Bab 1 Mimpi Buruk
Darah mengalir di sela jemari Arjuna.
Ia berlutut di lantai batu yang dingin, napasnya tersangkut seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik lehernya. Di hadapannya, kain putih yang dulu pernah dipakai Anindya dalam upacara pernikahan mereka sudah berubah merah. Bukan merah bunga kenanga di taman keraton. Merah yang pekat, panas, dan berbau besi.
"Anindya."
Suaranya keluar patah. Perempuan itu tidak menjawab.
Di kejauhan, suara tawa Baskara menggema dari balik asap dan api. Pendopo Agung runtuh sebagian. Tombak beradu dengan pedang. Ada seruan nama Baginda, ada jeritan abdi dalem, ada suara cap kerajaan dijatuhkan ke lantai seperti benda tak lagi berarti.
Namun Arjuna tidak mendengar apa pun selain napas Anindya yang semakin tipis.
Ia mengangkat tubuh istrinya ke pangkuan, menekan telapak tangan pada luka yang tidak mau berhenti mengalir. Dulu ia selalu terlambat. Terlambat memahami isi hatinya. Terlambat melihat orang-orang yang berkhianat. Terlambat percaya bahwa wanita yang selalu ia jaga jaraknya itulah satu-satunya orang yang tetap berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menjauh.
"Jangan tidur," bisiknya. "Adinda, lihat aku."
Bulu mata Anindya bergerak sedikit. Matanya terbuka, sayu, tapi masih memantulkan wajahnya.
"Kakanda..." Suaranya hampir hilang. "Kalau ada kehidupan lain, jangan... jangan biarkan aku menunggu sendirian."
Sesuatu di dada Arjuna pecah.
Ia ingin menjawab. Ia ingin bersumpah. Ia ingin menukar seluruh takhta, seluruh darah Wicaksana, bahkan napas terakhirnya sendiri, asal mata itu tidak tertutup.
Tetapi tangan Anindya jatuh lebih dulu.
"Tidak!"
Arjuna tersentak bangun.
Keringat membasahi punggungnya. Dadanya naik turun, keras dan tak teratur. Untuk beberapa saat ia tidak tahu di mana dirinya berada. Api, darah, dan tubuh Anindya masih melekat di kelopak matanya. Tangannya bergerak panik di atas selimut, mencari kain putih yang tadi berubah merah, mencari nadi di pergelangan tangan istrinya.
Yang tersentuh hanya sutra dingin.
Kamar itu gelap, diterangi nyala pelita kecil di sudut ruangan. Aroma cendana dari dupa malam masih mengambang tipis. Di luar jendela, hujan belum turun, tapi angin awal musim membawa bau tanah basah dari taman Puri Timur.
Puri Timur.
Arjuna membeku.
Ia menatap tiang kayu berukir di samping ranjang. Tirai batik biru tua. Meja rendah dari kayu sonokeling. Keris kecil pemberian mendiang ibunya yang terletak rapi di atas nampan perak.
Semua ini sudah lama tidak ia lihat.
Dalam kehidupan terakhirnya, Puri Timur telah terbakar pada malam pemberontakan. Tiang ini patah. Tirai ini menjadi abu. Keris kecil itu hilang bersama banyak hal lain yang tidak sempat ia selamatkan.
Tetapi sekarang semuanya utuh.
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Yang Mulia?" Suara Adi terdengar cemas. "Hamba mendengar Yang Mulia berteriak. Apakah Yang Mulia sakit?"
Arjuna tidak langsung menjawab. Pandangannya jatuh ke tangannya sendiri. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Jarinya masih panjang dan kuat, bukan tangan sekarat yang gemetar di antara reruntuhan.
Ia turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin. Rasa dingin itu nyata.
"Masuk," katanya.
Pintu terbuka. Adi masuk tergesa, masih mengenakan kain luar yang belum terikat sempurna. Wajah pemuda itu pucat, matanya cepat memeriksa keadaan kamar, seolah takut menemukan sesuatu yang mengancam nyawa tuannya.
"Yang Mulia berkeringat banyak." Adi menunduk, tapi kegelisahan membuatnya berani mengangkat mata. "Hamba panggil Tabib Kerajaan Suradi?"
Arjuna menatapnya lama.
Adi masih hidup.
Dalam kehidupan sebelumnya, Adi mati di depan gerbang Puri Timur, menahan pasukan Baskara dengan tubuhnya sendiri agar Arjuna sempat keluar. Pemuda itu bahkan tidak sempat mengucapkan pesan terakhir. Yang tertinggal hanya kain selempang yang robek dan darah di tangga batu.
Tenggorokan Arjuna terasa sakit.
"Tanggal berapa malam ini?" tanyanya.
Adi terkejut. "Yang Mulia?"
"Jawab."
"Malam ketujuh bulan Waisaka, Yang Mulia." Adi menelan ludah. "Besok pagi ada sayembara pemilihan pendamping Pangeran Mahkota di Balai Agung. Apakah Yang Mulia lupa karena terlalu letih?"
Sayembara.
Jantung Arjuna menghantam rusuknya.
Besok adalah hari ia pertama kali melihat Dewi Anindya sebagai calon istrinya. Hari ketika ia, dengan kebodohan yang dibungkus kebanggaan, memilihnya karena perhitungan politik, lalu membiarkan jarak tumbuh di antara mereka. Hari ketika Permaisuri Ratih tersenyum tipis karena yakin ia bisa mengarahkan hati seorang putra mahkota semudah memindahkan bidak di papan catur.
Tiga tahun.
Ia kembali ke tiga tahun sebelum semuanya berakhir.
Arjuna berjalan ke meja. Di sana ada gulungan jadwal upacara, masih tersegel dengan lilin merah Badan Upacara. Ia membuka segelnya dengan jari yang sedikit gemetar. Nama-nama keluarga bangsawan tertulis rapi. Salah satunya membuat napasnya berhenti.
Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana.
Tinta hitam itu sederhana, hanya satu baris di antara banyak nama. Namun bagi Arjuna, baris itu seperti seseorang membuka pintu dari makam yang gelap.
Ia menyentuh nama itu.
Adi makin cemas melihatnya. "Yang Mulia, tangan Yang Mulia dingin sekali. Hamba benar-benar harus memanggil tabib."
"Tidak perlu."
"Tapi..."
Arjuna menoleh. Tatapannya membuat Adi langsung menunduk.
"Tidak ada seorang pun yang boleh tahu aku terbangun seperti ini."
"Baik, Yang Mulia."
"Katakan pada Bagus untuk mengganti penjagaan luar. Pilih orang yang tidak banyak bicara. Semua pelita di koridor barat tetap menyala sampai pagi."
Adi mengangguk cepat. "Sesuai perintah."
"Dan panggil Garuda. Diam-diam."
Kali ini Adi benar-benar mengangkat kepala. "Garuda, Yang Mulia? Malam ini?"
"Malam ini."
Adi menahan banyak pertanyaan di balik bibirnya. Pada akhirnya ia hanya menunduk lebih dalam. "Hamba mengerti."
Setelah Adi keluar, kamar kembali sunyi.
Arjuna berdiri di depan meja, menatap gulungan nama itu seolah takut nama Anindya akan menghilang bila ia berkedip. Di luar, angin menabrak daun-daun sawo kecik di halaman Puri Timur. Suaranya pelan, seperti bisikan masa lalu yang belum rela pergi.
Ia mengambil keris kecil dari nampan perak. Bilahnya tidak terhunus. Sarungnya dingin di telapak tangan.
Dulu ia mengira musuh terbesarnya adalah Baskara. Lalu ia mengira Permaisuri Ratih. Kemudian, saat semuanya sudah terlambat, ia melihat wajah Prabu Naradewa di balik semua dosa lama, semua darah yang disembunyikan di bawah karpet istana, semua kematian yang disebut pengorbanan demi kerajaan.
Mereka semua masih hidup sekarang.
Mereka semua belum tahu bahwa orang yang pernah mereka bunuh telah membuka mata lagi.
Pintu rahasia di belakang rak kayu bergerak tanpa suara. Seorang lelaki berpakaian gelap muncul dan berlutut dengan satu kaki.
"Garuda menghadap, Yang Mulia."
Arjuna tidak menoleh. "Mulai malam ini, setiap kabar dari Puri Baskara, Puri Candra, dan kediaman Permaisuri Ratih harus sampai kepadaku sebelum matahari terbit."
Garuda diam sejenak. Perintah itu terlalu besar untuk malam sebelum sayembara, tapi ia tidak bertanya. "Siap."
"Jangan gunakan orang lama yang mudah dikenali. Bangunkan jalur yang pernah kita siapkan di Pasar Sentosa."
"Raden Darmawan akan diberi tanda?"
Nama pamannya membuat dada Arjuna menghangat sekaligus nyeri. Dalam kehidupan lalu, ia juga terlambat mempercayai Darmawan.
"Belum. Untuk malam ini, cukup mata dan telinga."
"Siap, Yang Mulia."
Garuda menghilang secepat ia datang.
Arjuna kembali sendirian. Ia menutup jadwal upacara, lalu menekan telapak tangannya di atas segel yang sudah pecah. Pada kehidupan lalu, besok adalah awal dari semua penyesalan. Pada kehidupan ini, besok harus menjadi awal dari perhitungan baru.
Ia tidak akan membiarkan Anindya masuk ke Puri Timur sebagai istri yang kesepian.
Ia tidak akan membiarkan keluarga Jayawardana kembali diinjak oleh dosa lama.
Ia tidak akan membiarkan Baskara, Ratih, atau Naradewa tersenyum di atas makam orang-orang yang ia cintai.
Langkah di koridor terdengar menjauh. Malam masih panjang, tetapi untuk pertama kalinya setelah kematian, Arjuna merasa napasnya benar-benar masuk ke paru-paru.
Ia menatap nama Anindya sekali lagi.
"Kali ini," bisiknya serak, "aku tidak akan kehilangan dia lagi."
Bab 2 Sayembara
Pagi datang terlalu cepat.
Ketika pelita di Puri Timur dipadamkan satu per satu, Arjuna sudah berdiri di depan cermin perunggu dengan jubah kebesaran Pangeran Mahkota melekat di bahunya. Kain batik sogan berlapis benang emas jatuh rapi sampai mata kaki. Keris kecil terselip di pinggang, bukan sebagai hiasan, melainkan pengingat bahwa kehidupan ini tidak boleh lagi ia jalani dengan mata tertutup.
Adi merapikan tepi jubahnya dengan gerakan hati-hati. Sejak semalam, pemuda itu tidak berani banyak bicara. Barangkali ia mengira tuannya sakit, atau sedang memikirkan sayembara.
"Yang Mulia ingin sarapan dahulu?" tanya Adi.
"Tidak."
"Setidaknya wedang jahe, Yang Mulia. Semalam Yang Mulia..."
Arjuna meliriknya lewat cermin.
Adi langsung menunduk. "Hamba lancang."
Arjuna menarik napas pelan. Dalam kehidupan lalu, ia terlalu sering membiarkan orang-orang setia di sekitarnya hanya mengenal sisi dinginnya. Ia tidak bisa berubah menjadi orang lain dalam semalam, tetapi ia tidak ingin mengulang kebutaan yang sama.
"Simpan wedang itu. Aku akan minum setelah kembali."
Wajah Adi sedikit cerah. "Baik, Yang Mulia."
Di luar, bunyi gamelan dari Balai Agung mulai terdengar. Lembut, teratur, dan penuh kemegahan. Hari ini seluruh keluarga bangsawan besar mengirim putri mereka ke keraton. Di mata orang banyak, sayembara ini adalah upacara memilih pendamping Pangeran Mahkota. Di mata Permaisuri Ratih, ini adalah kesempatan memasukkan bidak ke Puri Timur. Di mata Prabu Naradewa, ini cara mengikat keluarga yang paling berguna untuk takhta.
Bagi Arjuna, hari ini adalah hari ia menjemput kembali takdir yang pernah ia sia-siakan.
***
Balai Agung dipenuhi warna. Para putri bangsawan duduk berderet di sisi kanan, ditemani ibu atau kerabat perempuan. Para adipati dan pejabat tinggi berada di sisi kiri. Di tengah, karpet merah terbentang sampai singgasana Prabu Naradewa.
Arjuna memasuki balai dengan langkah tenang.
Semua orang menunduk.
"Pangeran Mahkota tiba."
Suara Ki Ageng Purwa menggema, disusul hening yang tertib. Arjuna memberi hormat kepada Prabu Naradewa yang duduk di singgasana utama. Di sisi raja, Permaisuri Ratih mengenakan kebaya hijau tua dengan tusuk konde emas berbentuk bunga cempaka. Senyumnya halus, nyaris sempurna. Tidak jauh dari sana, Baskara duduk dengan wajah ramah seorang adik yang tampak ikut berbahagia.
Arjuna tahu isi hati mereka.
"Ananda datang tepat waktu," kata Prabu Naradewa. "Bagus. Hari ini bukan hanya urusan rumah tanggamu. Ini urusan kehormatan kerajaan."
"Ananda mengerti, Baginda."
"Maka pilihlah dengan mata jernih."
Arjuna menunduk. "Tentu."
Permaisuri Ratih tersenyum lebih lebar. "Semua putri yang hadir telah disaring oleh Badan Upacara. Mereka berasal dari keluarga baik-baik. Akan tetapi, Pangeran Mahkota tetap harus mempertimbangkan keseimbangan di dalam keraton."
Keseimbangan.
Kata itu pernah menjadi tali yang mengikat lehernya. Demi keseimbangan, ia menahan diri. Demi keseimbangan, ia membiarkan Ratih memasukkan orang-orangnya. Demi keseimbangan, ia membuat Anindya berdiri sendirian di tengah istana yang lapar.
Kali ini tidak.
"Permaisuri benar," jawab Arjuna datar. "Justru karena ini menyangkut keseimbangan, aku harus memilih orang yang tidak mudah dibeli."
Senyum Ratih berhenti sekejap.
Baskara menunduk untuk menyembunyikan kilatan matanya.
Upacara dimulai. Satu per satu putri bangsawan maju. Ada yang membacakan puisi Jawa Kuno, ada yang menjawab pertanyaan tentang tata rumah tangga keraton, ada yang memainkan kecapi kecil. Setiap kali seorang gadis selesai memberi hormat, Ratih menyebutkan kelebihan keluarganya dengan nada lembut.
Ketika Raden Ayu Anggraini maju, bisik-bisik di balai terdengar lebih jelas.
Ia cantik, sadar bahwa ia cantik. Kebayanya berwarna putih gading, rambutnya disanggul rendah, matanya sedikit menunduk seolah malu. Di kehidupan lalu, wajah polos itu menjadi racun yang merusak kepercayaan Anindya.
"Raden Ayu Anggraini dari keluarga Tumenggung Prabowo," kata Ki Ageng Purwa.
Anggraini berlutut anggun. "Hamba memberi hormat kepada Baginda, Permaisuri, dan Yang Mulia Pangeran Mahkota."
Ratih menoleh pada Arjuna. "Raden Ayu Anggraini dikenal lembut dan pandai mengurus rumah besar. Keluarganya setia pada kerajaan."
Setia pada Baskara, tepatnya.
Arjuna tidak membiarkan matanya tinggal lama pada Anggraini. "Bagus."
Hanya satu kata.
Anggraini tampak kehilangan irama. Ia masih tersenyum, tetapi ujung jarinya mencengkeram kain di pangkuan.
Beberapa kandidat lain maju. Arjuna menjawab secukupnya. Tidak kasar, tetapi tidak memberi ruang harapan. Balai mulai gelisah. Banyak orang mengira Pangeran Mahkota memang sedingin kabar yang beredar.
"Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana."
Arjuna merasakan seluruh dunia mengecil menjadi satu garis pandang.
Anindya maju dari deretan kursi. Kebayanya berwarna biru lembut, tanpa perhiasan berlebihan. Di rambutnya hanya ada rangkaian melati kecil. Langkahnya teratur, punggungnya tegak, tetapi Arjuna melihat tangan kirinya menahan ujung kain sedikit lebih erat dari perlu.
Ia gugup.
Dulu ia tidak menyadarinya.
Dulu ia hanya melihat cucu Adipati Agung Jayawardana, sebuah nama besar yang bisa memperkuat kedudukannya. Ia tidak melihat gadis muda yang memasuki sarang keraton dengan seluruh keberanian yang dikumpulkan diam-diam.
Anindya berlutut. "Hamba memberi hormat kepada Baginda, Permaisuri, dan Yang Mulia Pangeran Mahkota."
Suaranya jernih. Tidak terlalu pelan, tidak dibuat manis.
Prabu Naradewa mengamati dengan wajah sulit dibaca. "Cucu Jayawardana."
"Benar, Baginda," jawab Anindya.
"Kakekmu tidak hadir?"
"Eyang Jaya memohon ampun karena kesehatannya belum memungkinkan datang ke Balai Agung. Beliau menitipkan hormat untuk Baginda."
Kebohongan yang rapi. Arjuna tahu Eyang Jaya tidak datang bukan karena sakit, melainkan karena tidak sudi menyaksikan Naradewa memainkan cucunya seperti alat politik. Dalam kehidupan lalu, ia baru memahami keberanian lelaki tua itu bertahun-tahun kemudian.
Ratih tersenyum tipis. "Kadipaten Jayawardana sudah lama tidak terlalu aktif di Majelis Kerajaan. Apakah Gusti Putri terbiasa dengan urusan keraton?"
Pertanyaan itu halus, tetapi cukup tajam untuk membuat beberapa ibu bangsawan menunduk menahan senyum.
Anindya mengangkat wajah sedikit. "Hamba belum berani mengatakan terbiasa, Permaisuri. Namun Eyang mengajarkan hamba membaca laporan lumbung, catatan pajak tanah, dan perjanjian dagang keluarga sejak kecil. Bila keraton membutuhkan seseorang yang mau belajar, hamba akan belajar."
Balai Agung sunyi.
Jawaban itu tidak manis, tetapi kuat.
Arjuna hampir tersenyum.
Ratih mengangkat alis. "Laporan pajak dan dagang?"
"Keluarga Jayawardana pernah menjaga perbatasan, Permaisuri. Prajurit tidak bisa hidup dari pedang saja. Mereka butuh beras, kain, garam, dan jalur dagang yang aman."
Kali ini beberapa adipati tua benar-benar mengangguk.
Arjuna melihat Baskara menggeser posisi duduk. Sekecil apa pun, kegelisahan itu nyata. Baskara tidak suka jika keluarga Jayawardana terdengar berguna di hadapan raja.
Ki Ageng Purwa hendak mempersilakan Anindya kembali ke tempatnya, tetapi Arjuna lebih dulu berdiri.
Gerakan itu membuat seluruh balai terdiam.
"Tunggu."
Anindya membeku di tempat.
Arjuna turun dari undakan Pangeran Mahkota. Tidak ada bagian dalam tata upacara yang mengizinkan seorang pangeran mendekati kandidat sebelum keputusan diumumkan. Karena itulah setiap pasang mata langsung mengikuti langkahnya.
Adi yang berdiri di belakang pilar tampak hampir menjatuhkan nampan.
Arjuna berhenti di depan Anindya. Jarak mereka hanya dua langkah.
"Angkat wajahmu," katanya, suaranya lebih lembut daripada yang biasa didengar orang dari dirinya.
Anindya menurut. Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, Balai Agung, gamelan, Ratih, Baskara, bahkan Prabu Naradewa menghilang dari kesadaran Arjuna. Ia melihat lagi mata yang semalam tertutup di pangkuannya. Mata yang pernah memintanya agar tidak membiarkannya menunggu sendirian.
Tangannya bergerak mengambil bunga melati kecil yang terlepas dari sanggul Anindya dan jatuh di bahunya. Ia tidak menyentuh kulitnya. Hanya mengangkat bunga itu, lalu meletakkannya di atas nampan perak milik Ki Ageng Purwa.
Gerakan sederhana itu membuat bisik-bisik meledak tertahan.
Wajah Anindya memerah tipis. "Yang Mulia..."
"Kamu menjawab dengan baik," kata Arjuna.
Ratih akhirnya bersuara. "Pangeran Mahkota, upacara belum selesai."
Arjuna menoleh ke singgasana. "Baginda meminta Ananda memilih dengan mata jernih."
Prabu Naradewa menyipitkan mata. "Lalu?"
Arjuna berdiri tegak di tengah Balai Agung. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk mencapai sudut terjauh pendopo.
"Ananda memilih Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana sebagai calon Putri Mahkota."
Hening jatuh seperti gong yang dipukul terlalu keras.
Anggraini menatapnya tanpa berkedip. Beberapa ibu bangsawan menutup mulut. Baskara masih tersenyum, tetapi buku jarinya memutih di lengan kursi. Permaisuri Ratih memandang Arjuna dengan mata yang tetap indah, hanya kehangatannya menghilang.
"Keputusan besar tidak semestinya tergesa," ujar Ratih pelan.
"Aku tidak tergesa," jawab Arjuna.
"Pangeran Mahkota baru mendengar satu jawaban darinya."
"Satu jawaban cukup untuk menunjukkan isi kepala seseorang."
Prabu Naradewa menatap putranya lama. Di wajah raja itu muncul sesuatu yang dulu sering Arjuna abaikan, rasa curiga yang selalu lebih cepat tumbuh daripada kasih.
"Kau yakin?" tanya Naradewa.
Arjuna menunduk hormat, tetapi tidak menurunkan suaranya. "Yakin, Baginda."
Anindya masih berlutut di depannya. Ia seharusnya merasa lega, bangga, atau takut. Namun yang paling kuat justru rasa aneh yang menekan dadanya. Pangeran Mahkota tidak menatapnya seperti seorang pria yang baru saja memilih kandidat terbaik.
Tatapan itu terlalu dalam.
Terlalu sakit.
Seolah ia telah mencarinya di tempat yang sangat jauh, lalu akhirnya menemukannya kembali di tengah balai penuh orang.
Ketika Ki Ageng Purwa mengumumkan keputusan itu dengan suara bergetar, semua orang menunduk memberi selamat. Anindya ikut menunduk, tetapi pikirannya tetap tertahan pada mata Arjuna.
Mengapa Yang Mulia menatapku seperti seseorang yang baru menemukan kembali miliknya yang hilang?
Bab 3 Istri Baru
Pertanyaan itu tetap menempel di benak Anindya sampai hari ia memasuki Puri Timur sebagai istri Pangeran Mahkota.
Kereta keluarga Jayawardana berhenti di depan gerbang timur saat matahari belum tinggi. Di belakangnya, dayang-dayang membawa peti kain, kotak perhiasan, buku catatan, serta beberapa benda kecil dari rumah yang diizinkan masuk setelah diperiksa Badan Upacara. Upacara pernikahan telah berlangsung singkat dan megah di Balai Agung. Semua orang menyebutnya keberuntungan besar.
Anindya hanya merasa seperti melangkah ke rumah yang seluruh pintunya punya mata.
Wulan berjalan setengah langkah di belakangnya. Gadis itu adalah pelayan yang dipilih Eyang Jaya sejak Anindya kecil, dan kini ikut masuk ke Puri Timur.
"Gusti Putri," bisik Wulan, "hamba akan memeriksa kamar lebih dulu."
"Jangan menyentuh apa pun sebelum orang Puri Timur menjelaskan," jawab Anindya pelan.
Wulan mengangguk cepat.
Di halaman dalam, Adi sudah menunggu bersama beberapa abdi dalem. Sikapnya sangat hormat, bahkan lebih hati-hati daripada yang Anindya bayangkan.
"Selamat datang di Puri Timur, Gusti Putri." Adi menunduk. "Yang Mulia Pangeran Mahkota sedang menyelesaikan urusan dengan Badan Upacara. Beliau berpesan agar Gusti Putri langsung beristirahat. Kamar telah disiapkan."
Anindya menatapnya. "Beliau berpesan begitu?"
"Benar, Gusti."
Mereka berjalan melewati koridor kayu yang menghadap taman kecil. Kolam teratai di tengah halaman memantulkan langit pucat. Di sisi pintu kamar, Anindya melihat rangkaian bunga kenanga dan melati, bukan bunga cempaka yang biasa dipakai di kamar pengantin keraton.
Langkahnya berhenti.
Wulan ikut berhenti. "Ada apa, Gusti Putri?"
Anindya tidak segera menjawab. Kenanga adalah bunga kesukaan ibunya. Eyang Jaya hanya pernah menyebutnya sekali di depan orang luar, itu pun bertahun-tahun lalu. Seharusnya Puri Timur tidak tahu.
Adi tampak memahami kebingungannya. "Yang Mulia sendiri yang meminta bunga kenanga disiapkan. Beliau berkata aromanya lebih lembut."
Lebih lembut.
Anindya menelan rasa aneh di tenggorokan. "Sampaikan terima kasihku kepada Yang Mulia."
"Akan hamba sampaikan."
Kamar itu jauh dari kesan dingin yang ia takutkan. Tirai diganti warna biru muda. Meja tulis ditempatkan dekat jendela, lengkap dengan tinta baru dan beberapa lembar kertas kosong. Di dekat dipan, ada baki berisi wedang jahe, kue lapis, dan semangkuk bubur kacang hijau yang masih hangat.
Wulan memeriksa baki, lalu berbisik, "Ini semua makanan yang Gusti sukai."
Anindya menoleh tajam.
Wulan langsung menutup mulut.
Sebelum Anindya sempat bertanya lebih jauh, suara langkah terdengar dari luar. Adi membuka pintu, lalu menunduk.
"Yang Mulia Pangeran Mahkota."
Arjuna masuk tanpa rombongan besar. Ia sudah melepas mahkota upacara, hanya mengenakan jubah luar yang lebih sederhana. Namun kehadirannya tetap membuat ruangan terasa lebih sempit.
Anindya segera berlutut. "Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia."
Arjuna berhenti.
Dalam kehidupan lalu, ia membiarkan Anindya berlutut terlalu lama pada hari pertamanya di Puri Timur. Ia bahkan tidak mengingat warna pakaian yang ia kenakan. Sekarang, melihat dahinya hampir menyentuh lantai, rasa sakit lama kembali mencakar dadanya.
"Berdirilah," katanya cepat.
Anindya mengangkat wajah. "Yang Mulia?"
"Di Puri Timur, kamu tidak perlu berlutut padaku kecuali dalam upacara resmi."
Ruangan menjadi sunyi.
Adi menunduk lebih dalam. Wulan menatap lantai, tapi matanya membesar. Anindya sendiri tidak langsung bergerak. Dalam aturan keraton, seorang istri tetap harus menjaga tata hormat kepada Pangeran Mahkota, terutama pada hari pertama.
"Hamba takut melanggar aturan," ucapnya hati-hati.
"Aku yang membuat aturan di Puri Timur."
Kalimat itu pendek, tetapi tidak keras. Justru karena tidak keras, Anindya makin tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.
Ia berdiri perlahan.
Arjuna memandangnya, lalu beralih pada baki di meja. "Wedang itu jangan diminum saat perut kosong. Makan bubur sedikit dulu."
Anindya menegang.
Perhatian itu terlalu rinci.
"Yang Mulia tidak perlu repot memikirkan hal kecil."
"Kesehatanmu bukan hal kecil."
Wulan menggigit bibir. Adi pura-pura tidak mendengar.
Anindya menunduk, jari-jarinya saling mengait di depan perut. "Hamba baru datang. Bila Yang Mulia terlalu baik, orang-orang akan salah memahami."
"Biarkan mereka salah memahami."
Ia mengangkat mata, terkejut.
Arjuna baru menyadari kata-katanya terlalu jauh. Ia menahan dorongan untuk meminta maaf dengan cara yang hanya akan membuatnya tampak lebih aneh.
"Maksudku," katanya lebih tenang, "kamu adalah istriku sekarang. Puri Timur harus memperlakukanmu sesuai kedudukanmu."
Istriku.
Kata itu jatuh di antara mereka seperti mangkuk perak yang dipukul pelan. Tidak berisik, tetapi getarannya terasa.
Anindya mengangguk. "Hamba mengerti."
Ia tidak mengerti sama sekali.
Arjuna melihat keraguan di matanya. Ia ingin mengatakan bahwa ia pernah gagal menjaganya. Ia ingin mengatakan bahwa semua bunga, makanan, dan meja tulis itu bukan jebakan, melainkan permohonan maaf yang terlambat satu kehidupan. Tetapi rahasia itu belum bisa keluar. Bila ia memaksakan kebenaran sekarang, Anindya hanya akan semakin takut.
"Beristirahatlah," katanya. "Sore nanti, bila kamu bersedia, aku akan menunjukkan taman belakang. Di sana lebih tenang."
"Baik, Yang Mulia."
Arjuna menahan diri untuk tidak memperbaiki panggilan itu. Belum saatnya.
Ia keluar bersama Adi, meninggalkan aroma kenanga dan kebingungan yang makin padat di kamar.
Begitu pintu tertutup, Wulan mendekat. "Gusti Putri, apakah Pangeran Mahkota memang seperti itu?"
Anindya menatap bubur hangat di meja. Uapnya naik tipis, menyentuh wajahnya.
"Aku baru bertemu beliau dua kali," jawabnya lirih. "Justru karena itu aku tidak tahu harus takut atau bersyukur."
***
Di ruang kerja Puri Timur, Arjuna meletakkan selembar kertas kosong di atas meja.
Adi berdiri di dekat pintu, masih membawa kegelisahan sejak dari kamar pengantin.
"Yang Mulia," katanya akhirnya, "hamba bertanya bukan karena ingin mencampuri urusan pribadi. Namun semua orang akan melihat perlakuan Yang Mulia kepada Gusti Putri."
"Bagus."
Adi terdiam. "Bagus?"
"Biar mereka melihat."
Jika Ratih ingin tahu kelemahannya, biarkan ia mengira kelemahan itu hanya cinta yang baru tumbuh. Jika Baskara ingin menguji rumah tangganya, biarkan ia mendekat dan menunjukkan taringnya lebih awal. Arjuna tidak lagi takut dunia tahu bahwa Anindya penting baginya.
Ia mengambil kuas.
Di bagian atas kertas, ia menulis beberapa nama dan tempat.
Baskara.
Permaisuri Ratih.
Raden Ayu Anggraini.
Raden Ayu Sinta.
Gedung Wayang Enam.
Keluarga Kertanegara.
Eyang Maha.
Pasar Sentosa.
Setiap nama adalah luka dari kehidupan lalu. Setiap tempat adalah pintu menuju dosa yang dulu ia buka terlalu lambat.
"Garuda sudah memberi kabar?" tanya Arjuna.
"Belum lengkap, Yang Mulia. Tapi orang Puri Baskara bergerak sejak pagi. Ada pesan dikirim ke kediaman Tumenggung Prabowo."
Anggraini.
Arjuna menaruh kuas. "Lebih cepat dari dugaanku."
"Apakah hamba harus memerintahkan orang untuk menahan pesan itu?"
"Tidak. Biarkan sampai. Aku ingin tahu apa yang mereka rencanakan saat mengira aku masih mudah dipancing."
Adi menunduk. "Sesuai perintah."
Arjuna menatap daftar di depannya. Pada kehidupan lalu, ia mengabaikan terlalu banyak tanda. Senyum palsu Baskara. Kesabaran Ratih yang terlalu rapi. Kematian kecil yang disebut kecelakaan. Surat-surat dari perbatasan yang dibungkam. Air mata Anindya yang ia kira hanya kelemahan, padahal itu peringatan.
Terlalu banyak petunjuk. Terlalu banyak orang yang ia lihat setelah semuanya terlambat.
Kali ini, ia tidak akan menunggu sampai darah menyentuh lantai.
Arjuna mencelupkan kuas lagi, lalu menggambar satu lingkaran di sekitar nama Anindya yang ia tulis paling akhir.
"Mulai hari ini," katanya pelan, "papan catur ini bergerak dengan aturanku."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!