Indonesia
NovelToon NovelToon

Menimbun untuk Bertahan: Gadis Pendiam yang Hidup Sendiri

Episode 1

Bab 001

Tusuk Konde Mutiara

"Sekar, laporan pengeluaran bulan ini sudah kamu kirim?"

Suara atasannya membuat jari Wen Sekar berhenti di atas keyboard. Di layar komputer, angka-angka kecil masih berbaris rapi, lebih rapi daripada napasnya sendiri.

"Sudah, Pak. Saya kirim lewat email lima menit lalu."

Pria di balik meja partisi itu hanya menggumam tanpa menoleh. Sekar menunduk lagi, memastikan tidak ada satu pun angka yang salah. Di kantor kecil tempatnya bekerja sebagai karyawan administrasi, kesalahan satu angka bisa berarti dimarahi setengah jam. Gajinya hanya sedikit di atas UMR Kota Angin, tapi dimarahi tetap terasa mahal.

Di meja sebelah, dua karyawan lain sedang membicarakan promo makan siang dan cicilan ponsel baru. Sekar tidak ikut tertawa. Ia hanya memasukkan struk bensin ke map plastik, mencatat tanggal, lalu menutup map itu dengan hati-hati.

"Kar, ikut makan di luar?"

Sekar mengangkat wajah. Seorang rekan kerja sudah berdiri sambil menggantung tas di bahu.

"Tidak. Saya bawa bekal."

"Serius? Tiap hari bekal terus. Hemat banget kamu."

Sekar tersenyum tipis. "Iya."

Jawaban satu kata cukup untuk membuat percakapan itu mati dengan sopan. Sekar menunggu sampai langkah mereka benar-benar menjauh, baru membuka kotak makan kecil dari dalam tas.

Nasi putih, telur dadar tipis, dan tumis kangkung sisa semalam.

Ia makan di mejanya, pelan-pelan, sambil melihat pantulan dirinya di layar komputer yang menggelap. Wajahnya biasa saja, rambutnya diikat rendah, kemeja kremnya sudah pudar.

Pukul lima lewat dua puluh, hujan turun.

Sekar berdiri di depan lobi kantor, memegang payung lipat murahnya sampai hujan berubah menjadi gerimis.

Perjalanan menuju kos-kosan memakan waktu empat puluh menit dengan angkot. Jalanan macet, klakson saling bersahutan, dan lututnya pegal karena duduk terjepit di pojok.

Kos-kosannya berdiri di ujung gang, bangunan dua lantai dengan cat hijau yang mulai mengelupas. Kamar Sekar ada di lantai dua, ukuran tiga kali tiga meter, cukup untuk kasur lipat, lemari plastik, meja kecil, dan satu rak buku bekas.

"Baru pulang, Mbak?"

Ibu kos yang sedang menyapu teras menoleh. Perempuan itu selalu ramah, tapi setiap sapaan membuat bahu Sekar menegang sebentar.

"Iya, Bu."

"Makan malam jangan telat. Dari siang tadi kamu kelihatan pucat."

Sekar mengangguk. "Iya, Bu. Terima kasih."

Ia naik tangga dengan langkah cepat, bukan karena tidak suka pada ibu kos, melainkan karena terlalu banyak perhatian membuat dadanya sempit.

Kamar itu menyambutnya dengan bau kain lembap dan minyak kayu putih. Cahaya kuning redup jatuh ke lantai keramik yang dingin.

Di sudut kamar, sebuah kardus tua masih terikat tali rafia.

Sekar memandangnya lama.

Kardus itu dikirim dari rumah lama Kakek Wen dan Nenek Wen di Desa Lembah dua minggu lalu, setelah kerabat jauh yang menjaga rumah itu memutuskan menjual beberapa barang tersisa. Tidak banyak yang sampai ke tangannya, hanya beberapa baju lama, foto yang menguning, dua mangkuk enamel, dan benda-benda kecil dari lemari Nenek.

Sekar belum sanggup membukanya.

Malam ini, entah karena hujan atau karena kamar terasa terlalu sunyi, ia akhirnya menarik kardus itu ke tengah lantai.

Tali rafia sulit dilepas. Ia mengambil gunting kecil dari meja, memotongnya, lalu membuka tutup kardus perlahan. Bau kapur barus dan kayu tua langsung naik, membuat tenggorokannya tercekat.

Di lapisan paling atas ada kain batik cokelat milik Nenek. Sekar mengangkatnya, menempelkan sebentar ke pipi. Kain itu sudah tidak menyimpan hangat tubuh siapa pun, tapi jemarinya masih mengenali lipatan yang dulu sering ia lihat.

"Nenek..." bisiknya.

Tidak ada jawaban. Hanya hujan yang mengetuk seng atap belakang kos.

Sekar menyusun barang satu per satu di atas kasur. Foto Kakek Wen di depan pohon mangga. Gelang giok retak. Buku catatan resep dengan tulisan tangan Nenek yang kecil dan miring. Sebuah kotak beludru merah tua terkubur di bawah kain putih.

Sekar membuka kotak itu.

Di dalamnya terbaring sebuah tusuk konde mutiara.

Benda itu tidak besar. Batangnya seperti perak tua, dengan ukiran halus yang sebagian sudah menghitam. Di ujungnya ada tiga butir mutiara kecil, tidak terlalu bulat, tapi lembut saat terkena cahaya lampu.

Sekar pernah melihat Nenek memakainya saat Imlek ketika ia masih SD. Rambut Nenek disanggul rendah, tusuk konde itu terselip di antara uban, dan Nenek tersenyum sambil memberinya jeruk.

"Kalau suatu hari Nenek sudah tidak ada, barang ini untuk kamu," kata Nenek waktu itu.

Sekar mengira itu hanya ucapan orang tua.

Ia mengambil tusuk konde itu dengan dua tangan. Permukaannya dingin. Ada bagian kecil di dekat ukiran yang terasa kasar. Sekar mengusapnya dengan ibu jari, mencoba melihat apakah ada karat yang bisa dibersihkan.

Rasa perih tiba-tiba menusuk.

"Aduh."

Ia menarik tangannya. Setitik cairan merah muncul di ujung ibu jari, terang, lalu jatuh tepat ke salah satu mutiara.

Sekar membeku.

Mutiara itu menyerap cairan merahnya.

Bukan menodai. Bukan membuat merah menyebar. Setetes cairan itu benar-benar hilang, seperti ditelan oleh permukaan putih susu yang tadi tampak mati.

Lampu kamar berkedip.

Sekar refleks mundur, punggungnya membentur lemari plastik. Tusuk konde itu masih di tangannya. Dinginnya berubah menjadi hangat, lalu panas, seolah benda kecil itu menyimpan bara di dalamnya.

"Apa..."

Belum selesai ia bicara, pandangannya berputar.

Kamar kos hilang.

Sekar berdiri di tempat yang luas dan kosong.

Tidak ada dinding, tapi ada batas yang tidak terlihat. Tidak ada matahari, tapi ruangan itu terang seperti pagi tanpa langit. Lantai di bawah kakinya putih keabu-abuan, halus, tidak dingin, tidak hangat. Udara di sekitarnya terlalu hening sampai Sekar bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Ia menahan napas.

Di tangannya, tusuk konde mutiara masih ada.

"Ini di mana?"

Suaranya terdengar kecil, lalu lenyap tanpa gema.

Sekar memejamkan mata kuat-kuat. Saat membukanya lagi, ia kembali berada di kamar kos. Kardus tua masih terbuka. Hujan masih turun. Lampu masih menyala redup.

Ia jatuh duduk di lantai.

Selama beberapa menit, Sekar tidak bergerak. Ibu jarinya masih perih. Ia memandangi tusuk konde itu seperti memandangi sesuatu yang bisa menggigit.

Mungkin ia terlalu lelah. Mungkin tekanan kerja, kurang tidur, dan makan seadanya akhirnya membuat kepalanya kacau.

Sekar meletakkan tusuk konde itu di atas meja, lalu mengambil segelas air. Tangannya gemetar. Ia meneguk terlalu cepat hingga tersedak.

Matanya kembali pada meja.

Tusuk konde itu tidak bergerak.

Di sampingnya ada kunci kamar, ponsel murah, dan satu bungkus roti tawar diskon. Sekar menatap roti itu, lalu entah dari mana sebuah pikiran muncul.

Kalau tadi bukan mimpi...

Ia menyentuh bungkus roti dengan ujung jari.

Masuk.

Pikiran itu belum selesai dibentuk, tapi bungkus roti di atas meja langsung hilang.

Sekar menjerit tertahan. Kedua tangannya menutup mulut. Ia melihat ke bawah meja, ke kasur, ke kardus, bahkan ke bawah lemari. Tidak ada roti.

Jantungnya memukul dada.

Keluar.

Bungkus roti itu muncul lagi di atas meja.

Sekar mundur sampai betisnya menyentuh kasur. Kali ini ia tidak bisa menyalahkan lelah.

Ia duduk di tepi kasur, menatap benda-benda di meja. Setelah beberapa saat, ia mencoba lagi. Kunci kamar masuk, lalu keluar. Ponsel masuk, lalu keluar. Gelas plastik masuk, lalu keluar dengan air di dalamnya tidak tumpah setetes pun.

Setiap benda lenyap hanya karena ia memikirkannya.

Sekar menggenggam tusuk konde mutiara dengan lebih hati-hati. Tubuhnya masih takut, tapi di balik rasa takut itu ada sesuatu yang lain, tipis dan tajam.

Ruang penyimpanan.

Kata itu muncul begitu saja di benaknya.

Ia kembali masuk ke tempat kosong tadi, kali ini dengan sengaja. Ruang luas itu masih sama, terang, hening, dan seolah tidak berujung. Di lantai dekat kakinya, roti, kunci, ponsel, dan gelas plastik tersusun rapi.

Sekar berjongkok. Ia menyentuh gelas plastik itu.

Air di dalamnya diam.

Bukan tenang karena tidak terguncang. Diam seperti gambar. Sekar mengangkat gelas itu, menggoyangnya pelan. Air tetap tidak bergerak sampai ia memikirkan gelas itu keluar.

Begitu kembali ke kamar, air di dalam gelas baru bergoyang dan menetes sedikit ke punggung tangannya.

Sekar menatap tetes air itu.

Lalu ia melihat roti tawar di meja. Ia merobek sedikit ujung bungkusnya, mencuil remah kecil, menaruhnya di lantai kamar. Semut dari celah dinding biasanya datang dalam hitungan menit. Kamar kos tua ini tidak pernah benar-benar bersih dari mereka.

Sekar memasukkan sisa roti ke dalam ruang itu.

Lima belas menit berlalu. Semut mulai mengerubungi remah di lantai. Sekar duduk tanpa berkedip, memeluk lututnya, menunggu dengan dada yang makin sesak.

Ia mengeluarkan roti dari ruang penyimpanan.

Tidak ada semut. Tidak ada bau berubah. Ujung bungkus yang ia robek pun tampak sama.

Sekar merasakan kulit kepalanya meremang.

Di luar kamar, seseorang tertawa di koridor. Televisi ibu kos menyala samar dari lantai bawah. Kota Angin tetap berisik, tetap lembap, tetap memikirkan makan malam.

Tapi di atas meja kecil Sekar, tusuk konde mutiara milik Nenek baru saja membuka sebuah ruang yang tidak masuk akal.

Dan di dalam ruang itu, waktu tidak berjalan.

Episode 2

Bab 002

Mimpi Pertama

Dan di dalam ruang itu, waktu tidak berjalan.

Sekar mengulang kalimat itu di dalam kepala sampai bibirnya ikut bergerak tanpa suara. Ia duduk di lantai kamar kos, punggung menempel pada sisi kasur, sementara tusuk konde mutiara tergeletak di atas meja seperti benda tua biasa.

Biasa.

Kata itu tidak cocok lagi.

Sekar menatap roti tawar yang baru saja keluar dari ruang penyimpanan ajaib. Semut masih mengerubungi remah di lantai, tapi tidak satu pun menyentuh roti dalam bungkus. Seolah roti itu baru dibeli detik ini, bukan disimpan lima belas menit di tempat yang mustahil.

Ia mengambil napas pelan, lalu memaksa dirinya berdiri.

Kalau panik sekarang, ia tidak akan tahu apa-apa.

Sekar mengambil buku tulis kecil dari rak, buku yang biasanya ia pakai mencatat pengeluaran bulanan. Di halaman kosong, ia menulis dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Ruang penyimpanan ajaib.

Di bawahnya, ia membuat garis.

Satu. Masuk dan keluar dengan pikiran.

Dua. Waktu di dalam berhenti.

Tiga. Hanya bisa dipakai saat tusuk konde ada di dekatku?

Ia berhenti di poin ketiga, lalu memandangi tusuk konde itu. Untuk menguji, Sekar meletakkannya di meja, berjalan ke kamar mandi kecil, lalu memikirkan gelas plastik di meja.

Masuk.

Tidak terjadi apa-apa.

Sekar kembali ke meja, menyentuh tusuk konde dengan ujung jari.

Masuk.

Gelas itu hilang.

Sekar menelan ludah. Jadi benda itu bukan hanya kunci, tapi sesuatu yang harus selalu bersamanya.

Ia menyelipkan tusuk konde ke rambutnya. Rambutnya terlalu pendek untuk disanggul rapi seperti Nenek, jadi tusuk itu hanya tertahan miring di ikatan rendah. Aneh, tapi saat benda itu menyentuh kepalanya, Sekar bisa merasakan ruang kosong itu seperti pintu yang berada tepat di belakang pikirannya.

Ia mulai menguji satu per satu.

Baju dari lemari masuk. Keluar.

Mangkuk enamel peninggalan Nenek masuk. Keluar.

Sekar mengisi ember kecil dengan air sampai setengah, lalu memasukkannya. Saat dikeluarkan, permukaan air tetap datar. Tidak ada tumpahan. Tidak ada gerakan sampai ember itu kembali ke kamar.

Sekar menulis lagi.

Benda cair tidak tumpah selama di dalam.

Lalu ia mencoba benda yang lebih besar. Kasur lipatnya.

Ia ragu sebentar. Jika gagal dan kasur itu hilang selamanya, malamnya akan berakhir di lantai. Tapi rasa takut kalah oleh rasa ingin tahu. Sekar menyentuh ujung kasur.

Masuk.

Kasur itu lenyap.

Kamar tiga kali tiga meter itu mendadak terasa lapang.

Sekar berdiri kaku di tengah lantai. Ia masuk ke ruang penyimpanan, dan kasur lipatnya ada di sana, tergeletak rapi di lantai putih keabu-abuan. Tidak terbalik. Tidak rusak. Hanya ada.

Ia mengeluarkannya lagi. Kasur kembali di tempat semula.

Untuk pertama kalinya malam itu, Sekar lupa bernapas karena takjub, bukan takut.

Kapasitasnya besar.

Mungkin sangat besar.

Pikiran itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena ia langsung membayangkan kekayaan atau hal-hal aneh seperti di cerita fantasi. Sekar tidak punya keberanian sebesar itu. Yang ia pikirkan justru hal kecil dan sangat nyata.

Beras satu karung bisa masuk.

Tabung gas bisa masuk.

Obat bisa masuk.

Barang tidak akan rusak.

Seseorang mengetuk pintu.

Sekar tersentak sampai buku tulisnya hampir jatuh.

"Sekar? Belum tidur?"

Suara ibu kos terdengar dari koridor. Sekar langsung merapikan tusuk konde di rambut, menutup buku tulis, lalu menarik napas.

"Belum, Bu."

"Tadi seperti ada suara barang jatuh. Kamu baik-baik saja?"

Sekar melihat sekeliling. Kasur sudah kembali. Ember ada di kamar mandi. Roti di meja. Tidak ada yang mencurigakan kecuali wajahnya sendiri yang pasti pucat.

"Saya tidak apa-apa, Bu. Maaf, gelas saya hampir jatuh."

"Oh. Jangan begadang, ya."

"Iya, Bu. Terima kasih."

Langkah ibu kos menjauh. Sekar tetap berdiri di balik pintu sampai koridor kembali sepi. Baru setelah itu lututnya terasa lemas.

Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu meja kecil. Hujan di luar sudah berhenti, tapi atap masih menetes satu-satu. Sekar duduk lagi, menulis semua hasil uji coba dengan lebih rapi. Ia menambahkan satu poin baru.

Jangan sampai ada yang tahu.

Kalimat itu ia garis bawahi dua kali.

Menjelang tengah malam, tubuhnya akhirnya menyerah. Sekar menaruh buku tulis di bawah bantal, memastikan tusuk konde masih terselip di rambut, lalu berbaring miring. Matanya sulit terpejam. Setiap kali hampir tidur, ia merasa ruang putih itu memanggil dari belakang pikirannya.

Ia tidak tahu kapan akhirnya tertidur.

Dalam mimpi, Kota Angin tidak punya suara.

Langit hitam menggantung terlalu rendah. Jalan raya yang biasanya penuh motor kosong seperti habis ditinggalkan. Toko-toko tutup, kaca-kacanya pecah, papan reklame bergoyang meski tidak ada angin.

Sekar berdiri di tengah jalan tanpa helm, tanpa tas, tanpa sandal.

Aspal di bawah telapak kakinya basah dan dingin.

Dari jauh terdengar gemuruh.

Awalnya seperti suara truk besar. Lalu berubah menjadi suara ribuan drum dipukul bersamaan. Sekar menoleh ke arah barat. Di antara gedung-gedung, sesuatu yang gelap dan tinggi bergerak mendekat.

Air.

Bukan banjir setinggi betis seperti yang sering muncul di berita Kota Angin saat musim hujan. Ini dinding air. Gelombang hitam membawa mobil, tiang listrik, potongan atap seng, dan tubuh-tubuh yang berteriak tanpa suara.

Sekar ingin lari, tapi kakinya seperti tertanam di aspal.

Tanah bergetar.

Retakan muncul di jalan, tipis seperti garis pensil, lalu membelah lebar. Lampu merah di persimpangan jatuh. Gedung kantor tempat Sekar bekerja miring, kacanya pecah satu per satu seperti hujan tajam.

Seseorang berlari melewatinya, wajahnya penuh lumpur.

"Lari! Airnya naik!"

Sekar mencoba bergerak. Lututnya sakit. Napasnya putus-putus. Gelombang itu sudah terlalu dekat, membawa bau laut, solar, dan sesuatu yang busuk.

Di antara gemuruh air, ia mendengar suara Nenek.

Sekar.

Suara itu lembut, tapi menusuk langsung ke dada.

Bangun.

Air menghantamnya.

Sekar terbangun dengan tubuh tersentak.

Keringat membasahi leher dan punggungnya. Napasnya kasar. Selimut tipis melilit kakinya, dan tangannya mencengkeram pinggir kasur seolah ia benar-benar hampir terseret arus.

Kamar kos gelap.

Tidak ada air. Tidak ada retakan. Tidak ada gedung runtuh.

Hanya kipas angin kecil yang berputar lambat dan suara motor lewat dari jalan besar.

Sekar meraba rambutnya. Tusuk konde masih ada.

Ia turun dari kasur, menyalakan lampu, lalu mengambil ponsel. Pukul 03.17.

Jarinya membuka mesin pencari sebelum pikirannya benar-benar jernih. Ia mengetik dengan cepat.

gelombang besar kota pesisir

gempa bumi retakan tanah

cuaca ekstrem global

Hasil pencarian muncul bertumpuk. Berita tentang banjir rob di beberapa kota pesisir. Artikel tentang suhu laut yang naik. Video pendek dari luar negeri memperlihatkan badai yang merobohkan pohon. Satu berita menyebut gempa besar di negara lain minggu lalu. Berita lain membahas pola hujan yang makin kacau.

Tidak ada yang persis seperti mimpinya.

Tapi semuanya terasa terlalu dekat.

Pagi harinya, Sekar tetap berangkat kerja. Ia tidak berani mengambil cuti tanpa alasan jelas. Di pantry kantor, televisi kecil menyiarkan berita cuaca ekstrem di beberapa daerah. Seorang rekan kerja berdiri sambil menyeduh kopi instan.

"Akhir-akhir ini berita isinya bencana terus, ya," ucap orang itu.

Sekar yang sedang mengambil air panas berhenti sesaat.

"Iya."

"Tapi di sini paling banjir biasa. Kota Angin dari dulu begitu."

Sekar tidak menjawab. Di layar televisi, gambar jalan yang terendam air berganti menjadi rekaman gelombang menghantam tanggul. Suara presenter terdengar datar, terlalu datar untuk gambar sebesar itu.

Jari Sekar mencengkeram gelas kertas sampai penyok.

Sepanjang hari, angka-angka di layar komputer berubah menjadi garis retakan dalam ingatannya. Suara klakson di luar kantor terdengar seperti gemuruh air. Saat ada rekan kerja tertawa, Sekar justru teringat orang yang berlari dalam mimpinya.

Malam itu, setelah pulang ke kos, Sekar membuka kembali buku tulis pengeluaran. Di halaman setelah catatan ruang penyimpanan, ia menulis tanggal hari itu.

Lalu satu kalimat.

Jika mimpi itu benar, apa yang harus aku lakukan?

Episode 3

Bab 003

Daftar Belanja

Jika mimpi itu benar, apa yang harus aku lakukan?

Sekar menatap kalimat itu sampai tinta hitamnya terasa seperti retakan di atas kertas. Di luar jendela kecil kos, langit Kota Angin sudah gelap, tapi kamar tiga kali tiga meter itu masih terang oleh lampu meja. Tusuk konde mutiara terselip di rambutnya. Buku pengeluaran terbuka di depan lututnya.

Ia bisa pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Besok bangun, berangkat kerja, mencatat struk, menerima gaji, membayar kos, makan telur dan kangkung, lalu menjalani hari seperti biasa. Itu pilihan paling masuk akal.

Tapi roti di meja tidak basi di dalam ruang penyimpanan ajaib.

Dan gelombang dalam mimpinya terasa terlalu nyata.

Sekar menarik napas panjang, lalu menulis di halaman baru.

Stok darurat.

Tangannya berhenti sebentar di atas kata itu. Ia bukan orang kaya. Tabungannya tidak banyak. Limit kartu kreditnya pun kecil, hasil tawaran bank yang dulu ia terima hanya karena takut menolak terlalu lama di telepon.

Kalau mimpi itu salah, ia akan menjadi perempuan aneh yang menimbun makanan sampai kamar kosnya tidak muat.

Kalau mimpi itu benar, terlambat satu hari bisa berarti mati.

Sekar menekan ujung pena lebih kuat.

Lebih baik terlihat gila daripada tidak siap.

Ia mulai membuat daftar.

Beras. Minimal 200 kg.

Mie instan. Banyak. Sebanyak mungkin.

Minyak goreng. Gula pasir. Garam. Tepung terigu. Sarden kaleng. Kornet kaleng. Kecap. Saus. Bumbu dapur kering. Air mineral galon. Kopi sachet. Teh. Susu bubuk. Makanan kering yang tidak perlu kulkas.

Daftarnya memanjang sampai satu halaman penuh. Setelah itu ia membuka aplikasi catatan di ponsel dan membuat versi yang lebih rapi, lengkap dengan perkiraan harga. Angka di sisi kanan membuat perutnya mual, tapi Sekar tidak mencoretnya.

Pagi berikutnya, ia mengirim pesan kepada atasannya.

Pak, hari ini saya izin setengah hari karena ada urusan keluarga.

Balasan datang sepuluh menit kemudian.

Oke. Laporan kemarin sudah saya terima.

Sekar menatap layar itu beberapa detik. Dadanya lega, tapi tangannya tetap dingin. Ia mengenakan jaket tipis, memasukkan kartu debit, kartu kredit, dan buku catatan ke tas kecil. Tusuk konde mutiara ia selipkan lebih kuat di ikatan rambut, lalu menutupnya dengan topi kain sederhana.

Pasar grosir di sisi timur Kota Angin selalu ramai sejak pagi. Truk kecil keluar masuk, kuli panggul mengangkat karung beras, pedagang meneriakkan harga, dan bau bawang, plastik, ikan asin, serta kardus basah bercampur di udara.

Sekar berhenti di tepi jalan beberapa detik.

Terlalu banyak orang.

Terlalu banyak suara.

Ia hampir berbalik.

Lalu bayangan dinding air dalam mimpi muncul lagi, membawa mobil dan atap seng. Sekar menggenggam tali tasnya, menunduk, lalu masuk ke lorong pasar.

Toko grosir beras itu punya gudang kecil di belakang. Karung-karung putih tersusun sampai hampir menyentuh plafon. Seorang pemilik toko berkemeja kotak-kotak menatap Sekar dari balik meja kalkulator.

"Mau beli berapa, Mbak?"

"Beras lima puluh kilo, empat karung."

Jari pria itu berhenti di kalkulator. "Dua ratus kilo?"

"Iya."

"Untuk acara?"

Sekar sudah menyiapkan jawaban sejak malam. "Untuk keluarga di desa. Sekalian stok."

Pemilik toko memandangnya dari kepala sampai kaki. Perempuan kurus, tas kecil, suara pelan. Bukan tipe orang yang biasanya membeli beras sebanyak itu.

"Mau dikirim?"

"Tidak perlu. Nanti ada yang ambil."

"Kalau begitu bayar dulu, barang saya sisihkan di belakang."

Sekar mengangguk. Ia membayar dengan kartu debit. Saat mesin mencetak struk, bunyinya terasa terlalu keras. Pemilik toko menyerahkan kertas itu, masih dengan mata curiga.

"Kalau orangnya lama, jangan sampai sore ya, Mbak. Gudang saya penuh."

"Iya, Pak."

Sekar pindah ke toko sebelah. Di sana kardus mie instan menumpuk seperti dinding warna-warni. Ia membeli dua ratus dus, campuran rasa ayam bawang, soto, kari, dan goreng. Penjaga toko tertawa kecil saat mendengar jumlahnya.

"Mbak buka warung?"

"Titipan keluarga."

"Keluarganya banyak sekali."

Sekar hanya tersenyum tipis. "Iya."

Jawaban pendek itu membuat penjaga toko tidak bertanya lebih jauh, walau matanya masih menyimpan rasa ingin tahu.

Setelah mie instan, ia membeli minyak goreng dalam jeriken dan kemasan literan, gula pasir beberapa karung kecil, garam, tepung terigu, sarden kaleng, kornet kaleng, kecap, saus sambal, kopi sachet, teh celup, susu bubuk, dan bumbu dapur kering. Setiap toko memberi reaksi yang hampir sama. Heran. Mengukur tubuhnya. Bertanya apakah ia punya warung, katering, atau acara besar.

Sekar menjawab dengan kalimat yang sama.

Untuk keluarga.

Sekalian stok.

Tidak perlu dikirim.

Nanti ada yang ambil.

Menjelang siang, uang di rekeningnya menyusut seperti air dibuang dari ember bocor. Kartu kreditnya mulai terpakai. Sekar melihat notifikasi transaksi bertumpuk di ponsel, lalu cepat-cepat mematikan layar. Kalau ia memikirkan utang sekarang, kakinya mungkin tidak kuat berdiri.

Barang-barang yang sudah dibayar ditumpuk di beberapa sudut gudang belakang. Pemilik toko beras mengizinkan sementara karena Sekar membayar lebih untuk biaya penitipan singkat. Penjaga toko mie instan juga menyisihkan kardus-kardusnya di lorong belakang, dengan syarat diambil sebelum toko tutup.

Sekar menunggu saat yang tepat.

Saat azan dari kejauhan bercampur dengan suara pasar yang sedikit mereda, beberapa pekerja pergi makan. Lorong belakang toko-toko menjadi lebih lengang. Sekar berjalan sambil menunduk, seolah sedang menelepon. Padahal ponselnya mati di genggaman.

Di gudang beras, ia menyentuh karung paling depan.

Masuk.

Empat karung beras menghilang tanpa suara.

Dada Sekar seperti dipukul dari dalam. Ia menoleh cepat. Tidak ada yang melihat. Hanya kipas tua di dinding yang berputar malas.

Ia keluar dengan langkah biasa, walau telapak tangannya basah.

Di lorong mie instan, kardus-kardus tersusun tinggi. Sekar berdiri di samping tumpukan itu, menunggu dua kuli panggul lewat sambil bercanda. Begitu mereka berbelok, ia menyentuh sisi kardus.

Masuk.

Dua ratus dus mie instan lenyap dari lorong.

Ruang di belakang toko mendadak kosong. Sekar merasa tenaganya turun ke kaki. Ia hampir lari, tapi memaksa diri berjalan pelan. Jika ia panik, orang lain akan melihat.

Satu per satu, ia mengambil semua barang yang sudah dibayar.

Minyak goreng. Gula. Garam. Tepung. Makanan kaleng. Kopi. Teh. Susu. Bumbu dapur. Semuanya masuk ke ruang penyimpanan ajaib, tersusun sesuai bayangannya. Di dalam ruang putih itu, Sekar menempatkan beras di satu sisi, mie instan di sisi lain, makanan kaleng berderet seperti rak toko kecil.

Saat pemilik toko beras kembali dari makan siang, ia melihat sudut gudang kosong.

"Sudah diambil, Mbak?"

Sekar menunduk sopan. "Sudah, Pak. Orangnya tadi datang cepat."

"Cepat sekali."

"Iya, Pak."

Pria itu menggaruk kepala, tapi karena barang sudah dibayar, ia tidak punya alasan untuk bertanya lebih jauh.

Sekar keluar dari pasar grosir dengan tas kecil yang masih tampak ringan. Tubuhnya lelah, tapi di dalam ruang penyimpanan ajaib, tumpukan pertama hidupnya baru saja berdiri.

Di halte angkot, ia duduk di pojok, membuka buku catatan, lalu mencoret barang-barang yang sudah dibeli.

Beras 200 kg. Selesai.

Mie instan 200 dus. Selesai.

Minyak goreng. Selesai.

Garam, gula, tepung, makanan kaleng. Selesai.

Sekar seharusnya merasa lega.

Tapi ketika ia membalik halaman, daftar berikutnya menunggu seperti mulut yang belum kenyang.

Obat-obatan.

Alat.

Energi.

Radio.

Senter.

Panel surya.

Sekar menatap kata-kata itu sampai angkot yang ia tunggu lewat tanpa ia sadari.

Yang sudah ia beli hari ini baru permulaan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!