Bab 001 - Terputus
Namaku Sera Ashford.
Dan malam ini, keluargaku membuangku.
Bukan membuang dalam arti kiasan. Mereka benar-benar mencetak surat pemutusan hubungan keluarga, menaruh stempel House Ashford di atasnya, lalu menyuruhku menandatanganinya dengan darah.
Darahku sendiri.
Tapi sebelum sampai ke bagian itu, sepertinya aku harus menjelaskan sedikit.
Ini Dustmere Colony, salah satu koloni pinggiran di Blue Star yang selalu tertutup debu logam dan badai dingin. Orang-orang kaya di sini suka menyebut Dustmere sebagai wilayah berkembang. Orang miskin menyebutnya tempat pembuangan yang diberi lampu neon.
House Ashford termasuk keluarga besar di Dustmere. Mereka memang belum sebanding dengan keluarga inti di Sovereign City. Tapi di koloni kecil seperti ini, uang lama dan satu kontraktor tingkat King sudah cukup untuk membuat semua orang menunduk.
Kontraktor tingkat King itu adalah ibuku, Helena Ashford.
Seorang wanita yang bahkan tidak perlu meninggikan suara untuk membuat satu ruangan diam.
Ayahku, Kael Grandmont, hanya Gold-tier. Dia baik, lembut, dan selalu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
Masalahnya, dia hampir tidak pernah benar-benar mengatakannya.
Aku punya tiga kakak laki-laki. Caelen, putra sulung House Ashford, Gold-tier Star Beast Contractor, tangan berat, kepala lebih berat. Ronan, kakak kedua, orang yang biasanya mengikuti keputusan Caelen. Dorian, kakak ketiga, sedang belajar di akademi Sovereign City. Dari semua orang di rumah ini, hanya Dorian yang pernah benar-benar memperlakukanku seperti manusia.
Tentu saja dia tidak ada di sini malam ini.
Yara sudah memastikan itu.
Yara Ashford.
Adik angkatku.
Gadis yang dibawa pulang oleh keluargaku sejak bayi, dibesarkan seperti permata, dan selama dua tahun terakhir mengubah hidupku menjadi neraka dengan wajah paling polos di seluruh Dustmere.
Saat ini, dia sedang berlutut di tengah ruang utama kediaman Ashford, kedua tangan menutupi wajah, bahu bergetar, suaranya pecah dengan sangat pas.
Kalau akting bisa mendapat kontrak Star Beast, Yara mungkin sudah tingkat Emperor.
"Kalung star energy milikku hilang!" teriaknya sambil menunjuk ke arahku. "Hanya Kak Sera yang masuk ke kamarku hari ini. Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Ruang utama itu luas, dingin, dan terlalu terang. Lantainya putih bersih, dindingnya dipenuhi bingkai hologram prestasi keluarga, dan di sudut ruangan ada lemari pajangan kristal yang katanya lebih mahal daripada satu blok rumah di distrik pinggiran.
Beberapa menit lagi, punggungku akan menghantam lemari itu.
Aku hanya belum tahu.
Helena duduk di sofa utama. Gaun hitamnya rapi, rambutnya disanggul tinggi, wajahnya tenang seperti hakim yang sudah memutuskan hukuman sebelum sidang dimulai.
"Sera," ucapnya. "Di mana kalung itu?"
Aku menatapnya.
"Cek kamera pengawas."
Yara langsung menunduk lebih dalam.
Nah. Itu tanda pertama bahwa aku benar.
Helena mengetuk sandaran sofa dengan ujung jarinya. "Kamera lorong lantai dua rusak sejak dua hari lalu."
Lucu sekali.
Kamera di rumah ini selalu rusak pada waktu yang sangat menguntungkan Yara.
Dua tahun terakhir, polanya tidak pernah berubah. Yara menangis, Helena percaya, Caelen marah, Kael diam, dan aku berdarah.
Malam ini Caelen bahkan memulainya lebih cepat.
Dia berdiri di depanku. Bahunya lebar, wajahnya kaku, matanya penuh amarah yang tidak repot dia periksa dulu sumbernya.
"Kau masih mau menyangkal?" katanya.
"Aku tidak mengambil apa pun."
"Yara tidak akan berbohong tentang hal seperti ini."
Aku hampir tertawa.
Hampir.
"Kau yakin?"
Plak!
Tamparan itu bukan tamparan biasa.
Caelen adalah Gold-tier Star Beast Contractor. Bahkan ketika dia tidak memakai kekuatan penuh, pukulannya tetap cukup untuk membuat tubuhku terlempar ke samping.
Punggungku menghantam lemari pajangan kristal.
Brak!
Piring porselen, gelas mahal, dan beberapa trofi kecil jatuh menimpaku. Kaca pecah di mana-mana. Ada sesuatu yang menusuk punggungku, tajam dan panas. Mulutku terasa asin.
Darah.
Aku mendarat di lantai seperti barang rusak.
Tidak ada yang bergerak untuk menolong.
Aku menekan telapak tangan ke lantai, memaksa tubuhku bangun. Pecahan kaca bergeser di bawah lututku. Sakit sekali. Wajah kiriku terasa terbakar.
Tapi aku tetap mengangkat kepala.
Caelen menatapku. Tangannya masih terangkat. Untuk satu detik, hanya satu detik, aku melihat sesuatu seperti ragu di matanya.
Lalu Yara menangis lebih keras.
"Kak Caelen, jangan terlalu keras padanya..." Suaranya lembut, gemetar, penuh belas kasihan palsu. "Mungkin Kak Sera hanya iri padaku. Kalau dia bilang, aku pasti akan memberikan kalung itu. Kenapa harus mencuri?"
Aku tertawa kecil.
Darah memenuhi mulutku, jadi tawanya terdengar serak.
"Kau benar-benar berbakat," gumamku.
Yara mengangkat wajah. Matanya merah, tapi pipinya kering. Dia lupa bagian air mata.
"Kak Sera, kenapa kau selalu seperti ini?"
"Karena aku belum mati."
Ruangan mendadak sunyi.
Yara menatapku. Senyum manisnya retak sedikit.
Aku berdiri. Pecahan kaca jatuh dari seragam lamaku. Darah merembes dari punggung, sudut bibir, dan telapak tanganku. Aku tidak tahu mana yang paling sakit.
Mungkin bagian yang paling sakit bukan tubuhku.
Dua tahun.
Selama dua tahun aku tinggal di kamar sempit dekat gudang, sementara Yara punya suite sendiri dengan pemanas pribadi. Selama dua tahun aku makan sisa setelah keluarga selesai makan, sementara Yara bisa membuang satu meja makanan hanya karena tidak sesuai selera. Selama dua tahun Yara mengambil sumber daya latihanku, merusak perlengkapanku, menjebakku sebelum ujian, lalu menangis di depan semua orang.
Dan setiap kali, hasilnya sama.
Aku yang salah.
Yara berjalan mendekat.
Di depan orang lain, dia seperti bunga putih kecil yang rapuh. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat matanya.
Dingin.
Puas.
"Kalau kau benar-benar tidak bersalah," bisiknya, "buktikan."
"Bagaimana?"
Dia tersenyum.
"Berlutut."
Tidak ada yang bicara.
Yara mengangkat dagu, suaranya masih lembut, tapi setiap kata terasa seperti kuku yang menggores tulang.
"Berlutut, merangkak lewat di antara kakiku, lalu minta maaf. Kalau kau melakukan itu, aku akan menganggap masalah kalung ini selesai."
Caelen mengerutkan kening. "Yara..."
Tegurannya terlalu pelan untuk disebut teguran.
Helena tidak bicara.
Kael berdiri di dekat tangga, satu tangan menggenggam pagar. Wajahnya pucat. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.
Ayahku memang ahli dalam hal itu.
Marta, pengasuh tua keluarga Ashford, berdiri di sudut ruangan dengan kepala menunduk. Aku bisa melihat senyum tipis di bibirnya. Wanita itu paling rajin memanggilku anak liar dari panti kalau tidak ada orang penting yang mendengar.
Aku menatap mereka satu per satu.
Ibuku mengadiliku, ayahku diam, kakakku memukulku, dan adik angkatku menunggu aku merangkak.
Aku melangkah maju.
Yara masih tersenyum ketika kepalaku menghantam wajahnya.
Duk!
Suara itu indah.
Yara menjerit. Kali ini asli. Tubuhnya terhuyung, kedua tangannya menutup hidung, darah langsung mengalir di sela-sela jarinya.
Ruangan langsung kacau.
Mereka akhirnya melihat anjing yang biasa dipukul menggigit balik.
Aku menyeka darah di bibirku dan menatap Yara.
"Aku lebih baik mati daripada merangkak di bawah kakimu."
"Sera!" Yara menjerit seperti orang gila.
Dia menerjangku.
Plak!
Tamparan pertama membuat kepalaku terpental ke samping.
Plak!
Tamparan kedua membuka lagi luka di bibirku.
Plak! Plak! Plak!
Kuku Yara menggores pipiku. Telingaku berdenging. Pandanganku sempat kabur.
Tapi aku tidak mundur.
Aku hanya menatapnya.
Yara semakin marah karena aku tidak menangis.
Pada akhirnya Ronan, yang sejak tadi berdiri kaku di belakang Caelen, maju dan menarik Yara menjauh. Yara masih meronta, rambutnya berantakan, darah hidung menodai gaun putihnya.
"Dia menyerangku! Kak, dia menyerangku!" teriaknya.
Caelen menatapku.
Wajahku bengkak. Bajuku berlumuran darah. Punggungku penuh pecahan kaca.
Untuk sesaat, aku kira dia akan sadar.
Lalu Helena berdiri.
"Cukup."
Satu kata.
Semua orang diam.
Helena berjalan ke meja samping dan membuka laci. Atau lebih tepatnya, Marta bergerak lebih dulu, mengambil sebuah map hitam dari sana, lalu menyerahkannya kepada Helena secepat orang yang sudah menunggu perintah itu sejak awal.
Aku melihat map itu, lalu tertawa.
Oh.
Jadi begitu.
Kalung hilang hanya alasan. Kamera rusak hanya alat. Tangisan Yara hanya panggung.
Malam ini sejak awal memang dibuat untuk mengusirku.
Helena melemparkan dokumen itu ke meja.
"Surat pemutusan hubungan keluarga," katanya. "Mulai malam ini, kau tidak lagi memiliki hubungan dengan House Ashford. Kau tidak boleh memakai nama Ashford, tidak boleh meminta perlindungan Ashford, dan tidak boleh mengambil satu credits pun dari keluarga ini."
Yara menatapku dari balik lengan Ronan.
Kali ini dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan senyumnya.
Aku berjalan ke meja.
Setiap langkah membuat punggungku perih. Darah menetes ke lantai putih yang selalu dibanggakan Helena karena tidak pernah ternoda.
Malam ini lantai itu ternoda oleh darah putri kandungnya sendiri.
Aku mengambil pena.
Kael akhirnya bergerak setengah langkah.
"Sera..."
Langkahku tertahan di depan meja.
"Jangan," kata Helena.
Kael berhenti.
Aku tidak menoleh. Suara Helena sudah cukup menjelaskan pilihan Kael.
Aku menandatangani dokumen itu tanpa membaca semua pasalnya. Tidak perlu. Kalau sebuah keluarga harus ditahan dengan pasal, berarti keluarga itu sudah lama mati.
Setelah tanda tangan selesai, aku menekan ibu jariku yang berdarah ke kolom sidik jari.
Cap darah merah menempel di kertas putih.
Resmi.
Aku bukan lagi anak House Ashford.
Anehnya, dadaku tidak sesakit yang kukira.
Mungkin karena hubungan itu sudah membusuk terlalu lama. Malam ini aku hanya akhirnya membuang bangkainya.
Aku meletakkan pena.
Lalu menatap Caelen.
"Tamparan tadi," kataku pelan, "adalah terakhir kalinya kau menyentuhku."
Caelen tidak menjawab.
Tangannya mengepal. Ujung jarinya gemetar.
Bagus. Setidaknya masih ada sedikit manusia tersisa di sana.
Aku menatap Yara.
"Dan kau," ucapku, "nikmati malam ini. Mulai besok, semua yang kau ambil dariku akan kutagih satu per satu."
Wajah Yara berubah sesaat. Cepat sekali, tapi cukup untuk kulihat. Dia takut.
Aku berbalik menuju pintu.
Marta langsung bergerak menghalangi jalan. Wajah tuanya dipenuhi senyum palsu.
"Nona Sera, kau tidak bisa pergi begitu saja. Lihat kekacauan yang kau buat. Darah, pecahan kaca, lantai kotor. Setidaknya bersihkan dulu sebelum pergi. Jangan menyusahkan keluarga sampai detik terakhir."
Keluarga.
Lucu.
Aku mengangkat kaki dan menendang perutnya.
Buk!
Marta jatuh ke samping sambil memekik.
"Aku bukan pelayanmu."
Setelah itu aku membuka pintu dan keluar.
Angin malam Dustmere langsung menampar wajahku.
Dingin, kering, membawa bau logam berkarat dari distrik pabrik tua. Di langit, awan debu menutupi sebagian besar bintang. Lampu-lampu kota jauh terlihat seperti mata yang malas terbuka.
Di belakangku, kediaman House Ashford masih terang.
Di depanku, jalanan gelap.
Aku memilih gelap.
Aku berjalan tanpa mantel, tanpa uang, tanpa komunikator. Aku meninggalkan semuanya di dalam rumah. Atau mungkin rumah itu yang meninggalkanku lebih dulu.
Enam blok kemudian, lututku menyerah.
Aku jatuh di gang sempit dekat gudang suplai yang sudah tutup. Distrik pinggiran Dustmere seperti ini tidak pernah benar-benar tidur, tapi juga tidak pernah benar-benar hidup. Hanya ada kontainer rusak, dinding berkarat, dan angin yang masuk ke luka-lukaku seperti jarum es.
Aku duduk bersandar pada dinding.
Tubuhku mulai gemetar.
Pipi kiriku bengkak. Bibirku pecah. Punggungku seperti terbakar. Darah di bajuku sudah mulai dingin.
Aku tidak akan menangis untuk House Ashford, untuk Helena, untuk Caelen, atau untuk ayah yang bahkan tidak bisa menyelesaikan satu kalimat demi putrinya.
Mataku mulai kabur.
Mungkin aku akan pingsan di sini.
Mungkin aku akan mati kedinginan di gang belakang, dan besok pagi orang akan menemukan mayatku lalu bertanya, "Bukankah ini gadis dari keluarga Ashford?"
Lucu juga.
Mereka baru akan mengingat namaku saat aku sudah tidak bisa menjawab.
Kegelapan merayap dari tepi pandanganku.
Lalu, tepat sebelum semuanya hilang, sebuah suara terdengar di kepalaku.
[DING!!!]
[Tingkat keputusasaan Host telah mencapai batas aktivasi.]
[Supreme Star Beast System sedang diaktifkan.]
Aku membuka mata.
Atau mungkin aku belum benar-benar menutupnya.
Sebuah panel biru keperakan muncul di depan pandanganku. Bukan di udara. Lebih seperti langsung diproyeksikan ke retina.
Hangat menyebar dari dadaku.
Rasa dingin mundur sedikit. Gemetar di tanganku berkurang. Luka-lukaku masih sakit, tapi kepalaku menjadi lebih jernih.
[Paket pemula telah diberikan.]
[Gold-tier Star Beast Egg x1 telah masuk ke ruang sistem.]
[Misi utama aktif: First Shop.]
[Deskripsi misi: Dirikan Star Beast Station pertama milik Host dalam waktu 72 jam.]
[Hadiah misi: Terkunci.]
Aku menatap panel itu lama.
Aku tertawa di gang kosong, dengan wajah penuh darah dan tubuh hampir beku, sampai rusukku sakit.
"Tujuh puluh dua jam?" gumamku.
Panel sistem berkedip.
[Hitung mundur dimulai.]
Bagus.
Keluargaku baru saja membuangku.
Dunia memberiku toko.
Aku mengangkat tangan dan menyeka darah di bibirku. Rasanya sakit. Bagus. Berarti aku masih hidup.
Aku memaksa diri berdiri.
Kakiku bergetar, tapi menahanku.
Di kejauhan, angin Dustmere meniup debu melewati jalan kosong. Entah di mana, seekor Star Beast liar melolong pendek, lalu hilang ditelan malam.
Aku menatap langit yang hampir tidak punya bintang.
"Baik," kataku.
Suaraku serak, tapi cukup jelas.
"Kalau mereka ingin melihatku merangkak, aku akan berdiri begitu tinggi sampai mereka harus mendongak."
Malam itu, aku kehilangan keluarga.
Tapi aku juga mendapatkan jalan untuk hidup.
Bab 002 - Star Beast Station
Pagi di distrik pinggiran Dustmere Colony tidak pernah terlihat indah.
Langitnya abu-abu, udara dipenuhi bau logam berkarat, dan angin yang lewat selalu membawa debu halus dari pabrik tua yang sudah lama ditinggalkan. Di tempat seperti ini, tidak ada keluarga bangsawan yang mau datang. Bahkan pekerja biasa pun hanya melewati daerah ini kalau benar-benar tidak punya pilihan lain.
Namun bagi Sera Ashford, tempat ini jauh lebih baik daripada kediaman House Ashford.
Setidaknya di sini tidak ada yang menyuruhnya berlutut.
Setidaknya di sini tidak ada yang memakai wajah keluarga sambil menusukkan pisau ke dadanya.
Sera berjalan di antara bangunan kosong dengan langkah sedikit pincang. Luka di punggungnya masih terasa perih setiap kali kain bajunya bergesekan dengan kulit. Pipi kirinya bengkak. Sudut bibirnya pecah. Kalau orang lain melihatnya sekarang, mereka mungkin mengira dia baru saja keluar dari medan perang kecil.
Dalam arti tertentu, itu tidak salah.
Malam tadi adalah medan perang.
Dan dia kalah sebagai anak keluarga Ashford.
Tapi dia menang sebagai Sera.
Panel biru keperakan masih melayang di depan matanya.
[Misi utama: First Shop]
[Batas waktu tersisa: 68 jam 12 menit]
[Silakan pilih lokasi pembangunan Star Beast Station.]
"Kau tidak bisa sedikit lebih sabar?" gumam Sera dengan suara serak.
Sistem tidak menjawab.
Sera juga tidak benar-benar mengharapkan jawaban. Dia menarik napas pelan, lalu melihat sekeliling. Di sebelah kirinya ada gedung bekas gudang logistik yang atapnya sudah bolong. Di sebelah kanan ada bengkel tua dengan pintu besi setengah runtuh. Beberapa meter di depan, berdiri sebuah bangunan dua lantai yang dulunya mungkin pernah menjadi toko.
Kaca depannya pecah. Papan namanya tinggal separuh. Dindingnya kotor, penuh bekas terbakar.
Tapi letaknya bagus.
Menghadap jalan utama distrik pinggiran.
Tidak terlalu dekat dengan wilayah keluarga besar mana pun.
Dan yang paling penting, tidak ada orang di dalamnya.
Sera berhenti di depan bangunan itu.
"Yang ini."
[Lokasi telah dipilih.]
[Apakah Host ingin menggunakan template bangunan Star Beast Station?]
"Gunakan."
[DING!!!]
[Template bangunan tingkat awal sedang diterapkan.]
Detik berikutnya, cahaya keemasan menyebar dari telapak kaki Sera, merayap ke lantai retak, dinding kotor, pintu besi bengkok, dan kaca pecah. Debu yang menumpuk bertahun-tahun terangkat seperti kabut lalu menghilang. Dinding yang penuh noda berubah menjadi putih bersih. Pintu yang bengkok lurus kembali. Kaca depan yang pecah menyatu tanpa bekas.
Dalam waktu kurang dari satu menit, bangunan busuk di depan Sera berubah menjadi toko kecil yang bersih, terang, dan kokoh.
Di atas pintu, sebuah papan baru menyala.
**Star Beast Station**
Sera berdiri di depan papan itu.
Kata-katanya habis.
Dia sudah melihat banyak teknologi mahal di House Ashford. Helena suka memamerkan alat-alat terbaru dari Sovereign City. Yara juga sering menerima hadiah peralatan pelatihan yang harganya bisa membeli seluruh distrik pinggiran ini.
Namun tidak ada yang seajaib ini.
Sera mendorong pintu dan masuk.
Lonceng kecil berbunyi pelan.
Bagian dalam toko jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Di sisi kiri terdapat tiga Healing Pod berbentuk kapsul transparan. Di sisi kanan terdapat dua Evolution Pod dengan permukaan logam hitam kebiruan. Di belakang ruangan utama ada area boarding kecil yang berisi beberapa bilik tertutup untuk Star Beast yang dititipkan.
Tempat itu bersih, peralatannya menyala normal, dan setelah bertahun-tahun menumpang di sudut rumah orang lain, Sera akhirnya berdiri di ruang yang benar-benar menjadi miliknya.
Sera menyentuh meja kasir di dekat pintu. Permukaannya dingin dan halus.
[Misi utama First Shop selesai.]
[Star Beast Station tingkat awal berhasil dibangun.]
[Reward: Skill Star Eye telah diperoleh.]
[Fungsi terbuka:]
[Healing Service: 500.000 credits / penggunaan.]
[Evolution Assistance: 1.000.000 credits / penggunaan.]
[Boarding Service: 10.000 credits / hari.]
[Catatan khusus: Selama berada di dalam Star Beast Station, Host memiliki perlindungan mutlak.]
[Dinding dan fasilitas utama tidak dapat dihancurkan oleh serangan di bawah Saint-tier.]
Sera membaca baris terakhir dua kali.
Dia belum paham penuh apa itu Star Eye, tapi nama skill itu sudah masuk ke daftar kemampuan sistem. Deskripsinya pendek: membaca data Star Beast, kondisi tubuh, dan rekomendasi perawatan dasar.
Lalu dia tertawa pelan.
"Jadi di sini tidak ada yang bisa memukulku?"
[Benar.]
Jawaban sistem kali ini singkat, dingin, dan sangat menyenangkan didengar.
Sera berjalan ke kamar kecil di belakang toko. Ada cermin bersih di dinding. Ketika melihat pantulan dirinya, dia hampir tidak mengenali wajahnya sendiri.
Rambut hitamnya berantakan. Pipi kirinya membengkak. Ada bekas jari di wajahnya. Darah kering menempel di bibir dan dagu. Di balik kerah bajunya, dia bisa melihat luka-luka kecil di punggung.
Dia terlihat menyedihkan.
Sera menatap cermin itu lama.
Lalu dia menyalakan keran, membasuh wajahnya dengan air dingin. Luka di bibirnya perih, tetapi dia tidak berhenti. Dia menggosok darah kering sampai bersih, lalu mengambil perban sederhana dari kotak medis yang disediakan sistem.
Saat dia membuka baju luar untuk membersihkan punggung, beberapa pecahan kaca kecil jatuh ke lantai.
Sera memungut salah satunya.
Kaca itu kecil, bening, dan masih memiliki noda darahnya.
"Caelen," gumamnya, "aku akan ingat."
Dia membuang pecahan kaca itu ke tempat sampah.
Setelah membersihkan luka seadanya, Sera kembali ke ruang utama. Perutnya kosong, tetapi anehnya rasa lapar tidak terlalu menyiksa. Energi lembut dari toko seolah memenuhi tubuhnya perlahan.
[Star Beast Station menyediakan pasokan star energy dasar untuk menjaga fungsi tubuh Host.]
[Namun Host tetap disarankan makan secara normal demi kestabilan kondisi mental.]
"Kau bahkan mengatur makan?"
Sistem kembali diam.
Sera duduk di balik meja kasir. Baru saat itulah dia membuka ruang sistem dan melihat hadiah pemula yang diberikan semalam.
Sebuah telur Star Beast melayang di dalam ruang gelap.
Telur itu sebesar kepala manusia. Permukaannya merah tua dengan garis emas samar yang berdenyut pelan seperti napas.
[Gold-tier Star Beast Egg.]
[Status: Belum menetas.]
[Disarankan meletakkan telur ke dalam Evolution Pod untuk proses inkubasi aman.]
Sera berdiri lagi dan membawa telur itu ke salah satu Evolution Pod.
Begitu telur diletakkan di dalam kapsul, cairan cahaya merah keemasan langsung memenuhi ruang transparan.
[Proses inkubasi dimulai.]
[Estimasi waktu: 72 jam.]
Sera menatap telur itu.
Tujuh puluh dua jam.
Dalam tiga hari, dia akan memiliki Star Beast pertamanya.
Mungkin setelah itu, orang-orang Ashford tidak akan bisa lagi menatapnya seperti sampah.
Tidak.
Sera menggeleng pelan.
Dia tidak boleh berpikir terlalu kecil.
Tujuannya bukan membuat mereka berhenti menatapnya seperti sampah.
Tujuannya adalah membuat mereka menyesal karena pernah membuangnya.
Pintu depan tiba-tiba berbunyi.
Kling.
Sera menoleh.
Sebuah mobil hover hitam berhenti tepat di depan toko. Catnya mengkilap, bentuknya ramping, jelas bukan kendaraan yang seharusnya muncul di distrik pinggiran.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pemuda turun sambil memeluk seekor Fire Squirrel kecil di dadanya.
Pemuda itu tinggi, memakai mantel putih bergaya militer dengan garis perak di bahu. Rambutnya hitam rapi, wajahnya tampan, tetapi ekspresinya sedingin es. Hanya tangan yang memeluk Fire Squirrel itu sedikit gemetar, cukup untuk menunjukkan bahwa dia masih punya emosi.
Dia membuka pintu toko dan masuk.
Matanya langsung bertemu mata Sera.
Untuk dua detik, tidak ada yang bicara.
Pemuda itu melihat wajah Sera yang masih bengkak. Pandangannya berhenti sebentar di sudut bibirnya yang pecah, lalu turun ke perban yang terlihat dari balik kerah.
Alisnya bergerak sangat halus.
Sera menyadari tatapan itu dan langsung berkata dingin, "Kalau datang untuk melihat orang terluka, silakan keluar."
Pemuda itu tidak terpancing.
Dia hanya menunduk melihat Fire Squirrel dalam pelukannya.
Hewan kecil itu hampir tidak bergerak. Bulu merahnya kusam. Napasnya lemah, tersendat, seperti bisa berhenti kapan saja.
"Bisa disembuhkan?" tanya pemuda itu.
Suaranya rendah dan dingin, tapi ada getaran tipis di ujung katanya.
Sera mengaktifkan skill yang baru didapat dari misi First Shop.
Panel data langsung muncul.
[Target: Fire Squirrel.]
[Tier: Silver.]
[Status: Racun langka memasuki sistem darah. Organ star energy rusak. Waktu hidup tersisa: 21 menit.]
[Rekomendasi: Healing Pod. Tingkat keberhasilan: 100%.]
Sera mengangkat alis.
Dua puluh satu menit.
Pemuda ini datang tepat waktu.
"Bisa," ucap Sera. "Healing Service. Lima ratus ribu credits."
Pemuda itu bahkan tidak berkedip.
"Akun."
Sera menunjuk panel pembayaran di meja.
Pemuda itu menempelkan gelang komunikatornya. Bunyi transaksi langsung terdengar.
[Pembayaran diterima: 500.000 credits.]
Sera berjalan keluar dari balik meja. "Masukkan ke Healing Pod."
Pemuda itu mengikuti tanpa banyak bicara. Cara dia meletakkan Fire Squirrel ke dalam kapsul sangat hati-hati, seolah takut satu gerakan kasar akan menghancurkan makhluk kecil itu.
Sera memperhatikan diam-diam.
Orang kaya dari keluarga besar biasanya melihat Star Beast sebagai alat, lambang status, atau senjata. Namun pemuda ini memeluk Fire Squirrel seolah itu sesuatu yang berharga.
Setidaknya, dia bukan jenis orang yang langsung membuat Sera ingin menendangnya keluar.
Healing Pod tertutup.
Cahaya hijau lembut menyelimuti tubuh Fire Squirrel. Garis-garis racun hitam yang sebelumnya samar terlihat di bawah bulu mulai mencair dan menghilang.
Pemuda itu berdiri di samping kapsul, punggungnya tegak, wajahnya tetap dingin. Namun tangannya mengepal.
"Namamu?" tanya Sera.
"Lucian Blackwell."
Sera menoleh sedikit.
Blackwell.
Keluarga terkaya di Dustmere Colony.
Pantas mobilnya terlihat seperti bisa membeli seluruh jalan ini.
"Sera Ashford," katanya.
Mata Lucian bergerak lagi.
Ashford.
Nama itu jelas dia kenal.
Tapi dia tidak bertanya kenapa seorang Ashford berdiri dengan wajah bengkak di toko pinggiran seperti ini. Dia juga tidak bertanya apa hubungan Sera dengan keluarga yang namanya semalam mungkin sudah mulai menyebar sebagai gosip.
Dia hanya berkata, "Pemilik toko?"
"Satu-satunya."
Lucian mengangguk kecil.
Mereka kembali diam.
Healing Pod berbunyi setelah proses selesai.
[Proses penyembuhan selesai.]
[Racun telah dibersihkan.]
[Kerusakan organ star energy telah dipulihkan.]
[Evaluasi tambahan: fondasi energi target diperkuat.]
[Output star energy: naik 16%.]
[Stabilitas inti: naik 21%.]
[Kualitas tubuh: Silver-low -> Silver-mid.]
Kapsul terbuka.
Fire Squirrel yang tadi hampir mati membuka mata. Bulu merahnya kembali cerah, tetapi bukan hanya itu. Tubuh kecilnya tidak lagi kurus lemas. Garis api di ekornya menyala lebih tebal, dan ketika ia melompat ke pelukan Lucian, gerakannya jauh lebih ringan daripada sebelum masuk pod.
Ekspresi Lucian akhirnya berubah.
Sangat sedikit.
Hanya sudut matanya yang melembut. Lalu dia membuka pemindai pribadi di gelang komunikatornya.
"Output energinya naik," katanya.
"Kau bisa membaca?"
"Blackwell punya alat sendiri."
Lucian menatap angka di layar kecilnya lebih lama daripada menatap luka di wajah Sera.
"Healing Pod biasa tidak memperkuat fondasi."
"Pod-ku bukan pod biasa."
Fire Squirrel mencicit keras, seolah setuju.
Lucian mengusap kepala kecilnya. Wajahnya masih dingin, tapi Sera melihat cara ibu jarinya berhenti di antara telinga Fire Squirrel. Dia bukan hanya lega Star Beast-nya selamat. Dia juga sedang menghitung.
Kalau satu layanan penyembuhan bisa membersihkan racun langka dan menaikkan fondasi energi, layanan lain di toko ini mungkin lebih tidak masuk akal.
[DING!!!]
[Kondisi terpenuhi.]
[Misi sampingan First Customer selesai.]
[Hadiah: Atribut keseluruhan +5.]
[Skill Star Eye telah diperkuat.]
[Quality Upgrade Pill tingkat Diamond telah diberikan.]
[Fitur layanan gratis harian telah aktif.]
Sera membaca panel sistem itu dari sudut matanya.
"Terima kasih," ucap Lucian.
Sera bersandar pada meja di sampingnya. "Jangan berterima kasih terlalu cepat."
Lucian menatapnya.
Sera menunjuk Evolution Pod di sisi lain ruangan.
"Toko ini punya layanan lain. Setiap hari aku bisa memberi satu layanan gratis kepada pelanggan yang kupilih. Fire Squirrel-mu baru saja lolos dari kematian. Kalau ingin membuatnya benar-benar berubah, coba Evolution Pod."
Lucian menatap kapsul hitam kebiruan itu.
"Risikonya?"
"Di tempatku?" Sera tersenyum tipis. "Nol."
Pemuda itu tidak langsung menjawab.
Sera bisa melihat dia sedang menimbang. Orang dari keluarga besar tidak akan mudah percaya pada toko asing di distrik pinggiran. Apalagi pemiliknya adalah gadis dengan wajah babak belur yang baru saja mengaku sebagai Ashford.
Namun angka di pemindai pribadinya masih menyala. Fire Squirrel sudah menjadi bukti hidup di pelukannya.
Akhirnya dia berkata, "Tunjukkan padaku."
Sera melihat Fire Squirrel yang baru pulih. "Besok pagi."
Lucian mengerutkan kening tipis.
"Tubuhnya baru diperbaiki. Kalau langsung masuk Evolution Pod, datanya tidak bersih. Aku ingin melihat dia stabil semalam dulu."
Alasan itu masuk akal. Lebih penting lagi, Lucian bisa melihat sendiri bahwa Sera tidak asal mendorong layanan mahal hanya karena ada kesempatan.
"Jam berapa?" tanyanya.
"Sembilan."
"Aku datang."
Sera menatap Lucian Blackwell.
Pelanggan pertama ini tidak hanya membayar. Dia juga akan kembali.
"Baiklah, Ice Prince," ucapnya.
Lucian mengangkat alis sangat tipis.
"Besok kita lihat apakah tupai kecilmu bisa belajar menggigit dunia."
Bab 003 - Evolution
Keesokan paginya, Lucian Blackwell datang pukul sembilan.
Mobil hover hitam milik House Blackwell berhenti di depan Star Beast Station yang masih terlihat seperti bangunan tua dari luar. Pintu terbuka tanpa suara, lalu Lucian turun dengan jaket putih yang rapi, wajah dingin, dan Fire Squirrel yang duduk di bahunya seperti raja kecil berbulu merah tembaga.
Sera berdiri di balik meja depan. Healing Pod sudah dicek, Evolution Pod sudah dipanaskan, dan data Fire Squirrel dari semalam sudah terbuka di panel.
"Kau datang," ucap Sera.
Lucian menatapnya. "Kau menyuruhku kembali."
"Dan kau percaya?"
"Aku mengecek data Fire Squirrel semalam. Kenaikan output energinya tidak turun."
Jawaban itu sangat singkat, seolah dia sedang menjawab soal ujian yang hanya membutuhkan satu kata.
Sera melirik Fire Squirrel di bahunya. Binatang kecil itu jauh lebih segar daripada semalam. Bulunya sudah tidak kusam, napasnya stabil, dan matanya kembali cerah. Jika semalam ia seperti lilin yang hampir padam, sekarang ia seperti bara api yang baru diberi angin.
"Kelihatannya sudah pulih total," kata Sera.
Fire Squirrel mengangkat dagu kecilnya dan mencicit pendek.
Lucian meletakkan sebuah kotak logam kecil di atas meja.
Sera menatap kotak itu. "Apa ini?"
"Untuk wajahmu."
Sera melihat kotak itu lagi, lalu membuka kait pengamannya.
Lucian tidak menjelaskan lebih lanjut. Dia hanya berdiri di sana dengan ekspresi datar, seolah memberi perempuan yang wajahnya masih memar sekotak obat mahal adalah hal biasa yang dilakukan orang pada pagi hari.
Sera membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat enam vial gel medis berwarna biru muda. Setiap vial disimpan dalam busa pelindung transparan. Logo kecil di bagian tutupnya membuat mata Sera sedikit melebar.
Gel medis tingkat militer.
Barang yang biasa dipakai Star Patrol setelah pertempuran berat.
Satu vial saja bisa membeli makanan cukup untuk beberapa bulan di distrik pinggiran. Enam vial berarti harganya lebih mahal daripada seluruh uang saku yang pernah diberikan House Ashford kepadanya selama setahun.
Sera menutup kotak itu pelan.
"Tuan Blackwell," katanya, "kau sadar ini terlalu mahal untuk diberikan begitu saja?"
"Healing Pod milikmu menyembuhkan Star Beast," jawab Lucian. "Bukan manusia."
Sera menatapnya.
Nada Lucian tetap dingin. Matanya tetap tenang. Tetapi kalimat itu menusuk dengan cara yang aneh.
Dia melihat luka Sera.
Dia melihat memar di wajahnya, goresan di punggung tangannya, dan bekas darah yang belum sepenuhnya hilang dari sudut bibirnya.
Orang-orang di House Ashford melihat semua itu dan menyebutnya pantas.
Lucian melihat semua itu dan memberinya obat.
Sera tertawa kecil. "Kau memang tidak pandai bicara, ya?"
"Tidak perlu."
"Benar juga." Sera menyimpan kotak obat itu di bawah meja. "Terima kasih."
Lucian hanya mengangguk.
Namun Fire Squirrel di bahunya tiba-tiba mencicit sekali, seolah merasa tuannya baru saja melakukan sesuatu yang sangat baik.
Sera menahan senyum.
"Baiklah," katanya sambil membuka panel hologram Evolution Pod. "Sekarang giliranmu membayar kembali investasi mahal ini dengan menjadi lebih kuat."
Fire Squirrel langsung berdiri tegak di bahu Lucian.
Lucian menoleh sedikit. "Kau yakin aman?"
"Kalau tidak aman, semalam aku sudah mati karena menipu pewaris House Blackwell." Sera menunjuk Evolution Pod yang terbuka. "Ini adalah layanan gratis harian pertama dari sistem. Aku akan memakainya untuk Fire Squirrel milikmu."
Lucian tidak langsung menjawab.
Dia menatap Evolution Pod. Di matanya ada kehati-hatian, bukan ketakutan.
Sera bisa memahaminya. Bagi seorang Star Beast Contractor, Star Beast bukan alat. Mereka adalah rekan hidup, senjata, keluarga, dan bagian dari jiwa sendiri. Meletakkan Fire Squirrel ke dalam alat milik perempuan yang baru dikenal sehari tentu bukan keputusan mudah.
Namun pada akhirnya, Lucian mengangkat tangan.
Fire Squirrel melompat turun dari bahunya dan berjalan ke arah Evolution Pod.
Sebelum masuk, binatang kecil itu menoleh kepada Lucian.
Lucian mengangguk pelan.
Fire Squirrel masuk.
Sera menekan panel.
Pintu Evolution Pod tertutup.
Cahaya biru menyala dari dasar ruang kaca. Cairan energi tipis naik seperti kabut, membungkus tubuh Fire Squirrel tanpa menenggelamkannya. Di atas pod, layar hologram besar muncul.
[DING!!!]
[Daily Free Service digunakan.]
[Target: Fire Squirrel.]
[Analisis garis evolusi dimulai.]
[Simulasi tempur virtual dibuka.]
Lucian mengangkat mata.
Pada layar hologram, Fire Squirrel muncul di dalam arena virtual berwarna abu-abu. Tubuhnya tampak seperti bayangan cahaya, tetapi setiap gerakannya sama persis dengan tubuh asli di dalam pod.
Sera menyandarkan satu tangan di meja.
"Evolution Pod tidak hanya menuangkan energi ke tubuh Star Beast," jelasnya. "Ia memaksa potensi binatang itu keluar lewat simulasi tempur. Kalau Fire Squirrel ingin berevolusi, ia harus bertarung."
"Melawan apa?"
Begitu Lucian selesai bertanya, seekor Steel-Jaw Beetle muncul di arena virtual.
Tubuh kumbang itu besar, hitam, dan keras seperti baja. Rahangnya terbuka lebar, cukup kuat untuk menghancurkan batu.
Fire Squirrel tidak mundur.
Ia melompat ke samping ketika Steel-Jaw Beetle menerjang. Ekornya menyala. Bola api kecil melesat dan menghantam celah sendi di bawah cangkang kumbang.
Ledakan kecil terjadi.
Steel-Jaw Beetle roboh.
Mata Sera berbinar. "Lumayan."
Lucian tidak bicara, tetapi pandangannya tidak pernah lepas dari layar.
Pertarungan kedua dimulai.
Kali ini lawannya adalah Frost Serpent.
Begitu ular es itu muncul, suhu di layar seolah ikut turun. Tubuhnya putih kebiruan, sisiknya memantulkan cahaya dingin, dan setiap embusan napasnya meninggalkan kristal es di udara.
Elemen es menekan elemen api.
Fire Squirrel bergerak cepat, tetapi Frost Serpent lebih panjang dan lebih licin. Semburan es menghantam kaki belakang Fire Squirrel. Pada layar, bulu merah tembaganya mulai tertutup lapisan putih.
Sera menggenggam tepi meja.
"Ayo," gumamnya. "Jangan kalah."
Lucian tetap diam.
Namun jari-jarinya yang tergantung di sisi tubuh sedikit menegang.
Frost Serpent membuka mulut dan menyemburkan es lagi.
Kali ini Fire Squirrel tidak menghindar.
Ia menancapkan cakarnya ke tanah virtual, membuka mulut, dan mengeluarkan jeritan kecil yang tajam.
Api di ekornya tiba-tiba membesar.
Bukan hanya ekor.
Seluruh tubuhnya terbakar.
Nyala api putih keemasan menyelimuti bulu Fire Squirrel. Ia melompat, berputar di udara, lalu berubah menjadi pusaran api kecil yang terus membesar.
Udara virtual terdistorsi.
Frost Serpent yang hendak menyerang langsung terseret ke dalam pusaran itu.
Api berputar seperti badai.
Boom!
Tubuh Frost Serpent pecah menjadi cahaya.
[DING!!!]
[Fire Squirrel berhasil memperoleh skill baru: Fire Tornado.]
[Kualitas tubuh meningkat.]
[Stabilitas energi meningkat.]
Sera tanpa sadar mengepalkan tangan. "Berhasil!"
Lucian menoleh kepadanya.
Sera langsung menurunkan tangannya, batuk sekali, lalu berkata dengan wajah serius, "Maksudku, hasilnya sesuai perkiraan."
Fire Squirrel di dalam layar terus bertarung. Setelah Frost Serpent, ia menghadapi tiga lawan kecil berturut-turut. Gerakannya semakin cepat. Api di tubuhnya semakin stabil. Tubuh aslinya di dalam Evolution Pod juga mulai berubah.
Bulu merah tembaga menjadi lebih cerah.
Pola emas tipis muncul di sepanjang ekor.
Tubuhnya tidak membesar terlalu banyak, tetapi ototnya terlihat lebih padat. Energi bintang yang mengalir di sekitarnya menjadi jelas, seperti lapisan panas yang berdenyut.
Dua puluh tujuh menit kemudian, Evolution Pod berbunyi.
Pintu terbuka.
Kabut energi menghilang.
Fire Squirrel melompat keluar.
Gerakannya begitu cepat hingga hampir seperti garis api.
Ia mendarat di bahu Lucian, lalu menggosokkan kepala kecilnya ke rahang Lucian dengan suara mencicit bangga.
Lucian mengangkat tangan dan menyentuh kepalanya.
Ekspresi pria itu berubah sedikit.
Kecil, tapi Sera melihatnya.
Sudut mata Lucian melembut.
"Lebih kuat," ucapnya.
"Jelas lebih kuat," kata Sera. "Tapi kalau hanya kita yang bilang, orang lain bisa mengira aku membuka toko penipuan. Kita perlu sertifikasi resmi."
"Ke mana?"
"Star Beast Academy. Mereka punya alat pemindai publik untuk registrasi dan verifikasi skill. Kalau Fire Squirrel terdaftar dengan skill baru, itu akan menjadi bukti pertama untuk Star Beast Station."
Lucian mengangguk. "Pergi sekarang."
Sera melihat pakaian lamanya, lalu melihat luka di wajahnya yang masih terlihat jelas.
Kalau dia pergi ke pusat Dustmere Colony seperti ini, pasti banyak orang akan menatap.
Namun kemudian dia tertawa.
Memangnya kenapa?
Dia sudah dipukul di rumahnya sendiri, difitnah mencuri, dipaksa memutus hubungan darah, dan diusir seperti sampah. Tatapan orang asing tidak ada artinya.
"Baik," ucapnya. "Tapi kita naik mobilmu."
Lucian menatapnya.
Sera mengangkat alis. "Toko baruku belum cukup kaya untuk membeli kendaraan."
"Masuk."
Itu berarti setuju.
Sera mengambil kunci stasiun, mengaktifkan mode perlindungan sistem, lalu keluar bersama Lucian.
Bangunan tua di belakangnya tetap terlihat seperti toko kecil yang tidak menarik.
Namun Sera tahu, sejak hari ini, toko itu mulai menunjukkan giginya.
Star Beast Academy berada di jalur utama Dustmere Colony.
Bangunannya tidak semewah kediaman House Ashford, tetapi jauh lebih ramai. Banyak Star Beast Contractor keluar masuk membawa Star Beast mereka. Ada anak muda dengan Iron-feather Hawk, pria paruh baya dengan Rock Turtle, dan beberapa siswa akademi yang masih mengenakan seragam latihan.
Ketika Lucian masuk, suara di aula langsung mengecil.
Pewaris House Blackwell bukan orang yang bisa diabaikan.
Ketika Sera berjalan di sebelahnya, tatapan orang-orang mulai berubah.
"Siapa perempuan itu?"
"Wajahnya terluka."
"Dia berjalan bersama Lucian Blackwell?"
"Apa dia dari keluarga besar?"
Bisikan itu datang dari segala arah.
Sera tetap berjalan. Dia sudah terlalu sering menjadi bahan bisikan.
Bedanya, dulu mereka membisikkan bahwa dia adalah anak tidak berguna House Ashford.
Hari ini, mereka berbisik karena dia berjalan di sebelah Lucian Blackwell.
Lucian membawa Fire Squirrel ke ruang sertifikasi. Petugas berseragam abu-abu awalnya terlihat bosan. Dia mengambil kartu registrasi Fire Squirrel, memasukkan data, lalu mengarahkan pemindai ke tubuh binatang kecil itu.
Layar menyala.
Petugas itu menguap.
Lalu menguapnya berhenti di tengah jalan.
Dia menatap layar.
Dia menatap Fire Squirrel.
Dia kembali menatap layar.
"Ini..." Petugas itu menelan ludah. "Data lama menunjukkan Fire Squirrel ini hanya memiliki Fireball dan Flame Tail."
"Benar," kata Lucian.
"Tapi sekarang..." Petugas itu memperbesar data. "Energi tubuh naik dua puluh delapan persen. Stabilitas inti naik. Ada skill baru."
Sera tersenyum tipis.
Petugas membaca dengan suara lebih keras, "Fire Tornado."
Orang-orang di sekitar ruang sertifikasi langsung menoleh.
"Fire Tornado?"
"Skill area?"
"Pada Fire Squirrel?"
"Bagaimana bisa?"
Fire Squirrel mengangkat kepala dengan sombong.
Petugas menekan beberapa tombol lagi. "Verifikasi selesai. Skill baru resmi terdaftar. Kualitas tempur Fire Squirrel meningkat satu tingkat. Sertifikat digital sudah masuk ke akun House Blackwell."
Lucian menerima kartu datanya.
Lalu dia menoleh kepada Sera.
"Berapa tarif evolusi normal di tokomu?"
Sera berkedip.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat penting.
Jika Lucian bertanya seperti itu di depan orang-orang, artinya dia secara tidak langsung mengakui bahwa evolusi ini memang berasal dari toko Sera.
Di depan Star Beast Academy.
Di depan para kontraktor.
Di depan saksi.
"Tergantung tingkat dan rute evolusi," jawab Sera dengan tenang. "Untuk saat ini, konsultasi awal gratis. Layanan evolusi dasar mulai dari 500.000 credits. Evolusi khusus dihitung terpisah."
Beberapa orang menarik napas.
Mahal.
Tetapi setelah melihat Fire Squirrel memperoleh Fire Tornado dalam satu pagi, harga itu tiba-tiba tidak terdengar mustahil.
Lucian memasukkan kartu data ke sakunya.
"Lain kali," katanya, "aku akan membawa teman."
Sera menatapnya.
Bagi orang lain, kalimat itu biasa.
Bagi Lucian Blackwell, itu hampir seperti pidato panjang.
Sera tersenyum. "Aku akan menunggu pelanggan berikutnya."
Mereka berjalan keluar dari Star Beast Academy bersama.
Lucian di depan setengah langkah.
Sera di sampingnya.
Fire Squirrel di bahu Lucian, ekornya menyala kecil seperti obor merah keemasan.
Tidak jauh dari gerbang akademi, seseorang berdiri di balik pilar.
Pria itu mengenakan jaket biasa dan topi rendah. Di tangannya ada alat komunikasi tipis. Saat Sera dan Lucian keluar berdampingan, dia mengangkat alat itu dan mengambil beberapa foto beruntun.
Dalam foto itu, Sera tampak berjalan dekat dengan Lucian. Wajahnya masih terluka, tetapi punggungnya tegak. Lucian tidak tersenyum, tetapi dia juga tidak menjauh.
Jarak mereka terlalu dekat untuk disebut orang asing.
Pria itu segera mengirim foto tersebut.
Penerima: Yara Ashford.
Malam itu, di kamar mewah House Ashford, Yara memegang gelas kristal dan menatap layar komunikasinya.
Awalnya dia masih tersenyum.
Namun ketika foto itu terbuka, senyumnya menghilang.
Sera.
Lucian Blackwell.
Berjalan berdampingan keluar dari Star Beast Academy.
Tangan Yara mencengkeram gelas begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Lucian Blackwell adalah orang yang sudah lama dia incar.
Pewaris House Blackwell.
Pria dingin yang tidak pernah memberi wajah pada perempuan mana pun.
Target terbaik untuk mengangkat statusnya lebih tinggi dari sekadar putri angkat House Ashford.
Yara sudah membayangkan bagaimana suatu hari dia akan berdiri di samping Lucian, menjadi perempuan yang dipilih olehnya, lalu membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Tetapi sekarang, perempuan yang berdiri di samping Lucian adalah Sera.
Sera yang sudah dia injak.
Sera yang sudah dia usir.
Sera yang seharusnya menangis di jalanan seperti anjing tanpa rumah.
Crack.
Gelas kristal di tangan Yara retak.
Potongan kecil menusuk telapak tangannya, tetapi dia tidak merasa sakit. Matanya hanya menatap wajah Sera di foto.
"Kau benar-benar tidak tahu diri," ucap Yara pelan.
Di dekat pintu, seorang pelayan menunduk dan tidak berani bersuara.
Yara mengangkat komunikatornya dan menelepon nomor yang tadi mengirim foto.
Panggilan tersambung.
"Cari tahu," katanya.
Suaranya lembut.
Terlalu lembut.
Justru karena itu, pelayan di ruangan itu merasa punggungnya dingin.
"Cari tahu toko apa yang dia buka di distrik terbengkalai. Cari tahu siapa yang membantunya. Cari tahu bagaimana dia bisa mendekati Lucian Blackwell."
Orang di ujung sana bertanya sesuatu.
Yara menatap foto itu sekali lagi.
Lalu bibirnya melengkung.
"Anggaran?" gumamnya. "Lima juta credits."
Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan mata penuh racun.
"Aku ingin semuanya sebelum besok pagi."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!