sejak tabrakan di koridor, sebuah kalimat mutlak berkumandang lantang dan berwibawa:

"Saya terima nikahnya Diaz Aruna Saraswati binti Almarhum Subroto dengan mas kawin dua ratus juta rupiah dibayar tunai!"

"Sah?"

"Sah!"

Seketika itu juga, air mata Diaz luruh. Ia resmi menjadi istri seorang anak kiai dalam skenario paling gila yang pernah ada dalam hidupnya.

Tepat saat kata 'Sah' selesai diucapkan, pintu utama masjid terbuka luas.

Rombongan keluarga besar dan emak-emak undangan mulai memasuki area utama masjid.

Langkah kaki mereka mendadak melambat, berganti dengan pandangan mata yang menghujam tajam ke arah pelaminan.

Suasana sakral yang baru saja tercipta langsung pecah berkeping-keping oleh bisik-bisik julid yang menjalar cepat di antara barisan undangan.

Seorang emak-emak bersanggul tinggi menyenggol lengan temannya dengan bibir mencibir:

"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online... dipesen langsung dateng!"

Diaz menunduk dalam, meremas ujung mukenanya yang mendadak terasa sangat berat.

Di sampingnya, Ganda berdiri dengan rahang mengeras.

Mereka berdua tahu, gerbang cobaan yang sesungguhnya baru saja terbuka lebar.

Bab 2

Ketukan sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer masjid mendadak berhenti.

Dari arah pintu VIP, langkah kaki Nyai Maryam—mama Ganda—terhenti kaku. Matanya yang dihiasi riasan tajam melebar sempurna saat menangkap pemandangan di depan mimbar.

Putra kebanggaannya, Ganda Mahesa, berdiri berdampingan dengan seorang gadis asing yang hanya berbalut mukena putih polos tanpa riasan, tanpa sanggul, dan tanpa kemewahan sama sekali.

"Ganda! Apa-apan ini?!" Suara Nyai Maryam melengking, memecah keheningan masjid dan langsung membungkam bisik-bisik emak-emak undangan.

Ia berjalan cepat, menatap Diaz dengan pandangan menghina dari atas ke bawah.

"Siapa perempuan ini? Di mana Laura? Kenapa kamu malah bersanding dengan perempuan yang kelihatan seperti... seperti orang baru bangun tidur begini?!"

Sebelum Ganda sempat menjawab, perhatian seluruh isi masjid teralih ke pintu masuk utama. Kehebohan baru pecah.

Rombongan keluarga besar Laura tiba dengan napas terengah-engah.

Di garis depan, Laura berjalan tergesa-gesa dengan gaun pengantin brokat premiumnya yang menjuntai indah, meski wajahnya tampak dipaksakan layu.

Langkah Laura mendadak terkunci di tempat saat melihat pemandangan di depannya.

Matanya tertuju lurus pada jemari Ganda yang masih menggenggam erat pergelangan tangan Diaz—sebuah refleks protektif yang dilakukan Ganda tanpa sadar.

"Mas, dia siapa?" tanya Laura, suaranya bergetar, separuh kaget dan separuh tak percaya rencananya berantakan.

Ganda berbalik, menatap Laura dengan tatapan sedingin es.

Tidak ada lagi binar cinta atau kepanikan seorang pria yang takut kehilangan kekasih. Yang tersisa hanyalah kekecewaan mendalam.

"Kamu dari mana, Laura?" tanya Ganda, suaranya berat dan menuntut.

"Satu jam aku menghubungimu. Ponselmu mati. Undangan sudah penuh, harga diri keluargaku di ujung tanduk. Aku menunggumu, dan karena kamu tidak datang, aku sudah menikahi dia. Dia istriku sekarang."

"Mas! Ini tidak boleh terjadi!" Laura memekik, air mata buayanya mulai menetes.

Ia melangkah maju, mencoba meraih lengan Ganda namun tertahan oleh tatapan tajam pria itu.

"Aku cuma terlambat sedikit, Mas! Ada kendala di jalan! Kamu harus tetap menikah denganku! Pernikahan ini milik kita!"

"Terlambat sedikit kamu bilang? Ini akad nikah, Laura, bukan janjian di kafe!" bentak Ganda, membuat seisi masjid menahan napas.

Melihat situasi yang semakin kacau dan nama baik keluarganya di ambang kehancuran total,

Laura langsung melancarkan aksi terakhirnya. Tubuhnya tiba-tiba limbung.

Ia memegangi kepalanya, matanya terpejam lambat, dan ia meluncur jatuh ke lantai seolah-olah tenaganya habis dan siap untuk pingsan kapan saja.

"Laura!" Nyai Maryam menjerit panik. Ia segera berlutut, menahan tubuh calon menantu kesayangannya itu.

Nyai Maryam mendongak, menatap Ganda dengan mata berkaca-kaca yang dipenuhi tuntutan mutlak.

"Ganda! Mama mohon sama kamu, demi nama baik pesantren kita, demi hubungan bisnis keluarga kita dengan keluarga Laura, kamu harus tetap menikahi Laura hari ini juga! Batalkan pernikahan tidak jelas dengan perempuan matre ini!"

Di tengah lingkaran badai itu, Diaz hanya diam. Ia mengeratkan pelukannya pada tas ransel yang masih bertengger di pundaknya.

Status sosialnya yang berbeda bak bumi dan langit membuat Diaz merasa tidak punya hak untuk bersuara di rumah Allah ini.

Ia merasa seperti orang asing yang terjebak dalam skenario sirkus kelas atas.

Ganda menatap mamanya, lalu beralih menatap Laura yang masih "lemah tak berdaya" di lantai, dan terakhir, ia menatap Diaz yang berdiri kaku dengan tatapan kosong.

Rahang Ganda mengeras. Harga dirinya sebagai laki-laki tidak akan membiarkan dirinya didikte begitu saja, pun ia tidak akan menceraikan wanita yang baru saja menyelamatkan mukanya di hadapan ratusan orang.

"Baik," ucap Ganda lantang.

Suaranya bergema di setiap sudut Masjid Baiturrahman.

"Aku akan tetap menikah dengan Laura hari ini juga."

Laura yang tadinya memejamkan mata, perlahan membuka kelopak matanya dengan binar kemenangan yang tertahan.

Begitu juga dengan Nyai Maryam yang langsung mengembuskan napas lega.

Namun, kalimat Ganda belum selesai.

"Aku akan menikah dengan Laura," lanjut Ganda dengan nada mutlak yang tak terbantahkan.

"Tapi dengan satu syarat. Diaz tetap menjadi istri pertamaku yang sah, dan kamu, Laura, akan menjadi madu Diaz. Kamu akan menjadi istri kedua."

Bagai disambar petir di siang bolong.

Wajah Laura yang tadinya pura-pura pucat langsung berubah menjadi pucat beneran.

Menjadi istri kedua? Dipoligami di hari pernikahannya sendiri dengan seorang gadis asing bermukena lungsuran? Gengsinya berteriak menolak.

Namun, saat ia melirik ke arah luar masjid di mana dua ratus pasang mata undangan sedang menonton dramanya, dan melihat tatapan mengancam dari ayahnya sendiri yang menuntut agar pernikahan tetap terjadi demi saham bisnis mereka, Laura tidak punya pilihan lain.

Dengan sisa harga diri yang runtuh dan air mata yang kini benar-benar tumpah karena jengkel, Laura akhirnya menganggukkan kepalanya terpaksa.

"I-iya, Mas. Aku mau," bisik Laura lirih, menerima takdir pahit yang ia gali sendiri.

Begitu kata "sah" untuk kedua kalinya menggema, suasana Masjid Baiturrahman Kepanjen langsung berubah riuh.

Acara dengan cepat digeser ke area luar masjid, tempat panggung pelaminan megah telah berdiri.

Para tamu undangan berdesakan maju, mengular panjang untuk memberikan ucapan selamat kepada Ganda dan Laura.

Senyum merekah di wajah Nyai Maryam saat menyalami para kolega, seolah-olah drama menegangkan beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.

Semua orang memuji serasinya Ganda yang gagah dan Laura yang anggun bak ratu sehari.

Di tengah gegap gempita itu, mereka semua benar-benar buta dan tidak menghiraukan keberadaan Diaz.

Bagi dua ratus undangan di sana, Diaz hanyalah angin lalu, sebuah 'kesalahan teknis' yang tak perlu dianggap ada.

Dari sudut teras masjid yang sepi, Diaz berdiri mematung.

Matanya menatap lurus ke arah panggung. Ia melihat Ganda dengan ramah menyalami satu per satu para tamu yang memberikan selamat.

Pria itu tampak begitu bersinar, begitu jauh, dan begitu mustahil untuk ia jangkau.

Diaz tersenyum getir. Kepingan logikanya yang sempat hilang kini kembali.

Pernikahan ini pasti cuma main-main, pikirnya perih.

Ganda hanya membutuhkannya selama sepuluh menit untuk menyelamatkan muka keluarganya.

Sekarang, setelah Laura kembali dan status mereka resmi berpoligami, untuk apa lagi dia di sini? Dia hanya akan menjadi duri di tengah keluarga kiai dihormati ini.

Diaz mengembuskan napas panjang, memantapkan hati.

Dengan gerakan perlahan, ia melepas mukena putihnya, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel hitam yang sejak tadi tak pernah lepas dari pundaknya.

Kini, ia kembali menjadi Diaz yang semula—gadis berkaus oblong dan celana jins yang sedang melarikan diri.

Ia membalikkan badan, berjalan cepat meninggalkan kemegahan yang bukan miliknya menuju area parkiran masjid.

Begitu menemukan motor sport kesayangannya, Diaz langsung naik dan bersiap memasukkan kunci kontak.

Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh setang, sebuah bayangan besar langsung menghadang di depannya.

Ganda berdiri di sana, napasnya sedikit memburu setelah setengah berlari mengejar Diaz dari panggung pelaminan.

"Kamu mau ke mana?" tanya Ganda, suaranya berat, menuntut penjelasan.

Diaz menatap Ganda datar, mencoba menyembunyikan rasa berdebar di dadanya.

"Ke Gunung Kawi. Bukankah tugasku sudah selesai? Istrimu juga telah kembali. Lalu buat apa lagi aku di sini?"

"Diaz, turun dari motormu," perintah Ganda, mengabaikan pertanyaan gadis itu.

"Kamu masih sah jadi istriku."

Diaz tertawa hambar, merasa situasi ini semakin konyol.

"Jangan bercanda, Ganda! Pernikahan sepuluh menit itu cuma taktik kamu, kan? Sudahlah, lepasin aku."

Malas berdebat, Diaz langsung memutar kunci dan menghidupkan mesin motor sportnya.

Suara raungan knalpot seketika memekakkan telinga.

Namun, sebelum Diaz sempat menarik gas, dengan gerakan secepat kilat, tangan Ganda terulur ke depan.

Klik.

Ganda mencabut kunci motor Diaz dan langsung mengantonginya.

"Ganda! Mana kunci motorku?!" seru Diaz mulai kesal, menatap pria di depannya dengan tatapan menghujam.

"Acara ini belum selesai. Ayo kita masuk," ucap Ganda dingin namun tak terbantahkan.

Ia tidak memberikan celah sedikit pun bagi Diaz untuk membantah.

Sebelum Diaz sempat protes lebih jauh, Ganda maju selangkah, meraih jemari tangan Diaz, dan menggenggamnya dengan sangat erat.

Sentuhan itu hangat, namun mencengkeram kuat, memaksa Diaz untuk turun dari motor dan melangkah mengikutinya kembali menuju area pesta.

Dari atas panggung pelaminan, Laura yang sejak tadi mencari-cari keberadaan suaminya, seketika membeku.

Matanya menyipit tajam saat melihat Ganda berjalan kembali dengan menuntun tangan Diaz.

Melihat Ganda membawa wanita berkaus oblong itu untuk berdiri tepat di sampingnya di hadapan para tamu, Laura mengerucutkan bibirnya dalam-dalam.

Rasa gengsi dan cemburu membakar dadanya. Di balik gaun pengantinnya yang mewah, kedua tangan Laura mencengkeram erat kain brokatnya hingga kukunya memutih.

Hari yang seharusnya menjadi hari kemenangannya, kini berubah menjadi awal dari neraka yang harus ia bagi dengan wanita lain.

Bab 3

Setelah berjam-jam berdiri di bawah sorot mata yang menghakimi, acara resepsi pernikahan yang melelahkan itu akhirnya usai.

Para tamu undangan satu per satu mulai meninggalkan pelataran Masjid Baiturrahman, menyisakan dekorasi mewah yang kini terasa sunyi.

Ganda membalikkan badannya, menatap Diaz yang sejak tadi berdiri kaku di sampingnya bagai patung bernyawa.

"Ayo, kita pulang," ajak Ganda singkat.

Belum sempat Diaz merespons, sebuah aroma parfum mahal yang menyengat langsung mendekat.

Laura dengan cepat menghambur dan memeluk tubuh Ganda dari samping, sengaja memamerkan kedekatan mereka di depan mata Diaz.

"Mas, ayo kita pulang ke rumah yang baru kita beli kemarin," ucap Laura manja, mendongak menatap wajah Ganda dengan binar penuh harap.

"Semua barang-barangku sudah dipindahkan ke sana, Mas."

Diaz yang melihat pemandangan itu merasa dadanya semakin sesak.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Ganda dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Pulanglah ke istrimu, Ganda. Urusan kita sudah selesai di dalam masjid tadi. Aku akan melanjutkan perjalananku ke Gunung Kawi."

"Diaz, kamu pulang sama aku," potong Ganda cepat, suaranya mutlak tanpa bantahan. Ia lalu menoleh ke arah Laura, melepaskan pelukan wanita itu dengan halus namun tegas.

"Laura, kamu pulang dengan mobil. Kita semua ke pondok pesantren dulu sampai tujuh hari ke depan. Kita harus sowan ke Abah dan menjelaskan semuanya."

Wajah Laura langsung cemberut mendengar keputusan itu.

"Mas, aku mau ikut ke mobil kamu! Aku juga istri kamu, Mas! Kenapa aku harus dipisah?" rengeknya tidak terima.

"Laura, kamu naik mobil lain bersama Mama. Titik," jawab Ganda dingin, memotong semua kalimat protes yang hendak keluar dari bibir istri keduanya itu.

Tanpa memedulikan raut wajah Laura yang bertekuk mapan, Ganda berbalik dan kembali menggenggam erat tangan Diaz.

Ia menarik gadis itu dengan langkah lebar menuju area parkiran, tempat motor sport milik Diaz masih terparkir rapi.

"Ganda, lepaskan! Pulanglah," desak Diaz setengah berbisik, mencoba meronta dari cengkeraman tangan Ganda yang sekeras karang.

"Anggap saja kita tidak pernah bertemu hari ini. Istrimu sudah kembali, semuanya sudah aman untuk keluarga kamu. Jadi buat apa lagi aku ikut? Dan mmmpphhh—!"

Kalimat Diaz terputus seketika. Ganda dengan cepat mengeluarkan selembar sapu tangan bersih dari saku jas akadnya, lalu menggunakannya untuk membekap lembut mulut Diaz, membungkam semua protes yang sejak tadi keluar dari bibir tipis gadis itu.

"Kamu terlalu banyak protes, Diaz Aruna," bisik Ganda tepat di dekat telinga Diaz, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

Dengan satu tangan yang masih menahan pergerakan Diaz, tangan Ganda yang lain meraih helm full-face milik Diaz yang tergantung di setang motor.

Tanpa memedulikan tatapan syok dan melotot dari mata Diaz, Ganda memakaikan helm tersebut ke kepala istri pertamanya, lalu mengklik penguncinya hingga berbunyi klek.

Ganda melepas jas akad putihnya yang berharga mahal, menyampirkannya begitu saja di atas tangki, lalu melompat naik ke atas jok motor sport tersebut.

Ia memasukkan kunci yang sejak tadi dikantonginya, lalu menghidupkan mesin.

Suara raungan knalpot kembali membelah parkiran masjid.

"Naik, atau aku angkat kamu ke atas sini?" ancam Ganda dari balik kaca helmnya.

Diaz yang tidak punya pilihan lain, ditambah rasa malu jika harus digendong di depan umum, akhirnya terpaksa naik dan duduk di jok belakang dengan perasaan campur aduk.

Ganda menarik tuas gas dalam-dalam. Motor sport itu melesat membelah jalanan, membawa Diaz terbang menjauhi Gunung Kawi, menuju takdir baru yang jauh lebih mistis dan penuh tekanan: Pondok Pesantren jalur keluarga kiai.

Di dalam kurungan helm full-face-nya, Diaz hanya bisa terdiam membisu.

Angin jalanan Kepanjen yang menerpa tubuhnya tidak mampu mendinginkan kepala dan hatinya yang sedang mendidih.

Ia menatap punggung tegap Ganda dengan perasaan campur aduk—antara kesal, bingung, dan tidak percaya bahwa pelariannya subuh tadi justru membawanya berboncengan dengan seorang anak kiai.

Merasakan tidak ada lagi bantahan atau gerakan meronta dari penumpang di belakangnya, Ganda menyunggingkan senyum tipis di balik kaca helmnya.

Keheningan di atas motor sport itu justru terasa seperti kemenangan kecil baginya.

Dua puluh menit kemudian, deru mesin motor sport itu melambat, memasuki gerbang besar Pondok Pesantren Al Ikhlas. Suasana di sana tak kalah ramai.

Halaman pondok dipenuhi tenda-tenda santri dan para tokoh masyarakat yang memang tidak sempat datang ke Masjid Baiturrahman.

Begitu motor Ganda berhenti di depan kediaman utama (ndalem), ratusan pasang mata para santri dan tamu langsung membelalakkan mata. Mereka berbisik-bisik, heran melihat sang anak kiai pulang membawa motor sport, tanpa jas akad, dan membonceng seorang gadis berkaus oblong serta celana jins.

KH. Mahesa—sang Abah—yang sejak tadi sedang menyambut kedatangan para tamu di teras, langsung menghentikan obrolannya.

Gurat wibawa di wajah sepuhnya mendadak berubah tegang.

Beliau berjalan cepat ke arah motor Ganda dengan langkah lebar.

"Ganda! Siapa dia? Mana Laura?!" tanya Abah, suaranya berat dan penuh penekanan, meskipun tetap berusaha menjaga kewibawaannya di depan publik.

Ganda tidak langsung menjawab. Ia turun dari motor, lalu dengan telaten membuka kaca helm Diaz, melepas kunciannya, dan mengangkat helm tersebut dari kepala sang istri.

Setelah itu, ia perlahan menurunkan sapu tangan yang sejak tadi membekap mulut Diaz.

Melihat wajah polos Diaz yang tampak linglung dan ketakutan di bawah kepungan tatapan ratusan orang, Abah semakin terkejut.

"Ganda... kamu menculik seorang wanita?!" tanya Abah dengan nada menginterogasi, mengira putranya telah melakukan tindak kriminal karena stres.

"Bukan menculik, Abah," jawab Ganda dengan nada tenang namun mantap.

Ia menatap lurus mata sang ayah. "Dia istriku yang sah. Diaz Aruna Saraswati."

Mendengar kata 'istri', Diaz tersentak. Sadar dirinya sedang berhadapan dengan sosok ulama besar yang sangat dihormati, Diaz menekan semua egonya.

Dengan sopan dan gemetar, ia melangkah maju, membungkuk dalam, lalu mencium punggung tangan Abah dengan takzim—menunjukkan sisa-sisa adab yang diajarkan almarhum ayahnya.

Abah menatap Diaz dengan pandangan yang sulit diartikan.

Ada keterkejutan, namun juga ada ketenangan yang terpancar dari aura gadis itu.

Menyadari situasi di halaman pondok semakin tidak kondusif karena menjadi tontonan, Abah mengembuskan napas panjang.

"Ayo, kalian masuk ke dalam. Kita bicarakan ini di dalam sambil menunggu Umi dan rombongan mobil datang," perintah Abah tegas, lalu berbalik memimpin jalan masuk ke ndalem.

Namun, Diaz justru diam mematung di samping motor.

Kakinya terasa seperti dipaku ke paving halaman. Masuk ke dalam rumah itu artinya ia harus menghadapi sidang keluarga yang jauh lebih mengerikan.

Melihat Diaz yang tidak bergerak satu senti pun, Ganda berbalik.

Ia mendekatkan wajahnya, lalu berbisik dengan nada mengancam yang sensual, "Ayo masuk... atau aku gendong kamu di depan semua santri ini?"

Mata Diaz langsung melotot sempurna. Mendengar ancaman gila itu, ia tidak berpikir dua kali.

Dengan langkah seribu, Diaz langsung berjalan cepat mendahului Ganda, masuk ke dalam rumah, dan langsung duduk dengan kaku di salah satu kursi kayu ukiran yang ada di ruang tamu utama.

Jantungnya berdegup kencang, menanti badai selanjutnya yang siap menerjang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!