Indonesia
NovelToon NovelToon

Menang 50 Miliar, Pulang Kampung dan Rebahan

Episode 1

Bab 1

Lima Puluh Miliar

Kaki Ayu Lestari rasanya seperti bukan miliknya lagi ketika ia keluar dari pintu samping hotel pukul sebelas malam.

Aroma bawang putih, santan panas, minyak goreng, dan asap dari dapur masih menempel di rambutnya. Seragam koki putih yang tadi pagi rapi sekarang sudah kusut di bagian lengan. Di pergelangan tangannya ada bekas merah karena terlalu lama memegang wajan panas, sedangkan punggungnya terasa kaku setelah berdiri hampir empat belas jam.

Jakarta belum tidur.

Mobil masih saling menyalip di jalan depan hotel bintang lima itu. Klakson terdengar bersahut-sahutan seperti orang-orang di kota ini tidak pernah punya cukup sabar untuk menunggu lampu merah. Dari trotoar, Ayu melihat gedung kaca menjulang dengan lampu yang masih terang. Indah, kalau dilihat dari jauh. Melelahkan, kalau setiap hari harus hidup di dalamnya.

"Yu, besok masuk shift pagi, ya."

Suara Chef Roni membuat langkah Ayu berhenti.

Ia menoleh. Chef Roni baru keluar dari pintu dapur, wajahnya sama lelahnya, tapi tangannya masih sibuk mengecek daftar pesanan di tablet.

"Besok?" Ayu hampir tertawa. "Chef, saya baru selesai closing."

"Tahu. Tapi tamu VIP dari Singapura minta sarapan Minang. Yang bisa pegang rendang cepat cuma kamu."

Ayu menelan protes yang sudah naik sampai tenggorokan. Kalau ia menjawab terlalu panjang, ujung-ujungnya tetap sama. Jadwal berubah, ia mengalah, lalu tubuhnya yang menanggung.

"Jam berapa?"

"Lima subuh sudah di kitchen."

Lima subuh.

Berarti ia harus sampai kos sebelum tengah malam, mandi, tidur paling lama tiga jam, lalu bangun lagi untuk mengejar ojek online. Kalau hujan, macetnya bisa membuat ongkos naik dua kali lipat. Kalau KRL pagi penuh, badannya akan terjepit di antara tas kerja orang lain dan bau parfum yang terlalu kuat.

Ayu menarik napas pelan.

"Baik, Chef."

Chef Roni menepuk bahunya sekilas. "Saya tahu kamu capek. Tapi kamu paling bisa diandalkan."

Kalimat itu dulu membuat Ayu bangga. Sekarang, kalimat yang sama terdengar seperti rantai yang dibungkus pujian.

Ia berjalan keluar area hotel, melewati satpam yang mengangguk mengantuk. Udara malam Jakarta terasa lembap, menempel di kulit. Di dekat halte, beberapa pegawai hotel lain sudah berdiri sambil menunduk ke ponsel masing-masing.

Ponsel Ayu bergetar.

Dian Saputri mengirim pesan WhatsApp.

`Masih hidup, Yu?`

Ayu tersenyum kecil meski matanya perih.

`Secara teknis iya. Secara jiwa, tinggal tulang.`

Balasan Dian datang cepat.

`Resign aja. Nikah sama juragan rendang.`

`Juragan rendangnya aku sendiri, tapi miskin.`

`Miskin sementara. Cantik permanen.`

Ayu hampir tertawa. Hampir. Tawanya tertahan ketika ia melihat saldo e-wallet yang tersisa di layar ponsel. Cukup untuk ojek sampai kos, tapi tidak cukup kalau besok harus beli makan siang di hotel. Ia masih punya beras, telur, dan sambal botol di kamar kos. Besok mungkin bisa membawa nasi dari rumah.

Hidup di Jakarta selalu seperti itu. Gaji terlihat lumayan di slip, lalu menghilang menjadi uang kos, transportasi, makan, pulsa, kiriman untuk Nenek Sari dan Datuk Harun, serta tabungan kecil yang ia jaga seperti nyawa.

Ia bukan tidak bersyukur. Ia punya pekerjaan. Ia bisa memasak di hotel bagus. Namanya dikenal di dapur. Tapi setiap malam ketika pulang dengan kaki bengkak, Ayu sering bertanya, sampai kapan hidupnya hanya berputar antara dapur panas, kamar kos sempit, dan perjalanan yang membuatnya ingin menangis diam-diam?

Di seberang halte ada minimarket kecil yang masih buka. Lampunya terlalu terang sampai mata Ayu sedikit silau. Ia ingat belum membeli air mineral. Tenggorokannya kering sejak tadi.

Ia menyeberang ketika jalan agak lengang, lalu masuk ke minimarket. Udara AC menyambutnya. Dingin buatan yang membuat tubuhnya sejenak merasa manusia lagi.

"Mbak, air mineral satu," kata Ayu sambil mengambil botol dari kulkas.

Kasir perempuan berkerudung biru menatap layar mesin kasir, lalu menunjuk poster di dekat meja pembayaran. "Sekalian ikut undian berhadiah dari Bank Nusantara, Mbak? Minimal transaksi dua puluh ribu dapat satu kupon digital. Hadiah utamanya lima puluh miliar."

Ayu mengikuti arah telunjuk kasir.

Poster itu menampilkan gambar rumah besar, mobil, dan tulisan Rp 50.000.000.000 dengan warna emas yang terlalu menyala. Di bagian bawah ada logo bank, QR code, dan sederet syarat yang ditulis kecil-kecil.

Ayu mengangkat alis. "Lima puluh miliar? Kalau menang, saya beli hotel ini sekalian."

Kasir tertawa. "Aamiin, Mbak. Banyak yang bilang begitu."

"Minimal dua puluh ribu, ya?"

"Iya. Bisa tambah roti atau kopi."

Ayu melihat rak kecil di samping kasir. Ada roti cokelat, kopi kaleng, permen jahe, dan tisu basah. Ia sebenarnya tidak butuh apa-apa selain air, tapi entah kenapa angka di poster itu membuatnya ingin ikut bercanda dengan nasib.

"Tambah roti cokelat satu."

Kasir memindai barang. "Total dua puluh tiga ribu lima ratus. Mau pakai nomor HP yang terdaftar e-wallet?"

"Iya."

Ayu menyebutkan nomornya. Setelah pembayaran berhasil, kasir menyerahkan struk dan menunjuk layar kecil di meja.

"Kupon digitalnya sudah masuk, Mbak. Nanti kalau menang dikabari lewat SMS dan aplikasi bank. Jangan lupa cek."

"Kalau saya menang, saya balik ke sini traktir semua pegawai minimarket."

"Saya catat, Mbak."

Ayu tersenyum, memasukkan botol air dan roti ke tote bag. Ia keluar dari minimarket dengan langkah lebih ringan, bukan karena percaya akan menang, tapi karena fantasi kecil kadang cukup untuk membuat malam panjang terasa sedikit lucu.

Di depan minimarket, ojek online yang ia pesan belum datang. Estimasi masih delapan menit. Ayu berdiri di bawah kanopi, membuka botol air dan meneguknya pelan. Air dingin melewati tenggorokannya, membuat dadanya sedikit lega.

Hujan gerimis mulai turun.

Ayu memandangi aspal yang berubah mengilap. Lampu kendaraan pecah di genangan kecil, seperti potongan emas palsu. Ia tiba-tiba teringat halaman rumah gadang di Nagari Sungai Tanang, tanah yang basah setelah hujan, suara jangkrik, dan Nenek Sari yang selalu memanggilnya makan walau ia baru saja selesai makan.

Di kampung, malam tidak seterang ini. Tapi justru karena gelap, langitnya terlihat penuh.

Ponselnya bergetar lagi.

Ayu mengira itu pesan dari Dian atau notifikasi driver. Ia menunduk sambil mengusap layar yang sedikit basah terkena gerimis.

Nomor pengirimnya resmi. Bank Nusantara.

Ia membaca sekilas, lalu keningnya berkerut.

`Selamat, Ayu Lestari. Kupon undian Anda terverifikasi sebagai pemenang hadiah utama Program Rezeki Pulang Kampung Bank Nusantara senilai Rp 50.000.000.000. Silakan cek aplikasi Bank Nusantara dan hubungi layanan prioritas resmi untuk proses verifikasi.`

Ayu diam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu ia tertawa pelan.

"Penipuan macam apa lagi ini?"

Tapi ponselnya bergetar untuk kedua kali.

Notifikasi dari aplikasi Bank Nusantara muncul di bagian atas layar. Bukan SMS asing. Bukan link mencurigakan. Aplikasi yang selama ini ia pakai untuk menerima gaji dan menabung, dengan logo resmi yang ia kenal.

`Hadiah Utama: Rp 50.000.000.000`

`Status: Menunggu verifikasi pemenang`

Tangan Ayu mendadak dingin.

Ia membuka aplikasinya. Sidik jarinya sempat gagal dua kali karena ujung jarinya basah. Setelah berhasil masuk, halaman utama aplikasi langsung menampilkan banner besar dengan namanya.

Ayu Lestari.

Pemenang hadiah utama.

Rp 50.000.000.000.

Angka nolnya terlalu banyak.

Ia menghitung sekali. Salah. Menghitung lagi. Matanya terasa panas. Suara kendaraan di jalan seperti menjauh, berganti dengung halus di telinganya.

Driver ojek berhenti di depannya. "Mbak Ayu?"

Ayu mengangkat wajah, tapi suaranya tidak keluar.

"Mbak Ayu, benar?"

Ia menatap layar ponsel sekali lagi. Angka itu masih ada.

Lima puluh miliar rupiah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup mengejar jadwal orang lain, Ayu tidak tahu harus melangkah ke mana.

Ia hanya berdiri di bawah gerimis Jakarta, memegang ponsel dengan dua tangan, dan berpikir bahwa mungkin, mungkin sekali, hidupnya baru saja terbelah menjadi sebelum dan sesudah malam ini.

Episode 2

Bab 2

Ini Bukan Mimpi

Driver ojek kembali memanggil namanya, kali ini lebih hati-hati.

"Mbak Ayu? Jadi berangkat?"

Ayu baru tersadar bahwa ia masih berdiri di depan minimarket dengan layar ponsel menyala. Gerimis membuat ujung jilbabnya lembap. Jemarinya mencengkeram ponsel terlalu kuat sampai buku-bukunya memutih.

"Iya." Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Maaf, Bang. Saya agak kaget."

"Nggak apa-apa. Hati-hati, jalan licin."

Ayu naik ke motor dengan gerakan kaku. Sepanjang perjalanan menuju kos, ia tidak bisa melepaskan pandangan dari ponsel. Setiap kali lampu jalan memantul di layar, angka itu tetap ada. Rp 50.000.000.000. Bukan lima juta. Bukan lima puluh juta. Bukan angka promo palsu dari pesan asing yang meminta kode OTP.

Di aplikasi Bank Nusantara, namanya tertulis jelas.

Ayu Lestari.

Pemenang hadiah utama.

Menunggu verifikasi pemenang.

Motor berhenti di depan gang kosnya. Ayu hampir lupa membayar lebih untuk jas hujan plastik yang tadi ditawarkan driver.

"Mbak baik-baik saja?" tanya driver itu.

Ayu mengangguk cepat. "Baik. Terima kasih, Bang."

Ia masuk ke gang sempit yang becek, melewati deretan kamar kos dengan jemuran menggantung rendah. Bau deterjen, mie instan, dan air hujan bercampur di udara. Di lantai dua, seorang penghuni kos sedang video call keras-keras. Di ujung lorong, kucing liar tidur melingkar di atas keset.

Kamar Ayu hanya tiga kali tiga meter. Kasur single, lemari plastik, kompor listrik kecil, satu meja lipat, dan kardus berisi peralatan dapur yang tidak muat ia susun. Di dinding ada kalender bergambar Danau Maninjau yang sudah lewat dua bulan tapi belum ia ganti.

Biasanya begitu masuk kamar, Ayu langsung melepas sepatu dan mandi. Malam itu ia hanya duduk di tepi kasur, masih memakai jaket basah, lalu membuka aplikasi bank lagi.

Angka itu masih ada.

Ia menekan menu informasi program. Semua syarat muncul lengkap. Nama program, periode, nomor kupon, nomor izin promosi, potongan pajak hadiah, jadwal pengumuman, dan kontak layanan prioritas. Tidak ada link aneh. Tidak ada permintaan transfer. Tidak ada kalimat berantakan seperti pesan penipuan yang sering masuk ke grup WhatsApp keluarga.

Ayu menelan ludah.

Kalau ini nyata, setelah pajak, ia masih akan menerima sekitar empat puluh miliar rupiah.

Empat puluh miliar.

Di rekeningnya sekarang bahkan tidak sampai delapan juta.

Ia meletakkan ponsel di atas kasur, lalu menatap langit-langit kamar yang ada noda rembesan kecil di pojok. Napasnya pendek-pendek. Bukannya senang, tubuhnya justru gemetar seperti sedang demam.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Dian.

`Yu, kok centang dua tapi nggak balas? Ketiduran di jalan?`

Ayu menatap pesan itu lama. Jarinya mengetik, menghapus, mengetik lagi.

`Di, kalau seseorang tiba-tiba dapat uang banyak banget, dia harus ngapain dulu?`

Dian membalas dengan voice note, tapi Ayu tidak memutarnya. Beberapa detik kemudian pesan teks muncul.

`Banyak banget itu berapa? Jangan bilang kamu menang giveaway skincare.`

`Lebih banyak dari skincare.`

`Serius?`

Ayu menggigit bibir. Ia belum sanggup memberi tahu siapa pun sebelum benar-benar yakin. Bahkan kepada Dian.

`Besok aku cerita. Doain aku nggak pingsan.`

`YA ALLAH AYU. Kamu bikin aku nggak bisa tidur.`

Ayu tersenyum lemah. Ia juga tidak tidur.

Malam itu, ia mandi dengan air dingin karena pemanas kos rusak lagi. Setelahnya ia duduk di lantai, membuka laptop tua, dan mencari semua informasi tentang program undian Bank Nusantara. Ia membaca berita resmi, unggahan Instagram bank, komentar orang-orang, sampai peraturan pajak hadiah. Pukul dua pagi, matanya perih. Pukul tiga, ia masih menghitung nol. Pukul empat, azan subuh dari masjid kecil di ujung gang terdengar lembut.

Ayu mengambil wudu, shalat, lalu duduk di sajadah lebih lama dari biasanya.

"Ya Allah," bisiknya. "Kalau ini benar rezeki dari-Mu, jangan biarkan Ayu lupa diri."

Ia tidak masuk shift pagi.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja di hotel itu, Ayu mengirim pesan sakit kepada Chef Roni tanpa rasa bersalah. Tubuhnya memang seperti baru jatuh dari tempat tinggi. Bedanya, kali ini bukan karena lelah, melainkan karena hidupnya mungkin akan berubah seluruhnya.

Pukul sembilan, Ayu sudah berdiri di kantor cabang utama Bank Nusantara di Sudirman. Ia memakai kemeja paling rapi yang ia punya, celana hitam, dan sepatu kerja yang masih agak basah di bagian ujung. Tangannya berkali-kali merapikan rambut yang diikat sederhana.

Petugas keamanan menyambutnya di pintu.

"Ada yang bisa dibantu, Bu?"

"Saya... mendapat notifikasi pemenang undian berhadiah." Ayu menunjukkan layar ponsel.

Ekspresi petugas itu berubah lebih serius. Ia segera memanggil pegawai customer service. Dalam waktu kurang dari lima menit, Ayu sudah dibawa ke ruangan kecil ber-AC dengan sofa krem dan air mineral di meja.

Seorang perempuan berblazer navy masuk sambil membawa map.

"Selamat pagi, Ibu Ayu Lestari. Saya Mira dari layanan prioritas Bank Nusantara." Senyumnya profesional, tapi hangat. "Pertama-tama, kami ucapkan selamat. Berdasarkan sistem kami, Ibu benar terverifikasi sebagai pemenang hadiah utama Program Rezeki Pulang Kampung."

Kalimat itu membuat dada Ayu berhenti sejenak.

"Jadi ini bukan penipuan?"

Mira tersenyum lebih lembut. "Bukan, Bu. Kami juga tidak akan meminta Ibu mentransfer biaya apa pun. Pajak hadiah dipotong langsung sesuai ketentuan. Setelah seluruh dokumen dan berita acara selesai, estimasi dana bersih yang masuk ke rekening Ibu sekitar empat puluh miliar rupiah."

Ayu memegang gelas air mineral, tapi lupa minum.

Mira menjelaskan prosesnya satu per satu. Verifikasi KTP, NPWP, berita acara, tanda tangan, dokumentasi internal, dan jadwal transfer. Semua terdengar rapi. Semua terlalu nyata.

Ketika ia diminta menandatangani dokumen pertama, ujung pulpen sempat bergetar di atas kertas.

"Ibu tidak perlu terburu-buru," kata Mira.

Ayu menarik napas dalam.

"Saya cuma..." Ia tertawa kecil, tapi matanya panas. "Semalam saya masih mikir besok makan siang bawa telur dari kos. Sekarang Mbak bilang saya punya empat puluh miliar."

Mira tidak menertawakan. Ia hanya mengangguk, seperti sudah beberapa kali melihat orang kehilangan keseimbangan di depan angka besar.

"Pelan-pelan, Bu. Yang penting Ibu jangan langsung percaya pihak luar yang menghubungi. Semua komunikasi lewat nomor resmi dan cabang ini."

Ayu mengangguk.

Setelah dua jam proses awal, ia keluar dari bank dengan map cokelat di tangan. Langit Jakarta siang itu terlalu terang. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah serius. Mobil mewah berhenti di depan gedung. Pegawai kantoran memegang kopi, kurir membawa paket, satpam meniup peluit.

Dunia tetap bergerak seperti biasa.

Hanya Ayu yang tidak sama lagi.

Ia duduk di bangku depan gedung, membuka aplikasi peta, lalu tanpa sadar mengetik: Nagari Sungai Tanang.

Jaraknya jauh. Harus terbang ke Padang, lalu naik mobil sekitar dua jam. Di layar, kampung halamannya terlihat hanya sebagai titik kecil. Tapi di kepala Ayu, titik kecil itu punya suara Nenek Sari, Teh Talua buatan Datuk Harun, udara dingin pagi, dan halaman rumah gadang yang selalu ia rindukan saat Jakarta terasa terlalu keras.

Selama ini ia bertahan karena merasa tidak punya pilihan.

Sekarang, pilihan itu datang dalam bentuk angka yang bahkan belum sanggup ia ucapkan tanpa gemetar.

Ia bisa tetap bekerja di hotel, naik jabatan perlahan, membeli apartemen setelah bertahun-tahun menabung, dan terus pulang larut malam sampai tubuhnya menyerah.

Atau ia bisa pulang.

Membeli waktu.

Memperbaiki rumah gadang.

Membuka restoran sendiri.

Merawat Nenek dan Datuk yang sudah semakin tua.

Untuk pertama kalinya, kata pulang tidak terasa seperti menyerah. Kata itu terasa seperti pintu.

Ayu membuka kontak Nenek Sari. Foto profilnya adalah gambar Nenek memakai mukena putih sambil tersenyum di depan tanaman cabai.

Jari Ayu berhenti di tombol panggil.

Begitu sambungan tersambung, suara Nenek terdengar dari seberang, sedikit berisik karena televisi di rumah.

"Assalamu'alaikum, Ayu? Tumben pagi-pagi menelepon. Kamu sakit?"

Ayu memejamkan mata. Dalam satu tarikan napas, semua lelah Jakarta, semua malam di dapur panas, semua rindu yang ia tahan bertahun-tahun, naik ke tenggorokannya.

"Wa'alaikumussalam, Nek."

"Kenapa suaramu begitu, Nak?"

Ayu menggenggam map cokelat di pangkuannya.

"Nek," katanya pelan, "Ayu mau pulang."

Episode 3

Bab 3

Resign

Di seberang telepon, Nenek Sari terdiam cukup lama sampai Ayu bisa mendengar suara sendok beradu dengan gelas.

"Pulang?" suara Nenek akhirnya terdengar. "Pulang cuti atau pulang betulan, Yu?"

Ayu menatap map cokelat di pangkuannya. Kertas-kertas dari bank itu terasa lebih berat dari batu. "Pulang betulan, Nek."

"Kerjamu di hotel bagaimana?"

"Ayu mau berhenti."

Kali ini yang terdengar bukan hanya Nenek, tapi juga suara Datuk Harun dari jauh. "Siapa yang berhenti?"

Ayu menutup mulut dengan punggung tangan. Matanya panas, tapi ia tersenyum.

"Ayu, Tuk. Ayu mau pulang."

Hening sebentar. Lalu suara Datuk Harun terdengar mendekat, rendah seperti biasa.

"Kalau pulang, pulanglah. Rumah tidak pernah menolak anaknya."

Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Ayu runtuh. Ia tidak menangis keras. Hanya air matanya jatuh satu-satu ke map cokelat, meninggalkan titik kecil di atas sampulnya.

Nenek Sari langsung sibuk bertanya. Kapan berangkat? Ada masalah apa di hotel? Uang cukup atau tidak? Jangan-jangan sakit? Jangan pulang sendirian malam-malam. Datuk harus menyiapkan kamar. Nenek harus membersihkan lemari. Ayu menjawab sebisanya, sambil tetap menyimpan rahasia terbesar di dadanya.

"Ayu baik-baik saja, Nek. Cuma capek. Ayu pengin dekat Nenek sama Datuk."

"Kalau cuma capek, cuti dulu."

"Nggak, Nek." Ayu menarik napas. "Kali ini Ayu benar-benar mau selesai dari Jakarta."

Besok paginya, Ayu datang ke hotel dengan surat pengunduran diri di dalam tas.

Ia tetap memakai seragam koki seperti biasa. Rambutnya diikat rapi. Sepatunya sudah dipoles. Tidak ada yang tahu bahwa semalam ia baru saja menandatangani dokumen awal untuk hadiah puluhan miliar. Tidak ada yang tahu bahwa rekeningnya akan segera berubah menjadi sesuatu yang bahkan belum berani ia lihat terlalu sering.

Dapur hotel sedang sibuk menyiapkan sarapan. Suara pisau memukul talenan, panci mendidih, dan instruksi sous chef memenuhi udara. Ayu berdiri di pos rendang, mengaduk santan yang mulai berminyak dengan gerakan otomatis. Tangannya hafal. Tubuhnya hafal. Bahkan sebelum berpikir, ia tahu kapan api harus dikecilkan, kapan bumbu harus ditambah, kapan daging mulai cukup empuk.

Selama bertahun-tahun, dapur ini membentuknya.

Tapi tidak lagi menahannya.

Setelah service sarapan selesai, Ayu mengetuk pintu kantor Chef Roni.

"Masuk."

Chef Roni sedang memeriksa jadwal mingguan. Ketika Ayu meletakkan amplop putih di meja, keningnya langsung berkerut.

"Apa ini?"

"Surat resign, Chef."

Chef Roni menatapnya seperti ia baru saja mengatakan akan membakar seluruh kitchen. "Kamu bercanda?"

"Nggak, Chef."

"Ayu, kamu tahu posisi kamu di sini bagus. Tahun depan bisa jadi demi chef. Gaji naik. Kalau masalah jadwal, kita bisa bicarakan."

Ayu tersenyum pelan. Dulu kalimat itu mungkin akan membuatnya goyah. Demi chef. Gaji naik. Nama di hotel besar. Semua terdengar seperti tangga yang harus ia naiki karena orang lain bilang tangga itu penting.

"Saya berterima kasih sekali, Chef. Tapi saya sudah memutuskan pulang kampung. Nenek dan Datuk saya sudah tua. Saya mau dekat mereka."

Chef Roni menghela napas panjang. "Kamu ada masalah keuangan? Kalau butuh pinjaman karyawan, saya bisa bantu ajukan."

Untuk sesaat, Ayu hampir tertawa. Bukan karena meremehkan, melainkan karena hidup punya selera humor yang aneh.

"Bukan, Chef. Saya cuma ingin hidup yang lebih pelan."

"Hidup pelan tidak bayar tagihan, Yu."

"Saya tahu." Ayu menunduk hormat. "Tapi kali ini saya siap menanggung keputusan saya."

Kabar itu menyebar lebih cepat daripada api di wajan. Saat makan siang pegawai, beberapa rekan mengerubunginya.

"Serius resign?"

"Mau nikah, ya?"

"Dapat kerja di hotel lain?"

"Jangan-jangan buka restoran sendiri?"

Ayu menyuap nasi dengan tenang. "Pulang bantu Nenek. Mungkin buka usaha kecil-kecilan."

"Sayang banget, Yu. Kamu sudah susah-susah masuk hotel ini."

"Iya," jawab Ayu. "Tapi Nenek saya juga susah-susah membesarkan saya."

Ucapan itu membuat meja sebentar hening. Tidak ada yang berani membantah.

Dian datang ke kos Ayu malamnya dengan dua gelas es kopi dan wajah yang penuh kecurigaan.

"Sekarang jelaskan," katanya begitu masuk. "Kamu resign mendadak, suaramu kemarin seperti habis melihat malaikat, dan hari ini kamu bilang mau pulang. Ada apa?"

Ayu mengunci pintu, lalu menunjukkan dokumen dari Bank Nusantara.

Lima detik kemudian, Dian menjerit sambil menutup mulut sendiri.

"Ya Allah, Ayu!"

"Ssst! Ini kos, Di."

"Lima puluh miliar?" Dian berbisik keras. "Lima puluh miliar? Kamu tahu nolnya berapa?"

"Aku sudah menghitung sampai pusing."

Dian duduk di lantai, memegang kepalanya. "Kamu jangan langsung beli kapal pesiar."

"Aku bahkan belum pernah naik kapal pesiar."

"Bagus. Tetap begitu." Dian menarik napas, lalu menatap Ayu serius. "Kamu harus aman. Jangan cerita ke banyak orang. Simpan dokumen. Pakai konsultan pajak. Atur investasi. Jangan semua ditaruh di satu rekening."

Ayu mengangguk. "Aku sudah minta layanan prioritas bank bantu kenalkan konsultan."

"Terus?"

"Aku mau beli beberapa apartemen. Untuk disewakan. Sisanya aku bawa pulang untuk bangun rumah dan usaha."

Dian menatapnya lama. "Kamu benar-benar pulang, ya."

"Iya."

"Jakarta jahat, tapi aku di sini."

Kalimat itu membuat Ayu mendekat dan memeluk sahabatnya. Dian menggerutu, tapi tangannya memeluk balik lebih erat.

Dua minggu berikutnya bergerak cepat.

Dana hadiah masuk setelah seluruh proses verifikasi selesai. Ayu tidak pingsan ketika melihat saldo, meski ia harus duduk selama hampir sepuluh menit sebelum berani menyentuh layar lagi. Dengan bantuan pihak bank dan notaris, ia membeli beberapa unit apartemen secara tunai. Satu studio di Jakarta Selatan dekat kampus dan perkantoran. Satu unit dua kamar di Bekasi yang dekat stasiun. Satu di Depok untuk disewakan ke keluarga muda. Satu lagi di Tangerang Selatan, kecil tapi lokasinya bagus.

Setiap tanda tangan membuat tangannya gemetar.

Setiap kunci yang diserahkan terasa seperti bukti bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Ia tidak membeli barang mewah untuk dirinya sendiri. Tidak ada tas ratusan juta, tidak ada mobil sport, tidak ada perhiasan mencolok. Yang ia beli hanya koper baru, laptop yang layarnya tidak berkedip, ponsel yang baterainya tidak sekarat, dan tiket pesawat sekali jalan ke Padang.

Pada hari terakhir di hotel, rekan-rekan dapur membuatkan makan siang kecil. Chef Roni memberinya pisau chef baru sebagai kenang-kenangan.

"Kalau suatu hari kamu buka restoran, pakai ini," katanya.

Ayu menerima pisau itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Chef."

"Dan kalau restoranmu sukses, jangan lupa siapa yang dulu sering bikin kamu lembur."

Ayu tertawa. Untuk pertama kalinya di dapur itu, tawanya tidak terasa pahit.

Pagi keberangkatan, Dian mengantar Ayu ke bandara Soekarno-Hatta. Mereka berpelukan lama di depan pintu keberangkatan.

"Jangan hilang," kata Dian.

"Video call tiap minggu."

"Tiap hari dulu sampai aku ikhlas."

Ayu mengangguk sambil tertawa. Setelah melewati pemeriksaan, ia menoleh sekali lagi. Dian masih berdiri di sana, melambaikan tangan dengan mata merah.

Di dalam pesawat, Ayu duduk dekat jendela. Saat roda mulai bergerak dan badan pesawat terdorong maju, dadanya ikut bergetar.

Jakarta mengecil di bawah sana. Gedung-gedung tinggi, jalan tol, atap rumah, semua berubah menjadi pola kecil yang perlahan ditinggalkan awan.

Ayu menyentuh layar ponsel. Ada pesan dari Nenek Sari.

`Datuk sudah buat Teh Talua. Nenek masak gulai ayam. Pulang pelan-pelan, Nak.`

Ayu menahan senyum yang bergetar.

Pesawat menembus awan putih, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak sedang mengejar shift, tidak sedang takut terlambat, tidak sedang menghitung sisa uang makan.

Ia sedang pulang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!