Bab 001: Bukan Duniaku
Kevin Halim akan dijual malam ini.
Kalimat itu masih menempel di kepala Meilin Tan ketika suara kipas tua yang berdecit membelah telinganya. Dia membuka mata dengan napas tercekat, lalu langsung terpaku menatap langit-langit rendah yang menguning, bukan plafon kamar kosnya di Surabaya.
Bau lembap menyergap hidungnya.
Ada ember plastik di sudut kamar, setengah penuh air hujan. Di dekat pintu, sandal karet perempuan tergeletak berantakan. Tirai jendela tipis bergerak pelan ditiup angin dari celah kusen yang tidak rapat, membawa masuk suara motor lewat dan teriakan penjual nasi uduk dari gang sempit.
Meilin duduk terlalu cepat. Kepalanya berdenyut.
"Aduh..."
Suara yang keluar dari mulutnya terdengar seperti miliknya, tapi juga tidak sepenuhnya. Lebih serak. Lebih lelah. Seolah tubuh ini sudah terlalu sering menangis dan memaki sampai tenggorokannya kering.
Dia menoleh ke samping.
Seorang pria duduk di lantai, bersandar pada dinding dekat meja lipat. Kemeja putihnya kusut, lengan digulung sampai siku, dan ada lingkaran gelap di bawah matanya. Di atas meja, laptop tua terbuka dengan layar penuh angka dan kode. Jari pria itu berhenti di keyboard ketika menyadari Meilin sudah bangun.
Matanya naik perlahan.
Dingin.
Bukan dingin karena tidak peduli, melainkan dingin seperti seseorang yang sudah terlalu sering ditolak sampai tidak ingin lagi berharap.
Jantung Meilin seperti jatuh ke perut.
Kevin Halim.
Nama itu muncul begitu saja di kepalanya, lengkap dengan semua informasi yang semalam dia baca di novel "Terjerat Pesona Kota". Tokoh utama pria. Jenius. Miskin di awal cerita. Kelak akan menjadi penguasa bisnis yang tidak tersentuh. Dan sebelum semua itu terjadi, hidupnya hampir hancur karena perempuan jahat yang tinggal serumah dengannya.
Perempuan itu bernama Meilin Tan.
Meilin menatap kedua tangannya. Kulitnya sama, kuku-kukunya pendek, ada bekas cat kuku merah muda yang terkelupas di ibu jari. Tapi cincin murah di jari tengahnya bukan miliknya. Gelang rantai tipis di pergelangan tangannya juga bukan miliknya.
Ponsel di samping bantal bergetar.
Kevin meliriknya sebentar, lalu kembali menatap layar laptop seolah benda itu tidak ada hubungannya dengan dia.
Meilin mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Layarnya retak di bagian ujung. Notifikasi WhatsApp muncul dari nomor bernama Benny.
Benny: Jadi malam ini fix, kan?
Benny: Jangan tiba-tiba berubah pikiran, Mei. Duitnya lumayan. Dia juga nggak bakal tahu.
Tenggorokan Meilin langsung kering.
Dia membuka chat itu. Puluhan pesan sebelumnya membuat darahnya terasa surut. Foto lokasi sebuah klub malam di Jakarta Barat. Voice note yang belum dibuka. Kalimat-kalimat manis yang menjijikkan.
Benny: Kamu capek kan hidup sama cowok miskin begitu?
Benny: Serahin dia ke orangku. Setelah itu kita bebas.
Meilin hampir menjatuhkan ponsel.
Jadi ini bukan mimpi.
Dia benar-benar masuk ke dalam novel itu. Bukan sebagai pembaca. Bukan sebagai tokoh utama wanita yang akan diselamatkan. Dia masuk sebagai perempuan yang ditulis untuk menghancurkan Kevin.
"Kenapa lihat aku begitu?"
Suara Kevin membuat Meilin tersentak.
Pria itu masih duduk di tempatnya. Bahunya tegak, tapi wajahnya pucat. Ada bekas luka tipis di dekat telinganya, sebagian tertutup rambut hitam yang sedikit terlalu panjang. Matanya memandang Meilin tanpa kelembutan sedikit pun.
"Kamu mau marah lagi karena aku belum transfer uang?" tanyanya datar.
Meilin membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Dalam novel, Meilin asli terus-menerus merendahkan Kevin. Menyebutnya beban. Menghabiskan uang terakhir mereka untuk barang-barang tidak penting. Bahkan beberapa hari terakhir dia sengaja menghubungi Benny karena ingin menjual Kevin ke tempat hiburan malam sebagai "pembayaran utang".
Dan Kevin tahu perempuan di depannya membencinya.
Dia hanya belum tahu bahwa malam ini hidupnya seharusnya diseret lebih jauh ke neraka.
"Aku..." Meilin menggenggam ponsel erat-erat. "Aku tidak mau marah."
Alis Kevin bergerak sedikit.
Kecurigaan di matanya muncul lebih cepat daripada rasa percaya.
"Tidak mau marah?" ulangnya pelan.
Meilin menelan ludah. Dia ingin menjelaskan semuanya. Bahwa dia bukan Meilin yang kemarin. Bahwa dia berasal dari Surabaya, baru saja membaca hidup Kevin dari layar laptop, dan tahu laki-laki ini akan menjadi seseorang yang sangat hebat.
Tapi siapa yang akan percaya?
Kalau dia mengatakan semua itu sekarang, Kevin mungkin akan mengira dia sedang membuat drama baru.
Ponsel kembali bergetar.
Benny: Jangan lama. Orangku jemput jam sembilan.
Meilin menatap jam kecil di sudut layar.
19.43.
Kurang dari satu setengah jam.
Napas yang keluar dari dadanya terasa patah. Dia segera menekan layar, membuka profil Benny, lalu memblokir nomor itu tanpa berpikir panjang. Setelah itu dia menghapus chatnya, tapi jari-jarinya berhenti di voice note terakhir.
Jangan dihapus.
Kalau semua ini benar, bukti itu mungkin suatu saat dibutuhkan.
Dia mengarsipkan chat itu, lalu meletakkan ponsel di atas kasur dengan layar menghadap bawah.
Kevin memperhatikannya.
"Siapa?" tanyanya.
"Tidak penting."
"Biasanya kalau tidak penting, kamu tidak tersenyum sampai lupa ada orang lain di ruangan ini."
Kalimat itu tidak keras, tapi menampar lebih sakit daripada bentakan.
Meilin menunduk. Malu yang bukan sepenuhnya miliknya merayap dari dada sampai ke wajah. Dia tidak melakukan semua itu, tapi tubuh ini, nama ini, dan wajah ini sudah terlanjur menyakiti Kevin.
"Maaf," ucapnya.
Ruangan itu mendadak hening.
Kipas tua di langit-langit berbunyi semakin jelas.
Kevin menatapnya lama sekali, seakan kata maaf adalah bahasa asing yang baru pertama kali dia dengar dari mulut Meilin.
"Kamu demam?" tanyanya akhirnya.
Meilin hampir tertawa, tapi yang keluar hanya napas gemetar.
"Tidak."
"Atau kamu butuh sesuatu dariku?"
Dia berkata begitu dengan tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah hafal bahwa setiap kelembutan dari Meilin pasti memiliki harga.
Dada Meilin terasa diremas.
Dia turun dari kasur. Lantai keramik terasa dingin di telapak kakinya. Kamar itu sempit, mungkin tidak lebih dari tiga kali empat meter. Satu kasur tipis. Satu meja lipat. Kompor portable di dekat wastafel kecil. Dua piring kotor. Bungkus mi instan kosong. Di rak plastik, hanya ada setengah botol kecap, sebungkus garam, dan dua butir telur.
Ini bukan sekadar miskin.
Ini hidup yang dipertahankan dari sisa-sisa.
Meilin berjalan ke meja dan melihat dompet lusuh terbuka di dekat laptop Kevin. Isinya hanya beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan kartu e-KTP. Nama yang tercetak di kartu itu membuat dadanya kembali sesak.
Kevin Halim.
Laki-laki yang kelak akan membuat seluruh keluarga Halim berlutut, malam ini bahkan tidak punya cukup uang untuk makan layak.
Kevin langsung mengambil dompet itu dan menutupnya.
"Jangan sentuh barangku."
Tangannya cepat. Suaranya tetap rendah.
Meilin menarik tangannya.
"Maaf. Aku cuma..."
"Cuma apa?"
Dia tidak menjawab.
Karena dia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Dalam kepalanya, potongan-potongan novel saling bertabrakan. Kevin yang diseret ke klub. Kevin yang dibius. Kevin yang bangkit bertahun-tahun kemudian dengan mata tanpa cahaya. Kevin yang membalas semua orang, termasuk Meilin Tan, tanpa sisa belas kasihan.
Tapi pria di depan matanya sekarang hanya seorang laki-laki dua puluhan yang terlalu kurus, terlalu lelah, dan masih memaksa duduk di lantai untuk menyelesaikan pekerjaan.
Meilin menggigit bibir.
"Kamu sudah makan?"
Kevin diam.
Pertanyaan itu tampaknya lebih mencurigakan daripada makian.
"Kalau mau menyindir, langsung saja," ucapnya.
"Aku tidak menyindir."
"Meilin."
Itu pertama kalinya dia menyebut nama itu sejak Meilin bangun. Bukan dengan sayang. Bukan dengan akrab. Hanya sebuah peringatan.
Meilin menatapnya. "Aku benar-benar tanya. Kamu sudah makan?"
Kevin menutup laptopnya pelan.
Gerakan itu membuat Meilin menegang. Untuk sesaat dia pikir Kevin akan pergi atau memarahinya. Tapi pria itu hanya berdiri, mengambil jaket hitam dari sandaran kursi plastik, lalu memasukkan dompet ke saku.
"Aku keluar sebentar."
"Sekarang?" Meilin refleks maju setengah langkah.
Kevin berhenti di depan pintu.
"Kenapa? Kamu mau melarang?"
Jam di ponsel masih menunjukkan 19.49. Kalau Kevin keluar sekarang, Benny atau orang-orangnya mungkin bisa menemukannya. Novel tidak menjelaskan semua detail, tapi Meilin ingat kalimat itu dengan jelas: malam ketika Kevin meninggalkan kos karena bertengkar dengan Meilin, Benny menjemputnya dengan alasan pekerjaan cepat, lalu semuanya berubah.
Jangan biarkan dia keluar.
Meilin mengepalkan tangan.
"Jangan pergi."
Kevin menoleh. Wajahnya tidak berubah, tapi matanya mengeras.
"Aku perlu cari makan."
"Aku bisa masak."
Pandangan Kevin turun ke rak plastik yang hampir kosong, lalu kembali ke wajahnya. Ada sesuatu seperti ejekan tipis di sana, tapi terlalu letih untuk menjadi tajam.
"Dengan apa?"
Meilin ikut melihat rak itu. Dua telur, garam, kecap. Nasi di rice cooker mungkin sudah kering. Sangat menyedihkan. Tapi lebih baik daripada membiarkan Kevin keluar malam ini.
"Telur," jawabnya.
"Kamu benci telur."
Meilin terdiam.
Meilin asli mungkin benci telur. Dia tidak tahu. Ada terlalu banyak ranjau dalam hidup perempuan ini, dan setiap kata Kevin membuatnya sadar betapa buruk hubungan mereka sebelumnya.
Ponsel di kasur kembali menyala. Meski tidak ada suara, layar retak itu memantulkan notifikasi dari nomor tidak dikenal.
Nomor tidak dikenal: Jam sembilan. Jangan lupa bawa dia keluar dari kos.
Kevin juga melihat cahaya itu.
Meilin bergerak cepat, mengambil ponsel, lalu mematikan layarnya. Tapi terlambat. Tatapan Kevin sudah berubah.
"Bawa siapa keluar dari kos?" tanyanya.
Darah Meilin berdesir keras di telinganya.
Dia menatap pintu di belakang Kevin, lalu menatap laki-laki yang seharusnya dia hancurkan.
Dalam novel, Meilin Tan memilih uang.
Tapi Meilin yang berdiri di sini bukan perempuan itu.
"Kamu," jawabnya pelan.
Kevin tidak bergerak.
Meilin menarik napas, lalu menggenggam ponsel itu sampai ujung jarinya memutih.
"Ada orang yang mau menjebak kamu malam ini."
Bab 002: Langkah Pertama
Kevin menatap Meilin seolah dia baru saja mengucapkan lelucon paling buruk malam itu.
"Menjebak aku?"
Suaranya rendah. Tidak ada panik di sana. Hanya curiga yang dingin, juga sedikit lelah, seakan hidup sudah terlalu sering memberinya hal-hal buruk sampai ancaman baru tidak lagi mengejutkan.
Meilin mengangguk cepat.
"Benny," ucapnya. "Dia..."
Nama itu membuat rahang Kevin menegang.
"Jadi sekarang kamu menyebut nama dia di depanku?"
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
Pertanyaan itu pendek, tapi membuat Meilin kehabisan napas. Kalau dia salah memilih kata, Kevin bisa keluar dari kamar ini dengan kemarahan yang justru mendorongnya ke perangkap. Kalau dia berkata terlalu banyak, dia sendiri akan terdengar seperti orang gila.
Dia menunduk, membuka aplikasi catatan di ponsel, lalu mengetik dengan jari yang masih gemetar.
Kevin tidak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap gerakan kecilnya.
Meilin menulis:
Aku tahu kamu tidak percaya padaku. Tidak apa-apa. Tapi malam ini jangan pergi dengan siapa pun yang menghubungi atas nama pekerjaan cepat. Jangan bertemu Benny. Jangan keluar dari gang ini sendirian.
Dia menunjukkan layar itu pada Kevin.
Pria itu membaca tanpa ekspresi. Setelah selesai, dia justru menatap Meilin lebih lama.
"Kamu sedang main apa?"
Meilin menggigit bagian dalam pipinya.
Dia mengetik lagi:
Aku tidak main-main.
"Biasanya kamu tidak sesabar ini untuk berpura-pura."
Kalimat itu membuat jari Meilin berhenti di atas layar. Sakitnya aneh. Bukan karena Kevin kasar, melainkan karena setiap tuduhan darinya terdengar masuk akal. Meilin asli memang pasti sudah terlalu sering berbohong sampai kebenaran pun terlihat seperti jebakan.
Ponselnya bergetar lagi. Nomor tak dikenal.
Kevin melihat layar itu bersamaan dengannya.
Nomor tidak dikenal: Benny bilang cowoknya susah dibujuk. Bawa saja ke depan minimarket. Sisanya kami urus.
Hening jatuh di antara mereka.
Untuk pertama kalinya malam itu, kecurigaan di mata Kevin retak sedikit. Bukan berubah menjadi percaya. Belum. Tapi setidaknya dia melihat sesuatu yang tidak bisa Meilin karang dalam satu detik.
Meilin menekan layar, membuka pesan itu, lalu menggesernya ke arah Kevin.
"Aku tidak tahu nomor ini," katanya pelan. "Tapi aku tahu mereka bicara soal kamu."
Kevin mengambil ponsel itu tanpa meminta izin. Ibu jarinya bergerak cepat, membuka detail nomor, memeriksa waktu pesan, lalu kembali ke chat Benny yang diarsipkan Meilin.
Meilin menahan napas ketika Kevin melihat voice note yang belum dihapus.
"Kenapa tidak kamu hapus?" tanyanya.
"Bukti."
Kevin mengangkat mata.
Satu kata itu tampaknya lebih sulit dia pahami daripada semua kebohongan yang pernah dia dengar.
Di luar kamar, suara ketukan keras tiba-tiba terdengar dari pintu utama kos.
"Mbak Meilin! Token listriknya tinggal sedikit, ya. Kalau mati, jangan komplain. Bulan lalu juga belum lunas."
Wajah Meilin memanas.
Pemilik kos tidak menunggu jawaban. Sandalnya terdengar menjauh di lorong, meninggalkan rasa malu yang menggantung di kamar sempit itu.
Lampu neon di atas kepala berkedip sekali.
Lalu mati.
Kamar langsung tenggelam dalam gelap, hanya disinari cahaya ponsel di tangan Kevin.
Meilin memejamkan mata sesaat.
Sempurna. Di dunia asalnya, dia pernah mengeluh karena Wi-Fi kampus lambat. Di sini, bahkan lampu pun menyerah sebelum malam benar-benar dimulai.
Kevin mengembalikan ponselnya.
"Token habis," katanya datar.
"Aku dengar."
"Kamu biasanya menyuruh aku isi."
Meilin hampir menjawab, tapi dia menahan diri. Lagi-lagi ada ranjau. Hal-hal kecil yang tidak dia ketahui ternyata bisa membongkar dirinya kapan saja.
Dia membuka catatan lagi, lalu mengetik:
Mulai malam ini aku tidak akan menyuruhmu untuk hal-hal seperti itu. Kalau aku lupa diri, kamu boleh ingatkan.
Cahaya layar menerangi wajah Kevin dari bawah. Bayangannya jatuh di tulang pipi yang tajam.
"Kamu sakit?"
Pertanyaan itu muncul untuk kedua kalinya, dan kali ini terdengar lebih serius.
Meilin menggeleng.
"Aku cuma..." Dia berhenti. "Aku cuma capek menjadi orang jahat."
Kevin tertawa pelan.
Tidak ada humor di dalamnya.
"Kalimat bagus. Siapa yang mengajarimu?"
Meilin memasukkan ponsel ke saku celana pendeknya. Daripada memaksa Kevin percaya, dia berjalan ke sudut dapur kecil, mengambil panci, lalu membuka rice cooker.
Nasi di dalamnya keras di pinggir dan agak basi di bagian tengah.
Perut Meilin ikut melilit. Bukan lapar saja. Ada rasa ingin menangis yang naik ketika dia melihat dua butir telur menjadi satu-satunya pilihan makan malam mereka.
"Jangan makan itu," ucap Kevin dari belakang.
"Kenapa?"
"Sudah dari kemarin."
Meilin menutup rice cooker pelan.
Dia membuka keran wastafel. Air mengalir kecil, dingin, dan berbau besi. Di sebelahnya, pemanas air portable tergantung mati dengan kabel kusut.
"Tidak ada air panas?"
"Rusak."
"Sejak kapan?"
"Dua minggu."
Meilin menoleh.
Kevin berdiri di dekat pintu, punggungnya masih tegak meski wajahnya terlihat semakin lelah. Dalam gelap, matanya tampak lebih dalam. Dia tidak terlihat seperti pria yang minta dikasihani. Justru sebaliknya, dia seperti orang yang sudah memutuskan untuk tetap berdiri meski tidak ada satu pun yang membantunya.
Dada Meilin sesak.
Dia mengambil satu telur, memecahkannya ke mangkuk kecil, lalu menambahkan garam. Satu telur dibagi dua akan terlalu sedikit. Dua telur dihabiskan malam ini berarti besok pagi tidak ada apa-apa.
Dia berhenti.
"Aku punya uang?"
Kevin menatapnya seakan pertanyaan itu menjawab semuanya.
"Kamu habiskan kemarin."
"Untuk apa?"
"Durian."
Meilin membeku.
Durian. Dia samar-samar ingat bagian novel itu. Meilin asli membeli durian mahal lewat ojek online hanya untuk memamerkan hidup enak pada Benny, lalu memaki Kevin karena tidak ikut membayar. Sementara Kevin malam itu hanya makan sisa nasi dingin.
Rasa malu menjalar ke tengkuknya.
"Maaf," ucapnya lagi.
Kevin memalingkan wajah.
"Berhenti minta maaf kalau besok kamu akan mengulanginya."
Meilin mengambil ponsel dan mengetik lebih cepat.
Aku tidak akan mengulanginya. Aku tahu kamu tidak percaya. Jadi jangan percaya dulu. Lihat saja.
Dia meletakkan ponsel di meja, lalu menggeser layar itu ke arah Kevin.
Kevin membaca. Ekspresinya tetap tertutup, tapi kali ini dia tidak membalas dengan sindiran.
Di luar, suara motor berhenti di depan gang. Meilin langsung menegang.
Kevin juga mendengarnya.
Ada langkah beberapa orang, lalu suara laki-laki tertawa dekat pagar kos.
Meilin meraih lengan Kevin tanpa berpikir.
Sentuhan itu membuat keduanya sama-sama diam.
Lengan Kevin keras di bawah jari-jarinya, hangat meski tubuhnya tampak dingin dari luar. Meilin segera melepaskan tangan.
"Jangan keluar," bisiknya.
Kevin melihat bekas sentuhan di lengannya, lalu melihat wajah Meilin.
Untuk beberapa detik, dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi suara ponselnya memotong suasana. Notifikasi masuk ke perangkat Kevin, bukan milik Meilin.
Nomor tak dikenal: Bro, ada job angkut barang malam ini. Bayaran langsung. Lokasi depan minimarket.
Wajah Meilin memucat.
Kevin membaca pesan itu. Matanya semakin gelap.
Dia tidak membalas. Dia hanya mematikan layar, lalu memasukkan ponsel ke saku.
"Mereka punya nomorku," katanya.
Meilin mengangguk.
"Karena itu jangan pergi."
Kevin menatap pintu, lalu menatap panci kosong di tangan Meilin. Entah apa yang dia pikirkan, tapi akhirnya dia melepas jaket hitamnya dan menggantungkannya kembali di kursi plastik.
Baru saat itu Meilin sadar dia menahan napas sejak tadi.
"Aku tidak pergi karena percaya padamu," ucap Kevin.
Meilin mengangguk cepat. "Aku tahu."
"Aku tidak pergi karena orang-orang itu mencurigakan."
"Iya."
"Dan kalau ini jebakan darimu..."
"Aku terima kamu marah."
Kevin terdiam.
Jawaban itu sepertinya bukan yang dia tunggu.
Malam bergerak pelan dalam gelap. Meilin akhirnya merebus air dengan sisa gas kecil, membuat telur kuah asin yang nyaris hambar. Mereka makan bergantian dari dua mangkuk plastik, tanpa banyak bicara. Kevin hanya mengambil sedikit, lalu mendorong sisa telur ke arah Meilin.
"Makan," katanya.
"Kamu juga."
"Aku sudah."
Itu jelas bohong. Tapi Meilin tidak membongkarnya. Dia hanya membagi telur itu lagi dengan sendok, separuh ke mangkuk Kevin, separuh ke mangkuknya sendiri.
Kevin menatap mangkuknya lama.
Setelah makan, dia tetap keluar.
Meilin hampir panik, tapi Kevin hanya menunjuk laptop dan tas kecilnya.
"Aku kerja di warung internet dua gang dari sini. Listrik mereka hidup. Aku pulang sebelum subuh."
"Aku ikut."
"Tidak."
"Tapi..."
"Kunci pintu. Jangan buka untuk siapa pun."
Nada itu final. Untuk pertama kalinya, Meilin mendengar sisi lain dari Kevin. Bukan hanya dingin. Ada ketegasan yang tenang, keras, dan anehnya membuat orang ingin menurut.
Dia berdiri di dekat pintu ketika Kevin keluar. Dari celah tirai, dia melihat punggung pria itu berjalan menembus gang gelap, membawa laptop tua seperti membawa satu-satunya jalan keluar dari hidup mereka.
Malam terasa panjang.
Meilin tidak bisa tidur. Dia mengisi ulang daya ponsel dengan powerbank kecil yang hampir habis, menyimpan semua tangkapan layar pesan Benny, lalu menulis satu catatan baru untuk dirinya sendiri.
Mulai hari ini:
1. Jangan biarkan Kevin hancur.
2. Cari uang.
3. Jangan bicara sembarangan.
4. Ubah akhir cerita.
Menjelang pukul tiga pagi, suara kunci akhirnya terdengar.
Meilin langsung bangkit dari kasur.
Kevin masuk dengan langkah pelan. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, kemejanya lebih kusut daripada tadi, dan wajahnya pucat karena lelah. Tapi matanya tidak kalah.
Di bawah cahaya tipis dari layar ponsel, Meilin melihat sesuatu yang tidak sempat dia pahami saat membaca novel.
Pria ini bukan hanya tokoh utama yang kelak akan menang.
Dia adalah seseorang yang sejak awal sudah menolak untuk tumbang.
Bab 003: Mata yang Berbicara
"Kamu belum tidur?"
Kevin menutup pintu pelan. Suaranya serak, mungkin karena terlalu lama menahan kantuk dan angin malam.
Meilin baru sadar dirinya masih berdiri di dekat kasur dengan ponsel di tangan. Catatan empat poin di layar belum sempat dia tutup.
"Belum."
Kevin melepas sepatu di dekat pintu, lalu menaruh tas laptop di samping meja. Gerakannya hati-hati, seolah bunyi sekecil apa pun bisa membuat kamar sempit itu runtuh.
"Tidur," katanya.
Satu kata. Bukan perhatian yang lembut, tapi juga bukan makian.
Meilin mengangguk, lalu berhenti ketika melihat jari Kevin yang memerah di bagian ruas. Mungkin karena terlalu lama mengetik. Mungkin karena membawa laptop ke sana kemari sepanjang malam.
"Tanganmu..."
Kevin langsung memasukkan tangan ke saku.
"Bukan urusanmu."
Kalimat itu menutup pintu lebih rapat daripada kunci. Meilin menelan kata-kata yang hampir keluar. Dia masih belum punya hak untuk peduli. Belum.
Pagi datang tanpa benar-benar membuat kamar itu terang.
Lampu masih mati. Udara di dalam kos terasa pengap karena jendela hanya bisa dibuka separuh. Dari luar terdengar suara ibu-ibu membeli sayur, anak kecil menangis minta uang jajan, dan mesin motor yang dinyalakan berkali-kali sebelum akhirnya hidup.
Kevin tidur di lantai beralas tikar tipis, membelakangi kasur.
Meilin duduk di pinggir kasur, menatap punggungnya lama. Dalam novel, dia hanya mengenal Kevin sebagai tokoh yang kelak sangat kuat. Tapi di dunia ini, punggung itu terlihat terlalu kurus untuk menanggung semua hal sendirian.
Ponselnya bergetar pelan.
Notifikasi dari aplikasi belanja makanan muncul di layar.
Pesanan Durian Musang King Premium: menunggu konfirmasi ulang.
Meilin hampir memijat keningnya.
Jadi benar. Bukan hanya cerita Kevin semalam. Meilin asli benar-benar memesan durian mahal dengan PayLater, jumlahnya hampir sama dengan uang makan mereka seminggu. Statusnya tertahan karena toko meminta konfirmasi tambahan setelah pembayaran bermasalah.
Dia membuka chat toko.
Penjual: Kak, jadi ambil? Kalau tidak, kami cancel. Stok terbatas.
Meilin mengetik cepat.
Meilin: Cancel saja, Kak. Tolong proses refund ke saldo aplikasi.
Penjual: Yakin? Kemarin Kakaknya minta disimpan.
Meilin: Yakin. Maaf merepotkan.
Beberapa menit kemudian, status pesanan berubah.
Pesanan dibatalkan. Refund diproses maksimal 2x24 jam.
Meilin mengembuskan napas lega. Uangnya belum langsung kembali, tapi setidaknya durian itu tidak akan datang seperti bom kecil yang menghancurkan pagi.
"Kamu batalkan?"
Suara Kevin membuatnya hampir menjatuhkan ponsel.
Pria itu sudah bangun. Rambutnya berantakan, wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih seperti orang yang bahkan dalam tidur pun tidak benar-benar lengah.
Meilin mengangguk.
"Durian itu," katanya. "Aku batalkan. Refund dua hari lagi."
Kevin duduk perlahan. Tatapannya turun ke ponsel Meilin, lalu kembali ke wajahnya.
"Kenapa?"
Pertanyaan sederhana. Tapi Meilin tahu di balik kata itu ada banyak hal: kenapa tiba-tiba tidak egois, kenapa tiba-tiba sadar, kenapa tiba-tiba seperti orang lain.
Dia membuka Notes, mengetik, lalu menunjukkan layar.
Karena kita tidak punya uang untuk membuangnya.
Kevin membaca kalimat itu. Sudut bibirnya tidak bergerak, tapi matanya berubah sedikit. Bukan hangat. Lebih seperti seseorang yang melihat gelas retak di atas meja dan baru sadar gelas itu tidak pecah.
"Kita?" ulangnya.
Meilin menahan napas.
Satu kata itu ternyata terlalu berani. Selama ini mungkin tidak pernah ada "kita" di antara mereka, hanya Kevin yang bertahan dan Meilin asli yang mengambil.
"Maaf," ucapnya pelan. "Aku maksudnya... rumah ini."
"Ini bukan rumah."
Kevin berdiri, melipat tikar tipisnya, lalu menaruhnya di sudut.
"Ini tempat kita tidur karena tidak ada pilihan."
Meilin tidak membantah.
Dia justru bangkit dan mulai membereskan piring kotor di dekat wastafel. Air mengalir kecil, tapi cukup untuk mencuci. Dia membuang bungkus mi instan kosong, mengikat kantong sampah, lalu menyusun dua piring plastik dan dua mangkuk yang pinggirnya sudah retak.
Kevin memperhatikannya dalam diam.
Setelah beberapa menit, dia berkata, "Kamu tidak perlu akting sampai sejauh itu."
Meilin tetap menggosok sendok dengan sabun cair yang hampir habis.
"Kalau aku akting, aku akan pilih tempat yang lebih nyaman."
Kevin tidak menjawab.
Kalimat itu keluar begitu saja, terlalu mirip dengan gaya bicara Meilin yang asli dari Surabaya. Begitu sadar, dia langsung menegang. Tapi Kevin hanya menatapnya, lama, seolah mencoba mencocokkan suara itu dengan perempuan yang selama ini dia kenal.
Meilin menunduk dan kembali mencuci.
Setelah dapur kecil sedikit bersih, dia membuka jendela lebih lebar. Engselnya macet. Dia menariknya pelan, tapi kayunya tidak bergerak. Kevin akhirnya mendekat, meraih bagian atas jendela, lalu sekali dorong membuatnya terbuka.
Udara pagi masuk bersama cahaya tipis.
Jarak mereka mendadak terlalu dekat.
Meilin bisa melihat bekas luka di dekat telinga Kevin dengan lebih jelas. Panjangnya sekitar tiga sentimeter, tipis tapi tegas, seperti garis yang sengaja ditinggalkan masa lalu. Dia hampir bertanya, tapi menahan diri.
Kevin menyadari arah pandangannya.
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Kalau mau bilang jelek, bilang saja."
Meilin menggeleng cepat. "Bukan jelek."
Kevin memandangnya.
"Lalu?"
Meilin ingin menjawab dengan aman. Tapi kata-kata yang keluar justru jujur.
"Kelihatannya sakit."
Kevin terdiam.
Angin pagi menggerakkan tirai tipis di antara mereka. Untuk pertama kalinya, wajah Kevin tidak langsung mengeras. Dia seperti tidak siap menerima jawaban yang tidak menyerang.
Meilin buru-buru mundur selangkah.
"Aku mau cari sapu."
Sapu ijuk di pojok kamar sudah hampir patah. Dia tetap menggunakannya. Debu terkumpul dari bawah kasur, dari belakang pintu, dari sudut meja tempat remah makanan dan potongan kertas kecil menumpuk.
Di sela membersihkan, dia menemukan satu struk minimarket, dua koin lima ratus rupiah, dan kertas kecil berisi angka-angka yang ditulis rapi. Angka itu bukan catatan belanja. Lebih mirip rumus, atau perhitungan bisnis.
"Jangan buang itu," kata Kevin cepat.
Meilin langsung menyerahkan kertasnya.
"Aku tidak akan buang barangmu."
Kevin menerima kertas itu. Ujung jarinya menyentuh ujung jari Meilin sekilas. Sentuhan pendek, tapi cukup membuat Meilin sadar betapa dingin tangannya sendiri.
"Dulu kamu membuang proposal kerjaku," ucap Kevin.
Meilin membeku.
Satu dosa baru lagi.
Dia menatap kertas di tangan Kevin, lalu perlahan berkata, "Kalau aku bisa memungutnya kembali, aku akan lakukan."
Kevin menatapnya.
Mata Meilin terasa panas, tapi dia tidak menangis. Dia sudah menangis cukup banyak semalam dalam hati. Sekarang dia perlu bekerja, memperbaiki satu hal kecil demi satu hal kecil.
"Tapi kalau tidak bisa," lanjutnya, "aku akan pastikan mulai sekarang tidak ada yang kubuang tanpa tanya."
Kevin tidak langsung membalas.
Dia hanya berdiri di dekat jendela, memegang kertas itu, sementara cahaya pagi jatuh di wajahnya yang lelah. Meilin menunduk untuk melanjutkan menyapu, tapi dia merasakan tatapan Kevin tetap berada di wajahnya.
Terlalu lama.
Ketika dia mengangkat kepala, mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, kecurigaan Kevin tidak hilang. Namun di baliknya ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tipis, hampir tidak terlihat, seperti garis cahaya pertama di sela awan.
Kevin menatap matanya seolah baru menyadari bahwa mata itu berbeda.
Dulu, mungkin mata Meilin selalu penuh tuntutan, marah, atau bosan.
Sekarang mata itu hanya jernih. Takut, bersalah, tapi jernih.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Meilin pelan.
Kevin tersadar. Tatapannya langsung turun ke kertas di tangannya.
"Tidak apa-apa."
Tapi suaranya tidak sedingin tadi.
Meilin menggenggam gagang sapu, menahan senyum kecil yang hampir muncul. Itu bukan kemenangan. Bahkan belum bisa disebut awal kepercayaan.
Tapi untuk pertama kalinya sejak dia terbangun di dunia ini, Kevin tidak memandangnya seolah dia hanya bagian dari bencana.
Dia memandangnya seperti sebuah pertanyaan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!