Indonesia
NovelToon NovelToon

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Episode 1

Bab 1: Skandal di Red Carpet

Wenny Santoso tahu ia akan jatuh bahkan sebelum suara heboh itu pecah di belakangnya.

Tumit stiletto-nya tersangkut ujung karpet merah yang sedikit terlipat. Dari sisi kiri, seseorang menabrak bahunya cukup keras untuk membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Lampu kamera menyambar bertubi-tubi, putih, panas, menyilaukan. Seluruh suara di Bintang Awards Gala mendadak terdengar jauh, seperti ia sedang tenggelam di dalam kolam yang dipenuhi teriakan fotografer.

"Wenny!"

Nama itu baru sempat menyentuh telinganya ketika tubuhnya sudah terlempar ke depan.

Ia menutup mata, bersiap pada rasa sakit di lutut, pada gaun satin biru muda yang pasti akan terseret di karpet, pada ratusan kamera yang akan mengabadikan jatuhnya Putri Nasional malam ini.

Tapi rasa sakit itu tidak datang.

Yang datang justru sepasang lengan yang kuat.

Satu tangan menahan pinggangnya, satu lagi menopang punggungnya. Aroma parfum maskulin yang dingin dan samar-samar manis menyergap napas Wenny. Ketika ia membuka mata, wajah REYN sudah berada begitu dekat sampai ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata pria itu.

Bukan pantulan penuh. Hanya wajahnya yang pucat, bibir yang terbuka karena terkejut, dan dua lesung pipi yang muncul samar karena ia menggigit senyum panik.

Di pupil REYN, ia tampak kecil sekali.

Namun tatapan pria itu tidak terlihat kaget.

Tidak seperti orang yang baru saja menangkap perempuan jatuh di depan ratusan kamera. Tidak seperti artis yang kebetulan diseret masuk ke skandal. Matanya terlalu tenang. Sudut bibirnya bahkan naik sedikit, nyaris tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat dada Wenny berdegup sekali lebih keras.

Seolah-olah ia sudah lama menunggu momen ini.

"Hati-hati," ucap REYN rendah.

Suara itu dekat sekali dengan telinganya. Wenny baru sadar telapak tangannya menempel di dada REYN. Di balik jas hitam yang rapi, detak jantung pria itu terasa stabil, berbanding terbalik dengan jantungnya yang kacau.

"Maaf." Wenny buru-buru menarik tangannya. "Aku..."

"Kamu terluka?"

Pertanyaan itu memotong kepanikannya. Sederhana, tapi cara REYN menatap lutut dan pergelangan kakinya membuat kamera di sekitar mereka mendadak terasa tidak penting.

Wenny menggeleng. "Enggak. Aku baik-baik saja."

"Yakin?"

Terlalu lembut.

Satu kata itu terlalu lembut untuk seorang REYN, penyanyi top yang selama ini dikenal dingin di depan media. Ice Prince. Pria yang jarang tersenyum, jarang menjawab pertanyaan pribadi, dan lebih sering membuat presenter kehilangan kata-kata karena jawabannya pendek-pendek.

Wenny menegakkan tubuhnya. Ia sadar tangan REYN masih berada di pinggangnya, tidak menekan, hanya menjaga agar ia tidak jatuh lagi. Panas merambat dari tempat jari pria itu menyentuh gaunnya.

"Yakin," jawabnya, kali ini lebih pelan.

Barulah REYN melepaskannya.

Di sekeliling mereka, fotografer seperti baru menemukan oksigen.

"REYN, lihat sini!"

"Wenny, ke sini sedikit!"

"Kalian datang bareng?"

"Ada hubungan apa?"

Pertanyaan saling bertabrakan. Flash kamera menyala seperti petir kecil. Wenny memaksa senyum profesional yang sudah ia latih sejak kecil. Tujuh belas tahun di dunia hiburan mengajarinya untuk tidak panik di depan kamera, bahkan ketika gaunnya hampir membuatnya jatuh ke pelukan penyanyi paling berbahaya untuk dijadikan rumor.

Dari sudut mata, ia melihat Rosa.

Rosalyn Chandra berdiri beberapa langkah di belakang, gaun merahnya berkilau di bawah lampu. Senyumnya lembut, rapi, seolah ia hanya penonton yang ikut kaget.

"Aduh, Wenny, kamu enggak apa-apa?" Rosa mendekat sambil menempelkan tangan ke dada. "Tadi ramai sekali, aku sampai enggak lihat kamu hampir jatuh."

Wenny menatapnya.

Bahunya masih terasa nyeri di bagian yang tadi tertabrak. Terlalu tepat untuk disebut tidak sengaja. Terlalu keras untuk ukuran orang yang hanya terseret arus kerumunan.

Namun kamera masih menyala.

"Aku baik-baik saja," kata Wenny dengan senyum tipis. "Untung ada REYN."

Senyum Rosa berhenti sepersekian detik.

REYN melirik Rosa. Tatapannya tidak tajam, tapi cukup dingin untuk membuat perempuan itu menurunkan tangan dari dada. Ia tidak berkata apa-apa. Justru diamnya membuat udara terasa lebih berat.

Seorang staf gala bergegas mendekat. "Wenny, jalur red carpet masih lanjut. Kita masuk dulu ya?"

Wenny mengangguk. Ia hendak melangkah, tapi REYN lebih dulu sedikit menunduk dan membetulkan ujung karpet yang tadi melipat. Gerakan itu sederhana, bahkan hampir tidak terlihat oleh kamera besar di depan, tetapi kamera ponsel para tamu VIP pasti menangkapnya.

"Sekarang aman," katanya.

Pipi Wenny memanas.

Ia ingin menjawab biasa saja. Mungkin `terima kasih`, mungkin candaan ringan agar suasana cair. Tetapi semua kalimat tersangkut di tenggorokan. Yang keluar hanya anggukan kecil.

Mereka berjalan terpisah setelah itu.

Setidaknya Wenny berusaha membuatnya terlihat terpisah.

Ia masuk ke area backstage dengan Lilian yang langsung menariknya ke sudut dekat tirai hitam. Wajah manajernya pucat, ponsel sudah menempel di telinga, satu tangan sibuk menahan ekor gaun Wenny.

"Kamu jatuh ke siapa tadi?" bisik Lilian, cepat dan tajam.

"Aku tidak jatuh." Wenny menarik napas. "Hampir."

"Hampir jatuh ke pelukan REYN itu tetap cukup untuk bikin kantor kita lembur sampai pagi."

"Rosa yang nabrak aku."

Mata Lilian langsung menyipit. "Kamu yakin?"

Wenny memegang bahunya yang masih nyeri. "Aku tahu bedanya tersenggol dan didorong."

Lilian tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah red carpet, tempat Rosa baru saja tertawa manis kepada wartawan, lalu kembali pada Wenny.

"Kita urus nanti. Sekarang jangan bicara apa pun soal Rosa. Jangan bikin tuduhan tanpa bukti."

"Aku tahu."

"Dan jangan dekat-dekat REYN dulu."

Wenny terdiam.

Terlambat, pikirnya.

Karena meski tubuhnya sudah jauh dari pria itu, ingatan tentang tangan REYN di pinggangnya masih menempel seperti sisa panas lampu sorot.

Acara selesai hampir tengah malam.

Wenny masuk ke mobil van dengan kaki pegal dan kepala penuh suara kamera. Begitu pintu ditutup, dunia akhirnya menjadi lebih sunyi. Ia melepas anting besar dari telinganya, bersandar, lalu membuka ponsel.

Notifikasi memenuhi layar.

Nama REYN berada di mana-mana.

Nama Wenny juga.

Video berdurasi dua belas detik itu sudah diputar jutaan kali. Dari sudut kamera seorang tamu, tubuh Wenny terlihat jatuh tepat ke pelukan REYN. Gerakannya tampak seperti adegan lambat dalam drama romantis. Gaun biru mudanya berayun, jas hitam REYN terbuka sedikit, dan wajah mereka berhenti begitu dekat sampai komentar pertama yang muncul membuat Wenny nyaris menjatuhkan ponsel.

`Ini kecelakaan atau teaser drama baru?`

`REYN SENYUM? TOLONG INI BUKAN LATIHAN.`

`Wenny di mata REYN cantik banget, gue ulang 50 kali.`

`WenReyn? Aku daftar jadi shipper pertama.`

Wenny menekan video itu.

Lalu ia melihatnya.

Detik ketika REYN menangkapnya, pria itu memang tidak tampak kaget. Matanya langsung turun ke wajah Wenny, lembut, fokus, hampir... rindu.

Rindu?

Wenny menggigit bibir. "Enggak mungkin."

Video itu terus berputar. Angka penonton naik terlalu cepat. Sembilan juta. Sembilan koma lima. Sepuluh juta.

Ponsel Lilian berdering.

Wenny menoleh. Manajernya melihat nama penelepon di layar, wajahnya langsung berubah kaku.

"Dari perusahaan," kata Lilian.

Ia mengangkat telepon, mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama, rahangnya semakin tegang.

"Baik. Saya sampaikan."

Panggilan berakhir.

Di dalam mobil yang melaju membelah Jakarta malam itu, Lilian menatap Wenny dengan mata seorang manajer yang baru saja menerima keputusan buruk dan tidak punya ruang untuk menolaknya.

"Perusahaan sudah memutuskan," ucap Lilian pelan.

Jantung Wenny turun.

"Kamu harus ikut reality show kencan."

Episode 2

Bab 2: Viral!

"Kamu harus ikut reality show kencan."

Kalimat Lilian itu mengikuti Wenny sampai ke mimpinya.

Keesokan paginya, bahkan sebelum matahari benar-benar naik di balik gedung-gedung Jakarta, ponsel Wenny sudah bergetar tanpa henti di atas nakas. Bukan getaran sekali dua kali. Rasanya seperti mesin kecil di dalam casing ponselnya menolak diam.

Wenny membuka mata dengan kepala berat.

Semalam ia pulang lewat tengah malam, mandi dengan setengah sadar, lalu tidur masih dengan rambut lembap dan pikiran yang penuh wajah REYN. Seharusnya pagi ini ia istirahat. Seharusnya ia tidak membuka media sosial sebelum sarapan.

Tetapi siapa artis yang bisa tidur tenang ketika namanya menjadi nomor satu di Trending Topic?

Ia meraih ponsel.

`#WenReyn`

`#REYNMenangkapWenny`

`#RedCarpetRomance`

Tiga tagar itu berdempetan di daftar trending Indonesia. Video semalam sudah melewati tiga puluh juta penayangan. Ada versi lambat dengan musik romantis, ada pula akun yang terlalu rajin membuat utas perubahan ekspresi REYN dalam dua belas detik.

Wenny menekan salah satunya.

`Detik 00:03, REYN belum panik. Detik 00:04, dia sudah membuka tangan. Artinya dia memperhatikan Wenny bahkan sebelum Wenny jatuh.`

`Detik 00:07, lihat matanya. Itu bukan mata orang kaget. Itu mata orang nemu barang hilang.`

Wenny hampir tersedak air putih.

"Barang hilang apanya," gumamnya.

Ia menggulir komentar lain.

`Aku fans REYN sejak debut. Dia enggak pernah lihat perempuan kayak gitu.`

`Wenny cantik banget waktu panik. Lesung pipinya keluar, REYN langsung kalah.`

`Ini settingan? Kalau settingan, tolong lanjutkan.`

`Rosa tadi ada di belakang, enggak sih? Kok gerakannya mencurigakan?`

Jari Wenny berhenti.

Ada yang melihat.

Ia membuka video lain, kali ini dari sudut lebih jauh. Di layar kecil itu, gerakan Rosa memang hampir tidak tampak. Hanya bahu merah yang lewat terlalu dekat, lalu tubuh Wenny limbung. Tanpa konteks, orang bisa menyebutnya tabrakan biasa.

Tubuh Wenny tahu itu dorongan.

Pintu kamar diketuk.

"Masuk," kata Wenny.

Lilian muncul dengan rambut dicepol asal, blazer masih rapi, dan dua gelas kopi di tangan. Mata manajernya jelas kurang tidur.

"Kamu sudah lihat?"

"Kalau aku bilang belum, kamu percaya?"

"Tidak." Lilian menyerahkan kopi. "Minum. Kita berangkat tiga puluh menit lagi."

Wenny duduk tegak. "Ke mana?"

"Kantor."

"Aku belum sarapan."

"Aku pesan bubur beras dan telur rebus. Bebas gluten. Jangan ambil roti di pantry kantor, aku tidak mau kamu tiba-tiba gatal-gatal di tengah rapat."

Kalimat itu membuat Wenny sedikit tersenyum meski kepalanya pusing.

Alergi gluten bukan hal yang bisa ia abaikan. Sejak kecil, tubuhnya bereaksi buruk pada makanan berbahan gandum tertentu. Dulu, ketika ia masih Bintang Kecil, satu kesalahan kecil di meja makan bisa membuat jadwal syuting kacau. Sejak itu, Lilian selalu punya kebiasaan mengecek makanan Wenny lebih dulu, bahkan lebih galak daripada ibunya sendiri.

"Rapatnya soal reality show itu?" tanya Wenny.

Lilian menatapnya tanpa berkedip.

Senyum Wenny hilang. "Jadi semalam bukan ancaman kosong."

"Keputusan sudah turun dari atas."

"Karena video dua belas detik?"

"Karena video dua belas detik yang sudah jadi tiga puluh juta penonton, empat brand menghubungi tim komersial, dan dua media gosip menulis kamu diam-diam pacaran dengan REYN."

Wenny memijit pelipis. "Aku bahkan baru bicara dengannya kurang dari lima kalimat."

"Publik tidak peduli berapa kalimat. Mereka peduli bagaimana dia melihatmu."

Wenny menunduk pada kopi di tangannya.

Masalahnya, publik tidak sepenuhnya salah.

Tatapan REYN memang aneh. Hangat. Tenang. Terlalu personal untuk dua orang yang seharusnya tidak saling mengenal.

Mobil menuju kantor bergerak lebih lambat dari biasanya karena macet pagi Jakarta. Sepanjang jalan, layar besar di Bundaran HI menayangkan iklan minuman yang dulu pernah dibintangi Wenny saat remaja. Wajahnya yang tersenyum di sana terasa seperti milik orang lain.

Dulu semua orang mengenalnya sebagai Bintang Kecil.

Anak perempuan lima tahun dengan rambut dikuncir dua, lesung pipi jelas, dan suara cempreng yang membuat ibu-ibu Indonesia ingin mencubit pipinya. Ia tumbuh di depan kamera, dari sinetron keluarga, film remaja, drama kolosal, sampai menjadi pemeran utama yang selalu dijual dengan kalimat aman: cantik, berbakat, bebas skandal.

Bebas skandal.

Wenny menertawakan kata itu dalam hati.

Satu karpet merah cukup untuk membakar tujuh belas tahun citra bersih.

Di ruang rapat kantor, tim publikasi sudah menunggu. Ada layar besar yang menampilkan grafik sentimen. Hijau mendominasi, artinya publik menyukai skandal itu. Justru itu yang membuat Wenny semakin tidak nyaman.

"Kita tidak akan membantah," kata kepala tim publikasi. "Membantah sekarang akan terlihat defensif. Publik sedang senang. Brand juga senang."

"Jadi aku harus membiarkan orang percaya aku pacaran dengan REYN?" tanya Wenny.

"Tidak. Kita arahkan narasinya."

Lilian duduk di sebelah Wenny, membuka map tipis. "Program `Skandal Cinta` sedang casting untuk musim ketiga. Mereka butuh nama besar. Kita butuh ruang untuk menjelaskan kejadian semalam tanpa terlihat panik."

"Reality show kencan bukan ruang menjelaskan. Itu ruang membuat masalah baru."

"Atau ruang membuat publik melihat kamu sebagai orang dewasa yang bisa menentukan hidupnya sendiri."

Wenny menoleh pada Lilian. Kalimat itu terdengar seperti jebakan yang dibungkus hadiah.

"Aku sudah tujuh belas tahun kerja," kata Wenny pelan. "Aku tidak takut kamera. Tapi acara kencan itu berbeda. Mereka akan memotong ekspresi, memperbesar diam, mengedit setiap napas jadi tanda cinta."

"Mereka bahkan tidak perlu mengedit banyak kalau kamu satu frame dengan REYN," sahut salah satu staf publikasi, lalu langsung diam ketika Lilian meliriknya.

Wenny menarik napas panjang. Jika ia menolak sekarang, narasi bisa berbalik menjadi ia menyembunyikan sesuatu. Jika ia menerima, ia masuk ke arena yang dipenuhi kamera, komentar, dan kemungkinan Rosa bergerak lagi.

"Rosa ikut?" tanyanya tiba-tiba.

Lilian membuka halaman berikutnya. "Masih dibicarakan."

Wenny tertawa pendek. "Tentu saja."

Kepala tim publikasi mencondongkan tubuh. "Wenny, ini bukan hukuman. Ini kesempatan. Kamu punya basis penggemar kuat, REYN punya fanbase yang sangat besar. Kalian berdua dalam satu acara bisa mengubah skandal jadi proyek paling ditunggu tahun ini."

"Aku tidak mau hidupku jadi proyek."

Ruangan hening.

Lilian menyentuh lengan Wenny, kali ini tidak sebagai manajer, melainkan sebagai orang yang sudah menemaninya sejak ia remaja.

"Aku tahu," katanya pelan. "Tapi keputusan kontrak tetap ada di perusahaan. Kita bisa menawar batasan, jadwal, makanan, pengamanan, bahkan hak menolak beberapa permainan. Tapi kita tidak bisa menolak keikutsertaanmu tanpa perang besar."

Wenny memejamkan mata sebentar.

Di balik kelopak matanya, ia kembali melihat mata REYN.

Pantulan wajahnya sendiri di sana.

Seperti ia bukan skandal. Seperti ia seseorang yang akhirnya ditemukan.

Ketika ia membuka mata, ia tahu ia sudah kalah.

"Baik," ucapnya. "Aku ikut."

Lilian menghela napas lega, tetapi tidak tersenyum.

"Ada satu hal lagi."

Wenny langsung curiga. "Apa?"

Lilian memutar map ke arahnya. Di halaman paling atas ada daftar peserta sementara `Skandal Cinta` musim ketiga.

Nama pertama membuat Wenny ingin tertawa pahit.

Nama kedua membuat jantungnya berhenti sebentar.

REYN.

Lilian berkata pelan, seolah takut dinding ruang rapat ikut mendengar, "Kamu dan REYN akan tampil di acara yang sama."

Episode 3

Bab 3: Dua Bintang, Satu Acara

Di layar monitor studio, video red carpet itu berhenti tepat pada detik ketika Wenny jatuh ke pelukan REYN.

REYN tidak memutar ulang bagian ketika para fotografer berteriak. Ia tidak peduli pada komentar warganet yang memenuhi sisi kanan layar. Ia bahkan tidak peduli pada namanya sendiri yang sejak pagi berada di urutan pertama trending.

Ia hanya menatap wajah Wenny.

Dalam gambar yang sedikit buram itu, mata Wenny terbuka lebar, bibirnya setengah mengucap maaf, dan lesung pipinya muncul samar karena ia berusaha menahan panik. Lampu flash membuat kulitnya tampak pucat, tapi tetap ada sesuatu yang hangat di wajah itu, sesuatu yang sama persis seperti ingatan lama yang tidak pernah mau pudar.

REYN menyentuh layar dengan ujung jari.

Bukan pada wajahnya sendiri.

Pada pantulan Wenny di matanya.

"Lo sadar ini agak menyeramkan, kan?"

Suara Jay memecah sunyi.

REYN menurunkan tangan, lalu menekan tombol spasi. Video kembali bergerak. Tubuh Wenny limbung, ia menangkapnya, komentar di bawah layar meledak lagi.

"Kalau mau nonton, nonton biasa," kata Jay sambil menjatuhkan tubuh ke sofa studio. "Jangan pakai mode pembunuh berantai yang lagi menganalisis target."

"Berisik."

"Gue berisik karena lo dari tadi memutar video dua belas detik selama empat puluh menit."

REYN menutup laptop.

Studio musik itu kembali dipenuhi cahaya redup dari panel mixer dan lampu meja. Dindingnya penuh gitar, keyboard, dan beberapa piala musik yang sengaja diletakkan di rak paling belakang, seperti pemiliknya tidak tertarik memamerkan apa pun. Di luar ruangan kaca, seorang teknisi masih merapikan kabel, tapi tidak ada yang berani masuk sebelum REYN memanggil.

Empat tahun sejak debut, semua orang di industri sudah hafal batas itu.

REYN tidak suka diganggu saat berada di studio.

Penyanyi yang keluar dari sistem trainee Korea, pulang ke Indonesia dengan wajah dingin dan suara yang bisa membuat stadion bernyanyi bersama. Empat tahun cukup untuk menjadikannya nama terbesar di panggung pop. Setiap lagu masuk chart, setiap konser habis terjual, setiap wawancara berubah jadi bahan meme karena jawabannya terlalu singkat.

Ice Prince.

Julukan itu diberikan penggemar karena ia tampak tidak tersentuh siapa pun.

Jay tahu julukan itu omong kosong.

Es tidak akan memutar video perempuan yang sama selama empat puluh menit dengan mata seperti orang kehausan setelah bertahun-tahun berjalan di padang kosong.

"Jadi?" Jay mengangkat alis. "Lo mau kasih klarifikasi?"

"Tidak."

"Mau pura-pura enggak kenal?"

"Tidak."

"Mau bilang itu kecelakaan biasa?"

REYN diam.

Jay menunjuk wajahnya. "Nah, itu masalahnya. Muka lo waktu nangkap dia sama sekali enggak bilang kecelakaan biasa."

REYN bersandar di kursi. Jemarinya bergerak pelan di atas meja, mengetuk ritme yang hanya ia dengar sendiri. Di pergelangan tangan kirinya, di bawah manset hoodie hitam, terlihat sedikit warna pudar dari gelang anyaman lama.

Jay melihatnya, tapi tidak berkomentar.

Ada beberapa hal tentang REYN yang bahkan Jay pun tidak bisa bercanda sembarangan.

Pintu studio diketuk dua kali.

Seorang asisten memasukkan kepala. "REYN, ada panggilan dari tim `Skandal Cinta`. Katanya urgent."

Jay langsung duduk tegak. "Wah."

REYN menatap asisten itu. "Sambungkan."

Telepon dipindahkan ke speaker meja. Suara Koko, sutradara reality show paling licik sekaligus paling beruntung di televisi, terdengar terlalu cerah untuk pagi yang belum selesai.

"REYN! Selamat pagi. Atau selamat trending?"

Jay menutup mulut, menahan tawa.

REYN hanya berkata, "Langsung saja."

"Baik, baik. Kami sedang menyiapkan `Skandal Cinta` musim ketiga. Setelah kejadian semalam, publik jelas ingin melihat kelanjutan cerita kalian. Kami ingin mengundang kamu sebagai peserta utama."

Jay membuat gerakan tepuk tangan tanpa suara.

REYN tidak menjawab.

Koko cepat menambahkan, "Tentu ini bukan acara murahan. Lokasi pertama Bali, konsepnya elegan, ada batasan yang bisa dibicarakan dengan tim kamu. Kami juga mengundang beberapa nama besar. Salah satunya Wenny Santoso."

Kata itu mengubah udara.

Jay berhenti bercanda.

REYN yang sejak tadi tampak malas mendengar tiba-tiba membuka mata sepenuhnya. Tidak ada senyum besar. Tidak ada reaksi berlebihan. Hanya rahangnya yang mengendur sedikit, seolah tubuhnya menerima kabar yang sudah lama ditunggu dan tetap takut mempercayainya.

"Dia sudah setuju?" tanya REYN.

Koko tertawa kecil. "Timnya sedang finalisasi. Tapi arahnya sangat positif."

"Kalau Wenny ikut," kata REYN, "aku ikut."

Tidak ada jeda.

Tidak ada negosiasi honor, jadwal, kamera, atau kontrak.

Di seberang, Koko sempat kehilangan kata-kata. "Oke. Itu... lebih mudah dari yang saya kira."

"Kirim detail ke timku."

"Siap. Senang bekerja sama denganmu, REYN."

Panggilan terputus.

Studio hening selama tiga detik.

Lalu Jay meledak.

"Lo gila."

REYN membuka laptop lagi, tapi tidak memutar musik. Ia kembali membuka video itu. Kali ini gambar berhenti pada detik ketika Wenny menatapnya dari jarak begitu dekat.

"Reality show kencan," Jay mengulangi, seolah kata-kata itu lucu dan berbahaya sekaligus. "Lo, yang selama empat tahun kabur dari semua rumor pacaran. Lo, yang pernah bikin presenter menangis karena jawabannya cuma `tidak tertarik`. Lo langsung setuju begitu dengar nama Wenny?"

"Aku punya waktu kosong."

"Bohong."

"Aku butuh promosi album."

"Lebih bohong."

REYN tidak membantah.

Jay berdiri, berjalan ke sisi meja, lalu menatap sahabatnya lebih serius. Mereka sudah bersama sejak masa latihan di Korea, saat REYN masih anak laki-laki keras kepala yang berlatih sampai telapak kakinya berdarah dan tetap menolak pulang. Jay tahu ambisi REYN. Tahu luka-lukanya. Tahu ada satu nama yang selalu diam-diam muncul di sela jadwal paling gila.

Wenny.

Nama yang tidak pernah disebut penuh, tapi selalu ada.

Di playlist lama. Di potongan artikel yang disimpan. Di lagu yang dikerjakan berbulan-bulan. Di tanggal 30 Januari yang setiap tahun membuat REYN menghilang dari semua pesta.

"Reyn," panggil Jay, kali ini tanpa bercanda. "Lo yakin mau begini? Kamera akan lihat semuanya."

"Bagus."

"Bagus?"

"Kalau kamera melihat, dia juga akan melihat."

Jay terdiam.

REYN menatap layar. Di sana, wajah Wenny masih berada di dekatnya, terperangkap dalam satu momen yang sudah ditonton jutaan orang, tapi hanya ia yang tahu betapa mustahil rasanya bisa sedekat itu lagi.

"Aku tidak akan lari kali ini," katanya pelan.

Jay mengusap wajah. "Akhirnya."

REYN meliriknya.

"Apa?"

"Enggak." Jay tertawa kecil, tetapi matanya tidak ikut tertawa. "Gue cuma penasaran."

REYN menunggu.

Jay menunjuk layar, menunjuk Wenny yang membeku dalam gambar, lalu bertanya dengan suara lebih rendah, "Lo sebenarnya sudah nunggu dia berapa lama?"

Jari REYN berhenti di atas keyboard.

Di studio yang penuh alat musik itu, tidak ada satu nada pun yang terdengar.

REYN hanya diam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!