Indonesia
NovelToon NovelToon

Pilihan Hati Anisa

Pertemuan Pertama

Suasana upacara penerimaan mahasiswa baru di kampus Harapan Bangsa mendadak ricuh saat ada seseorang yang berteriak di antara kerumunan.

"Tolong, ada yang pingsan!" seru seorang gadis hingga membuat semua atensi tertuju kepadanya.

"Bawa ke klinik kampus saja!" seru yang lainnya.

Beberapa mahasiswa perempuan ikut membantu mengangkat tubuh gadis berhijab itu dan di bawa ke posko pelayanan kesehatan.

"Apa yang terjadi?" Salah seorang petugas di posko bertanya pada si mahasiswi bernama Rhea.

"Saya tidak tahu, Kak. Tadi Anisa sempat mengeluh sakit kepala saat upacara akan dimulai. Wajahnya juga udah pucat sebelum upacara."

Si petugas mengangguk. "Baiklah, kami akan bawa ke klinik untuk diperiksa. Kalian bisa kembali ke barisan."

Rhea mengangguk. "Iya, Kak. Terima kasih."

Tubuh Anisa yang tak sadarkan diri di bawa dengan brankar menuju ke klinik kampus. Tiba di klinik, seorang dokter muda langsung menanganinya.

"Cepat bawa ke bilik nomer satu," ucap dokter muda bernama Reinhart itu.

Mata Reinhart membulat menatap sosok berwajah pucat berhijab hitam itu.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Reinhart.

"Temannya bilang dia pingsan saat upacara berlangsung."

"Baiklah. Kalian boleh kembali berjaga. Saya akan periksa kondisinya dulu."

"Terima kasih, Dokter."

Reinhart mengangguk lalu mulai memeriksa kondisi Anisa. Dilihat dari jas almamater yang dipakainya, Reinhart tahu jika mahasiswi ini dari jurusan kedokteran.

Sebelum memeriksa, Reinhart meminta izin terlebih dahulu pada Anisa meski gadis itu tidak bisa mendengarnya.

Tangan Reinhart menyentuh pergelangan tangan Anisa dan memeriksa denyut nadinya.

Dahi Reinhart berkerut setelah pemeriksaan berakhir.

"Gadis ini ...." Reinhart tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia memutuskan untuk menunggu hingga Anisa siuman.

Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Anisa mendapatkan kesadarannya kembali. Matanya menyipit mendapati dirinya terbaring di tempat asing.

"Kamu sudah bangun?"

Suara yang asing di telinga Anisa membuatnya segera bangun dari brankar.

"Hei, pelan-pelan saja. Kamu ada di klinik kampus." Reinhart mendekati Anisa.

Mata Anisa menatap wajah Reinhart sekilas lalu memalingkan wajah.

"Ke-kenapa saya bisa ada disini?"

Reinhart terpana sejenak mendengar suara lembut Anisa.

"Kamu lupa? Kamu pingsan saat upacara di lapangan kampus."

Anisa tidak menjawab lagi. Ia memilih untuk turun dari brankar dan hendak pergi.

"Tunggu! Istirahat saja dulu disini," cegat Reinhart.

"Te-terima kasih. Sebaiknya saya kembali ke barisan. Saya gak enak sama teman-teman yang lain." Anisa membungkukkan kepala dan berpamitan. Ia melewati tubuh tegap Reinhart begitu saja.

"Jangan memaksakan diri. Kamu sedang hamil."

DEG!

Langkah Anisa terhenti mendengar ucapan Reinhart. Tubuhnya mematung di tempat dan terasa kaku untuk bergerak lagi.

Hamil? Anisa memegangi perutnya yang masih rata.

"Dilihat dari reaksimu, sepertinya kamu sudah tahu tentang kondisimu ini."

Anisa mengepalkan tangan. Ia tak siap jika ada yang mengetahui soal ini, terutama orang asing seperti Reinhart.

"Se-sekali lagi terima kasih, Dokter. Saya permisi!" Anisa memilih benar-benar pergi dari ruangan bernuansa putih itu.

Reinhart menatap kepergian Anisa dengan tatapan yang sulit diartikan.

* * *

Anisa berjalan menyusuri lorong-lorong kampus menuju ke lapangan tempat upacara berlangsung. Perasaan cemas langsung menggelayuti hatinya. Tak pernah ia duga jika kehamilannya akan diketahui oleh orang lain terlebih sama-sama ada di kampus ini.

"Ya Allah, apa yang harus kulakukan?" Anisa memejamkan mata sejenak. Sebisa mungkin ia harus bersikap normal di depan teman-temannya nanti.

Anisa melanjutkan langkahnya hingga benar-benar tiba di lapangan. Upacara telah berakhir dan beberapa teman Anisa menghampirinya.

"Anisa? Kamu gak apa-apa? Kenapa kesini lagi dan bukannya malah istirahat?" Rhea, teman yang baru ditemuinya beberapa hari lalu ini sungguh perhatian pada Anisa.

"Aku udah gak apa-apa kok," balas Anisa diiringi senyum.

"Tapi muka kamu masih pucat. Kenapa gak tiduran dulu aja di klinik? Eh, kata teman-teman, dokter yang jaga di klinik kampus itu ganteng banget. Bener gak sih?" Rhea menyenggol lengan Anisa.

"Hmm? Gak tahu sih. Aku ... gak perhatiin."

"Yaah, sayang banget. Lain kali aku bakal ikut ke klinik kalo kamu pingsan lagi."

Anisa menggeleng pelan. Tidak ada lain kali. Anisa bertekad untuk tidak bertemu dengan dokter muda itu lagi.

"Sebisa mungkin aku harus menghindar dari dia."

* * *

TING

Pintu lift terbuka. Kaki Reinhart melangkah keluar dari lift dan menuju ke unit apartemen miliknya. Semenjak lulus kuliah beberapa bulan lalu, Reinhart memutuskan untuk keluar dari rumah dan memilih hidup mandiri. Bahkan Reinhart menolak tawaran sang kakek yang memintanya bekerja di rumah sakit milik keluarga. Reinhart memilih bekerja di klinik kampus tempatnya dulu menimba ilmu.

Begitu memasuki kamar, Reinhart melepas satu persatu kain yang melekat di tubuhnya kemudian menuju ke kamar mandi. Ini adalah hari pertamanya bekerja di klinik kampus, tapi sudah cukup dibuat sibuk karena banyak mahasiswi baru yang sengaja datang untuk menemuinya. Rupanya rumor mengenai dokter muda dan tampan di klinik kampus cepat menyebar.

"Haaaaah." Reinhart mengembus napas kasar.

Tubuhnya ia biarkan terguyur air dingin shower yang langsung mendinginkan kepalanya juga. Namun, sekelebat bayangan tiba-tiba muncul dibenaknya.

"Gadis itu?"

Reinhart mematikan keran shower dan mengusap wajahnya. Wajah Anisa tiba-tiba hadir dan mengusiknya.

Reinhart segera menyudahi mandinya lalu keluar menggunakan baju handuk. Bertepatan dengan itu, ponsel Reinhart bergetar. Nama ibunya tertera dilayar.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumsalam. Akhirnya diangkat juga. Mama udah telponin dari tadi."

"Maaf, Ma. Aku baru selesai mandi. Ada apa?"

"Kamu jadi malam ini mau ke rumah? Mama akan siapkan makan malam spesial di hari pertama kamu kerja. Gimana tadi di klinik?"

Reinhart memijat pelipisnya pelan. Hari pertamanya di klinik cukup melelahkan dan ia ingin istirahat saja di apartemen.

"Maaf, Ma. Kayaknya aku gak bisa datang malam ini. Hari ini capek banget rasanya."

Terdengar helaan napas dari seberang sana. Reinhart tak enak hati menolak, tapi mau bagaimana lagi? Hari ini ia tak ingin pergi kemanapun. Bahkan untuk makan malam, Reinhart berencana akan memesan lewat online saja.

"Ya sudah, kalau kamu lelah. Kamu istirahat saja! Untuk acara makan malamnya bisa ditunda kapan-kapan."

Telepon langsung terputus saat Reinhart ingin menjawab lagi.

"Cih, untuk apa sok peduli kalau ujung-ujungnya hanya akting belaka?" Reinhart membanting ponselnya ke ranjang. Inilah salah satu alasan kenapa ia ingin keluar dari rumah itu. Rumah besar penuh kemewahan dan bagaikan surga bagi yang melihatnya. Namun, terlihat seperti benteng besar yang memenjarakan Reinhart.

* * *

Tengah malam Reinhart terbangun dari tidurnya. Napasnya memburu karena ada bayangan seseorang yang tiba-tiba hadir di mimpinya.

"Sial! Kenapa aku sampai memimpikan gadis itu?" Reinhart mengusap wajahnya kasar.

Reinhart meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Beberapa kali panggilannya tidak dijawab. Hingga di panggilan ke lima, suara serak seseorang terdengar di seberang sana.

"Astaga, Rein. Lo tahu gak sekarang jam berapa?" Riyan, sahabat Reinhart terdengar kesal.

"Sorry, Yan. Gue butuh bantuan lo."

"Jam segini?" Riyan melirik jam dinding di kamarnya. Pukul dua dini hari.

"Iya, sorry banget ya." Reinhart terdengar menyesal.

"Cepetan bilang ada apaan?"

"Lo kan staf admin di kampus. Gue minta tolong lo kirim data mahasiswa baru jurusan kedokteran sekarang juga."

"Sinting! Buat apaan data mahasiswa baru?"

"Gue gak bisa bilang sekarang. Please tolongin gue, Yan." Suara Reinhart terdengar frustrasi hingga membuat Riyan tidak tega.

"Ya udah iya. Lo tunggu bentar. Gue harus buka laptop dulu. Tapi, lo harus janji jangan salah gunakan data-data itu. Ngerti?"

"Iya, gue ngerti. Lo tenang aja. Gue gak bakal macam-macam kok."

"Ya udah, tutup telponnya. Nanti gue kirim datanya via whatsapp."

"Thanks banget ya, Yan. Lo emang bisa diandelin."

* * *

Reinhart mondar mandir tidak tenang menunggu pesan dari Riyan. Entah kenapa hatinya tidak tenang sebelum tahu tentang Anisa.

"Lama banget sih?" Reinhart berencana akan menghubungi Riyan lagi, tapi akhirnya ia urungkan. Bisa saja Riyan marah dan tidak jadi memberikan data itu padanya.

"Aku tunggu aja deh!"

Tak lama kemudian, ponsel Reinhart bergetar. Matanya berbinar senang saat melihat jika Riyan yang mengiriminya pesan.

Reinhart segera membuka pesan yang berformat pdf itu. Matanya fokus menatap satu demi satu daftar nama mahasiswa baru jurusan kedokteran. Lebih mudah untuk mencari karena ada foto mereka juga disana.

Bibir Reinhart tertarik ke atas saat melihat wajah yang beberapa jam ini menghantuinya.

"Ini dia. Dia bernama ... Anisa Maharani."

Reinhart tak hentinya senyam-senyum sendiri menatap foto Anisa.

"Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak. Sampai bertemu besok, Anisa Maharani."

*****

Seperti hari kemarin, Anisa tetap melakukan aktifitasnya sebagai mahasiswa baru.

"Lho? Nisa? Kupikir kamu izin hari ini." Rhea cukup terkejut dengan kehadiran Anisa.

"Aku baik-baik aja kok." Anisa mengulas senyum.

Saat terdengar pengumuman untuk kumpul di lapangan, Anisa dan Rhea segera menuju ke sana. Namun, tiba-tiba saja sebuah pengumuman lain dari pengeras suara mengejutkan semua orang yang ada di sana.

"Ehem, cek cek cek. Tes satu dua tiga. Perhatian sebentar semuanya. Bagi mahasiswi bernama Anisa Maharani dari jurusan kedokteran, ditunggu di ruang admin jurusan kedokteran. Sekarang juga! Terima kasih."

Anisa dan Rhea saling pandang dengan raut wajah bingung.

"U-untuk apa aku ke ruang admin?" gumam Anisa mulai panik sendiri.

"Udah deh, mendingan kamu langsung ke sana aja dulu." Rhea mendorong pelan tubuh Anisa.

Dengan langkah yang sedikit ragu, Anisa berjalan menuju ke ruang admin.

"Sebenarnya ada apa sih?" Anisa masih tak mengerti dengan yang sedang terjadi.

Begitu tiba di depan ruang admin, Anisa mengetuk pintu.

"Masuk!" Terdengar suara dari dalam ruangan itu.

"Permisi, Pak. Apa Bapak memanggil saya?" Anisa masuk sambil bicara sendiri. Ia celingukan mencari sosok yang suaranya terdengar tadi.

"Sudah datang rupanya." Reinhart keluar dari persembunyiannya dengan wajah tampan dan senyum manis untuk menyambut Anisa.

"Do-dokter? Dokter ngapain ada di sini?" Anisa sangat terkejut melihat kehadiran Reinhart di ruangan itu.

"Perkenalkan, nama saya Reinhart. Nama kamu ... Anisa kan?" Reinhart mengulurkan tangannya.

Anisa merasa sudah dibodohi dengan tingkah aneh Reinhart kemarin dan hari ini. Anisa menggeleng pelan. Sungguh ia tak habis pikir dengan si Reinhart ini. Ia tak menyambut tangan Reinhart yang masih terulur.

"Dasar aneh!" Anisa berbalik badan dan bersiap pergi.

"Meski kamu pergi saya akan panggil kamu lagi untuk datang. Jadi, sebaiknya kamu menurut saja."

Anisa mengepalkan tangan. "Mau dokter apa sih? Kenapa ganggu saya?"

"Saya gak mau ngapa-ngapain kok. Saya hanya mau memastikan kalau kondisi kamu baik-baik saja. Kamu itu sedang hamil, Anisa. Sebaiknya jangan memaksakan diri untuk mengikuti upacara pelantikan mahasiswa baru. Itu akan membuatmu kelelahan."

Lagi dan lagi Anisa tertegun mendengar pernyataan Reinhart. Kenapa Reinhart terus membahas soal kehamilannya?

"Sa-saya tidak hamil." Anisa berusaha mengelak.

"Kamu tidak bisa membodohi saya, Anisa. Saya seorang dokter. Dan dari pemeriksaan sekilas kamu memang sedang hamil."

Anisa memejamkan mata. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ia mengingat semua hal yang terjadi padanya beberapa bulan ini.

"Andai saja semua itu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan berada dalam masalah begini."

"Istirahatlah saja dulu disini. Tempat ini aman kok," pinta Reinhart.

"Apa yang harus kulakukan?" 

Apa Anisa menerima tawaran Reinhart?

Ingatan Kala Itu

Anisa duduk termenung sendirian di sofa empuk ruang administrasi itu. Akhirnya ia setuju untuk mengikuti saran Reinhart agar tidak mengikuti upacara mahasiswa baru.

Mata Anisa menatap sekeliling ruangan. Entah ruangan siapa yang ia tinggali saat ini. Ruangannya cukup nyaman dan membuat Anisa rileks.

Anisa memejamkan mata sejenak. Ingatannya tertuju pada tiga bulan lalu di hari semua ini bermula. Hari dimana ia berada di titik terendah dalam hidupnya hingga memutuskan untuk melakukan semua ini.

*

*

*

Tiga bulan lalu . . .

"Bagaimana kondisi Ibu saya, Dok?" Dengan wajah pucatnya Anisa bertanya pada dokter pria paruh baya itu.

"Ummm begini Nak Anisa, secepatnya Ibumu harus segera dioperasi. Untuk masalah donor ... sudah kami tangani. Sekarang tinggal Nak Anisa mengurus administrasinya."

Mulut Anisa terkunci rapat setelah mendengar penjelasan dokter Richard. Hanya itu masalah Anisa sekarang. Uang. Ia tidak memiliki uang untuk membuat ibunya kembali sehat seperti dulu.

Anisa terduduk lemas di bangku tunggu rumah sakit.

"Ya Allah, aku harus bagaimana?"

"Yang sabar ya, Nak Nisa." Dokter Richard menepuk bahu Anisa kemudian berlalu.

Anisa mengusap air matanya yang mulai mengalir deras. Di dunia ini dirinya tidak memiliki siapapun lagi kecuali ibunya.

Anisa bangkit dari duduknya dan berencana pulang ke rumah kontrakannya. Mungkin saja ia bisa menemukan barang berharga milik ibunya yang bisa dijual.

"Semoga saja di rumah ada barang milik ibu yang bisa dijual."

*****

Setibanya di rumah kontrakan kecil tempat Anisa dan ibunya tinggal selama ini, Anisa langsung menuju ke kamar ibunya. Ia buka lemari pakaian milik Rahayu dan mencari barang berharga peninggalan mendiang ayahnya.

Anisa mendesah kasar. Tidak ada satupun barang yang bisa ia jual. Anisa duduk di tepi ranjang dengan raut wajah sedih.

Tiba-tiba saja Anisa melihat ada sesuatu di lemari pakaian ibunya. "Apa itu?"

Anisa mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah foto.

"Foto siapa ini?" Anisa membalik lembar foto dan melihat ada nama dan alamat tertera di sana.

"Ridho Ilahi dan Reni Sanjaya? Siapa dia?" Anisa menatap foto pria dan wanita serta rumah yang ada di belakang mereka.

Ingatan Anisa tertuju pada cerita ibunya saat masih sehat jika sang ayah, Rizky Sanjaya memiliki saudara perempuan.

"Mungkinkah jika mereka adalah ... keluargaku?"

Anisa buru-buru mengusap air matanya. "Aku harus menemui mereka. Pasti mereka bisa membantuku."

Anisa bergegas pergi keluar sambil membawa foto yang tertera alamat. Anisa memanggil ojek dan menyebutkan alamat yang akan ia tuju.

*****

Tatapan Anisa terperangah melihat rumah mewah yang ada di depannya.

"Pak, alamatnya benar kan?" tanya Anisa pada si driver ojek.

"Benar, Mbak. Ini sesuai dengan yang tertulis di foto itu."

Anisa mengangguk. "Baik, terima kasih. Ini ongkosnya, Pak."

Anisa menekan bel yang ada di depan pintu gerbang. Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk Anisa.

"Permisi, Bu. Apa benar ini rumah Pak Ridho Ilahi?"

"Iya, benar. Non ini siapa ya?" tanya balik si wanita paruh baya.

"Saya Anisa. Putrinya Pak Rizky Sanjaya. Bisa saya bertemu dengan Pak Ridho?"

"Mari silakan masuk, Non. Saya panggilkan Nyonya Reni dulu."

Dengan sopan Anisa masuk ke dalam rumah yang termasuk mewah. Anisa menatap sekeliling bangunan rumah berlantai dua itu.

"Jika adik ayah saja memiliki rumah yang besar begini ... apa jangan-jangan ayah berasal dari keluarga berada? Tapi kenapa ayah tidak pernah berhubungan dengan keluarganya lagi?" Anisa berbicara dalam hati.

"Berani sekali kamu datang kemari hah!" Suara menggelegar memenuhi ruang tamu hingga membuat Anisa terperanjat kaget.

"Ta-tante?" Anisa tergagap seketika. Jelas sekali tergambar raut wajah marah di wajah wanita bernama Reni itu.

"Tante? Siapa yang kamu panggil tante hah?! Pergi kamu dari sini! Untuk apa kamu kemari hah?" Reni mendorong tubuh Anisa.

"Tante, tolong ibu saya." Anisa mencoba mengiba, siapa tahu Reni bisa luluh.

"Dasar tidak tahu diri! Setelah ibumu merebut Mas Rizky dari hidup kami, kamu datang untuk meminta tolong? Aku tidak sudi membantumu. Pergi dari sini!"

"Tante! Saya mohon, Tante. Ibu sedang sakit. Dia butuh biaya untuk operasi. Tolonglah, Tante. Hanya Tante satu-satunya keluarga kami." Anisa merendahkan diri memohon pada Reni.

"Tidak! Aku tidak akan pernah membantumu! Pergi dari sini!" Sekali lagi Reni mendorong tubuh Anisa hingga terhuyung dan jatuh di lantai.

Mendengar keributan di dalam rumahnya, Ridho buru-buru menghampiri.

"Ada apa ini? Ma, jangan begini. Bagaimanapun juga Anisa adalah keponakanmu."

"Aku tidak sudi menganggap dia dan ibunya sebagai keluarga apalagi keponakan." Reni melenggang pergi meninggalkan Anisa dan Ridho.

Anisa menangis sedih mendengar kalimat menyakitkan dari mulut tantenya sendiri.

"Anisa, bangunlah." Ridho membantu Anisa untuk berdiri.

"Om, aku harus bagaimana? Ibu membutuhkan biaya untuk operasi. Aku harus minta tolong pada siapa lagi? Aku tidak punya siapapun, Om..." Anisa terisak di depan Ridho.

"Tolong pahami posisi tantemu. Saat ini dia sedang emosi. Jadi, tunggulah hingga dia lebih tenang. Om akan bicara dengannya. Tinggalkan nomer telponmu. Om akan menghubungimu jika tantemu sudah lebih tenang."

Anisa mengangguk. "Terima kasih banyak, Om. Maaf jika kedatanganku ... membuat suasana jadi tidak nyaman."

"Tidak apa-apa. Kalau boleh tahu, di rumah sakit mana ibumu dirawat?"

"Di rumah sakit Harapan Anda. Kalau begitu, aku permisi dulu, Om. Maaf jika aku mengganggu waktu Om dan tante. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam." Ridho menatap iba kepergian Anisa tanpa bisa berbuat apapun.

*****

Keesokan harinya, Anisa kembali datang ke rumah sakit. Hatinya begitu sedih karena tak bisa mendapatkan bantuan untuk biaya operasi Rahayu.

Dokter Richard datang menemui Anisa yang sedang duduk di bangku tunggu depan kamar rawat ibunya dan kembali menanyakan perihal biaya operasi. Namun, jawaban Anisa hanyalah gelengan lemah. Dokter Richard langsung paham dan tak bertanya lagi.

"Ya sudah. Jika memang kamu tidak mendapatkan bantuan dari keluarga terdekatmu, maka tunggulah sampai ada keajaiban datang. Percayalah jika Tuhan pasti akan membantu umat-Nya," ucapnya menyemangati Anisa.

Anisa hanya menggangguk pasrah. "Ya Allah..." Air mata Anisa kembali luruh. Ia tak ingin kehilangan satu-satunya orang yang ia sayangi di dunia.

"Ibu... Tolong bertahanlah sampai Nisa bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi ibu," gumamnya lirih.

Tanpa Anisa duga, seorang wanita cantik tinggi semampai tiba-tiba duduk di samping Anisa.

"Apa kamu ... sedang butuh uang?"

Pertanyaan wanita itu membuat Anisa menoleh. Dengan polosnya Anisa mengangguk.

"Aku ... bisa membantumu."

"Eh? Be-benarkah, Nyonya?" Wajah sembab Anisa tiba-tiba bersinar cerah. Begitu cepatkah doanya terkabul?

"Iya, tentu saja. Aku tidak bohong. Berapa uang yang kamu butuhkan?"

Anisa menelan ludahnya dengan susah payah. "Ti-tiga ratus juta."

Wanita cantik itu tersenyum penuh arti. "Oke, akan kuberikan. Tapi, ada syaratnya."

"Eh? A-apa syaratnya?" Wajah Anisa terlihat menegang. Ia takut jika wanita cantik ini memberikan syarat yang aneh.

"Menikahlah dengan suamiku."

"A-apa?!"

*

*

*

Lamunan Anisa tentang ingatan kala itu buyar seketika saat mendengar bunyi pintu yang terbuka. Rupanya sosok Reinhart masuk ke ruang admin kembali.

"Acaranya sudah selesai. Kamu boleh keluar dari sini," ucapnya.

Anisa mengangguk pelan. "Terima kasih."

"Besok datang langsung saja kemari dan jangan mengikuti upacara."

"Tapi, besok adalah hari terakhir upacara penyambutan. Saya..."

"Tolong menurut saja, Anisa. Ini demi kebaikan kamu dan juga ... bayimu."

Anisa merasa tertohok saat Reinhart membahas soal kehamilannya.

"Kenapa dokter melakukan ini? Apa dokter ingin mengolok-olok saya?" Anisa tak suka jika Reinhart terus membahas soal kehamilannya.

Reinhart menggeleng. "Tidak, justru saya sedang membantu kamu. Tolong jangan salah paham. Lagi pula, kampus ini tidak melarang mahasiswa untuk menikah saat masih kuliah. Atau mungkin kamu dan suami kamu sepakat untuk menyembunyikan persoalan ini. Saya tidak masalah. Saya akan jaga rahasia kamu. Saya janji."

Kalimat panjang lebar Reinhart tak mendapat jawaban dari Anisa. Gadis itu hanya diam dan tak ingin menanggapi.

"Terima kasih atas bantuan dokter hari ini. Besok tidak perlu melakukan hal aneh seperti ini lagi. Saya bisa jaga diri saya sendiri. Permisi!" Anisa keluar dari ruangan itu tanpa menatap Reinhart sama sekali.

Reinhart tersenyum simpul mendengar ucapan Anisa. "Semakin kamu menolak, aku akan semakin mendekat, Anisa Maharani. Aku harus cari tahu apa benar kamu sudah menikah atau ...."

Reinhart menggeleng kuat. "Tidak! Aku yakin dia adalah gadis baik-baik. Dia juga gadis pertama yang membuatku berdebar untuk pertama kali." Reinhart memegangi dada kirinya dengan tangan sambil terus mengulas senyum.

*

*

*

*

*

Epilog

Reinhart sengaja berangkat lebih pagi agar bisa melihat Anisa. Entah kegilaan apa yang dipikirkannya kali ini. Ia meraih ponsel dan menghubungi nomor Riyan.

"Halo, Yan. Lo dimana?"

"Di ruangan. Kenapa?"

"Bagus. Lo bisa bantu gue lagi kan?"

Riyan berdecak. "Apa lagi kali ini, Rein?"

"Tolong lo umumin pakai pengeras suara di ruang siaran kampus, suruh mahasiswi yang bernama Anisa Maharani dari jurusan kedokteran datang ke ruangan lo."

"What? Lo bener-bener ya!"

"Yan, please. Umumin pas upacara mahasiswa baru akan dimulai. Oke?"

Reinhart memutus sambungan secara sepihak.

Di seberang sana, Riyan mengumpati ponselnya yang sudah menghitam.

"Haish, kalau bukan karena lo adalah putra pemilik yayasan, gue mana mau ngelakuin hal aneh kayak gini. Lagian dia ... kenapa terobsesi sama cewek bernama Anisa ini sih? Gue jadi penasaran kayak apa cewek yang lagi dideketin si Rein. Ini pertama kalinya dia tertarik sama cewek. Semoga ini pertanda bagus." Riyan segera beranjak ke ruang siaran dan melakukan perintah Reinhart.

Dua Wanita Hamil

Reinhart duduk termenung sambil mengusap wajahnya. Sepeninggal Anisa tadi, ia merasa bersalah karena terlalu ikut campur urusan gadis itu. Namun, sebuah bisikan selalu menuntunnya agar terus mendekati Anisa.

"Jadi, dia gadis yang lo incar? Lumayan juga. Berhijab dan kelihatannya baik." Riyan masuk ke ruangannya dan duduk di samping Reinhart.

"Ada apa? Apa cara tadi gak berhasil?"

Reinhart menggeleng pelan. Wajahnya menampakkan kesedihan dan kekecewaan pada dirinya sendiri.

Riyan menepuk bahu Reinhart untuk memberinya semangat.

"Jangan nyerah dulu, Bro. Tuh cewek pasti butuh waktu buat mencerna semua ini. Pelan-pelan aja. Gue yakin dia bakalan luluh kok."

"Masalahnya bukan cuma itu, Yan."

"Trus apa?" Riyan mengerutkan dahi.

"Kemungkinan besar dia ... udah punya suami."

Riyan menutup mulutnya yang menganga. "Serius lo?"

Reinhart mengedikkan bahu. Riyan tak berani bertanya lebih lanjut. Ia takut jika mood Reinhart makin memburuk.

*****

Anisa berjalan memasuki rumah kontrakannya. Tak lupa ia mengucap salam saat membuka pintu.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumsalam. Kamu udah pulang, Nak?" Rahayu menyambut kedatangan Anisa.

"Baunya harum banget. Ibu masak ya?"

"Iya, Ibu tadi belanja ke pasar dan beli ikan salmon."

Anisa mengernyit. "Ikan salmon kan mahal, Bu."

Rahayu tersenyum kecil. "Ini kan demi kesehatan kamu. Gak apa lah beli makanan yang bergizi untuk ibu hamil."

Anisa mendesah pelan. "Bu..."

"Ganti bajumu dulu lalu makan. Ya?" Rahayu melenggang pergi menuju dapur untuk menyelesaikan masakannya.

Anisa menatap sendu punggung ibunya. Bukannya Anisa tak suka dengan perhatian Rahayu. Anisa sungguh merasa bersyukur karena bisa melihat ibunya kembali sehat seperti dulu.

Namun, Anisa merasa jika hidupnya kelak tidak akan lagi sama seperti dulu. Ada janin yang harus ia jaga hingga waktunya lahir nanti.

Anisa masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Ingatannya kembali mengelana saat di kampus tadi. Apa yang dilakukan Reinhart sungguh mengusik batinnya.

"Sebenarnya apa maunya dokter itu? Kenapa dia melakukan ini padaku?"

Anisa merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya.

"Mulai besok aku harus menghindar darinya. Kalau dia terus mendekat, bisa-bisa ada yang tahu soal kehamilanku ini."

Anisa menggeleng kuat. "Aku harus bisa menutupi semua ini hingga bayi ini lahir."

*****

Keesokan harinya, Anisa berangkat ke kampus dengan mengendap-endap. Ia tak ingin berjumpa dengan Reinhart lagi. Bahkan jika pria itu melakukan hal yang sama seperti kemarin, Anisa akan memilih tempat lain saja dari pada datang ke ruang admin.

"Anisa!" Sapaan Rhea membuat Anisa menoleh.

"Eh, Rhea? Mau langsung ke lapangan atau..."

"Kamu yakin baik-baik aja, Nis? Wajah kamu masih kelihatan pucat gitu."

"Masa sih?" Anisa memegangi kedua pipinya. "Udah yuk langsung ke lapangan aja."

"Janji ya, kalau ada apa-apa kamu langsung bilang aku."

Anisa mengangguk. "Iya, Rhea sayang..."

Akhirnya Anisa memutuskan untuk mengikuti upacara penutupan penerimaan mahasiswa baru kampus Harapan Bangsa. Sebenarnya sejak bangun tidur tadi, Anisa merasa perutnya terus bergejolak. Ia mulai merasakan morning sickness seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya.

Setelah upacara selesai, Anisa dan Rhea mendengar kehebohan dari arah samping mereka.

"Ada apaan sih?" tanya Anisa.

"Wah, kayaknya anak-anak baru pada berebut minta foto sama dokter Reinhart. Itu lho dokter klinik yang waktu itu aku ceritain ke kamu."

Anisa tersenyum kecut mendengar pernyataan Rhea.

"Yuk, Nis. Kita ikutan ngantri juga kesana."

"Hah? A-aku..." Anisa merasakan perutnya kembali mual. "Kamu aja duluan. Nanti aku nyusul."

Rhea tak menunggu jawaban Anisa dan langsung melenggang pergi. Rupanya pesona Reinhart mampu menghipnotis para gadis.

Anisa berlarian mencari tempat yang cukup aman untuk memuntahkan isi perutnya. Anisa ingat jika lapangan olahraga biasanya cukup sepi. Ada wastafel umum yang biasa digunakan para mahasiswa setelah berolahraga.

"Uweeeeekkk, uweeeekkk." Anisa merasa tenggorokannya kering setelah memuntahkan makanan yang dimakannya pagi tadi.

Anisa merasa lebih lega setelah muntah. Ia menyeka bibirnya dengan tangan.

"Ini! Minumlah jus untuk mengurangi rasa mualmu."

Anisa menatap sebotol jus yang disodorkan Reinhart.

"Maaf, saya tidak bisa menerima ini." Anisa mengembalikan botol jus ke tangan Reinhart.

"Tolong terimalah! Saya tidak punya niat buruk terhadapmu." Setelahnya Reinhart melenggang pergi tanpa mengucap apapun lagi.

Anisa tertegun menatap kepergian Reinhart. Ia tatap lagi botol jus pemberian Reinhart lalu menghela napas panjang.

Anisa memegangi perutnya yang kini merasa lapar lagi usai muntah. Ia ambil botol jus itu lalu mencari tempat duduk untuk minum.

"Alhamdulillah," ucapnya sambil menatap botol jus yang habis setengahnya.

Dari kejauhan, Reinhart tersenyum melihat Anisa yang meminum jus pemberiannya.

"Sepertinya benar apa kata Riyan. Pelan-pelan saja untuk mendapatkan balasan dari Anisa."

*****

Reinhart berjalan kembali ke klinik dan melihat tidak ada lagi kerumunan di sana. Beruntung ia segera pergi dari klinik saat tahu para mahasiswi baru datang untuk berfoto dengannya. Reinhart menumbalkan Riyan untuk menggantikannya berfoto.

"Sialan lo! Gara-gara lo gue jadi begini." Riyan membenahi penampilannya yang berantakan.

Reinhart malah tertawa. "Bukannya lo malah seneng ya direbutin sama cewek-cewek?"

"Seneng apaan? Apes iya!"

Reinhart menggeleng pelan. "Thanks banget ya. Lo emang selalu bisa diandalkan." Reinhart menepuk bahu Riyan.

"Trus? Usaha lo berhasil gak buat deketin dia?"

Reinhart mengangguk. "Hmmm, pelan-pelan aja kayak yang lo bilang."

Getaran di ponsel Reinhart membuat obrolan dengan Riyan terhenti.

"Ada apa?" tanya Riyan.

"Kakak gue, tumben banget dia kirim pesan."

"Pesan apa?"

"Nanti malam dia nyuruh gue ke rumah utama." Wajah Reinhart berubah tegang usai menerima pesan dari Rendra, sang kakak.

Malam harinya, Reinhart memenuhi undangan Rendra untuk datang ke rumah utama. Sosok Rindi, sang mama langsung menyambutnya.

"Akhirnya kamu bisa datang juga. Ayo masuk, mama sengaja masak yang spesial karena ada dua hal spesial malam ini."

"Dua hal spesial?"

"Iya. Kakakmu akan mengumumkannya nanti. Ayo kita langsung ke ruang makan saja."

Setibanya di ruang makan, rupanya semua orang sudah berkumpul di sana. Kakek Reinhart, Raka Kramawijaya, menatap tajam ke arah cucu bungsunya.

"Apa kamu tidak akan datang menemui pria tua ini jika tidak ada yang memintamu datang hah?!" geram Raka.

"Maafkan aku, Kek. Aku akan lebih sering datang menemui Kakek." Reinhart membungkuk hormat di depan Raka.

"Nah, karena semua anggota keluarga sudah datang. Malam ini aku dan Raisa punya pengumuman untuk kalian semua," seru Rendra.

Reinhart duduk dan memperhatikan kakak serta kakak iparnya yang saling bertautan tangan.

"Ada apa ini? Kalian membuat Mama deg-degan saja." Rindi memegangi dadanya.

"Raisa hamil," ujar Rendra.

Binar bahagia terlihat di wajah Rindi. "Benarkah? Mama sangat senang mendengarnya. Selamat ya, Sayang." Rindi beranjak dari duduknya dan memeluk Raisa, sang menantu.

Sementara ketiga orang itu merayakan kehamilan Raisa, Raka dan Reinhart hanya diam dan tak menanggapi perihal kehamilan Raisa.

"Kak Raisa hamil?" gumam Reinhart diiringi senyum tipis menghias wajahnya. "Kenapa aku malah ingat tentang Anisa? Dia juga sedang hamil. Apa keluarganya ... juga bersukacita seperti yang dilakukan Kak Rendra dan Kak Raisa?"

Di tempat berbeda, Anisa sedang duduk di teras rumah sambil menatap botol jus pemberian Reinhart siang tadi.

"Apa aku ... terlalu keras padanya? Kurasa dia tulus membantuku. Tapi, aku malah terus berkata ketus padanya." Anisa memejamkan matanya sejenak merasakan hembusan angin malam yang menerpa wajahnya.

"Nak, sudah malam. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." Rahayu menghampiri Anisa.

"Iya, Bu." Anisa beranjak dari duduknya lalu memeluk sang ibu.

"Ada apa, Nak? Apa perutmu kram lagi?"

Anisa menggeleng. Entah kenapa mendapat perhatian dari Reinhart membuatnya berkaca-kaca. Ia merasa tak pantas diperlakukan dengan baik oleh Reinhart.

"Andai saja dia tahu apa yang terjadi padaku, mungkin dia tidak akan mau bertemu lagi denganku."

Rahayu mengusap punggung Anisa lembut. "Maafkan Ibu, Nak. Karena Ibu kamu harus berkorban begini. Maafkan Ibu..."

Dan akhirnya dua orang berbeda generasi itu terisak dalam tangis memecahkan kesunyian malam. Entah apa yang akan terjadi esok, Anisa masih belum tahu garis takdirnya akan seperti apa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!