Malam itu, hujan turun sangat deras di sudut ibu kota, seolah-olah langit sedang ikut menangis meratapi nasib sial yang menimpa Viona. Di dalam sebuah gang sempit yang gelap dan becek, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu berlari tanpa arah. Napasnya tersengal-sengal, sementara air hujan melarutkan air mata yang terus mengalir di pipinya yang pucat.
Di belakangnya, sayup-sayup terdengar suara langkah sepatu bot yang berat disertai teriakan kasar beberapa orang pria.
"Jangan lari kamu, jalang kecil! Bayar utang ayahmu!" teriak salah satu pria dengan suara serak yang mengerikan.
Viona mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa perih di kakinya yang lecet karena hanya mengenakan flat shoes murah. Pikiran gadis itu kacau balau. Ayahnya yang telah meninggal dunia ternyata meninggalkan warisan berupa utang judi sebesar ratusan juta kepada rentenir kelas kakap. Tadi sore, para penagih utang itu datang ke rumah petak mereka, mengacak-acak isinya, dan mengancam akan menghabisi nyawa ibunya yang sedang sakit keras jika utang itu tidak dilunasi malam ini juga. Demi melindungi ibunya, Viona sengaja memancing para preman itu untuk mengejarnya ke luar rumah. Namun sekarang, dia sendiri terjebak dalam keputusasaan yang teramat sangat.
Tuhan, tolong aku... Siapa saja, tolong aku,jerit Viona dalam hati.
Langkah Viona mendadak terhenti ketika dia keluar dari gang dan menembus jalanan raya utama. Di depannya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan sedang. Karena panik dan pandangan yang buram akibat air hujan, Viona tidak sempat menghindar. Dia justru merentangkan kedua tangannya di tengah jalan, mencoba menghentikan kendaraan tersebut sebagai harapan terakhirnya.
CIIIITTTTT!
Suara berdecit nyaring dari ban mobil yang bergesekan dengan aspal basah memecah keheningan malam. Mobil mewah bermerek Rolls-Royce itu berhenti tepat beberapa sentimeter di depan lutut Viona yang gemetar. Tubuh Viona yang lemas seketika limbung dan jatuh terduduk di atas aspal yang dingin.
Di dalam mobil, seorang pria yang duduk di kursi belakang mendengus kesal karena guncangan rem mendadak tersebut. Pria itu adalah Arkan Mahendra, seorang CEO muda berusia dua puluh sembilan tahun yang terkenal kejam, dingin, dan bertangan dingin di dunia bisnis. Wajahnya yang setampan dewa Yunani tampak mengeras, memancarkan aura dominan yang mengintimidasi siapa saja.
"Ada apa, Doni?" tanya Arkan dengan suara berat dan datar, tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya.
"Maaf, Tuan Arkan. Ada seorang wanita yang tiba-tiba menghadang mobil kita. Sepertinya dia hampir pingsan," jawab sang sopir pribadi dengan nada cemas.
Arkan menurunkan sedikit kaca mobilnya. Melalui celah sempit itu, tatapan matanya yang tajam dan sedingin es menangkap sosok seorang gadis yang basah kuyup di bawah guyuran hujan. Gadis itu berwajah oval, dengan rambut panjang yang menempel di lehernya, dan mata bulat yang memancarkan ketakutan yang mendalam. Di saat yang sama, Arkan melihat tiga orang pria berwajah sangar berlari keluar dari gang, bersiap untuk menyeret gadis itu.
Viona yang melihat ada celah harapan, merangkak mendekati pintu mobil belakang. Dia mengetuk kaca mobil dengan tangan yang gemetar hebat.
"Tolong... saya mohon, tolong saya," bisik Viona parau, berharap sang pemilik mobil bisa mendengarnya dari balik badai. "Mereka akan membunuh saya..."
Arkan memperhatikan jemari gadis itu yang memutih karena kedinginan. Biasanya, Arkan tidak pernah peduli dengan urusan orang lain. Baginya, manusia hanyalah bidak catur yang bergerak sesuai keuntungan bisnis. Namun, entah mengapa, ada sesuatu pada tatapan mata gadis itu—sebuah keputusasaan yang murni—yang tiba-tiba memicu rasa penasaran di benak Arkan yang mati rasa akibat pengkhianatan masa lalu.
"Buka pintunya," perintah Arkan singkat.
Doni terkejut, namun segera menekan tombol pembuka kunci. Viona tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia membuka pintu mobil dan menyusup masuk ke dalam kabin mobil yang hangat dan beraroma parfum maskulin yang sangat mahal. Begitu pintu tertutup rapat, mobil itu langsung melesat membelah jalanan, meninggalkan para rentenir yang memaki di belakang.
Viona duduk meringkuk di lantai mobil, tidak berani duduk di atas jok kulit yang mewah karena tubuhnya yang kotor dan basah kuyup. Dia menangis sesenggukan, memeluk lututnya sendiri, mencoba menetralisir rasa takut yang masih tersisa.
"Sudah aman. Sekarang, keluar dari mobilku," suara dingin Arkan memecah keheningan di dalam kabin.
Viona mendongak. Untuk pertama kalinya, matanya bertemu dengan manik mata hitam kelam milik Arkan. Detak jantung Viona seakan berhenti sedetik. Pria di hadapannya ini begitu tampan, namun tatapannya sangat tidak bersahabat.
"T-Tuan... tolong saya. Saya tidak bisa turun di sini. Mereka pasti masih mencari saya dan ibu saya," ratap Viona dengan suara bergetar. "Saya akan melakukan apa saja, asal Anda menyelamatkan saya dan ibu saya dari rentenir itu. Tolong..."
Arkan menatap Viona dari atas ke bawah. Meskipun tertutup pakaian basah yang melekat di tubuhnya, Arkan bisa melihat lekuk tubuh gadis itu yang indah dan proporsional. Wajah polos Viona yang tanpa riasan justru memancarkan kecantikan alami yang langka. Sebuah seringai tipis yang sarat akan niat tersembunyi muncul di sudut bibir Arkan.
Pria itu mematikan tabletnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Viona. Jarak mereka begitu dekat hingga Viona bisa merasakan embusan napas hangat Arkan yang kontras dengan tubuhnya yang kedinginan.
"Melakukan apa saja, katamu?" tanya Arkan dengan nada meremehkan. "Kamu tahu siapa aku? Aku tidak memberikan tumpangan gratis, apalagi perlindungan cuma-cuma."
"Saya tahu... tapi saya tidak punya apa-apa lagi sekarang," tangis Viona pecah. "Hanya nyawa dan... diri saya."
Arkan terkekeh sinis. Suaranya terdengar seksi namun mematikan. "Dirimu? Baik. Kebetulan sekali, aku sedang membutuhkan sesuatu untuk memuaskan obsesiku, sebuah mainan yang bisa mendengarkan semua perintahku tanpa bantahan. Aku tawarkan sebuah kesepakatan gila padamu."
Viona menahan napasnya. "Kesepakatan... apa, Tuan?"
Arkan mengulurkan jari telunjuknya, mengangkat dagu Viona agar gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang dominan.
"Jadilah wanita simpananku. Tanda tangani kontrak eksklusif denganku. Aku akan melunasi semua utang keluarga itumu, membiayai pengobatan ibumu di rumah sakit terbaik, dan menjamin keselamatan kalian ." Arkan menjeda kalimatnya, tatapannya menggelap dipenuhi gairah yang terpendam. "Tapi imbalannya, tubuhmu, waktumu, dan kebebasanmu adalah milikku sepenuhnya. Kamu harus siap melayaniku kapan pun aku menginginkannya di apartemenku."
Bagai disambar petir di siang bolong, Viona tertegun. Menjadi wanita simpanan? Menjual harga dirinya kepada seorang pria asing demi uang? Hati nurani Viona menjerit menolak. Namun, bayangan wajah ibunya yang pucat dan todongan senjata tajam para rentenir kembali berputar di otaknya. Jika dia menolak, besok mungkin dia hanya akan melihat jasad ibunya.
Dunia ini kejam, dan Viona dipaksa untuk menjadi lebih kejam pada dirinya sendiri.
Dengan air mata yang mengalir semakin deras, Viona memejamkan mata erat-erat. Dia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, mengubur dalam-dalam harga diri yang selama ini dia jaga dengan baik.
"Baik... saya menerima kesepakatan itu, Tuan," bisik Viona lirih, menerima takdir kelam yang baru saja dia pilih.
Arkan tersenyum puas. Dia melepaskan cengkeramannya pada dagu Viona. "Pilihan yang cerdas. Mulai malam ini, kamu adalah milikku, Viona."
Mobil Rolls-Royce itu pun berbelok, membelokkan arah menuju ke sebuah gedung pent-house mewah di pusat kota, tempat di mana malam pertama yang penuh gairah terlarang dan air mata akan segera dimulai.
Kemegahan lobi gedung penthouse eksklusif di pusat ibu kota itu sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang mencengkeram dada Viona. Dengan tubuh yang masih sedikit basah dan terbungkus jaket jas milik Arkan yang sengaja dilemparkan pria itu untuk menutupi pakaiannya yang melekat ketat, Viona melangkah dengan kepala tertunduk. Di sampingnya, Arkan Mahendra berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dominasi yang membuat para petugas keamanan gedung membungkuk hormat dengan takzim.
Lift pribadi membawa mereka melesat cepat menuju lantai teratas. Keheningan di dalam kubus logam berlapis cermin itu terasa begitu mencekam. Viona bisa melihat pantulan dirinya di cermin—berantakan, pucat, dan tampak seperti domba yang pasrah dibawa ke tempat jagal. Sementara di sebelahnya, Arkan berdiri dengan melipat tangan di dada, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras kokoh. Pria itu sama sekali tidak menoleh padanya, seolah-olah Viona hanyalah barang belanjaan mahal yang baru saja dia beli di pasar malam.
Ting!
Pintu lift terbuka, langsung menyajikan pemandangan sebuah penthouse dua lantai yang luar biasa mewah namun terasa sangat sunyi dan dingin. Didominasi oleh warna hitam, abu-abu, dan sentuhan marmer putih, tempat ini lebih mirip galeri seni modern yang tak berpenghuni daripada sebuah rumah.
"Masuk," perintah Arkan datar sambil melangkah lebih dulu.
Viona melangkah ragu-ragu. Kakinya yang telanjang tanpa alas sekarang menyentuh karpet bulu domba yang sangat lembut dan hangat. Kontras sekali dengan aspal jalanan yang basah dan kasar yang beberapa puluh menit lalu hampir merenggut nyawanya.
Arkan berjalan menuju sebuah meja bar mini, menuangkan cairan amber dari botol kristal ke dalam gelas sloki, lalu meneguknya dalam sekali tegak. Setelah itu, dia berbalik dan menatap Viona yang masih berdiri mematung di dekat pintu masuk.
"Bersihkan dirimu. Di dalam kamar utama ada kamar mandi. Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan pakaian ganti untukmu di atas tempat tidur," ucap Arkan, nadanya tidak menerima bantahan. "Aku tidak suka melihat wanita kotor di dalam rumahku."
"B-Baik, Tuan," bisik Viona lirih.
Dengan langkah gemetar, Viona berjalan menuju arah yang ditunjuk oleh Arkan. Kamar utama itu berukuran sangat luas, dengan sebuah ranjang berukuran king size berkelambu abu-abu tua yang tampak intimidatif di tengah ruangan. Di atas kasur, selembar gaun tidur berbahan sutra tipis berwarna merah marun sudah terhampar rapi. Jantung Viona berdesir hebat melihat warna pakaian itu. Merah. Warna yang melambangkan gairah, sekaligus menegaskan status barunya malam ini.
Viona melangkah ke kamar mandi yang dilapisi marmer mewah. Di bawah pancuran air hangat, dia membiarkan air membasuh sisa-sisa air mata, debu jalanan, dan rasa takutnya. Namun, kehangatan air itu tetap tidak bisa mencairkan hatinya yang perlahan membeku. Dia tahu, setelah dia melangkah keluar dari kamar mandi ini, lembaran hidupnya sebagai Viona yang polos dan terhormat telah berakhir. Kini, dia hanyalah wanita simpanan seorang CEO.
Dua puluh menit kemudian, Viona keluar dengan mengenakan gaun tidur sutra tersebut. Gaun itu pas di tubuhnya, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping, kulit bahunya yang seputih susu, serta belahan dadanya yang tercetak samar di balik bahan sutra yang halus. Rambut panjangnya yang setengah basah dibiarkan terurai bebas, menciptakan kesan seksi yang alami tanpa dibuat-buat.
Saat Viona kembali ke ruang tengah, Arkan sudah duduk di sofa kulit hitam yang besar. Di atas meja marmer di hadapannya, telah tersedia dua rangkap dokumen tebal bersanding dengan sebuah pena perak yang berkilau di bawah temaram lampu ruangan.
"Duduk di sini," Arkan menepuk sisi sofa di sebelahnya.
Viona menelan ludah yang terasa getir. Dia berjalan perlahan dan mendudukkan dirinya di tempat yang diminta, menjaga jarak beberapa sentimeter dari tubuh kekar sang CEO. Aroma maskulin bercampur wangi alkohol dari tubuh Arkan langsung menyerang indra penciuman Viona, membuat dadanya bergemuruh tidak karuan.
Arkan menggeser dokumen tersebut ke depan Viona. "Itu adalah kontrak tertulis kita. Doni sudah mengurus pelunasan utang ayahmu ke rentenir itu sepuluh menit yang lalu. Ibumu juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP di Rumah Sakit Medika Utama malam ini juga dengan pengawalan ketat."
Mendengar hal itu, ada rasa lega yang luar biasa membuncah di dada Viona. Setidaknya, pengorbanannya tidak sia-sia. Ibunya aman.
"Terima kasih, Tuan Arkan..." lirih Viona dengan tulus.
"Jangan berterima kasih dulu sebelum kamu membaca syaratnya," potong Arkan dingin. Jemari kokohnya mengetuk permukaan kertas. "Baca poin nomor tiga dan empat."
Viona menunduk dan membaca tulisan berhuruf cetak tebal tersebut dalam hati:
Poin 3: Pihak Kedua (Viona) wajib menyediakan diri, jiwa, dan raganya kapan pun Pihak Pertama (Arkan) membutuhkan, tanpa hak untuk menolak atau mengajukan protes.
Poin 4: Hubungan ini berstatus rahasia mutlak. Pihak Kedua dilarang keras menuntut pengakuan di depan publik, dilarang mencampuri urusan pribadi Pihak Pertama, dan dilarang keras melibatkan perasaan atau jatuh cinta.
Membaca poin terakhir, dada Viona terasa seperti ditusuk jarum tak kasat mata. Jatuh cinta? Viona tersenyum miris dalam hati. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta pada pria kejam yang mengikatnya dengan rantai uang seperti ini?
"Aku rasa syarat itu cukup adil untuk ratusan juta rupiah yang sudah aku keluarkan dalam sekejap, bukan?" tanya Arkan dengan nada meremehkan.
"Sangat adil, Tuan," jawab Viona dengan suara yang diusahakan sekuat mungkin. Dia meraih pena perak tersebut, menatap baris kosong di atas materai, lalu dengan satu tarikan napas, membubuhkan tanda tangannya di sana.
Selesai. Garis takdirnya kini resmi terikat pada Arkan Mahendra.
Begitu Viona meletakkan pena, Arkan langsung menarik dokumen tersebut. Seringai puas kembali terukir di wajah tampannya yang dingin. Pria itu bergeser mendekat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga Viona bisa merasakan kehangatan suhu tubuh Arkan yang memabukkan.
Tangan besar Arkan terangkat, jemarinya yang hangat perlahan menyelipkan anak rambut Viona yang basah ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan kasar namun sensual itu membuat tubuh Viona meremang seketika. Tatapan mata Arkan yang semula sedingin es, kini perlahan berubah menggelap, digantikan oleh kilatan gairah yang membara yang selama ini dia sembunyikan di balik topeng keangkuhannya.
"Kontrak sudah sah," bisik Arkan, suaranya mendadak berubah menjadi berat dan serak di dekat telinga Viona. "Dan sekarang... saatnya kamu membayar angsuran pertamamu malam ini, Viona."
Sebelum Viona sempat menjawab, tangan Arkan sudah berpindah ke tengkuknya, menarik wajah gadis itu dengan lembut namun penuh penekanan, lalu mengunci bibir Viona dalam sebuah ciuman yang menuntut dan penuh gairah terlarang.
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden mewah setinggi langit-langit penthouse memaksa Viona untuk membuka matanya. Rasa pening langsung menyerang kepalanya, disertai rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya. Viona bergerak perlahan, merasakan halusnya seprei sutra yang membungkus tubuhnya yang polos di balik selimut tebal.
Ingatan tentang malam tadi seketika berputar di otaknya seperti rol film. Sentuhan demi sentuhan, kecupan menuntut yang membakar kulitnya, dan bagaimana Arkan Mahendra memperlakukannya dengan gairah yang begitu intens namun tanpa menyertakan setitik pun kelembutan cinta. Pria itu benar-benar mengambil apa yang telah dia beli dengan uang ratusan juta rupiah.
Viona menoleh ke samping tempat tidur. Kosong. Kasur di sebelahnya sudah mendingin, menandakan bahwa sang pemilik kamar telah lama pergi. Ada sebersit rasa lega sekaligus perih yang aneh di sudut hati Viona. Dia segera bangun, menahan rasa nyeri di tubuhnya, lalu melangkah menuju kamar mandi. Saat menatap cermin, Viona memejamkan mata sesaat melihat beberapa tanda kemerahan yang tertinggal di tulang selangkanya—bukti kepemilikan mutlak dari seorang Arkan Mahendra.
Setelah berganti pakaian dengan terusan sederhana yang telah disiapkan di lemari khusus untuknya, Viona berjalan keluar kamar. Di atas meja makan marmer, sebuah sarapan mewah sudah tersaji hangat bersama sepucuk surat pendek dengan tulisan tangan yang kaku namun tegas.
Supir pribadi akan mengantarmu ke mana pun kamu butuh pergi hari ini. Jangan terlambat kembali ke apartemen sebelum jam delapan malam. – Arkan.
Viona meremas kertas itu pelan. "Jadwal yang ketat untuk sebuah barang pajangan," bisiknya miris pada diri sendiri.
Namun, dia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Hari ini dia harus bekerja. Viona adalah seorang staf administrasi biasa di sebuah perusahaan manufaktur kelas menengah. Dia membutuhkan pekerjaan itu untuk menjaga agar kehidupan normalnya tidak sepenuhnya hancur, sekaligus menyembunyikan status kelamnya dari dunia luar.
Tepat jam delapan pagi, Viona tiba di kantornya setelah diantar oleh Doni—supir pribadi Arkan—yang menurunkannya dua blok sebelum gedung kantor agar tidak memancing kecurigaan rekan kerjanya. Viona sengaja mengenakan kemeja berkerah tinggi untuk menutupi jejak-jejak malam tadi di lehernya.
"Pagi, Viona! Kamu kok pucat sekali? Sakit?" sapa Siska, rekan kerja sekaligus sahabat dekat Viona di divisi administrasi, begitu Viona duduk di kubikalnya.
Viona memaksakan sebuah senyuman tipis. "Pagi, Sis. Ah, tidak apa-apa. Hanya agak kurang tidur karena menjaga Ibu kemarin malam."
"Oh ya, bagaimana keadaan Ibumu? Utang-utang yang kamu ceritakan itu... apa sudah ada jalan keluarnya?" tanya Siska dengan gurat kecemasan yang tulus di wajahnya.
Viona menegang sesaat. Lidahnya terasa kelu untuk berbohong pada sahabatnya sendiri. "Sudah... sudah beres, Sis. Ada seorang... kerabat jauh yang berbaik hati meminjamkan uang untuk melunasi semuanya dan memindahkan Ibu ke rumah sakit yang lebih baik."
"Syukurlah kalau begitu! Aku ikut senang mendengarnya. Sumpah, kemarin aku ikut jantungan memikirkan ancaman para preman itu," ucap Siska lega sambil menepuk pundak Viona, sebelum akhirnya kembali sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya.
Viona mengembuskan napas panjang. Maafkan aku, Siska. Aku terpaksa berbohong, batinnya perih.
Hari berjalan seperti biasa, penuh dengan rutinitas mengetik dokumen dan memeriksa laporan keuangan yang membosankan. Namun, fokus Viona buyar ketika jam makan siang tiba. Suasana kantor mendadak riuh dan kasak-kusuk terdengar di setiap sudut ruangan. Beberapa karyawati tampak merapikan riasan wajah mereka dengan heboh.
"Ada apa sih? Kok semuanya heboh banget?" tanya Viona pada Siska yang baru kembali dari toilet.
"Kamu belum tahu, Vi? Hari ini perusahaan kita kedatangan tamu agung! Investor utama yang baru saja membeli saham mayoritas perusahaan ini sedang melakukan inspeksi mendadak!" bisik Siska dengan mata berbinar-binar. "Katanya dia itu CEO muda yang super tampan, kaya raya, tapi dinginnya minta ampun. Namanya Arkan Mahendra!"
DEG!
Jantung Viona seakan merosot hingga ke perutnya. Seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa membeku. Arkan? Di sini? Sebelum Viona sempat mencerna rasa syoknya, pintu kaca utama divisi administrasi terbuka lebar. Beberapa jajaran direksi perusahaan berjalan dengan sikap membungkuk hormat, mengawal seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan setelan jas formal tiga potong berwarna biru gelap yang sangat mewah.
Itu Arkan. Pria yang beberapa jam lalu mengungkungnya di atas tempat tidur dengan gairah yang membara.
Aura dominan dan intimidatif yang dipancarkan Arkan seketika membungkam seluruh ruangan. Pria itu melangkah dengan dagu terangkat, mendengarkan penjelasan singkat dari direktur utama dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tatapan matanya yang setajam elang menyapu seluruh kubikal karyawan.
Viona yang ketakutan setengah mati langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk dengan layar komputernya. Dia berdoa dalam hati agar Arkan tidak mengenalinya atau setidaknya berpura-pura tidak mengenalnya di tempat umum, sesuai dengan poin kontrak yang mereka sepakati semalam.
Namun, takdir tampaknya sedang senang mempermainkan Viona. Langkah sepatu pantofel yang mahal itu terdengar berhenti tepat di koridor tengah divisi administrasi, hanya berjarak dua meter dari kubikal milik Viona.
"Bagaimana performa divisi ini selama kuartal terakhir?" suara berat dan bariton Arkan menggema di ruangan yang sunyi, membuat bulu kuduk Viona meremang.
"Sangat stabil, Tuan Mahendra. Semua staf kami bekerja dengan sangat efisien," jawab sang manajer dengan nada gugup.
Arkan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam justru terpaku pada sosok gadis yang sedang menunduk kaku di depannya. Sudut bibir Arkan terangkat seulas, membentuk seringai tipis yang hampir tak terlihat oleh orang lain. Pria itu sengaja melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kubikal Viona, membuat aroma parfum maskulinnya yang familier langsung mengepung indra penciuman gadis itu.
"Siapa nama staf yang ini?" tanya Arkan dingin, sambil menunjuk dokumen di atas meja Viona dengan jari telunjuknya yang mengenakan cincin berlogo keluarga Mahendra.
Viona terpaksa mendongak. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Dia menatap mata hitam kelam Arkan yang kini sedang menatapnya dengan pandangan yang sarat akan kilatan posesif dan kepuasan terselubung.
"S-Saya... Viona, Tuan," jawab Viona dengan suara sesenyap mungkin, mencoba menjaga profesionalitasnya yang hampir runtuh.
Arkan menatap leher Viona yang tertutup rapat oleh kerah kemeja tinggi, tahu persis apa yang sedang disembunyikan gadis itu di baliknya. Kilatan gairah terlarang kembali melintas di mata sang CEO dalam sekejap sebelum kembali berubah dingin.
"Viona," Arkan mengulang nama itu dengan pelan, seolah sedang mengecap rasa manis di lidahnya. "Pastikan laporan kerja dari divisimu dikirim ke meja sekretaris pribadiku sore ini juga. Aku tidak suka keterlambatan."
"Baik, Tuan Mahendra," lirih Viona sambil kembali menunduk.
Arkan kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan, meninggalkan Viona yang lemas dengan punggung yang basah oleh keringat dingin. Begitu rombongan itu menghilang, Siska langsung menyenggol lengan Viona dengan heboh.
"Wah, Viona! Kamu beruntung banget bisa diajak bicara langsung sama Tuan Arkan! Tapi aslinya beneran bikin merinding ya tatapannya!" seru Siska tanpa tahu badai apa yang sedang berkecamuk di dalam dada sahabatnya.
Viona hanya bisa tersenyum getir. Dia tahu, kunjungan mendadak Arkan ke kantornya bukan sekadar urusan bisnis biasa. Pria itu sedang menegaskan kekuasaannya. Pria itu sedang mengingatkannya bahwa ke mana pun Viona pergi, dia tidak akan pernah bisa lari dari cengkeraman sang CEO dingin tersebut.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!